Lebih Dari Pohon


Coba inget-inget, jaman kita sekolah dulu pernah disuruh bikin pohon keluarga nggak? Gue pernah, waktu SD. Saat itu gue disuruh bikin pohon keluarga dari kakek-nenek buyut sampe gue sendiri. Gue kenal cukup baik cerita kakek-nenek buyut dari bokap gue, tapi gue nggak tau cerita kakek-nenek buyut dari almarhumah nyokap gue.

Nah, fast forward ke tahun 2015, ketertarikan gue dengan silsilah keluarga kembali terpercik karena satu acara TV.

‘Who Do You Think You Are’ (WDYTYA) adalah serial TV asal Inggris yang isinya mencari tahu silsilah keluarga dari artis-artis Inggris. Serial ini udah diadaptasi sama Amerika dan Australia, dan menurut gue sih lebih menarik yang Amerika punya karena gue nggak gitu kenal artis-artis yang dibahas di WDYTYA Inggris dan Australia.

Penyajiannya lumayan menarik. Si artis dijadiin tokoh utama di serial TV, kemudian dia nyari tau tentang seseorang yang spesifik di salah satu pohon keluarga mereka (dari mama atau papa). Beberapa artis yang gue tonton episodenya bahkan sampe pergi keluar Amerika untuk tau tentang sejarah hidup buyut mereka, seperti Jim Parsons yang ke Prancis dan America Ferrera yang ke Honduras.

Nonton serial ini bikin gue percaya dengan pepatah ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’. America Ferrera, artis yang juga terkenal sebagai politisi dalam bidang kemanusiaan, ternyata punya kakek buyut seorang jendral di Honduras, namanya Gregorio Ferrera. Yang bikin heboh, opa Gregorio ini lumayan terkenal di Honduras sebagai aktor utama beberapa revolusi di Honduras di awal abad ke-20. Selain itu, nenek buyut dari Zooey Deschanel ternyata adalah seorang perempuan jaman pra-Perang Sipil Amerika Serikat yang lumayan megang peranan penting dalam beberapa kejadian sebelum meletusnya Perang Sipil. Nama-nama artis yang gue sebut diatas bukan cuma terkenal mahir berakting, tapi mereka juga termasuk orang-orang pintar. America Ferrera, jadi percaya bahwa ketertarikannya dengan dunia politik kemanusiaan ada hubungannya dengan sang kakek buyut yang dulu adalah seorang jendral. Zooey Deschanel, yang selain jadi artis juga jadi publik figur yang fokus di bidang feminisme dan girlpower, datang dari keturunan perempuan hebat yang bahkan sempat jadi salah satu tokoh penting di kejadian-kejadian pra-Perang Sipil. Seru, kan?

Nontonin serial ini gue jadi mikir, kayak apa ya kehidupan kakek dan nenek buyut gue, terutama dari pihak bokap? Gue sih tau-tau sedikit tentang nenek buyut gue, tapi gue nggak tau banyak tentang kakek buyut gue. Setahu gue, nenek buyut gue orang Manado asli dan ketemu kakek buyut gue waktu di Poso. Kakek buyut gue asli datang dari Tiongkok, tapi dari provinsi mana gue nggak tau. Kemudian mereka pindah ke Tomohon, Sulawesi Utara, dan menghabiskan masa tua mereka di Surabaya, bersama adiknya oma gue, sampe meninggal. Dulu di Tomohon nenek buyut gue kerja jadi suster di rumah sakit Belanda, sehingga dia punya koneksi jadi bisa nyekolahin oma gue di sekolah Belanda.

Rasa penasaran gue tentang silsilah keluarga gue ini juga datang dari beberapa buku yang beberapa minggu lalu gue baca untuk tugas akhir sebuah kelas. Gue baca tentang kehidupan masyarakat Tionghoa di Makassar, dan anehnya di buku itu ada banyak banget orang dengan nama belakang yang sama dengan nama belakang oma gue. Gue jadi penasaran, jangan-jangan kakek buyut gue masuk ke Indonesia lewat Makassar, dan jangan-jangan namanya ada di catatan kedatangan orang Tionghoa yang entah disimpen di Indonesia atau di Belanda? Apa dia pedagang? Ngapain dia dateng ke Indonesia? Apa dia ngikut arus kedatangan orang Tiongkok ke Indonesia jaman dulu, pengen ngubah nasib karena di negara asalnya lagi banyak pemberontakan ke pemerintah? Kalo iya dia pedagang, dia dagang apaan? Terus akhirnya gimana bisa ketemu sama nenek buyut gue?

Apalagi tinggal di Belanda ini, banyak banget orang Indo (campuran Belanda-Indonesia) berkeliaran. Walaupun mukanya nggak keliatan Asia lagi, tapi kalo mereka tau gue dari Indonesia, pasti mereka bilang, “Wah nenek saya dari sana!” kemudian nyebut daerah tempat lahir ibu/ayah/nenek kakek mereka. Rasanya kok seru aja ya kalo bisa tau tentang sejarah keluarga sendiri. Banyak dari mereka yang suka melakukan perjalanan ke Indonesia cuma untuk mengetahui garis keturunan mereka sendiri, lho. Dan ini bukan cuma satu dua orang. Ada banyak banget orang Indo di Belanda yang masih penasaran dengan asal muasal mereka dan banyak yang pergi ke Indonesia bukan untuk liburan, tapi untuk mencari tahu tentang silsilah keluarga mereka. Menurut gue ini adalah salah satu hal yang cukup emosional, mengingat bahwa banyak dari mereka yang udah nggak ngomong bahasa Indonesia lagi, atau tau makanan asli dan kebudayaan Indonesia, tapi tetep penasaran tentang asal muasal mereka dan pergi ke negara yang asing. Walaupun disini kebudayaan Indo cukup banyak bisa ditemuin, tapi gue sebagai orang Indonesia yang tinggal di Belanda bisa ngeliat bahwa kebudayaan Indo dan kebudayaan Indonesia bener-bener hal yang cukup berbeda.

Pertanyaan-pertanyaan ini terus menerus menggantung di otak gue selama beberapa minggu ini. Gue sih sangsi gue bakal ketemu sebuah nama yang lumayan berpengaruh yang ternyata adalah kakek atau nenek buyut pangkat berapa dari gue, tapi rasanya gue makin penasaran aja tentang apa yang membuat diri gue jadi gue sekarang ini. Gue penasaran apakah hobi gue sekarang ternyata diturunin dari leluhur gue.

Untuk kalian yang baca, kira-kira kalian tau silsilah keluarga kalian sampe mana? Dan apakah kalian cukup familiar dengan sejarah keluarga kalian sendiri?

Iklan

17 tanggapan untuk “Lebih Dari Pohon

  1. Wah, menarik banget postingannya! Keluarga dari dua belah pihak mama dan papa nyimpen buku silsilah sampe … errr lupa musti liat lagi ha ha. Sayang nggak dilengkapin apa pekerjaan mereka dulu. Seringnya denger cerita selintas-selintas aja tentang buyut-buyut yang pergi dari kerajaan Mataram karena menolak di-Islam-kan ( turunan rebel, cicitnya ya rebel juga nih kayaknya hahaha ). ah, kamu menginspirasi untuk buka-buka buku silsilah lagi deh – apa bagusnya didigitalisasi ya. hehe.

    Suka

    1. Lebih baik digitalisasi. Soalnya dokumen makin lama makin tua dan rapuh, penanganannya juga harus ekstra hati2. Dokumennya satu satu pake cover dari kertas kopi, atau dilaminating aja, kalo nggak mau digitalisasi.

      Suka

    1. Hi Firsty,
      FYI, Indonesia gak dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang dihitung penjajahan itu cuma dari 1800 sampe 1942, dihitung sejak VOC bubar (31 Desember 1799) jadi mulai 1 Januari 1800, wilayah Dutch East Indies dijadikan koloni Belanda. VOC itu kan cuma perusahaan dagang, sementara sebuah negara baru bisa dibilang dijajah kalo dia dibawah pemerintahan sebuah negara, bukan perusahaan.
      I hope this can enlighten you and give you new perspective, ya 😀

      Disukai oleh 1 orang

  2. Kalau di masyarakat saya, di Bali, setiap keluarga punya buku tentang silsilah keluarganya dalam bentuk babad, yang biasanya merujuk sampai leluhur di Jawa pada masa kerajaan dulu, berasal dari Jawa karena masyarakat Bali saat ini kebanyakan keturunan Majapahit (kalau di keluarga saya bisa ditelusuri sampai zaman Kediri) demikian pula dengan keluarga saya, ada buku tentang leluhur-leluhur itu jadi saya bisa tahu dengan lumayan pasti siapa leluhur jauh di masa lampau :)).

    Kalau soal warga Indo-Belanda, ya ikatan mereka dengan negara ini demikian kuatnya, bahkan banyak yang masih menjadikan Hindia Belanda menjadi kampung halaman dan tanah air. Sisi yang inilah yang cenderung terabaikan dalam memerdekakan bangsa Indonesia, apakah orang Indonesia itu cuma orang Indonesia asli atau bangsa pendatang yang sudah lama tinggal di sini…

    Disukai oleh 1 orang

    1. Wah gila kamu keren banget! Sekali-kali boleh dong di share tentang silsilah keluarganya. Biasanya di satu keluarga itu ada ‘juru kunci’ pemegang dokumen2 keluarga ya? Apa semua orang di keluarga kamu pasti tau silsilah?
      Soal orang Indo-Belanda itu, bener banget. Apalagi yang generasi tua. Kalo yg generasi muda, cuma beberapa yang kayak gitu, termasuk beberapa temen2 saya. Mereka bangga banget berdarah Indonesia dan ada dari mereka yg punya koleksi buku ttg Indonesia banyak banget.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Sepengetahuan saya kita semua tahu, soalnya orang-orang tua kami suka bercerita tentang kisah leluhur-leluhur di masa lalu, terus ada merajan (tempat sembahyang) untuk keluarga juga jadi kita bisa saling kenal satu sama lain, soalnya keluarga merajan saya kalau dihitung itu banyak sekali :hehe. Kapan-kapan akan saya bagi ceritanya kalau saya pulang kampung :)).

        Suka

  3. Wah pas banget kemarin aku baru aja ngobrol sama nenek dari pihak bokap, yang selama ini aku kira dia orang Serang taunya rupanya cuma numpang lahir doang di Serang, lalu pindah pindah sampai akhirnya pas tua menetap di Jakarta. Begitupun dengan kakek aku. Keduanya kebetulan kebiasa nomaden. Jadi intinya aku walaupun berdarah Sunda dari bokap, tapi ngga punya kampung. Itu aku baru tau literally minggu lalu lho! Dan seru banget dengerin ceritanya nenek, apalagi dia kelahiran taun 20an akhir jadi banyak kisah jaman kemerdekaan nya juga. Nah kalau dari pihak nyokap masih pr aku nih, cuma taunya berdarah Manado aja, tapi ngga tau banyak dan oma – opa nya udah meninggal 😦 nice post Crystal!

    Suka

    1. Wah seru banget! Kalo oma ku kelahiran 1930-an. Dia dulu cerita walaupun bs sekolah di sekolah katolik utk org belanda (dan org indonesia yg kaya) trus diajarin bahasa belanda tp tetep aja katanya murid indonesia ga boleh berinteraksi ama murid belanda. Segitunya

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s