Awkarin dan Anya Geraldine dari Kacamata Twentysomething


Belakangan ini netizen Indonesia pasti nggak asing dengan dua nama ini: Karin Novilda (Awkarin) dan Anya Geraldine. Dua-duanya remaja Indonesia yang berdomisili di Jakarta, dua-duanya menghasilkan uang sebagai vlogger dan artis Instagram (walaupun Anya juga bekerja sebagai model), dua-duanya kini sedang jadi buah bibir di dunia maya Indonesia karena video-video mereka yang menurut masyarakat, nggak sesuai dengan standar budaya Indonesia. Bahkan KPAI kini sedang mengkaji kemungkinan untuk memblokir keberadaan mereka di media sosial karena konten mereka yang dinilai sudah menjurus ke pornografi.

Sepak terjang Awkarin sebagai seleb Instagram sudah dimulai beberapa bulan lalu. Awalnya sih, dia diomongin orang karena pose-posenya di Instagram yang agak berani. Bukan berani pamer badan ya, tapi berani menggunakan kata-kata kasar dengan dalih menunjukkan jati dirinya. Kemudian, nama dia menjadi lebih besar seiring dengan dia melebarkan sayap ke YouTube dan mulai merekam video kegiatannya. Puncaknya adalah video Awkarin tentang kejutan ulang tahun untuk pacarnya (sekarang udah jadi mantan), Gaga, yang selalu jadi tokoh utama di vlog Awkarin. Jadi di video itu, intinya Awkarin nangis-nangis di depan karena diputusin Gaga.

Anya Geraldine muncul tak lama setelah tenar Awkarin di internet, walaupun dia mengklaim nggak ngikutin Awkarin untuk bikin vlog. Sejauh ini, gue baru nonton beberapa video unggahan dia di YouTube, dimana diamengunggah video-video liburan ke Bali dengan pacarnya dan video pembuatan surprise ulang tahun untuk sang pacar. Wajar saja kalau Anya juga jadi buah bibir, karena banyak adegan di video tersebut yang mengumbar kemesraan, sesuatu yang dianggap nggak biasa di masyarakat Indonesia.

Sepertinya cukup deh gue menjelaskan tentang latar belakang Awkarin dan Anya Geraldine ini. Sekarang gue mau beropini tentang video-video mereka, dari kacamata orang berumur duapuluhsekian (yang ngetop disebut twentysomething), terutama di kesamaan mereka yaitu menganggap bahwa semua kegiatan mereka di media sosial adalah upaya mengekspresikan jati diri.

I’m gonna be as blunt as I can (maybe borderline with rude) on this question: Tahu apa sih, Anya dan Awkarin tentang jati diri? Umur-umur mereka yang masih remaja adalah umur-umur pencarian jati diri. Waktu gue umur 15-18 tahun, gue boro-boro bisa bilang gue ini siapa. Bisa jadi, jati diri yang mereka umbar di media sosial sebagai personal branding mereka yang sekarang, bukanlah jati diri mereka yang sejati. Namanya juga masih remaja, masih nyari-nyari siapa diri mereka sebenarnya. Terlalu dini untuk mereka menyimpulkan bahwa mereka bertindak mengikuti jati diri mereka di media sosial.

Hal lain yang gatel banget pengen gue omongin sebagai twentysomething ke dua remaja putri ini adalah… ingat kata pepatah ‘Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’. Ini masih berkaitan dengan tindakan-tindakan mereka yang dilakukan atas nama mengekspresikan jati diri. Kalau di Belanda sih, PDA sama pacar dianggap hal yang sudah umum, bahkan sudah jadi makanan sehari-hari. Demikian juga dengan kebiasaan mengekspresikan sesuatu dengan bahasa kasar atau mengumpat dalam bahasa Inggris. Toh negara ini menjamin kebebasan berekspresi, dan hidup individual adalah kunci di Belanda. Tapi kan, Awkarin dan Anya Geraldine tinggal di Indonesia. Negara yang 11 ribu km jauhnya dari Belanda, dengan adat istiadat dan norma-norma sosial yang berbeda. Negara yang mengernyit dengan pemandangan pamer kemesraan, karena memang sudah seperti itu dari awal mulanya. Sudah selayaknya deh menurut gue, kalau mereka berdua itu harus lebih menghargai kebiasaan yang ada di negara sendiri. Oke lah, kalau memang PDA dan ngomong kasar itu sesuatu yang mereka nilai ‘jati diri mereka’, toh mereka punya lingkungan pergaulan untuk menjadi diri mereka sendiri. Di bahasa Inggris ada pepatah birds of a feather flocks together, yang berarti orang-orang berpikiran dan berkebiasaan sama biasanya nongkrong sama-sama.

Hal yang ketiga yang bikin gue tergelitik adalah sanggahan dari mereka berdua dengan mengatakan bahwa semua liburan dan semua kegiatan senang-senang yang mereka lakukan itu pakai uang sendiri dan bukan uang orangtua. Nah, ini yang bikin gue heran. Jaman sekarang, anak muda semakin gengsi ya minta uang sama orangtua? Jaman gue remaja dulu sih, gue memang sudah ada rasa segan minta uang untuk nongkrong sama orangtua, tapi gue nggak pernah tuh menganggap bahwa minta uang ke orangtua adalah sesuatu hal yang memalukan atau tabu. Toh orangtua itu ada untuk membiayai kita sampai kita bisa mandiri secara finansial, kan (bahkan kalau udah bisa cari duit sendiri juga kadang masih dikirimin duit). Kemudian dari statement bahwa mereka udah bisa cari uang sendiri dan semuanya udah ditanggung pake uang sendiri, mereka sebel kalau orang men-judge mereka. ….hubungannya apaan? Mungkin mereka mikirnya gini, “Duit duit gue, kenapa lo yang ribut?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, bisa dilihat di paragraf sebelumnya. Oke lah, sudah sepantasnya mereka bangga karena mereka berhasil mencari uang di usia yang sangat muda (kalau di negara Barat sih hal ini udah maklum banget, tapi di Indonesia kan anak-anak masih menjadi beban orangtua dan sebaiknya jangan kerja), tapi kembali lagi… kita punya seperangkat norma dan kebiasaan yang patut dihormati.

Sepertinya itu aja deh dua sudut pandang gue. Kesimpulannya, jangan mudah menyimpulkan sesuatu sebagai jati diri lo. Bisa jadi justru lo sedang mencari jati diri, sehingga apa aja dicobain. Yang dikira nyaman, langsung dianggap sebagai jati diri. Padahal kan nggak begitu. Pencarian jati diri itu memakan waktu yang cukup lama, apalagi di masa remaja, suatu masa dimana peer pressure masih kencang banget. Ketika sudah menemukan jati diri, muncul lagi masalah lain yaitu mempertahankan jati diri, yang biasanya jaman sekarang disebut adulting. Nah yang ini diomonginnya entar aja, mereka dewasa juga belum, kan? Intinya ya gitu lah. Gue sih nggak mau menggurui, toh gue ngurusin diri sendiri aja masih gak beres, tapi gue punya dua adik remaja yang sangat gue sayang, dan gue nggak mau mereka berkaca kehidupan remaja yang ideal adalah seperti gaya hidup Awkarin dan Anya Geraldine. Kehidupan remaja seperti mereka berdua adalah kehidupan yang wajar di negara Barat, tapi belum pantas dikatakan wajar di Indonesia.

Iklan

47 thoughts on “Awkarin dan Anya Geraldine dari Kacamata Twentysomething

  1. Si Karin itu pertamanya ngehits di askFM say gara2 kbanyakan bohongnya (katanya), trus isi snapchatnya jg hedonisme gt2 *nambahin*
    Anyway gue setuju sama artikel lo Tal haha. Masalah pencarian jati diri bukan diumbar2 tp justru dinikmatin sendirian, merenung & fokus mencari tau maunya kita dalam hidup itu apa dan gimana.
    Masalah uang sendiri, ya suatu saat pun kita harus bisa mandiri secara finansial so itu bukan hal istimewa lah. Kebetulan aja mereka lebih cepat menghasilkan drpd tmn2 sebaya mereka.
    Trus reaksi mereka pas dikritik masyarakat. Anya legowo sementara Karin malah ngeluarin lagu rap yg kesannya defensing bareng Young Lex

    Suka

      1. Ada yg bohong tentang beli rumah bertiga temennya di suatu tempat di pinggiran Jkt dgn berbagai prosedur yg gak makes sense.. Aplg bokap temennya ada yg bule so secara birokrasi Indonesia dia gak masuk lah.
        Gongnya yg bohong ttg kampus~ katanya dia ngelepas FK UI demi Gaga, ternyata pas di-cek ke panitia registrasi nama Karin Novilda gada sbg mahasiswa baru. Yah mgkn itu harapannya dia ya 😝 masuknya malah ke Binus

        Suka

  2. Aku juga komen blunt ya. Dua anak ini seperti mengusung gaya hidup di barat. Aku bukannya kolot cuma mikir aja kalo pacarannya heboh kaya gitu dan kebobolan terus hamil gimana?

    Oh ya, yang di Geraldine dibionya tertera satan. Beneran dia satanist? Tengil – tengil amat anak jaman sekarang yah or I guess I’m old enough to be their mother ha…ha…

    Suka

    1. Nah itu dia mbak, kalo disini mah mungkin aku bodo amat ya, disini kan tentang sex ed gitu udah terjamin dan bukan barang baru. Nah di Indonesia kan masih serba tertutup, terus kalo misalnya mereka kasih contoh jelek gimana? Miris liat ABG pada komen “Ini relationship goals banget” dll padahal tau apaan sih relationship goals kalo cuma pegang sana sini dan ngumbar kemesraan, hahaha

      Disukai oleh 1 orang

      1. Itu orang tua mereka gimana ya? Aku seumur mereka juga lumayan lah dapet uang saku lebih dari cukup lewat job nari setelah sekolah tapi ngga tengil deh rasanya ha…ha…

        Tengil beneran, gemes banget lihatnya tapi mau komen di IGnya males, jadi komen disini aja ha…ha…

        Suka

      2. Mamanya Karin pernah muncul di salah satu vlog dia mbak, biasa aja bahkan seneng masuk kamera kok… Iya aku waktu sekolah juga sok sok jualan sana sini, nabung, akhirnya bisa dapet duit sendiri tapi ya masih minta ke orangtua… Kapan hari IG Karin pernah digembok sekarang udah dibuka lagi…

        Suka

      3. Mungkin ibunya comp/web illiterate? Jadi dia ngga tahu sepak terjang anaknya di dunia maya. They are all attention craving little girls who sell their dignity to whatever come with kaching.

        Suka

  3. Duh2 ada lagi yaa fenomena macam begini ini. Emang kalo anak udah punya duit sendiri berarti orang tua sudah nggak boleh ngatur anaknya lagi? Ya kan gak gitu juga, mereka adalah orang tua kita, ya sampek kapanpun kita hormat pada nasehat baiknya. Ya kan? Hm.. #kacau#

    Suka

  4. Mengkhawatirkan memang ya Crys, kemampuan cari uang jadi disalahartikan dengan tingkat kedewasaan seseorang. :/ Trus hehe, setuju, mereka terlalu bocah untuk bilang ini “jati diri gue”, elah, kalo kata orang jaman dulu sih, kencing aja belum lurus ngomong jati diri :P. Dan, mungkin gua beda generasi apa gimana ya, #relationshipgoals yang gua liat di IG mereka ini sumpah receh banget.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Itu gila si mereka menurut aku. Awalnya ga pernah liat sampe banyak banget yg ngomongin, terus akhirnya liat juga dan “meh”
    Btw ada juga yg pacaran kaya gitu (siapa ya namanya) cowonya udah lamar dia, terus ternyata cowonya hamilin cw lain. Mereka putus, terus cowonya bilang kalo dia ga akan nikahin cw yg dihamilin karena cw yg dihamilin juga ga mau dinikahin karena ga cinta. Akhirnya mereka balikan lagi

    Suka

      1. Gue kenal mereka dari askFM.. Beugh di AskFM lumayan banyak cerita seru Tal yg ttg pergaulan bebas itu, gue sih nikmatin aja buat sekedar tau. Waktu itu ada juga yg heboh namanya Vincentia Winata krn hamil di luar nikah sm oom2 kaya tp untungnya mreka nikah. Ada juga namanya Demijowo dia nikah muda krn hamil di luar nikah jg. OMG jd nge-gosip 😆

        Suka

      2. Ya ampun gue dari dulu gak ngikutin AskFM banget, yang gue ikutin cuma satu akun yaitu akun temen gue, dia aktif banget orangnya jadi menginspirasi gitu lah. Menurut gue ABG seumuran gitu, panggung artisnya ya lewat AskFM juga ya karena kan interaksinya tanya jawab jadi kayak interview gitu hehehe

        Suka

  6. bukannya klo kita udah bisa cari duit sendiri malah agak lebih hati2 ya mba buat buang2nya hehe… apalg utk abg kaya gt, trs liburan ke bali dgn hura2 kaya gt, agak2 gk percaya aja seh aku hehe.. btw aku cm liat video anya geraldine aja seh dgn hotel2 mewah dia itu dan pacar nya hahaha.. aku jg penasaran apa kt mba Yoyen, klo kebobolan dan hamil gmn ya? 😁 dan jg sama kata2 abg2 ‘ini relationship goals banget’>.<

    Disukai oleh 1 orang

  7. Terus terang tingkat keingintahuanku ga terlalu besar terhadap Awkarin dan beberapa orang lainnya yg tingkahnya nyaris sama. Berasa maleess banget karena baca2 dari twitter kok berasa mereka ini berlebihan segala sesuatunya. Dan karena grup wa sahabat2ku di Indonesia juga ga pernah bahas, berarti buat seumuran kami (mungkin) ga terlalu menghebohkan. Lebih heboh berita Agus Yudhoyono (haha ketauan eranya).

    Suka

    1. Lumayan lah ini Steph, semacam oase di tengah keribetan gue nyari kerja hahahaha! Iya ih kalo disini kayaknya anak remaja udah bisa nempatin diri untuk berbagai situasi, deh. Mungkin karena sejak kecil pola pengajarannya udah ke arah mandiri dan belajar bertanggung jawab kali, ya… (Bukan mandiri masalah bisa cari duit sendiri doang)

      Suka

  8. Baca komen2 diatas jadi gatel pengen ikutan komen lagi Tal 😆 Yang gue pikirin sih mereka itu ada kepikiran buat nabung buat masa tua gak, ya? Asuransi kesehatan, investasi gt2? Soalnya kalo di depan layar hedon bgt tp belakangnya gaktau deh beramal juga ato engga

    Suka

    1. Ya kita mana tau. Gue berharap sih mereka juga mikir jauh ke depan. Malas gosip juga karena kan gak jelas juga mereka nabung apa nggak. Yang jelas sepertinya intinya mereka ngerti banget tentang “pencitraan online”, deh. Jadi hidup mereka dibuat sedemikian rupa di jagat internet sebagai hidup menyenangkan, banyak duit, seneng terus, foya-foya dll. Balik lagi ke konsep sosial media, semua individu punya hasrat untuk jadi Spotlight, terserah mau pake pencitraan apa gak. Nah mumpung mereka artis internet, jadi pake pencitraan aja deh, sesuai merek-merek yang mereka endorse dan gaya hidup yang mereka sukai.

      Suka

      1. Iya betul tp kan segala sesuatu ada batasannya termasuk sharing di social media and as you said, budaya. Kayaknya masyarakat Indonesia masih belum bisa terima hal2 spt yg mereka lakukan secara terang2an deh, entah kapan siapnya.
        Anywaaayy, untungnya “kerja” secara online dan di bidang kreatif adl belum ada batasan usia tempat dan waktu. Mgkn krn mereka ngerasa masih muda & sehat walafiat makanya belum ngerasa askes, asuransi jiwa, tabungan masa tua dll penting krn belum urgent. Gue kasiannya sih kalo mreka lg asik2 ngvlog trus tb2 stroke atau serangan jantung smntra mereka sndri blm prepare, duh amit2. Semoga mereka gak knp2 dlm waktu dekat deh *ngelamar jd private assistant or consultant* 😂😂😂

        Suka

  9. Ini topiknya tentang si “Awkarin dan Anya” aja atau people of their kind juga??

    Well well.. Minggu2 trakhir ini gue agak nyinyir tentang orang2 yang populer di Instagram semacam mereka termasuk Juga Vania Christi sama Winny Putri Lubis.
    Maaf ya kalo komen gue disini mungkin completely out of topic yet in a kindred spirit.

    Gue agak gerah aja liat2 explore instagram dan ketemu selebgram seperti mereka yang bisa punya ratusan ribu followers dan likes based on what?? Ke seksi an mereka? Ke vulgaran mereka? Kecantikan selfie? Hedon lifestyle?
    Yang mana di halaman yang sama gue juga menemukan wanita2 selebgram yang juga dapet likes dan followers ribuan based what they do seperti traveller, jurnalis, pilot, model (real ones), polisi, tentara, dan lain sebagainya..

    Timbullah kemudian nyinyir kasar gue yang (maafin kekasaran kalimat gue) in short bunyinya “yahelah mbak.. Cewe2 uda pada jadi wanita karir, tentara, jurnalis, lo masi aja ngandelin te**k buat jadi selebgram.”

    Of course my statement cannot be justified since life is different one another, dan tidak semua orang memiliki cara serta kualitas berpikir yang sama. Jadi yaa… Continue nyinyirin ajalah. Gue rasa para seleb sosmed itu exist untuk satu dari 2 alasan kok. Di nyinyirin ato jadi inspirasi.
    Kita ga pernah tau yang sebenarnya terjadi “dibalik badan” mereka. “Ketakutan” mereka, beban mental mereka, semua hal yang hingga akhirnya membawa mereka ketitik hari ini.
    Sama halnya seperti eksistensi kita di sosmed hari ini, the same reason applied to them.
    Dari kacamata gue? Nyinyirin sambil ngemil yuk! 😎

    Suka

    1. Gue bahkan nggak tau nama nama lain yang elo sebut xD mungkin ini juga berlaku untuk selebgram dan selebask lain yang lagi cari fans kali ya. Eh tapi terakhir kali gue kepo Awkarin di Ask.fm dia (for Science), anaknya udah mulai bijak lho… Mungkin harus kena yang begini dulu kali ya. (jahat banget gue)

      Suka

  10. See? Nyinyir sometimes fun! Iya mungkin harus kena yang begini dulu, iya. Yeaahh bijak2 nya merekanya bijak umuran segitu lah. You know what I mean. Orang semakin expert semakin ga norak it’s applied to all life’s aspects.. Jadi ya, unless mereka mau berbijak untuk menjadi seperti MT, selama mereka masi norak di sosmed ya berarti masi mencari jati diri. Like you said, kids at their age!

    Suka

      1. Gue gak tau apa apa soal MT, ngapain lagi dia di Indonesia? Pendapat gue sih gue kadang suka malas lihat acara dia soalnya kadang dia suka agak misoginis… Tapi gue udah lama banget ga nonton acara dia di TV, hahaha

        Suka

      2. Go search it, when you have time. Masyarakat Indonesia lagi marah sama beliau kan.. Gue gapernah nonton acara beliau sih cuman dulu aja di awal awal beliau exist. Gi search it! Dia berantem sama anak nya yang ga di akui. *ah gossip kan ah*

        Suka

      3. One of the possible reasons, yes. Gue cuman merespon ke fenomena dari peristiwa yang berdampak ke masyarakat luas. Pendapat gue adalah “pohon kaktus kalo buah nya emas tetep di petik ato diliatin doang karna pohonnya berduri?”
        Yang mana hal kaya gitu masi sulit diterapkan di environment masyarakat subyektif Indonesia. Bukannya dukung MT si -idem. But like you said, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung

        Suka

  11. Opini aku pribadi sih biarin aja macem Awkarin begitu. Biasalah “anak” umur segitu “berisik” cari jati diri lah atau apalah, jaman dulu pas aku seumuran dia ngga ada sosmed jadi ga seheboh sekarang.

    Mau dia jumpalitan atau posting apalah di internet suka2 dia. Yang aku justru ga suka adalah audiensinya yang “ekstremis” di Indonesia, worshipping or condemning. Tergantung ikut grup yang mana. Most Indonesians can’t pass the opportunity to judge the likes of her, be it a good one or a bad one.

    Aku rasa audiensinya aja yang perlu chill dan perlu tau kapan harus ngurusin/ngomongin hal yang ga penting/ yg mereka suka/ga suka, sayangnya kebudayaan kita yang nosy/want to know aja mendominasi sosmed sih :/

    Kalau orang ignore dia klo si Awkarin ini aneh2 ya pasti gaungnya dia ya ga ada. Istilahnya- makin diomongin makin panas!! 😁

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s