Jatuh Cinta dengan Asia Tenggara


Menjelang lulus kuliah S1, gue kebingungan, kalau orang mau panggil gue apa? Sejarawan? Kok sepertinya ilmu gue masih cetek. Kalau memang gue sejarawan, gue sejarawan di bidang apa? Banyak teman kuliah yang meyakinkan bahwa gue adalah sejarawan spesialis kawasan Cina dan sekitarnya, dan gue akhirnya mengamini itu. Gue mulai mengambil lebih banyak mata kuliah eksternal dari jurusan Sastra Cina, kenalan sama banyak dosen-dosen bidang sejarah dari jurusan tersebut, bahkan skripsi gue juga ikut-ikutan ngomongin Cina segala. Bukan Cina daratan sih, melainkan komunitas Cina di negara lain, dalam hal ini di Amerika Serikat. Gue merasa bahwa studi migrasi dan diaspora sangat menarik, karena dari situ kita bisa melihat percampuran budaya dan adat istiadat, serta faktor-faktor kenapa orang-orang ini mau rela meninggalkan kehidupan di negara asal untuk bersusah-susah cari untung di negara baru. (Story of my life banget nggak sih).

Tapi begitu gue kuliah S2, gue jadi pikir-pikir lagi kalau mau mendalami sejarah Cina. Masalahnya, gue baru tau kalo sejarah Cina itu luas banget, mungkin lebih luas daripada negaranya. Untuk memahami sejarah Cina, seseorang perlu bisa berbahasa Cina. Poin nomer satu itu aja udah bikin gue nggak lolos. Sebagai orang yang sejak dulu sulit belajar bahasa yang nggak pake huruf Romawi, rasanya agak terlambat kalo gue mau belajar bahasa CIna sekarang. Kedua, untuk memahami sejarah Cina, seseorang juga harus ngerti kesusasteraan, kebudayaan, dan kesenian Cina secara mendalam dari sudut pandang negara tersebut. Lah, gue ngerti bahasanya juga enggak, menurut ngana aja gue ngerti tetek bengek kebudayaan mereka dari sudut pandang orang dalam? Gue pernah ngambil mata kuliah Chinese Art History di semester pertama kuliah Master dan itu adalah salah satu momen-momen paling fail dalam hidup gue karena gue nggak ngerti banget sama pelajarannya. Baca bahan sebelum kelas sih udah, tapi nggak ngerti, eeeh begitu masuk kelas malah tambah nggak ngerti lagi.

Untung tugas akhir gue dapet nilai cukup bagus. Mungkin karena dosennya kasihan ngeliat gue terseok-seok ngikutin kuliahnya selama satu semester penuh.

Kemudian di semester dua gue menghadapi masalah baru yaitu tesis. Akhirnya gue memutuskan untuk menulis tentang pendidikan orang Cina di Asia Tenggara, khususnya di kota Padang. Tapi gue nggak mau ngomongin hal itu kali ini, gue mau ngomongin tentang bagaimana gue jatuh cinta dengan sebuah subyek yang tadinya amit-amit mau gue dalami lebih jauh.

Waktu gue S1 dulu, jurusan gue dibagi tiga minor: Studi Amerika, Studi Australia, dan Studi Asia Tenggara. Gue selaku anak hipster milihnya studi Amerika dong, kapan lagi bisa belajar sejarah negara adidaya? Dari tiga minor tersebut, yang paling gue jauhi adalah studi Asia Tenggara, karena dosennya killer semua dan mata kuliahnya nggak ada yang menarik untuk gue. Pernah sih, ambil satu mata kuliah Asia Tenggara, namanya Sejarah Hubungan Masyarakat Asia Tenggara. Cukup menarik mata kuliahnya, sayangnya yang lain nggak semenarik itu.

Nah, fast forward ke masa sekarang yaitu masa kuliah S2, gue ngambil mata kuliah tambahan dengan judul Histories of Southeast Asia. Awalnya sih gue ngambil mata kuliah itu karena lumayan nyambung dengan topik tesis gue, apalagi karena gue nggak tau apa-apa soal Asia Tenggara (yang adalah kawasan asal negara gue sendiri, pffft).

Ternyata kok lama-lama setelah ikut mata kuliahnya, Asia Tenggara sepertinya kawasan yang cukup menarik ya… Ada beberapa alasan kenapa gue bilang Asia Tenggara cukup menarik, ya… Gue jadi jatuh cinta dengan kajian Asia Tenggara karena ternyata kawasan ini termasuk kawasan muda yang sangat berpotensi. Selain karena letak geografis, tapi ternyata ada banyak sekali kajian yang bisa diukur dengan Asia Tenggara sebagai contoh. Misalnya, gue pernah baca sebuah paper tentang degradasi reformasi di beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Singapura dan Thailand kalo nggak salah. Ternyata negara-negara ini punya pola-pola yang mirip, dan lagi-lagi studi ini membuktikan bahwa Indonesia masih memegang rekor sebagai negara paling demokratis se-Asia Tenggara. Masih banyak lagi model studi sosial yang bisa masukin negara-negara Asia Tenggara sebagai contoh kasusnya, pokoknya menarik deh.

Gue sendiri nggak pernah nyangka bahwa gue akan sangat suka belajar kajian Asia Tenggara ini. Mungkin karena sejarah yang cukup relatable dan kemampuan gue berbahasa salah satu bahasa terbesar di Asia Tenggara juga menjadi faktor kenapa gue menganggap kajian ini menarik dan berpotensi untuk kedepannya. Bukannya bilang bahwa kajian Asia Tenggara akan jadi lebih populer dibandingkan kajian Asia atau kajian Cina, tapi melihat bahwa negara-negara Asia Tenggara ini tergolong negara-negara yang masih ‘menggeliat’, sepertinya bukan nggak mungkin kajian ini akan jadi primadona untuk jadi subyek penelitian para cendekiawan di bidang sosial politik dan budaya. Di bidang sejarah, Asia Tenggara bisa jadi contoh paling oke untuk bikin penelitian disiplin ilmu kajian post-koloni. Daerah ini sempat disinggahi berbagai negara Eropa, dari yang awalnya minat dagang doang (Belanda), atau yang dari awal memang mau menjajah (Prancis). Jangan heran kalau di bidang humaniora terutama disiplin studi post-kolonial, negara-negara Asia Tenggara nggak kalah seru diomongin dibandingkan India dengan Inggris sebagai penjajah utamanya. Mau ngomongin yang lebih kontemporer juga bisa, udah banyak banget paper dan tulisan ilmiah tentang perkembangan ekonomi dan sosial dari negara-negara Asia Tenggara yang disorot dari sudut pandang positif sampe negatif. Macem-macem lah pokoknya.

Jadi, mau coba belajar kajian Asia Tenggara?

Iklan

17 thoughts on “Jatuh Cinta dengan Asia Tenggara

  1. Cukup satu orang sejarawan di rumah Crys 😅 biar kami berjalan dijalan masing2. Tapi aku sedang tertarik baca dan menelusuri tentang jalur rempah dan segala sejarah rempah di Indonesia.

    Suka

  2. Love what you’re studying!
    Crys lo ada literature tentang culinary history di Indonesia ga? Or south east asia?
    Kalo ada gue mau dong.. Udah nyoba research online nemunya artikel2 yang generik aja..

    Suka

  3. Mau banget! Saya tertarik banget dengan kajian sejarah jadi Asia Tenggara juga akan jadi satu topik yang sangat menarik :hehe. Banyak hal yang masih jadi misteri jadi mari menelaah halaman belakang rumah dulu, nanti kalau sudah puas baru menelisik sejarah kawasan lain :haha.

    Suka

  4. Request dong Crys tulis tentang Filipina. Kenapa negara ini orientasinya Amerika banget dan dimataku identitasnya sebagai bagian wilayah ASEAN ngga begitu Melayu ya. Sorry kalo ini pengamatan onzin, pingin diluruskan tapi belum sempet cari bacaan tentang Filipina. Sukses ya untuk tesisnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s