Mendaki Gunung, Lewati Lembah…


Tulisan berbahasa Indonesia.

Salah satu resolusi gue setelah keluar dari pekerjaan kemarin adalah untuk melakukan kegiatan mendaki. Yaaaa… nggak perlu sampe mendaki gunung beneran kayak Gunung Gede atau Gunung Papandayan, sih, karena gue tau batasan diri gue yang paling malas disuruh olahraga dan punya gaya hidup sedentary. Jadi, ketika sahabat-sahabat gue (Ria dan Indra) bikin rencana untuk mengadakan perjalanan sehari ke luar kota, gue pun bersemangat ikut. Sampe-sampe gue menolak tawaran diajak liburan ke Bali hanya dengan alasan “Udah terlalu sering ke Bali, kalo naik gunung kan sekali-sekali aja”. Akhirnya, tanggal 24 September 2014, setelah seminggu penuh persiapan dan diskusi ini-itu lewat LINE, gue, Ria dan Indra memulai perjalanan kami ke Jawa Barat, di mana kami akan pergi ke Curug Cikondang dan Gunung Padang.

Apa itu Curug Cikondang? Apa itu Gunung Padang? Mungkin nggak banyak yang tahu. Sebenernya, dua obyek wisata ini juga baru ngetopnya sekitar beberapa tahun belakangan. Curug Cikondang adalah air terjun yang lumayan gede, sedangkan nggak jauh dari sana ada Gunung Padang. Untuk yang sering baca berita, mungkin agak sering mendengar nama ini ya, karena beberapa tahun yang lalu negara kita sempat dihebohkan dengan penemuan gunung ini, yang bentuknya mirip banget sama Macchu Picchu dan disinyalir merupakan ‘bentuk peradaban manusia yang belum tersentuh sejarah’. More on that, later.

Sekitar jam setengah 7 pagi, kami berangkat naik kereta komuter dari Jakarta ke Bogor. Dari Bogor, seharusnya kami lanjut naik kereta ke stasiun Lampegan. Sialnya, nggak ada dari kami yang tahu bahwa stasiun kereta komuter Bogor dengan stasiun kereta di Bogor untuk perjalanan antar kota tuh lumayan jauh, dan sialnya lagi kami tiba di Bogor sekitar 15 menit sebelum kereta ke Lampegan berangkat. Langsung deh lari-larian, menyerobot orang-orang yang jalan terlalu santai di stasiun, bahkan gue sampe keseleo. Ya, keseleo! Sial banget pokoknya. Untung kami sampai di stasiun kereta antar kota sekitar 3 menit sebelum keretanya berangkat. Begitu duduk di kereta, gue langsung mengeluarkan salep salisilat yang selalu gue bawa-bawa kalo perjalanan jauh.

Sampai di Lampegan sekitar jam 11 siang. Kami sengaja turun di Lampegan karena pengen ngeliat terowongan yang dibuat Belanda terus direnovasi tahun 2010 karena terowongannya ambruk. Stasiunnya keciiiilll banget, dan nggak ada angkot yang lewat, cuma ojek-ojek. Karena stasiunnya sepi banget dan jarang ada kereta yang lewat, kami memanfaatkan kesempatan untuk bebas berfoto ria.

Terowongan Lampegan

Setelah puas foto-foto, ternyata udah banyak ojek nunggu. Ria segera melakukan nego harga untuk rute stasiun Lampegan-Curug Cikondang-Gunung Padang-terminal bus. Disepakati seorang bayar Rp 160 ribu. Gue langsung naik ke salah satu ojek dan kami langsung pergi ke Curug Cikondang, kira-kira 45 menit jauhnya dari stasiun Lampegan. Wow, begitu keluar dari daerah stasiun dan rumah-rumah penduduk, ternyata pemandangannya baguuuussssss banget! Gue berasa kayak di puncak gunung dunia. Hijau dimana-mana, sejauh mata memandang cuma ada sawah, bukit, pohon-pohon besar.

Perjalanan dari stasiun Lampegan ke Curug Cikondang sangat berkesan buat gue, bukan hanya karena gue disuguhkan pemandangan luar biasa indah lukisan tangan Tuhan, tapi karena di perjalanan ini untuk pertama kalinya gue mengalami sensasi offroad naik motor. Jalannya berliku-liku dan nggak di aspal, jadi si abang ojek harus pinter-pinter belok sana-sini. Rasanya seru banget. Gue pernah offroad dua kali, sekali di Gunung Bromo dan sekali di Florida, tapi nggak menyamai serunya offroad naik motor.

Setelah waktu yang sangaaaaat lama, akhirnya kami tiba di pintu masuk Curug Cikondang. Gue turun dari motor pelan-pelan, kemudian jalan beberapa langkah, lalu slup! gue keseleo lagi. Sial banget gue kemarin, keseleo dua kali. Mana sakit keseleo pertama belum sembuh. Udah jatuh, kena tangga pula! Sialnya, motor nggak bisa turun menuruni bukit, jadi kami harus turun sendiri. Gue terpaksa minta bantuan Ria untuk jadi ‘tongkat’ gue karena kaki kiri gue lemes banget akibat keseleo dua kali. Perjalanan turun bukit juga jadi agak lama. Huh, jadi agak merasa bersalah karena gue ngerepotin temen-temen gue. Akhirnya, setelah bersusah payah turun bukit dengan kaki keseleo, kami tiba di Curug Cikondang, dan mata gue langsung seger dengan pemandangan seperti ini…

Curug Cikondang

GILA BANGET NGGAK, SIH????

Wah, gue langsung bersyukur bisa menginjakkan kaki di tempat itu, dan nggak henti-hentinya gue takjub memandangi karya Tuhan yang satu ini. Menurut gosipnya, air terjun Cikondang ini mengandung merkuri karena kena limbah hasil pendulangan emas yang memang banyak terjadi di daerah ini, tapi gosip itu ditangkis abang ojek-nya Ria dengan berkata, “Ah itu mah bohong!”. Percaya nggak percaya, sih. Tapi begitu kami jalan lebih dekat, badan rasanya segar banget kena mist dari air terjun, dicampur dengan udara yang memang adem sepoi-sepoi. Kesempatan ini tentu nggak boleh dibuang untuk selfie bertiga, dong!

Selfie 1 Selfie 2

Puas foto-foto ria, kami langsung buka bekal makan siang. Kebetulan dekat air terjun, ada saung kecil yang bisa dipakai untuk istirahat. Ria bawa makan siang untuk kami semua. Asyik banget, istirahat di saung sambil makan siang dengan pemandangan air terjun. Serunya lagi, kemarin bener-bener nggak ada orang di curug tersebut jadi si curug berasa milik kami bertiga! Jarang banget terjadi, kan? Kata abang ojek, kalau hari Sabtu dan Minggu, banyak banget wisatawan yang datang, jadi nggak mungkin bisa bebas main di curug. Habis makan siang, Ria dan Indra kembali foto-foto dengan pose-pose ajaib termasuk naik ke batu, gue nggak ikutan karena kaki gue masih sakit akibat keseleo, apalagi medan yang mereka tempuh lumayan licin dan agak nyeremin juga buat gue. Kalo nggak keseleo sih gue udah pasti ikutan foto-foto… Sedih. Kami di Curug Cikondang cuma sekitar satu jam, setelah itu kami mendaki naik bukit lagi untuk pergi ke tempat wisata kedua: Gunung Padang. Oh iya, lupa ngomong, tarif masuk wisatawan ke Curug Cikondang adalah Rp 5.000 per orang.

Nah, habis dari Curug Cikondang, datanglah kami ke tempat yang gue tunggu-tunggu… Situs Megalitikum Gunung Padang!!! Perjalanannya cukup jauh, sekitar 30 menit, udah gitu kami tetep harus melewati jalanan rusak jadi gue ngerasain offroad kedua, hehehe. Begitu masuk ke kompleks Gunung Padang, hawa pariwisatanya memang lebih kerasa dibandingkan Curug Cikondang, seperti lebih banyak warung dan pintu masuknya juga lebih luas. Harga tiket masuknya Rp 2.000 per orang, tapi kalo kalian bawa turis asing, dikenai tarif Rp 5.000 per turis asing (huh, politik diskriminasi deh, Indonesia…). Setelah bayar tiket, si petugas ngomong bahwa ada dua tipe jalur yang bisa ditempuh kalau kita mau sampai ke situs, bisa lewat jalur cepat dan alami tapi anak tangganya lebih terjal, atau jalur untuk wisatawan yang anak tangganya agak banyak tapi nggak terlalu terjal. Menimbang bahwa kaki gue masih keseleo dan nggak mungkin gue naik ke situs lewat jalur alami (padahal kepingin banget…), akhirnya kami bertiga naik ke situs lewat tangga untuk wisatawan.

Ternyata naik tangga lewat jalur wisatawan juga sulit, buat gue. Berapa kali gue berhenti, ambil nafas, lalu naik lagi. Ria bilang ini itung-itung latihan fisik gue sebelum PK LPDP. Dalam hati gue nyanyi lagunya Miley Cyrus yang “The Climb” itu aja, biar nggak berasa capek. Apalagi kaki gue yang nyut-nyutan bikin kecepatan gue agak lambat sehingga gue sering ketinggalan dari Ria dan Indra. Dalam hati gue berkata, “Ayo Crystal, semangat! You’ve come this far!!!!”

Begitu sampai di situsnya, gue cengo. Oh. My. God. Sejarah singkat, Gunung Padang ini awalnya ditemuin pada masa penjajahan Belanda oleh N.J. Krom, sempat ditulis di jurnal Belanda, tapi dilupain orang. Tahun 1979, ditemuin sama tiga penduduk sekitar, dilaporin ke pihak berwajib. Penggalian dan penelitian terhadap gunung ini memang sudah dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, tapi baru beberapa tahun ini lumayan terkenal di masyarakat awam, karena pemerintah juga baru-baru ini membuka Gunung Padang sebagai tempat wisata untuk masyarakat. Gunung Padang ini bentuknya seperti punden berundak (ingat candi? seperti itu deh macamnya), dengan empat teras. Sekarang, penelitian lagi dilakuin di teras paling tinggi. Seperti ini penampakannya.

Gunung Padang

Foto ini diambil di teras ketiga. Naik dari sana, ada teras-teras lagi. Ria terlalu penasaran sama gunung Padang ini, jadi dia banyak nanya ke tim penggalian dan tentara-tentara yang memang rame banget disitu. Serius, tentaranya banyaaaaak banget. Gue langsung inget sama adegan di salah satu film Indiana Jones di mana banyak tentara NAZI yang mengawal ekskavasi Tabut Perjanjian. Hasil tanya-tanya sana sini-nya Ria membuahkan kami bertemu dengan salah satu anggota ekskavasi, pak Dani namanya, dia itu anggota ekskavasi dari sudut pandang geologi. Untuk dari arkeologi, dia menyebut nama salah satu dosen almamater yang lumayan terkenal di kampus gue. Kami sempet ngobrol selama 10-15 menit, dan dari pak Dani itu gue baru tahu bahwa formasi batuan dan tanah di gunung ini kira-kira terbentuk sejak tahun 10000 SM, dan jika teori ini benar (baca: jika ekskavasi dan penelitian selesai dilakukan dan teori ini benar adanya), maka bisa jadi kita punya peradaban sejarah yang jauh lebih tua daripada peradaban sejarah tertua yang kita tahu sekarang yaitu peradaban Sumeria. Kurang keren apa, coba? Setelah ngobrol sama pak Dani itu, kami foto-foto lagi…

Gunung Padang 2Gunung Padang 3Gunung Padang 4

Kami agak lama main di Gunung Padang, sekitar 2 jam. Habis… terlalu terpana dengan formasi piramida yang oke banget ini. Menhir dimana-mana. Kegiatan ekskavasi juga berlangsung kayak biasa. Gue jadi ngerasa ‘kembali ke kampus’, karena dulu di fakultas gue ada tempat simulasi penggalian untuk mahasiswa Arkeologi. Setelah 4 tahun cuma liat simulasinya aja, kali ini bisa ngelihat aktivitas penggalian secara langsung. Buat gue ini bener-bener menarik.

Puas main di Gunung Padang, kami turun. Lagi-lagi, rada lama karena kaki gue keseleo. Hiks! Parah banget. Naik ke ojek masing-masing, lalu kami diturunin di pusat kota Cianjur karena ternyata ada bus jurusan Jakarta yang lewat. Sampai Jakarta jam 9 malam, gue sampai rumah jam setengah 11 malam.

Wah, perjalanan kemarin bener-bener berkesan deh, buat gue. Gue bersyukur banget diajakin jalan sehari naik bukit dan lihat air terjun sama sahabat-sahabat gue sebelum kepergian gue ke negara orang tahun depan. Menurut gue, ini salah satu cara gue untuk menambah kecintaan gue pada negara, sekaligus untuk ngingetin ke diri sendiri bahwa yang namanya negara gue itu punya banyak banget tempat wisata yang belum dijamah orang dan yang masih asri, jadi nggak kalah sama liburan di luar negeri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s