De Blauwe Kamer = Bukan ‘Kamar Warna Biru’


Hari Sabtu kemarin, gue berkesempatan pergi main ke Wageningen. Sebenarnya gue ke Wageningen ada keperluan juga. Jadi ceritanya gue sama temen gue, Ibey, mau pergi jalan-jalan di bulan Agustus, terus kebetulan salah satu teman kami di Wageningen pengen ikutan. Daud namanya. Jadi sekalian aja kemarin gue pergi ke kotanya untuk ngobrolin soal jalan-jalan, apalagi gue belum pernah ke Wageningen.

Dimana itu Wageningen? Letaknya di tengah Belanda, kurang lebih 15 menit perjalanan kereta ke Utrecht. Kota Wageningen tetanggaan dengan kota Ede, tapi anehnya nggak punya stasiun kereta sendiri. Jadilah kota Ede punya stasiun kereta yang dinamakan Ede-Wageningen. Dari Ede, kalau mau ke Wageningen bisa naik bus nomor 88 jurusan Wageningen University yang muncul 15 menit sekali.

Sebenarnya, kota ini udah nggak asing bagi gue. Pertama kali denger nama kota ini beberapa tahun lalu waktu temen gue pindah kesini untuk kuliah. Ternyata Wageningen University itu pusatnya riset pertanian dan kehutanan di Belanda. Kemudian gue denger nama kota ini lagi di novel Negeri van Oranje, semacam ‘kitab suci’ mahasiswa di Belanda. Jujur, gue ke Wageningen lumayan excited juga, karena pengen ngebuktiin kata-kata di novel tersebut tentang kota ini.

Ternyata bener loh. Wageningen keciiiillll… banget. Tapi suasananya bedaaaaa banget sama Leiden. Kampus di Wageningen kepisah-pisah, dan jaraknya bisa setengah jam sendiri naik sepeda. Temen gue bilang, dia kelasnya bisa terpaut jauh jadi harus pinter-pinter atur waktu kalo mau pindah kelas ke gedung lain. Gedungnya nggak saling mepet satu sama lain, beda banget sama Leiden, dan banyak banget pohon serta taman-taman. Hari Sabtu biasanya Wageningen sepi banget karena mahasiswa Belanda pada pulang ke kota masing-masing, sementara mahasiswa internasional pergi jalan-jalan ke luar kota untuk ngilangin stres.

Pemandangan Wageningen dari Bornsesteeg, apartemennya Daud
Pemandangan Wageningen dari Bornsesteeg, apartemennya Daud. Foto diambil sama Ibey.

Kami jalan naik sepeda ke centrum, cari makan, sambil ngobrol-ngobrol lepas. Masalah kampus, masalah idup di Belanda, acara jalan-jalan, dan nostalgia masa program kepemimpinan sebelum beasiswa. Seru juga ngedata berapa anak di angkatan kami yang mau ke Belanda, dan kami udah berencana mau ngumpulin anak-anak cabang Belanda kalau mereka udah pada disini semua. Selepas makan kebab di centrum dan makan es krim terenak se-Wageningen, Daud mengajak gue dan Ibey untuk pergi ke luar kota Wageningen untuk ngeliat pemandangan desa. Wah, gue langsung mau, lah! Kami segera beranjak naik sepeda ke Rhenen, desa sebelah Wageningen. Perjalanan ke Rhenen ditempuh kurang lebih 1 jam, dengan pemandangan perkebunan di kanan kiri, dan sekawanan domba dan sapi yang dibiarkan bebas berkeliaran di perkebunan. Ini nih, kehidupan Belanda yang sebenarnya.

Pemandangan kanan-kiri di Rhenen
Pemandangan kanan-kiri di Rhenen

Di Rhenen, Daud sebenernya pengen ngajak jalan terus ke desa berikutnya, tapi kami tergelitik dengan kawasan De Blauwe Kamer. Gue langsung ngajak Daud dan Ibey kesini, karena teringat di novel Negeri van Oranje, salah satu tokoh utamanya suka pergi kesini.

Ternyata, De Blauwe Kamer adalah semacam pantai kecil yang menghadap sungai Rijn dan ada hutannya. Wah, gue seneng banget! Cuaca hari itu bagus banget, cerah banget dan sedikit angin, sehingga De Blauwe Kamer lumayan rame dikunjungi turis. Ada keluarga besar yang lagi sepedaan bareng, yang mau foto keluarga, dan yang mau main di pantai kecil di sungai.

Gue dan Daud, foto ala-ala katalog H&M. Udah cocok belom jadi model?
Gue dan Daud, foto ala-ala katalog H&M. Udah cocok belom jadi model?
Selfie di salah satu bangunan tua di De Blauwe Kamer
Selfie di salah satu bangunan tua di De Blauwe Kamer
Rusa!!!! Depan mata!!!!
Rusa!!!! Depan mata!!!!

Wah, Blauwe Kamer tuh bagus… banget. Walaupun tempatnya nggak seberapa besar, tapi gue cukup puas disini. Hutannya asri, marka jalannya juga jelas, dan yang pasti… bersih banget. Dari sini kita bisa bird-watching atau piknik di tengah padang rumput luas. Pas banget buat gue yang baru selesai ngerjain esai-esai kampus dan ngerasa kepala mau meledak. Terimakasih Daud untuk acara jalan-jalan ke Wageningennya, dan terimakasih Blauwe Kamer untuk bikin gue kembali segar!

Hutan kecil tapi asri di De Blauwe Kamer
Hutan kecil tapi asri di De Blauwe Kamer
Iklan

5 thoughts on “De Blauwe Kamer = Bukan ‘Kamar Warna Biru’

    1. Hahaha beneran ya? Aku khatam banget sama buku itu, pergi ke Wageningen kemarin berasa udah berkali2 kesana padahal baru sekali pergi. Iya aku lagi mengais ilmu disini, nih…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s