Orang Sakit?

Rata-rata, kita belajar dari siapa, sih? Kalau nggak dari guru, dari orangtua, pokoknya orang yang kita tuakan. Akhir-akhir ini gue mengalami pengalaman baru dalam hidup yang pasti jadi ajang belajar buat gue. Kali ini, guru gue dalam pengalaman hidup adalah orang-orang yang berbeda, yaitu mereka yang memiliki penyakit mental.

Semuanya berawal dari akhir minggu kemarin. R mengalami nervous breakdown, sehingga kami harus pergi ke rumah sakit untuk penyakit mental di dekat rumahnya.

Don’t get me wrong, gue juga baru tahu R sangat sensitif dengan kesehatan mental. Dia bercerita dua tahun lalu dia juga sempat mengalami pengalaman yang sama. Mungkin sudah beberapa bulan dia nggak minum obat, sehingga kali ini dia kembali mengalami psikosis yang lumayan nyeremin. Seringkali dia ngomong hal-hal yang nggak nyambung, dan begitu di rumah sakit, dia cerita bahwa dia takut pergi ke luar rumah karena dia ngerasa nggak aman. Katanya ada yang mau bunuh dia. Beberapa kali dia juga berpikir gue mau bunuh dia. Rasanya sakit hati kalau ingat itu, tapi gue berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa itu bukan dia yang sedang ngomong kayak gitu.

Tapi R bukan orang gila. Sekali lagi, dia hanya sensitif dengan psikosis. Awalnya gue sangat takut dengan diagnosa akhir yang diberikan dokter, tapi suster di rumah sakit menjamin gue bahwa R hanya didiagnosa gangguan psikosis. Jika dia pulang ke rumah, dan dengan beberapa kali terapi serta minum obat yang rutin, dia bisa kembali normal seperti biasanya. Sayangnya, gangguan mental seperti ini harus diobati dengan cara minum obat yang sama selama beberapa tahun dan mungkin harus beberapa kali ganti-ganti obat karena bisa jadi efek samping yang nggak enak untuk si penderita. Seperti cewek mencari pil kontrasepsi, ini juga mirip-mirip lah, trial and error gitu.

Sejak hari Minggu, gue rutin mengunjungi R di rumah sakit. Tempatnya enak, deh. Jauh beda daripada stigma rumah sakit kesehatan jiwa yang ada di TV. Para suster dan dokternya nggak memperlakukan R dan pasien lain sebagai ‘orang gila’, tapi memperlakukan mereka secara setara. Ada taman yang asri dengan pohon ceri yang sedang berbuah. Ada ruang TV dan ruang makan serta dapur yang cukup lengkap. Kamarnya R juga nyaman, ada sofa, kursi, lemari, tempat tidur yang nyaman, dan kamar mandi sendiri. Interiornya juga segar dengan warna-warna cerah seperti hijau, kuning, dan oranye. Hari pertama gue datang ke bangsalnya R, gue langsung merasa nyaman dan yakin bahwa dia akan dirawat dengan baik disana.

Kini saatnya bergaul dengan sesama pasien seperti R. Jujur aja, awalnya gue agak grogi. Mungkin karena gue masih punya stigma tentang kesehatan mental sebelum R masuk rumah sakit. Tapi kegrogian gue nggak berujung ke hal yang aneh-aneh karena pasiennya baik-baik semua. Ada satu cewek yang langsung berteman baik sama R, dia bilang dia sudah lama tinggal disitu dan sebenernya dia pengen banget pulang. Cewek ini yang bernama Maria, suka banget melukis. Ada juga pasien lain asal Vietnam, yang langsung mendatangi gue begitu dia lihat gue dan langsung ajak ngobrol dalam bahasa Belanda. Mungkin karena dia lihat muka gue muka Asia kali, ya, makanya dia langsung datengin. Dari semua penghuni bangsal tersebut, gue baru kenal sama 2-3 orang saja, yang adalah pasien yang deket sama R. (Entah kenapa si R populer bener di kalangan wanita, lagi sakit maupun sehat, lha baru datang aja temennya udah cewek semua xD)

Semakin hari, kondisi R semakin membaik. Beberapa hari lalu, dia masih mengalami beberapa serangan psikosis, tapi nggak sebegitu parah seperti saat dia belum masuk rumah sakit. Sekarang kami sedang membicarakan tentang rencana kepulangan R ke rumah dan sepertinya dia sudah bisa pulang ke rumah akhir minggu ini. Kemarin gue juga mengunjungi R dan dia sudah kelihatan jauh lebih sehat dan lebih ceria. Nada bicaranya sudah kembali normal dan dia nggak se-emotionally distant seperti beberapa hari lalu sebelum masuk rumah sakit.

Serius, pengalaman ini bener-bener membawa pelajaran baru untuk gue. Sejak dulu gue selalu mendengar betapa hebatnya negara-negara Eropa dalam mendalami seluk beluk kesehatan mental, tentang topik kesehatan mental bukan jadi hal tabu, dll. Kali ini gue mengalaminya dan semua berita itu benar. Semua informasi tentang kesehatan mental dan penyakit mental bener-bener dibuka ke gue oleh dokter dan suster, pokoknya gue bebas nanya apa aja.

Mereka juga memperlakukan pasien dengan setara. Kemarin waktu gue jenguk R, dia lagi nunggu temen-temennya pulang dari supermarket karena mereka mau masak salad sama-sama untuk makan malam. Yap, jika mereka sudah lumayan sehat, mereka diperbolehkan pergi keluar bangsal untuk ke supermarket atau ke taman besar dengan ditemani satu orang suster. Pokoknya para pasien dibebaskan untuk mengatur jadwal mereka sendiri, begitu juga dengan jadwal minum obat. Semua pasien dibebaskan untuk minum obat setelah jam makan dengan cara meminta obat sendiri ke ruangan jaga suster.

Nggak nyangka deh, bisa belajar hal baru dengan cara yang nggak diduga seperti ini. Pasien-pasien yang satu bangsal dengan R bikin gue merasa nyaman dan hangat setiap datang mengunjungi R, dan mereka juga mengikuti aturan rumah sakit dengan sangat respek. Gue cuma berharap semoga suatu saat nanti, mereka bisa pulang ke rumah masing-masing, berkumpul dengan keluarga, dan bermanfaat untuk lingkungan mereka.

Hari 12: Enam Bulan Kemudian…

Ini dia hal-hal yang gue tunggu-tunggu enam bulan lagi (kira-kira bulan September):

  • Musim gugur! Mungkin enam bulan lagi gue akan eneg banget sama sinar matahari dan mulai kangen sama daun-daun yang berguguran.
  • Kesempatan jalan-jalan. Gue berencana menabung untuk pergi liburan ke Jepang di bulan September. Semoga kesampaian. (Semoga nggak kebablasan juga kelamaan libur di bulan Juli…)

Hari 11: Yang Tak Berubah

Sebenernya, ada banyaaaaakkkk… sekali hal yang ingin gue ubah. Gue ingin jadi orang yang lebih mudah berempati, lebih sensitif, sepertinya sifat-sifat yang gue inginkan adalah sifat yang berkaitan dengan berhubungan dengan sesama manusia. Walaupun gue ingin mengubah banyak sifat gue, ada satu sifat gue yang nggak mau gue ubah: rasa penasaran yang tinggi.

Sejak dulu gue selalu senang dengan ilmu pengetahuan, apapun bentuknya. Mungkin karena dulu dibiasain belajar baca, mengenal angka dan huruf, di umur yang masih muda. Waktu umur 4 tahun, gue sudah lumayan lancar membaca. Akhirnya gue jadi kutu buku dan senang bereksperimen serta mencari tahu tentang banyak hal.

Gue sadar bahwa nggak semua orang dikaruniai sifat seperti ini. Kalau jaman sekarang sih mungkin rasa penasarannya bukan sama ilmu pengetahuan ya, tapi sama kehidupan orang lain :p Hingga kini, walaupun udah bukan kutu buku dan nggak sekolah lagi, tapi gue tetep aja suka belajar dan mencari tahu hal baru. Rasanya kalo lagi belajar hal baru atau menggeluti hobi baru tuh seneng deh, karena setiap hari punya waktu sendiri untuk menggeluti hal tersebut. It feels like you have something to look forward to every day, and it makes your daily life a little bit worthier than living a mundane life after work.

Hari 10: Pipis di Jok Mobil di Cina

Lama-lama kok tantangan 15 hari menulis ini semacam jadi ajang buka aib, sih? Hehehehe! Kemarin suruh nulis tentang sifat baik dan buruk, kali ini tantangannya adalah menulis tentang salah satu kejadian memalukan yang pernah dialami.

Ceritanya, awal tahun 2012 lalu gue pergi pesiar ke RRC bersama Mama, Papa dan dua adik. Sebenarnya kami berniat pergi ke Korea Selatan, tapi karena ada kejadian satu dan lain hal, akhirnya kami berangkat ke RRC, tepatnya ke Beijing dan Shanghai. Padahal visa Korea Selatan sudah jadi, lho.

Sesampainya di bandara Beijing, gue langsung kedinginan. Itu adalah pertama kalinya gue mengalami musim dingin, dan nggak tanggung-tanggung, suhunya langsung -12 derajat Celcius! Begitu keluar dari bandara, awalnya sih biasa aja, tapi lama-lama tangan terasa kebal dan hidung tiba-tiba beringus. Untungnya kami langsung dapat taksi besar yang muat lima orang plus koper-koper. Dapat taksinya juga perjuangan banget karena sopir taksinya nggak bisa bahasa Inggris, jadilah petualangan bahasa Tarzan dimulai.

Setelah dari bandara, kami pergi ke Great Wall of China. Cuacanya buruk banget, nggak bisa lihat apa-apa, dan luar biasa dingin. Setelah itu kami menempuh perjalanan kembali ke ibukota, dan disinilah kejadian memalukan mulai terjadi.

Setelah kami masuk kota, tiba-tiba gue merasa kepingin pipis. Biasanya kalau ditahan lama-lama juga hilang, tapi mungkin karena cuaca di luar super dingin, jadi dinginnya masuk ke mobil, padahal mobil sudah dilengkapi penghangat. Sebenarnya gue bisa aja minta berhenti untuk pergi ke toilet umum, tapi gue takut karena: 1) Gue nggak bisa bahasa Mandarin, dan 2) gue baca di buku perjalanan seorang travel writer terkenal bahwa toilet di Beijing emang banyak tapi kotor semua. Karena udah ditakutin sama pemandangan toilet yang belum tentu enak, akhirnya gue memutuskan untuk menahan rasa pipis.

Tapi bukannya makin ditahan jadi hilang, ini malah makin menjadi-jadi… Gue udah bisik-bisik ke nyokap, minta berhenti ke sopir karena gue pengen pipis. Kemudian gue ngeliat hotel kami udah dekat, akhirnya gue bertahan nahan pipis, karena tinggal sekali belok, langsung sampe hotel. Tapi ternyata si sopirnya malah muter dan bawa kami lewat Forbidden City dulu. Mampus banget!

Akhirnya gue udah nggak tahan, dan gue memutuskan untuk pipis di mobil aja. Akhirnya di jok belakang gue pipis di jok mobil dan rasanya kayak banjir karena rasa pipis udah gue tahan sejak masuk kota Beijing. Gue diem-diem aja, terus akhirnya dengan sok cool gue bilang ke bokap dan nyokap bahwa gue pipisin jok belakang mobil. Adik-adik gue denger terus mereka ketawa ngakak. Bokap nyokap gue juga, lah! Yang bikin sial, setelah gue kelar pipis di jok mobil, kami tiba di hotel. Tau gitu nahan pipis sampe hotel aja, yang ada malah semalaman malu diledekin pipis di celana sama adik-adik dan bokap nyokap…

(Setelah sampai kamar hotel, celana jeans yang gue pake dan jadi korban pipis langsung gue buang karena gue males nyuci bau pesingnya xD)

Hari 9: Hore, Pergi ke Belanda!

Hari ke-9 ini temanya adalah “Ceritakan tentang hari terbaikmu”. Ada banyak hari yang gue anggap sebagai hari terbaik, tapi yang paling membekas adalah hari dimana gue dapat surat undangan masuk kuliah S2 di Leiden.

Sejak dulu, cita-cita gue memang sekolah di luar negeri. Waktu SMA mau ke S1 dulu, Papa sempat menawarkan sekolah di Australia. Gue sih mau mau aja, apalagi jurusannya juga boleh pilih sendiri, tapi tiba-tiba Papa jadi enggan karena alasan-alasan yang nggak penting. Akhirnya gue mengubur mimpi sekolah ke luar negeri dalam-dalam sejak itu.

Setelah lulus S1, gue bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah kursus bahasa Inggris. Pekerjaan ini adalah pekerjaan profesional pertama gue, tapi lama-lama gue ngerasa bahwa jiwa gue nggak di pekerjaan itu. Ditambah lagi gue lagi bosen-bosennya sama kehidupan di Ibu Kota, dan gue merasa nggak nyaman dengan kehidupan pribadi di Indonesia. Gue mulai bersikap kritis dengan hidup gue dan gue merasa bahwa hidup gue nih bisa diperbaiki. Akhirnya gue iseng-iseng mendaftarkan diri untuk S2 di Leiden untuk jurusan yang gue minati yaitu Asian Studies. Karena gue tahu orangtua gue udah enggan membiayai gue kuliah di luar, gue iseng-iseng daftar beasiswa juga. Rentang gue daftar beasiswa dan daftar kuliah nggak jauh-jauh amat, sekitar selisih dua minggu.

Hari paling bahagia gue adalah ketika gue dinyatakan lolos aplikasi beasiswa dan dapat surat undangan ke Leiden, tepat beberapa minggu setelah gue keluar dari kantor. Emang, gue segitu niatnya pengen sekolah di luar negeri, sampe-sampe gue resign dari kantor sebelum semuanya jelas xD Kelakuan nekad, memang, tapi kayaknya kalau nggak nekad kayak gitu, nggak mungkin sekarang gue bisa ada disini.

Rasanya waktu dinyatakan jadi penerima beasiswa plus lolos aplikasi S2 tuh campur aduk jadi satu, tapi rata-rata gue ngerasa seneeeeeeeengggggg…….. banget. Ada sedikit rasa sedih akan meninggalkan keluarga, sih, tapi gue mikir kalau gue mikir begitu terus, pasti gue nggak akan berkembang sebagai individu. Akhirnya beberapa bulan setelah pengumuman sakti tersebut, gue berangkat ke Belanda sebagai mahasiswa sekolah master. Dua tahun kemudian, gue masih disini sebagai pegawai kantoran xD

Hari 8: The Good, the Bad, and the Ugly

Duh, tulisan ini telat turun selama dua hari. Maklum, selama weekend gue lumayan malas buka laptop, mungkin karena udah bosen kerja depan laptop dari hari Senin sampai hari Jumat. Di tantangan hari ke-8 ini, gue disuruh menulis sifat baik, sifat jelek, dan sifat buruk gue. Buka-bukaan banget nih ya, berarti…

The Good

Gue tuh, seorang planner sejati. Rasanya kalau lagi ngomongin sesuatu ama orang, dan kalau tiba-tiba ngerencanain sesuatu, pasti di otak gue langsung ada pola harus ngapa-ngapain untuk rencana itu jadi kenyataan. Sering banget gue didaulat jadi tukang bikin rencana perjalanan kalau jalan-jalan sama teman. Hal ini memang jadi hal favorit gue karena gue suka ngatur banyak hal sampai sedetil-detilnya, rasanya kalau ada yang kurang tuh gue bisa uring-uringan sendiri. Makanya gue kerja di bidang Marketing, yang salah satu deskripsi pekerjaannya adalah bikin proyek dan bikin planning untuk acara-acara luar kantor. Walaupun gue sangat tertantang dengan kerjaan ini karena ini pertama kalinya gue disuruh bikin beginian dan jadinya gue harus keluar dari zona nyaman, tapi karena gue yakin gue orangnya suka merencanakan sesuatu, jadinya dibawa seneng aja.

Selain perencana, gue juga orang yang observatif. Jarang banget gue ngomong atau melakukan sesuatu yang spontan, karena naluriah gue selalu mengobservasi apapun dan siapapun, bahkan sampai ke hal-hal kecil. Mungkin itu sebabnya banyak orang nganggep gue judes waktu pertama ketemu, bukan karena gue emang judes beneran, tapi secara nggak sadar gue mengobservasi orang tersebut. Lama-lama sifat observatif ini berguna juga, karena gue termasuk orang yang mudah melihat kesalahan di hal kecil.

The Bad

Simpati gue terhadap orang tuh bisa jadi jarang kelihatan. Sejak kecil gue emang agak enggan menunjukkan emosi dan nunjukin gue kasihan sama sesuatu atau seseorang. Makanya kalau ada teman curhat, gue sulit banget untuk bersimpati, makanya biasanya gue cuma dengerin aja dan kasih jalan keluar selogis mungkin. Parah sih ini, karena gue kan harusnya bisa bergaul dengan orang dan ngeliat sisi emosional mereka, ini gue malah ngeliat semuanya sama aja.

Selain sulit bersimpati, gue juga orang yang (kadang) suka kebanyakan mikir. Rasanya ini adalah salah satu kebiasaan jelek yang susah banget gue hilangkan. Mungkin ini lagi-lagi bawaan waktu kecil, dimana gue orangnya susah jujur sama orangtua karena takut mereka marah. Hih, bener-bener semuanya bawaan orok, ya! Sejak kecil entah kenapa gue melatih diri sendiri untuk jadi ‘prihatin’ jadi gue jarang minta sama orangtua karena gue merasa diri nggak pantas untuk minta. Mungkin sejak dari situ gue jadi ngerasa suka kebanyakan mikir sebelum melakukan sesuatu. Tapi sejak pacaran sama R, gue belajar untuk nggak kebanyakan mikir sebelum ambil tindakan, seperti kata Nike, JUST DO IT!

The Ugly

Gue orangnya (kadang) intuitif, jadi kadang komunikasi sama gue bisa bentrok. Intuitif bisa berujung ke asumsi dan pikiran jelek, kan?

Selain itu, gue juga orangnya gampang nangis, apalagi kalau tiba-tiba dapat bentakan atau ngobrol dengan orang yang nada bicaranya nggak enakin. Tapi kalau gue udah marah duluan, gue bisa jadi lebih galak daripada orang tersebut.

Hari 7: Rekomendasi Buku

Anjay. Sebenernya gue malu mengakui bahwa gue bukanlah kutu buku seperti dulu. Waktu masih sekolah, sepertinya melahap lebih dari satu buku dalam seminggu adalah hal yang biasa. Sekarang, boro-boro baca buku, baru baca beberapa halaman, konsentrasinya udah terganggu sama hal lain (baca: buka notifikasi di ponsel).

Walaupun gue jarang membaca buku lagi (dan sepertinya gue HARUS benar-benar mulai membiasakan diri lagi untuk membaca lebih banyak), gue punya satu rekomendasi buku yang pernah gue baca saat gue lagi demam baca buku pakai e-reader. Ini dia…

nfd-final-cover1.png

Novel ini gue baca saat gue berusia 23 tahun dan ceritanya diambil dari kisah nyata di Kamboja pada jaman pemerintahan Khmer Rouge. Tokoh utama dari novel ini adalah seorang anak laki-laki bernama Arn, yang terpaksa harus terpisah dari keluarganya pada usia 11 tahun akibat rezim Khmer Rouge. Kemudian, Arn menceritakan empat tahun penuh penderitaan dimana dia harus bekerja paksa, menjadi tentara anak-anak, dan akhirnya berhasil kabur dari kamp. Satu-satunya yang menyelamatkan Arn dari kematian, tidak seperti bocah sepantarannya, adalah musik. Arn pandai bermain musik, sehingga hal ini menarik perhatian Khmer Rouge dan mereka menyuruh Arn menjadi pemain musik untuk lagu-lagu revolusioner.

Novel ini adalah salah satu dari sedikit novel yang membuat gue berkaca-kaca. Deskripsi kejahatan Khmer Rouge dijelaskan dengan sedetail mungkin, ditambah lagi narasi novel yang sengaja dibuat dalam bahasa Inggris yang pletat-pletot dengan banyak kesalahan gramatika dan penulisan, seolah saat baca novel ini gue baca buku harian seorang anak berumur 11 tahun. Pedih banget bacanya, tapi bener-bener membawa kesan mendalam buat gue.

Bagi kalian yang suka dengan novel sejarah, pas banget baca novel ini. Dijamin setelah selesai, bakal langsung buka Youtube atau Google dan mencari tahu lebih banyak tentang Kamboja jaman Khmer Rouge.

Hari 6: Belajar Coding

Hari ini tema menulisnya adalah tentang hal yang selalu ingin dilakukan tapi nggak pernah dilakukan. Nah, gue kepingin sekali belajar bahasa pemrograman alias coding, tapi entah kenapa selalu nggak pernah tuntas.

Ketertarikan gue dengan coding berawal sejak tahun 2003, dimana Friendster sangat populer. Beberapa tahun kemudian, mulai banyak website dimana kita bisa copy dan paste kode-kode tertentu untuk memperbagus halaman Friendster kita. Mulai dari tambah glitter, stiker lucu, dan lain-lain. Nah, saat itu gue mulai tertarik dengan kode-kode tersebut dan berusaha untuk mempelajarinya. Bahkan dulu profil Friendster gue murni buatan sendiri lho… dengan sabar gue mengedit kode-kode dari kode yang sudah ada untuk memberi kesan lebih ‘gue banget’ untuk profil Friendster gue.

Waktu SMA, giliran blog yang ngetren. Gue sendiri sudah mulai ngeblog sejak SMP di Friendster. Akhirnya gue memutuskan untuk ganti platform ke Blogspot karena di Blogspot lebih gampang untuk personalisasi blog-nya. Nah, sejak pindah ke Blogspot itu, gue mulai lebih tekun lagi mencari blogskin yang bagus untuk blog gue. Salah satu website yang sering gue kunjungi adalah blogskins.com, dimana gue bisa nyomot skin blog apapun yang gue mau dan bisa gue personalisasi sesuai keinginan gue. Nah, di Blogspot ini, gue mulai mengenal bahwa kode-kode yang gue mainin sejak jaman Friendster di SMP itu adalah bahasa kode bernama HTML dan CSS.

Di kelas 3 SMA, untuk pelajaran Komputer, kami belajar program Dreamweaver yaitu program untuk membuat website sendiri. Kali ini gue belajar HTML dari awal. Karena sejak dulu sudah gape bergaul dengan HTML, jadinya ini bukan perkara sulit, bahkan kelompok gue berhasil meraih nilai tertinggi untuk tugas akhir kami, yaitu tugas membuat website dari awal sampai launching dengan domain sendiri.

Sayangnya, hobi gue utak-atik kode berhenti saat kuliah. Dulu sih nggak ngerasa ngefek apa-apa, tapi belakangan ini makin banyak aplikasi yang dibuat, dan makin banyak bahasa coding yang semakin terkenal untuk membuat aplikasi dan halaman web seperti Javascript atau Phyton. Makin banyak juga gerakan untuk mulai belajar coding dengan banyaknya website yang menawarkan kursus coding mulai dari yang gratis hingga berbayar. Dan gue merasa ketinggalan plus menyesal kenapa dari dulu nggak lanjutin belajar HTML atau mulai belajar bahasa pemrograman lain seperti Javascript.

Kalau ditanya kenapa sampai sekarang belum belajar coding, masalahnya cuma satu: waktu. Pas jaman pengangguran sih gue punya waktu untuk belajar, tapi kursus coding itu mahal dan aplikasi belajar sendiri juga mahal. Padahal gue punya aplikasi di ponsel bernama Mimo yang cocok banget dengan metode belajar gue. Sekarang giliran sudah punya duit, malah nggak punya waktu untuk belajar. Semoga di lain waktu gue nggak terlambat untuk belajar coding dan bisa bikin website sendiri dengan Javascript, HTML dan CSS…

Hari 5: Tamu Makan Malam

Tantangan hari ke-5 Writing Challenge adalah tantangan dimana gue disuruh menuliskan lima orang yang akan gue ajak makan malam.

Almh. Mama

Udah pasti, ini orang pertama yang akan gue undang untuk makan malam. Gue penasaran sama cerita-ceritanya, dan pengen banget merasakan pengalaman yang dirasain orang-orang lain. Denger-denger, almarhumah nyokap gue orangnya baik banget. Dan katanya orang baik meninggalnya cepet. Nggak tau juga ya. Tapi ya gue pengen banget bisa makan malam sama beliau dan denger cerita-ceritanya.

Jamie Oliver

Kenapa khusus Jamie Oliver? Gue memang nggak begitu ngefans sama dia, malah gue lebih suka Gordon Ramsay, tapi alasan gue undang Jamie Oliver adalah karena dia sering banget bikin resep masakan Indonesia dengan bahan-bahan yang nggak nyambung. Masa iya gado-gado pakai fish sauce? Kalau gue undang dia makan malam, bakal gue bikinin dia gado-gado yang 100% asli Indonesia dan gue ajarin, gini lho cara masak dan makan gado-gado! Enak aja makanan negara orang dibikin resep versi ngaconya…

Adik pertama

Adik pertama gue suka banget makan. Dan yang bikin iri, metabolisme tubuh dia bagus banget, jadi dia nggak gampang gemuk. Kenapa gue pengen ajak dia makan malam? Karena dia kalo makan tuh diliatnya enak banget, dan selalu menikmati setiap makanan. Pasti bikin orang yang makan sama dia makin tambah doyan makan.

Taylor Swift

Ha… ha… ha… Kayaknya cemen banget ya, tapi Taylor Swift adalah idola gue sejak SMA. Dulu sih gue suka karena musiknya ‘jujur’ banget dan gayanya juga asik banget, tapi makin sekarang dia makin mainstream, gue jadi berasa biasa aja sama dia dan nggak terlalu ngefans lagi. Mungkin gue pengen undang dia makan malam karena ambisi dari dulu pengen ketemu dan ngobrol bareng Taylor kali, ya…

dan yang kelima,

J. K. Rowling

JKR tuh, penulis buku pertama yang bikin gue betah baca novel fiksi berjam-jam. Ada masa dikala gue baru beli buku Harry Potter terbaru, pulang ke rumah, lalu menghabiskan waktu berjam-jam di kamar untuk baca. Semakin tebal novel Harry Potter-nya, semakin bagus. Kalau gue ajak dia makan malam, gue bakal minta diceritain sedetail mungkin tentang prolog masing-masing tokoh, terutama kisah sebelum Harry Potter dan cerita tentang Nymphadora Tonks.

Hari 4: Kenangan Masa Kecil Favorit

Sebenernya ada banyak banget kenangan masa kecil yang nggak bisa gue lupakan. Mulai dari yang malu-maluin seperti cinta monyet waktu TK dan selalu muntah pas pelajaran melipat, juga waktu TK. Pernah juga pipis di celana saat kelas 1 SD karena takut bilang ke Bu Guru kalau gue mau ke toilet. Tapi kenangan-kenangan itu kurang mengesankan daripada kenangan yang akan gue ceritakan ke kalian di tulisan 15 Day Writing Challenge hari ini.

Waktu kecil dulu, sampai umur 7 tahun, gue punya sepasang nenek dan kakek dari pihak ibu yang tinggal deket banget dengan rumah gue. Jaraknya cuma berbeda satu nomor doang. Karena mereka orang Sunda, gue memanggil mereka Nini (nenek) dan Aki (kakek). Mereka termasuk warga veteran di lingkungan gue, sama seperti oma dan opa dari pihak bokap gue, lha wong cerita cinta bokap dan nyokap gue dimulai dari rumah mereka yang bertetangga itu, kok… (Khas cerita pacaran jaman dulu banget, ya).

Sepertinya waktu kecil dulu hampir semua waktu luang gue, gue habiskan dengan bermain di rumah Nini dan Aki. Waktu masih TK, mereka suka gantian dengan sopir dari oma untuk antar jemput gue sekolah. Kemudian setelah pulang sekolah, selalu mampir ke mall terdekat untuk makan di Pizza Hut! Gue masih ingat gue adalah penggemar berat spaghetti-nya Pizza Hut, setiap kali kesana selalu makan spaghetti. Selepas TK, gue selalu menghabiskan waktu luang setelah bikin PR di rumah Aki dan Nini, entah itu main rumah-rumahan, nonton TV, atau main Nintendo.

Walaupun Aki dan Nini sama-sama membesarkan gue, tapi gue selalu merasa lebih dekat sama Aki. Sepertinya kalau disuruh menjabarkan kenangan mana yang paling gue ingat, pasti yang muncul di benak adalah kenangan-kenangan bersama Aki. Beliau adalah koki nasi goreng paling enak, bahkan gue suka minta dia cerita deskripsi bikin nasi goreng sedetil mungkin, dan entah kenapa setiap deskripsinya selalu bikin imajinasi gue melayang ke nasi goreng panas dan nikmat disantap. Beliau juga suka banget memanjakan cucunya (baca: gue), terbukti dengan banyaknya mainan yang selalu dia beli untuk gue. Pokoknya apapun yang gue minta, sebisa mungkin bakalan dikasih sama dia. Yang paling gue inget, dulu gue punya ‘gebetan’ waktu TK yang selalu diantar jemput pakai mobil Vitara warna putih. Gue kemudian merengek ke Aki, minta ganti mobil yang sama dengan warna yang sama. Beberapa bulan kemudian, beliau ganti mobil jadi Vitara warna hitam.

Aki juga orang yang mengajarkan gue betapa pentingnya membaca buku sejak kecil. Di rumahnya, ada banyak sekali ensiklopedi, termasuk buku super tebal berjudul Buku Pintar karangan Iwan Gayo. Siapa sih generasi 90-an yang nggak kenal sama buku ini? Waktu kecil, gue paling suka baca buku ini karena ada banyak banget informasi yang menarik, seperti rekor MURI, daftar pemenang Oscar dari tahun ke tahun, arti nama, dan yang paling menarik tentu saja informasi tentang zodiak dan peruntungan shio! Bisa dibilang, gue mengenal ilmu pengetahuan di luar sekolah, ya di rumah Aki dan Nini.

Sejak dulu gue memang sudah tahu bahwa Aki mengidap kencing manis, tapi gue dulu kan masih kecil, mana ngerti sih sama penyakit yang berbahaya dan mana yang tidak. Beliau masuk rumah sakit saat gue dan keluarga dari bokap pergi berlibur ke Manado, sesuatu yang biasa kami lakukan setiap tahun. Yang gue inget, waktu denger Aki masuk rumah sakit, kami gak berhenti-berhenti berdoa dari Manado. Mau pesan tiket pulang juga nggak bisa karena nggak dapat tiket. Setelah akhirnya kami bisa pulang, gue diberi kabar oleh teman keluarga bahwa Aki sudah meninggal dan jenazahnya sedang dibawa ke rumah Aki dan Nini di Ciwidey untuk dimakamkan disana, di makam sebelah almarhumah nyokap gue. Kemudian gue marah karena gue ngerasa orang-orang pada bohong semua sama gue, soalnya gue dikasih tau beberapa jam setelah mendarat, bukan saat beliau baru meninggal. Bayangin aja, gue masih umur 7 tahun waktu itu, tapi gue udah bisa ngerasa kayak gitu soal meninggalnya si Aki.

Beberapa minggu setelah Aki meninggal, bokap gue ngajak bicara tentang Aki. Gue lupa apa yang kami obrolin, tapi gue inget ada hal yang janggal beberapa hari sebelum gue berangkat ke Manado. Jadi biasanya gue cerita sama Aki bahwa gue mau berangkat ke Manado, dan biasanya dia juga nanggepin biasa-biasa aja. Tapi saat itu, entah kenapa muka beliau langsung sedih dan bilang bahwa gue nggak boleh pergi ke Manado. Karena gue masih kecil, ya pasti gue mikir “Apaan sih?”. Mungkin itu adalah pertanda bahwa sebentar lagi beliau akan pergi. Ditambah lagi gue dengar cerita dari Nini, waktu dia masuk rumah sakit, dia megangin foto gue terus. Ya oloh, bahkan sekarang pas nulis aja gue agak gemeteran dan rada pengen nangis (tapi harus kudu setrong, gue nulis ini di kantor!).

Ya begitulah kenangan masa kecil gue… Kenangan bersama Aki dan Nini yang nggak bisa gue ulang. Sekarang Nini tinggal di Bandung. Beberapa tahun setelah Aki meninggal, Nini menikah lagi dengan pacar pertamanya, yang gue panggil Aki Lukman. Sekitar enam tahun lalu, Aki Lukman meninggal karena penyakit tua. Kini Nini tinggal di rumah yang dulu dia tinggali dengan Aki Lukman, berdua dengan adik dan pembantunya. Nini juga sekarang udah sakit-sakitan… beliau kini duduk di kursi roda, dan sudah sering lupa, padahal umurnya belum menginjak 7o tahun. Bahkan nenek gue dari pihak bokap yang jauh lebih tua dari dia aja masih lebih aktif daripada beliau. Setiap gue telepon Nini, gue selalu nggak tahan ngobrol lama-lama karena gue nggak mau kelihatan terlalu mengasihani dia karena gue tau dia nggak mau orang kasihan sama dia karena dia sakit-sakitan. Ngerti nggak sih? Ya pokoknya gitu deh.

Sampai bertemu di cerita besok! Semoga cerita besok nggak berujung sedih seperti tantangan hari ini xD