Alone, Lonely, Loner


Saya tergolong orang yang sangat menghargai waktu sendirian. Untuk saya, saya lebih suka pergi kemana-mana sendiri. Bukannya tidak suka punya teman atau apa, saya juga suka kok pergi ke tempat-tempat tertentu bersama teman, tapi ada kalanya saya sangat ingin pergi ke suatu tempat sendirian, tidak mau diganggu, bahkan kalau bisa tidak usah ada yang tahu saya pergi kemana saat itu (tapi yang terakhir ini tidak bisa karena saya takut ada apa-apa menimpa saya dan teman-teman saya tidak tahu saya ada dimana).

Jika ada yang bertanya kenapa saya suka sendirian? Saya tidak tahu. Menurut saya, otak saya jauh lebih mudah untuk bekerja ketika saya sendirian. Saya adalah seorang INTJ yang sangat mudah tersengat oleh lingkungan intelektual, dan saya senang sekali berdiskusi tentang hal-hal berbau akademis, namun 60% waktu saya, sering saya habiskan sendirian. Di kamar, membaca buku, belajar, mendengar musik. Jika bosan, pergi ke taman sendirian, membawa cemilan atau makan siang, lalu makan di taman, melihat yang hijau-hijau. Jika sudah puas, pulang kembali ke rumah. Jika di perjalanan bertemu teman, menyapa seadanya. Mungkin akan mengiyakan jika dia mengajak saya nongkrong di sebuah kafe, atau mungkin menolak dengan halus jika saya tidak merasa ingin. Orangtua saya bahkan sudah sangat maklum tentang kelakuan saya yang seperti ini, walaupun dulu mereka menganggap ini aneh. Namun, mungkin lama-lama mereka sudah menganggap ini sangat biasa dan menganggap ini sebagai kebiasaan yang “saya” banget. (Dan saya berterimakasih untuk itu)

Simpel, kan?

Sayangnya, ternyata masih ada saja orang yang berpikir bahwa orang yang suka melakukan hal-hal tertentu sendirian itu sebagai aneh dan langsung dicap sebagai penyendiri. Anti-sosial. Seorang loner.

Saya baru mengalami hal ini.

Ceritanya, saya sedang menghabiskan malam di rumah teman saya. Bukan teman banget, sih. Lebih tepat disebut sebagai kenalan saja, karena kami baru bertemu kurang dari empat kali, dan melihat tabiatnya saja saya sudah malas menjadikan dia teman saya. Kemudian dia bertanya apa yang akan saya lakukan hari Senin minggu depan.

Dengan cuek saya menjawab bahwa saya akan pergi ke hutan, sesuatu yang selalu saya lakukan jika sudah sangat penat dengan tesis. Pergi sejauh mungkin dari Leiden ke daerah timur Belanda yang masih banyak hutannya, kemudian forest trekking seharian, demikian lanjut saya.

Kemudian dia bertanya lagi (biasa, orang Indonesia pertanyaannya beranak), “Sama siapa?”

“Sendirian,” jawab saya dengan bangga. Biasa saja sebenarnya, karena saya sering sekali melakukan hobi saya sendirian. Kemudian saya menjelaskan, prinsip saya ya begini. Untuk apa saya membatalkan melakukan sesuatu yang saya suka hanya karena alasan ‘tidak punya teman’?

Kemudian dia membalas saya dengan kata-kata yang menurut saya sangat kasar, “Wah, kamu loner banget, sih!” Yang dilanjutkan dengan “Kapan-kapan kalau mau trekking lagi, ajak-ajak dong!”

(dalam hati saya menjawab “Ora sudi aku!”) dan dalam hati saya berkata “Nggak tahu aja lo gue bukan cuma suka naik gunung sendirian, gue juga suka jalan di hutan sendirian, traveling sendirian, nonton bioskop sendirian, makan di restoran sendirian, lo lagi minta-minta diajak, emangnya lo siapa?”

Rasanya kalau tidak ada teman-teman lain disitu, sudah ingin saya ceramahi dia dengan berbagai kata-kata yang intinya adalah saya bukan loner, saya suka sendirian tapi bukan berarti saya seorang penyendiri. Emosi saya yang awalnya stabil, mendadak jadi drop karena sebuah komentar yang sangat one-sided seperti itu. Tapi saya berusaha tenang, dan untungnya saat itu saya sudah mau pulang, jadi saya langsung pamit kepada teman-teman saya (dan dia, selaku si empunya rumah).

Rasanya kesaaaaaaallllllllllllllllll sekali. Tumben lho, saya seperti ini. Biasanya saya tergolong cuek, tidak peduli orang mau bilang apa tentang kebiasaan dan hobi saya, yang penting saya senang. “Hidup ya hidup gue kenapa lo yang repot” mungkin jadi salah satu motto hidup saya. Tapi mungkin karena belakangan ini saya lelah sekali dengan berbagai tugas yang sepertinya tak kunjung selesai, membuat saya jadi lebih reaktif dalam menanggapi komentar-komentar miring yang dilontarkan orang lain terhadap saya. Tapi ya… aneh saja. Ini sudah tahun 2015, dunia internet sudah mengenal istilah introvert dan ekstrovert dengan sangat luas, tapi masih saja ada orang yang dengan asiknya menganggap bahwa orang-orang yang suka melakukan kegiatan sendirian sebagai tukang penyendiri.

😦

Sendirian tidak harus berarti kesepian. Sendirian tidak harus berarti penyendiri.

Iklan

25 thoughts on “Alone, Lonely, Loner

      1. wkwkwkwk…. ini bukan kenalan yg waktu itu km ceritain? yg batalin janji seenaknya? btw org Indo apa Londo sih? pnasaran, klo orang Londo suka comel juga gak mulutnya (asal njeplak)

        Suka

  1. Btw aku ESFP dan katanya cocok salah satunya sama ISFJ. Alhamdulillah kok ya si Suami ISFJ hahaha. It explains why we manage to go this far… #curcol. Brati klo PDKT sama orang, salah satu seleksinya bisa lewat tes ini ya? #lostfocus #ngomonginMBTI

    Suka

  2. Kalau sendirian lebih bebas mau ke mana-mana, terus tidak harus mengalah juga dengan keinginan orang. Saya selalu mengalah ketika jalan sama orang jadi kadang kepengin sendiri juga supaya saya bisa melakukan apa pun yang saya mau :)). Sendiri itu pilihan, kesepian itu nasib #sikap :haha *peace*.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Aku dari dulu sampai detik ini selalu aja ada yang ngatain “aneh” karena dituduh tidak mau bersosialisasi. Kemana2 sendiri dan tidak punya teman yang pasti. Lah memang aku nyamannya seperti itu gimana donk. Punya suami aja kemana2 seringnya sendiri hahaha. Kesel sih kalau dijustifikasi seperti itu sama orang yang cuman tau letak hidung kita aja. Tapi ya sudahlah, orang kan cuman bisanya ngelebarin mulut aja. Kalau ga enak didengar, langsung hajar haha. Orang jawa timur kan senggol bacok :))))

    Suka

  4. Betul banget nih. Aku sering dibilang loner dan itu sudah dari sejak kecil dibilang aneh karena selalu dikomentari anti-sosial. Setelah gede baru sadar sebenernya bukan anti-sosial tapi selective-social (haha), pengen sendirian klo lagi ga mood ketemu orang, dan kalaupun ketemu orang maunya orang2 tertentu yang kita nyaman aja. Bisa sih “dipaksa” happy-happy rame2 party2 tapi setelah itu juga perlu “detox sosial” alias balik menyendiri lagi beberapa waktu.

    Sempet dikomentari juga sama orang tua kenapa betah banget hidup / tinggal sendiri (sejak pisah sama ex), kenapa ga cari roommate dst, dst, aku bilang justru suka tinggal sendiri, ada orang lain justru risih – dan mereka nggak ngerti dong dengan kenapa aku suka hidup sendiri secara kakak2ku dua2nya yang sudah punya rumah sendiri2 (both singles) masih sering nginep di tempat yang salah satu soalnya maunya rame2 melulu.

    Suka

  5. Kalo gw gak ska makan sendirian kalo di luar Tal tapi kalo shopping sukaaaaaa banget sendiri. Karena gak risih kalo mau lama2 (apalagi gw fussy) dan rasanya pake waktu sendiri buat muter sesukanya.
    Gw juga sering sih social detox, males ketemu orang kalo udh keseringan berturut2 ketemu terus.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s