Pelajaran Hidup Dari Inside Out


Sudah pada nonton film ‘Inside Out’? Film ini adalah salah satu film kesukaan gue tahun lalu. Untuk yang belum pernah nonton, film ‘Inside Out’ bercerita tentang kehidupan seorang anak pra-remaja bernama Riley dan lima jenis emosi yang ada di dirinya: Joy, Sadness, Anger, Disgust, dan Fear. Menurut gue, film ini sangat menarik dan wajib ditonton orang segala umur karena film ini memfokuskan diri pada tema yang lumayan berat: perasaan.

Gue ingat beberapa minggu lalu pernah baca koran kampus dengan headline tentang depresi yang semakin menghantui mahasiswa Belanda. Catchphrase-nya adalah: “The answer ‘I’m fine’ is a default answer to every ‘How are you?’ question, while you might not be fine at all”. Jaman sekarang, manusia dituntut untuk selalu baik-baik saja, selalu berpikiran positif, selalu senang, selalu bahagia. Kalau seseorang nunjukkin kesedihan atau emosi apapun diluar emosi negatif, langsung dicap galau, sedih, depresi. Society tells us that showing you are unhappy is not good. You have to be happy at all times.

Padahal nggak selamanya aturan seperti itu berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian beberapa minggu setelah gue baca koran kampus, gue patah hati. Perasaan gue campur aduk. Gue langsung ngebayangin, kalo gue di film Inside Out, pasti perasaan gue lagi berantem memperebutkan siapa yang berhak megang command center. Gue ngerasa cemas, takut, sedih, rapuh, kecewa, depresi, malas, marah, pokoknya macam-macam dan hampir semua emosi yang gue rasakan adalah emosi negatif. Sampai akhirnya gue ngerasa capek harus berurusan dengan beragam emosi yang berusaha keras mengambil alih diri gue dan gue memutuskan untuk nggak mengindahkan emosi-emosi tersebut.

Hasilnya? Gue jadi mati rasa. Gue nggak bisa ngerasain emosi apapun. Mau dibilang sedih nggak, marah nggak, kecewa nggak… Gue ibarat seperti robot yang menjalani kehidupan setiap hari tanpa ngerasain apa-apa. Setiap pagi gue bangun kesiangan, malas makan, ke perpustakaan, ngerjain tesis, pulang, makan, terus tidur lagi. Emosi gue seakan-akan hilang.

Kemudian gue sadar… Gue nggak akan bisa bahagia kalau gue nggak embrace seluruh perasaan yang lagi gue rasakan saat itu, baik itu perasaan negatif atau positif. Sama seperti salah satu adegan di film Inside Out saat Bing Bong sedih, kemudian Joy berusaha bikin dia senang lagi tapi Joy nggak bisa ngapa-ngapain. Justru saat Sadness mendengarkan kesedihan Bing Bong, pada akhirnya Bing Bong ngerasa jauh lebih baik. Nonton adegan itu menyadarkan gue bahwa gue harus berdamai dengan perasaan gue sendiri. Kalau gue sedih, gue harus nangis atau cari teman bicara yang mau berempati dengan kesedihan gue. Kalau gue marah, gue harus cari cara pelampiasan marah dengan cara denger lagu atau nyanyi-nyanyi. Apapun yang gue rasain, harus gue terima konsekuensinya karena kalau gue menghindar dari perasaan gue, gue akan jadi semakin nggak bahagia.

Kemudian ada juga adegan saat Riley berusaha mengingat kenangan yang menurut dia indah, tapi Sadness mengambil alih kenangan itu sehingga dia jadi sedih. Adegan ini cukup relate dengan kehidupan gue sekarang. Gue mungkin dulu menganggap kenangan-kenangan menyenangkan bersama Mr. C sebagai sesuatu yang indah, tapi kalo gue inget sekarang gue bukannya seneng malah sedih. Mungkin gue belum sampai pada tahap ini, tapi gue yakin kalau nanti gue mengingat kembali kenangan itu, gue akan mengalami perasaan yang antara sedih dan senang, tapi outcome-nya akan positif untuk gue.

Menurut gue, pelajaran paling penting dalam film ini adalah setiap orang nggak boleh menahan perasaan mereka. Di film, Joy nggak ngerti kenapa harus ada perasaan Sadness karena dia mikir Sadness kerjaannya cuma bikin sedih Riley doang. Tapi sebenarnya Sadness ada sebagai cara manusia berempati satu sama lain dan bahwa Sadness adalah emosi yang sehat. Dengan menjadi pribadi yang embrace perasaan negatif dan positif kita, diharapkan mereka bisa membantu kita untuk terbuka sama orang lain. Perasaan-perasaan itu akan bikin kita tau bahwa ada banyak orang yang akan mendukung kita apapun peristiwa yang sedang kita alami.

Buat yang lagi patah hati atau gagal, film Inside Out cocok banget buat ditonton lagi untuk ngingetin kita betapa pentingnya staying true to your feelings. 

Iklan

12 tanggapan untuk “Pelajaran Hidup Dari Inside Out

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s