Makan Bareng Orang Londo


Di hari Selasa yang luar biasa panas terik, sebuah pesan datang ke Whatsapp gue waktu gue lagi makan es krim dengan penuh perasaan. Pesan itu berupa undangan makan malam untuk hari Senin malam dari mbak Deny, teman blogging di Belanda yang tinggal di Den Haag. Katanya itu undangan makan malam dalam rangka syukuran suaminya, Ewald, yang mau sidang tesis di hari Senin, dan itu adalah acara makan malam untuk teman-teman dan keluarga dari suaminya. Langsung aja gue mengiyakan, apalagi mbak Deny bilang suaminya pesan khusus menu makanan Indonesia. Udah makan gratis, makanan Indonesia, makan sama keluarga Belanda pula, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Akhirnya hari Senin itu pun tiba. Mbak Deny bilang, nggak usah pake baju yang lebay-lebay, toh musim panas kok. Jadi gue cuma pake celana jeans sama kaos aja dan sepatu keds. Jarak dari Leiden ke apartemen mbak Deny yang terletak di Den Haag minggir sonoan dikit juga nggak jauh, sekitar 20 menit. Tapi begoknya, gue sempet salah turun stasiun, yang mengakibatkan gue terlambat sekitar 15 menit ke apartemen mbak Deny dan Ewald.

Ternyata gue dateng bersamaan dengan keluarganya Ewald. Satu lift pula! Sempet kaget ternyata mereka mau masuk ke apartemen yang sama. Rumahnya mbak Deny dan Ewald bagus, dengan interior didominasi warna putih dan oranye, kabarnya itu adalah dua warna kesukaan Ewald. Pembagian ruangannya juga nggak lebay-lebay amat, ruang TV digabung dengan dapur dan ruang makan, terus ada balkonnya juga. Nyaman dan bersih, deh. Di ruang TV, ada rak-rak yang dipenuhi buku-buku Ewald dan mbak Deny. Ketauan banget siapa yang orang Belanda asli, siapa yang lagi belajar bahasa Belanda, hahaha… Soalnya buku-buku Ewald adalah tipikal buku-buku yang bisa ditemukan di rak buku gue (buku sejarah, duh), sementara rak khusus buku mbak Deny isinya novel bahasa Indonesia dan buku anak-anak bahasa Belanda untuk belajar bahasa. Di meja sebelah TV ada pemutar piringan hitam, ternyata Ewald doyan koleksi piringan hitam band-band jaman dulu. Pas kepoin rak piringan hitamnya, gue ngeliat ada piringan hitam Electric Light Orchestra dan The Beatles…

Tiba saatnya makan-makan. Makanan yang disediakan mbak Deny cukup beragam seperti nasi kuning beserta lauk pauknya, bakso, dan es cendol sebagai makanan penutup. Yang lucu, mbak Deny ngejelasin ke keluarga Belandanya bahwa di Indonesia, makanan nasi tumpeng ini tergolong spesial karena biasanya cuma dibuat untuk saat-saat perayaan tertentu kayak ulangtahun atau syukuran, dan seperti kebudayaan di Indonesia, yang punya hajat (baca: Ewald) harus ngasih piring pertama nasi kuning ke orang yang terpenting dalam hidupnya. Akhirnya Ewald ngasih piring itu ke mamanya, cuma dikasih aja gitu. Kalo di Indonesia kan harus disuap juga sekali. Gue rasanya pengen ngikik ngeliatnya.

Makan-makan sama orang Belanda ternyata seru juga. Mereka baik-baik, apalagi mengetahui gue juga anak rantau seperti mbak Deny. Anak-anak Belanda juga sopan-sopan. Keponakan-keponakan Ewald, begitu masuk rumah dan ketemu Ewald langsung menyelamati beliau. Terus, gue menemukan sebuah kebiasaan yang ternyata udah gue lakukan sejak lama di rumah. Jadi, setiap tamu yang baru masuk, pasti menyalami tamu yang lain. Itu kebiasaan gue banget di rumah. Kalau ada acara di rumah, entah itu hajatan gue atau bukan, pasti gue harus turun dan menyalami semua tamu, entah itu kenal atau nggak kenal, bakal ngobrol lagi selama pesta atau enggak. Ternyata didikan oma gue itu berasal dari kebiasaan kayak gini toh…

Keluarga Ewald juga santai-santai. Selama acara makan-makan, bebas makan apa aja, nambah berapa kali juga oke, sambil ngobrol. Anak-anak Ewald yang udah pada gede-gede pada berebutan main piano. Asyik aja lah ngobrol satu sama lain. Gue juga ngobrol sama seorang ibu dari Belanda. Nah, bagian ngobrol ini menurut gue lumayan lucu. Menurut gue, orang Belanda jago banget basa-basi yang nggak bikin basi. Selama ngobrol sama ibu Belanda ini, kami ngobrolin hal-hal yang biasa banget kayak cuaca, jarak dari Leiden ke Den Haag, sepeda, kampus di Leiden, termasuk harga tiket dari Belanda ke Indonesia. Nah, bisa dipikir sendiri, hal-hal kayak gitu penting apa enggak. Tapi gue seneng, karena obrolannya ringan, terus juga nggak terlalu menginvasi privasi masing-masing, nggak kayak basa-basi orang Indonesia yang kadang malah bikin gondok.

Udah gitu, gue suka banget sama penyajian makanannya. SemuanyaΒ self-service,Β kalo numpahin makanan atau minuman ke lantai juga harus bersihin sendiri juga lah. Terus kayaknya orang sini udah kebiasaan ngumpul-ngumpul makan malam di rumah, jadi tadi ada snack berupa muffin-muffin lucu dan buah-buah yang ditaro per porsi di dalam mangkuk kertas kecil dengan warna-warna menarik plus hiasan bendera-bendera kecil warna kuning dan merah. Lucu banget, mau makannya juga makin semangat. Walaupun alat makan yang dipake bukan piring dan sendok garpu bagus, tapi semuanya kelihatan rapi karena ada hiasan-hiasan unyu di meja makan dan semuanya ditata rapi. Contoh yang bagus untuk diambil, mengingat pasti acara makan-makan ini bakal kebawa terus sama gue kalo udah pulang lagi ke Indonesia.

Gue kemudian pulang jam setengah 10 malam, saat hampir semua tamu juga udah pada pulang. Akhirnya gue dikasih makanan seabrek sama mbak Deny. Pokoknya hari ini menyenangkan. Makan bareng orang Belanda ternyata nggak se-menyeramkan dan nggak mengintimidasi seperti yang gue pikir!

Iklan

24 tanggapan untuk “Makan Bareng Orang Londo

  1. Terima kasih Crys kamu dah datang dan bantu ngabisin makanannya. Tadi sempat kawatir kamu bakal bete karena aku wira wiri ngurusin ini itu. Setelah baca postinganmu ini, lega rasanya karena kamu ternyata menikmati acaranya. Dan seperti biasa, kamu berceritanya detail sekali jadi tahu apa saja yang kamu amati tadi ^^.

    Suka

    1. Ahhh leuk! Senang buat kalian berdua yang bisa kumpul lagi.
      Deny, selamat buat suamimu. Aku ga bisa komen di blog mu. Kenapa ya? Pokoknya gefeliciteerd! Tumpengnya keren. Wah kapan aku kebagian undangan? 😊

      Suka

      1. Kemarin si ibu Bule itu juga nanya, “Kamu udah ke Groningen?” aku jawab “Belum. soalnya jauh.” eh dia jawab “Aaah cuma 2.5 jam kok naik kereta, enggak jauh!” oalah

        Suka

      2. Terima kasih Yang. Iya, blogku kayaknya susah kalo komentar dari Hp, dari laptop pun tetap butuh kesabaran hehe.
        Undangan berikutnya Insya Allah kalau pas ada acara apaa gitu dan tentunya pas lagi ga puasa ya. Mau kerumahmu aja pending2 mulu nih akunya haha.

        Suka

  2. Waa tumpengan di negeri orang, pasti sesuatu banget :hehe. Deskripsimu membuat saya seperti ikutan acara makan di sana Mbak, dengan kehangatan keluarga Belanda yang baik dan ramah, terus ada Mbak Deny yang baik hati menjamu dengan makanan lezat :nyamnyam. Di sini jadi bisa tahu juga nanti kalau seandainya saya ke Belanda tentang bagaimana memulai percakapan dengan orang-orang di sana: pembicaraan tentang cuaca selalu jadi awal yang baik.

    Suka

  3. Barusan aja baca postingan yang punya hajat, sekarang baca postingan tamunya hehe.. Senang ya kalo ada yang kenal dan baik gitu πŸ˜€ apalagi di negeri orang hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s