Eksperimen Sosial: Berhenti Pakai Path


Tahun lalu, gue udah sempet melakukan eksperimen sosial abad ini #lebay: Ngapus Facebook. Akhir cerita, gue berhasil hidup tanpa Facebook selama tiga bulan. Rasanya damai, tentram, adem. Waktu pindah ke Leiden, gue kembali membuat akun Facebook baru dan di akun ini semua pertemanan gue lebih gue filter. Gue lebih mengoptimalkan fitur best friend, friend, family, acquaintance, follow, dan unfollow.

Beda tahun, musuh beda lagi. Kali ini musuh gue ganti yaitu Path. Maka itu, gue memutuskan untuk menghapus aplikasi Path dari ponsel gue.

Untuk yang baru keluar dari goa, Path adalah aplikasi media sosial di ponsel pintar yang mengklaim dirinya sebagai aplikasi sosial media yang lebih privat. Kenapa? Pembuatan awal Path adalah berdasarkan jurnal akademik yang mengatakan bahwa dalam hidup, satu orang hanya bisa me-maintain pertemanan dengan 150 orang saja. Maka itu, pada awalnya Path hanya didesain dengan jumlah teman maksimal sebesar 150, walaupun mulai tahun lalu jumlah itu ditambah jadi 500 teman (mungkin tuntutan konsumen). Lewat Path, kita bisa masukin apa saja mulai dari foto, video, status, lokasi, sedang nonton apa/baca buku apa/denger lagu apa, bahkan bisa masukin jam tidur dan jam bangun pagi kita. Selain itu, interaksi antar pengguna di Path juga lebih beragam karena tombol reaksinya bukan cuma jempol saja, orang lain bisa bereaksi dengan gambar sedih, senang, gambar hati, gambar kaget, dan gambar senyum.

Kenapa sekarang Path adalah musuh gue sehingga gue memutuskan untuk berhenti memakai Path (belum tahu ini untuk sementara atau untuk jangka waktu yang cukup lama)?

Path itu adiktif

Seperti media sosial lainnya, Path tergolong adiktif. Berhubung reaksi yang ditimbulkan untuk sebuah status bisa cukup beragam, nggak bohong kalo gue jadi lebih sering ngecek Path setelah gue masukin update. Rasanya ada kepuasan sendiri kalo ada yang nge-love, ngasih gambar senyum, atau ngasih gambar ketawa. Kemudian lama-lama gue merasa ini kok nggak normal ya. Sejak kapan kebahagiaan gue ditentukan hanya dengan jumlah emoticon yang masuk ke status gue? Wah, nggak bener nih.

Karena pengguna Path lebih sedikit, gue jadi liat orang yang itu-itu aja

Dalam jumlah teman, bisa dibilang gue tergolong pengguna Path yang biasa-biasa aja. Jumlah teman di Path gue cuma ada 60-an orang dengan 50 orang yang aktif, jauh banget dari 150 orang atau bahkan 500 orang. Tapi dengan 50 orang gitu aja gue ngerasa bosen, apalagi kalo temen gue segambreng? Mungkin gue bisa jauh lebih sering buka Path karena pengen tau kabar temen-temen gue.

Banyaknya orang di Path yang oversharing

Kasus ini juga dialami di Facebook. Belakangan ini, ada temen gue di Path yang terlalu suka share kehidupan pribadinya. Pacar barunya dipamerin, termasuk foto-foto liburan, plus dia suka bikin video liburan ala video narasi pula. Rasanya capek begitu buka Path terus langsung isinya update dari dia semua. Beberapa bulan lalu, ada temen gue (sesama orang Indonesia yang sekolah di Belanda) lagi Euro Trip 1 bulan, terus setiap hari pasti dia masukin foto-foto liburannya secara kontinyu (gue rasa dia langsung masukin foto liburan asal dapet wifi). Tujuan kayak gitu tuh buat apa sih? Pengen diliat lagi liburan? Pengen dapet banyak reaksi dari temen-temen? Pengen dapet banyak “Ihhhh envy dehhhh” dari temen-temen? Yang ada gue ngeliatnya malah bosen, lu lagi lu lagi.

Tiga alasan utama itu adalah alasan kenapa gue menganggap tahun ini ‘musuh’ gue adalah Path dan gue harus mengurangi pemakaiannya. Satu-satunya cara ya dengan menghapus aplikasi itu dari ponsel gue. Selain mengurangi pemakaian Path, tahun ini gue juga mengurangi pemakaian Instagram dan Twitter dengan cara menghapus mereka dari ponsel gue juga. Tidak lupa Facebook, media sosial yang sudah dua tahun ini suka gue nonaktifkan untuk sementara waktu.

Jadi, see you in real life!

Iklan

10 tanggapan untuk “Eksperimen Sosial: Berhenti Pakai Path

  1. Aku termasuk yang baru keluar dari goa Crys, baru tahu path seperti apa ya baca tulisanmu ini. Ga punya path, ga mencari tahu path seperti apa sebelumnya.
    Real life lebih menyenangkan, meskipun sikut2annya juga lebih gahar haha. Yuk ah kita ke hutan aja. Lihat warna warni hutan lebih menyenangkan.

    Suka

  2. Aku Path udah 3 tahun ini yah 2 bulan install…. 2 bulan uninstall. Makan memori banyak dan ngabisin batre sih, hahaha. Klo ttg overshare, klo ada temen yg gengges mah tinggal keluarin aja dr list inner circle πŸ˜†

    Suka

  3. punya path cuma log out saja. ga pernah buka lagi. terlalu banyak informasi yg tidak perlu. tidak didelete krn malas prosesnya (alasan tak bermutu) atau kali2 suatu saat butuh untuk menangkap penjahat (alasan semakin tidak bermutu)

    Suka

  4. Wah, sama donk gue juga baru bikin tulisan yang sama perihal path. Gegara ada temen yang saban menit atau jam sharing hal nggak penting! Situ mending over shared liburan, gambarnya enak dilihat.. Ini ampe naek bus aja dishared! Kangen suami dishare plus ditag, nape kaga langsung telpon aje? Langsung gue remove itu emak-emak ababil baru jadi..

    Udeh getuh si emak-emak ababil ini ngeshared qoute “social media itu memang diciptakan untuk pamer, yang membedakan cuma kadar noraknya”…lah bisa qoute kek getuh tapi nggak sadar sendirinya norak gegara pamer hal ngak penting dan nggak worth it buat dipamerin!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s