What I Feel in One Song: Breathe – Taylor Swift & Colbie Caillat


It’s two A.M., feeling like I’ve just lost a friend

Hope you know it ain’t easy, easy for me

Belakangan ini gue lagi kangen sama temen gue. Apa ya? Temen yang lumayan spesial, but not in that way, if you know what I mean. Temen ini cukup spesial untuk gue karena ngeliat dia ibarat ngeliat cermin. Walaupun kepribadian gue berbeda sama dia, tapi kami satu suara dalam berbagai pendapat dan opini, sehingga perbedaan kepribadian bukan jadi masalah berarti lagi.

Awalnya, seperti dua orang yang saling nggak kenal, gue juga cuma menganggap dia sebagai orang yang ganteng dari luar doang. Serius, anaknya ganteng lho. Makanya gue mau deketin juga nggak berani, karena biasanya cowok-cowok ganteng yang bisa diibaratkan mirip Adonis ini kalo nggak sok kegantengan, ya brengsek. Tapi karena suatu dan lain hal akhirnya gue berani ajak dia ngobrol dan sejak itu kami jadi sering ngobrol macem-macem, mulai dari yang serius sampe yang bercanda. Orangnya juga ternyata nggak ngerasa ganteng, buktinya gue sering ngegodain dia ganteng, dia malah ngga ngerasa ganteng sama sekali. -____-

Orangnya spontan, beda banget sama gue yang semuanya harus direncanakan. Orangnya free soul, beda banget sama gue yang separo-separo, pengennya spontan tapi ujung-ujungnya bikin rencana juga. Tentu aja ada kalanya dia bikin gue jengkel karena sifatnya yang terlalu santai ini, tapi sepertinya selalu ada alasan untuk maafin dia dan kembali berteman seperti biasa. Seperti katanya Sara Bareilles di lagu Gravity, “Something always brings me back to you, it never takes too long“.

Gue kangen dengan percakapan-percakapan aneh dan nggak nyambung yang sering bikin gue ketawa di saat lagi bosen atau saat suntuk ngerjain tugas.

Gue kangen lagi ngobrol sama dia via chat, terus tiba-tiba dia ngetik “Telponan yuk” dan kami end up ngobrol via telepon, ngobrolin tentang seharian ngapain, tentang temen-temen di kampus, tentang temen seapartemennya dia, tentang makanan, tentang orang-orang yang kita anggap lucu, dan lain-lain. Paling seneng kalo udah mulai ngomongin kelakuan mahasiswa Indonesia disini yang nyebelin (dalam berbagai taraf), ngomong begituan dari matahari terbenam sampe matahari terbit lagi juga bisa, deh! Mulut dia bahkan bisa lebih jahat daripada gue apalagi kalo soal nyindir kelakuan orang.

Gue kangen saat lagi suntuk dan pengen ngomongin orang, gue bisa dengan gampangnya bilang “Eh lo tau nggak si XYZ begini begitu lalala lilili” dan ujungnya dia ngetawain dia juga dan kita ketawa-ketawa nggak jelas.

Gue kangen saat dia ngegodain gue nggak jelas dengan inside joke kami yang terlalu garing. Mungkin kalo orang lain denger, nggak bakal ngerti maksud kami apa, seolah cuma kami yang mengerti inside joke itu karena itu bermula dari chat yang nggak jelas tiap hari.

Gue kangen saat dia tiba-tiba message gue di saat-saat yang nggak diperkirakan, cuma buat ngefotoin taman tempat dia lagi nongkrong atau kelakuan dia semalem sama temen-temennya di coffee shop.

Gue kangen ngirimin dia gambar lucu atau artikel menarik dan kemudian dia ngebales cuma dengan ketawa ngakak atau merespon gambar gue.

Gue kangen semuanya. Dia adalah salah satu orang dari lingkaran kecil gue yang bisa gue ceritain tentang apapun, masalah apapun, pemikiran gue tentang apapun, tanpa harus takut akan dicap jelek atau di-judge. Rasanya nyaman setelah cerita sama dia, walaupun otak dia adalah otak problem solving yang kadang suka menyebalkan di saat gue cuma pengen cerita tapi akhirnya dia malah pengen nyelesaiin masalah.

Karena kesibukan, semua berubah.

Karena kesibukan, udah nggak pernah ada lagi obrolan-obrolan random setiap hari.

Karena kesibukan, udah nggak ada lagi komentar-komentar nyampah tapi lucu tentang A sampe Z atau tentang orang-orang yang suka kami omongin.

Gue berharap ini cuma fase sederhana. Gue berharap semoga besok gue bisa kembali ajak dia ngobrol hal yang aneh tanpa harus diberhentikan sesuatu bernama proyek grup atau tugas sekolah. Semoga besok gue bisa kembali ngobrol sama dia tanpa harus merasa bersalah udah gangguin dia ngerjain tugas atau dia merasa bersalah gangguin gue dengan kesibukan gue.

Setiap hari gue berharap semoga dia kembali ngajak gue ngobrol hal-hal aneh yang berujung pada teleponan sambil masak dan sambil makan.

Karena kesibukan, gue sadar bahwa gue mulai kehilangan seorang teman.

Wolverine, I miss you. I miss talking to you. I miss the whole point of your existence. Once everything goes better, once you’re done saving the world… will you come back? I’ll be waiting, doing knick-knacks here and there, minding my own business too, but still… I’ll wait for everything gets better.

Yours truly,

Natasha Romanoff (hey, if you can be a superhero, why can’t I?)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s