Ketika Para Blogger Bertemu


Akhir minggu ini, gue produktif banget. Hari Sabtu kemarin (21/3) gue pergi ke Utrecht untuk menghadiri seminar tentang krisis moneter Uni Eropa dan hubungannya dengan AEC (ASEAN Economic Community), dan sorenya gue bertolak ke Den Haag untuk nonton film Insurgent. Hari Minggunya (22/3) adalah hari yang gue tunggu-tunggu sejak akhir Februari karena hari Minggu adalah hari janjian kopi darat dengan beberapa blogger Indonesia yang tinggal di Belanda!

Ide ini sebenernya dicetuskan oleh Mbak Yoyen, suatu hari dia nanya gue apakah berminat untuk ikutan kopdar blogger Indonesia di Belanda. Gue langsung mau, lah. Akhirnya yang setuju untuk ketemuan tanggal 22 April ada gue, mbak Yoyen, mbak Indah, mbak Yayang, dan mbak Deny. Tempat pertemuan disetujui di kota Utrecht dan kami bertemu depan Utrecht Centraal.

Yoi, akhir minggu ini gue pake hashtag #anakUtrecht deh.

Di hari yang sudah ditentukan, gue berangkat naik kereta jam 11.52 dari Leiden Centraal ke Utrecht Centraal. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 50 menit. Sesampainya disana, ternyata belum ada satupun dari kami yang datang di tempat pertemuan (“depan Tickets & Services NS ya!”), jadi gue mampir ke Starbucks untuk beli kopi. Niatnya mau beli ‘caramel macchiato’ tapi di kasir ngomongnya jadi ‘caramel cappuccino’, rasanya jadi aneh, deh.

Nggak lama kemudian, waktu gue lagi duduk di kursi yang nggak jauh dari tempat pertemuan, ada seorang ibu muda nyamperin gue. Dari mukanya, gue udah langsung tau bahwa itu adalah mbak Yayang. Kami cipika cipiki cipika (tiga kali bo, wajib hukumnya disini!), kemudian ngobrol soal cuaca. Ih serius deh, ngobrolin cuaca di negara empat musim tuh bisa heboh banget, gue baru nyadar!

Pas kami lagi asyik ngobrol, gue iseng melayangkan pandang ke depan Tickets & Services NS, siapa tau udah ada mbak Yoyen disana. Eh ternyata bener! Gue udah sering berinteraksi sama mbak Yoyen via komentar blog, jadi udah tau dia yang mana. Langsung deh gue ngajakin mbak Yayang untuk nyamperin mbak Yoyen. Kami kemudian melipir masuk ke tempat penjualan tiket NS karena nunggu di depannya dingin sekali.

Nggak lama kemudian, mbak Deni datang. Sama seperti gue, mbak Deni juga baru tinggal di Belanda selama beberapa bulan, berbeda dengan mbak Yayang dan mbak Yoyen yang udah bertahun-tahun tinggal disini. Mbak Deni ke Belanda ikut suaminya yang orang Belanda, dan ternyata suaminya sekolah di kampus gue, ngambil Master untuk jurusan Sejarah. Dunia sangat sempit, yah. Sesudah mbak Deni, mbak Indah datang. Mbak Indah ini udah kenal lama sama mbak Yoyen. Dia juga udah nikah, awalnya kesini untuk belajar, ketemu cowok yang akan jadi suaminya, terus nikah dan nggak pulang Indonesia, deh.

Setelah semuanya lengkap, kami beranjak keluar stasiun lewat mall yang jadi ikon kebanggaan orang Utrecht, Hoog Catharijne. Mall Hoog Catharijne ini nyambung sama stasiun Utrecht Centraal, mirip-mirip mall di Singapura yang nyambung sama stasiun MRT, lah. Menurut gue yang orang Jakarta, mallnya sih biasa banget, tapi kata mbak Yoyen, orang sini bangga banget punya mall kayak Hoog Catharijne.

Untungnya kami nggak bingung lagi mau pergi kemana. Mbak Indah sudah merencanakan makan siang sushi onbeperkt (unlimited) di sebuah restoran namanya Sumo. Restorannya sendiri terletak nggak begitu jauh dari stasiun, hanya sekitar 5 menit jalan kaki.

Aaaah, senangnya kembali ke Utrecht. Jujur aja, Utrecht adalah kota favorit gue di Belanda, disusul dengan Maastricht. Serius deh, untuk kamu-kamu yang pengen jalan-jalan ke Belanda, kalo udah pergi ke kota-kota selain Amsterdam, pasti bakal bilang kalo lebih banyak kota lain yang lebih bagus daripada Amsterdam. Contohnya ya Utrecht ini. Amsterdam emang bagus sih, tapi menurut gue lebih bagus Utrecht, apalagi kota tua-nya.

Sumo adalah salah satu jaringan restoran Jepang di Belanda. Di Leiden, ada juga restoran serupa tapi tak sama, namanya Shabu Shabu. Di Sumo, ada pilihan makan onbeperkt atau a la carte. Kami tentunya pilih yang onbeperkt, satu orang diwajibkan membayar 25 euro. Nggak apa-apa lah, splurge dikit untuk makan besar di akhir pekan. Toh ternyata sushinya enak-enak. Gue makan cukup kenyang, tapi nggak terlalu kenyang sampe susah gerak. Sesuai Sunnah Rasul (lho??!?!?!??)

Selama makan siang, kami ngobrol banyak. Gue, yang hitungannya masih anak bawang (dan belom nikah pula, literally masih anak-anak di kelompok), kebanyakan diem dan ngedengerin cerita yang lain. Mbak Yoyen cerita mengenai kelakuan lucu sodara-sodara suaminya orang Belanda pas diajak liburan ke Indonesia. Mbak Indah cerita tentang kehidupannya bersama suami (si Dutchie) dan anjing mereka, Dante. Mbak Deni cerita tentang pengalamannya jadi konsultan MVV tak resmi di grup Whatsapp. Mbak Yayang cerita mengenai kehidupannya di Belanda, dan trauma melahirkan.

Duh, kalo denger cerita mbak Yayang, gue ngerasa masuk ke dunia sinetron. Soalnya cerita mbak Yayang itu termasuk mukjizat banget, deh. Bagi yang penasaran, silahkan ubek-ubek blog mbak Yayang, ya. Setelah mbak Yayang ngomong cerita hidupnya panjang lebar, kami setuju bahwa cerita mbak Yayang berhak masuk jadi salah satu kasus di serial Grey’s Anatomy, bahkan wajib dibikin 2 episode!

Gue? Ah, da aku mah apa, hahaha. Gue cerita tentang kehidupan di kampus setelah kurang lebih 2 bulan sekolah, beserta suka dukanya. Ada juga suka duka bergaul sama orang Indonesia yang sekolah disini. More or less, apa yang banyak gue tulis di blog ini, hanya kedengaran lebih riil karena keluar dari mulut gue sendiri.

Setelah puas makan enak dan ngobrol ngalor ngidul selama kurang lebih 3 setengah jam (dari jam 12 siang sampe jam setengah 4 kami nangkring di restoran itu), kami memutuskan untuk membayar dan melanjutkan acara ngobrol sambil ngopi-ngopi. Emang dasar rejeki anak soleh, gue dibayarin separo sama mbak Indah. Aturan gue bayar 25 euro, jadi hanya bayar 15 euro. Aaaah makasih mbak Indah 😀 Yang namanya rejeki ya nggak boleh ditolak, dosa namanya. Sayangnya, mbak Indah nggak bisa ikut nongkrong lebih lama karena dia lagi kena hay fever (alergi serbuk sari, biasanya banyak dijumpai waktu musim semi). Dia sih kepingin banget ikut, tapi kayaknya alerginya semakin parah dan dia pengen pulang aja untuk istirahat.

Akhirnya kami nyambung ke Starbucks tanpa mbak Indah. Di Starbucks, akhirnya gue bisa memesan Caramel Macchiato tanpa salah ngomong, hahaha! Kemudian gue baru sadar kalo kali itu adalah kali kedua gue minum kopi dalam satu hari, yang berujung dengan nggak enak perut sepanjang perjalanan pulang ke Leiden. Untungnya si nggak enak perut itu nggak bermula saat di Starbucks.

Ngobrol apa kami di Starbucks? Masih ngobrol ngalor ngidul, tapi kali ini fokusnya lebih ke tips dan trik menulis blog yang baik dan benar. Mbak Yoyen, selalu senpai kami semua dalam dunia perblogging-an, memberi wejangan bahwa yang namanya blog itu harus punya target. Kita mau kebanyakan nulis tentang apa? Siapa target pembaca kita? Hal-hal seperti itu. Niscaya, blog kita nanti akan lebih terorganisir dan lebih tersegmentasi. Kemudian, masalah drafting… Mbak Yoyen menyarankan alangkah lebih baik kalo kita nggak nulis langsung jadi kemudian langsung publish. Baca beberapa kali itu wajib, terus kalo tulisan kita nggak langsung selesai, masukin ke Draft aja, nanti kalo ada niat menulis lagi atau ada ide baru lagi, bisa dilanjutin menulisnya. Cocok banget tuh buat gue, yang sekalinya nulis tanpa tedeng aling-aling langsung klik publish.

Nongkrong di Starbucks kali itu hanya berlangsung sekitar satu jam, karena kami harus kembali ke kehidupan masing-masing. Mbak Deni, mbak Yoyen, dan mbak Yayang harus mengejar kereta karena ada acara bersama mertua-mertua mereka, sementara gue harus mengejar kereta pulang karena mau ketemu sama…. essay. Kami kemudian berjalan ke Utrecht Centraal, dan gue harus naik kereta duluan karena kereta jurusan Leiden sebentar lagi akan berangkat. Setelah dadah-dadah dan cipika cipiki cipika, gue turun ke peron tempat kereta gue ngetem.

Ah, kopdarnya sangat menyenangkan. Gue pribadi ngerasa seneng banget karena bisa ketemu dengan blogger-blogger Indonesia yang tinggal di Belanda. Yang bikin gue tertarik, walaupun banyak dari mereka yang udah tinggal lama di Belanda, tapi Indonesianya sama sekali nggak hilang. Walaupun banyak juga lho orang-orang Indonesia yang udah tinggal disini bertahun-tahun tapi kalo ketemu sesama orang Indonesia nggak mau ngomong bahasa ibu dengan alasan “Udah lupa sama bahasa ibu” (yes, there are those kinds of people in this world. The world is so cruel, man.) Ngobrol-ngobrol sama para blogger ini juga bikin gue nambah pengalaman baru tentang gimana cara bertahan di bumi Kincir Angin, dan gimana menulis blog dengan lebih baik. Till we meet again, ladies!

Kopdar UtrechtKiri-kanan: Mbak Deni, mbak Yoyen, gue, dan mbak Yayang. Foto dari kamera mbak Indah (dia yang motret).

Iklan

29 thoughts on “Ketika Para Blogger Bertemu

  1. Emang seru yahh blogger meet up.. gw juga baru sekali aja padahal. haha.. btw.. may nanti aku mau ke belanda.. hehe.. tapi ikutan tour gt sama kluarga.. mau liat tulip festivall. hehe.. lu tinggal di kota apa yah btw?

    Suka

  2. Detil amat laporannya Crystal. Salut masih inget semua yang diobrolin 🙂 Iya ya ceritanya Yayang itu memang pantes banget jadi 2 episode di Grey’s Anatomy. Ha…ha….senpai? Semoga ngga menggurui dan ngga sok tahu ya akunya kemarin itu.

    Memang kamu banyak denger kita yang cerewet tapi kesanku kamu ngga pendiem kok 😉 Succes met je studie en tot de volgende keer. Misschien in Arnhem?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s