Heidelberg


Author’s Note: Kali ini gue berusaha untuk menyajikan catatan perjalanan dalam format cerita bersambung. Selamat menikmati!

2 Mei 2015

Aku menghela nafas lega. Setelah perjalanan yang luar biasa melelahkan, ditambah harus berganti kereta sebanyak tiga kali, akhirnya aku tiba di perhentian pertamaku dalam perjalanan perdana di Jerman, yaitu kota Heidelberg.

Perjalananku ke Jerman ini bukan main-main. Berawal dari rasa bosan ketika mengerjakan tugas lalu iseng membuka laman web kereta internasional dari Belanda, beberapa jam kemudian aku sudah merogoh kocek dari uang tabunganku untuk melakukan perjalanan mandiri ke negara impian sejak aku duduk di bangku SD ini. Perjalanannya hanya memakan waktu 4 hari 3 malam, berhubung waktu liburku tak banyak.

Untuk menuju Heidelberg, ruteku juga sangat berbelit-belit. Dari stasiun Utrecht Centraal, aku naik kereta ICE Express ke Koln Hauptbahnhof. Setelah itu, aku sambung dengan naik kereta regional ke Mainz Hauptbahnhof. Dari Mainz, kereta yang lebih kecil sudah menungguku untuk beranjak menuju stasiun Darmstadt Hauptbahnhof, dan akhirnya dari Darmstadt aku menaiki satu kereta lagi menuju Heidelberg Hauptbahnhof. So much for a traveling experience, pikirku. Aku memang lebih suka menjelajah suatu tempat dengan kereta daripada pesawat. Pesawat memang jauh lebih cepat, namun jika punya banyak waktu, aku lebih memilih naik kereta.

Setibanya di Heidelberg, aku langsung beringsut menuju McDonald’s yang terletak di luar stasiun. Bukan untuk makan siang, walaupun perutku sudah berontak minta diisi, namun karena Julia, host house-ku, berjanji untuk menjemputku disana. Benar saja, di depan McDonald’s, mobil Opel warna biru dengan plat mobil yang disebutkannya di e-mail telah menunggu.

“Hai, kau menunggu lama? Maaf, kereta di Darmstadt agak telat tadi,” ucapku setelah cipika-cipiki dengan Julia yang dengan sibuk memasukkan ranselku ke bagasi mobilnya.

“Oh, tidak kok. Kita harus cepat, soalnya aku ada janji dengan teman sekitar jam 2 siang. Yuk!” jawab Julia. Aku masuk mobil dan dia langsung menstarter mobilnya.

Kesan pertamaku terhadap Heidelberg: biasa saja. Mana pemandangan menakjubkan yang membuatku tergoda dengan kota ini saat aku menulis “Beautiful villages in Germany” di mesin pencari Google? Daerah sekitar stasiun Heidelberg tak ubahnya kota kecil dengan gedung-gedung agak modern berlantai dua sampai tiga. Namun perasaanku berubah ketika Julia membelokkan mobilnya ke daerah suburban kota. Seketika semuanya terlihat begitu indah dan begitu… asri. Rumah-rumah terlihat kecil dibandingkan gunung Koeningstuhl dan Gaisberg. Semuanya terlihat… teratur dan hijau.

Pikiranku kemudian terbang ke daerah yang terletak kurang lebih 11 ribu km jauhnya dari sini. Aku merasa menyesal… sepanjang tahun, daerah tersebut selalu hijau dan selalu asri, namun aku sudah menyia-nyiakannya. Sekarang, begitu aku tinggal di negeri empat musim yang tidak selamanya hijau, aku jadi begitu merindukan kehijauan daerah asalku.

“Kau tak takut kucing, kan? Aku memelihara dua kucing di rumah. Yang satu namanya Mila, dia masih kecil, jadi tidak boleh keluar rumah. Yang satu lagi namanya Luna, dia kucing besar dan boleh keluar rumah kalau masih terang. Kalau sudah malam, dia sudah harus masuk dan tidak boleh keluar lagi,” kata-kata Julia memotong imajinasiku tentang negara dan orang yang tinggal di daerah 11 ribu km jauhnya. Aku hanya mengangguk.

Sepuluh menit kemudian, kami sampai di apartemennya Julia. Sebuah rumah berlantai tiga dan kamarnya terletak di lantai pertama. Pintu depannya berwarna hitam dan dihiasi dengan nama-nama yang ditulis menggunakan kapur. Pasti ini nama tamu-tamu Julia, pikirku. Apartemen Julia cukup luas dan aku menemukan sebuah sofa yang nyaman di ruang tamu, sudah lengkap dengan seprai, bantal, selimut, dan dua buah handuk. Rumahku untuk satu malam ini.

“Ini Mila,” Julia mengenalkanku dengan kucing lucu yang sedang duduk di selimutku. “Dia sangat pemalu dan masih dalam tahap pertumbuhan, jadi jangan heran kalau dia suka scratching semua benda. Jaga barang-barangmu agar tidak jadi korbannya. Aku mau membersihkan dapur dulu sebentar,” Julia meninggalkanku ke arah dapur. Di ruang tamu, hanya ada aku dan Mila.

Ternyata Mila langsung suka padaku! Beberapa saat setelah aku melakukan kontak mata dengannya, dia langsung beringsut malas ke pangkuanku. Otomatis, tanganku membelai-belai bulu halusnya.

“Awww, dia langsung suka padamu! Jarang sekali, lho!” aku hanya nyengir mendengar komentar Julia dari dapur. Tak lama kemudian, Julia selesai membersihkan dapur, lalu dia pamit pergi bersama teman-temannya. “Aku rasa kita akan bertemu besok, karena aku akan pergi sampai larut malam,” tambahnya.

“Oke, sampai ketemu besok!” jawabku. Kemudian Julia meninggalkan apartemen. Hanya ada aku sendirian.

Aku langsung gerak cepat. Membuka ransel, mengambil tas jalan dari dalam ransel, memasukkan barang-barang penting, kemudian berjalan keluar apartemen. Tujuan pertamaku: cari makan! Untungnya apartemen Julia berseberangan dengan pasar swalayan, jadi aku langsung berjalan kesana dan membeli dua buah pisang, satu bungkus wafel polos, dan satu botol jus apel. Setelah membeli ransum makan siang, aku langsung membelokkan arah jalanku menuju halte tram yang jaraknya hanya 500 km dari pasar swalayan. Aku ingin pergi ke Altstadt Heidelberg, tujuan dari kedatanganku ke kota ini.

Tram nomor 26 membawaku ke Bismarckplatz, halte terakhir. Bismarckplatz adalah pusat kota Heidelberg yang dipenuhi mall besar dan gedung-gedung arsitektur lama namun dengan merek-merek baru seperti H&M, Douglas, dll. Aku tidak ingin berlama-lama di Bismarckplatz karena pemandangan yang seperti ini sudah sering kulihat di Leiden. Aku melangkah menuju Altstadt, sesuai dengan penunjuk jalan yang telah diberitahu Julia.

Ternyata dari Bismarckplatz menuju Altstadt Heidelberg tidak sebentar, lho! Maklum saja, ternyata jalan dari Bismarckplatz ke Altstadt adalah jalan pejalan kaki terpanjang se-Eropa, kurang lebih 1,6 km. Kurang lebih dua puluh menit berjalan kaki, baru aku tiba di jantung kota Heidelberg tua ini. Sepanjang perjalanan, tak hentinya aku mengambil foto, mendokumentasikan keindahan dan keromantisan kota ini di kamera dan di ingatanku.

Indah. Kota Heidelberg memang sangat indah. Kota yang terletak di lembah sungai Rhine ini memang sudah sangat tersohor sejak abad ke-15. Heidelberg terbelah menjadi dua, dipisah oleh Sungai Neckar yang bermuara di Sungai Rhine. Di Heidelberg pula, terletak universitas pertama di Jerman yaitu Universitat Heidelberg yang sudah eksis sejak abad ke-14.

Romantis. Berjalan di Altstadt Heidelberg serasa membuatku berada di kota-kota kecil di negeri dongeng. Bangunannya yang khas abad pertengahan membuat imajinasiku bermain dengan sangat bebas. Aku merasa menjadi seorang rakyat jelata di sebuah desa dengan istana besar di atas bukit. Selain itu, aura abad pertengahan Jerman itulah yang membuat kota ini menjadi semakin romantis. Pikiranku langsung terbang jauh, lagi-lagi 11 ribu km jauhnya, tertuju pada satu orang tertentu yang pada saat ini juga sedang berlibur. Bedanya denganku, dia berlibur di bawah laut, sementara aku berlibur di atas gunung. Ingin rasanya menunjukkan kota Heidelberg dan seluruh sisi magisnya kepada orang ini.

Kakiku melangkah sampai ke bibir dari istana Heidelberg, yang sering dikenal dengan nama Heidelberg Schloss. Istana ini memang menjadi salah satu obyek wisata di Heidelberg. Dibangun pada tahun 1214, istana ini memiliki gaya arsitektur Romanticism yang sangat khas. Beberapa bagian dari istana ini yang rusak karena tersambar petir juga tidak direstorasi, itulah yang membuat istana ini terlihat sangat asli. Untuk mencapai istana, dibutuhkan pendakian singkat. Aku merasa enggan untuk masuk ke istana, karena harus membayar… tapi untuk berjalan-jalan di taman istana tidak dikenakan biaya sama sekali. Sungguh, ternyata walau hanya di taman istana, aku bisa melihat Heidelberg dari atas yang cantik sekali.

Heidelberg dari atas taman Schloss Heidelberg
Heidelberg dari atas taman Schloss Heidelberg

Setelah puas mendaki, kemudian aku beranjak turun lewat jalan-jalan kecil. Indera penglihatanku semakin dimanjakan dengan rumah-rumah dengan arsitektur abad pertengahan. Pernah nonton Beauty and the Beast? Nah, aku merasakan ambience-nya.

Salah satu rumah pribadi di sebelah Schloss Heidelberg
Salah satu rumah pribadi di sebelah Schloss Heidelberg
Aku ingin tinggal di rumah seperti ini!
Aku ingin tinggal di rumah seperti ini!

Jalan kecil terus membawaku turun dan turun. Aku tak henti-hentinya mengagumi keindahan Heidelberg. Pantas saja banyak turis yang datang ke kota indah ini. Sebenarnya aku agak kecewa mengetahui fakta Heidelberg sudah terlalu banyak turis, namun jika pemandangannya seindah ini, aku tak akan banyak berkomentar.

Heiliggeestkirche (Church of the Holy Spirit) dan kafe terbuka di alun-alun Altstadt Heidelberg
Heiliggeestkirche (Church of the Holy Spirit) dan kafe terbuka di alun-alun Altstadt Heidelberg
Marktplatz Altstadt Heidelberg.
Marktplatz Altstadt Heidelberg dengan latar belakang Schloss dan gunung Koeningstuhl.

Aku berjalan terus sampai ke Alte Bruecke (Old Bridge), salah satu obyek wisata di Heidelberg. Jembatan yang membelah kota Heidelberg ini sudah ada sejak abad ke-18 dan dibangun oleh Pangeran Karl Theodor. Terdapat dua patung besar di jembatan ini, yaitu patung si arsitek dan patung dewi Romawi, Minerva. Aku menyusuri jembatan ini untuk pergi ke Philosophenweg.

Sepanjang perjalanan, aku terus berpikir. Tentang apa saja. Tentang kuliah, tentang teman-teman, tentang persoalan sehari-hari, tentang kehidupan cinta yang sepertinya itu-itu saja. Mungkin aura romantis Heidelberg memaksa otakku untuk berpikir terlalu jauh. Sambil berjalan menanjak menuju Philosophenweg, pikiranku tetap saja dipenuhi oleh hal-hal tersebut.

Perjalanan kadang membuatmu berpikir. Mungkin untuk kebanyakan orang, perjalanan hanya sekedar pergi ke tempat baru, mengambil foto sebanyak-banyaknya, diunggah ke sosial media, kemudian pulang. Namun tidak untukku. Perjalanan, bagiku, adalah sarana utama untuk berpikir. Terkadang, setelah perjalanan berakhir, kita bisa menemukan jawaban dari semua masalah kita sehari-hari. Ya, semoga saja begitu.

Kontemplasiku berakhir ketika aku tiba di Philosophenweg. Kenapa dinamakan seperti ini? Kabarnya, para filsuf dan mahasiswa Universitat Heidelberg sering berjalan di jalan ini sambil berdiskusi, itulah sebabnya kenapa dinamakan Philosophenweg. Dari sini, aku bisa puas melihat Heidelberg dari ketinggian.

Heidelberg dari Philosophenweg
Heidelberg dari Philosophenweg

Aku kemudian duduk di salah satu bangku taman, sambil menikmati pemandangan yang bisa kulihat dengan mata kepala sendiri. Tak lupa sambil mengunyah satu buah pisang sisa makan siang tadi. Pelan-pelan, aku tersenyum. Tersenyum karena tersihir oleh keindahan Heidelberg, dan tersenyum mendoakan semoga semua orang-orang yang kuanggap penting di hidupku merasakan kebahagiaan yang sama denganku saat itu.

Iklan

15 tanggapan untuk “Heidelberg

  1. Heidelberg! Envy to the max! haha..
    Kamu tidak sendiri kog, saya juga tipikal orang yang beranggapan perjalanan adalah sarana untuk berpikir 🙂

    Suka

      1. Wah kalo kamu kesini pasti bakal makin cinta, deh. Suwer. Makanannya enak-enak, pemandangannya luar biasa… walaupun Indonesia buatku tetep paling bagus, tapi keindahan Jerman juga patut jadi contoh

        Suka

      2. Wah jangan bikin aku tambah mupeng please, haha.. Banyak hal dari Jerman yang dapat dicontoh oleh negara kita. Ayo cepat buat tulisan selanjutnya! 😀

        Suka

  2. Saya mau kesana bersama salah seorang teman sekitar bulan Desember.. bisa minta alamat email host house yg bernama Julia itu ya? Makasi banyak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s