Orang Sakit?


Rata-rata, kita belajar dari siapa, sih? Kalau nggak dari guru, dari orangtua, pokoknya orang yang kita tuakan. Akhir-akhir ini gue mengalami pengalaman baru dalam hidup yang pasti jadi ajang belajar buat gue. Kali ini, guru gue dalam pengalaman hidup adalah orang-orang yang berbeda, yaitu mereka yang memiliki penyakit mental.

Semuanya berawal dari akhir minggu kemarin. R mengalami nervous breakdown, sehingga kami harus pergi ke rumah sakit untuk penyakit mental di dekat rumahnya.

Don’t get me wrong, gue juga baru tahu R sangat sensitif dengan kesehatan mental. Dia bercerita dua tahun lalu dia juga sempat mengalami pengalaman yang sama. Mungkin sudah beberapa bulan dia nggak minum obat, sehingga kali ini dia kembali mengalami psikosis yang lumayan nyeremin. Seringkali dia ngomong hal-hal yang nggak nyambung, dan begitu di rumah sakit, dia cerita bahwa dia takut pergi ke luar rumah karena dia ngerasa nggak aman. Katanya ada yang mau bunuh dia. Beberapa kali dia juga berpikir gue mau bunuh dia. Rasanya sakit hati kalau ingat itu, tapi gue berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa itu bukan dia yang sedang ngomong kayak gitu.

Tapi R bukan orang gila. Sekali lagi, dia hanya sensitif dengan psikosis. Awalnya gue sangat takut dengan diagnosa akhir yang diberikan dokter, tapi suster di rumah sakit menjamin gue bahwa R hanya didiagnosa gangguan psikosis. Jika dia pulang ke rumah, dan dengan beberapa kali terapi serta minum obat yang rutin, dia bisa kembali normal seperti biasanya. Sayangnya, gangguan mental seperti ini harus diobati dengan cara minum obat yang sama selama beberapa tahun dan mungkin harus beberapa kali ganti-ganti obat karena bisa jadi efek samping yang nggak enak untuk si penderita. Seperti cewek mencari pil kontrasepsi, ini juga mirip-mirip lah, trial and error gitu.

Sejak hari Minggu, gue rutin mengunjungi R di rumah sakit. Tempatnya enak, deh. Jauh beda daripada stigma rumah sakit kesehatan jiwa yang ada di TV. Para suster dan dokternya nggak memperlakukan R dan pasien lain sebagai ‘orang gila’, tapi memperlakukan mereka secara setara. Ada taman yang asri dengan pohon ceri yang sedang berbuah. Ada ruang TV dan ruang makan serta dapur yang cukup lengkap. Kamarnya R juga nyaman, ada sofa, kursi, lemari, tempat tidur yang nyaman, dan kamar mandi sendiri. Interiornya juga segar dengan warna-warna cerah seperti hijau, kuning, dan oranye. Hari pertama gue datang ke bangsalnya R, gue langsung merasa nyaman dan yakin bahwa dia akan dirawat dengan baik disana.

Kini saatnya bergaul dengan sesama pasien seperti R. Jujur aja, awalnya gue agak grogi. Mungkin karena gue masih punya stigma tentang kesehatan mental sebelum R masuk rumah sakit. Tapi kegrogian gue nggak berujung ke hal yang aneh-aneh karena pasiennya baik-baik semua. Ada satu cewek yang langsung berteman baik sama R, dia bilang dia sudah lama tinggal disitu dan sebenernya dia pengen banget pulang. Cewek ini yang bernama Maria, suka banget melukis. Ada juga pasien lain asal Vietnam, yang langsung mendatangi gue begitu dia lihat gue dan langsung ajak ngobrol dalam bahasa Belanda. Mungkin karena dia lihat muka gue muka Asia kali, ya, makanya dia langsung datengin. Dari semua penghuni bangsal tersebut, gue baru kenal sama 2-3 orang saja, yang adalah pasien yang deket sama R. (Entah kenapa si R populer bener di kalangan wanita, lagi sakit maupun sehat, lha baru datang aja temennya udah cewek semua xD)

Semakin hari, kondisi R semakin membaik. Beberapa hari lalu, dia masih mengalami beberapa serangan psikosis, tapi nggak sebegitu parah seperti saat dia belum masuk rumah sakit. Sekarang kami sedang membicarakan tentang rencana kepulangan R ke rumah dan sepertinya dia sudah bisa pulang ke rumah akhir minggu ini. Kemarin gue juga mengunjungi R dan dia sudah kelihatan jauh lebih sehat dan lebih ceria. Nada bicaranya sudah kembali normal dan dia nggak se-emotionally distant seperti beberapa hari lalu sebelum masuk rumah sakit.

Serius, pengalaman ini bener-bener membawa pelajaran baru untuk gue. Sejak dulu gue selalu mendengar betapa hebatnya negara-negara Eropa dalam mendalami seluk beluk kesehatan mental, tentang topik kesehatan mental bukan jadi hal tabu, dll. Kali ini gue mengalaminya dan semua berita itu benar. Semua informasi tentang kesehatan mental dan penyakit mental bener-bener dibuka ke gue oleh dokter dan suster, pokoknya gue bebas nanya apa aja.

Mereka juga memperlakukan pasien dengan setara. Kemarin waktu gue jenguk R, dia lagi nunggu temen-temennya pulang dari supermarket karena mereka mau masak salad sama-sama untuk makan malam. Yap, jika mereka sudah lumayan sehat, mereka diperbolehkan pergi keluar bangsal untuk ke supermarket atau ke taman besar dengan ditemani satu orang suster. Pokoknya para pasien dibebaskan untuk mengatur jadwal mereka sendiri, begitu juga dengan jadwal minum obat. Semua pasien dibebaskan untuk minum obat setelah jam makan dengan cara meminta obat sendiri ke ruangan jaga suster.

Nggak nyangka deh, bisa belajar hal baru dengan cara yang nggak diduga seperti ini. Pasien-pasien yang satu bangsal dengan R bikin gue merasa nyaman dan hangat setiap datang mengunjungi R, dan mereka juga mengikuti aturan rumah sakit dengan sangat respek. Gue cuma berharap semoga suatu saat nanti, mereka bisa pulang ke rumah masing-masing, berkumpul dengan keluarga, dan bermanfaat untuk lingkungan mereka.

Iklan

4 thoughts on “Orang Sakit?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s