Makan Kerang Sampe Mabok di Brussels


Akhirnya KTP Belanda gue “pecah telor” juga. Kemarin gue pergi ke Brussels untuk perjalanan sehari bareng temen-temen Indonesia yang ada di Leiden. Gue berangkat bersama empat orang lain dan dari empat orang itu gue udah kenal dua orang (Ibey dan Herman). Dua teman yang lain (Archie dan Rani) baru gue temui di stasiun Leiden.

Perjalanan ke Brussels ini buat gue adalah perjalanan impulsif. Beberapa hari sebelum berangkat, Ibey nawarin gue mau nggak ke Brussels karena ada harga tiket kereta murah. Mendengar “tiket kereta murah”, gue langsung mau. Kebetulan ada tarif Leiden-Brussels 23 euro sekali jalan, jadi pulang pergi cuma dibawah 50 euro. Tanpa ba bi bu lagi, langsung gue beli deh tiketnya.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami naik kereta jam 7 pagi ke Schiphol, dari Schiphol naik kereta Intercity Direct ke Rotterdam, dan dari Rotterdam naik kereta lagi ke Brussels Centraal. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam (dari Leiden sampe Brussels, udah dihitung waktu transit). Selama perjalanan, nggak ada satupun dari kami yang tidur, bahkan si Archie sampe nggak jadi tidur, padahal dia dari Leiden bilang masih ngantuk banget dan berencana tidur di kereta. Boro-boro bisa tidur kalo sepanjang perjalanan ketawa-ketawa dan ngobrol melulu…

Buat gue, ini adalah kedua kalinya gue ke Brussels, setelah 3 tahun lalu pergi ikut tur dari Indonesia ke Eropa (sesuatu yg nggak mau gue inget-inget lagi, huh). Tapi ini adalah pertama kali gue pergi ke luar Belanda naik kereta. Kesan-kesan gue lihat stasiun kota-kota perbatasan Belanda dan Belgia adalah… stasiunnya beda banget sama Belanda. Oke lah, mungkin gue belom khatam kelilingin Belanda naik kereta dan ngeliatin stasiun-stasiun mereka, tapi stasiun di Belgia itu arsitekturnya jadul. Kereta kami sempet berhenti cukup lama di stasiun Mechelen, terus gue nyeletuk, “Buset, stasiunnya kayak stasiun jaman Perang Dingin”. Si Archie sampe ketawa. Ya abis… bentuk peronnya biasa banget dengan warna-warna pudar. Gimana bikin nggak inget sama film-film Perang Dingin, coba?

(Hari ini gue baru cek di Google dan ternyata beberapa stasiun memang dibangun pas jaman perang.)

Sesampainya di Brussels Centraal (atau Bruxelles Central kalo mau lebih eksotis pake bahasa Prancis), kami langsung jalan menuju Grote Markt. Di Grote Markt kami foto-foto dan cari peta. (Tips: Peta bisa didapat di Brussels Visitors Centre, sebelah Hotel de Ville de Bruxelles dan harus bayar 50 sen). Setelah dapat peta, kami menentukan mau jalan kemana. Akhirnya diputuskan untuk pergi ke Belgische Stripcentrum (Museum Komik Belgia).

Untuk sampe ke Museum Komik, kami harus melewati pusat perbelanjaan ala-ala plaza di Paris yang namanya St. Hubert. Duh serius deh itu tempat isinya lucu-lucu banget. Ada toko coklat, bioskop, kafe, sampe toko mahal kayak Longchamp.

St. Hubert StoreSalah satu penampakan toko lucu di St. Hubert

Sebelum ke museum kami memutuskan untuk cari makan dulu, kebetulan jarum jam juga sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang. Nah, St. Hubert itu dipisah oleh sebuah gang kecil, namanya Rue des Bouchers. Jalan kecil ini isinya restoraaaaannnnnn semua. Kami memutuskan untuk makan makanan Belgia yang asli banget (bukan burger) yaitu pengen cari mosselen atau kerang. Sempet agak bete juga gue karena di Rue des Bouchers ini banyak banget pelayan yang manggil-manggil calon pelanggan di luar restoran, sampe dijanji-janjiin dapet wine gratis segala. Kami lewat di sebuah restoran yang sepi, namanya Le Brueghel, dan cukup tertarik dengan penawaran paket mosselen-nya. Akhirnya kami makan di restoran itu, dan kami jadi pelanggan pertama, lho!

Awalnya kami pesan 1 kg mosselen. Si pelayan nanya, “Lo yakin?” karena kami berlima dan cuma pesen 1 kg doang. Herman bilang nggak apa-apa, entar kalo mau lagi ya bisa pesen lagi. Untuk minum, kami pesan paket icip-icip 5 bir per gelas cuma 8.50 euro dan satu botol bir spesial Belgia, Tongerlo namanya. Berdasarkan iklan di depan restoran, Tongerlo ini dianugerahi predikat “Bir Terbaik Belgia” tahun 2013 dan 2014. Penasaran laaaaah! Di Le Breughen ini penyajian makanan dan minumannya cukup cepat. Lima gelas bir icip-icip datang beberapa saat kemudian (nggak lupa pake borrelnootjes – kacang pendamping ngebir) dan habis lima bir itu datanglah satu botol bir Tongerlo dan gelas bir besar yang gue sebut “Holy Grail”. Ternyata rasa Tongerlo tuh ENAK BANGET. Gue emang bukan analis bir, tapi gue bisa bilang bahwa ini adalah bir paling enak yang pernah gue rasain sepanjang gue pernah minum bir.

Tongerlo BeerBir Tongerlo dan Cawan Suci

Ternyata surga dunia nggak sampe disitu aja. Sehabis kami heboh karena bir Tongerlo yang super enak, 1 kg mosselen datang dan… Langsung habis diserbu. Gile, rasanya enak banget. Mosselen rebus dengan kuah yang sangat flavourful karena pake daun seledri dan banyak daun bawang. Aaaaaahhh!!! 1 kg mosselen pun habis dan kami memutuskan untuk PESAN LAGI!

Mosselen HighMosselen High (foto diambil dari Path-nya Herman)

Puas makan mosselen sampe bego, kami jalan menuju Museum Komik. Weh, gue baru sadar ternyata jalanan di Brussels tuh naik turun, persis jalanan San Francisco. Hitung-hitung buang lemak abis kalap makan siang. Untung tadi sempet beli peta, jadi kami bisa menemukan si Museum Komik dengan mudah dan nggak nyasar.

Isinya Museum Komik itu lucu banget! Gue langsung terbawa ke dunia masa kecil, waktu gue suka banget nonton Lucky Luke dan baca komik Asterix. Di museum tersebut, ada pameran-pameran tentang sejarah komik, teknik bikin komik, sampe ke jenis-jenis komik. Menarik banget isinya. Di lantai tiga, ada eksebisi tentang beberapa komikus, contohnya adalah si Herge yang terkenal banget dengan komik Tin-tin, dan Peyo, si pengarang Smurf (atau Schtroumpfs).

Museum KomikSalah satu bagian dari Museum Komik

Bagian paling menarik dari museum ini tak lain dan tak bukan adalah toko museumnya! Semua jenis cinderamata berbau tokoh komik Belgia ada disini, mulai dari yang terkenal semacam Tin-Tin dan Smurf sampai tokoh-tokoh komik lokal yang nggak kalah keren. Ada juga buku-buku komik tokoh dunia kayak Freud dan adaptasi Les Miserables ke format komik, tapi harganya mahal banget dan bahasanya juga pake bahasa Prancis, mana gue ngerti… Untuk harga, suvenir di toko museum ini agak mahal sih, tapi gue bela-belain beli dua kartupos (Smurf dan Tin-Tin) dengan harga 1.25 euro per kartu. Ada gantungan kunci Tin-Tin dan Captain Haddock yang gue taksir banget, tapi harganya mahal… 9 euro. Duit segitu bisa dipake patungan makan mosselen lagi.

(Fun Fact: Di Kuifje (Tin-Tin versi Belanda), Professor Calculus ganti nama jadi Professor Zonnebloem (‘bunga matahari’) dan Snowy jadi Bobbie.)

Setelah dari Museum Komik, kami balik lagi ke Grote Markt buat makan lagi. Kali ini Herman penasaran pengan makan waffle ala Belgia. Sampailah kami di toko jual waffle dan gue beli waffle juga. Ibey, Rani, dan Archie beli churros porsi jumbo. Gue udah agak sangsi aja tuh soalnya porsi makanan disini kan segede gaban, porsi kecil aja buat gue udah bikin eneg apalagi porsi jumbo. Ternyata bener aja dong, itu churros kayaknya bisa banget dimakan sama 7-8 orang, abisan banyak banget! Gue nggak makan churrosnya karena menurut gue si waffle udah cukup manis. Kata Rani sih si churrosnya enak, nggak berminyak, dan saus coklatnya juga enak banget. Belgian chocolate gitu loooh.

Selepas makan churros dan waffle super enak, kami jalan lagi! Tujuan kali ini adalah ke Justice Palace. Jalannya kali ini lebih jauh daripada ke Museum Komik, nggak apa-apa lah olahraga jalan terus!

Mural WallBelgia terkenal dengan dinding-dinding penuh warna, mural ini gue temuin di gang dalam perjalanan menuju Justice Palace.

Justice Palace ini letaknya agak menanjak, lumayan banget kayak naik bukit. Dari atas, kita bisa lihat pemandangan Brussels. Bagus banget. Sayangnya Justice Palace lagi di renovasi, dan kelihatannya kita juga nggak bisa masuk… Untungnya di deket situ ada plaza besar. Di plaza itu, ada monumen untuk mengenang para prajurit Belgia yang mati demi negara selama Perang Dunia 1 dan 2. Come to think of it, gue juga ngeliat plakat yang hampir sama, ada di Brussels Centraal. Di plaza itu lagi ada konser kecil, jadi kami nonton konsernya sebentar. Ternyata itu adalah konser pembukaan aksi damai pro-toleransi antar agama, bahkan bukan cuma agama, ada juga bendera pelangi khas LGBT dengan tulisan EQUAL. Seru banget. Pantesan aja konser tersebut banyak polisi yang jagain.

Konser EqualitySemacam aksi damai anti-diskriminasi di Indonesia

Kami cuma sebentar disitu, karena masih mau jalan-jalan lagi… Dari Justice Palace rencananya kami mau kembali ke Grote Markt, kali ini mau cari suvenir kecil-kecil. Dalam perjalanan, kami lewat taman-taman super bagus dan ngelewatin Royal Palace juga, lho. Sepanjang perjalanan, gue nggak berhenti mikir bahwa Brussels mirip banget sama Paris… mulai dari arsitektur bangunannya, patung-patung di jalan, tata ruang kota, sampai atmosfernya. Ada suasana tersendiri dari Brussels yang beda sama kota besar di Belanda. Romantis? Iya. Banyak banget musisi jalanan berbakat yang menghibur pejalan kaki. Apalagi cuaca kemarin agak mendung dan sempat hujan, semakin berasa deh atmosfer romantisnya. Bagus deh!

KoningspleinKoningsplein/Place Royale

IndonesiansKiri-kanan: Archie, Ibey, gue, Herman, Rani, selfie depan Royal Palace

Grote MarktGrote Markt arah ke stasiun

Hari sudah sore. Sampe Grote Markt, kami… makan lagi. Kali ini kami beli Belgian Frites. Harganya emang agak mahal (siapa suruh ngemil di daerah turis), tapi rasanya sebanding, kok. Gue beli kentang goreng dengan topping mayones dan sate chicken wing, yang lain ada yang pesen sate ayam dan sate sapi. Rasa satenya enak banget. Bumbunya meresap sampe ke dagingnya. Kentangnya juga enak. Nggak berminyak, dan mayonesnya nggak kental tapi bentuknya agak padat kayak krim.

Setelah puas ngemil, cerita-cerita dan ketawa-ketawa, kami mulai cari suvenir! Entah kenapa, yang kepikiran di otak gue cuma satu: gue harus bawa pulang satu botol bir Tongerlo ini. Akhirnya kami berlima muter-muter keliling toko suvenir yang jual bir. (TIP: Belilah bir di toko yang jual coklat, biasanya mereka jual bir juga). Ketemu deh satu toko, gue udah mau beli Tongerlo, tapi Herman ngasih liat gue merek bir dengan varian yang nggak ada di Belanda. Gue meninggalkan toko itu tanpa beli apa-apa, karena Herman mau cari toko bir dengan harga yang lebih murah. Di seberang toko bir pertama, ada Carrefour Express (semacam Alfa Midi-nya Belgia) yang ternyata jual bir Belgia yang nggak ada di Belanda! Wah, Herman langsung borong bir merek Leffe dengan varian-varian unik. Gue udah kepikiran pengen beli bir itu, tapi rasa yang gue mau adanya malah di toko bir pertama. Akhirnya setelah nemenin Herman beli bir, gue kembali ke toko bir pertama dan gue beli bir Leffe rasa madu. Herman juga beli bir yang sama.

Masih ada waktu satu jam sebelum kereta menuju Amsterdam jalan. Kami kemudian mikir, mau kemana lagi… semua tempat wisata udah pada tutup, Grote Markt juga udah nggak seru lagi karena udah gelap. Tiba-tiba salah satu dari kami nyeletuk,

“Pada mau balik ke Brueghel nggak, makan mosselen lagi?”

Awalnya pada “Gile lo! Mabok kerang lo?” tapi lama-lama… “AYOK DEH YOK KITA KE BRUEGHEL!”

Gue ngakak selama jalan kaki ke Brueghel, karena ngebayangin muka si pegawai restoran yang ngelayanin kami pas makan siang… kira-kira dia bakal ngomong apa pas ngeliat kami balik lagi untuk makan malam? Ibarat anak-anak kelaparan, kami jalan super cepat ke Brueghel, sekaligus mempersingkat waktu juga, biar nggak ketinggalan kereta… Dan bener aja. Si pelayan tadi masih ada, dia ketawa ngeliat kami masuk restoran dan lagi-lagi duduk di tempat yang sama dan pesan menu yang sama pula!

Your food is very delicious, that’s why we want to come back!” kata Herman sambil mesem-mesem.

Mungkin karena kami dianggap pelanggan setia yang mampir ke restoran tersebut sampe dua kali dalam sehari, kali ini penyajian mosselen jauh lebih cepat daripada pas makan siang tadi. Pas si mosselen datang, kami berlima langsung konsentrasi makan, bener-bener langsung nggak ada suara, cuma suara seruput kuah, sendok garpu, dan celotehan “Pepper dong”, “Mayo dong”. Kami makan cepet banget, ada kali cuma 15 menit, 2 kg mosselen langsung ludes! Setelah bayar, kami jalan secepat kilat ke stasiun kereta yang jaraknya deket banget dari restoran itu.

Huah, lega banget rasanya! Puas banget jalan-jalan dari pagi sampe tengah malam di Brussels, cobain makanan enak, berpetualang sama temen-temen baru, dan minum bir terenak di Belgia. Kereta malam jam 9.46 ke Amsterdam pun datang… Dan kami pulang membawa kesan-kesan mendalam. Brussels, you are too good to be true!

Trinkets from BrusselsIni adalah barang belanjaan gue habis dari Brussels. Kiri-kanan: Kartu pos Smurf, boks dari timah dengan gambar jadul ala-ala Prancis, kartu pos Tin-Tin, dan bir Leffe rasa madu yang nggak ada di Belanda

Iklan

8 tanggapan untuk “Makan Kerang Sampe Mabok di Brussels

    1. Kayaknya resepnya mudah, cukup kerang ijo terus direbus… Dan airnya pake banyak daun seledri, daun bawang dan bawang bombay. Soalnya gak ada sayur lain yg keliatan di kuah selain itu.

      Suka

    1. Buahahahaa!!! Emang kemarin tuh gila banget mbak. Tapi karena makannya rame2 jd kantong gak bolong. Awalnya aku udh spannend juga tuh, untung yg lain makannya cepet banget, bahkan kita msh ada spare waktu 20 menit pas sampe stasiun.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s