About Patronizing


Selama liburan di Indonesia kemarin, banyak sekali observasi tidak sengaja yang gue temui yang terjadi di masyarakat. Jika sebelum liburan gue mengalami ketakutan terhadap reverse culture shock, ternyata gue mengalami hal tersebut. Kalau ditanya orang, bentuk reverse culture shock yang dialami setiap orang tentu berbeda. Ada yang merasa culture shock dialami dari sikap keluarga dan teman yang berubah terhadap mereka, ada juga yang merasa bentuk reverse culture shock dialami dengan cara mengalami semua hal yang dulu selalu kita lakukan sebelum pindah ke negara lain, namun kini kita lebih kritis terhadap hal-hal tersebut.

Gue mengalami reverse culture shock dari contoh yang kedua, yaitu dari observasi yang gue temui di masyarakat. Dulu sebelum pindah ke Belanda, gue merasa kebiasaan-kebiasaan ini adalah hal yang normal. Kini, gue merasa semacam geli sendiri sudah merasa hal tersebut normal, dan cenderung kritis. Hal yang mau gue bahas disini adalah kebiasaan merasa kasihan terhadap orang lain, contohnya orang-orang nggak beruntung dan mengalami keterbatasan fisik.

Di Indonesia, gue selalu nonton sebuah acara game show di sebuah kanal TV swasta pagi hari (sekitar jam 8 pagi). Premis dari acara tersebut cukup sederhana, yaitu sebuah permainan dengan model probabilitas, semacam permainan ‘pilih uang atau pintu’ (baca lebih lanjut: Monty Hall probability theory). Yang bikin menarik, di bulan Ramadhan ini, kontestan acara TV tersebut rata-rata adalah orang tidak mampu dan memiliki keterbatasan fisik.

Waktu awalnya gue nggak sengaja nonton ini, gue menanggapinya dengan biasa aja. Jujur aja gue kurang suka nonton TV dan gue cenderung lebih suka menjadikan suara TV sebagai background noise saja. Tapi lama-lama gue memperhatikan acara TV ini dan gue menemukan banyak sekali hal yang janggal, yang bisa digolongkan dalam satu kalimat: Kita masih suka merasa kasihan (pitying) orang lain.

Rasa kasihan tentu sering dialami oleh kita semua, ketika melihat sesuatu atau seseorang yang kita rasa kurang beruntung dari kita, contohnya orang-orang difabel, orang dengan keterbatasan ekonomi, dll. Menurut gue itu adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi lama-lama gue semacam geli dengan perilaku orang yang terlalu sering suka merasa kasihan dengan orang lain, seolah-olah kehidupan orang yang dikasihani mereka itu sangat sangat susah. Contohnya para kontestan di acara TV ini. Nggak jarang si kontestan dipanggil secara acak, kemudian sebelum main, si pembawa acara nanya-nanya seputar kehidupan si kontestan dan menjadikan acara tersebut kayak semacam festival khusus buat mengasihani si kontestan hanya karena dia cacat fisik atau datang dari kalangan masyarakat kelas bawah. Nggak jarang juga kamera menyorot tatapan para penonton di studio yang menatap si kontestan dengan tatapan iba yang cenderung berlebihan, bahkan ada juga yang menangis di studio. Semuanya dilakukan dengan alasan rating.

Gue menganggap acara-acara dan praktek mengasihani orang lain ini sangat berlebihan. Kenapa? Karena tanpa kita sadari, sebenarnya orang-orang yang kita kasihani itu ingin dianggap setara dengan orang lain, dan orang yang melakukan tindakan mengasihani itu sedang melakukan sesuatu bernama patronizing. Patronizing adalah sesuatu yang kita lakukan ketika kita melakukan sesuatu yang baik, namun seolah-olah mereka lebih rendah daripada kita, sehingga menghasilkan perasaan atau sebuah situasi dimana seseorang/sebuah kelompok merasa superior daripada yang lain. Dalam konteks ini, padahal bisa jadi orang-orang yang jadi kontestan di acara TV ini emoh dikasihani dan ingin dianggap setara. Contohnya mereka mau berusaha dianggap setara ya dengan cara bekerja, biarpun itu sebagai buruh tani atau tukang cuci keliling. Walaupun lagi-lagi pekerjaan itu sering dianggap sebagai ‘pekerjaan yang butuh dikasihani’ oleh orang lain dengan kemampuan ekonomi yang lebih. Kita juga nggak tahu kan, siapa tahu mereka bekerja sebagai buruh cuci tapi hidupnya bahagia? Yang namanya kebahagiaan itu nggak bisa diukur dari seberapa uang yang kita punya atau apakah kita punya bagian tubuh yang lengkap atau nggak, kan?

Terlebih lagi, rating adalah segalanya, kita nggak bisa bohong dengan itu. Sepertinya orang-orang Indonesia memang suka sekali merasa iba yang berlebihan terhadap orang yang mereka rasa kurang beruntung, sehingga banyak sekali acara TV yang intinya mengasihani dan mengeksploitasi orang miskin. Contohnya adalah beberapa reality show yang memberi sejumlah uang kepada orang kurang mampu asal mereka harus membelanjakan uang tersebut dalam waktu 1 jam, reality show renovasi rumah orang tidak mampu, atau reality show semacam pertukaran nasib antara orang kaya dengan orang miskin. Dalam semua acara TV ini, ada satu kesamaan: kehidupan si miskin digambarkan serba kekurangan dengan latarbelakang musik sedih dan narasi ala-ala hidup orang susah. Lama-lama gue malas lihatnya, karena masalah lain akan muncul: patronizing yang berakhir dengan eksploitasi orang miskin. Dulu sih gue menganggap ini sebuah hal yang normal, tapi sekarang gue malah geli sendiri dengan kelakuan gue dulu yang menganggap hal ini biasa aja. Kalau kayak begini terus, yang namanya masyarakat setara ya nggak akan terjadi, karena media juga terus-terusan mengekspos jurang antar kelas ekonomi dalam masyarakat.

Bagaimana dengan kalian? Apakah secara tidak sadar kalian masih suka mengasihani orang lain yang cenderung ke arah patronizing?

Iklan

10 thoughts on “About Patronizing

  1. Aku jadi inget salah satu reality show di TV Indonesia yang ngasi duit kepada orang yang nggak mampu. Aku lupa sih gimana skenarionya, tapi kayaknya anchornya diam2 menyamar atau apa gitu, terus ujung2nya kasi duit senilai 10 juta or something. Dasar ya yang seperti kamu bilang tadi – pity –> rating. Kita masih suka mengkomersialkan orang kurang beruntung sebagai tontonan.

    Juga show2 yang bikin kontroversi, sempet nonton juga soal detektif2an yang ngikutin pasangan yang dibilang selingkuh, terus di dramatisir besar2an.. pemirsanya masih suka dikasi tontonan macam gitu sih soalnya, mengalihkan pikiran dari masalah2 lain yang lebih besar (sekadar break untuk otak, mungkin, nggak usa mikir)

    Suka

    1. padahal sebenarnya serem lho dikaish duit 10 juta itu terus masuk TV, apakah tidak ada kejadian mengenakan setelah acaranya tayang? maksudnya tetangga2nya pasti jadinya tahu dia dapat duit 10 juta, apa gak ditodong suruh traktir or whatever? bener ga?

      Suka

  2. agreed, kadang aku mikir acara2 yg kasih uang kayak gitu malah mendidik mereka jadi konsumtif, dulu waktu pelajaran audio visual di kuliah dosenku juga pernah bilang kalau orang Indonesia suka ke acara2 yang menuju ke “kasihan” yang kaya gini.

    Suka

  3. Iya, aku jijik liat acara TV yang mengekspose orang miskin buat jadi tontonan. Tapi satu yang aku perhatiin ya, orang Indonesia itu cenderung menggemari kisah ala cinderella, dari upik abu tiba-tiba jadi putri. Semacam mimpi menang lotere dan jenis kesuksesan yang instan. Ga heran mentalnya jadi males kerja keras.

    Suka

  4. Aku paling engga suka nonton acara begituan karena aku punya pendapat kalau orang-orang (yang biasa disebut kaum marginal itu) tetap bisa mencari kebahagiaan mereka sendiri selama fisik mereka masih sangat mendukung. Tapi ya gitu deh, rating acara seperti itu memang tinggi dan sangat diminati di Indo..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s