Rasanya Belajar Asian Studies di Leiden University


Kuliah di luar negeri, mungkin untuk sebagian orang dirasa sebagai sebuah berkat yang nggak ternilai harganya. Kapan lagi bisa tinggal di luar negeri, menyerap ilmu sebanyak-banyaknya, dan sekaligus ngerasain tinggal di negara yang jauh berbeda budaya dan adat istiadatnya?

Pertanyaan “What are you studying?” selalu jadi pertanyaan nomor satu saat kita pertama kenalan dengan sesama mahasiswa disini, baik itu mahasiswa Belanda atau mahasiswa internasional. Gue dengan bangga selalu menjawab jurusan gue adalah Asian Studies, dan respon sesudah itu biasanya antara: a) mendukung (“Wow, that’s great!“) atau b) nanya lebih kritis (“Why are you studying about your continent on the other side of the globe?“). Dengan ini, gue mau jawab kenapa gue belajar Asian Studies di benua Eropa, terutama di Leiden University.

Alasannya cuma satu: mencegah bias. Dosen gue waktu S1 pernah bilang, kalau mau belajar studi area lebih baik belajar bukan di benua yang sama untuk mencegah bias akademik. Maka itu gue memutuskan untuk belajar tentang Asia secara umum dan Asia Tenggara/Indonesia secara khusus di benua Eropa, benua tua yang selain mempelajari Asia secara politik, juga secara kebudayaan dan sejarah. Kenapa gue memutuskan untuk belajar Asian Studies di Leiden University? Karena menurut gue, Leiden itu tempat yang paling sempurna kalo gue mau belajar tentang Asia dan Indonesia secara khusus. Banyak sekali Indonesianis yang bekerja sebagai dosen disini. Banyak banget sumber hubungan Belanda dan Indonesia yang disimpan di perpustakaan Leiden University. Selain itu, Leiden juga merupakan rumah dari beberapa peneliti Asia di jaman dulu. Jadi udah jelas banget kan kenapa gue memilih untuk belajar di kota yang punya kedekatan tersendiri dengan benua dan negara gue.

Gimana rasanya belajar Asian Studies di Leiden University? Gue udah belajar disini selama 13 bulan dan gue selalu ngerasa seneng. Pertama, Fakultas Humaniora disini ngingetin gue dengan FIB UI, almamater gue. Kesamaannya terletak di banyaknya kebudayaan dunia yang ada di fakultas ini. Di Leiden University, kita bisa belajar bahasa-bahasa baru, bahkan ada pusat bahasa Jawa juga disini. Seru banget. Banyak juga acara-acara yang melibatkan kebudayaan negara tertentu. Mirip banget lah sama FIB UI yang setiap bulan selalu ngadain acara kebudayaan. Selain itu, atmosfer di fakultas ini juga sangat internasional. Kita bisa ikut banyak sekali seminar dalam bahasa Inggris yang sesuai dengan minat akademis kita.

Kedua, kelas-kelasnya sangat menarik. Berbeda dari fakultas lain yang mata kuliahnya dipaketkan dalam waktu satu semester, di jurusan gue, gue bisa ngambil apapun pelajaran yang gue mau asalkan nggak melebihi batas maksimal kredit dalam satu semester. Hal ini menyebabkan gue bisa belajar lebih banyak diluar bidang gue. Contohnya, di pelajaran Material Culture of Food and Drink, gue belajar banyak tentang sosiologi makanan dan juga preservasi artefak di museum. Di mata kuliah Histories of Southeast Asia, gue bisa belajar tentang sejarah negara gue dan negara lain di Asia Tenggara dari sudut pandang Barat. Ada banyak banget pengetahuan baru yang gue dapat selama kuliah disini. Cukup pastiin aja bahwa sebelum kita ngambil mata kuliah yang terdengar menarik banget, kita juga udah harus tau dasar dari mata kuliah tersebut. Ini kelas-kelas untuk program Master, jadi mereka nggak akan ngajarin kita dari awal banget.

Walaupun gue ngerasa betah, bukan berarti kadang gue nggak ngerasa sebel, lho. Kebanyakan kelas yang gue ambil isinya hanya berkisar 8 sampe 10 orang, sehingga sulit untuk gue berakrab ria dengan banyak orang. Beda banget sama temen-temen gue di fakultas berbeda yang satu kelas bisa sampe 20-30 orang dan mereka bisa solid banget sampe lulus. Bahkan kelas Chinese Art History gue isinya cuma 7 orang doang, hal ini menyebabkan gue untuk nggak bisa membentuk ikatan pertemanan dengan orang-orang di kelas gue. Ada sih beberapa yang akhirnya jadi temen gue, tapi nggak pernah sekelas bareng lagi karena di jurusan gue, kami bisa mengambil apapun mata kuliah yang kami mau. Ketertarikan orang kan beda-beda, ya. Walaupun begitu, untuk siswa internasional, Leiden University menyediakan banyak sekali aktivitas yang memungkinkan kita untuk bertemu sesama mahasiswa internasional dari jurusan lain. Dengan itu, paling nggak kekurangan teman di kelas bisa sedikit diatasi.

Tertarik dengan belajar Asian Studies di Leiden? Bisa kunjungi website Asian Studies disini. Di website tersebut, semua informasinya lengkap, mulai dari silabus sampai gimana caranya untuk daftar.

Sampai ketemu di Leiden!

Iklan

18 thoughts on “Rasanya Belajar Asian Studies di Leiden University

  1. postingan ini sedikit membuat aku jadi pengen kuliah lagi….. tapi …. nggak wes, hahaha….. setuju sama mbak Lorraine: aku mau kuliah tp klo kudu ngerjakan skripsi/thesis, wah sepertinya nanti dulu… 🙂

    Suka

    1. Disini kayaknya kebaikannya deh. Every man for himself. Kalo diskusi di kelas harus individu yang aktif karena ada nilai individu. Pantes mainnya jadi lebih sendiri sendiri. Justru kalo yang orangnya makin banyak rasa solidaritasnya makin gede…

      Suka

  2. Halo mbak crystal aku tertarik sama cerita2nya. Mau nanya dong mbak, kira2 kalo dari S1 sejarah trus mau ambil S2 arts and Culture :Museums and Collections di leiden bisa gak ya?

    Suka

  3. Halo mbak crystal aku tertarik sama cerita2nya. Mau nanya dong mbak, kira2 kalo dari S1 sejarah trus mau ambil S2 Arts and Culture : Museums and Collections di leiden bisa gak ya?

    Suka

  4. semakin sering baca ttg Leiden, semakin menarik sajaa.. tanya dong mba, aku s1 Pendidikan Agama Islam, kalo ambil Master di Leiden itu gimana mba? antara Middle Eastern Studies: Islamic studies sama Teaching Religious studies (yang sayangnya pake bahasa belandaaa;(((

    Suka

  5. Hai mbak, I’ve been thinking about taking Asian studies or southeast Asian studies for my master degree.. bisa kasih pertimbangan kah mbak, apa kelebihan masing2 jurusan (selain durasi belajar)..
    Dan kalo boleh tau, buat thesis mbak ambil apa ya?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s