Mittenwald


“Kau mau kemana?” Julia mengernyitkan dahi saat aku menyebut nama kota tujuanku berikutnya. Pagi itu, dia berbaik hati mengantarku ke stasiun Heidelberg sebelum pergi ke tempat tujuannya.

“Mittenwald,” jawabku sambil nyengir.

“Belum pernah dengar,” Julia berujar sambil membelokkan setir mobil. Aku nyengir sendiri, mendengar ada orang Jerman yang belum pernah mendengar nama daerah ini. Paling tidak aku merasa jauh lebih pintar, pikirku.

Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di depan stasiun. Setelah mengucapkan salam perpisahan, aku turun dari mobil Julia dan mengambil ranselku dari bagasi mobil.

Sampai jumpa di lain kesempatan, Heidelberg.

4 Mei 2015

Dengan senyum cerah yang berkembang sejak keluar hostel, aku mengecek dua kali tiket keretaku pagi itu. Aku beruntung mendapatkan tiket kereta yang cukup murah. Di negara bagian Bavaria, mereka memiliki fasilitas Day Ticket seharga 23 euro yang bisa dipesan lewat internet. Kelebihan Day Ticket ini adalah tiket ini bisa dipakai seharian penuh untuk berkeliling di seluruh kota di negara bagian Bavaria, dan bisa digunakan untuk tiket kereta, bus, dan tram. Dengan harga 23 euro kita bisa memangkas ongkos transportasi dalam waktu seharian (Senin-Jumat dari pukul 9 pagi sampai 3 pagi keesokan harinya, Sabtu-Minggu berlaku 24 jam). Harga yang cukup murah, mengingat tanpa Day Ticket, harga tiket Munchen-Mittenwald bisa mencapai 40 euro untuk pulang pergi.

Perjalanan dari Munchen ke Mittenwald memakan waktu kurang lebih dua jam. Tepat pukul sembilan lewat lima, kereta Regio DB beranjak dari peron 16. Aku sengaja mengambil tempat duduk di dekat jendela. Niatnya ingin menikmati perjalanan dalam diam, apa daya ada serombongan turis keluarga asal India yang memilih duduk di bangku depanku.

Sepertinya turis keluarga ini datang dari keluarga yang cukup kaya, karena si ayah kerap berkata “Waktu aku tinggal di Boston, blablablabla…” dan mereka merencanakan untuk membeli rumah di pedesaan Bavaria. Jangan pikir aku tiba-tiba fasih berbahasa India, karena mereka berbicara dalam bahasa Inggris, termasuk dengan anak-anak mereka yang berada di kisaran umur dibawah 8 tahun. Aku hanya bisa duduk pasrah sambil memperhatikan polah tingkah mereka. Situasiku tak ubahnya seperti seorang pria Jerman yang duduk di seberangku. Turis keluarga ini sepertinya merupakan gabungan dari dua keluarga yang kepala keluarganya adalah kakak beradik (atau bersaudara, atau bersahabat, aku sedang mencoba sok tahu disini), jadi tak heran kalau krucil yang mereka bawa… cukup banyak. Sekitar 3-4 anak dalam satu keluarga. Kalikan dua, berarti ada delapan anak. Tambah dua pasang orangtua, jadilah ada dua belas orang.

Untungnya, mereka turun di stasiun Garmisch-Partenkirchen, bersama dengan turis-turis lainnya dari gerbong sebelah. Aku bernafas lega. Kebanyakan turis memang turun di stasiun tersebut, karena dari desa ini kita bisa menyambung ke puncak Zugspitze menggunakan kereta gantung. Puncak Zugspitze adalah puncak tertinggi di Jerman. Namun aku tak goyah dengan keinginanku untuk pergi ke Mittenwald.

Perkenalanku dengan Mittenwald berawal pada saat aku mencari desa-desa di selatan Jerman untuk kukunjungi. Nama itu kemudian muncul. Begitu membaca informasi dari internet, aku langsung penasaran dengan desa ini karena beberapa alasan:

1. Desanya sangat kecil, jumlah penduduknya kurang lebih 7000 orang saja.

2. Berada di kaki pegunungan Karwendel, salah satu pegunungan di jejeran pegunungan Alpen bagian selatan.

3. Hanya 38 km jauhnya dari Innsbruck, Austria.

4. Rumah-rumahnya imut-imut dan lucu, jika dibandingkan dengan besarnya gunung yang menjadi penjaga desa.

5. Desa Mittenwald juga bisa menjadi pintu gerbang dari pendakian gunung Kranzwerg, dan beberapa aktivitas alam lainnya seperti forest trekking.

Desa kecil, tidak terkenal, dan bisa forest trekking. Sungguh destinasi liburan yang tepat untukku!

Tak lama setelah kereta berhenti di stasiun Garmisch-Partenkirchen, akhirnya kereta berhenti di stasiun Mittenwald. Hanya aku yang keluar dari kereta pada siang itu. Begitu aku keluar dari kereta, aku langsung berdecak kagum melihat betapa dekatnya desa ini dengan gunung. Peronnya saja cuma ada dua, yang melayani kereta ke Munchen dan ke Innsbruck.

Mittenwald Hauptbahnhof
Mittenwald Hauptbahnhof

Keluar dari stasiun, aku langsung terperangah. Mittenwald adalah desa yang sangat kecil dan sepi. Tidak banyak kegiatan berarti yang terjadi di desa ini saat aku datang. Rumahnya imut-imut, dan terlihat sangat teratur.

DSC_0449

DSC_0447

DSC_0439

Dengan gembira, aku menyusuri jalan menuju pusat desa. Aku langsung terperangah karena baru menyadari satu hal: ada satu hal yang sangat unik dari rumah-rumah dan bangunan-bangunan di desa ini! Semua bagian depan bangunan-bangunannya tak luput dari karya seni berupa lukisan. Lukisan yang dipamerkan di rumah-rumah Mittenwald kebanyakan berupa lukisan berbau Kristiani. Ada juga lukisan ornamen-ornamen untuk mempercantik jendela, seolah menjadi pigura bagi jendela-jendela tersebut. Unik sekali, bukan?

DSC_0502

Jika di Heidelberg aku merasa seperti terjebak di dunia Beauty and the Beast, kini aku merasa terjebak di dunia dongeng lagi… entah dari dongeng mana. Setelah makan siang, aku memutuskan untuk langsung pergi forest trekking. Aku memang orang yang lebih menyukai berjalan di hutan daripada naik gunung. Memang, kadang perjalanan di hutan juga sering menjumpai medan berat, namun aku merasa lebih bebas di hutan daripada di gunung. Rute yang kuambil di siang hari yang cerah itu adalah rute menuju dua danau di Mittenwald: Lautersee dan Ferchensee. Pendakian dimulai dari jalan setapak di akhir daerah perumahan di Mittenwald, yang langsung berbatasan dengan hutan lebat. Untungnya, sudah ada penunjuk jalan dan jalan yang cukup bagus untuk memfasilitasi kegiatan alam para pendatang ke Mittenwald.

Baru beberapa ratus meter berjalan keluar dari desa, aku berbalik dan terperangah melihat pemandangan hutan dan gunung Kranzberg yang begitu megah dan terlihat sangat dekat dari tempat dimana aku berdiri.

Mau lari ke hutan, atau belok ke pantai? #terAADC
Mau lari ke hutan, atau belok ke pantai? #terAADC

Perjalanan selama kurang lebih 45 menit sangat tidak terasa, karena mataku dimanjakan dengan hijaunya pepohonan dan suara gemericik air terjun dari kejauhan. Rasanya bahagia sekali. Hanya ada aku, suara burung, suara air terjun, dan bunyi gemerisik angin. Cuaca juga sangat mendukung. Sedikit berawan, namun tidak terlalu dingin. Aku sangat menikmati perjalanan kali itu.

Akhirnya aku tiba di danau pertama, Lautersee. Danau ini terlihat sangat luas dan di sekitar danau ada beberapa restoran dan dua buah rumah kecil, serta satu kapel. Mungkin karena jarak Mittenwald ke Lautersee yang tergolong cukup dekat, sehingga daerah ini masih tergolong agak komersil. Walaupun begitu, aku sangat terhenyak melihat pemandangan yang terbuka lebar di depanku.

Danau Lautersee dengan pegunungan Alpen di belakang. Foto sudah diedit menggunakan VSCO Cam.
Danau Lautersee dengan pegunungan Alpen di belakang. Foto sudah diedit menggunakan VSCO Cam.

Aku duduk sebentar dan memandangi alam sekitar sambil berdecak kagum. Sungguh tak aku sangka, aku benar-benar bersentuhan dengan alam, dan mendapat kesempatan untuk menyaksikan rangkaian pegunungan Alpen yang tersohor di dunia. Aku memang tak mau menaklukkan Alpen, namun melihat dari jauh saja sudah membuat hatiku bergetar. Ingin menangis bahagia rasanya.

Setelah puas menyaksikan danau Lautersee, aku kembali meneruskan perjalanan menuju danau kedua yaitu danau Ferchensee. Kabarnya, danau ini jauh lebih kecil daripada Lautersee, namun lebih sepi karena terletak di tengah hutan. Dalam perjalanan menuju Ferchensee, aku dimanjakan lagi dengan pemandangan hutan pinus yang sedang hijau-hijaunya.

DSC_0485

Mengapa aku belakangan ini sering sekali memasukkan agenda kegiatan alam saat pergi jalan-jalan? Mungkin karena alasan berikut. Setiap kali aku berdekatan dengan alam, aku merasa sangat kecil. Membandingkan diri dengan gunung yang sudah berada selama ratusan, mungkin ribuan tahun, atau hutan lebat yang sudah ada sejak jaman entah kapan. Dunia begitu besar, aku hanya sedikit dari bagiannya. Aku bisa mati dan tidak meninggalkan jejak apapun, namun hutan dan gunung tidak akan bisa mati begitu saja, atau lautan dan samudera yang tak akan pernah surut sampai dunia berakhir. Secara tidak langsung, mereka mengajarkanku untuk selalu rendah hati, karena aku hanya makhluk sekecil semut jika harus berhadapan dengan alam.

Perjalanan menuju Ferchensee dan selama di Ferchensee diliputi dengan perasaan lega dan bebas. Selain museum, aku baru sadar akan satu hal lain: hutan adalah tempat bahagiaku. My happy place. Seperti di museum, di hutan aku bisa merasa bebas, tanpa harus dilihat orang lain, sekaligus bisa membuatku berpikir akan banyak hal. Mungkin happy place setiap orang berbeda. Happy place kamu adalah alam bawah laut dan pantai. Ini tempat bahagiaku.

Panorama danau Ferchensee
Panorama danau Ferchensee
Di edit dengan VSCO Cam
Di edit dengan VSCO Cam
Di edit dengan VSCO Cam.
Di edit dengan VSCO Cam.
Iklan

17 thoughts on “Mittenwald

  1. Lovely city, Crys!
    Aku pernah baca artikel tentang Mittenwald. Katanya kotanya memang kecil dan tersembunyi tapi terkenal sebagai kota pembuat violin dan cello.

    Suka

      1. Banget! It was one of my best moments in life. Walaupun terbersit keinginan untuk berbagi moment itu dgn seseorang particular, tapi ngga mengurangi kebahagiaan gue 🙂

        Suka

    1. Halo mbak Dewi, makasih udah mampir. Anak kecilnya umur berapa ya kalo boleh tahu? Kalo dari umur 6-8 tahun menurut saya memungkinkan kok soalnya jalurnya udah bagus. Yang penting jalan si anak udah enggak wobbly…

      Suka

      1. Wah kayanya engga bisa deh kalo gitu. Ada tangga2an juga soalnya. Kalo mau, turun di Garmish-Partenkirchen, itu ada kereta gantung ke Zugspitze. Harusnya sih stroller-friendly ya…

        Suka

    1. Baby carrier tuh kaya apa ya? Saya ga tau pegel enggaknya soalnya kan saya ngga kesana bawa bayi. Kalo mau aman mending di Garmisch-Partenkirchen aja wlp disana engga bisa forest trekking. Kalo mau di Mittenwald, engga bisa pake stroller, soalnya ada tangga2an dari tanah dan trailnya alami. Kecuali kalo mbak mau ke Mittenwaldnya aja, engga pake trekking, bisa pake stroller.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s