Frat Girls and Boys (Part 1)


Setelah meninggalkan Leiden, gue punya dua kesan tentang kota kecil ini:

  1. Kota Pelajar, dan
  2. Kota Frat Girls and Boys

Apa itu frat girls and boys? Mereka adalah cewek-cewek dan cowok-cowok anggota organisasi mahasiswa tertentu. Untuk organisasi khusus cowok biasanya disebut fraternity, sementara untuk organisasi khusus cewek disebut sorority. Mungkin tradisi seperti ini terkenal di film-film bertema kampus ala Hollywood seperti Legally Blonde dan nama-namanya selalu memakai huruf Yunani, maka itu di Amerika Serikat, tradisi ini disebut sebagai Greek culture.

Belanda ternyata memiliki tradisi sorority dan fraternity mereka sendiri. Kita sebut saja ini tradisi studentenvereeniging atau ‘organisasi mahasiswa’. Yang bikin Leiden spesial, kota ini adalah rumah dari organisasi mahasiswa pertama se-Belanda yaitu L.S.V. Minerva, yang dibentuk dua ratus tahun (1814) setelah pendirian Universiteit Leiden (1575).

c4dzxowu_400x400
Logo LSV Minerva

Di jaman sekarang, studentenvereeniging ini jenisnya ada banyak. Ada tipe organisasi gezelligheidsverenigingen seperti Minerva dan beberapa organisasi mahasiswa lain seperti Quintus, Augustinus (khusus cowok) dan SSR. Ada juga organisasi dalam bidang olahraga seperti Roeivereniging Njord (untuk olahraga mendayung), Asopos, dan Duikvereniging LSD (untuk olahraga menyelam). Ada juga organisasi mahasiswa religius, organisasi mahasiswa internasional, dan lain-lain. Tapi akar dari semua organisasi ya gezelligheidsverenigingen seperti nama-nama di atas.

Nah, studentenvereeniging ini kerjanya ngapain aja sih? Di bidang ini, menurut gue kegiatan organisasi ini tergolong unik, karena mereka selalu melibatkan diri dalam acara-acara yang dilakukan di pusat kota Leiden, seperti Museumnacht atau festival-festival musim panas. Pemerintah kota Leiden memang punya kaitan erat dengan berbagai organisasi mahasiswa di Leiden. Mayoritas alumnus Minerva memang jadi orang besar di Belanda sekarang, termasuk Raja Willem-Alexander dan ibunya, Ratu Beatrix, yang merupakan anggota Minerva. Kurang elite apa coba? Selain itu, jika seorang mahasiswa masuk ke sebuah organisasi, biasanya mereka mempunyai koneksi ke perusahaan makelar se-Leiden, sehingga orang tersebut bisa mendapatkan kamar dengan harga yang murah. Bahasa kasarnya, organisasi mahasiswa memonopolisasi kehidupan mahasiswa di Leiden, sehingga kadang untuk mahasiswa internasional, kesempatan untuk berkembang dan menghemat jadi sangat kecil karena Leiden selalu memberikan privilege untuk mahasiswa Belanda, apalagi mahasiswa Belanda yang jadi bagian dari salah satu organisasi mahasiswa.

Sudah cukup lama gue sangat tertarik dengan kehidupan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi seperti ini, apalagi Minerva. Kenapa? Karena anggota Minerva tergolong orang-orang yang sangat misterius. Gimana nggak misterius, gedung dua lantainya aja selalu tertutup, dan anggotanya selalu berkeliaran di tengah kota Leiden memakai setelan jas, celana bahan, kemeja putih, dasi, dan sepatu pantofel, baik cewek maupun cowok. Minerva tergolong berbeda dengan beberapa organisasi mahasiswa lain yang lebih terbuka terhadap orang luar termasuk mahasiswa internasional, karena kegiatan mereka sangat eksklusif dan sepertinya sulit untuk masuk organisasi tersebut. Minerva sangat berbeda dengan beberapa organisasi lain seperti Quintus yang membuka gedung pertemuan mereka sebagai restoran dan menggalang dana dengan cara menjual makanan. Pintu gedung perkumpulan Minerva selalu tertutup baik siang maupun malam. Satu-satunya cara untuk orang luar (baca: mahasiswa internasional yang ngeh) dengan kehidupan mereka ya dengan cara muter-muter sekitar Breestraat (nama jalan tempat gedung Minerva) pada malam hari, dimana kabarnya mereka selalu pesta tiap malam.

minerva
Markas LSV Minerva

Menjelang kelulusan, gue sangat penasaran dengan kehidupan organisasi mahasiswa seperti ini. Akhirnya gue nanya-nanya ke beberapa teman gue orang Belanda, dan berikut adalah jawaban-jawaban mereka:

1. Nggak semua mahasiswa universitas ikutan organisasi universitas. Menurut temen gue, hal ini bisa jadi karena 1) Biaya administrasi tiap bulan beberapa organisasi bisa cukup mahal, dan 2) Kebanyakan mahasiswa yang jadi anggota adalah mereka dari luar Leiden. Menurut temen-temen gue, mahasiswa dari kota Leiden cenderung malas mengikuti organisasi mahasiswa karena mereka merasa Leiden adalah kota mereka sendiri, berbeda dengan mahasiswa dari luar kota Leiden yang merasa perlu dapat akomodasi murah, teman-teman baru, dan kegiatan baru.

2. Mereka punya banyak sekali aturan yang njelimet. Salah satu yang terkenal di kehidupan organisasi mahasiswa adalah acara ontgroening, yaitu acara perpeloncoan untuk anggota organisasi baru, biasanya para mahasiswa baru. Mirip banget sama inisiasi organisasi kampus di Indonesia. Seperti ospek di Indonesia, ada dua kubu dalam masalah ini, kubu yang pro dan yang kontra. Kebanyakan sih yang pro, ya. Mereka berpendapat, ontgroening bisa menjadi sesuatu yang ‘mendekatkan’ para anggota baru, bisa juga dibilang sebagai uji tekanan.

3. Dalam beberapa organisasi, mereka menggunakan sistem poin untuk anggota baru. Ini terjadi di Minerva, kata salah satu teman. Rupanya, cowok dan cewek yang kemana-mana pakai jas dan sepatu pantofel itu adalah mahasiswa baru yang sedang ‘ngumpulin poin’. Ya caranya macam-macam, bisa disuruh-suruh senior, atau siapa yang paling lama bisa bertahan untuk nggak mabuk, atau harus mengacau berapa kali.

4. Ada juga organisasi yang hierarkinya lebih santai. Gue sempat ngobrol dengan seorang teman yang dulu gue kira ikutan organisasi Minerva, ternyata dia sempat dekat dengan orang-orang dari SSR. Menurutnya, nggak semua organisasi punya peraturan yang sangat ketat. SSR contohnya, punya peraturan yang lebih sederhana dan lebih santai. Selain itu, organisasi lain yang diluar gezelligheidsverenigingen biasanya punya aturan main yang tidak terlalu serius.

dan

5. Beda orang, beda motivasi ikut organisasi. Selain orang-orang luar Leiden yang memilih ikut organisasi dengan alasan praktis seperti bisa meminimalisir uang sewa kamar atau mendapat teman baru, ada juga segelintir orang yang merasa organisasi yang dia ikuti itu penting banget, jauh lebih penting daripada perkuliahan. Mereka ini sering bisa dilihat mengikuti satu mata kuliah berkali-kali karena nggak lulus, atau gonta-ganti jurusan.

Beruntung (atau sialnya), gue pernah tinggal di sebuah rumah penuh dengan cewek anggota organisasi mahasiswa, campuran dari Quintus dan Minerva. Di bagian dua nanti, gue akan kupas enak nggak enaknya tinggal sama cewek-cewek sorority!

Iklan

13 thoughts on “Frat Girls and Boys (Part 1)

      1. Oya? Gw gak terlalu suka sih dengan konsep perploncoan di Indonesia yang menurut gw sadis dan gak penting. Tp kan klo plonco2an di Indonesia kan smcm wajib gr ya smua mahasiswa wajib, nah klo utk tipe sorority ini cm yang mau jadi anggota aja kan?

        Suka

  1. Organisasinya kuat berakar banget ya, Mbak. Terus tertutup, kesannya malah jadi seperti cult yang misterius–mereka tidak melakukan kegiatan yang aneh-aneh, kan? Dan agak mirip juga budaya perpeloncoan di sana dengan yang kejadian di Indonesia–sampai pakai outfit yang aneh-aneh begitu. Kalau saya agaknya tidak cocok masuk ke organisasi semacam itu. Saya tak suka senioritas buta. Kenapa saya mesti menghormati senior jika saya tak bisa melihat sesuatu yang bisa saya hormati?

    Suka

  2. Stereotype frat boys & girls londo: bekakt (borju), londo putih (jarang yang mix ras), nama-nama tertentu, olah raganya hockey, berkuda, berlayar & rowing, pinter sekolah tapi juga party. Mereka ini gabung ke studentenvereniging sebagian besar karena orang tuanya gitu. Untuk yang sama sekali baru di dunia ini, kalo sukses bisa ok banget social climbingnya soalnya setelah lulus they stick together. They favour the best jobs for each other dan ke anak dan saudara mereka. Sangat priviledged lah gitu.

    Suka

  3. Wih ternyata ada juga ya Frat boys and Sror girls di Belanda. Gw kira cuman di US aja. Gw sih ga suka acara perploncoan dan semacamnya, dan gw lebih suka party aja kale ga usah formal-formal amat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s