Random


Lagi-lagi, tulisan pelarian dari kewajiban menulis tesis, hehe.

Hari ini adalah Hari Kesaktian Pancasila, tanggal 1 Oktober. Gue kira hari ini udah nggak ada lagi tapi ternyata kabarnya masih ada. Sejujurnya, menurut gue Hari Kesaktian Pancasila tuh ‘Orde Baru banget’ karena hari ini tepat sehari setelah Gerakan 30 September (G30S). Maka itu, untuk memperingatI Hari Kesaktian Pancasila (nggak ding, sebenernya karena penasaran aja), akhirnya gue nonton film dokumenter berjudul ‘The Look of Silence’ pagi-pagi.

Film ini adalah film lanjutan dari film ‘The Act of Killing’ tahun 2012. Mungkin pada familiar dengan judul film ini, atau dalam bahasa Indonesia diubah namanya jadi ‘Jagal’. Seperti judulnya, film ini mengisahkan tentang para algojo pembunuh simpatisan dan massa PKI setelah G30S, mulai dari 1965 sampai 1966. Pengambilan gambar seluruhnya diambil di Sumatera Utara. Nah, film ‘The Look of Silence’ ini mengisahkan tentang adik salah satu korban pembantaian massal tahun 1965 itu, yang mencari kebenaran. Makanya dia bela-belain nyamar jadi tukang kacamata demi mewawancarai kakek-kakek yang dulunya adalah algojo, termasuk orang-orang yang dulu pernah jadi orang penting di Komando Aksi dan bahkan beberapa dari mereka sampe sekarang jadi orang penting di kabupaten mereka sendiri.

Nonton film ini bikin gue punya perasaan campur aduk. Gue sebel deh kalo punya perasaan kayak gini, karena nggak bisa gue ucapkan dengan kata-kata. Mungkin yang keluar hanya: kasihan, kesel, marah, ngerasa dunia nggak adil. Di satu sisi, mereka bilang bahwa pembantaian PKI adalah perjuangan rakyat yang disetujui oleh pemerintah, tapi di sisi lain, sampe sekarang gue pun nggak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Apakah para algojo anti-PKI itu yang benar, atau mereka hanya korban cuci otak pemerintah yang selalu bilang PKI itu jahat, nggak beragama, dan lain-lain? Udah berapa tahun kita hidup di jaman Reformasi, tapi gue masih ngerasa hal beginian masih abu-abu. Mungkin udah banyak konferensi atau diskusi tentang beginian di ranah akademia, tapi belom masuk bener-bener ke masyarakat.

Terus pas gue nonton film ini, gue jadi inget pendidikan sejarah waktu gue kecil. Beruntunglah gue yang lahir di awal tahun 1990-an, nggak sempet dapat indoktrinasi besar-besaran dari sekolah tentang PKI, soalnya Reformasi dimulai dari waktu gue kelas 1 SD. Begitu dapat pelajaran sejarah di sekolah dan nyinggung masalah G30S, guru sejarah gue (dari SD sampe SMA) cuma ngomong informasi umumnya aja, nggak sampe mendoktrin bahwa PKI itu jahat dll dsb. Tapi pas gue udah SMA, guru gue ngejelasin sih tentang berbagai teori dalang G30S, tapi cuma sebatas itu aja. Untung juga gue bukan termasuk generasi yang disuruh nonton film G30S tiap 30 September malem di TV. Pas udah gede, gue nonton, ternyata nggak cocok banget sama audiens anak-anak. Darah dimana-mana dan filmnya horor banget biar kata nggak ngomongin setan-setanan.

Tapi gue inget banget sih, pas gue kecil, keluarga gue takut banget ngomongin PKI. Gue inget dulu gue pernah nanya sama nenek kakek gue, G30S itu apaan sih? Terus nenek gue cerita sesuatu yang ternyata mirip sama yang di film yang gue tonton beberapa tahun kemudian. Dia juga cerita Lubang Buaya itu nyeremin, biarpun sekarang udah jadi museum, tapi gara-gara cerita nenek gue, gue jadi nggak mau pergi ke Lubang Buaya. Udah gitu waktu kecil gue dengan polosnya nanya, “Kok genjer dibilang makanan PKI sih?” dan suster gue langsung “Hus! Nggak boleh ngomong PKI ah!” Jaman dulu gue mana ngerti kenapa gue nggak boleh ngomong tiga huruf itu sembarangan. Terus, gue dengan polosnya bilang gue bilang genjer itu makanan PKI karena lagu Genjer Genjer yang familiar disebut sebagai lagu PKI. Ya, abis itu gue dimarahin.

(Dari kecil hidupnya udah vivere pericoloso alias ‘the year of living dangerously’).

Gue juga nggak bisa ngomong banyak sih tentang pro dan kontra G30S dan pembantaian PKI tahun 1965-1966 ini, soalnya gue bukan sejarawan Indonesia di bidang ini, dan sejarawan terikat oleh fakta valid, bukan opini orang-orang.

Ya udah, gue mau siap-siap kuliah dulu.

Iklan

4 tanggapan untuk “Random

  1. Guwe generasi yang dicekoki film G30S/PKI itu, mengerikan dan gak cocok sama sekali untuk anak kecil. Beberapa tahun kemudian guwe nonton film2nya Joshua. Yang guwe gak paham setelah nonton film the Look of Silence itu, kenapa orang-orang itu gak merasa berdosa setelah membunuh orang lain dengan cara yang kejam.

    Apapun ideologi politik, sosial dan ekonominya, manusia-manusia itu kan nyawanya berharga? Heran guwe, manusia kok bangga banget bisa membunuh manusia lain.

    Suka

    1. Menurutku sih karena “cuci otak”nya udah subversif banget ke arah agama. Kalo diperhatiin, orang2 yg mbunuh itu smp sekarang taat beribadah. Menurutku, masuk akal kalo mereka di brainwash dgn kata2 “PKI itu gak beragama” dll. Mungkin cara brainwashnya juga ekstrim, kita gak tau.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s