Timur, Barat, Superior, Inferior…… #%@#$#&@$


Tulisan ini terinspirasi dari posting status Facebook temannya teman gue.

Suatu hari, gue buka Facebook dan halaman depannya. Kemudian secara alamiah gue scroll kebawah untuk lihat kabar teman-teman gue. Tiba-tiba gue ngeliat aktivitas seorang teman yang kini lagi di sekolah di Amerika, dia nge-like status temannya yang panjang banget. Gue penasaran dong, kemudian gue baca sampe habis. Dan gue tertawa, kemudian gue meringis.

Intinya temannya si teman gue ini (sebut saja Bob) menuliskan tentang suka duka bergaul dengan teman internasional, terutama Anglo-Saxon dari Amerika Serikat atau orang Eropa. Dia bilang, dia belajar bahwa dalam bergaul dengan orang-orang ini, yang terjadi kemarin ya kemarin. Kemarin dia bisa aja main bareng, kenalan, seru-seruan sama orang Anglo-Saxon, tapi besokannya orang-orang Anglo-Saxon ini bisa aja nyuekin dan nggak nyapa, bahkan untuk ngomong selamat pagi pun enggak. Yang bikin menarik dan bikin gue tergelitik, orang ini bilang (as quoted) “Sebagai kaum inferior dari timur sangatlah senang dapat berteman “dekat” dengan mereka yang superior dari barat. Bahkan kita sering membawa budaya timur kita untuk membantu banyak hal kepada mereka. Namun faktanya mereka tidak beranggapan sama dengan kita”.

Gue SANGAT SANGAT SANGAT tergelitik untuk berkomentar di laman Facebook-nya Bob, namun apa daya gue kenal juga enggak sama dia, jadi gue hanya bisa tertawa dalam hati. Tapi memang pada dasarnya gue INTJ sejati yang selalu pengen membenarkan yang menurut gue salah, jadi gue hanya bisa nyerocos di blog gue ini.

Pertama-tama, mari kita telaah penggunaan beberapa kata berikut dalam status Bob:

  • Anglo-Saxon;
  • ‘kita; dan
  • frasa ‘kaum inferior dari timur’.

Yang pertama adalah penggunaan istilah Anglo-Saxon. Menurut laman situs kamus Merriam-Webster, istilah Anglo-Saxon artinya bisa jadi:

“a member of the Germanic peoples conquering England in the fifth century AD and forming the ruling class until the Norman conquest”; atau

“a person descended from the Anglo-Saxons”.

Menurut gue, si Bob aja udah salah pake istilah Anglo-Saxon, kenapa? Karena dia merujuk penggunaan kata Anglo-Saxon untuk orang-orang yang asalnya dari Amerika Serikat dan Eropa. Oke lah, mungkin orang-orang kulit putih Amerika Serikat memang masih punya darah Anglo-Saxon, apalagi mereka yang keturunan Inggris, Irlandia dan sekitarnya, tapi Eropa? Eropa itu kan luas. Orang Belanda bukan Anglo-Saxon. Orang Perancis juga bukan. Kalau mau main ras, sebaiknya Bob menggunakan kata ‘Kaukasian’ saja, itu kalau mau merujuk ke ras kulit putih tok lho, ya.

(Gue heran juga dia hanya merujuk ke orang-orang kulit putih dalam statusnya. Jadi orang kulit hitam perlakuannya gimana ke dia? Apakah teman-teman internasionalnya hanya orang-orang kulit putih saja? Kita kan tahu bahwa orang-orang Amerika dan Eropa nggak melulu kulit putih.)

Yang kedua adalah penggunaan kata ‘kita’ dalam status Bob. Dalam hal ini, gue merasa penggunaan kata ini sudah disalahgunakan. Kalau dia pakai kata ‘kita’, harusnya dia juga menuliskan pengalaman orang lain yang sesama berasal dari Indonesia dan mengalami perlakuan yang sama dari orang-orang tersebut. Biar lebih mantap, harusnya dia pakai kata ‘kami’ aja, bukan ‘kita’. Soalnya gue nggak merasa kayak begitu, tuh, jadi kenapa dia pakai kata ‘kita’? Kenapa nggak pakai langsung kata ‘saya’ aja sekalian, biar nggak ada oknum lain yang merasa diikutsertakan dalam curhatan dia itu?

Yang ketiga dan yang paling bikin gue meringis adalah penggunaan kata ‘inferior’ dan ‘dari Timur’. Gue agak cerewet dan agak sensitif masalah ini, karena gue belajar tentang ini di kampus. Seandainya Bob tahu, bahwa pengelompokan Timur dan Barat itu hanya buatan Barat saja. Nggak percaya? Coba telaah bukunya Edward Said yang fenomenal berjudul ‘Orientalism’. Bahkan disitu Said dengan tajamnya berpendapat bahwa penggunaan kata Orientalism, Occidentalism, West, dan East itu hanya buatan Barat (dalam pengertian: negara-negara penjajah) semata-mata untuk menegaskan bahwa orang Barat lebih superior ketimbang Timur (baca: negara-negara yang dijajah). Dalam buku ini, konteks yang dimaksud Barat adalah Eropa, dan Timur adalah negara-negara Timur Tengah. Mungkin agak susah dibayangkan, tapi mungkin gampangnya begini: Pernah nonton film jaman dulu dengan setting Timur Tengah terus ada orang-orang bulenya? Kemungkinan besar film itu mengetengahkan sikap superioritas Barat, sesuatu yang disanggah oleh Said. Nah, kembali ke masalah status Bob. Selaku orang yang tahu tentang teori Orientalisme dan sedikit teori-teori post-colonialism, menurut gue kalau Bob nulis bahwa dia adalah orang inferior dari Timur, itu tandanya dia mengaminkan kekuasaan Barat yang bilang bahwa orang-orang Timur itu inferior. Lha iya, dong? Kenapa dia mikir dirinya inferior? Menurut dia, yang dimaksud dengan ‘Timur’ itu siapa? Apakah ‘Timur’ itu adalah orang-orang Asia, atau orang-orang non kulit putih juga bisa dibilang orang Timur? Apa dasar teori dia bilang bahwa dia orang Timur yang inferior? Hal ini sangat membuat gue bertanya-tanya.

Harusnya lu membanggakan diri lu, kenapa lu malah minder di kalangan orang-orang yang, ehm, menurut lo, superior?

Kita semua sama, bung, mau ras apapun itu, sama-sama bernafas, sama-sama punya kesempatan bersekolah. Masih jaman ya menilai seseorang lebih tinggi dari kita hanya karena warna kulit atau asal negara?

Membaca tulisan status diatas dari orang Indonesia, lumayan bikin gue miris. Ya miris, karena masih aja ada orang Indonesia yang berpikiran bahwa dia itu lebih rendah daripada kawan-kawan dari negara lain.

Oke, cukup telaah kata-katanya. Gue bukan seorang ahli bahasa dan etimologi yang punya pengalaman kerja bertahun-tahun dalam menganalisa penggunaan kata dan kalimat. Pengalaman gue dalam mengolah kata hanya berlangsung selama tiga bulan di mata kuliah Analisis Diskursus di semester pertama sekolah master. Sekarang gue mau cerita tentang pengalaman gue dalam bergaul dengan teman-teman internasional.

Gue sama sekali nggak mengalami perlakuan seperti itu dari teman-teman internasional gue. Mereka baik banget, bahkan menurut gue kadang mereka lebih baik daripada orang-orang Indonesia. Cowok-cowok teman internasional gue rata-rata gentleman, apalagi masalah bayar-membayar. Untuk mereka, masalah uang itu tabu dibahas di depan umum. Kalo mereka mau ngebayarin teman ceweknya minum atau jajan, mereka nggak akan minta uangnya kembali. Cewek-cewek teman internasional gue juga baik-baik semua, kadang kami curhat bersama tentang masalah-masalah perempuan. Orang-orang ini tahu batasan kehidupan pribadi dan kehidupan publik, dan mereka nggak mau melanggar batas privasi kita, dan sepatutnya juga kita menghargai batas privasi mereka.

Kalau memang kasusnya gue ketemu teman internasional baru di sebuah pesta, kemudian keesokan harinya gue ketemu dia lagi tapi dia lupa sama gue, terus kenapa? Gue sadar kok muka gue nggak se-memorable seperti mukanya Beyonce. Nggak usah malu untuk memperkenalkan diri ulang dan bilang, “Kemarin kita ketemu di acara ini lho”. Ada 50:50 kans mereka lupa atau ingat, tapi yang penting niat gue sudah baik yaitu mau kenalan lagi. Toh mereka juga akan menyambut dengan baik. Bisa jadi mereka malu sendiri karena lupa sama gue tapi malah gue yang ingat.

Masalah inferior >< superior dan Barat vs Timur. Sorry to say tapi gue nggak merasa inferior sama sekali, dan gue nggak merasa gue orang Timur atau orang Barat, karena semua kata-kata itu adalah kata-kata yang digunakan orang Barat untuk memberikan kesan bahwa orang counterpart-nya itu lemah. Gue nggak ngerasa inferior karena gue percaya bahwa semua orang punya hasrat untuk berteman dan berkenalan dengan orang baru, dari mana pun rasnya, dari negara manapun asalnya, apapun agamanya, apapun aliansi politiknya. Lagipula, apakah batasan seseorang disebut dari Timur atau dari Barat? Kalau sejarah berkata lain, bisakah kita yang bukan berkulit putih bilang bahwa orang-orang berkulit putih itu inferior daripada kita? Kenapa juga si Bob ini bilang bahwa budaya Timur itu adalah “membantu” (kenapa sih gue keikutan pake kata Timur dan Barat)? Apakah ada jurnal yang sudah membahas bahwa sifat suka membantu itu adalah sifat ‘orang Timur’ (ngikut bahasanya Bob)? Dari pengalaman gue, justru teman-teman internasional gue kalo ngebantuin orang bisa tanpa tedeng aling-aling. Mereka bisa niat banget dan memang bantuan mereka itu ikhlas dan mereka nggak akan ngungkit lagi di lain waktu.

Intinya begini, deh. Yang namanya etika berteman itu memang berbeda-beda. Kita nggak bisa seenaknya bilang orang yang berbeda ras dengan kita atau berbeda negara dari kita itu superior atau langsung menjelekkan mereka. Itu namanya masih berpikiran sempit. Kalau begitu, nggak usah sekolah di negara orang aja sekalian. Tujuan sekolah di luar negeri itu kan juga untuk memperluas cara pandang kita. Kalau udah di luar negeri tapi masih mikir kayak gitu, apalagi masih minder dan bilang diri sendiri sebagai kaum inferior, mana bisa pulang kembali ke negara asal terus memimpin negara? Lha wong pas di luar negeri aja kepercayaan dirinya masih kurang gitu, lho.

Kalau kamu, bagaimana pengalaman kamu berteman dengan orang lain dari berbeda negara? Dan apakah inferioritas vs superioritas berlaku dalam pertemanan kamu?

P.S.: Yang menarik, pada akhir status, si Bob bilang “Jauhi 5 huruf ini: BAPER”. Bisa disimpulkan sendiri lah ya 🙂

Iklan

27 thoughts on “Timur, Barat, Superior, Inferior…… #%@#$#&@$

  1. Boro2 inferior, Tal, gue sering marahin temen bule gue kalo mereka lakuin kesalahan 😂 pernah jg negur bos gue yg datengnya telat ke kantor (krn sering) trus dia jadi ga telat lagi. Akhir bulan gaji gue ga dipotong. Mainnya fair 🙂 bos gue orang Perancis, btw

    Suka

      1. Mgkn krn karakter jg kali ya.. Temen2 gue bilang gue sih “karyawan kurang ajar” krn ngomong gitu ke ibu bos, tp ya gmn dong, pas ada reservasi penting masa’ telat?? Jgn dibiasain lahb

        Suka

      2. Hahahaha gue lebih mikirin service ke tamunya sih, malu2in lah kalo kita datang belakangan drpd tamu.
        Eh btw temen lu itu nge-like statusnya si Bob ga komen juga? Nge- like jgn2 berpikiran sama pula?

        Suka

  2. Masih ada yah orang yang berpikiran begitu hare giniii…apalagi sebagai mahasiswa yg bisa studi ke luar negeri. Duh! Gw dl pas kuliah di Eropa gak pernah ngalamin beginian, biasa aja ama temen2 internasional gw, mereka tulus banget klo bantuin gw dan baek2 aja. Mungkin si Bob kurang piknik kale tuh :))

    Suka

      1. Dulu kuliah dimana2 soalnya dpt beasiswa Erasmus Mundus hehe..jadi di Prancis, Romania ama internship di Swiss. Iya nih ah Bob mah kayaknya kurang gaul hahaha

        Suka

      1. Iya bener tal. Mb yoyen pnh nulis ttg itu deh. Temennya kegeeran kyknya. Hehe. Klo dikita semua yg kita kenal ato sekedar tau nama, pnh salaman uda dianggep temen aja. Klo mrk kan mmg bedain ga antara kenalan, kolega, teman, dll

        Suka

  3. Argh! Kesel banget baca yang kaya gini – bukan blog kamu maksudnya yang bikin kesel. Udah kita dipandang sebelah mata karena berasal dari Asia, kita ga perlu lagi menambah diri makin inferior dengan merasa kaya gitu.

    Aku masih suka sebel karena disini perempuan Asia itu dikira rata2 dari Thailand dan yang tidak berpendidikan oleh orang lokal disini. Sampe kapan bangsa kita masih merasa terjajah dan terhantui sama kolonialisme??? Sorry curcol jadinya

    Suka

  4. Tal, gue numpang ketawa aja hahaha. Btw gue jg gemes kalo ada orang liat temennya (orang indo) yang pacaran sm bule, terus dikomentarin “lucky you” hahahhaa. Kesannya orang indo inferior bgt gitu dan mengagung2kan si bule, padahal mah sama aja, sama2 orang -_-

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s