Nonton Konser di Negeri Orang: London Calling Loves Concerto


Gue termasuk penikmat musik. Sejak kecil gue udah membiasakan diri untuk ngedengerin jenis musik apapun, jadi telinga gue udah biasa juga mengkategorikan jenis musik. Nah, belakangan ini gue lagi suka musik dengan pengaruh country, sebangsa musik folk, bluegrass, dan blues. Untungnya, musik-musik legendaris macam ini sampe sekarang masih dipelihara oleh generasi muda dalam bentuk band-band indie.

Mungkin banyak yang nggak tau, atau nggak ngerti, apa bedanya band indie dan band mainstream? Semua terletak pada industri rekaman yang menaungi mereka. Kalo band mainstream, mereka cenderung main di ‘garis aman’, yaitu musik-musik yang sedang digemari orang jaman sekarang. Sementara band indie jauh lebih idealis, menurut gue sih suara-suara mereka sangat beda dari band-band mainstream.

Nah, akhir minggu kemarin gue berkesempatan nonton festival band indie di Amsterdam, namanya London Calling Loves Concerto (LCLC). Ini adalah festival band dua hari yang diadakan di Tolhuistuin, sebuah gedung berlantai dua yang terkenal sebagai tempat konser band-band indie. Sebenernya sih gue cuma datang di hari terakhir untuk nonton dua artis yang pengen gue tonton banget: Tor Miller dan Tobias Jesso Jr., tapi ternyata band-band lain yang gue tonton pada bagus-bagus juga. Ada beberapa band yang menarik banget di telinga gue, seperti Nothing But Thieves, Stornoway, dan Holy Holy. Silahkan dengerin sendiri lagu-lagunya di Spotify atau cari di Youtube.

Nah, gue mau cerita tentang kesan-kesan gue nonton konser di Belanda untuk pertama kalinya, nih. Tentu aja gue nggak bisa ngebandingin sama konser-konser artis besar yang pernah gue tonton di Singapura (Taylor Swift, Speak Now World Tour 2012) dan di Indonesia (The Script Presents Arthur’s Day 2012 dan Taylor Swift RED Tour Jakarta 2014), tapi menurut gue ini adalah beberapa poin yang sangat berkesan dari nonton konser di Belanda (lebih tepatnya, nonton festival band indie):

1. Crowd-nya sopan.

Maksud gue, ada personal space dan yang nonton nyantai semua. Di panggung band Ezra Furman, misalnya. Orang ini nyentrik banget, musiknya bener-bener rock and roll tahun 70-an dan campuran punk rock, bawain lagu-lagunya juga atraktif banget. Gue sebagai penonton, ikutan joget sama yang lain. Yang menarik, kita menghargai sesama penonton, nggak ada yang iseng. Semuanya senang dan asyik joget sendiri atau sama teman-teman mereka. Mereka juga tepuk tangan setelah lagu dimainkan, bukan pas lagu dimainkan. Jadi si artis pasti ngerasa lebih dihargai juga.

2. Konsernya lebih intim

Mungkin karena durasi tiap musisi yang nggak terlalu lama, cuma sekitar 45 menit. Udah gitu panggungnya juga macam-macam dengan kapasitas penonton berbeda-beda. Gue ngerasa nonton mereka jauh lebih deket aja. Mereka ini adalah musisi-musisi indie dengan target pasar yang sangat spesifik, jadi semakin eksklusif fansnya, semakin dekat juga sama mereka. Si artis jadi jauh lebih bebas untuk nyapa penggemar, bikin joke garing di panggung. Kita juga bebas mau foto-foto mereka dari arah manapun tanpa harus takut dicegat bapak-bapak sekuriti. Buktinya? Gue berhasil nyegat Tor Miller pas dia selesai manggung cuma buat bilang musik dia keren banget. Dia nggak pake bodyguard apapun, cuma seorang cewek yang kayaknya bertindak sebagai managernya. Si cewek juga santai banget, nggak ngelarang si artis buat berinteraksi sama penggemar, bahkan dia ikutan ngobrol juga. Tor Miller-nya juga seru banget, asyik banget dan dia murah senyum.

3. Saking santainya, sesama artis bisa nonton artis lain manggung

Beneran, lho! Ini terjadi waktu gue lagi nonton seorang artis yang namanya gue lupa siapa. Gue masuk ke tempat manggungnya dan gue ngeliat si Tobias Jesso Jr., artis yang baru gue tonton siang harinya, lagi duduk santai nonton si artis lain itu nyanyi. Tanpa ada bodyguard atau manager. Mungkin kalo orang lain datang setelah dia manggung, nggak nyadar kalo dia itu pengisi acara. Gue kepengen ngedatengin dia dan ajak dia ngobrol, eh tapi pas gue mau nyamperin orangnya udah nggak ada.

Kayaknya cuma tiga poin istimewa itu aja yang gue temuin di LCLC kemarin. Walaupun begitu, I really had fun! Ternyata konser indie tuh segitu santainya, toh. Kalo begini, gue pasti mau lagi nonton konser indie yang lain.

In the mean time, berikut adalah daftar konser yang udah gue beli tiketnya dan akan gue tonton mulai bulan depan:

Juni 2015

Taylor Swift 1989 World Tour (Taylor Swift with opening act James Bay)

Night At The Park Concert (Duran Duran, UB40)

Pinkpop Festival (Orchestral Manoeuvres in the Dark)

Oktober 2015

James Bay in Amsterdam concert

Iklan

9 tanggapan untuk “Nonton Konser di Negeri Orang: London Calling Loves Concerto

    1. Iyaaaa! Selera musik gue emang rada korslet dibandingkan orang lain xD Wien tau DD juga? Udah ngga sabar banget ntn DD karena udah jadi band favorit sejak kelas 2 SMP (tahun 2004 :p)

      Suka

      1. Tahu donk Crys, demen sama mereka juga, hahaha.. Kamu ga sendiri kog. Baca postku yang “The Songs”, and you will know that I love the oldies too! Hahaha

        Suka

  1. Enaknya sekolah di luar ada kesempatan nonton konser2! Hehehe dulu sempet di kotaku ada secret gig nya New Young Pony Club, gratisss! Btw kamu #teamtaylor yah? X)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s