Ayo, Sekolah Lagi!


Tulisan berbahasa Indonesia, dalam rangka menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (selanjutnya akan disingkat MEA) 2015 sudah di depan mata. Mulai 1 Januari 2015, negara kita akan resmi jadi negara terbuka untuk anggota ASEAN lainnya, dimana mulai tahun depan, kita akan bebas untuk saling berdagang, bekerja, di negara ASEAN manapun yang kita mau. Semua kesempatan untuk berdagang, bekerja, tinggal, sekolah, akan jauh lebih terekspos dengan adanya MEA ini. Lihat aja implementasinya di Uni Eropa. Intinya, MEA 2015 akan jadi pasar tunggal ASEAN, dan diharapkan dengan adanya MEA ini, ASEAN bisa mengungguli pasar Cina dan India untuk menarik investasi asing. Kalau sudah dibentuk pasar tunggal, maka sebuah negara bisa menjual produknya dengan lebih mudah ke negara-negara Asia Tenggara lain.

Nah, apa hubungannya dengan pendidikan, dan kenapa gue dengan sangat semangat menyarankan kalian semua, orang-orang Indonesia yang umurnya sama dengan gue (atau yang tergolong masih dalam umur produktif), untuk sekolah lagi?

Mau cerita latar belakang dulu, ah. Akhir minggu kemarin, gue ketemuan sama teman lama yang sudah pindah ke Jerman untuk sekolah. Namanya Farhan. Kami cerita macam-macam sambil ngopi lalu pergi nonton film. Gue kebanyakan nanya sama dia sih, tentang gimana tinggal di Eropa. Walaupun dia hidup di Jerman dan gue akan tinggal di Belanda, tapi tinggal di Eropa kan nggak jauh beda satu negara dengan yang lain. Terus gue nanya, “Han, kalo di Eropa, yang S2 itu biasanya orang-orang umur berapa, sih? Gue takut kemudaan nih nanti.”

Farhan lalu tertawa, kemudian dia bilang bahwa di Eropa, orang-orang yang S2 biasanya ada di rentang umur 20-an, jadi gue nggak usah takut kemudaan. Justru mereka biasanya habis S1 akan langsung cari sekolah lagi untuk S2. Apalagi, kata Farhan, sekarang mulai diimplementasikan kurikulum baru di seluruh perguruan tinggi Eropa, jadi pelajaran S1 biasanya mendukung untuk pelajaran S2, terutama untuk orang yang mau sekolah lagi dengan ilmu yang linier dengan gelar S1-nya. Di sana, orang yang langsung sekolah lagi dari S1 ke S2 udah dianggap biasa. Di sini mungkin masih mengundang decak kagum dari orang di sekitar, karena kebanyakan orang setelah S1 malah langsung cari kerja, bukan sekolah lagi. Dari diskusi kami sambil jalan-jalan keliling mall, bisa disimpulkan bahwa orang Eropa udah sadar pendidikan banget, bahkan mereka lebih memilih untuk lanjutin sekolah sebelum terjun ke dunia kerja.

Hal tersebut adalah sesuatu yang masih jarang banget di Indonesia, walaupun sekarang udah banyak sih yang lebih milih untuk sekolah lebih tinggi sebelum menerjunkan diri ke dunia kerja. Gue jadi mikir, mungkin sekarang era orang kerja adalah kalo orang tersebut udah selesai S2 atau bahkan S3. Jaman mama papa kita dulu, biasanya orang disebut layak kerja kalau udah lulus SMA. Kalau ada orang yang S1 kemudian cari kerja, pasti orang tersebut dapat gaji dan posisi lebih tinggi daripada yang cuma lulusan SMA. Jaman sekarang, posisi minimal kerja sudah berubah. Untuk meraih posisi dan gaji tinggi, seseorang harus minimal punya ijazah S2.

Lalu gue jadi mikir untuk MEA 2015 ini dan apa hubungannya dengan pendidikan. Kalau kita lihat di negara-negara tetangga kita, pendidikan mereka udah maju pesat sekali, contohnya aja di Singapura, Thailand, dan Malaysia. Di Singapura, siapa sih yang nggak kenal National University of Singapore atau Nanyang Technological University? Mungkin nama Chulalongkorn University, Mahidol University atau Thammasat University masih asing di telinga orang Indonesia, tapi tiga universitas dari Thailand itu sudah cukup terkenal di negara maju. bohong banget kalau orang Indonesia belum dengar nama Limkokwing University of Technology dan Universiti Malaya, universitas-universitas yang berpusat di Malaysia. Universitas-universitas yang gue sebutin itu adalah nama-nama universitas yang lulusannya sudah terkenal di dunia, yang jurusan-jurusannya bisa bersaing dengan jurusan-jurusan yang sama di ratusan universitas ngetop lainnya. Sayangnya, gue harus akui bahwa lulusan-lulusan universitas ini jauh lebih kompeten dan lebih mampu bersaing daripada lulusan universitas di Indonesia. Dan tahun depan, kita akan bersaing dengan mereka untuk bekerja di berbagai sektor, baik itu mau kerja di negara sendiri maupun mau mengadu peruntungan di negara tetangga.

Kenapa gue bilang kita masih kalah dibanding lulusan luar negeri? Kalo gue lihat sih, jawabannya ada dua. Nomor satu: kendala bahasa. Soal mental, itu termasuk penilaian individual. Etos kerja juga. Setiap orang punya ketahanan diri dan daya tahan uji yang berbeda. Tapi kendala bahasa? Itu masalah nomor satu dan harus bisa diselesaikan. Banyak banget lulusan S1 Indonesia yang bahasa Inggrisnya masih pletat pletot. Gue nggak bohong, lho. Sembilan bulan kerja di les bahasa Inggris sudah sangat membuka mata gue bahwa orang Indonesia masih kurang bagus bahasa Inggrisnya. Sementara kalau kita mau kerja di luar negeri, kita butuh sertifikat kemampuan bahasa seperti IELTS dan TOEFL, dan bahasa Inggris yang di uji di ujian itu adalah bahasa Inggris tingkat tinggi. Gimana bisa kita maju dan ikut berkembang di MEA kalau bahasa Inggris kita masih pletat-pletot? Sayang banget sama gelar, nanti nyesel sendiri kalau kita nggak dapat-dapat kerja cuma karena kita kalah di bidang bahasa sama orang-orang lulusan universitas luar negeri, atau sesama lulusan universitas dalam negeri yang bahasa asingnya lebih bagus.

Nomor dua: orang Indonesia masih sedikit yang mau melanjutkan sekolah lebih tinggi. Mungkin ini subyektif, ya, tapi menurut pandangan gue, pendidikan itu adalah salah satu investasi paling berguna. Lewat pendidikan, secara langsung dan tidak langsung lo bisa menaikkan ‘harga jual’ diri sendiri. Lewat pendidikan, maka nilai jual dan nilai guna lo akan bertambah. CV lo juga akan dipoles lebih bagus, kemudian perusahaan akan melihat lo sebagai calon pegawai yang punya nilai lebih dibandingkan yang lain. Pendidikan nggak harus berupa sekolah formal, kok. Bisa berupa kursus bahasa, desain, menjahit, public speaking, dll. Dengan pendidikan, nilai saing lo akan bertambah, kemudian lo bisa bersaing dengan orang-orang yang datang dari berbagai negara, mengecap berbagai kebudayaan, bersekolah di sekolah-sekolah ngetop dunia.

Jadi, tunggu apalagi? Ayo sekolah lagi! Tambahkan nilai guna dan daya saing kalian demi menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015!

Iklan

3 tanggapan untuk “Ayo, Sekolah Lagi!

  1. Setujuuuuu.. Satu2nya harta yang ga bakal bisa dicuri: PENDIDIKAN. Bisa dicuri pun bukannya makin miskin malah tambah kaya 😉
    Puji Tuhan gua orangnya seneng belajar, Tal. Semoga lu gitu juga ya 😉 Sayang banget soalnya kalo kita punya otak tapi ga dipake, jadi pajangan doang 😛 *ngomong ke diri sendiri*

    Suka

    1. Iya Ge, gue juga seneng belajar. Sedikit nyesel kenapa kesenengan gue belajar ini munculnya justru pas udah mau selesai S1. Tapi ga ada kata terlambat kalo kata gue… waktu SMA gue anaknya biasa-biasa aja, gak pinter gak bodo. Gak terlalu mentingin belajar. Baru akhir-akhir ini ngerti bahwa pendidikan itu aset paling berharga.

      Suka

      1. ‘Better late than never’ but also ‘the sooner the better’ iya ga sih 🙂
        Gue juga ga terlalu pinter kok Tal tp kalo kita fokus dan mengembangkan bakat di satu bidang (atau lebih) kita bisa sukses lho. Gue pernah baca somewhere in this blogging area gt kalo ‘flow’ dlm mengerjakan sesuatu jg merupakan sumber kesuksesan. It means you really have passion into it, gitu 🙂

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s