(Hampir) Menangis di Museum


Coba ingat-ingat pelajaran Sejarah jaman sekolah dulu. Dari kapan kekuasaan terhadap Hindia Belanda berpindah tangan dari VOC ke pemerintah Belanda? Apa nama organisasi tentara Belanda yang ‘dibonceng’ oleh NICA masuk ke Indonesia dan merupakan dalang dari Aksi Polisionis (versi Indonesia: Agresi Militer) 1 dan 2? Kapan tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia? Kapan bendera Belanda terakhir kali berkibar di Indonesia?

Kalau sudah lupa, ada baiknya buka-buka lagi buku Sejarah atau buka Wikipedia, dan kalau pergi ke Belanda, jangan lupa menyempatkan diri pergi ke Bronbeek Museum di Arnhem.

Aslinya, Bronbeek Museum adalah museum militer, yang mendokumentasikan seluruh kegiatan KNIL di koloni terbesar mereka pada abad ke-20: Hindia Belanda. KNIL adalah jawaban dari salah satu pertanyaan di atas, yaitu nama satuan militer Belanda yang ditugaskan ke Indonesia untuk ‘mengambil alih’ kemerdekaan Indonesia yang seharusnya sudah merdeka di tahun 1945. KNIL sendiri adalah singkatan dari Koninklijk Nederlands-Indie Leger, atau dalam bahasa Indonesianya: Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Karena itu, lebih tepat rasanya gue bilang bahwa Bronbeek Museum adalah museum khusus tentang hubungan KNIL dan Hindia Belanda.

Museum Bronbeek sangat berbeda dari museum-museum lainnya. Letaknya terletak di tengah taman yang luas sekali. Di taman ini ada beberapa gedung selain si museum, yaitu restoran bertema Indonesia dengan nama Kumpulan, dan rumah jompo dari pemerintah untuk veteran KNIL. Semuanya terletak di belakang museum. Eksterior museumnya ngingetin gue sama gedung-gedung tua di Batavia pada jaman awal abad ke-20.

Pintu masuk Bronbeek Museum.
Pintu masuk Bronbeek Museum.

Bronbeek Museum dibagi jadi dua lantai. Layout gedungnya sederhana sekali. Setiap lantai dibagi menjadi dua sayap. Di lantai pertama, sedang ada pameran temporer, masih tentang KNIL, gue sendiri nggak terlalu ngerti tentang apa karena semuanya dalam bahasa Belanda. Yang gue ngerti dari pameran temporer tersebut adalah pameran itu juga menyertakan sedikit bagian untuk nyeritain tentang kehidupan tentara Belanda selama ditugaskan di Hindia Belanda. Ada foto-foto mereka lagi beli buah di pasar, lagi main sepakbola, lagi nongkrong sama sesama tentara, ada juga foto-foto kedatangan mereka ke Hindia Belanda (ke Makassar, contohnya). Pas lagi di pameran itu, gue ketemu sama seorang bapak orang Indonesia yang udah 50 tahun tinggal di Belanda dan baru pertama kali pergi ke Bronbeek Museum. Beliau lahir di Mojokerto, tapi pas umur 18 tahun pindah ke Belanda ngikut ayahnya. Dia bilang, “Saya kalau mau disuruh pilih sih pengen pulang aja ke Indonesia”. Sepertinya itu jeritan hati hampir semua anak rantau Indonesia yang tinggal jauh dari Ibu Pertiwi, hehehe.

Di lantai dua, baru ada pameran permanen-nya Bronbeek Museum. Isinya adalah tentang kependudukan Belanda di Hindia Belanda, mulai dari VOC sampai hengkangnya orang Belanda pada tahun 1960-an setelah Indonesia mendapat hak penuh atas Irian Barat. Semuanya dibahas dalam satu lantai, dan mengikuti linimasa. Di sayap kanan sih menurut gue nggak terlalu menarik karena isinya tentang penjajahan Belanda dari VOC sampai Belanda hengkang sebentar dari Hindia Belanda untuk diambil alih sama Inggris, tapi di sayap kiri museum, isi pamerannya menarik banget.

Sayap kiri museum adalah pameran tentang orang Belanda di Hindia Belanda selama masa kependudukan Jepang. Pada masa penjajahan Jepang di Hindia Belanda, semua orang Belanda tanpa kecuali harus masuk kamp-kamp interniran Jepang. Pada saat itu, status orang Belanda dan pribumi dianggap sama oleh Jepang. Nggak sedikit orang Belanda yang ngerasa sakit hati karena ini. Di bagian ini, ada beberapa kesaksian tertulis dari warga Belanda yang sempat terperangkap di kamp interniran Jepang. Nggak sedikit wanita Belanda yang juga jadi korban pemerkosaan tentara Jepang. Para ibu sebisa mungkin memberikan masa kanak-kanak sebaik mungkin ke anak-anak mereka, tapi nggak jarang mereka gagal. Salah satu hiburan dari para ibu Belanda untuk anak mereka adalah dengan membuat boneka-boneka dari kain perca selama mereka ada di kamp interniran. Selain itu, banyak dari tawanan perang ini yang ngilangin stres dengan cara melukis, atau membuat cerita dalam bentuk jahitan.

Salah satu hiburan ibu dan anak Belanda di kamp interniran: menjahit cerita dan gambar. Kantong dengan jahitan di sebelah kanan gue rasa dibuat di kamp interniran di Sulawesi Utara, karena tulisannya 'Kamp Tomohon' (Tomohon adalah nama desa di Sulawesi Utara)
Salah satu hiburan ibu dan anak Belanda di kamp interniran: menjahit cerita dan gambar. Kantong dengan jahitan di sebelah kanan gue rasa dibuat di kamp interniran di Sulawesi Utara, karena tulisannya ‘Kamp Tomohon’ (Tomohon adalah nama desa di Sulawesi Utara)

Di kamp interniran tersebut, orang Belanda juga udah mulai dikotak-kotakkan. Mulai ada istilah ‘Belanda Totok’ dan ‘Belanda Indo’ di kartu-kartu identitas orang Belanda selama masa kependudukan Jepang. Maksudnya Belanda Totok adalah mereka yang lahir dan besar di Belanda kemudian pindah ke Indonesia, sementara Belanda Indo adalah keturunan dari si Belanda Totok, atau orang Belanda yang lahir di Indonesia.

Kartu kependudukan (?) orang Belanda selama masa penjajahan Jepang. Perhatikan 'Belanda Indo' dan 'Belanda Totok' di pojok kiri atas.
Kartu kependudukan (?) orang Belanda selama masa penjajahan Jepang. Perhatikan ‘Belanda Indo’ dan ‘Belanda Totok’ di pojok kiri atas.

Selain itu, ada juga pembahasan tentang usaha kemerdekaan Indonesia. Gue salut banget sama cara penyampaian sejarah dari museum ini. Awalnya gue pikir Bronbeek Museum ini bakal subyektif banget sama hal-hal berbau KNIL dan masa penjajahan mereka di Indonesia. Ternyata sama sekali enggak. Bahasa mereka netral banget, bahkan untuk beberapa event dalam sejarah Indonesia seperti penangkapan Diponegoro dan perang Aceh, mereka tulis dua sudut pandang berbeda tentang event tersebut; sudut pandang Belanda dan Indonesia. Gue salut banget, lho. Kenapa? Karena masih banyak museum di Indonesia yang nggak adil dengan cara penyampaian sejarah mereka ke masyarakat. Museum Diorama di Monas contohnya, masih pake penyampaian pro-Indonesia dan memojokkan Belanda serta Jepang.

Bagian terakhir dari museum tersebut adalah repatriasi orang-orang Belanda dari Indonesia. Nggak semua dari mereka pulang ke Belanda, ada juga yang pergi ke Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Amerika Selatan, walaupun konsentrasi kepulangan ke Belanda memang paling banyak, ada 4 gelombang dari tahun 1950-an sampai 1960-an. Setelah mereka pulang ke Belanda, rupanya mereka menghadapi dilema lagi karena nggak semua orang Belanda mau menerima mereka, khususnya para Belanda Indo yang boro-boro pernah menginjakkan kaki ke Belanda sebelum repatriasi. Mereka jadi dianggap ‘not Dutch enough‘. Kulit boleh putih kayak orang Belanda, tapi kebiasaan mereka kebiasaan orang Indonesia, seperti makan nasi, ngulek sambel terasi, dan kebiasaan bawa botol cebok ke toilet. Orang-orang Indo-Maluku yang memutuskan untuk pulang ke Belanda, dapat cercaan dan tatapan aneh ketika orang Belanda asli denger mereka bisa bahasa Belanda. Banyak dari mereka yang lebih cinta sama Indonesia ketimbang sama Belanda, menganggap Indonesia adalah tanah air mereka, tapi karena situasi di Indonesia pada masa itu yang masih labil (dengan masa Bersiap dan konflik Irian Barat) akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Belanda.

Berada di museum ini entah kenapa bikin gue ngerasa sedih dan emosional banget. Museum ini seolah mau memberi pesan bahwa yang namanya perang dan penjajahan itu membawa sakit hati luar biasa untuk pihak-pihak yang bersangkutan, dengan harapan kejadian yang sama nggak berulang lagi di masa depan. Selain itu, museum ini bikin gue inget sama cerita-cerita masa penjajahan dari oma gue yang kadang suka cerita tentang itu. Dia bilang, dia lumayan beruntung bisa masuk sekolah orang Belanda waktu SD karena nyokapnya kerja sebagai suster di rumah sakit Belanda, jadi nyokapnya bisa masukin dia dan saudara-saudaranya sekolah di sekolah Belanda. Di sana mereka diajarin bahasa Belanda, sejarah, geografi Belanda… tapi mereka nggak boleh ngomong sama anak Belanda. Kasihan banget ya. Ada juga cerita oma gue jaman Jepang, dia bilang jaman Jepang emang jauh lebih susah daripada jaman Belanda karena bahan makanan kurang dan mereka harus sembunyi-sembunyi dari tentara Jepang kalo nggak mau masuk kamp interniran. Beliau pernah cerita (entah jaman Jepang atau Belanda), dia pernah ngerasain pake baju dari karung goni!

Untuk yang suka banget sama sejarah dan mau ngeliat sejarah Indonesia dari kacamata penjajah, wajib banget main ke Museum Bronbeek ini. Walaupun jauh dari Amsterdam dan Den Haag, tapi semuanya terbayar. Puas banget. Kalau hoki (dan jago bahasa Belanda), kita bisa juga pergi ke rumah veterannya untuk nanya-nanya ke veteran KNIL tentang hidup di Indonesia masa itu. Di museum itu juga kebanyakan isinya opa-opa dan oma-oma yang gue rasa mantan KNIL atau pernah tinggal di Indonesia, jadi kita bisa dapat dobel untung: bisa lihat koleksi museum dan bisa ngobrol sama saksi sejarah.

Iklan

16 thoughts on “(Hampir) Menangis di Museum

    1. Seinget gw kata oma gw dia disuruh pake baju karung goni dan dijelek2in mukanya biar gak diambil tentara Jepang, karena biasanya kalo yg diambil tuh yg cantik2 gitu buat dijadiin jugun ianfu atau pekerja rodi. Serem abeeeeeees!!!!!!

      Suka

  1. Ruangan yang paling aku suka itu yang ada tempat tidurnya yang bagus ditengah. Selain karena aku bisa duduk2 sambil nonton film, entah kenapa rasanya adem aja diruangan itu. Keluarga mertua punya dokumentasi dari kakek suami selama beliau di Jakarta, pas Mama mertua masih kecil. Di dokumentasi itu ada satu rekaman Mama mertua dan anak-anak Belanda lainnya bermain bareng dengan anak-anak Indonesia. Pas ngelihat pertama kali dulu, berasa lho akur juga ya mereka hehe.
    Btw, meskipun aku ga setekun kamu dan suamiku baca sejarah, tapi pas waktu keluar dari Bronbeek Museum, aku juga berasa nyesek, entah kenapa merasa sedih juga baca sejarah.

    Suka

    1. Oh yang “colonial bed” itu ya mbak? Somewhere aku pernah baca analogi itu, entah dimana. Ranjang kolonial dulu ada gulingnya kok skrg guling ga dijual ya disini… Itu kayaknya anak2 Indonesia yg kaya deh makanya punya akses main sama orang bule. Omaku dulu org kampung, mana boleh 😢

      Suka

  2. di satu novelnya Andrea Hirata gw pernah baca frase ‘diangkut ke tangsi’ dan deskripsi kejamnya kamp konsentrasi Jepang kala itu… dan dari “reportase” lo…those passage is emphasized in my mind. juga pakaian dari karung goni 😦

    Suka

  3. Nah, agaknya museum ini akan jadi wishlist saya. Mengetahui dua sisi sejarah, apalagi yang terkait dengan label “kalah” dan “menang”, pasti akan menghasilkan pemahaman baru tentang siapa yang benar, siapa yang salah, atau paling sederhananya, tentang apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang seharusnya terjadi. Sejak lama saya berpikir, masa iya 350 tahun dan orang Belanda itu sebegitu jahatnya pada kita kaum pribumi? Apa tidak ada ikatan batin dari orang-orang masa lalu yang meskipun berbeda ras, tapi menganggap Indonesia adalah kampung halaman? Kayaknya akan ada jawaban dari pertanyaan itu di dalam museum ini.

    Koleksinya, sumpah, menyentuh sekali. Perang memang tidak pernah membawa kebaikan, dan dengan fakta itu, semoga kita semua bisa belajar. Terima kasih sudah berbagi via tulisan ini ya, Mbak.

    Suka

    1. Hai mas Dani salam kenal ya. Ini museum favoritku sejauh ini di Belanda. Dari sini belajar empati juga soalnya. Ga selamanya mereka jahat. Ada juga yg lebih cinta Indonesia krn lahir dan besar disini tapi terpaksa pindah ke Belanda krn situasi yg ngga tentu saat itu. Di Belanda juga mereka mengalami diskriminasi krn dirasa ngga cukup Belanda. Sedih lah pokoknya.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s