6666


Gue sudah menunggu-nunggu kemarin. Hari Sabtu lalu (5/9), gue berencana untuk datang ke Pesta Rakyat Indonesia di Sekolah Indonesia Wassenaar. Di hari yang sama, temen gue dari Jerman, si Farhan, main ke Leiden. Kami sudah merencanakan untuk pergi ke Pesta Rakyat bersama-sama, dan berburu makanan Indonesia yang pastinya jauh lebih lengkap daripada pasar-pasar rakyat manapun se-Belanda.

Setelah gue jemput Farhan di stasiun, gue ngajak dia keliling Leiden sebentar sambil mampir ke perpustakaan untuk gue unduh dan cetak jurnal-jurnal kelas minggu depan. Setelah itu kami mampir ke apartemen gue untuk Farhan naro tasnya dan gue ganti jaket karena cuaca diluar kemarin nggak bisa ketebak banget. Tadinya gue mau ganti tas, tapi gue memutuskan untuk tetep bawa tas ransel karena gue mikir mau belanja makanan Indonesia di acara itu, jadi nggak usah masak untuk seminggu kedepan.

Habis itu, kami jalan ke stasiun lagi dan nunggu bus ke Wassenaar. Bus nomor 43 siang itu lumayan ramai dengan orang-orang Indonesia dari Leiden dan sekitarnya yang mau pergi ke tujuan yang sama. Secara nggak sengaja, si Kevin alias Sanjay, temen baik gue dari Delft, naik bus yang sama juga. Dia mencegah antrian panjang dari Den Haag, sehingga dari Delft dia naik kereta ke Leiden kemudian memutuskan naik bus dari Leiden. Toh trayek bus itu Leiden – Den Haag via Wassenaar. Sanjay masuk bus bersama dua orang temannya.

Perjalanan dari Leiden ke Wassenaar membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam. Kami kemudian turun di halte Stoeplaan kemudian berjalan sama-sama ke Sekolah Indonesia Nederland. Sanjay ngebiarin dua temennya jalan duluan, sementara dia gabung sama gue dan Farhan.

Pas banget sebelum kami menyeberang lewat underpass, di depan udah kedengaran suara riuh rendah pengunjung dan suara musik dangdut, tiba-tiba gue menyadari sesuatu…

Tas gue.

Tas ransel gue yang super ringan itu ketinggalan di bus.

Gue kemudian berusaha mengingat kronologi gue selama di bus. Gue naik ke dalam bus, bayar tiket, kemudian duduk, dan…

Oh. Kemudian gue melepas tas ransel dan gue biarkan punggung gue bersender ke tas ransel itu. Dan tentu saja dengan bodohnya, gue meninggalkan tas ransel parasut gue itu di dalam bus saat gue keluar dari bus karena tas itu sangat ringan dan gue nggak nyadar kalo gue nggak menggendong tas itu lagi saat keluar.

“Mampus,” bisik gue sambil tiba-tiba berhenti berjalan. “Tas ransel gue ketinggalan di bus.”

Sanjay dan Farhan juga berhenti, kemudian memandangi gue dengan tatapan “hah-lo-serius-kok-bisa”. Gue kemudian merepet, “Dompet dan ponsel gue ada di dalam tas. Yang gue punya cuma ini,” kata gue sambil mengeluarkan OV-chipkaart dari saku belakang celana.

Untungnya, temen-temen gue ini sifatnya problem solving; entah dari sananya atau didikan fakultas teknik (Iya, entah kenapa dunia gue selalu berputar di sekitar orang-orang dengan latar belakang teknik). Gue juga nggak mau terlalu tenggelam dalam kepanikan, walaupun dalam hati tetep aja deg-degan… Kami langsung atur strategi. Sempat bingung mau kembali ke Leiden atau lanjut ke Den Haag, tapi akhirnya keputusan diambil bahwa kami akan ke Den Haag aja, dengan harapan tas gue dititipin di bagian lost and found atau kantor administrasi stasiun.

Untungnya begitu sampai halte, langsung ada bus menuju Den Haag. Sanjay bertanya ke sopir bus, apa yang harus dilakuin kalo ada barang ketinggalan di bus. Si sopir bus bilang, harus lapor ke kantor perusahaan busnya, tapi karena hari itu hari Sabtu, jadi pelaporan harus nunggu sampai hari Senin.

Dalam hati gue mengutuk, “Dasar birokrasi Belanda! Nggak ada apa, nomor pengaduan 24 jam 7 hari seminggu? Yang namanya malapetaka kan nggak punya waktu dan jam kerja sendiri, dodol!”

Di jalan, gue dan Farhan kembali mengingat detil-detil di bus tersebut. Mulai dari sopir bus sampai nomor trayek bus. Dan kemudian Farhan teringat bahwa dia sempet merhatiin nomor badan bus yang menurut dia cukup kebetulan tapi cukup aneh: 6666. Gue juga tiba-tiba inget, gue inget ngeliat nomor itu di depan bus dan ngerasa funny feeling karena nomornya bisa sama semua. Angka 6666 kemudian jadi pedoman kami. Akhirnya diputuskan bahwa kami akan nongkrongin bus dengan nomor badan 6666 di Den Haag Centraal. Masalah ada enggaknya tas, urusan belakangan.

Nungguin bus 6666 tuh rasanya lamaaaaa banget. Selain adanya kekuatiran bahwa bus tersebut ganti rute, rasa super lama itu juga bersumber dari cuaca Den Haag yang semakin mendingin. Sedikit-dikit matahari muncul, tapi 10 menit kemudian angin kencang dan mendung, lalu beberapa menit kemudian hujan rintik-rintik. Gue semakin kedinginan karena kemarin gue cuma pake parka dan baju lengan panjang, sementara Sanjay dan Farhan lebih enak karena mereka pake jaket lumayan tebal. Kami menunggu sekitar satu jam lebih, mantengin setiap bus yang datang, ketawa-ketawa ngakak baca buku yang dibawa Farhan, dan mengomentari suasana Den Haag Centraal sore itu yang menyerupai terminal Blok M minus pedagang asongan yang teriak-teriak “Mijon mijon akua akua!” karena dipenuhi orang-orang Indonesia yang berbondong-bondong mau ke Pasar Rakyat. Bahkan ternyata dari Den Haag ada bus khusus ke Pasar Rakyat yaitu bus nomor 444.

Sekitar jam empat sore, akhirnya bus 6666 itu datang! Tepat waktu banget, karena sedari tadi kami hitung-hitung kecepatan bus dan estimasi kedatangan bus dari masing-masing perhentian akhir dan awal, ditambah waktu istirahat sopir. (Keuntungan dapet masalah pas lagi ada dua mahasiswa teknik yang apa-apa pasti dihitung). Untungnya juga, bus tersebut nggak langsung jalan lagi tapi istirahat dulu, tepat seperti perhitungan dua mahasiswa teknik yang menemani gue sore itu.

Kami bertiga mendatangi bus, kemudian Farhan duluan yang ngomong. Gue muncul belakangan dan gue menjelaskan duduk perkara ke si sopir bus, yang ternyata masih sama dengan sopir tadi siang. Kemudian si sopir itu mengeluarkan tas ransel gue dari bawah kemudinya, terus bilang, “Saya cuma mau ngecek kok, apa bener kamu yang kehilangan tas ini” lalu ngasih tas itu ke gue. Gue nggak perlu nunjukin OV-chipkaart gue untuk menentukan apakah gue orang yang beneran kehilangan tas. Kemudian dengan merepet beribu-ribu terima kasih ke sopir bus (yang dibalas dengan sederhana, “Kamu harusnya bilang terimakasih sama orang yang nemuin tas kamu”), kami bertiga meninggalkan stasiun.

Aduh, semoga yang menemukan tas gue dan ngasih ke pak sopir rejekinya dilancarkan, keluarganya bahagia, dirinya sehat-sehat, selalu bahagia, enteng jodoh dan maha beruntung!

Gagal ke Wassenaar, akhirnya gue dan Sanjay memutuskan untuk ngajak Farhan makan di Fat Kee, restoran Cina paling enak se-Den Haag. Disana, kami ngabisin satu porsi besar ikan gurame, empat porsi nasi, dan satu porsi kangkung terasi.

Gila, kejadian kemarin itu bener-bener bikin gue kaget tapi sekaligus bersyukur. Gue mikir, kalo memang gue ‘nggak boleh’ pergi ke Wassenaar, pasti gue nggak jadi pergi. Buktinya, gue udah di bus, dan ternyata tas gue ketinggalan sehingga gue harus nyari tas gue sebelum akhirnya pergi ke Wassenaar. Akhirnya juga nggak jadi ke Wassenaar karena udah terlalu sore dan pasti makanannya udah pada habis. Si Sanjay juga ngerasa demikian. Dari tadi pagi dia nggak mau pergi karena cuacanya malesin banget, dan akhirnya dia pergi karena dua temennya mau pergi. Ujung-ujungnya nggak jadi pergi juga. Seandainya gue jadi pergi ke Wassenaar kemarin, entah apa yang akan kejadian disana. Bisa jadi gue kena copet atau kena masalah lain.

Berusaha cari silver lining, ceritanya.

Iklan

14 thoughts on “6666

  1. Aku ngerasain bgt pas hp ilang, tepat sebelum berangkat ke belanda, niatnya mau foto2 pake hp ini, makanya gak bawa kamera ehh gagal, dapat balikknya pas setelah aku nyampe disini. Suka mikir emang, klo emang gak ‘jodoh’ ya gimana jg gak jodoh even buat hal plg kecill sekalipun yaaa hehe. Selamat tasnya sdh balik 🙂

    Suka

  2. Waaahhh pantes kemaren kok ga nampak kamu Crys, eh tapinya buanyaaakk banget orangnya. Aku sampek ga doyan makan gara2 lihat orang umpel2an.
    Alhamdulillah banget ya akhirnya ketemu tas dan isinya. Bener kata Afgan, jodoh pasti bertemu *eh, anggap aja masih berjodoh ama rejeki kan ya ini namanya, hahaha maksa.
    Btw, temenku sering bilang hal yang sama tentang anak teknik. Apalagi ke aku yang ketambahan statistik “gila ya anak statistik plus teknik ini, apa2 diitung. Bemo jalan aja kecepatannya musti diitung, jangan2 receh ngegelinding diitung juga pake kecepatan cahaya” hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  3. AKUUU jg doyan ngitung estimasi wkakaka maklum anak IT (teknik perkomputeran) 😛
    Untung tasnya ketemu ya, Tal.. Dam isinya ga ilang. Kan kadang ada tuh yg tasnya ketemu tp dompet+hp gada, ato kondisi udah ga bagus. Yg nemu org baik, puji Tuhan

    Suka

  4. Wah, untunglah tasnya ketemu ya Crystal. 🙂
    Asik juga karena ada teman-temanmu ya, jadi ga panik dan akhirnya bisa mengingat-ingat kejadiannya sampai bisa ingat nomor busnya.:D

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s