Tentang Nasionalisme, Terutama Untuk Perantau.


Sebenarnya gue udah lama sekali pengen nulis tentang hal ini. Tapi selalu tersendat-sendat karena gue yakin opini gue ini adalah opini yang cukup kontroversial dan kemungkinan besar gue akan kena bully jika menyuarakan pendapat gue tentang hal ini keras-keras. Tapi akhirnya gue memutuskan untuk menulis tentang hal ini di blog gue untuk bikin hati lega.

Gue memang belum lama merantau. Minggu lalu tepat dua tahun gue merantau di Belanda. Satu tahun pertama merantau sebagai mahasiswa, tahun berikutnya sebagai pencari kerja. Hidup merantau itu memang susah-susah gampang. Kebebasan dan kehidupan baru yang kita dapat harus dibayar mahal dengan pengorbanan tidak bertemu keluarga dan teman selama waktu yang nggak bisa ditentukan. Belum lagi hal-hal kecil seperti kangen gerobak bakso, gerobak bubur ayam… (lho kok ngomonginnya makanan)

Kemudian ada lagi satu hal kecil tapi cukup penting: nasionalisme. Terus terang, gue udah bosen banget denger kata-kata orang yang sok tahu tentang orang muda Indonesia yang harus kembali ke negara asal untuk membangun negara. Sentimen ini udah gue lihat cukup lama dari beberapa teman gue sesama pelajar yang akhirnya memilih untuk kembali ke Indonesia, dan dari beberapa kiriman twit dari teman internet tentang orang-orang di Indonesia yang berkata hal yang senada. Orang-orang dengan mental seperti ini seolah menganggap orang Indonesia yang memutuskan untuk tinggal, belajar, atau bekerja di luar negeri itu seperti orang yang nggak tahu akarnya. Walaupun mereka nggak ngomong itu secara langsung, tapi gue tentu saja bisa lihat tendensinya dari pemilihan kata yang digunakan dan juga raut wajah serta nada bicara yang dipakai. Sudah berapa kali gue harus pasang muka datar kalau ada teman yang mau pulang ke Indonesia kemudian menyindir gue dengan kata-kata, “Ditunggu kembali ke Indonesia, ya…” Dalam hati pengen jawab, “Lah, orangtua gue aja nggak nungguin gue balik, siapa elu nyuruh-nyuruh gue pulang?”.

Entah kenapa kok gue jadi merasa seperti warganegara kelas dua ya kalau ketemu masalah seperti ini. Memangnya yang namanya nasionalisme itu bisa diukur dari paspor hijau atau hasrat menggebu-gebu untuk kembali ke Tanah Air setelah melanjutkan studi atau mencapai target tertentu dalam bekerja? Terserah mau ngomong soal nasionalisme seperti apapun, tapi gue tetep percaya dengan definisi nasionalisme dari Benedict Anderson yang menganggap bahwa nasionalisme adalah konsep dari sebuah imagined community. Buat yang penasaran dengan teori ini bisa langsung ke Google aja, artikelnya di Wikipedia lumayan ‘bener’ kok untuk dibaca orang awam.

Di sisi lain, gue juga nggak menyalahkan orang-orang Indonesia yang memutuskan untuk kembali ke Tanah Air selepas studi atau kontrak kerja selesai. Gue merasa bangga melihat masih ada orang Indonesia yang mau kembali ke negara asal untuk membangun negara. Negara kita memang butuh orang-orang seperti ini. Tapi bukan berarti yang mayoritas bisa menghakimi golongan orang Indonesia minoritas yang memutuskan untuk bekerja dan studi di luar negeri. Yang namanya membangun negara itu harus dua arah, dari dalam dan dari luar. Membangun sistem bisa dari dalam negeri, dan membangun persepsi internasional terhadap Indonesia bisa juga dari luar negeri. Sama-sama ambil bagian dalam memajukan negara, toh?

Gue pernah bertemu seorang ibu orang Indonesia yang cerita secara gamblang tentang kehidupannya di Eropa. Jadi ibu ini waktu masih muda kuliah di Austria, kemudian bekerja, menikah, dan punya anak. Semuanya di Austria. Tapi saat itu, ibu ini masih berkewarganegaraan Indonesia. Akhirnya setelah beberapa tahun, ibu ini memilih untuk jadi warganegara Austria. Dia sampai menangis waktu melepaskan paspor hijaunya di KBRI. Setelah dia menjadi warganegara Austria, perlakuan staf KBRI terhadapnya berubah drastis, dari yang sangat ramah jadi sangat cuek. Kemudian gue jadi berpikir, kenapa ibu itu harus mengalami perubahan perlakuan setelah dia pindah warganegara?

Jadi, untuk orang-orang yang pemikirannya masih sempit yang mikir bahwa nasionalisme bisa diukur dari keharusan untuk kembali ke Indonesia, kayaknya pemikirannya harus diperluas lagi, deh. Jaman sekarang tuh udah jamannya globalisasi. Ada banyak sekali faktor-faktor yang menentukan seseorang mau tetap tinggal di negara tempat merantau atau kembali ke Indonesia. Mungkin rejekinya memang ada di negara tempat merantau tersebut, atau memang dia merasa jauh lebih cocok tinggal di masyarakat tempat dia merantau sekarang. Nggak semua orang Indonesia cocok dengan budaya masyarakat di negaranya sendiri. Bisa jadi setelah merantau, dia lebih merasa cocok dengan masyarakat tempat dia merantau. Faktor-faktor lain yang bisa ikut main adalah faktor keluarga baru, teman-teman yang lebih cocok, atau punya pacar/dapat suami di negara tempat merantau.

Bukan berarti kami nggak mau kembali ke Indonesia. Rasanya kalau Indonesia itu dekat, pengen pulang kampung aja setiap akhir minggu. Tapi menurut gue yang namanya hidup itu harus ada tantangannya, jadi kalau menurut gue hidup merantau adalah tantangan yang cukup menggiurkan untuk dijalani, mau bilang apa? Kalau mau aman, memang selalu ada opsi untuk kembali ke Tanah Air dan bekerja dengan gaji berlipat ganda. Perusahaan mana sih yang nggak mau lulusan luar negeri. Tapi gimana dong, gue memilih untuk mengejar kepuasan hidup. Untuk gue pribadi, tinggal di Belanda itu puas banget. Ada sesuatu yang bikin hangat, tapi gue juga nggak bisa jelasin gimana rasa hangatnya. Kalau kata John Mayer di lagunya yang berjudul Badge and Gun:

This house is safe and warm

But I was made to chase the storm

Bagaimana dengan kamu, terutama yang perantau? Bagaimana pendapat kamu tentang nasionalisme untuk perantau? Apakah orang Indonesia wajib untuk kembali ke Tanah Air? Atau orang Indonesia jdiharapkan untuk menjadi bagian dari komunitas ekspatriat? Silahkan berdiskusi di kolom komentar. Diskusi yang sopan akan sangat sangat dihargai 🙂

 

Iklan

40 thoughts on “Tentang Nasionalisme, Terutama Untuk Perantau.

  1. Tos dulu ah. Gw juga sering banget kepikiran hal ini. Sering merasa berdosa karena ga punya setitik nasionalisme atau imagined community atau apapunlah. Gw sih sekarang kerja dimana ada rejeki. Soal kewarganegaraan, gw sering kepikiran setiap orang harusnya bisa jadi warga negara mana saja sesuai kepribadian dan visi misi negara tujuan 😀 Toh gw ga memilih dilahirkan di Indonesia, apa yang membuat gw harus cinta mati sama Indonesia? Bukannya juga lalu kebarat-baratan dan apa-apa merujuk negara maju, kita kan individu bebas jadi gw bisa memilih apa yang gw suka dari Indonesia. Don’t get me wrong, bagaimanapun juga Indonesia adalah kampung halaman, disanalah keluarga yg gw cintai tinggal dan gw sberusaha/berharap/berdoa agar hidup di Indonesia semakin berkualitas.
    Tapi buat gw lebih penting jadi orang baik dan berkarya dimana saja, ga ada batasan negara. Garis negara juga buatan manusia.

    Disukai oleh 3 orang

    1. NAH ini dia nih! Dita udah baca Garis Batas-nya Agustinus Wibowo, belom? Kalo belom, wajib bener baca, soalnya itu buku tentang bagaimana masyarakat dipisah-pisah karena garis negara, dan bagaimana nasionalisme kadang membutakan suatu masyarakat. Keren abis lah bukunya.

      Suka

      1. Titik Nol biasa aja menurutku. Bagus sih, tapi nggak se-captivating yang itu. Yang Garis Batas menurutku paling bagus. Kalo nggak salah ada bahasa Inggrisnya, walaupun paling enak dibaca pakai bahasa Indonesia karena bahasanya Agustinus mengalir bagus banget.

        Suka

  2. Keluar juga tulisan ini Crys 😁 aku punya pengalaman gini. Pas kuliah S2, kan awalnya daftar beasiswa Dikti (seingatku). Itu beasiswa double degree, jadi tahun pertama di ITS, tahun kedua di NTUST Taiwan. Waktu masuk tahun kedua, saatnya aku berangkat ke Taiwan. Aku mengajukan proposal penambahan biaya penelitian di Taiwan karena memang penelitianku melibatkan pembuatan barang. Cari tambahan biaya dari pihak kampus (ini aku bukan mau ngejelek2in kampus sendiri ya karena bagaimanapun aku cinta sama ITS, kalo nggak mana mungkin sampai 3 kali kuliah disana😅), ga dapet2. Ada aja alasan mereka. Sampai aku mengajukan ke LPDP juga ga dapet karena memang tidak sesuai syarat dan kondisi dari mereka. Aku ingat banget aku nangis di ruangan S2 karena merasa kok susah sekali dapat support dari pemerintah. Trus aku dapat kabar dari professor di Taiwan kalau mereka akan bantu meskipun ga semua. Trus aku mbatin, aku ga mau kedepannya kerja di Indonesia. Kayak semacam kecewaaa banget ada anak bangsa yg niat buat menuntut ilmu cari support biaya buat penelitian aja susah. Pada akhirnya aku ga jadi berangkat dan menyelesaikan kuliah di ITS, karena alasan pribadi. Sampai tahun lalu aku masih berkomunikasi dengan professor yg di Taiwan, Beliau berharap aku bisa meneruskan ide risetku di Belanda. Jadi sejak saat kejadian itu, aku berpendapat bahwa dimanapun kita berada, menjadi yg terbaik di bidang kita itu lebih utama. Selama ada kesempatan dan dihargai buah pikir kita, dimanapun itu ga jadi masalah. Toh darah yg mengalir di tubuhku jelas2 darah Indonesia. Ga ada hubungannya nasionalisme dengan dimana kita tinggal. Eh kepanjangan komennya. Kalau ingat jaman2 itu jadi agak2 gimanaa gitu rasanya.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Hahaha mbak nggak apa komen panjang, aku senang bacanya. Salah satu alasan yang sering diberikan untuk menjawab pertanyaan “kenapa nggak mau balik” adalah alasan seperti yang mbak kemukakan. Memang, sayangnya negara kita masih terlalu birokratis untuk masalah pengajuan dana dll. Aku masih ingat dulu ketemu dokter yang bikin alat mengobati kanker, buka klinik di Indonesia, kemudian kliniknya harus ditutup karena katanya nggak sesuai dengan standar kesehatan. Padahal banyak negara maju yang berlomba-lomba minta hak paten (atau berlomba-lomba mau membiayai risetnya, lupa juga ceritanya gimana) untuk alat buatan dia tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk berkarya di luar negeri, kalau ngga salah di Jepang atau Taiwan, yang uangnya lebih mudah untuk biaya riset dll. Kalau nggak salah sudah ada beberapa orang yang lumayan prominent di Indonesia yang mau menggalakkan kemajuan iptek di Indonesia dengan cara memudahkan pencairan dana riset, semoga tahun-tahun kedepannya ada lebih banyak ilmuwan Indonesia yang didukung oleh negaranya sendiri.

      Suka

      1. Aku dulu juga sampai berharap, semoga angkatan setelahku semakin dipermudah untuk mendapatkan dana riset karena sayang banget kalau pemerintah ngasih beasiswa banyak ke mahasiswa LN untuk belajar di Indonesia sedangkan mahasiswa Indonesia susah untuk dapat dana riset. Cukup aku sajalah yg kecewa. Dan bentuk kekecewaanku di masa lalu bisa aku lampiaskan di Belanda dengan memperkenalkan Indonesia lebih jauh ke banyak kalangan lewat beberapa kegiatan, salah satunya yg pernah aku tulis di blog ttg kegiatan volunteer aku presentasi ttg makanan Indonesia ke sekolah2. Aku pengen nunjukin ke diri sendiri, meskipun aku pernah merasa kecewa, aku sampai kapanpun dan dimanapun berada, ga akan luntur kecintaanku sama tanah kelahiran.

        Suka

  3. Rata2 yang balik juga karena beban HARUS balik terkait kontrak dan lainnya yang memberatkan, kalau gak ada yg namanya kontrak gw ga yakin mereka siap balik juga setelah hmmm let s stay setahun – dua tahun tinggal beradaptasi di negara yang lebih maju 🙂

    Suka

  4. Hihi hal ini kayaknya udah pernah di denger sama orang2 yang mutusin nggak mau balik ke indo ya… Banyak yang jd bilang kalo kita2 ini nggak nasionalisme. Gue sendiri juga belajar untuk cuek aja deh… Gue lebih betah tinggal disini, gue udah lama banget berasa di Jerman itu rumah gue tapi gue tetep selalu bangga kok bilang kalau gue dr indonesia. Kita disini membangun indonesia dengan cara lain tal… 🙂

    Suka

    1. Bener Shin, akhirnya gue seperti yang lo bilang di paragraf terakhir aja. Tapi kadang kalo otak kritisnya lagi nyala, kadang suka kepikiran hal hal begini. Untungnya gue udah bukan mahasiswa lagi jadi udah ga berkutat di lingkungan yang sama lagi… jadi peer pressure nya agak kurang.

      Suka

  5. Hi mba Crys…lama baca-baca akhirnya memberanikan diri untuk komen. Semua perantau umumnya pernah mengalami tahapan ini. Dimana semua ada kalanya semua jadi tampak jelek, tampak bagus, tampak cocok, atau tidak Itu proses pencarian jati diri masing2 ya. Proses adaptasi. Di tahap tersebut org akan mencari apa sih yang penting buat dirinya sekarang. Dalam pengambilan keputusan apapun value, pengalaman, dan bonding di masa lalu berperan besar dalam pengambilan keputusan (juga kondisi). Manusia juga membutuhkan hal-hal nyata sandang, pangan, papan, penerimaan, penghargaan atau seperti di hirarki kebutuhan segitiga maslov . Kalau nasionalisme itu lebih kepada masalah yang apa ya, abstrak. Pertanyaannya apa nilai-nilai yang menurut kita paling penting, yang pernah ditanamkan di diri kita? Seberapa kuat keterikatan attachment kita dengan tanah kelahiran? Apa masa lalu yang tidak menyenangkan selama ada disana? Menurut kita yang menyebabkan itu diri sendiri atau lingkungan? Semua pertanyaan2 dan tahap pencarian itu sangat personal. Juga berubah-ubah. Dan apapun keputusan setiap individu bukan kita yang berhak menghakimi. Soal perlakuan dibedakan ya biasanya akan beda. Petugas negara lain juga akan membedakan mana yang warganya dan bukan. Masalah bullying dan pressurenya, menurutku dimana-mana akan selalu ada,mba, beda bungkus saja. Tinggal seberapa besar penerimaan kita akan hal seperti itu. Pada hal-hal yang tidak bisa diubah. Tulisan yang menarik lho. Terima kasih sudah menuliskan pendapat….

    Disukai oleh 1 orang

  6. Tal… gue baruuuuu aja kepikiran mau nulis postingan kayak gini. Karena ada yang nulis di FB gue, kok mau jadi babu di negara orang?? Lah banyak faktornya. Pertama jujur aja kerja sama orang di sini, jadi karyawan, kesejahteraan hidup dan segi keamanan serta besarnya gaji tentu lebih dari di Indonesia. Kedua sistem kesehatan yang lebih memadai.
    Toh jujur saja sebagai orang keturunan Tionghoa gw merasa sebagai warga kelas dua di Indonesia yang notabene tanah air gue seharusnya. Dan gue lebih nggak merasa sbg warga kelas dua di NZ karena mereka bisa lebih nerima diversity. Suka miris kalau lihat pemberitaan di Indonesia yang rasis dan agamais terhadap non Muslim dan non Pribumi, Tal. Jadinya gue bener2 merasa gak diterima di negara sendiri.
    Jadi panjang nih comment gue, tapi itulah uneg2 yang pengen gue sampaikan mungkin nanti mau nulis di blog 🙂

    Suka

  7. Jangankan yg merantau, saya aja pernah dibilang gak punya nasionalisme. Di indonesia itu orangnya kolot, pokoknya merasa paling bener. Nggak mau tahu urusan orang lain. Klo nggak sepaham ya dimusihin. Mungkin itu kenapa negara kita nggak maju2. Klo ada tawaran pindah jadi warga negara ke negara lain mungkin saya bakal pindah. Udah sakit karena pernah dibilang nggak nasionalis. Apalagi salah semua tuh tuduhan.

    Suka

    1. Mau pindah kemana kalo ada tawaran pindah? Aku punya temen yang pas heboh demo tahun lalu udah gerah banget tinggal di Indonesia karena menurut dia Indonesia makin miskin toleransi. Jadi tiap kali ngobrol sama aku pasti dia bilang “Gue mau ikut lo dong!”

      Suka

      1. Iya saya aja kena diskriminasi gara2 agama. Saya sakit hati bahkan trauma. Lama sembuhnya. Tuh orang2 gak mikir klo ngomong. Maunya sih jepang soalnya mereka selalu hebat di mata saya. Dulu pernah chat sama orang jepang rasanya menyenangkan sekali. Pokoknya enaklah jadi teman.

        Suka

  8. Ah, nasionalisme. Buat aku, orang di Indonesia yang berkoar2 nasionalisme itu jumlahnya dikit banget yang bakal memilih tetap tinggal di Indonesia kalau ditawarin pekerjaan di luar negeri. Call me selfish, tapi siapa sih yang nggak mau perbaikan standar hidup? Yang bisa beneran balik untuk membangun negeri aku angkat topi beneran, tapi those who call us (overseas Indonesians) names? Yakin mereka bisa tetep tinggal klo ada kesempatan di depan mata?

    As for me, yang praktis2 aja deh. Aku udah beli rumah, pekerjaan oke disini, dan kehidupan plus teman2 disini. Buat aku balik itu suatu keputusan yang nggak bisa diambil begitu aja, relokasi itu namanya, bukan cuman sekadar “pulang” lagi.

    And as Mariska mentioned above, ya yang di Indonesia aja udah di kelas duain, di diskriminasi, bikin males ga sih pulang? Indonesia memang ngangenin from time to time, tapi biarlah buat destinasi liburan aja selama ini.

    Suka

  9. Udah ada yang bilang kamu “baper” ga, Crystal? Hahaha..
    Jangankan kamu yang diledekin engga pulang ke Indonesia, saya juga diledekin engga pulang ke kampung sendiri di Pontianak. Jujur awalnya sedih sekali diledekin engga ingat rumah, engga ingat keluarga, engga ingat harus majuin Pontianak supaya setara dengan Jakarta (efek dari pembangunan yang terlalu sentral di Pulau Jawa daripada pulau lainnya), tapi lama kelamaan sudah terbiasa. Banyak pihak suka melihat dan menilai sesuatu dengan mudahnya tanpa (mau) tahu seperti apa perjuangan kita untuk mendapatkan dan mempertahankan apa yang kita lakukan saat ini. Sama halnya dengan kamu, saya memutuskan ke Jakarta juga bukan tanpa sebab. Semoga manusia-manusia seperti ini semakin berkurang yah karena jujur saya tidak suka jika rasa nasionalisme kita dipertanyakan seperti itu.

    Suka

      1. Glad to know that Tal. Bergaul dengan pihak seperti ini membuat hati makin engga damai sejahtera haha. Aku juga semakin jarang bergaul dengan yang seperti ini.

        Suka

  10. Kayaknya ini nggak cuma di Indonesia doank deh Crys. Di Denmark dan Greenland juga sama, mereka mau warganya pulang setelah mendapat pendidikan di luar negeri untuk membangun negara, terutama di Greenland yang masih muda sekali umurnya.

    Ini pendapat gue aja ya. Gue ngerasa itu fair aja kok. Sejak sebelum gue pindah ke Denmark untuk kuliah, temen2 gue dan gue udah ngomong soal ini dan kita setuju untuk balik pulang ke Greenland setelah lulus karena kita tau kalau Greenland butuh local academics. Pendidikan kita dibayar oleh pemerintah, dan gue ngerasa itu fair aja untuk “membalas budi” pemerintah Greenland yang udah berjuang untuk support dan mempermudah hidup kita selama kuliah di Denmark dengan balik untuk kerja di Greenland dan membayar pajak. Kalau semua yang dibayarin nggak balik lagi, bagaimana pemerintah bisa ada uang untuk bayarin youths yang lainnya? Kapan Greenland bisa majunya? Pas awal ketemu Bartosz, gue udah kasih tau dia sejak awal kalau gue akan balik ke Greenland meskipun nggak selamanya, untuk membayar kembali apa yang gue udah dapatkan selama gue under education. Dan dia ngerti ini. Pendidikan gue dibayar oleh both Danish dan Greenlandic government, dan gue merasa it’s my citizen’s obligation to return the favor to both countries.

    Sekali lagi, ini pendapat gue aja, dan gue bisa baca di komentar2 disini kalau pendapat gue beda sekali dengan yang lainnya. Banyak juga orang Greenland yang memutuskan untuk tinggal di Denmark setelah lulus dan tentu aja banyak juga orang Denmark yang nggak balik lagi setelah kuliah di luar negeri, dan gue fine2 aja dengan itu semua. To each their own, ini hanya pendapat pribadi gue aja.

    Disukai oleh 2 orang

  11. Nice post Crystal. Gw liat komentar ‘jangan lupa pulang ya’ itu semacam komentar orang kayak ‘jangan lupa oleh oleh’ nya. Kadang mereka itu ngoceh default mode aja dan kadang memang ada yg beneran serius. Yg serius itu sbnr nya kepo aja. Trus orang yg milih buat pulang dan stay.. ini semacam seleksi gitu gw liatnya..you know what I mean? Jd both of those groups punya alasan tersendiri untuk tinggal atau balik ke Indo. Either way, monggo2 aja. Tp gw bs bayangkan buat orang yg lebih prefer to stay emang jd komentar yg kaya gini bikin gemes. Kepo amat sih loe:/

    Suka

  12. Bagus posnya Crys. Nasionalisme itu rasa yang pribadi banget ya menurutku. Ngga wajib sih untuk balik ke Indonesia buat perantau. Lagipula tinggal bukan di Indonesia bukan berarti kecintaan kepada negara asal itu menghilang, malah jadi menguatkan. Aku sih melihat diriku sendiri sebagai duta kuliner dan budaya Indonesia di kalangan keluarga, temen, kolega dan kenalan di Belanda sini. Sebisa mungkin aku cerita tentang Indonesia ke mereka. Bahkan berdasarkan beberapa tulisanku di blog tentang travel ke Indonesia bikin temen-temen jadi liburan ke Indonesia juga. Aku juga masak masakan original Indonesia supaya mereka tahu masakan Indonesia bukan hanya nasi goreng & sate dll….dll….

    Mau dibilang orang Indonesia tinggal di luar negri ngga nasionalis, penduduk di negri tersebut tetep lihat perantau dari Indonesia sebagai orang Indonesia.

    Oh, last thing. Orang yang mengecam orang Indonesia tinggal di luar negri ngga cinta negara, mereka mungkin yang bangga kalo ada orang asing cinta banget dan tinggal di Indonesia. Ini double standard yang bikin aku gemes.

    Disukai oleh 1 orang

  13. Waktu kuliah di melben dan UK, ada keinginan utk balik Indonesia membangun negeri, bla bla bla. Idealis lah. Trus suka kesel sama org yang pindah kewarganegaraan krn gw anggap gak nasionalis.

    Setelah 3 taun balik Indo, baru nyadar kalo hidup di Indo itu beraaaaat. Jd gw memutuskan cbt. Dan skrg malah banyak temen2 yg dulunya idealis kayak gw nanya2 gimana cara pindah juga.

    Kl lo gak kaya raya ala princess syahrini, hidup di Indo khususnya jakarta itu mahal. Sekolah mahal, kesehatan mahal, tp gaji segitu-gitu aja. Ujung2nya survival mode lah, nasionalisme nomer kesekian 😬

    Tapi untuk mereka yg masih di Indo gw salut. Hebat! Jakarta itu keras, bung! 💪👍

    Jadi intinya gak usah dengerin kata org lain. Jalanin aja yg menurut elo bener, jauhin org yg negatif thinking. skrg target lo cari kerja. Mikir aneh2 malah bikin stres. 👍😘

    Suka

  14. Waaa.. berat tall postingan elo yg inii.. kalo menurut gw sih emang balik ke panggilan masing2 yaa.. kalo emang terpanggil buat melayani orang indonesia.. yah pulang dehh ke indoo.. tapi klo misalnya elo bisa berkarir di luar dan bawa harum nama indo.. misalnya kayak habibie yang bisa bikin habibie theory di dunia aviasi, gw rasa sah2 aja sihh tinggal di luar. malah elo contribute ke dunia mann.. ga cuman indo aja.. hoho..

    Suka

  15. Nice post Tal, pendapat aku sebagian sebagian udah diomongin sama temen2 diatas (telat komen sih ya hehehe), tapi intinya aku merasa kewarganegaraan itu cuma paperwork, paspor biarlah ngikutin tempat tinggal+kerja permanen aja.. biar nanti bakal ganti pun, seumur hidup aku akan tetap punya darah Indonesia dan aku akan berusaha in my own way untuk “membangun” Indonesia.

    Anyway aku jd keinget lagi, aku merasa lebih berguna sebagai org Indonesia waktu di Inggris deh Tal, karena aku sukses ngasih temen2 disana pengetahuan tambahan ttg Indonesia (banyak yg gak tau, surprisingly) dan I think because I did a great job in promoting Indonesia.. so far udah 5 org berhasil liburan kesini. Lumayah lah ya buat tourism kita? Hahahaha

    Minor bgt emang, tp i’d like to think that’s my way of contributing. Mending gitu sih, daripada pas skrg tinggal Indonesia kerjanya ngomel mulu sama current affairs.

    Intinya setiap org ada jalannya Tal yg penting gausah hiraukan org2 yg komentar miring, ya ngga sih 🙂

    Suka

    1. Aku juga lebih ngerasa berguna pas tinggal disini. Rasanya seneng ngomongin tentang negara sendiri, apalagi kalo yang diajak ngobrol jadi tertarik banget. Disini orang orang paling suka ngomongin makanan Indonesia. Kalau udah gitu, aku langsung hajar dengan makanan makanan enak 😂

      Disukai oleh 2 orang

  16. Suka deh post-an kamu ini Tal, walaupun tinggal di Negara orang aku nasionalisnya tinggi loh, masih sukaa banget dan selalu suka makanan indo, berbagi budaya Indo di tempat yang baru dan mau pulang pasti sih untuk mengunjungi keluarga inti secara adik-adik dan papa di Indo 🙂

    Suka

    1. Terima kasih mbak Sari, aku juga gini gini masih lidah Indonesia, gak afdol kalo gak makan nasi. Kalo soal nasionalisme dalam hal bela negara atau yang berbau patriotisme sih aku sepertinya rendah ya, tapi kalo soal makanan dan budaya aku kenceng banget :))

      Suka

  17. Let’s push the (useless) parliament to approve dual citizenship for Indonesian.

    Yang nyebelin itu, apalagi terutama menjelang pemilu or pilkada gitu, kita yang di luar negeri gini, kalo ikut komentar pasti dibales “ga idup di Indonesia, ga usah ikut komentar”. Kalo kayak gini, langsung gw musuhin itu yang ngomong kayak gitu.

    Padahal kita yang di sini, paling ga buat gw sendiri merasa semua tindakan gw itu representasi atas Indonesia. Kalo gw kerja, terus berprestasi, gw berasa mewakili Indonesia, dan mau kalo orang2 di sini tau kalo orang Indonesia itu berkualitas. Kalo ketemu client, mereka suka mengira gw orang Cina, dan gw langsung protes dan ujung2 promosiin Indonesia, suruh mereka datang jalan-jalan.

    Suka

    1. LOL itu komentar praktis yang ga penting. Sama kayak kasus pemerkosaan, pasti cewek yang dituding dengan alasan “Makanya bajunya jangan ketat/terlalu pendek”. Yang ngomong ngira itu nyelesaiin masalah padahal aslinya bikin keruh masalah xD
      Iya lho, gue juga, apalagi kantor gue multinasional, orang Belanda cuma ada segelintir doang…. gue satu2nya orang Indonesia disini, dan ujung2nya gue biasanya promosi makanan, destinasi liburan, pokoknya yang bagus-bagus. Tapi disini banyak juga orang Belanda yang merhatiin politik Indonesia terus kalo ketemu pertama kali, mereka bilang “Gue pernah sih ke Indonesia, tapi kok sekarang kuat banget ya Islamnya?” terus gue ibarat di skak mat, ga tau balesnya apa.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s