Tentang Pemilu 2014


Tulisan berbahasa Indonesia.

Di bulan Juni dan Juli ini, hanya ada dua hal yang semarak di negara Indonesia: pesta sepakbola empat tahun sekali dan pesta demokrasi lima tahun sekali. Sepertinya euforia masyarakat seakan terbagi dua, antara mendukung negara favoritnya di pesta sepakbola atau mendukung calon presiden-wakil presiden pilihannya untuk pesta demokrasi. Internet adalah salah satu tempat masyarakat ngomongin capres-cawapres. Selama satu bulan yang kayak rollercoaster ini, pilihan lo cuma jadi: 1) pendukung, 2) tukang hina, atau 3) nggak peduli sama sekali.

Gue termasuk golongan nomor tiga, yaitu nggak peduli sama sekali. Begitu nama capres-cawapres diumumin, gue langsung males liat nama-namanya. Capres-cawapres nomor 1 terkenal dengan skandalnya yang luar biasa (penculikan 1998, anaknya nabrak orang dan kasusnya gak selesai), belum lagi pendukung-pendukungnya di belakang yang punya kasus sendiri-sendiri, mulai dari kasus korupsi dana haji sampai kasus lumpur yang nggak selesai-selesai. Sementara itu, di kubu seberang, capres-cawapres nomor 2 adalah pasangan yang dieluk-elukkan rakyat. Gimana nggak, capresnya adalah gubernur ibukota yang jadi Indonesia’s sweetheart dengan politik merakyatnya. Cawapresnya adalah mantan wapres kita sekitar 10 tahun yang lalu.

Gue sama sekali nggak tertarik untuk ikut berpendapat di Pemilu 2014 ini karena gue merasa kok kayaknya ada sisi baik dan sisi buruk. Media dan masyarakat seolah memojokkan pasangan nomor 1 dengan track record yang kebanyakan buruk, sedangkan memuja-muja pasangan nomor 2. Pasangan nomor 1 dianggap jahat, pasangan nomor 2 dianggap dewa. Please, deh. Yang ngajuin diri jadi capres-cawapres Indonesia itu juga manusia. Mereka ada kelebihan dan ada kekurangan. Kelebihan pasangan nomor 1 adalah mereka orang-orang tegas. Latarbelakang capresnya adalah dari militer. Dalam kampanyenya, mereka memposisikan Indonesia sebagai bangsa yang sedang terpuruk, dan mereka datang ibarat Juruselamat yang akan memperbaiki negara ini sampai ke akar-akarnya. Di sisi lain, kekurangan pasangan nomor 2 juga ada. Mereka adalah orang-orang idealis yang percaya bahwa Indonesia adalah negara yang sudah kuat, sudah kaya, hanya tinggal diperbaiki sumber daya manusia dan mental manusianya. Seenggaknya, itu yang bisa gue tangkep dari iklan-iklan, kampanye, dan manifesto-manifesto mereka.

Belum lagi…… pendukungnya. Haduh, yang ini gue nggak usah ngomong lebih banyak. Gue capek banget nonton berita, buka Facebook, isinya orang-orang terlalu fanatik yang terlalu mendukung pasangan pilihan mereka. Suami-istri, sahabat, rekan kerja, bos-bawahan, bisa berantem karena pilihan presiden yang berbeda. Belum lagi kampanye gelap yang sering banget beredar di media internet. Bikin gerah dan malas lihatnya. Bikin gue semakin yakin bahwa negara kita ini masih culture shock masalah demokrasi.

Tapi, nggak peduli dengan Pemilu bukan berarti gue nggak peduli dengan visi-misi dua capres-cawapres ini. Gue emang nggak pernah nonton debatnya, tapi gue mantau perkembangan dua pasang ini dari berita-berita yang disiarin TV netral. Semakin kesini, semakin banyak orang yang nunjukin afiliasi politiknya (mungkin awalnya mereka juga sama kayak gue yang males nunjukin afiliasi politik bahkan mungkin nggak mau berafiliasi politik sama sekali). Tapi, di tulisan ini, gue akan mengungkap (tsahhhh, bahasanya MENGUNGKAP!) afiliasi politik gue. Jadi, siapa yang berhasil memikat hati gue untuk Pemilu tahun ini?

Nomor 2 jawabannya.

Oke, gue memang awalnya sangat kecewa dengan keputusan capres nomor 2 untuk meninggalkan jabatannya sebagai gubernur kota gue untuk mengajukan diri jadi capres (dulu gue ngefans berat sama si capres ini, lho!). Bahkan gue sempet mikir si capres ini adalah boneka dari ketua umum partai dimana dia bernaung. Pokoknya, marah deh, sama si capres. Apalagi setelah gue lihat dia mengusung cawapresnya. Kayaknya nggak sreg aja. Gue waktu itu malah masih ngarep Anies Baswedan tetap nyapres. Ternyata Anies Baswedan melabuhkan dukungannya ke pasangan nomor 2 ini, bersama dengan orang-orang pintar lainnya.

Mendukung nomor 2 adalah sesuatu yang cukup berat untuk hati gue. Di lain sisi, gue masih merasa kecewa dengan keputusan si capres. Tapi, gue mikirnya… kalau nomor 2 menang, maka kota gue akan punya gubernur baru, yang adalah wagub gue sekarang. Wagub yang sangat tegas, sangat berkomitmen, dan sangat to the point. Heck, bahkan mungkin gue selama ini lebih ngefans sama pak wagub daripada pak gubernur. Sementara itu, kalau nomor 1 menang, capres nomor 2 akan kembali jadi gubernur, dan gue takutnya uang yang akan dipake untuk memperbaiki kota gue jadi hilang entah kemana. Gue nggak mau hal itu terjadi. Gue masih jadi orang idealis yang percaya bahwa pak gubernur akan bikin lebih banyak taman, memperbaiki sistem transportasi massal di kota, dan lain-lain.

Alasan lain gue mendukung capres-cawapres nomor 2 adalah kata-kata Romo Franz Magnis Suseno SJ yang intinya bilang demikian, “Tujuan pemilihan umum adalah bukan untuk memilih yang terbaik, tapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa”. Seperti yang gue bilang tadi, pasangan nomor 1 dan nomor 2 cuma manusia. Ada kelebihan dan kekurangan. Tapi gue mencondongkan hati gue ke nomor 2 karena dia udah buktiin ke gue bahwa dia mau dan bisa kerja. Oke, dia emang gak janji bisa memperbaiki kota gue secara instan, tapi paling nggak kita bisa lihat dia kerja. Buktinya? Deket rumah gue sekarang udah ada waduk dan taman yang bagus banget, demikian juga di daerah-daerah lain di Jakarta. Masyarakat jadi punya alternatif lain untuk bersantai selain pergi ke mall. Gue yakin, kalo pas dia jadi gubernur aja bisa bikin hal-hal kecil kayak gini, gimana kalo dia jadi presiden? Mungkin cita-cita gue untuk lihat pendidikan yang merata di seluruh negeri bisa jadi kenyataan karena turun tangan dia.

Alasan terakhir gue akhirnya memilih nomor 2 adalah karena mereka orang-orang sederhana. Mungkin kalau mereka jadi presiden dan wakil presiden, mereka nggak bisa sedekat dulu lagi sama rakyat. Hey, tapi kalo orang dari awalnya emang udah sederhana dan ingin mendekatkan diri ke rakyat, apapun caranya masih bisa ditempuh, kan? Siapa tahu Istana Negara jadi terbuka untuk umum dan ada tur istana untuk anak-anak kayak White House di Amerika Serikat? Siapa tahu si presiden dan wakil presiden akan tetep blusukan di setiap daerah di Indonesia, tanpa pengawalan khusus, untuk tahu kebutuhan-kebutuhan rakyat? Masih banyak ‘siapa tahu’ yang lainnya karena kita nggak bisa memprediksi masa datang, tapi seenggaknya kita percaya. Kita percaya, siapapun orang yang akan memimpin Indonesia nantinya, punya kekuatan untuk memajukan Indonesia, sekaligus tetep sederhana dan tetep dicintai rakyat. Gue berharap semoga image sederhana yang diusung pasangan nomor 2 ini nggak berhenti cuma sampai pascapemilu aja. Gue berharap mereka benar-benar sederhana dan punya hati tulus ikhlas untuk jadi pelayan rakyat.

Ya, pelayan rakyat. Bukan pemimpin. Bukan penguasa. Bukan pimpinan. Kenapa gue sebut begitu? Karena orang-orang yang bekerja di bagian pemerintahan seharusnya punya sifat toleransi, rela berkorban, sederhana dan mau melayani orang lain. Pantesan aja di novel Divergent, yang jadi pemimpin adalah orang-orang dari faksi Abnegation karena mereka sederhana dan mau mengedepankan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan mereka sendiri. Gue berharap semoga pasangan nomor 2 ini adalah orang-orang Abnegation di dunia nyata.

Dengan ini, gue cuma mau bilang, akhirnya gue milih Jokowi-JK, cuy! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s