What Living Alone Abroad Teaches You


Nggak terasa sudah 14 bulan sejak terakhir gue meninggalkan Jakarta. Selama 14 bulan, gue berhasil merantau ke negeri orang dan selalu tinggal sendiri, entah itu di studio apartment atau di student house. Awalnya gue berpikir bahwa tinggal sendiri di negara orang nggak akan mengubah kepribadian gue sebagai individu, tapi ternyata tinggal sendiri di luar negeri bener-bener ngajarin gue tentang banyak hal.

Pertama, gue jadi jauh lebih mandiri. Mungkin banyak orang menganggap kata mandiri itu lebih ke bisa melakukan pekerjaan secara sendiri, tapi untuk gue mandiri itu artinya jauh lebih dalam lagi. Kalo di Jakarta kan gue tinggal di rumah oma dan opa gue. Mandiri dalam hal mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sudah tentu gue bisa. Tapi gue nggak mandiri secara pikiran. Begitu ada masalah, gue nggak mikir panjang karena gue mikir gue kan masih punya rumah, gue gampang kalo mau pulang.

Tapi begitu gue memutuskan tinggal sendirian di luar negeri, semuanya berubah. Gue jadi nggak segampang itu kabur dari masalah gue cuma karena gue punya keluarga yang gampang gue hubungi setiap kali. Justru gue dipaksa oleh keadaan untuk menyelesaikan masalah gue. Contohnya sekarang gue lagi cari rumah untuk setahun berikutnya di Den Haag. Kalau gue masih tinggal di Indonesia, mungkin gue akan malas cari rumah karena toh gue masih punya kamar di rumah opa dan oma gue. Tapi karena disini gue tinggal sendirian, gue nggak punya pilihan kecuali lebih rajin mencari rumah sesuai dengan keuangan gue.

Selain itu, tinggal sendirian di luar negeri bikin gue semakin dewasa dalam pikiran. Karena gue disini nggak punya keluarga, gue jadi berpikir untuk diri gue sendiri. Gue mengutamakan diri sendiri, sesuatu yang nggak pernah gue lakukan di Indonesia. Gue jadi terbiasa berpikir sistematis dan membuat rencana untuk diri sendiri. Pas masih di Jakarta, gue merasa sering diperlakukan seperti anak-anak karena gue masih tinggal dengan orangtua walaupun umur gue sudah dewasa dan mereka bilang gue bisa melakukan apapun. Tapi begitu sudah tinggal sendiri, gue jadi merasa lebih bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan tercermin dari pembicaraan gue dengan keluarga kalau mereka telepon.

Salah satu hal yang sangat membanggakan untuk gue adalah saat orangtua gue pergi mengunjungi gue bulan Oktober lalu. Gue awalnya grogi banget karena merasa takut mereka akan memperlakukan gue seperti anak-anak. Ternyata enggak tuh. Gue bisa membuat pembicaraan selayaknya pembicaraan orang dewasa, gue bisa ngomong apa yang ada di pikiran gue tanpa harus takut orangtua gue akan menghakimi opini gue, dan gue juga bisa menerima saran-saran dari mereka dengan kepala dingin. Pokoknya gue merasa dianggap jadi orang dewasa oleh mereka. Disitu gue rasanya bangga sekali dengan diri gue.

Jadi, saran gue… jika ada kesempatan, cobalah tinggal sendiri. Bisa di kota yang sama dengan orangtua atau di luar kota bahkan di luar negeri. Bohong banget kalo akhirnya ada yang bilang mereka nggak berubah setelah tinggal sendiri.

Iklan

26 thoughts on “What Living Alone Abroad Teaches You

  1. Tosss Christa. Saya juga mempunyai pikiran yang sama dengan kamu. Meskipun kita punya keluarga di kota yang kita tinggali saat ini, kita belum tentu bisa mengandalkan mereka seperti saat kita di kota asal. Kamu bakal tetap stay di Belanda setelah selesai S2?

    Suka

  2. Merantau sejak usia 15 tahun sebagai anak kos yg paling kerasa bermanfaat adalah cara mengatur keuangan. Kan hidup dari kiriman orangtua pada saat SMA dan kuliah, jadi musti pandai2 hidup hemat tapi tetap bisa senang2. Akhirnya terbawa pada saat sudah kerja pegang uang sendiri, tetep aja hemat mau beli apa2 yg mahal mikirnya lamaaa karena berasa sayang. Akhirnya kebawa sampai sekarang jadi istri super hemat haha dan suka sebel kalo lihat suami beli barang2 mahal, tapi ya gimana lagi, hobi dia.
    Sudah dapat rumah di Den Haag? Deket dari tempatku?

    Suka

  3. Good luck in finding the place! There’s nothing like being “forced” to be independent 😛 Awesome life lesson ya… 🙂 Terutama kalau soal urusan fixing rumah. Hadeh… aku masih kurang cakap kalau disuruh pake bor dan palu dst.

    Suka

  4. Exactly what I’ve experienced, Tal~ 7th gt lho di Bali haha. Not only doing the house chores but also other mentality system: today’s to-do list, financial management, problem solving, etc.. Di Jkt dimanjain bgt soalnya, aplg sm emak gue ;p
    Anyway good luck in finding new house/apartment! 😃🙆

    Suka

    1. Iya nih tapi kayaknya agak beda juga kalo yang merantau di dalam sama di luar negeri. Kalo di dalam negeri kan mau pulang juga gampang, tinggal pesen travel/tiket pesawat/kereta… kalo di luar negeri boro-boro bisa pulang tiap lebaran dan natal, kepikiran harga tiket aja bikin sakit perut hahahaha

      Disukai oleh 1 orang

      1. Iya sih kalo homesick yg susah ya. Gue juga sengaja pilih Bali biar ga gampang2 pulang sih Tal, paling banter setahun 2x deh. Kalo sama2 di pulau Jawa masih bisa pulang naik kereta gitu, kan~ *tapi ongkosnya ga beda jauh hahaha*

        Suka

  5. Semoga segera ketemu rumahnya di sana ya Christa. 🙂 Memang kok kerasa banget bedanya tinggal sendiri itu. Baru ngerasain pas pindah Jakarta dan kudu bisa ini itu sendiri. 😀

    Suka

  6. Smoga lancar dan dimudahkan ya urusannya 🙂
    Emang enak banget lah idup mandiri, challenging. Aku juga sejak kelas 1 SMA udah mulai ngekos. Semua2 hatus diputusin dan diselesaikan sendiri, termasuk sampai bayar bill nya 😁

    Suka

  7. Good luck finding home 😉
    Iya, aku juga ngerasa gitu waktu pertama tinggal sendiri. That good feeling that we could take care of our selves and less dependent of others. Sekalinya balik ke rumah ortu langsung stress, hihi.

    Suka

  8. Kalo gw dr tinggal sendiri di luar negeri, gw jd lebih bisa menghargai masakan mama. Yg dulu sering komplen “masak ini lagi maaa??? Boseeennnn” – ternyata masak itu susah bahahahahaha. Eh Christa crita ketemu elo bihihihi…small world!

    Suka

  9. Iya Tal aku juga bersyukur banget dapet kesempatan sekolah diluar, bener2 life changing experience deh. Diluar hal2 yang kamu bilang itu, aku belajar menghadapi berbagai jenis orang dan juga salah satu pelajaran terbaik yg aku pegang – dimana ada kemauan disitu ada jalan! jadi aku nggak gampang menyerah 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s