Bikin Bangga Siapa?


Tulisan berbahasa Indonesia.

Hari ini, gue pergi ke gereja. Kebetulan tema khotbah hari ini adalah “Bibit, Bebet, Bobot”. Pendeta sore ini datang dari gereja Jawa, dan dia mulai ngomongin tentang falsafah Jawa yaitu Bibit Bebet Bobot yang sering dipakai sebagai wejangan orang Jawa ke anaknya yang mau nikah atau cari pacar. Kata pendeta sore ini, “bibit” berarti seseorang pasti dilihat dari asal-usulnya, dari keluarganya. “Bebet” berarti penampilan seseorang, apakah baik atau enak dilihat. Nah, “bobot”, yang terakhir, berarti kualitas seseorang, apakah orang itu punya kualitas sifat-sifat bagus, track record-nya oke, berprestasi, dan lain sebagainya.

Terus, tiba-tiba gue jadi mikir: Kalo seseorang punya kualitas tinggi, otomatis dia pasti punya sesuatu yang bisa bikin bangga orang lain. Nah, banyak orang berpesan begini: “Kamu harus berprestasi, biar orangtua kamu bangga”. Lalu gue jadi kepikiran lain, dan gue jadi mikir begini:

Gue berprestasi bukan hanya untuk bikin orangtua gue bangga, tapi biar anak gue nanti bangga juga sama gue.

Kenapa begitu? Hmm, gue mikirnya sih simpel aja. Siapa sih yang nggak mau punya orangtua berprestasi? Gue sih, mau banget. Nah, sekarang kan gue belom jadi orangtua, tuh, jadi tugas gue masih jadi anak yang harus berprestasi biar orangtua gue bangga. Tapi di masa depan, prestasi gue akan dilihat anak gue nantinya. Dan semoga aja dia mau mengikuti jejak mamanya yaitu jadi orang berprestasi. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kan? Kembali lagi ke falsafah bibit bebet bobot, gue pengen jadi bibit yang bagus supaya anak gue nantinya bagus juga.

Prestasi atau kualitas atau ‘bobot’ menurut falsafah bibit bebet bobot tadi bukan cuma berarti hasil akhir yang bisa kelihatan orang lain, tapi lebih ke proses perjuangan keras lo untuk membuahkan sesuatu yang baik, yang bisa berguna untuk diri sendiri dan orang di sekitar lo. Lo itu orangnya pantang menyerah, nggak? Punya rencana hidup, nggak? Punya visi misi 10 tahun lagi mau bikin apa, nggak?

Gue percaya, setiap orang diberi kemampuan dan potensi untuk jadi orang hebat. Masalahnya kembali ke orang itu sendiri, dia mau percaya dia bisa jadi orang hebat terus mau mengusahakannya atau cuma mau diem-diem aja dan terima nasib. Jadi orang hebat dalam konteks ini bukan cuma dalam konteks material (baca: jadi orang kaya atau jadi orang terkenal), tapi jadi orang hebat dalam konteks diri lo sendiri. Misalnya: jadi tukang sapu yang hebat. Jadi mahasiswa yang hebat. Jadi dosen yang hebat. Jadi koki yang hebat.

Gue percaya dengan kata-kata “Do not settle for anything less”. Dimana-mana, orang pasti nyari yang terbaik. Nyari sekolah/universitas yang terbaik, yang menjamin pendidikan kita. Nyari pacar/calon pendamping hidup yang terbaik juga (lahir maupun batin), biar menyenangkan mata dan hati (bohong banget nggak bersyukur kalo punya pacar ganteng/cantik!). Nah, untuk mendapatkan semua yang terbaik itu, satu-satunya cara adalah kita harus mengusahakan diri jadi yang terbaik juga! Nggak usah lihat definisi ‘yang terbaik’ dari dunia, cukup tanya ke diri sendiri, apa kualitas yang bisa gue gali biar gue jadi yang terbaik? Percaya deh, mungkin lo nggak akan lihat hasilnya, tapi begitu lo jadi yang terbaik, orang-orang akan memperhitungkan lo.

Udahan deh, segitu aja ngomongnya. Sekarang gue mau berusaha memperbaiki bobot gue dulu, biar dapet pacar yang oke, dan biar semoga nanti anak-anak gue bangga sama gue karena punya mama yang kualitasnya baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s