Sakit Perdana


Minggu lalu rasanya gue masih ingat bagaimana merencanakan berbagai rencana nongkrong bersama kawan di minggu ini. Siapa sangka semuanya harus runyam karena satu perkara: sakit?!!!?!!

Udah gitu, sakitnya sakit anak-anak pula. Yap, seminggu ini gue terpaksa bed rest karena sakit amandel. Bikin malu banget ya, umur udah tua tapi sakitnya malah sakit anak-anak.

Semuanya dimulai dari hari Sabtu minggu lalu. Gue mulai menemui adanya kejanggalan di amandel kanan gue ketika makan malam bersama teman gue. Kala itu gue berpikir, “Ah paling-paling juga mau radang tenggorokan”. Gue yang selalu jadi pasien radang tenggorokan setiap pergantian musim pun jadi cuek, tindakan preventif yang gue lakukan hanya beli jeruk lemon, madu, dan jahe (baca: ramuan manjur setiap gue sakit radang).

Di hari Minggu, semuanya juga normal. Gue pergi bekerja dan nggak terlalu komplain apa-apa tentang kesehatan gue, paling hanya komplain sakit kepala. Tapi itu kan juga wajar. Tapi di malam harinya, sakit kepala gue semakin menjadi, dan gue menemukan adanya titik-titik semacam jerawat kecil berwarna putih di amandel kanan gue. Barulah gue panik, What the heck is going on?

Ternyata siksaan gue dengan penyakit amandel baru dimulai pada hari Senin. Gue sudah terlambat untuk mengajukan izin nggak masuk kerja ke bos, sehingga terpaksa gue datang. Selama bekerja, yang gue pikirin cuma gimana caranya bisa pulang cepet, karena badan gue lemes banget, susah makan, susah ngomong, sakit kepala, pokoknya macam-macam deh. Gue mengeluh gue sakit amandel ke kolega gue dan dia langsung bertukas, “Wah, harus dioperasi itu!” Gue langsung kaget karena gue boro-boro punya duit dan gue nggak mau operasi! Pokoknya setelah itu gue cuma punya satu tekad di pikiran gue: sembuh dari amandel tanpa harus operasi.

Untungnya jadwal kerja gue nggak dimulai lagi sampai hari Minggu, sehingga setelah bekerja hari Senin gue punya banyak waktu istirahat. Ternyata sakit amandel itu bener-bener SAKIT ya. Gue heran banyak banget orang yang menganggap remeh penyakit ini. Masa iya dianggap remeh ketika lo nggak bisa makan, nggak bisa batuk, nelen ludah pun sulit (dan ironisnya, produksi air ludah di mulut lo seakan meningkat), lama-lama jadi nggak bisa ngomong, nggak bisa minum, dan tenggorokan berasa kayak makan beling??? Belum lagi sulit tidur, masalah pernafasan, dan lain-lain.

Udah nggak tahan, di hari keempat akhirnya gue pergi ke klinik. Banyak yang sangsi dengan keputusan gue ini karena dokter Belanda kan pelit banget ngasih obat, tapi gue nggak peduli, gue udah ngerasa tersiksa selama empat hari. Setelah bercerita ke si dokter dengan terbata-bata (suara gue udah mulai berubah karena bercak putih di kedua sisi mulai membesar), si dokter mengecek dan nggak pake komando apapun lagi langsung ngasih gue antibiotik.

Nah. Di bagian ini gue bingung lagi. Bu dokter bilang bahwa dia memberi gue resep antibiotik selama 3 hari yang harus dihabiskan. Satu hari satu tablet. Dia bilang lagi, “Efeknya akan terlihat setelah hari kedua”. Plus dia bilang kalau sulit tidur atau sakit kepala, cukup pakai paracetamol juga bisa membantu. Kemudian gue pergi ke apotek untuk menebus obat. Beneran lho, antibiotiknya cuma tiga tablet, beda banget sama antibiotik Indonesia yang bisa diminum sampai 7 hari. Oke deh, setelah menebus obat, sampai rumah gue merelakan tenggorokan gue menelan serpihan beling (alias minum antibiotik pakai air).

Di saat-saat seperti ini, gue kangen dengan tendensi dokter Indonesia yang dikit-dikit ngasih antibiotik, cepat tanggap pula. Gue ingat waktu kecil selalu diberi antibiotik ketika demam dan paginya selalu bangun dengan lebih segar. Ternyata waktu tunggu untuk antibiotiknya bekerja itu justru jauh lebih menyakitkan. Ada satu hari dimana gue nggak bisa makan karena nggak punya nafsu makan dan semua yang masuk ke mulut akan gue keluarin lagi karena rasanya berbeda.

Suatu malam, di hari kedua menuju hari ketiga pemakaian antibiotik, gue mengalami sakit tenggorokan yang luar biasa sakitnya. Mau menelan apapun nggak bisa, gue sampai menangis. Kejadian itu berlangsung sekitar 3 jam. Kemudian entah kenapa gue merasa ingin batuk, dan gue lari ke kamar mandi dan akhirnya gue berhasil batuk! Yang keluar adalah cairan lengket berwarna kuning yang warnanya mirip dengan bercak di amandel gue. Setelah batuk perdana itu, gue jadi lebih mudah batuk dan tenggorokan gue jadi jauh lebih toleran terhadap cairan, terutama air dingin. Untuk makanan, saat ini gue masih makan makanan lunak, dan selera makan gue sudah kembali. 

Sekarang gue sudah masuk hari kedua pasca pemakaian antibiotik terakhir, dan syukur semuanya jadi jauh lebih mudah. Gue memilih untuk minum cairan isotonik seperti Pocari Sweat sebagai pengganti air, karena gue masih merasa eneg dengan rasa air di tenggorokan gue. Batuk juga jadi lebih mudah, dan suara gue pelan-pelan mulai kembali. Semoga masa penyembuhan ini berlangsung lumayan cepat ya.

Pesan pesan untuk kalian yang belum pernah sakit amandel: KALAU BISA JANGAN SAKIT! Serius, ini adalah salah satu penyakit paling bikin paranoid dalam hidup gue. Pokoknya penyakit yang merampas hak gue untuk makan, akan gue benci, amandel salah satunya. Sepertinya setelah ini gue akan mengurangi makan pedes karena takut amandel gue kambuh karena pedes. Ogah banget gue menjalani sakit amandel untuk kedua kalinya!

Bagi yang pernah sakit amandel, gimana pengalaman kamu?

Iklan

18 thoughts on “Sakit Perdana

  1. Amandelku dulu sering kambuh sampai badan panas berhari2, dan sama Ibu selalu dikasih antibiotik. Tapi ga sampai seminggu Crys, hanya 10 kali minum, sehari 3 kali. Yang ngeresepin dokter, jadi setelahnya ikut yg diresepin. Karena sering kambuh, ibu minta untuk dioperasi yg ditolak sama dokter karena aku setiap tahun selalu sakit tipes. Kata dokter, kalau amandelnya ilang, akan semakin berpengaruh ke daya tahan tubuh. Dan kamipun percaya. Setelah kuingat2 lagi sekarang, sudah lebih 10 tahun amandel ga pernah kumat (ga minta juga), tipes yg setiap tahun datang terakhir pas SD, lalu datang lagi pas aku di Jkt kumat 2 tahun berturut, setelahnya ga ada lagi (8 tahun lalu). Sejak aku mengubah pola makan (8thn lalu) dan rutin olahraga, rasa2nya dulu yg aku ringkih gampang sakit (flu setiap bulan), jadi bersyukur ga gampang sakit lagi. Bahkan dengan cuaca Belanda yg aduhai ini, selama 2 tahun ini belum pernah sakit (bahkan flu pun belum pernah).
    Semoga segera membaik ya Crys sakitnya.

    Suka

  2. Cepat sembuh yah Crystal.. Aku dulu perna sakit amandel parah sampe bengkak dan sudah hampir dioperasi, H-1, disuntik ama dokter dan disuruh kumur obat luar betadine, ga nyape 1/2 jam, bengkaknya pecah dan *sorry* isinya nanah semua. Akhirnya ga jadi operasi dan itu terakhir kalinya sakit amandel ( kyknya kelas 1 SMP deh dulu) Jangan sampai balik lagi deh.. Amit2..

    Suka

  3. Iya, amandel memang sebaiknya tidak dioperasi, saya pernah baca itu isinya massa darah putih, berkaitan dengan daya tahan tubuh, kalau dioperasi kemampuan daya tahan tubuh bisa sedikit menurun. Cuma harus dijaga supaya radangnya jangan sampai ke sana, komplikasinya bisa p.a.r.a.h. Operasi baru disarankan kalau amandelnya sudah membengkak gede banget dan hampir menutup jalan pernapasan. Itu mesti segera dioperasi.
    Saya dulu waktu kecil sering banget radang amandel. Setiap bulan minimal sekali. Ya sampai berbercak-bercak begitu juga, hehe. Terus sama orang tua dikasih obat tradisional, kalau tak salah air jeruk nipis dan kapur sirih. Sampai sekarang kalau kumat lagi, tak sampai bercak-bercak putih lagi, paling cuma merah doang dan radangnya pergi ke tempat lain. Barusan sempat kumat sih amandelnya, tapi radangnya jadi menjalar ke telinga tengah dan hampir setengah bulan gendang telinga saya dipenuhi nanah.

    Suka

      1. Sakit. Apalagi pas waktu itu sering naik pesawat, siksaan banget. Kata dokter THT kalau dibiarin terus gendang telinga bisa pecah, kemudian jadi congekan. Untungnya saya kemarin nggak sampai pecah karena cepat ke dokter dan diberi obat semprot hidung buat melancarkan saluran penghubung telinga dan tenggorokan yang tersumbat itu.
        Setelah itu saya dikasih antibiotik yang mesti diminum 2 kali sehari selama seminggu penuh.
        Kalau saya boleh kasih saran, banyak-banyak istirahat, Mbak. Minum air hangat. Memang sakitnya tenggorokan seperti diiris-iris tapi itulah obat buat meredakan amandel bengkak. Saya saja kemarin minum seteguk sudah mau nangis. Sakit banget.

        Suka

      2. Iya Gara ini aku seminggu ini istirahat terus… untuk minum, aku lebih suka air biasa karena kalau air hangat rasanya kayak ditusuk tusuk pakai pisau sementara air biasa lebih menyegarkan. Ini amandel aku juga udah mengecil kok, walaupun sakit menelannya masih sama.

        Suka

  4. Gw malah baru inget kalau amandel gw udah gak pernah kambuh lagi ( knock on the wood ), beneran penyakit pas masih kecil bgt kalau gw Crys. Kebayang deh pasti gak enak semua2nya ya, radang tenggorokan gw jg kalau datang bisa demam parah, semoga cepat membaik ya..

    Suka

  5. Cepet sembuh ya Cryst. Wah sama banget ini aku juga rentan banget urusan tenggorokan dan flu, paling gampang tumbeng gara-gara ini. Waktu kecil sih sering amandel, lalu sempet kambuh lagi waktu umur 24, abis recovery dari komplikasi tipes dan patah hati 😀 Abis itu amandelnya aman, tapi beberapa kali radang tenggorokan. Taun kmaren kena step throat udah macam anak SD, malu pas lapor ke bos, tapi ya step throat juga kan bakteri (eh atau virus ya) jadi gw ga mau keliaran di kantor jadi sumber penyakit. Kalo lagi kambuh sama juga, aku susah minum air putih, abis rasanya kok eneq, biasanya dikasih perasan lemon. Belom tau juga gimana caranya bisa tahan banting. Gw mau baca buku You Can Heal Yourself-nya Louis Hay ah, karena menurut temen gw yang wholistik dan tercerahkan, semua penyakit yang ‘recurring’ itu asal muasalnya adalah psikologis 😉

    Suka

    1. Iya Dit, malu banget ya sakit beginian pas gede, harusnya amandel dan strep throat itu kan penyakit anak-anak akibat kebanyakan makan Chiki 😛 Kemarin gue bertahan dengan minum Pocari Sweat dan makan puding terus… Nggak berani sama sekali makan bubur, nelennya aja berasa mau nangis.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s