Introvert vs Extrovert


Hari Minggu kemarin, saya ambil bagian jadi tim sukarelawan untuk sebuah konferensi internasional di Den Haag. Konferensi ini diadakan oleh perusahaan asal Amerika Serikat yang memfokuskan diri mereka dalam bidang online learning, jadi konferensi ini adalah konferensi tahunan dari perusahaan untuk universitas partner mereka. Pekerjaan saya selama jadi sukarelawan di acara itu sangat beragam, mulai dari mengurus registrasi, membantu logistik dan perlengkapan, sampai membereskan ruangan rapat. Capek sih capek, tapi senang sekali apalagi kalau dikasih kerjaan.

Di hari pertama konferensi tersebut, saya bergabung dengan seorang teman baik di kampus. Dia orang Polandia dan kita sebut saja dia ‘teman ekstrovert’. Sebenarnya dia bukan teman saya banget sih, hanya teman pesta karena dia orangnya jago banget bikin pesta dan acara ngumpul-ngumpul. Kemudian saya baru tahu di konferensi tersebut bahwa dia orangnya ekstrovert banget!!!

Serius deh, hari Minggu kemarin itu saya capek fisik dan capek hati juga. Capek fisik memang bisa cepat disembuhkan, tapi capek hati kan susah. Si teman ekstrovert ini orangnya dominan sekali. Ada saat-saat dimana kami tim sukarelawan harus membantu staff dari perusahaan untuk membuat sebuah keputusan, kemudian si teman ekstrovert ini mudah sekali menyampaikan pendapat, sehingga saya tidak bisa mengutarakan pendapat saya. Saya adalah orang introvert yang biasanya berpikir dulu sebelum bersuara, makanya saya terkesan agak ‘lambat’ dan kurang bisa mendominasi pembicaraan. Gimana bisa mendominasi kalau di grup saya ada orang ekstrovert yang dominannya kebangetan :/

Kemudian tim kami pergi ke museum di Den Haag untuk membantu menyiapkan logistik dan layout untuk acara makan malam di konferensi hari pertama. Si teman ekstrovert sangat heboh karena museum tersebut sedang mengadakan eksebisi lukisan Gustav Klimt dan Egon Schiele. Setelah kami menyelesaikan tugas, dia meminta saya untuk menemani dia melihat lukisan karena jam buka museum sudah mau selesai. Baru kali itu saya berlari-lari di dalam museum karena harus menyamakan energi saya dengan energi dia yang seperti kelinci batere Energizer. Padahal sebenarnya kami tidak terlalu diburu waktu banget, masih banyak sukarelawan yang sedang membantu tim untuk menyiapkan logistik makan malam dan kami juga bebas ngilang kemana saja. Tapi dia lari-lari kesana kemari, setelah selesai melihat lukisan Klimt dan Schiele dia berlari ke ruangan lain untuk melihat pameran lukisan Karel Appel, untungnya dia tidak lari ke ujung lain museum untuk melihat lukisan Jan Toorop. Gila, rasanya kayak ngangon bocah umur 5 tahun yang baru pertama kali ke museum.

Selain itu orangnya juga tidak bisa berhenti ngomong. Ketika saya capek dan duduk untuk beristirahat, dia duduk di sebelah saya dan bukannya diam, dia malah ngajak saya ngobrol atau ngomong sendiri. Sementara saya cuma ingin diam dan tidak bicara dengan siapa-siapa. Saya butuh quick recharge energi saya. Akhirnya karena saya kesal, saya bilang ke dia, “You know what? You’re such an extrovert. You have a very big energy and I can’t keep up with that. I haven’t ran in a museum and I have to follow you running around. I’m sorry, but I’m so tired.

Setelah selesai membereskan logistik, saya pulang. Rasanya sudah lelah sekali, baik fisik maupun mental. Di hari berikutnya, saya kembali ke konferensi tersebut namun untungnya begitu saya datang, teman ekstrovert saya mau pulang. Itu adalah hari terakhir saya, untungnya tidak capek-capek amat, sehingga saya bisa mampir ke rumah teman saya untuk mengiyakan ajakan makan malam pancake sebelum pulang ke rumah.

Sekarang saya mau ngomong tentang bedanya ekstrovert dan introvert dalam event planning dan leadership, seperti kasus yang saya alami di atas. Saya menemukan gambar di internet yang cukup menarik untuk membahas perbedaan ini:

leading-extroverts-vs-introverts-1024x727

Ada banyak sekali definisi yang membedakan ekstrovert dan introvert. Mulai dari yang cetek banget seperti ‘ekstrovert itu cerewet, introvert itu pendiam’ sampai ke definisi ilmiah. Menurut saya, definisi ekstrovert dan introvert itu sangat luas, tapi saya lebih percaya ke definisi tentang bagaimana ekstrovert dan introvert memperoleh energi mereka. Ekstrovert memperoleh energi mereka dari ‘menyerap’ energi orang lain, sehingga mereka suka sekali dengan acara yang heboh dan ramai. Sementara itu, introvert memperoleh energi lewat aktivitas yang lebih tenang dan individual seperti membaca, nonton film, atau nongkrong dengan sahabat. Setelah ‘level energi’ mereka terisi, barulah mereka bisa membaur dengan orang lain atau berada di pesta-pesta yang heboh.

Dalam kasus mengambil keputusan atau menjadi pemimpin, introvert dan ekstrovert memiliki pendekatan yang sangat berbeda. Ekstrovert, karena mereka senang sekali bergaul dan bertemu orang baru, langsung bisa melompat dalam sebuah masalah dan langsung mencari jalan keluar. Sementara itu, seorang introvert akan memilih untuk berpikir tentang masalah tersebut sebelum mencari tahu jalan keluarnya. Boleh dibilang, menurut saya pola pikir ekstrovert itu seperti garis lurus, sementara pola pikir introvert itu seperti benang kusut. Ada banyak sekali pola-pola yang harus dipikirkan sebelum memecahkan sebuah masalah. Orang ekstrovert lebih suka berbicara sebelum berpikir, sementara introvert kebalikannya.

Dalam mencari teman dan mencari koneksi, introvert dan ekstrovert juga sangat berbeda. Orang ekstrovert mungkin kelihatannya jauh lebih supel dan lebih mudah mencari teman baru karena tingkat energi mereka yang sangat tinggi, sementara orang introvert terkesan lebih tertutup dalam bertemu orang baru, tapi ujung-ujungnya juga bisa mencari kenalan baru dan networking, kok. Karena saya bukan ekstrovert, jadi saya jauh lebih suka mencari kenalan baru dengan mencari tahu common ground masing-masing, lalu mulai berbicara dengan penuh antusias tentang common ground tersebut.

Sayangnya, karena terlihat lebih diam dan kurang bisa menjemput bola, seorang introvert sering tidak diperhitungkan dalam urusan event planning. Padahal sebenarnya kami bisa banget, kok! Kebetulan saya lagi sial aja kemarin dipasangkan dengan orang ekstra ekstra ekstrovert yang sangat dominan sehingga saya tidak bisa ngapa-ngapain. Tapi sebenarnya orang introvert itu bisa banget dibebankan tanggung jawab untuk mengurus sebuah acara, bahkan lebih bagus lagi kalau seorang introvert dan seorang ekstrovert bisa bekerjasama untuk membuat acara. Orang introvert sangat pandai dalam membuat rencana yang sangat detail, nah untuk eksekusinya bisa dilakukan oleh orang ekstrovert dengan energi mereka yang membuncah ruah. Sayangnya, kemarin itu saya dan teman saya tidak punya visi yang sama, sehingga saya lebih capek harus menyamakan diri dengan dia yang maunya serba cepat.

Tapi sebenarnya ikut jadi sukarelawan begini tidak bikin saya kapok. Malah saya ketagihan dan mau lagi!

Iklan

4 thoughts on “Introvert vs Extrovert

  1. Kehadiran seorang pemimpin yang mampu mendekatkan orang introvert dan ekstrovert itu jadinya penting banget ya dalam suatu tim. Jadinya ide-ide brilian bisa muncul dari seorang introvert tapi aplikasinya jadi berenergi dan meriah karena digerakkan oleh kaum ekstrovert. Ketimbang memaksakan harus begini dan harus begitu, jadinya semua orang tidak nyaman :hehe.
    Tulisan yang inspiratif, Mbak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s