Tips Nggak Grogi Saat IELTS


Tulisan berbahasa Indonesia.

Sabtu (12 Juli) lalu, gue mengikuti tes IELTS dari British Council. Perjalanan menuju tes ini bukannya lancar-lancar aja, tapi malah banyak banget halangannya. Awalnya gue daftar untuk tes tanggal 21 Juni, tapi ternyata di tanggal itu gue baru pulang dari rumah sakit. Untuk mengantisipasi nggak bisa ikut tes (gue nggak mau duit 2 juta gue raib karena gue gak bisa ikutan tes!) akhirnya beberapa hari sebelum tanggal 21 Juni, pas gue masih dirawat di rumah sakit, gue minta surat dari pihak rumah sakit yang menerangkan bahwa gue dirawat pada tanggal itu. Kemudian, pihak IELTS ngasih gue formulir yang harus diisi dokter, yang menyatakan bahwa gue emang sakit pada tanggal itu dan sama sekali nggak bisa meninggalkan rumah/rumah sakit. Untungnya, beberapa hari kemudian gue ketemu dokter, langsung aja gue minta dia isi formulir tersebut. Gue kemudian harus bolak-balik dari rumah sakit-sekretariat IELTS cuma buat nganterin tiga surat sakti yang berbuah dengan kepastian bahwa nama gue ada di peserta tes IELTS tanggal 12 Juli.

Perjuangan selesai? Oh, belum! Gue menjalani tes IELTS kemarin dalam keadaan sedang sakit penyakit lain yaitu sembelit. Nggak elit banget emang, tapi kenyataannya begitu. Selama tiga jam penuh terperangkap di ruangan dingin dan otak dipanaskan soal-soal Listening, Reading dan Writing yang (nggak bohong) bikin gue sakit kepala dan lapar, gue juga nahan sakit perut. Masalah semakin menjadi-jadi ketika istirahat makan siang, perut gue kembali berulah. Gue nggak bisa pergi ke toilet karena memang nggak bisa! Wah gila banget. Gue berasa mau nangis aja. Untungnya sakit perut biadab itu berangsur-angsur sembuh beberapa saat menjelang tes Speaking.

Jadi, Kurisetaru, gimana tesnya? Hmm… pertanyaan ini tergolong relatif sulit untuk dijawab. Sebagai orang yang belajar sebulan sebelum tes, menurut gue tes IELTS itu lumayan gampang. Oh iya, kalo kalian mau ambil tes ini, kalian harus pastiin diri bahwa kemampuan bahasa Inggris kalian cukup bagus, ya. Coba ikut tes percobaan di beberapa lembaga kursus bahasa Inggris terkemuka di kota kalian. Kalo emang dari hasil tes bagus, atau kalian udah ngerasa pede berbahasa Inggris (ngomong Inggris dari kecil, gitu?), silahkan deh langsung tes IELTS. Gue sendiri belajar cuma lewat latihan-latihan pake buku latihan dan CD-nya (keuntungan kerja di kursus bahasa Inggris: bisa fotokopi semua bahan ajar gratis). Abisan males kursus persiapan IELTS karena mahal. Ini tips nomor satu: Bahasa Inggris udah harus lumayan bagus. Paling nggak, kalian ngerti karangan berbahasa Inggris, dan bisa buat tulisan berbahasa Inggris dengan tatabahasa yang tepat.

Kemarin, pas gue lagi nunggu nama gue dipanggil untuk registrasi, gue ngeliat 99% peserta tes pada bawa buku segambreng dan tebal-tebal. 1%-nya cuek, mungkin berdoa dalam hati, pasang tampang sok bisa. Gue salah satu dari 1% peserta cuek. Menurut gue, kalo mau tes apapun, seseorang harus berhenti belajar buat tes tersebut sejak satu hari sebelom tes. Beberapa jam sebelom tes juga jangan dipake buat belajar karena nggak akan bikin lo konsentrasi! Percaya deh sama gue. Intinya, tips nomor dua: Jangan belajar sehari sebelom tes, apalagi beberapa jam sebelom tes. Bawa-bawa buku latihan IELTS tebel-tebel ke tempat tes bukannya bikin elo keliatan keren, tapi malah bikin lo repot sendiri.

Tes pertama yang dilaksanakan panitia adalah tes Listening. Waktunya kurang lebih 40 menit. Dalam sesi tes ini, yang paling penting adalah lo harus pasang kuping dan konsentrasi 100%. Pasang kuping doang tanpa konsentrasi pasti bikin lo keteteran, karena nggak semua jawaban yang bener langsung diucapkan di soal. Ada yang seolah jawabannya bener, eh ternyata dikoreksi (bagian dari dialog). Ada juga yang kata-katanya sedikit berbeda dari soal tertulis, sehingga lo harus mikir dua kali untuk nyocokin kata-kata di dialog audio dengan di soal tertulis. Untungnya, untuk sesi Listening ini, lo dikasih waktu 10 menit terakhir untuk transfer semua jawaban lo ke lembar jawaban. Jadi, pas lagi ngejawab, lo harus jawabnya di soal. Boleh kok, dicoret-coret.

Setelah tes pertama, tes kedua langsung dijalanin yaitu tes Reading. Jangan pikir ada jeda karena setelah lo masuk ruangan tes, lo akan terus terkurung disitu sampe 3 jam lamanya. Jadi kalo lo ada masalah ke toilet lebih baik diselesaikan sebelum tes berlangsung, karena akan susah banget minta ijin ke toilet pas lagi tes. Dalam tes Reading, ada tiga bacaan yang harus lo baca dan 40 soal yang harus lo isi. Nah, gue bakal ngasih lumayan banyak tips di bagian Writing ini, jadi gue akan nulis dalam bentuk poin-poin biar nggak terlalu ngerepotin.

1. Jangan langsung baca bacaan, melainkan lo harus cek dulu soalnya. Lihat soalnya dulu, baru cari jawabannya di bacaan.

2. Usahakan lo bisa membaca cepat, karena ini sangat berfungsi dalam mengerjakan soal Reading. Jangan asal baca cepat, lo harus bisa baca cepat sambil ngumpulin informasi sekaligus.

3. Manajemen waktu sangat penting dalam mengerjakan soal Reading. Dalam tes ini, total waktunya adalah 60 menit. Petugas bakal ngasih tau kalo waktu tinggal 40, 20, 10, dan 5 menit. Penting buat lo untuk nulis pukul berapa lo memulai sebuah soal (satu bacaan soalnya bisa 10 sampai 15 nomor), kemudian setelah selesai bacaan tersebut, lo tulis juga pukul berapa lo selesai. Lakukan hal ini untuk tiga bacaan dalam soal. Usahakan lo punya target waktu untuk menyelesaikan satu bacaan, jangan dilama-lamain, karena kalo lo ngelakuin manajemen waktu kayak gini, dijamin lo punya waktu ekstra 5-7 menit untuk koreksi jawaban-jawaban salah atau baca ulang soal-soal yang menurut lo ambigu.

4. Perhatikan baik-baik soal YES, NO, NOT GIVEN. Pernyataan ‘YES’ berarti soal setuju dengan bacaan, atau soal ada di bacaan. Pernyataan ‘NO’ berarti soal nggak setuju atau nggak ada di bacaan. Pernyataan ‘NOT GIVEN’ berarti soal nggak disebut di bacaan. Kadang pada kecele di bagian ini, nih.

Setelah enam puluh menit, penguji bakal ngambil soal dan lembar jawaban lo lalu menggantinya dengan soal dan lembar jawaban untuk Writing. Ada dua lembar jawaban Writing, satu warna oranye, satu warna putih. Soal di bagian Writing memang cuma dua (Task 1 dan Task 2), tapi ini termasuk penting, karena di bagian ini, kemampuan nulis lo akan diuji. Waktu ngerjain bagian ini juga sama kayak Reading yaitu 60 menit. Gue punya beberapa tips untuk bikin lo ngerasa tenang ngerjain bagian IELTS ini, yang lagi-lagi akan gue rangkum dalam beberapa nomor.

1. Jangan keburu-buru nulis. Baca soal baik-baik, lalu tulis poin-poin yang mau lo kembangan jadi paragraf di lembar soalnya.

2. Task 1 isinya disuruh ngejelasin gambar/tabel/grafik/peta, sementara Task 2 lebih ke kemampuan argumentasi dan deskripsi lo. Nilai task 2 lebih besar daripada task 1 (Sekitar dua kali lebih besar), jadi gue saranin lo alokasi waktu lebih besar di task 2. Gue bener-bener grogi di Task 1, makanya kemarin gue bagusin karangan gue di Task 2, biar gue bisa dapet nilai lumayan bagus sekalipun Task 1 gue dinilai jelek banget.

3. Jangan lupa, manajemen waktu juga penting dalam bagian ini. Lakuin hal yang sama seperti tips gue di bagian Reading soal manajemen waktu. Niscaya kalian punya banyak waktu untuk ngebenerin printilan tulisan kalian, seperti kata-kata yang salah atau grammar yang nggak konsisten.

4. Task 1 nyuruh lo nulis karangan tidak lebih dari 150 kata, sementara task 2 nyuruh lo nulis nggak lebih dari 250 kata. DO WHAT THEY WANT YOU TO DO. Jangan sok kepinteran bikin karangan sampe berparagraf-paragraf panjangnya, karena pasti gak bakal dibaca sama pemeriksa IELTS. Mereka pengen liat seberapa bisa lo merangkum jawaban lo dalam karangan 4 paragraf yang simpel, tapi maknanya keliatan jelas.

Nah, setelah tes Writing ini, selesai sudah penyiksaan otak tiga jam di ruangan super dingin! Lo akan disuruh keluar ruangan dan kembali 30 menit sebelum tes Speaking. Untuk tes Speaking, saran gue cuma satu: PEDE AJA. Jangan takut liat pengujinya bule, jangan grogi, hajar aja ngomong hal-hal yang diminta sama mereka, tapi jangan cepet banget kayak kereta Shinkansen gitu juga ya. Menurut temen gue di kantor yang adalah pengajar IELTS, di tes Speaking, kemampuan lo yang diliat cuma kemampuan kefasihan lo berbahasa Inggris dan bagaimana lo mengucapkan kata-kata secara benar. Masalah tata bahasa itu nomor sekian. Selama penguji masih bisa ngerti apa maksud lo, you’re on the right track. Yang bisa gue kasih tau untuk tes Speaking ini adalah lo akan menghabiskan 10-12 menit di ruangan kosong bersama penguji, dan lo akan diajak ngobrol sebanyak tiga sesi. Sesi pertama, penguji bakal nanya informasi dasar tentang lo. Sesi kedua, penguji bakal ngasih lo sebuah topik dan lo harus ngomong 1 menit tentang topik tersebut berikut poin-poin yang ditanyakan. Sesi ketiga, penguji akan bawa topik dari sesi kedua, bedanya sesi ketiga topiknya akan jauh lebih advanced. Gue di sesi kedua disuruh ngomongin seseorang yang gue kenal yang menurut gue pinter. Lalu di sesi ketiga, pembicaraan jadi ngomongin masalah intelegensia. Apakah orang pinter bisa sombong? Apakah orang pinter dibutuhkan di masyarakat? Apakah masyarakat bisa menerima orang pinter dalam kehidupan mereka? Hal-hal seperti itu lah.

Udah tes, tinggal berdoa dan menunggu pengumuman, deh! Biasanya hasil tes akan keluar 14 hari setelah hari tes. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian yang mau ngambil tes IELTS, ya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s