Marseille: No More!


Sebenernya gue jalan-jalan ke Marseille udah lama banget, sekitar dua bulan yang lalu, sebelum kuliah dimulai. Tapi pas lagi ubek-ubek blog, eh ternyata belum cerita tentang Marseille ya… Ya udah deh, sekarang aja ceritanya. Maaf terlalu lama dipendam. Macam perasaan aja… #LHO?

Jujur aja, kepergian gue ke Perancis Selatan kemarin adalah usaha kedua kalinya untuk menyukai Prancis secara keseluruhan. Kenapa? Soalnya udah dua kali gue pergi ke Prancis (ke Paris doang, sih) tapi gue nggak pernah suka sama Prancis. Selalu aja ada alasan tentang ketidaknyamanan gue di negara tersebut, mulai dari kotor, nggak ngerti bahasanya, sampai banyaknya imigran dengan beribu jenis scam yang kalo nggak dipelajari baik-baik bakal bikin liburan kita jadi bencana. Tapi entah kenapa gue memaksa diri untuk menyukai Prancis, makanya gue beli tiket liburan musim panas ke Marseille di bulan September lalu. Rutenya: Eindhoven-Marseille-Eindhoven. Selama di Prancis dan di Marseille, gue melakukan dua kali day trip ke pulau Porquerolles dan ke Aix-En-Provence (nanti kalo sempet ditulis juga ya tentang dua kota ini di tulisan berbeda). Hipotesa gue, “Paris kan nggak mewakili Prancis secara keseluruhan. Masa iya sih, Prancis segitu jeleknya?”

Selama lima hari gue di Prancis Selatan (di Marseille, lebih tepatnya), gue harus mengakui bahwa perjalanan gue kali itu sama sekali nggak bikin gue jatuh cinta sama Prancis. Biar gampang, gue tulis alasan-alasannya lewat poin-poin di bawah ini:

  • Marseille kotor

Yang ini tentu jadi alasan nomor satu. Tinggal di Belanda, gue udah kebiasaan hidup bersih. Setiap 500 meter pasti ada tempat sampah. Selain itu, adanya kesadaran warga yang tinggi tentang kebersihan dan kesehatan, cukup bikin negara mini ini terlihat asri di mata gue yang datang dari kota penuh polusi di Asia Tenggara. Tapi begitu gue sampai di Marseille, gue lagi-lagi disuguhi pemandangan sampah dimana-mana, belum lagi bau pipis yang menyengat dari gang-gang kecil kota, yang seharusnya jadi pemandangan yang indah. Puntung rokok dibuang di pot-pot tanaman di sekitar kota. Gimana nggak mau ilfil?

  • Marseille (cenderung) nggak aman

Di Belanda, gue kebiasaan jalan sampe malem. Baru pulang dari Den Haag jam 12 malem? Nggak masalah, selalu ada kereta ke Leiden setiap setengah jam sekali. Dugem di Amsterdam sampe subuh? Nggak masalah, toh kereta selalu ada, belum lagi stasiun Amsterdam Centraal nggak akan pernah sepi. Hal ini nggak gue alami di Marseille. Di hari pertama, matahari sudah mulai tenggelam jam 8 malam. Gue yang kebiasaan jalan malam di Belanda, memutuskan untuk nggak mau pulang kecepetan. Eh malah disamperin sama imigran nggak jelas yang ajak ngobrol… kan gue serem ya. Udah gitu banyak orang nggak jelas yang catcalling perempuan. Akhirnya gue buru-buru ngacir ke hostel. Di hostel, pemilik hostel gue ngomong, kalo udah malem lebih baik pulang aja karena Marseille memang kota terbesar ketiga di Prancis, tapi disaat yang sama dia juga kota nomor satu paling berpotensi banyak kriminal se-Prancis. Hiiiy!

  • Marseille mahal

Uff, kalo masalah ini nggak usah diomongin lagi. Gue baru ngalamin dompet cekak selama jalan-jalan, ya pas di Marseille itu. Bayangin aja, segelas cappuccino yang biasanya di Belanda harganya cuma 2 sampai 2.5 euro, di Marseille bisa sampe 3.5 euro. Gila lho! Walaupun sekarang di Marseille lagi ngetren kafe-kafe hipster, tapi ya harga kopinya jangan mahal kayak gitu, lah… Untuk menyimpan uang sebaik-baiknya, perlu banget sering-sering beli makanan di supermarket. Di Prancis ternyata banyak supermarket yang ngejual makanan tinggal dipanasin di microwave.

Daripada ngomongin yang jelek-jeleknya aja, gue tulis juga deh apa aja yang menurut gue menarik di Marseille…

  • Port-Vieux yang menawan

Port-Vieux adalah pelabuhan kota Marseille yang merupakan pusat kota juga. Cantik deh tempatnya. Puluhan kapal bersandar di pelabuhan ini, kebanyakan sih kapal kecil dan yacht milik warga. Dari Port-Vieux kita bisa naik ke gereja di atas bukit, gue lupa namanya. Dari gereja itu kita bisa ngelihat kota Marseille dari atas. Kalo udah malem dan masih di Port-Vieux, dijamin nyesel kalo pergi ke Marseille nggak sama pacar, gebetan, atau suami. Abisnya romantis! Gue aja gigit jari karena pergi ke Marseille sendirian, soalnya Port-Vieux-nya bikin baper level provinsi Zuid-Holland…

Port Vieux, no filter.
Sudut kota Marseille. Diambil di Port-Vieux.
Sudut kota Marseille. Diambil di Port-Vieux.
  • Tren ngopi Marsellais yang lumayan oke

Tinggal di Belanda yang nggak bisa hidup tanpa ngopi, tentu gue kelimpungan nyari tempat ngopi enak di kota ini begitu otak gue udah minta asupan kafein. Akhirnya setelah google, gue nemuin satu kafe yang lumayan bagus, namanya Coogee. Begitu masuk kafe ini, nuansa kayunya berasa banget. Disini gue pesen kopi mahal 3.5 euro dan muffin yang harganya 1.2 euro-an. Suasananya enak banget buat ngopi-ngopi sama temen atau ngopi sambil belajar dan baca buku.

Sudut kafe Coogee yang lucu.
Sudut kafe Coogee yang lucu.
Kopi 3.5 euro dan buku bacaan yang menemani perjalanan di Prancis Selatan
Kopi 3.5 euro dan buku bacaan yang menemani perjalanan di Prancis Selatan

Kalau ditanya apakah gue mau lagi ke Marseille? Kayaknya nggak deh… Menurut gue harganya terlalu mahal, dan kotanya nggak begitu cantik. Biarlah ini jadi perjalanan sekali seumur hidup yang patut dikenang.

Iklan

15 tanggapan untuk “Marseille: No More!

  1. Ha…ha.. I don’t blame you. Marseille memang apa yang kamu tulis diatas; kotor, sumpek dan ngga begitu aman. Tapi ya Crys, sebagai Francophil aku masih mau meyakinkan kamu bahwa banyak tempat/kota cantik di Perancis kok.

    Suka

      1. Porkrol. Aix en Provence kotanya Van Gogh, aku suka. Hmmm, kamu kalo ada waktu ke daerah Alsace deh Chris, Perancis Timur Laut, deket perbatasan Jerman, Swiss. Alamnya banyak pegunungan. Bagus!

        Suka

      2. Ya ampun tulisannya segitu susah tapi ngomongnya segitu gampang. Lagi2 dibegoin bahasa Prancis. Kotanya van Gogh bukannya Arles ya mbak? Tdnya mau ke Arles tp ngga jadi krn jauh dan tiket keretanya mahal jd ke Aix aja. Nah iya tuh aku kepingin ke Strasbourg dan Colmar yang desanya mirip2 desa Jerman terus banyak pegunungan juga. Kayaknya terlalu dini untuk bilang ngga suka Prancis karena entah kenapa masih yakin Prancis tuh bagus.

        Suka

      3. Van Gogh tinggal di Arles tapi sering ke Aix en Provence karena sahabatnya dia, Paul Cezanne tinggal disitu. Ada seri lukisannya Van Gogh di Aix en Provence. Ada Van Gogh trail route tour di situ loh Crys. Seru.

        Hmm, untuk kamu Perancis daerah Basque di Biarritz dan Bayonne (Perancis tenggara) kayanya bagus juga deh. Ha..ha..jadi promosi Perancis deh.

        Suka

  2. Halo Crystal! Nemu blog ini karena lagi googling resep masak buat anak rantau. Hahhaa.
    Eh begitu liat konten yg lain ternyata lg kuliah di eropa juga. Tadinya anak fib ya? Haha.

    Gue kebetulan lagi kuliah di Prancis. Di Alsace tepatnya, yuk ke sini, pas natal bagus banget xDD

    Salam kenal.

    Suka

    1. Hai Cuni! Wah terimakasih sudah mampir ya. Cuni kuliah di Alsace? Di mana, Strasbourg? Maaf ya baru balas, kadang wp suka ga responsif nih bagian komentarnya.

      Iya, kepikiran pengen banget ke Alsace apalagi Strasbourg dan Colmar. Sebagus itukah, Cuni?

      Suka

      1. Haha gpp crystal. Gue kuliahnya di Mulhouse. Haha. Iya bagus sih menurut gue, apalagi christmas marketnya, coba aja googling gambar2nya hahahah 🙂

        Suka

      2. Hahahaha emang ga terkenal sih kotanya. Jurusan komunikasi digital. Bacanya mulus, u yang pertama musti agak dimonyongin bibirnya hahahha 😀 😀

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s