Concept of Home All Messed Up.


Seharusnya gue belajar untuk bahan diskusi kelas besok, tapi berhubung blog ini udah mulai ditumbuhin jaring laba-laba dan gue juga kepengen cerita, jadi gue lebih mementingkan untuk cerita dulu daripada belajar. Janji deh, habis uneg-unegnya selesai, gue kembali belajar lagi.

Untuk orang yang tinggal di kota lain selama lebih dari 6 bulan (diluar kota lahirnya atau kota tempat dibesarkannya), kota lain tersebut sudah jadi semacam rumah dan pulang.

Untuk gue, kata ‘rumah’ dan ‘pulang’ sudah diasosiasikan ke Leiden.

Gue jadi inget ketika liburan ke Prancis Selatan beberapa minggu lalu. Itu adalah liburan paling nggak menyenangkan dalam sejarah perjalanan gue di Eropa. Gue capek, harga-harga melangit, uang gue menipis, ditambah lagi masyarakat di Prancis banyak yang nggak bisa bahasa Inggris dan orang-orang di hostel gue juga banyakan adalah pejalan dari Spanyol atau Italia yang nggak bisa bahasa Inggris. Selama lima hari penuh gue ngerasa kayak alien karena gue sama sekali nggak ngerti bahasa dan nggak ada yang bisa ngertiin gue.

Saat itu, yang gue pikirkan hanya gue pingin pulang. Bukan pingin pulang ke Indonesia, tapi pingin pulang ke Belanda. Gue mulai membandingkan harga-harga makanan di Prancis yang ternyata jauh lebih mahal daripada Belanda, membandingkan transportasi umum Prancis yang nggak sebersih Belanda, membandingkan jalanan Prancis yang nggak serapi Belanda… Untuk gue, Belanda itu adalah definisi pulang, dan definisi rumah yang paling nyaman. Selama di Prancis, gue merindukan kopi murah seharga 1.80 euro yang bisa dengan mudah ditemukan di Belanda (harga kopi di Prancis paling murah 3 euro, lumayan gila juga). Gue juga merindukan pengumuman-pengumuman di stasiun kereta yang bisa gue mengerti, nggak seperti pengumuman di fasilitas umum di Prancis dengan bahasa sengau yang boro-boro bahasa tertulisnya gue mengerti.

Kemudian gue berpikir, kenapa definisi ‘pulang’ gue sudah berubah? Kenapa gue malah lebih merindukan pulang ke Belanda pada saat gue traveling, dan bukan ke Indonesia? Kenapa gue lebih merindukan rumah di Belanda dan masakan-masakan di Belanda daripada rumah di Indonesia? Apakah gue sudah menilai Belanda sebagai rumah kedua gue, tempat dimana gue dengan nyaman bisa bernaung dan pulang malam, kemudian sampai ke apartemen dan bisa dengan tenang menyeduh segelas teh atau menengguk sebotolΒ bir hangat? Apakah konsep ‘rumah’ gue sudah berpindah dari Indonesia yang panas sepanjang tahun ke Belanda yang sedikit-dikit hujan dan banyak angin?

Perasaan itu terus menghinggapi diri gue bahkan sampai gue pulang liburan. Sesampainya gue di Eindhoven Airport, gue senang sekali, seperti kalau mau pulang ke Indonesia. Walaupun pada saat itu Belanda mulai hujan dan sangat berangin, tanda musim gugur sudah dimulai, tapi ada kehangatan tersendiri saat gue mulai mendengar orang-orang berbahasa Belanda di sekitar gue. Ada kesenangan yang aneh saat gue bisa membeli segelas kopi panas dan sebuah roti isi di warung dalam stasiun memakai bahasa Belanda. Ada kelegaan saat gue membayar cemilan tersebut dengan kartu debit Belanda gue. Entah kenapa saat itu gue merasa gue dipeluk Belanda, dan Belanda membisikkan “Welkom thuis*” ke gue.

Mungkin gue sudah menganggap Belanda sebagai rumah. Disini gue sudah punya banyak teman dan kesibukan. Disini, seseorang juga menunggu gue untuk cepat pulang. Di Belanda, gue menemukan makna hidup mandiri dan menjadi orang dewasa. Sesuatu yang entah bisa gue kembali dapatkan ketika gue kembali nanti ke Indonesia.

Bagaimana dengan kamu? Terutama untuk orang-orang Indonesia yang sedang merantau ke luar negeri, atau orang yang merantau ke kota lain. Apakah konsep rumah dan pulang bisa berubah sedemikian rupa untuk kamu? Atau kamu masih tetap menganggap daerah asalmu rumah dan kata pulang akan selalu merujuk ke daerah asalmu?

*Welkom thuis: Selamat datang ke rumah

Iklan

26 tanggapan untuk “Concept of Home All Messed Up.

  1. Belajar belajaar, malah curhat πŸ˜€ *aku baru selesai ngerjain PR *oh peniingg *curhat juga :)))
    Rumah menurutku adalah tempat dimana hati kita merasa nyaman. Tempat dimana ada cinta. Situbondo dan Jember masih menjadi rumahku, karena disana aku selalu merasa nyaman dan banyak cinta dari dan untuk adik2 juga ibu. Belanda khususnya Den Haag sekarang menjadi rumahku juga karena disini aku temukan kenyamanan melakukan segala aktifitas bersama yang tercinta *jangan muntah ya Crys hahaha. Jadi kalau aku sekarang ditanya : mau pulang kemana? Aku sudah ada dirumah.

    Suka

  2. Aku jg ga tertarik sama Perancis. Byk baca cerita ga enak ttg negara itu. Waktu masih nemenin Suami kuliah, aku jg mengasosiasikan kata ‘pulang’ dengan 2 negara: Oz & Indonesia. Pas lg libur semester di Surabaya, aku bilangnya klo aku mau pulang ke Sydney. Eh tp pas di Sydney, klo menyebut Surabaya aku bilangnya ‘mudik’ deng, hehehe.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Sebenernya Prancis bagus tapi kok aku nggak klik ya sama negaranya. Entah kenapa selalu aja ada hal jelek yg bisa kutemuin disitu. Beda ama Jerman, kalo Jerman mah kayaknya aku disuruh bolak balik kesana setiap minggu juga mau-mau aja!

      Suka

  3. Samaa..konsep “home” udah mulai blur saat saya mulai merantau ke Jakarta untuk kerja lalu ke Prancis, Romania dan Swiss untuk studi (Prancis emang kadang nyebelin hihihi but it’s home to me :)) – tapi karena keluarga masih di Jogja, kota itu juga home. Lah banyak banget yak home-nya hihihi gpp deh yg penting hati nyaman saat di tempat itu, that’s where home truly is πŸ™‚

    Suka

  4. It’s natural to think that way. I prefer home as in Copenhagen than Indonesia these days. Klo liburan pas pulkam pun ga tahan lama2, bukan maksutnya snob ya tapi udah ga tahan macetnya, panasnya, nyamuknya dan kebiasaan orang2 yang suka kepo #eh

    Disukai oleh 1 orang

  5. Home buat gw adalah rumah gw di NZ skrg Tal. Selain betah, my life as myself ya di sini. Kerjaan, social circle, partner, pet… kalo balik ke Indonesia gw merasa bukan my own person lagi, tapi my parents’ daughter gitu lho #identitycrisis

    Disukai oleh 1 orang

  6. aku suka bingung Mba, aku lahir di Manado, keluarga juga masih banyak disana, trus mama papa pindah ke Pekanbaru, aku nya sekarang ngekost di Jakarta udah 11 tahun dan tahun depan akan pindah ke Belanda, jadi suka bingung, rumah nya dimana. Tapi mungkin kalau sekarang aku berasa rumah aku di Jakarta kali ya, walaupun cm ngekost, klo pulang ke Pekanbaru itu mudik dan kalau ke manado itu liburan haha.

    Suka

    1. Mbak Astrid kapan mau ke Belanda? Semoga pas udah pindah kesini kita bisa ketemuan ya πŸ™‚ Aku sepertinya juga gitu, ada rencana nanti pulang Indonesia mau pindah dari Jakarta, ngekost dan kerja di kota lain. Sensasi kemandirian mengambil alih, ternyata ada enaknya juga hidup tanpa uang orangtua πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

      1. aku masih tahun depan pertengahan mba, masih lama hehe.. Mba kapan balik? Semoga kita sempet ketemuan di sana nanti yaa πŸ˜€ Nanti rencananya mau dikota mana? Pusing ya sama Jakarta nanti haha..

        Suka

  7. Kalau aku dari dulu aku selalu ngerujuk kata “pulang” itu ke tempat dimana mama, papa dan adik ku berada. πŸ™‚
    Dulu kuliah di Jakarta dan tiap kali pulang ke Palembang ya aku bilangnya mau pulang ke rumah. Tapi sekarang karena keluarga aku udah di Jakarta, jadi kata “pulang” dan “rumah” ya di Jakarta. Karena rumah kan tempat dimana kita merasa nyaman, bukan begitu Crystal?:D

    Suka

  8. Mgkn bukan cerita gue walaupun I feel you bgt Tal krn gue baru ngerasain satu kota yaitu Bali! 7th gt lhoo.. Tp abang sepupu gue asalnya dr Jambi, trus lanjut kuliah S1 di Bandung S2 di Jakarta dan S3 di Belanda jg (lupa dimananya) mgkn dia jg akan bingung mana yg dipanggil “rumah” πŸ˜…

    Suka

  9. I am a citizen of the world. Gw gak merasa Malang sebagai rumah lagi karena kalau kesana cuma liburan doang. Sementara guwe juga gak ngerasa Jakarta sebagai 100% home, karena guwe gak lahir dan besar di sana. Anehnya tiap kali ke Bali, guwe selalu merasa pulang kampung, padahal gak ikut punya kampung. Mungkin karena keterikatan dengan beberapa hal di Bali. Dengan Dublin pun guwe belum bisa merasa 100% home, mungkin nanti.

    Kalau soal Perancis, I love it, mungkin karena guwe bisa bahasa Perancis kali ya.

    Suka

  10. dulu pertama kali menginjak eropa ada de ja vu yg bilang “saya pulang”..yah mungkin secara sains bisa dibilang siapa tau kakek nenek moyang saya pernah merantau sampai di mari dan warisan memori genetiknya masih gentayangan di gen saya ini dan tiba2 mengeluarkan program ini pulang lho hwahaha..lho kok jadi cerita sains fiksi..krn saya anti sentimentil, kata pulang itu ya dimana nyamannya hatimu..kalau kamu ada rasa kurang nyaman kembali, tidak ada orang2 yg dicintai, atau tidak ada kenangan indah ttg negara kelahiran, ya, mungkin tidak akan mau sebut itu pulang..sesimpel itulah sebetulnya.

    Suka

  11. Sebrengsek-brengseknya nih negara (Prancis dan gue akuin emang brengsek), gue seneng kalo habis liburan ke luar negeri terus pulang ke sini. This is my home πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s