Review: The Body Shop Chinese Ginseng & Rice Mask

Jarang-jarang nih, gue bikin review produk. Produk perawatan muka pula. Langsung aja kali ya…

Jadi begini, kulit gue tuh bisa dibilang nggak semulus orang pikir. Dulu pas ABG gue terkena serangan jerawat parah, untungnya bisa diobati dengan perawatan di klinik kulit dan memakai krim buatan mereka. Sekarang sih kulit gue ya gitu deh, dengan sedikit minyak di daerah T. Masalah kulit gue adalah kadang kulit gue suka kena jerawat kecil-kecil dan banyaknya komedo yang bersarang di hidung gue, terutama di balik lipatan hidung. Susah banget kalau mau dibersihin karena harus pake alat khusus yang biasa dipake di facial sessions.

Pas gue pergi ke The Body Shop (TBS) beberapa bulan lalu dan beli perlengkapan perawatan wajah dari tea tree oil, si mbak kasir memberikan gue sampel masker TBS yang terbuat dari campuran jahe dan nasi. Awalnya gue cuek aja karena gue bukan fans berat masker, apalagi gue tahu biasanya masker nggak bisa menghilangkan komedo dan jerawat kecil-kecil di wajah gue. Tapi di hari yang sama gue penasaran dan memutuskan pakai masker itu.

Karena berat bersih sampel yang nggak begitu banyak, akhirnya gue cuma pake sedikit. Wah, hasilnya luar biasa lho! Karena gue komedo-an, makanya gue pake masker lebih banyak di daerah hidung. Didiemin 5-10 menit sampai maskernya kering, kemudian dilap dengan handuk hangat, si komedonya ilang semua. Kulit gue (hidung, ding) langsung berasa super halus dan kinclong.

Dua bulan kemudian, gue memutuskan untuk beli maskernya. Agak mahal sih, 20 euro, tapi gue udah merasakan manjurnya si masker saat pertama kali pakai sampel. Pulang ke rumah gue langsung cuci muka dan mulai pakai masker di seluruh wajah gue. Tekstur masker ini agak keras, mungkin untuk exfoliate kulit mati dan komedo juga kali ya. Gue orangnya suka nunggu masker rada lamaan, makanya gue pake masker selama 30 menit sambil main video game.

Setengah jam kemudian gue cuci muka gue dengan air hangat kemudian lanjut air es. Wah, hasilnya bagus banget! Wanginya juga enak, nggak terlalu wangi ginseng tapi ada sedikit sentuhan wangi jahe. Kulit gue langsung berasa kenyal dan segar. Sesuai kata mbak TBS, masker ini akan berfungsi optimal jika dipakai 2 kali seminggu, makanya gue mengalokasikan hari Rabu dan Sabtu sebagai hari maskeran mulai dua minggu lalu. Hasilnya lumayan, kulit gue kelihatan jauh lebih bersih dan komedo mulai jarang muncul di hidung gue.

Jadi buat yang punya masalah dengan kulit wajah geradakan dan komedo membandel, masker ini bener-bener gue rekomendasikan, deh. Yang menarik, masker ini bisa dipakai seluruh jenis kulit dan nggak bikin wajah berasa kering karena ada formula pelembabnya juga. Gue kasih 4,5 bintang dari 5 bintang lah… Bakal gue kasih 5 bintang kalo harganya lebih murah sedikit 😉

Curhat: Kangen Kehidupan Lama

Sudah sekitar 6 bulan gue bekerja jadi pekerja kantoran, tapi gue malah baru akhir-akhir ini kangen dengan kehidupan lama gue. Yang gue maksud dengan kehidupan lama adalah kehidupan saat gue masih kuliah S2, masih tinggal sendiri, masih tinggal dikelilingi teman-teman. Bosen dikit, tinggal telpon, ngajak ketemuan atau main bareng. Setiap weekend pasti pergi ke luar kota atau ke museum.

Sekarang? Pulang kantor udah capek, bawaannya pengen nonton TV aja di rumah atau main game atau masak. Saat akhir minggu datang, lagi-lagi cuma pengen di rumah aja. Temen-temen lama sudah sulit dicari, karena sudah pada pulang ke Indonesia atau rumah udah jauh jadi susah buat ketemuan lagi. Pokoknya nggak seperti yang dulu, deh.

Mau cari hobi baru juga susah, ya itu tadi… terlalu capek. Padahal pengen banget rombak blog, kembali ke hobi hand-lettering, dan belajar software untuk menggambar. Banyak maunya, tapi nggak tau kapan mau merealisasikannya.

Mungkin gue ngerasa pengen ke kehidupan lama ini saat ngeliat instagram story beberapa teman gue yang masih di Leiden. Pada main ke rumah satu sama lain, makan-makan, main board game… persis banget sama kehidupan gue yang dulu. Dan sebenernya gue iri juga karena gue juga pengen kayak gitu. Tapi ya seperti yang gue udah cerita kadang-kadang di Twitter, nyari temen yang sepemikiran itu susah, apalagi kalau merantau begini. Salah-salah malah dapat teman suka gosip atau teman yang cuma pengen ada kalo lagi seneng doang.

Huffffff. Sampe nggak tau gimana mau menutup tulisan curhat ini.

Tentang House dan Roomsharing di Belanda

edkZxW6VZp-705x470

Tulisan advertorial.

Di Belanda, usia 18 tahun sudah disebut usia dewasa. Di umur ini, seseorang sudah dianggap bisa menentukan sendiri gaya hidupnya, termasuk menentukan pekerjaan dan tempat tinggal sendiri. Bukan gaya hidup spesial lagi jika seseorang yang baru menginjak usia 18 tahun untuk pindah ke kota lain, bersekolah/bekerja, dan tinggal di rumah kontrakan sendiri atau bersama teman.

Gue sendiri juga mengalami fase ini, walaupun agak terlambat. Fase tinggal sendiri ala gue dimulai saat umur 24 tahun, ketika gue pindah ke Belanda. Saat itu, gue tinggal di studio apartemen milik kampus yang disewakan ke mahasiswa internasional. Setelah satu tahun tinggal di studio tersebut dan kontraknya sudah habis, gue memutuskan untuk mencoba housesharing alias mencari kamar di rumah yang disewa oleh beberapa orang.

Awalnya gue kira housesharing itu sama seperti rumah kost. Ternyata beda! Perbedaan yang paling mencolok adalah, housesharing nggak punya ibu kost. Jika kita memutuskan untuk tinggal bersama beberapa orang, rumah tersebut akan jadi tanggung jawab kita sendiri. Ada rumah yang memberlakukan sistem jadwal membersihkan rumah, ada juga yang sukarela. Ada rumah yang menyewa tenaga cleaning lady seminggu sekali, ada juga yang tidak.

Menurut gue, housesharing lebih menantang karena disitulah kita belajar mandiri. Memang sih kita akan share toilet, kamar mandi, dapur dan ruang nonton, tapi begitu masuk kamar kita, ya itu adalah wilayah kita. Housesharing juga melatih skill komunikasi dan skill negosiasi kita, gimana caranya kita bisa ngomong dengan baik ke teman serumah jika dia terlalu berisik atau jika dia sering telat bayar uang sewa bulanan.

Nah, awalnya gue pikir sistem housesharing hanya ada di negara-negara Barat. Ternyata konsep ini sudah dicoba di Indonesia, bahkan ada website-nya! Jika kamu kepingin coba tinggal sendiri dan mau nyari teman serumah yang cocok, coba deh pergi ke website Serumah.com.

Apa itu Serumah.com? Website ini adalah ajang cari jodoh untuk mencari teman serumah yang tepat. Jadi bukan kayak OKCupid atau Tinder, ya :p Serumah.com dibangun karena para penemunya merasakan adanya tuntutan mencari teman serumah bagi mahasiswa atau entry-level workers untuk menekan biaya hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dll. Bener lho, jika kalian mencari teman serumah, niscaya biaya hidup bisa ditekan jadi jauh lebih murah. Bandingkan dengan kost yang makin lama makin mahal, dan kita nggak bisa main cocok-cocokkan terlebih dulu dengan penghuninya.

Yang bikin Serumah ini menarik, setelah kamu mendaftar, maka kamu bisa mengiklankan rumah/kamar kamu atau mengiklankan bahwa kamu sedang mencari teman serumah/sekamar. Ada banyak juga preferensinya, apakah kamu mau cari teman serumah yang merokok, gendernya sama, atau mau cari teman serumah yang sudah sama-sama bekerja atau masih kuliah juga bisa.

Seandainya konsep seperti ini ada di Belanda! Sejauh ini, pengguna Facebook bisa menggunakan jasa grup di Facebook untuk mencari teman serumah atau mencari rumah baru yang bisa disewa. Tapi nggak ada website yang bisa menggabungkan pencari kamar/rumah dengan pencari teman serumah/sekamar seperti Serumah ini.

Kalau kamu tinggal di kota besar, nggak mau ngekost karena mahal, coba deh pikirkan opsi housesharing seperti yang ditawarkan Serumah. Mau lebih asyik lagi? Daftar aja di Serumah mulai dari sekarang. Gratis lho!

Selamat belajar mandiri dengan housesharing!

 

Jalan-jalan ala Hippie di Vama Veche

Mau jalan-jalan murah di Eropa Timur? Cobain ke Rumania, deh! Gue dan R sudah merencanakan trip ini sejak bulan Februari dan saat itu harga tiket Amsterdam-Bucharest pulang pergi adalah sekitar 200 euro. Lumayan mahal, tapi kata bokap tirinya R, paling murah adalah 150 euro, jadi 200 euro itu nggak mahal-mahal amat, lah.

Setelah menghabiskan waktu 2 hari di Tulcea (kampungnya R yang adalah kota kecil di delta sungai Danube), kami memutuskan untuk pergi ke selatan, tepatnya ke kota pantai bernama Vama Veche.

Perjalanan dari Tulcea ke Vama Veche tuh lamaaaa… banget. Apalagi untuk orang-orang yang sudah terbiasa dengan sistem kereta cepat dan tepat waktu seperti kami. Dari Tulcea, kami harus naik kereta ke Medgidia, lalu sambung kereta lain lagi ke Constanta, dari Constanta naik kereta lagi selama 1 jam 30 menit ke Mangalia, dan dari Mangalia harus naik minibus ke Vama Veche selama 20 menit. Total jam perjalanan: kurang lebih 5 jam! Si R udah mati gaya berkali-kali di perjalanan, persis gue waktu umur 5 tahun yang nggak pernah sabar di mobil tiap kali mau ke rumah Nini di Bandung.

Inilah rute perjalanan kami. 2 jam 23 menit itu kalau pake mobil ya…

Sesampainya gue di Vama Veche, gue langsung terkesima dengan gaya hidup hippies mereka yang masih terlihat disana-sini. Vama Veche adalah desa pantai kecil yang berbatasan langsung dengan Bulgaria. Denger-denger, kita bisa jalan kaki ke Bulgaria cuma dengan menyusuri garis pantai, lho. Vibe kota ini agak mirip Kuta versi murah dikit, lah. Dimana-mana banyak restoran, toko suvenir, bar pantai, dan penginapan serba murah.

Vama Veche sudah terkenal sejak tahun 1970-an, saat itu ada banyak sekali hippies yang tinggal berbulan-bulan di pantai dengan tenda mereka. Kerjaan mereka? Yoga tiap hari, leyeh-leyeh, berenang, pokoknya bebas banget lah. Tiga tahun lalu R juga pernah ke sini, dan selama disini dia terus-terusan mengungkapkan kekecewaannya. Katanya, tiga tahun lalu belum banyak bar di pantai sehingga dia bisa bikin tenda dimana saja. Sekarang tempat tenda-tenda itu sudah dimakan bar-bar yang menyediakan tempat berjemur.

Ya, kalian nggak salah baca lagi, Vama Veche terkenal dengan kultur berkemah. Sejak dulu, seluruh warga Rumania selalu pergi ke desa ini di musim panas untuk berkemah. Kami akhirnya menemukan satu tempat berkemah di pojokan pantai. Selama tiga hari kami disana, kami berkemah selama 1 malam. Sisa 2 malam dihabiskan di motel karena R ribet sama masalah kamar mandi, hehehe… Di tempat kemah tersebut ada banyak orang yang sudah pasang kemah selama berhari-hari seperti tetangga kami, dan lebih banyak lagi orang berkemah di akhir minggu. Ngomong-ngomong, orang Rumania kalo berkemah bisa niat banget lho, sampe bawa kemah super gede, kasur angin, dan perlengkapan dapur segala!

Kami menghabiskan 3 hari yang sangat santai di Vama Veche. Bangun siang, kemudian sarapan, berjemur 1 jam, pergi cari makan, minum di bar, tidur siang, berjemur lagi, makan malam, minum di bar, nonton layar tancap, begitu terus setiap hari. Makanan di Vama Veche rata-rata murah banget untuk kantong Euro, disana gue berasa jadi orang super tajir. Makanan kami paling mahal adalah saat makan steak di sebuah restoran steak, begitu bon keluar ternyata kami harus bayar 380 Lei (sekitar 87 euro)!!! Biasanya makan cuma sekitar 10-20 euro untuk berdua, gimana nggak mau serangan jantung? Penginapan juga cukup murah, kami sempat dapat penginapan dengan harga 80 lei (17 euro) per malam untuk dua orang dan 150 lei (32 euro) per malam untuk dua orang. Gimana nggak mau berasa tajir?

Untuk menutup tulisan ini, gue akan memberikan sekelibat foto-foto Vama Veche. Selamat menikmati!

Nonton layar tancap di tepi pantai. Ini film Harry Potter.
Beach bar di Vama Veche. Kami nggak minum disini karena punya tenda dan handuk pantai sendiri.
Makan malam hari pertama, di restoran seafood yang pas dengan pemandangan Laut Hitam.
Vama Veche saat hampir matahari tenggelam

Gimana? Tertarik dengan Vama Veche? Untuk yang berminat pergi ke sini, keep in mind bahwa kota ini dibuka untuk umum setiap 1 April sampai akhir musim panas. Selamat merencanakan liburan ke Vama Veche!

I Spent 3 Days at the Beach with One Backpack


Tulisan singkat aja ya, berhubung gue lagi liburan. Biar blog ini gak sepi-sepi amat, gitu.

Gue menulis ini sambil nunggu makanan di restoran deket stasiun Mangalia untuk balik ke Tulcea, Rumania. Gue baru aja menghabiskan waktu 3 hari di Vama Veche, sebuah desa perbatasan kecil. Desa ini terkenal sebagai destinasi pantai paling ngetop di Rumania karena semuanya murah dan ada opsi menginap di tenda juga.

Awalnya gue mengira gue nggak bisa liburan ke pantai dengan bawa barang sedikit. Ternyata bisa tuh! Foto di atas adalah penampakan ransel gue dengan segala tetek bengek untuk jalan-jalan di pantai selama 3 hari. Gue cuma bawa:

  1. 2 stel celana pendek
  2. 3 stel baju
  3. 2 stel baju dalam
  4. 1 stel baju renang
  5. Alat mandi, obat-obatan pribadi, charger ponsel, dan handuk

Awalnya gue skeptis bisa bertahan di pantai cuma dengan satu ransel begini. Biasanya kan ingatnya ke pantai tuh harus pake baju lengkap, takut hitam! Tapi gue disini nggak takut hitam, malah gue sengaja menghitamkan diri, mumpung lagi banyak sinar matahari.

Sepertinya orang Indonesia harus mulai mengadopsi bawa sedikit barang kalau ke pantai kayak gini deh. Di pantai tuh biasanya juga cuma tidur tiduran, makan, minum bir, berenang, tidur lagi. Santai banget. Jadi buat apa bawa barang kebanyakan?

Etika Jadi Turis

Sepertinya tulisan bernada seperti ini udah sering banget ditulis oleh rekan-rekan blogger lain. Kali ini gue mau ikutan ah, dan dengan nada sangat tidak menggurui, gue mau ‘ngajarin’ kalian gimana cara menjadi turis yang baik dan benar, apalagi kalau kalian orang Indonesia yang baru pertama kali pergi ke negara yang jauh… contohnya negara-negara di Eropa. Gue kasih contoh negara-negara Eropa saja ya.

Kenali Etika Berbasa-basi di Negara Setempat

Orang Eropa tuh, basa-basinya beda sama orang Indonesia. Di Indonesia, basa-basinya sekitaran pertanyaan-pertanyaan seperti ini: “Eh, mau kemana?”, “Mbak/Mas sekolah atau kuliah?”, dan “Udah makan, belom?”. Di Eropa, basa-basinya biasanya ngobrolin cuaca. Duh, sebenernya ngobrolin cuaca di Eropa tuh menyenangkan lho, karena bisa aja kita ngobrol tentang apa yang kita lakukan kemarin saat cuaca lagi badai (“Eh, kemaren badai banget ya, gue nggak bisa keluar rumah, lho!” atau saat cuaca lagi cerah-cerahnya (“Duh, panas banget ya hari ini, pengen makan es krim”).

Kenapa gue tulis ini jadi nomor satu? Karena banyakan turis Indonesia mengira bahwa basa-basi dimana-mana tuh sama aja. Contohnya waktu kemarin jalan-jalan ke Austria bersama keluarga, gue harus menahan malu saat bokap terus-terusan nanya ke setiap supir Uber yang kami tumpangi, “Asalnya dari mana?”. Menurut gue, agak nggak sopan buat seseorang nanya asal saat baru pertama bertemu. Mungkin di Indonesia wajar karena di Indonesia kan suku-nya yang beragam, bukan negara asal, tapi kan Indonesia nggak kayak Eropa yang penduduknya heterogen… Apalagi supir-supir Uber tersebut bukan orang Austria asli karena asal mereka beragam mulai dari Suriah sampai Turki. Yang bikin lebih facepalm, pas si supir tersebut bilang dari Suriah, bokap gue jawab, “Wah, orang kamu banyak yang ke negara saya, cari cewek!” (Mungkin maksud dia adalah fenomena kawin kontrak di daerah Puncak). Mampus, rasanya gue malu banget!

Kalau Dijutekin, Jangan Baper

“Jutek” di negara-negara Eropa bisa diartikan sebagai “direct“. Pekerjaan servis di Eropa tuh biasanya terkenal dengan pace yang sangat cepat dan servis yang no bullshit, nggak seperti di Indonesia yang penuh senyum dan pramusajinya rela nungguin pelanggan nentuin pesanan yang sering berubah-ubah. Tugas si pramusaji ya mencatat order dan menyajikan pesanan, sekaligus urusan bayar-membayar. Kalo kamu beli makanan di restoran, tentuin dulu makanan yang mau dipesan sebelum si pramusajinya datang biar begitu dia datang, kamu bisa langsung pesan. Bukannya nyuruh si pramusaji nongkrong di meja kalian sementara kalian baca menu, itu nggak efektif namanya.

Kalo kamu punya pengalaman dijutekin sama pegawai servis di Eropa, bisa jadi kamu ngelakuin sesuatu yang bikin kerjanya terhambat, seperti kelamaan pesan, atau ganti-ganti pesanan. Jelas aja si pramusaji jutek sama kamu! Kalau sudah dijutekin gini, jangan malah jadi defensif karena jelas-jelas salahnya ada di kamu dan bukan si pramusaji.

Begitu juga kalau dapat supir Uber yang nggak mau ngobrol. Lha kan mereka hanya supir, tugas mereka cuma buat mengantar kamu ke tempat tujuan, bukan ngeladenin kamu ngobrol. Kalau dapat supir yang nggak banyak ngomong ya nggak usah dikasih rating rendah. Toh dia nggak ngapa-ngapain kamu, kan?

Bebas Ngomong Apa Saja

Selama gue pergi berlibur ke Austria dengan keluarga (bokap, nyokap dan dua adik), mereka punya satu kebiasaan yang menurut gue agak aneh: bisik-bisik saat ngomongin negara-negara asal refugee dan soal refugee crisis.

Kenapa aneh? Karena menurut gue masalah ini adalah masalah terbuka buat diomongin semua orang, apapun pendapat mereka. Tapi gue paham kenapa mereka bisik-bisik, mungkin menurut mereka itu isu sensitif dan yang paling penting kan mereka gak mengalami hal tersebut, cuma denger-denger soal berita ini dari media massa yang entah tendensinya kemana. Kalau gue, karena gue mengalami tinggal di negara yang banyak imigrannya (lha gue juga imigran, kan…) jadi gue pendekatannya cenderung lebih santai.

Kalau datang ke Eropa dan mau kelihatan sedikit berbobot, mulailah cari-cari berita yang netral tentang krisis imigran dari sekarang. Jangan lupa, bacanya harus tanpa penilaian apapun dan seobjektif mungkin. Biar nanti kalau dapat supir Uber dari Suriah atau negara-negara konflik lainnya, nggak kaget seperti bapak gue.

Kayaknya hanya segitu aja uneg-uneg gue tentang etika orang Indonesia ketika main ke negara-negara Eropa. Ada yang mau nambahin?

 

Belajar Merelakan

Duh, judulnya serius banget ya sepertinya. Tapi iya nih, gue mau cerita/ngobrol sesuatu yang serius. Semoga tulisan ini juga bisa jadi pembuka mata untuk kalian yang kali-kali aja mengalami hal yang sama dengan gue.

Jadi mungkin kalian udah baca curhatan gue di tulisan sebelumnya tentang si teman yang drama, yang tiba-tiba ngejauhin gue cuma karena dia nggak suka dengan rencana gue ngejodohin dia. Update terbaru dari si teman drama, beberapa hari lalu gue baru sadar bahwa dia juga ngeblok gue dari semua media sosial yang dia punya.

Rasanya dalam hati pengen bilang, “Apaan sih lo? Drama di dunia nyata dibawa-bawa ke dunia maya. Nggak penting, tau!” Gue ngerasa gimana ya? Sedikit kesal, bete, sedih, dan kasihan juga. Kesal dan bete karena gue tahu masalah beginian nggak perlu dibesar-besarkan dengan cara ngeblok gue dari media sosial. Sedih karena gue ngerasa jaman sekarang gampang banget kehilangan teman. Ngerasa kasihan karena gue mikir nih orang nggak dewasa banget ya, drama-drama kayak gini kan biasanya dialami waktu jaman SMA. Gue juga mikir, ya sudah lah, mungkin emang gini caranya dia menjauhkan diri dari gue, kalo untuk sementara waktu ya nggak papa, kalo untuk selamanya juga ya udah.

Tapi semakin lama gue berpikir, makin gue sadar bahwa mungkin emang ini saatnya untuk merelakan seorang teman. Buat gue, lebih baik punya teman yang bisa mengkritik gue langsung tapi selanjutnya kami baik-baik aja dan masih nongkrong bareng, daripada punya teman yang bisanya cuma main blok di dunia maya, sebaik apapun dia ke gue. Karena yang namanya teman justru bisa keliatan teman baik nggaknya kalo lagi ada masalah, kan? Lewat peristiwa ini gue jadi tau bahwa dia bukan teman yang baik. Mungkin dia bisa jadi teman yang baik untuk orang lain, tapi bukan untuk gue.

Gue memang sudah mengalami banyak peristiwa kehilangan teman, tapi sepertinya kehilangan teman pas lagi merantau tuh lebih sedih daripada kehilangan teman pas masih di Indonesia. Ya iya lah, pas lagi merantau tuh penting banget punya temen curhat, temen main, biar tetep waras, hehehe… Tapi ya sudah lah, gue juga nggak mau terbelenggu di pertemanan yang berpotensi nggak sehat. Lebih baik punya sedikit teman tapi mereka setia daripada banyak teman tapi banyak drama juga. Ya, nggak?