What a Difference Two Years Make


Sudah beberapa bulan ini, gue merasa diri gue berubah. Bukan berubah ke arah yang lebih baik, tapi malah ke arah yang lebih buruk. Gue jadi gampang banget cemas untuk hal-hal yang mungkin hanya ada di pikiran gue, gue jadi gampang takut menghadapi hari esok, gue jadi terlalu banyak mikirin hal-hal yang belum tentu kejadian… bahkan beberapa hari lalu, saat gue iseng minta temen gue bacain kartu tarot buat gue, kartu yang keluar hampir semua adalah kartu-kartu yang ada gambar pedang, yang menjadi simbol dari pikiran.

Intinya, I’m consumed by my own thoughts, about everything that revolves in my life. About the never-ending job search I keep doing every day, about the nonstop rejection letters that are piling up in my inbox, about everything. Gue merasa dikejar-kejar oleh waktu, dan gue merasa bahwa gue nggak akan punya cukup waktu untuk menjalani semua hal yang mau gue lakukan.

Kemudian, tiga hari yang lalu gue menerima e-mail dari FutureMe.org. Dua tahun yang lalu pada tanggal 19 Oktober 2014, gue sempat buat surat untuk diri gue sendiri dan gue memrogram surat itu untuk dikirimkan ke e-mail gue pada tanggal 19 Oktober 2016. Dua tahun yang lalu, gue baru dinyatakan lulus seleksi beasiswa, baru dinyatakan jadi mahasiswa baru Leiden University, dan baru satu bulan keluar dari tempat kerja. Gue masih ingat perasaan gue sekitar bulan itu; gue merasa sangat optimis, senang, bahagia, merasa gue bisa melakukan apa aja. Saat itu gue masih berumur 23 tahun, dan sejauh ini gue paling suka umur 23 tahun.

Gue dapat surat itu beberapa saat sebelum tidur, kemudian pas baca gue nangis… Gue nangis ngebaca surat dari diri gue sendiri dua tahun lalu, gue nangis ngeliat betapa optimisnya diri gue dua tahun lalu dalam menasihati diri gue dua tahun kemudian. Crystal dua tahun lalu sangat optimis tentang bertumbuh dewasa, Crystal dua tahun lalu bahkan berhasil meramalkan Crystal sekarang nggak tinggal di Indonesia. Terus… Crystal dua tahun lalu cerita banyak soal karir, soal memegang teguh prinsip, dan soal pacaran. Crystal dua tahun lalu sangat optimis bahwa Crystal yang sekarang nggak boleh menurunkan standar hanya untuk dapat uang atau punya pacar. Gue bisa bilang Crystal yang dulu jauh lebih punya integritas daripada Crystal sekarang.

Tapi mungkin Crystal yang dulu lebih punya integritas dan lebih idealis daripada Crystal yang sekarang karena Crystal yang dulu lebih suka menjalani hidup yang itu-itu aja. Lebih suka rutinitas, lebih suka bergaul sama orang yang sama setiap minggu, lebih suka hidup damai dan tenang kayak nenek-nenek. Sementara Crystal yang sekarang jauh lebih ‘gahar’ dalam hidup dan menjalani pekerjaan apa saja untuk menyambung hidup dan menambah pundi-pundi. Crystal yang dulu berpikir, hidup dia hanya akan dihabiskan di Indonesia, punya pacar juga boro-boro kepikiran. Sementara Crystal yang sekarang percaya dia bisa pergi bekerja dimana saja, dan udah mulai mikir punya pacar juga. Alasan Crystal yang dulu kenapa nggak punya pacar adalah dia nggak yakin bakal ada cowok yang tertarik sama dia. Crystal yang sekarang berhasil mematahkan teori tersebut dengan sedikit berkompromi dengan kenyataan di dunia luar.

Tetap saja… setelah membaca surat dari Crystal dua tahun lalu, gue jadi rindu Crystal yang lama. Crystal yang bahagia, yang santai menjalani kehidupan, yang selalu percaya akan tiba waktunya dimana semua akan baik-baik aja dan sesuai dengan harapan dia. Mungkin Crystal yang sekarang harus menambah sedikit hal baik dari Crystal yang lama ke kehidupannya di jaman sekarang. Mungkin Crystal yang sekarang harus lebih banyak sabar, lebih banyak push through, lebih banyak bersyukur.

Bottom line, gue merasa bangga bahwa gue pernah menjadi Crystal yang bahagia dan Crystal yang optimis. Sekarang saatnya menyuntikkan sedikit kebahagiaan dan sedikit optimisme ke hidup gue yang belakangan ini kebanyakan takut sama pikiran sendiri. Time to kick back.

Iklan

14 tanggapan untuk “What a Difference Two Years Make

  1. Welcome to quarter life crisis tal… Yang lo alamin sekarang ini juga udah gue alamin beberap tahun yang lalu. Sekarang ini belum sepenuhnya ilang sih… tapi uda lumayan mendingan. Menurut gue ini prosesnya kita untuk jadi dewasa… Kalo gue selama ini tetep berusaha untuk semangat dan tetep berpikir positif aja, kalau suatu hari pasti akan lebih baik. Yang penting jangan berhenti berjuang untuk mencapai mimpi2 lo tal… Semangatttt!!!!

    Suka

      1. iyaaa… kalo gue belakangn ini sering cemas kalo harus ngambil suatu keputusan. kayaknya banyak banget yang dipertimbangin. Kalo dulu lebih enteng bikin keputusan walaupun risikonya sama gedenya… tapi menurut gue ini yang nandain kalo gue makin dewasa…

        Suka

      2. Nah yang itu gue belum sampe karena kan gue masih hidup sendiri, belum ada individu lain yang harus gue perhatiin juga untuk mengambil keputusan. Sekarang kayaknya gue masih dikasih pelajaran disuruh lebih santai menanggapi waktu walaupun waktu berasa kayak cepet banget gitu… dan disuruh belajar untuk sedikit fleksibel sama kemauan kita sendiri. Hiks agak susah apalagi untuk orang yang suka banget berencana kayak gue

        Suka

  2. Wah asyik tuh dapat surat dari diri sendiri. Saya sendiri kadang-kadang mikir berlebihan tentang masa depan dan teringat saat masih anak-anak yang selalu bahagia karena nggak mikirin apapun kecuali bermain. Klo boleh kembali mengulang kehidupan, maka saya lebih suka menjadi anak kecil lagi.

    Suka

  3. Salam kenal Crysta…I do hope you are doing fine now…. Kalau aku boleh kasih pendapat sih, kamu dalam tahap berhati-hati dalam menentukan sesuatu. Kalau waktu muda dulu kan, semau aja, nggak mikir a,b,c nya…
    You will be ok dear 🙂 tetep semangat dan tetep positive ya..Maaf tidak ada maksud menggurui, Aku juga pernah ada diposisimu 😉

    Suka

  4. Semangat Mbak. Kata orang untuk meraih keberhasilan yang besar memang mesti banyak kegagalan dulu. Tulisan ini justru bagi saya sudah optimis banget, dan saya yakin Mbak bisa dapat yang Mbak inginkan. Yang penting melalui membaca surat atau masa lalu itu kita sudah yakin lebih baik dari hari kemarin, hehe, dan untuk menenangkan hati dan bersyukur, saya rasa itu sudah cukup. Kalau kata orang (lagi), hari besok memang masih misteri tapi ya sudahlah ya, lakukan saja yang terbaik untuk hari ini. Sekali lagi semangat!

    Suka

  5. Futureme.org noted!
    Jadi pengen nulis surat ke diri sendiri 😊

    Aku sempet kayak gini sebelum nikah.. Ngerasa tanggung jawab nambah, tapi hidup kok gini gini aje.
    Udah gitu aku orangnya suka mikir, dalem kepala aku tuh ‘berisik banget’.
    Ibarat di awal bulan udah mikirin rencana detail A-Z sampe akhir bulan dan kalo ada yang gak sesuai rencana rasanya senewen berat. Gak santai. Sampe beberapa kali vertigo berat. Muntah muntah. (heboh)

    Pelan pelan mensugesti pikiran supaya lebih fleksibel & santai.
    Sekarang sih pikiran masih suka berisik mikirin ini itu, kalo udah gitu biasanya aku rayu dengan nonton / bacain artikel boredpanda 😅

    (hugs) you’ll be okay ❤ Pikirannya dirayu aja buat mikirin yang happy happy.
    Aal izz well.

    Suka

  6. Dari pengalaman aku, semakin tua aku jadi semakin gampang khawatir. Mungkin juga karena tanggung jawab semakin banyak ya. Padahal mah kerja, hidup, gini-gini aja. Tapi mungkin ini prosesnya menjadi dewasa. Dan masa-masa nyari kerjaan emang paling rentan rendah diri, keadaan ga pasti dan masa depan karir kok kayak PHP melulu. Ngasih harapan tapi terus menghempaskan, eaakk… Tapi masa depan kan kita ga tau, ga selalu buruk, dan seringkali lebih baik. Kalo aku bisa nulis surat buat aku bbrp taun yang lalu saat luntang lantung cari kerjaan: nikmatilah hal-hal kecil seperti bisa bangun siang, punya waktu buat diri sendiri, dll. Nikmati aja hari ini, besok mah gimana entar, yang penting surat lamaran jalan terooss 😀

    Suka

  7. Saya baru 18 tahun, tapi saya sedikit banyak mengerti rasanya seperti itu …
    Soalnya saya juga pernah mikir, saya yang kecil kelas 4-6 sd orangnya optimis, periang, ya memang rutinitas itu-itu saja, tapi merasa bahagia. Itu tahun2 emas saya ketika pelajaran sekolah, bahkan skill seni saya sangat pesat perkembangannya. Tapi entah kenapa sejak smp sampai saat ini (awal kuliah) hidup makin cepat cemas, menyendiri, kadang nangis sendiri (padahal saya cowok)
    Mungkin kegiatan saya nggak terlalu rutin dan banyak variasinya , nggak seperti saya yang waktu kecil.
    Tapi sekarang saya harap kehidupan saya berutinitas dan lebih sederhana, asal lebih bahagia. Saya nggak peduli keliling dunia, melakukan hal besar, dsb. Saya sekarang ingin hidup di dunia kecil saya yang tenang, dan lebih bahagia bersama orang2 terdekat saya…

    Yang penting adalah saat ini, semoga kita bisa lakukan yang terbaik, dan lebih menghargai saat ini. 😃

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s