Orang Jakarta Beneran Berani?


Sebelumnya, gue mau mengucapkan turut berdukacita untuk korban serangan yang diduga sebagai serangan teroris di Jakarta, 14/1/2016. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Beberapa jam setelah serangan tersebut, mulai muncul tagar #KamiTidakTakut atau #WeAreNotAfraid di media sosial. Mulai muncul juga berbagai screenshot postingan orang di media sosial atau berita berantai tentang keberanian warga Jakarta yang ditunjukkan lewat foto tukang sate yang kabarnya jualan dalam radius 100 m dari TKP yang cuek aja jualan walaupun situasi sedang mencekam. Bahkan seorang fotografer terkenal Indonesia nge-retweet foto seorang pedagang asongan yang tetep berjualan di tengah keributan massa. Banyak juga foto-foto di internet yang isinya adalah kerumunan orang di TKP, dan semua itu ditulis sebagai betapa beraninya warga Jakarta melawan teroris. Seketika orang Jakarta diagung-agungkan sebagai orang-orang pemberani.

Tapi seperti biasa… gue lama-lama terusik dengan segala tagar #KamiTidakTakut dan kecenderungan bahwa orang Indonesia menganggap orang Jakarta di peristiwa kemarin adalah orang-orang berani. Kenapa?

Pertama, dimana-mana kalau ada serangan teroris atau kejahatan dengan target massal, hal pertama yang seharusnya dilakukan setiap individu adalah CARI TEMPAT AMAN. Kosongkan TKP, biarkan pak polisi yang ngurusin serangan. Bukannya malah lari berhamburan ke arah TKP! Gimana sih? Bayangin kalo seandainya serangan kemarin jauh lebih besar, kemudian orang-orang itu daripada berlindung di tempat aman malah berhamburan di TKP. Pasti pada mati konyol semua. Hanya karena semangat “tidak takut”. Ada pilihan untuk menyelamatkan nyawa, malah lari ke sumber kejahatan. Gue juga penasaran kenapa mereka memilih untuk lari ke TKP. Kemungkinan besar mereka mau foto-foto kejadian, kemudian masukin ke media sosial, atau jangan-jangan pada selfie di tengah kejadian. Semuanya demi eksis. Jaman sekarang ternyata yang namanya eksis jauh lebih penting daripada menyelamatkan nyawa sendiri.

Kedua, soal para pedagang yang dengan cueknya masih berdagang di TKP. Men… ini nih efeknya kapitalisme. Yang namanya cari duit masih tetep dianggap lebih penting dari nyawa sendiri. Gue heran sama yang memuji orang-orang yang jualan di TKP tersebut dengan kata-kata “orang Jakarta itu berani, nggak takut sama teroris, tetep aja jualan”. Sama aja kayak yang di atas kalo ini mah. Bedanya mereka lebih mementingkan untung daripada nyawa. Mungkin yang ada di pikiran mereka: “Ada bom = orang-orang pada foto-foto di TKP = kesempatan bagus buat tetep jualan = pasti untung besar”. Kasihan. Masih untungnya mereka nggak apa-apa. Jangan sampe mati konyol cuma karena mau tambah laba.

Menurut gue, menelurkan tagar #KamiTidakTakut itu bagus. Menunjukkan bahwa orang Indonesia nggak takut sama aksi terorisme dan fanatisme agama, juga menunjukkan bahwa nggak ada ruang untuk terorisme tumbuh di Indonesia. Tapi sayangnya dengan kejadian di atas, tagar ini lebih digunakan untuk menjustifikasi dan memuji perbuatan-perbuatan bodoh yang seharusnya bisa dihindari kalau-kalau masih mementingkan akal sehat. Kebanyakan orang di kerumunan tersebut bukanlah fotografer berita atau jurnalis yang memang sepantasnya berada disana, tapi hanya rakyat biasa yang sebenernya juga nggak penting-penting amat untuk berada di kerumunan. Eh ini bukannya sayang nyawa, malah memilih untuk berkerumun dan berjualan di TKP. Pada nggak kepikiran keluarga dan teman ya, sehingga memilih untuk jadi penonton dan berkerumun di tempat bahaya daripada cari tempat aman untuk berlindung? Percuma berkoar-koar ‘orang Jakarta pemberani’, ‘kami tidak takut’, kalo ternyata definisi ‘berani’ dan ‘tidak takut’ yang dimaksud adalah ‘berani berbuat bodoh’ dan ‘tidak takut mati konyol’.

Jadi, dalam kejadian kemarin, apakah orang Jakarta beneran pemberani? Berani mati konyol, iya. Berani untuk menyelamatkan diri sendiri dan merelakan untuk tidak eksis dan merelakan untuk tidak untung, belum sampai situ levelnya.

Iklan

29 tanggapan untuk “Orang Jakarta Beneran Berani?

  1. Sepertinya banyak yang membebek Crys termasuk aku sendiri. Sempet mikir juga sih semalem, pake tagar #kamitidaktakut itu cara orang support. Aku ngga takut karena memang tinggal di Jakarta, cuma tetep prihatin pastinya.

    Kalo boleh tambah yang aku ngga ngerti kenapa juga banyak yang membandingkan kelakuan orang Jakarta yang berani ini dengan orang Paris setelah kejadian 13 November tahun lalu disana? Kenapa musti dibanding-bandingkan? Orang copingnya beda kan.

    Disukai oleh 1 orang

      1. Iya, orang Paris kan tahun lalu juga shock berat karena Charlie Hebdo. Skala penyerangan November juga besar. Efeknya besar karena menurut orang Paris & Perancis pada umumnya serangan November lalu itu menyentuh dasar mereka, gaya hidup seperti makan di resto & nonton konser. Sementara serangan di Indonesia targetnya entah itu hotel atau cafe/resto yang pengunjungnya bule atau ada kaitannya dengan barat (baca USA). Ah maap Crys, panjang amat komennya 😉

        Suka

  2. Kemarin waktu kejadian saya ada di kantor dan kami tidak ada yang begitu bodoh untuk keluar dan selfie di TKP, syukurlah :hehe. Setuju, berani itu tidak berarti bodoh. Menurut saya tidak takut lebih ke tidak paranoid–dengan kata lain jika suatu kejadian teror terjadi, jika tempat itu sudah dinyatakan aman maka kita kembali beraktivitas seperti biasa, tidak ketakutan terus ogah kembali ke daerah sana. Cuma kalau belum aman ya jangan dekat-dekat…

    Suka

  3. Aku menyebutnya kepo mengalahkan logika. Penasaran ambil foto, terus nanti melaporkan ke orang2, I was there, sambil bangga. Di Kompas kemaren malah bahas ada yang teriak2 awas peluru nyasar.
    Eh itu foto juga banyak yang gak proper, tubuh bergeletakan, gak mikir keluarga korban. Dan Polisi malah gak menyebarkan foto.

    Terus berasa kekuatan masa lebih gede kali ya? Padahal bener banget, kalau ada bom selanjutnya, jumlah korbannya bakal banyak bener.

    Btw, satu hal yang yang patut diapresiasi, Polisi cepet banget blokir jalannya jadi jalanan langsung steril korban jadi gak banyak.

    Suka

    1. Nih mbak, di grup anak-anak jurusanku jaman S1 dulu, baru berapa jam udah ada yang bikin joke nggak jelas. Langsung aja aku bilang “mulai deh bikin joke yang garing…” dan yang bikin joke bilang “pemerintah udah banyak dagelannya, masa rakyatnya serius melulu?” dan aku jawab “ya tapi masa lo ga tau sih itu inappropriate.”

      Besokannya, ada temenku di grup tsb buka mulut, kalo dia kemaren ada di tempat kejadian. Kantornya deket banget dari lokasi pengeboman dan dia minta maaf karena minta tolong temen2nya jangan ngebecandain peristiwa tersebut.. Aku heran kenapa harus dia yg minta maaf? Terus yang lain malah jadi ga enak dan minta maaf sama dia karena udah bikin joke2 ga jelas.

      Dalam hati, “Baru rasa kan lo, ga tau kan lo kalo ada temen lo yang shock di TKP. Giliran dia buka mulut baru lo pada minta maaf.”

      Disukai oleh 2 orang

  4. Aku gak pake tagar2an krn aku emg takut. Boro2 berdiri selemparan tali kolor dr TKP… Di apartemen aja, aku gak berani intip2 dr jendela. Tirai aku tutup. Inget2 klo di serial luar, lg chaos gini kan pasti ada warning: stay away from the window…. Close your curtain. Ih serem. (efek tinggal di belakang Kedubes Aussie yg dl pernah di bom)

    Suka

  5. kurang hiburan, jadi ada hal yang seperti itu malah jadi kerumunan.. bikin penasaran, masalah hestek2 an, ambil positifnya aja, untuk memberi pesan bahwa jakarta cepat pulih dan semoga aman selalu, tapi agak lebih dikit sie emang

    Suka

  6. Post lo nunjukin banget kalo masih banyak orang Jakarta/Indonesia yang kurang terpelajar, unfortunately.. Yang pedagang2 itu, gue sih mikir bukan karena mereka ga takut sama teroris, tapi mereka cuma ga tau seberapa besar bahayanya situasi saat itu. Agak-agak juga kalo keberanian disamakan dengan ‘masa bodoh’

    Gue juga males ngeliat hashtag2 yang ga penting.. Karena sebenernya banyakan cuma di mulut ato sebatas sampai di ketikan aja.. Orang2 pengen ikutan trending.

    Sayangnya media di Indonesia ga banyak lagi di pake untuk menyebarkan info2 ato dijadiin jalur edukasi.. Banyaknya gosip & sinetron aja 😦

    Suka

  7. Speechless benernya sih.. Geram lihat kelakuan mereka.. Rasanya sih kalo dibombardir pake senapan di perempatan itu baru deh pada sadarr.. Heran banget, sampe di TV hari ini ada banget lho, org2 berdatangan dr luar kota hanya pengen lihat tempat yang di bom.. Sungguh Aneh..

    Disukai oleh 1 orang

  8. Nggak betul2 berani pada senam jantung sebetulnya, tapi kepo ngalahin adrenalin. Btw yang nyebarin foto2 gaje ttg korban bergelimpangan bukan cuma org indonesia kok…media asing juga ada yang main upload malah yg pakaiannya udah kemana-mana….pdhl seharusnya ga etis…..kalau menurut saya ini sdh masuk kebobolan yg parah (itu daerah dekat istana negara lho)…tapi itu bisa diatasi karena :

    1. di era presiden sekarang tim yang menangani opini massa serta media (termasuk media sosialnya) memang kuat dan itu bekerja baik di saat seperti ini….terbukti dengan beredarnya fwd instant message yg tepat…kemunculan hash tag yg scr psikologis menaikkan semangat

    2. indonesia sudah pernah mengalami banyak terror sebelumnya, dari bom bali, bom di 2 hotel, dan setelah itu tidak ada chaos berlebihan jadi pasar sudah mulai sedikit terbiasa

    3. walau kondisi siaga satu para kantor dan boss2 tetap ngga ngeliburin pegawai2nya di hari berikutnya *hikhikhiks*—> ini juga bagus krn saat tjd kejadian traumatik, kembali kerutinitas adalah pemulihan yg plg tepat….ga dipelihara

    kelemahannya adalah bgmn fokus menangani yg suka kepo2 asik mengerumun…..menurut saya orang2 ini sudah kelewat jenuh dengan kondisi ibukota jd begitu ada yg beda jd hiburan…

    Suka

  9. Ah pengen nulis begini jg tadinya Tal. I dunno, menurutku kok harusnya diem dulu gitu jangan terlalu gembar gembor.. Apalagi dgn segala hashtag.. Kayak jd nantangin 😐 entahlah.

    Suka

  10. Memang masyarakat suaknya kalau ada kejadian langsung bawaannya kepo, entah itu kecelakaan (bukan bantu telp polisi kek atau rs), pencurian, hingga terror. Yang aneh memang teror itu, masih baku tembak kok malah mendekat. Alhasil ya nyawa taruhannya. Berita terbaru nambah lagi korban meninggal karena ketembak pas mendekat ke tkp buat nontonkorban biar lebih jelas gitu. Doh… *tepok jidat*
    Monggo ni link beritanya kalau yang mau baca http://m.tribunnews.com/nasional/2016/01/17/ucapan-terakhir-rais-korban-bom-sarinah-nggak-usah-buru-buru-nanti-juga-gue-duluan

    Suka

  11. Aku juga rada heran ama kejadian kemaren. Antara masa bodo dan nga takut emang beda-beda tipis. Pada dasarnya sich mereka tidak terlalu tau seberapa besar bahaya yang diakibatkan karena kekepoan dan kenarsisan mereka. Semoga kejadian kemaren tidak terulang lagi yach, Aminnn..

    Suka

  12. Hai Crystal,
    Ada korban dari karyawan Bangkok Bank yang meninggal karena luka tembak, tapi hal ini kurang diekspos bahwa alm. meninggal karena “menonton” serangan bom Thamrin tersebut lalu terkena tembakan teroris yang masih berkeliaran di lokasi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s