Sayangi Jiwamu

mental health

Apa yang terlintas di pikiran kamu begitu mendengar kata “kesehatan mental”? Mungkin langsung kepikiran adegan-adegan film horor tentang rumah sakit jiwa, pembunuh psikopat, atau orang-orang yang langsung dicap “gila” karena suka ngomong sendiri. Atau mungkin kamu langsung teringat dengan film-film bertema penyakit mental seperti Patch Adams dan A Beautiful Mind.

Persepsi orang tentang kesehatan mental emang berbeda-beda, tapi sayangnya banyak sekali yang menganggap penyakit mental itu adalah sesuatu yang lebih buruk daripada penyakit fisik. Menurut gue, kesehatan mental itu sama derajatnya dengan kesehatan fisik. Bahkan menurut gue, level of pain-nya juga sama. Yang membedakan mereka adalah stigma yang ada di masyarakat. Masyarakat menilai bahwa penyakit fisik lebih gampang sembuh daripada penyakit mental dan penyakit mental jauh lebih meninggalkan bekas daripada penyakit fisik.

Banyak juga yang menganggap ngomongin kesehatan mental itu adalah sesuatu yang tabu karena anggapan bahwa kesehatan mental itu hal yang susah banget buat diomongin. Padahal mereka nggak sadar bahwa mereka juga punya mental yang harus diurus, bukan cuma fisik doang. Atau mereka yang menganggap bahwa kesehatan mental itu saking seriusnya maka bisa dijadiin bahan bercandaan. Mungkin karena itu banyak banget penyakit mental yang penggunaan katanya disalahgunakan, seperti “Duh, maaf ya, gue OCD (Obsessive Compulsive Disorder – red) banget nih, jadi kalo ada barang yang miring dikit pasti gue bawaannya pengen benerin…” atau “Denger cerita lo, kayaknya mantan lo rada psycho deh, jauh-jauh lah dari dia”, dsb. Padahal dua penyakit mental itu cukup serius lho dan nggak bisa dipakai seenaknya gitu aja dalam sebuah kalimat.

Kesehatan mental itu bisa diomongin dengan hal-hal gampang. Toh, kesehatan mental ada di hidup kita sehari-hari. Contohnya menjelang ujian. Jika kita terus-terusan belajar, kita akan mengalami stress. Contoh lain adalah ketika kita grogi dengan sesuatu, nggak jarang kita mengalami serangan panik yang biasanya ditandai dengan sulit bernafas, tangan gemetar, dan sulit fokus. Ketika kita terlalu tertekan dengan beban pekerjaan, lama-lama kita bisa mengalami burnout. Hal-hal seperti ini adalah kesehatan mental skala kecil yang bisa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari dan bisa juga ditolong dengan hal-hal kecil seperti latihan pernafasan dan meditasi. Selain itu, ada juga kesehatan mental yang jauh lebih besar skalanya seperti halusinasi, psikosis, skizofrenia, PTSD, anxiety disorder, dan lain-lain. Tapi untuk penyakit-penyakit seperti ini biasanya dibutuhkan diagnosis (atau diagnosa?) psikiater sebelum melangkah ke tahap selanjutnya yaitu penyembuhan.

Nah, untuk kita-kita ini, bagaimana cara menjaga kesehatan mental? Seperti gambar yang ada di atas, ketika ngomongin kesehatan, kita juga harus menyertakan kesehatan mental dalam konteks ‘sehat’ secara menyeluruh. Menurut gue cara menjaga kesehatan mental sendiri tuh cukup mudah kok, beberapa diantaranya adalah:

  • nggak kebanyakan mikir
  • selalu punya pikiran positif (bahkan saat terlalu banyak negativitas di sekitar kita)
  • sering-sering meditasi dan latihan pernafasan
  • tahu batas diri; kalau sudah ngerasa stress, langsung cari hiburan untuk melepaskan rasa stress
  • punya orang yang dipercaya yang bisa diajak curhat kalau butuh teman bicara

Jika kamu didiagnosa penyakit mental tertentu, gue punya gambar yang bisa bikin kamu positif terhadap apapun diagnosa penyakitmu:

anxiety

Tulisan ini dibuat dalam rangka partisipasi dalam Mental Health Awareness Month yang jatuh setiap bulan Mei. 

Sepenting Apa Sih Sex Education Itu? (Terutama Untuk Perempuan!)

Tulisan ini ditulis dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh tanggal 1 Desember kemarin.

Sex Education (selanjutnya akan disingkat Sex-Ed). Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar atau membaca dua kata tersebut?

Kalo gue sih, menganggap Sex-Ed sebagai hal yang penting banget. Sayangnya, belum banyak perempuan yang ngeh soal ini. Apalagi perempuan di Indonesia yang kebanyakan masih terbentur dengan norma sosial dan tabu dalam pembicaraan mengenai seks dan kesehatan organ reproduksi.

Gue masih ingat betul, pertama kali dapat Sex-Ed saat kelas 5 SD. Saat itu, yang cewek dipisah sama yang cowok, dan kami diajarin tentang siklus menstruasi dan pubertas. Tapi entah kenapa Sex-Ed berhenti disitu karena setelahnya lebih banyak diajarkan di pelajaran Biologi, dimana gurunya biasanya ogah-ogahan kalau sudah sampai bab tentang reproduksi manusia. Gue masih inget banget waktu kelas 3 SMP, begitu sampai bab itu, si gurunya bilang, “Yah kalau yang ini mah saya udah nggak perlu repot-repot ngejelasin ya, kalian semua pasti udah pada tau, apalagi yang cowok-cowok”. Waktu SMA, dimana menurut gue adalah saat paling penting untuk gue mengetahui kesehatan reproduksi diri sendiri, gue juga nggak dapat Sex-Ed karena emang nggak ada.

Yang ada? Pelajaran waktu ret-ret dimana semua murid disuruh melakukan abstinence.

 

coach-carr-from-mean-girls-delivers-sex-education-data
LOL nope

 

Tapi bukan gue namanya kalau nggak penasaran :p Suatu hari di saat libur sekolah, gue membeli DVD film dokumenter BBC tentang pubertas cewek dan cowok. Terus gue tontonin setiap hari. Akhirnya? Tiba-tiba gue jadi cewek paling jago ngomongin puber di satu sekolah :p Karena setelah nonton DVD itu, gue sadar bahwa kesehatan reproduksi bukan main-main, apalagi untuk perempuan yang adalah makhluk pembawa generasi baru ke dunia.

Nah, gue yang sekarang juga jadi lebih penasaran lagi tentang Sex-Ed. Menurut gue, reproduksi manusia adalah hal yang sangat underrated untuk dibahas di Indonesia karena pasti orang mikirnya ujung-ujungnya bokep. Padahal reproduksi kita itu penting banget lho, sama dengan organ tubuh yang lain. Kenapa masalah penyakit jantung banyak diangkat sementara anak sekolah nggak dapat Sex-Ed? Justru target utama Sex-Ed adalah anak-anak remaja, karena umur mereka adalah umur dimana hormon sedang membuncah, dan rasa ingin tahu juga ikutan meninggi. Lebih baik Sex-Ed diberikan ke mereka sejujur-jujurnya daripada mereka cari tahu dari sumber yang salah dan kemudian hidup mengenakan sumber yang salah tersebut. Sex-Ed sejujur-jujurnya bukan sampai ngajarin gimana caranya berhubungan seks (yang itu mah nggak usah diajarin, akan bisa sendirinya kok!), tapi lebih kepada bagaimana memproteksi diri sendiri jika ingin melakukan hubungan seks, dan apa yang bisa terjadi kalau nggak bisa main aman (selain kehamilan tidak terencana, tentu saja).

Contohnya, bagaimana cara memproteksi diri sendiri dan pasangan ketika kalian memutuskan untuk berhubungan seks. Yang cewek bisa pakai pil pengontrol kehamilan atau pasang IUD atau suntik, yang cowok bisa pakai kondom. Kemudian dijelaskan juga kenapa alat-alat tersebut bisa mencegah kehamilan dan penyakit menular seksual. Atau, paling nggak tahu tentang siklus menstruasi kita, dan apa yang terjadi pada masa subur, dan apa yang bisa terjadi kalau hubungan seks dilakukan di masa subur tanpa pengaman. Menurut gue hal ini penting banget untuk mencegah stigma “sekali berhubungan seks bisa langsung hamil”. Kehamilan itu bisa terjadi karena banyak faktor, seperti berapa lama sel telur ada di Fallopian tube untuk menunggu dibuahi (12-24 jam), berapa lama masa subur terjadi dalam rahim perempuan (bisa sampai 5-7 hari), dan berapa lama sperma bisa bertahan di rahim perempuan untuk menunggu satu telur yang matang untuk dibuahi (jawabannya: 5 hari). Bahkan jika hubungan seks dilakukan saat masa subur, nggak langsung naik jadi 100% kemungkinan bisa hamil. Sesuai waktunya, kemungkinan bisa hamil adalah sekitar 33% setiap masa subur, bahkan di hari puncak kesuburan.

(Gila, fasih banget gue ngomong ginian).

Kenapa gue memutuskan untuk menulis ini dalam rangka Hari AIDS sedunia dan bukan di hari random lain? Karena gue sangat prihatin (minjem slogan pak SBY) dengan keadaan Sex-Ed di Indonesia jaman sekarang, terutama untuk wanita. Seharusnya, dengan semangat feminisme juga semakin merajalela di Indonesia, perempuan juga semakin sadar bahwa mereka berhak mencari tahu tentang kesehatan reproduksi mereka sendiri dan berhak mendapatkan informasi sebenar-benarnya tentang kesehatan reproduksi mereka. Bayangkan berapa persen wanita yang bisa selamat dari pemerkosaan jika tahu apa yang harus dilakukan. Bayangkan berapa persen kehamilan tidak terencana yang bisa diatasi jika wanita tahu bagaimana cara mengamankan diri mereka sendiri dari kehamilan jika mereka memutuskan untuk berhubungan seks dengan pasangan mereka. Nggak semua orang yang sudah aktif secara seksual melakukan hubungan seks karena ingin punya anak, lho.

Nah, yang terakhir… bagaimana cara kita bisa belajar sendiri tentang organ reproduksi kita sendiri? Nah yang ini bisa untuk cewek dan cowok. Kita bisa mulai dari KB. Tapi sejauh yang gue lihat, KB di Indonesia masih fokus untuk keluarga muda yang ingin punya anak, ya. Bagaimana dengan orang muda atau remaja yang ingin tahu segala hal tentang Sex-Ed? Gue suka buka-buka website Planned Parenthood atau nonton video Ted-Ed di Youtube. Atau iseng aja random Google pertanyaan kayak “apa saja jenis pil birth control?”. Pasti akan langsung dibawa ke website yang sah penjelasannya. Website seperti Scarleteen.com juga bisa sangat membantu untuk belajar tentang Sex-Ed.

Jadi, tunggu apalagi? Educate yourself on your body and know your reproductive rights NOW!

The True Definition of “Girl Squad”

A few years ago, one of my favorite singers launched her album called ‘1989’. Yes, it was Taylor Swift. Along with her fresh music in her new album, she also coined a new movement which soon became one of the most used hashtags on the digital world, #GirlSquad. It was a term to describe the selection of Taylor’s best friends, usually comprised of beautiful models and celebrities, and the term became famous after she launched her music video for a song called ‘Bad Blood’. From the music video and several Girl Squad appearances afterwards, it could be concluded that Taylor was trying to send the message to her fans that Girl Squad was the term for a group of girls who stick to one another, especially if one of the girls in the group was in a bad relationship with another girl from outside the group.

I used to think that it was the ultimate definition of a Girl Squad. But then I realized, the whole concept of ‘good vs bad’ could also be applied to bad girls cliques, such as the girl squad of Regina George in a movie called ‘Mean Girls’. I began to make my own definition of Girl Squad.

Girl Squad in my dictionary means: “girls who respect other girls’ choices”.

screen-shot-2015-10-03-at-9-37-30-am

See? It sounds very simple. But the truth is that respecting other people’s choice is a very hard thing to do. Like it or not, realize it or not, we live in a society who likes to judge others. Hell, even we are not far from judging each other. Remember when we were teenagers and we made fun of that nerdy girl who didn’t like to wear the clothes that were trending? Remember when we were in high school and we talked about the group of girls who thought they were cool behind their backs? Here’s the 411: Society is all about judging, and no matter how we say that we are not judgmental, there’s a part of us who judge others if their choice doesn’t fit ours.

As a female young adult, living in the 21st century is hard. 21st century is the information era, the era where you can have anything you want to know on your fingertips. 21sr century is the century when relationships are hard, thanks to countless of dating apps. 21st century is the age when you have your own say in deciding what you want to be, where you want to stay, and what kind of life you want to live in. 21st century is the time when you decide your own definition of success.

Do you think that success means having a lot of academic titles behind your name? Then so be it. Study everything you want to learn about, make education as your best investment in life.

Oh, you think that you consider yourself to be successful if you manage to find the one, get married, and build a happy little family? Go ahead, nothing stops you from staying in love and maintaining a relationship with someone you love.

Or… you think that success means getting all the moolah by working hard and believe that you will reap what you sow? That’s also perfect. Money makes the world goes round, and thank goodness you understand that concept perfectly.

However… the situation I see among girls these days is different. Girls (or young women) tend to think that their version of success is the best one and they want the other girls, who may or may not share their concept of success, to follow their path. I see countless of literate girls with two or three academic titles in front or behind their full names, making fun of other girls whose main priority after college is getting married and raising kids by saying things like “We have plenty of options nowadays and you decide to be a housewife?”. On the other hand, there are also a lot of new moms giving snarky remarks to girls who put their education first by saying “A woman is whole/complete when they have given birth to a new generation”.

Women are complete just the way we are. We are not complete just by the numbers of academic titles we have obtained. We are not complete just because we have given birth to cute babies. We are not complete just because we become the CEO of a new, rising start-up.

We are complete by who we are, ever since we were born.

Girls, it’s time to support each others’ life choices. Honestly, I’m so tired of seeing girl hate, I’m tired of listening stories or afternoon chat of a young woman silently making fun of her childhood or high school friend who decided to marry in young age. I’m tired of politely nodding to those stories, simply because I don’t want to ruin my relationship with these people. It’s time for young women to start respecting other women’s life choices, and start realizing that the word ‘success’ is not defined by only one path. Every woman are entitled to their own definition of success, and when a girl is being successful with what she’s doing, it’s time for other girls to be happy for her, not talking about her behind her back.

Awkarin dan Anya Geraldine dari Kacamata Twentysomething

Belakangan ini netizen Indonesia pasti nggak asing dengan dua nama ini: Karin Novilda (Awkarin) dan Anya Geraldine. Dua-duanya remaja Indonesia yang berdomisili di Jakarta, dua-duanya menghasilkan uang sebagai vlogger dan artis Instagram (walaupun Anya juga bekerja sebagai model), dua-duanya kini sedang jadi buah bibir di dunia maya Indonesia karena video-video mereka yang menurut masyarakat, nggak sesuai dengan standar budaya Indonesia. Bahkan KPAI kini sedang mengkaji kemungkinan untuk memblokir keberadaan mereka di media sosial karena konten mereka yang dinilai sudah menjurus ke pornografi.

Sepak terjang Awkarin sebagai seleb Instagram sudah dimulai beberapa bulan lalu. Awalnya sih, dia diomongin orang karena pose-posenya di Instagram yang agak berani. Bukan berani pamer badan ya, tapi berani menggunakan kata-kata kasar dengan dalih menunjukkan jati dirinya. Kemudian, nama dia menjadi lebih besar seiring dengan dia melebarkan sayap ke YouTube dan mulai merekam video kegiatannya. Puncaknya adalah video Awkarin tentang kejutan ulang tahun untuk pacarnya (sekarang udah jadi mantan), Gaga, yang selalu jadi tokoh utama di vlog Awkarin. Jadi di video itu, intinya Awkarin nangis-nangis di depan karena diputusin Gaga.

Anya Geraldine muncul tak lama setelah tenar Awkarin di internet, walaupun dia mengklaim nggak ngikutin Awkarin untuk bikin vlog. Sejauh ini, gue baru nonton beberapa video unggahan dia di YouTube, dimana diamengunggah video-video liburan ke Bali dengan pacarnya dan video pembuatan surprise ulang tahun untuk sang pacar. Wajar saja kalau Anya juga jadi buah bibir, karena banyak adegan di video tersebut yang mengumbar kemesraan, sesuatu yang dianggap nggak biasa di masyarakat Indonesia.

Sepertinya cukup deh gue menjelaskan tentang latar belakang Awkarin dan Anya Geraldine ini. Sekarang gue mau beropini tentang video-video mereka, dari kacamata orang berumur duapuluhsekian (yang ngetop disebut twentysomething), terutama di kesamaan mereka yaitu menganggap bahwa semua kegiatan mereka di media sosial adalah upaya mengekspresikan jati diri.

I’m gonna be as blunt as I can (maybe borderline with rude) on this question: Tahu apa sih, Anya dan Awkarin tentang jati diri? Umur-umur mereka yang masih remaja adalah umur-umur pencarian jati diri. Waktu gue umur 15-18 tahun, gue boro-boro bisa bilang gue ini siapa. Bisa jadi, jati diri yang mereka umbar di media sosial sebagai personal branding mereka yang sekarang, bukanlah jati diri mereka yang sejati. Namanya juga masih remaja, masih nyari-nyari siapa diri mereka sebenarnya. Terlalu dini untuk mereka menyimpulkan bahwa mereka bertindak mengikuti jati diri mereka di media sosial.

Hal lain yang gatel banget pengen gue omongin sebagai twentysomething ke dua remaja putri ini adalah… ingat kata pepatah ‘Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’. Ini masih berkaitan dengan tindakan-tindakan mereka yang dilakukan atas nama mengekspresikan jati diri. Kalau di Belanda sih, PDA sama pacar dianggap hal yang sudah umum, bahkan sudah jadi makanan sehari-hari. Demikian juga dengan kebiasaan mengekspresikan sesuatu dengan bahasa kasar atau mengumpat dalam bahasa Inggris. Toh negara ini menjamin kebebasan berekspresi, dan hidup individual adalah kunci di Belanda. Tapi kan, Awkarin dan Anya Geraldine tinggal di Indonesia. Negara yang 11 ribu km jauhnya dari Belanda, dengan adat istiadat dan norma-norma sosial yang berbeda. Negara yang mengernyit dengan pemandangan pamer kemesraan, karena memang sudah seperti itu dari awal mulanya. Sudah selayaknya deh menurut gue, kalau mereka berdua itu harus lebih menghargai kebiasaan yang ada di negara sendiri. Oke lah, kalau memang PDA dan ngomong kasar itu sesuatu yang mereka nilai ‘jati diri mereka’, toh mereka punya lingkungan pergaulan untuk menjadi diri mereka sendiri. Di bahasa Inggris ada pepatah birds of a feather flocks together, yang berarti orang-orang berpikiran dan berkebiasaan sama biasanya nongkrong sama-sama.

Hal yang ketiga yang bikin gue tergelitik adalah sanggahan dari mereka berdua dengan mengatakan bahwa semua liburan dan semua kegiatan senang-senang yang mereka lakukan itu pakai uang sendiri dan bukan uang orangtua. Nah, ini yang bikin gue heran. Jaman sekarang, anak muda semakin gengsi ya minta uang sama orangtua? Jaman gue remaja dulu sih, gue memang sudah ada rasa segan minta uang untuk nongkrong sama orangtua, tapi gue nggak pernah tuh menganggap bahwa minta uang ke orangtua adalah sesuatu hal yang memalukan atau tabu. Toh orangtua itu ada untuk membiayai kita sampai kita bisa mandiri secara finansial, kan (bahkan kalau udah bisa cari duit sendiri juga kadang masih dikirimin duit). Kemudian dari statement bahwa mereka udah bisa cari uang sendiri dan semuanya udah ditanggung pake uang sendiri, mereka sebel kalau orang men-judge mereka. ….hubungannya apaan? Mungkin mereka mikirnya gini, “Duit duit gue, kenapa lo yang ribut?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, bisa dilihat di paragraf sebelumnya. Oke lah, sudah sepantasnya mereka bangga karena mereka berhasil mencari uang di usia yang sangat muda (kalau di negara Barat sih hal ini udah maklum banget, tapi di Indonesia kan anak-anak masih menjadi beban orangtua dan sebaiknya jangan kerja), tapi kembali lagi… kita punya seperangkat norma dan kebiasaan yang patut dihormati.

Sepertinya itu aja deh dua sudut pandang gue. Kesimpulannya, jangan mudah menyimpulkan sesuatu sebagai jati diri lo. Bisa jadi justru lo sedang mencari jati diri, sehingga apa aja dicobain. Yang dikira nyaman, langsung dianggap sebagai jati diri. Padahal kan nggak begitu. Pencarian jati diri itu memakan waktu yang cukup lama, apalagi di masa remaja, suatu masa dimana peer pressure masih kencang banget. Ketika sudah menemukan jati diri, muncul lagi masalah lain yaitu mempertahankan jati diri, yang biasanya jaman sekarang disebut adulting. Nah yang ini diomonginnya entar aja, mereka dewasa juga belum, kan? Intinya ya gitu lah. Gue sih nggak mau menggurui, toh gue ngurusin diri sendiri aja masih gak beres, tapi gue punya dua adik remaja yang sangat gue sayang, dan gue nggak mau mereka berkaca kehidupan remaja yang ideal adalah seperti gaya hidup Awkarin dan Anya Geraldine. Kehidupan remaja seperti mereka berdua adalah kehidupan yang wajar di negara Barat, tapi belum pantas dikatakan wajar di Indonesia.

Don’t Call Me ‘Exotic’

543eb22ac55f2394894729

“Gue pengen deh punya kulit kayak warna kulit lo, eksotis banget.”

“Pantes aja dia cepet dapet pacar bule, kulit dia kan sawo matang gitu, bule kan suka sama cewek-cewek yang eksotis kayak gitu.”

Pernah dengar, atau melontarkan kalimat mirip-mirip seperti kalimat di atas? Selamat, anda telah ikut berpartisipasi dalam rasisme terselubung abad ke-21!

Mungkin kata eksotis jarang terdengar ketika kita tinggal di Indonesia. Ya iya lah, seluruh mata memandang, orang-orangnya punya kulit dengan warna sama seperti kita, makan makanan yang sama, dan melakukan rutinitas yang sama. Justru di Indonesia, yang dicari-cari bukan kulit bersih sawo matang, tapi kulit putih ala Asia Timur, terbukti dengan banyaknya merek pemutih kulit yang menjanjikan pemakainya kulit putih bersih ala wanita Jepang dan/atau Korea. Berbeda halnya ketika kita memutuskan untuk menetap di negara asing, yang mayoritas orangnya berkulit putih, bermata biru, dan berambut pirang. Tiba-tiba semua kebudayaan yang kita serap di negara ibu, semua makanan dan minuman yang kita konsumsi, dilabeli sebagai makanan dan kebudayaan eksotisBukan hanya Indonesia, tapi juga negara-negara lain yang dianggap jauh banget kayak negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara lainnya, apalagi yang budayanya sangat kental.

Gue baru aja ngobrol sama teman gue tentang pemakaian kata eksotis, dan kami berpendapat yang sama, bahwa penggunaan kata itu untuk mendeskripsikan orang adalah salah satu bentuk rasisme yang nggak disadari khalayak umum. Kenapa? Karena… arti dari kata ‘eksotis’ adalah…

 

exotic meaning
Diambil dari Dictionary.com

Intinya, kata ‘eksotis’  itu lebih ditujukan untuk buah-buahan, makanan, binatang, atau kebudayaan. (Walaupun ternyata pengertian dari kata ini sangat-sangat berpihak ke dunia Barat, da aku mah apa atuh, dari dunia Timur, daerah yang sering dianggap sebagai the great unknown oleh belahan bumi Barat). Makanya gue bilang kalo ada orang yang bilang seseorang itu eksotis, tandanya dia nggak ngerti bahwa pengertian eksotis ini untuk benda-benda mati.

Alasan kedua kenapa gue nggak suka penggunaan kata ‘eksotis’ adalah karena untuk gue kata itu memiliki konotasi negatif, terutama dalam konteks pemakaian hubungan Belanda-Indonesia. Entah kenapa itu mengingatkan gue akan alasan-alasan orang Belanda jaman kolonial yang menginginkan istri orang pribumi karena perempuan Indonesia berkulit coklat, pintar memasak dan pintar mengurus rumah. Mirip-mirip lah, sama penggunaan kata ‘negro’ untuk orang kulit hitam yang sama saja masih menyamakan mereka dengan masa perbudakan, atau… penggunaan kata ‘bule’ yang sering dipakai orang Indonesia untuk menyebut orang berkulit putih dari ras Kaukasian. Atau juga, penggunaan kata ‘Oriental’, ‘Orient‘, atau ‘Far East‘ yang sering dipakai untuk menjelaskan negara-negara dari Asia Timur. Kalau mau dibikin tulisan sendiri tentang mengapa kata ‘Orient‘ berkonotasi miring, wah bisa jadi dalam satu tesis sendiri. Panjang banget ceritanya dan cara penjelasannya pun sulit karena bisa dilihat dari banyak sudut pandang.

Penggunaan kata ‘eksotis’ untuk orang ini sebenarnya termasuk bentuk dari microaggressions, yang bisa diartikan sebagai “brief, daily exchange that send denigrating message to people of color because they belong to a racial minority group” (Sue et al, 2007). Gue sendiri pernah mengalami kejadian terkena microaggressions di tempat kerja. Tiba-tiba kolega baru gue, setelah mengetahui gue orang Indonesia, berkata dengan nada memuji, “Iya, gue tau lah lo orang Indonesia, kulit kalian tuh khas banget, dan gue tau aja dari bentuk wajah lo, pasti lo orang Asia Tenggara!” Yang bikin miris, kolega gue itu datang dari komunitas African American, grup ras yang juga sering terkena microaggressions dari kalangan mayoritas. Rasanya pas denger itu pengen menjengit karena untuk gue itu lumayan rasis untuk menggambarkan darimana asal gue.

Jadi… Kesimpulannya, sebaiknya kata ‘eksotis’ itu jangan dipakai untuk menggambarkan seseorang. Kalau kalian baca narasi-narasi jaman dulu dari negara Barat tentang negara-negara Timur, kelihatan banget maksud gue yang mengatakan bahwa kata ‘eksotis’ ada hubungannya dengan rasisme secara tak terlihat. Kalau mau pakai kata ‘eksotis’, ya gunakanlah itu untuk benda-benda mati seperti buah-buahan.

Untuk artikel-artikel lebih lanjut kenapa kata ‘eksotis’ sebaiknya berhenti dipakai untuk menggambarkan seseorang, bisa dicek di tautan iniini dan ini.

About Patronizing

Selama liburan di Indonesia kemarin, banyak sekali observasi tidak sengaja yang gue temui yang terjadi di masyarakat. Jika sebelum liburan gue mengalami ketakutan terhadap reverse culture shock, ternyata gue mengalami hal tersebut. Kalau ditanya orang, bentuk reverse culture shock yang dialami setiap orang tentu berbeda. Ada yang merasa culture shock dialami dari sikap keluarga dan teman yang berubah terhadap mereka, ada juga yang merasa bentuk reverse culture shock dialami dengan cara mengalami semua hal yang dulu selalu kita lakukan sebelum pindah ke negara lain, namun kini kita lebih kritis terhadap hal-hal tersebut.

Gue mengalami reverse culture shock dari contoh yang kedua, yaitu dari observasi yang gue temui di masyarakat. Dulu sebelum pindah ke Belanda, gue merasa kebiasaan-kebiasaan ini adalah hal yang normal. Kini, gue merasa semacam geli sendiri sudah merasa hal tersebut normal, dan cenderung kritis. Hal yang mau gue bahas disini adalah kebiasaan merasa kasihan terhadap orang lain, contohnya orang-orang nggak beruntung dan mengalami keterbatasan fisik.

Di Indonesia, gue selalu nonton sebuah acara game show di sebuah kanal TV swasta pagi hari (sekitar jam 8 pagi). Premis dari acara tersebut cukup sederhana, yaitu sebuah permainan dengan model probabilitas, semacam permainan ‘pilih uang atau pintu’ (baca lebih lanjut: Monty Hall probability theory). Yang bikin menarik, di bulan Ramadhan ini, kontestan acara TV tersebut rata-rata adalah orang tidak mampu dan memiliki keterbatasan fisik.

Waktu awalnya gue nggak sengaja nonton ini, gue menanggapinya dengan biasa aja. Jujur aja gue kurang suka nonton TV dan gue cenderung lebih suka menjadikan suara TV sebagai background noise saja. Tapi lama-lama gue memperhatikan acara TV ini dan gue menemukan banyak sekali hal yang janggal, yang bisa digolongkan dalam satu kalimat: Kita masih suka merasa kasihan (pitying) orang lain.

Rasa kasihan tentu sering dialami oleh kita semua, ketika melihat sesuatu atau seseorang yang kita rasa kurang beruntung dari kita, contohnya orang-orang difabel, orang dengan keterbatasan ekonomi, dll. Menurut gue itu adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi lama-lama gue semacam geli dengan perilaku orang yang terlalu sering suka merasa kasihan dengan orang lain, seolah-olah kehidupan orang yang dikasihani mereka itu sangat sangat susah. Contohnya para kontestan di acara TV ini. Nggak jarang si kontestan dipanggil secara acak, kemudian sebelum main, si pembawa acara nanya-nanya seputar kehidupan si kontestan dan menjadikan acara tersebut kayak semacam festival khusus buat mengasihani si kontestan hanya karena dia cacat fisik atau datang dari kalangan masyarakat kelas bawah. Nggak jarang juga kamera menyorot tatapan para penonton di studio yang menatap si kontestan dengan tatapan iba yang cenderung berlebihan, bahkan ada juga yang menangis di studio. Semuanya dilakukan dengan alasan rating.

Gue menganggap acara-acara dan praktek mengasihani orang lain ini sangat berlebihan. Kenapa? Karena tanpa kita sadari, sebenarnya orang-orang yang kita kasihani itu ingin dianggap setara dengan orang lain, dan orang yang melakukan tindakan mengasihani itu sedang melakukan sesuatu bernama patronizing. Patronizing adalah sesuatu yang kita lakukan ketika kita melakukan sesuatu yang baik, namun seolah-olah mereka lebih rendah daripada kita, sehingga menghasilkan perasaan atau sebuah situasi dimana seseorang/sebuah kelompok merasa superior daripada yang lain. Dalam konteks ini, padahal bisa jadi orang-orang yang jadi kontestan di acara TV ini emoh dikasihani dan ingin dianggap setara. Contohnya mereka mau berusaha dianggap setara ya dengan cara bekerja, biarpun itu sebagai buruh tani atau tukang cuci keliling. Walaupun lagi-lagi pekerjaan itu sering dianggap sebagai ‘pekerjaan yang butuh dikasihani’ oleh orang lain dengan kemampuan ekonomi yang lebih. Kita juga nggak tahu kan, siapa tahu mereka bekerja sebagai buruh cuci tapi hidupnya bahagia? Yang namanya kebahagiaan itu nggak bisa diukur dari seberapa uang yang kita punya atau apakah kita punya bagian tubuh yang lengkap atau nggak, kan?

Terlebih lagi, rating adalah segalanya, kita nggak bisa bohong dengan itu. Sepertinya orang-orang Indonesia memang suka sekali merasa iba yang berlebihan terhadap orang yang mereka rasa kurang beruntung, sehingga banyak sekali acara TV yang intinya mengasihani dan mengeksploitasi orang miskin. Contohnya adalah beberapa reality show yang memberi sejumlah uang kepada orang kurang mampu asal mereka harus membelanjakan uang tersebut dalam waktu 1 jam, reality show renovasi rumah orang tidak mampu, atau reality show semacam pertukaran nasib antara orang kaya dengan orang miskin. Dalam semua acara TV ini, ada satu kesamaan: kehidupan si miskin digambarkan serba kekurangan dengan latarbelakang musik sedih dan narasi ala-ala hidup orang susah. Lama-lama gue malas lihatnya, karena masalah lain akan muncul: patronizing yang berakhir dengan eksploitasi orang miskin. Dulu sih gue menganggap ini sebuah hal yang normal, tapi sekarang gue malah geli sendiri dengan kelakuan gue dulu yang menganggap hal ini biasa aja. Kalau kayak begini terus, yang namanya masyarakat setara ya nggak akan terjadi, karena media juga terus-terusan mengekspos jurang antar kelas ekonomi dalam masyarakat.

Bagaimana dengan kalian? Apakah secara tidak sadar kalian masih suka mengasihani orang lain yang cenderung ke arah patronizing?

Anak-anak, Jangan Jatuh Cinta!

Cinta itu universal. Cinta sifatnya bisa bertransformasi kepada siapa saja yang membutuhkan. Entah cinta kepada sahabat sendiri, binatang peliharaan, atau cinta kepada orang asing. Bentuk cinta juga bermacam-macam, ada cinta kepada orang tua, sahabat, dan cinta kepada sesama atau lawan jenis yang biasa disebut pacaran. Cinta juga bisa dialami semua umur, mulai dari ABG, orang muda, kakek nenek, bahkan anak-anak. Coba tonton video di bawah ini.

Video ini muncul di News Feed Facebook gue ketika seorang teman berbaik hati menekan tombol share. Setelah gue tonton, ternyata pesannya positif banget, dan entah kenapa mereka ngingetin gue sama Hazel Grace Lancaster dan Augustus Waters, pasangan yang berjuang bersama melawan kanker di novel dan film The Fault in Our Stars.

Kemudian nggak lama kemudian ada seorang kenalan yang adalah mutual friends gue dan teman gue itu yang berkomentar agak negatif. Dia agak menyangsikan, masa anak kecil udah tau falling in love, menurut dia rasanya ngeri. Kemudian gue membalas, gue bilang ya wajar saja kalau mereka celebrate the love, malah lebih baik begitu kan daripada belajar membenci orang. Kemudian ada beberapa orang lain yang berdiskusi sesuai dengan trigger gue di atas. Dan gue kepikiran tentang stigma dilarang jatuh cinta dalam dunia anak-anak, maka itu gue memutuskan untuk menulis di blog ini.

Sejak kecil, pasti kita sudah tahu konsep tentang cinta. Apalagi kalau bukan cinta monyet atau bahasa Inggrisnya puppy love. Menurut gue konsep ini adalah bagian yang sangat unik dari perjalanan manusia, karena cinta yang mereka rasakan itu polos sekali. Bisa aja seorang anak cowok suka dengan teman sekelasnya karena temannya itu rambutnya selalu dikuncir dua setiap hari. Atau seorang anak cewek yang suka dengan teman mainnya karena mereka suka saling meledek satu sama lain. Hal-hal kecil bisa dijadikan alasan utama kenapa mereka bisa merasakan jatuh cinta, walaupun kita tahu seiring waktu berjalan, ada banyak faktor lain yang menentukan perasaan jatuh cinta.

tumblr_lcht94uc4o1qzkw9bo1_5002
Lihat deh, mereka lucu banget ya!

Tapi entah mengapa gue melihat kecenderungan bahwa orang dewasa di negara-negara Timur menganggap bahwa anak-anak tidak boleh mengenal cinta. Mungkin kenalan gue itu juga berpikir demikian, sehingga dia bisa bilang bahwa dia merasa ngeri dengan konsep anak umur 12 tahun sudah bisa bilang falling in love. Tentu kita pernah mendengar atau mengalami, ketika sedang bersemangat menceritakan tentang cinta monyet kita, para orang tua menjawab dengan kata-kata seperti “Ah kamu masih kecil, jangan pacaran dulu lah!”, atau kalau melihat film atau media bermuatan anak-anak yang jatuh cinta, orang dewasa biasanya berkomentar, “Kok film/lagu/video klip ini ngajarin anak kecil pacaran ya, nggak bener nih…”. Pertanyaan gue, kenapa ya banyak orang dewasa yang menganggap kalo anak kecil mengenal cinta itu bahaya? Apa faktor-faktor yang membuat seorang dewasa merasa jengah ketika mendengar atau melihat cerita dua orang anak yang menyukai satu sama lain?

Gue melihat kecenderungan yang berbeda di belahan dunia Barat. Anak-anak, alih-alih dialihkan dari perkara cinta, malah dibiasakan untuk mencintai hal-hal yang ada di sekitarnya sejak kecil. Mencintai orang tua, mencintai saudara, mencintai binatang peliharaan, mencintai guru di sekolah, mencintai teman-teman, dan lain-lain. Jika mereka menyukai temannya di kelas dan dengan polosnya mengaku ke orangtua mereka, si orangtua malah akan menganggap itu sebuah hal yang lucu, bukannya malah dilarang untuk menyukai si temannya tersebut. Mungkin hipotesa gue ini salah, tapi paling nggak itu yang gue perhatikan di luar negeri. Mungkin karena itu juga, banyak muatan media yang mengajarkan cinta, bahkan cinta sejak masih anak-anak. Masih ingat dengan video klip Taylor Swift dan Ed Sheeran yang ‘Everything Has Changed’? Itu salah satu video klip bermuatan cinta monyet.

Kalau menurut gue sih, gue sangat menganggap bahwa cinta itu berhak dinikmati semua makhluk di bumi ini, termasuk anak-anak. Justru mereka memiliki ide cinta yang paling murni, yaitu mencintai seseorang karena hal-hal kecil yang dia lakukan. Bukannya itu hal pertama yang harus kita cintai sebelum mengenal orang tersebut? Cinta monyet memiliki dimensi yang berbeda dan lebih sederhana daripada cinta orang dewasa. Terkadang, orang dewasa suka memaksakan dimensi cinta orang dewasa kepada cinta monyet, sehingga mungkin itu alasan kenapa orang-orang dewasa banyak yang jengah melihat cinta di kalangan anak-anak. Come on, definisi cinta anak umur 12 tahun kan berbeda dengan definisi cinta orang berumur 25 tahun. Jangan langsung dipikirkan kalau anak kecil sudah tahu jatuh cinta, lama-lama dia akan tahu hal yang lebih dewasa, tentang seks misalnya, karena cinta dan seks adalah dua hal yang berbeda.

Yah, kadang-kadang kita yang orang dewasa memang harus belajar mencintai dengan sederhana, seperti puisinya Sapardi Djoko Damono atau seperti cinta versi anak-anak. Kalau kalian, gimana pendapatnya tentang fenomena cinta monyet seperti video di atas? Dan jika kalian punya anak atau saudara yang masih kecil, apa kalian lebih suka mengenalkan konsep tentang cinta dari kecil, atau memilih untuk menghindarkan anak-anak dari cinta monyet?

*Gambar diambil dari sini

Irawan Soejono, Pahlawan Pribumi Belanda

Hubungan Indonesia-Belanda adalah sebuah hubungan yang pelik. Secara politis, kedua negara ini punya hubungan baik, namun sangat tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia selamanya memiliki ikatan kolonial dengan negara bekas penjajahnya. Baik itu dalam bentuk transfer pengetahuan, kebudayaan, atau hal-hal yang bisa ditemui sehari-hari seperti makanan dan kemiripan beberapa kata, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Belanda.

Kota Leiden, kota yang saya tinggali sekarang, memiliki hubungan yang sangat erat dengan kemerdekaan Indonesia. Kota ini menjadi saksi upaya kemerdekaan Indonesia dari sudut pandang cendekiawan dan mahasiswa, terutama mahasiswa Indonesia yang disekolahkan pemerintah Hindia Belanda untuk menuntut ilmu di kota-kota pelajar seperti Leiden dan Delft, namun memutuskan untuk berbalik dan mendukung kemerdekaan negara koloni. Namun, tak sedikit pula orang Indonesia yang memilih untuk bersikap lebih lunak terhadap penjajah, seperti orang-orang Cina dari Hindia Belanda yang disekolahkan di Belanda dan memilih untuk membuat organisasi sendiri yang menyatakan sikap politis mendukung pemerintahan kolonial di Hindia Belanda. Namun, apapun tendensi politik mahasiswa Hindia Belanda pada masa itu, mereka bersama rakyat Belanda mempunyai satu suara dalam satu hal: menginginkan penjajahan tidak berlaku lagi di tanah Belanda. Dalam hal ini, pada Perang Dunia 2, ketika Nazi Jerman menduduki sebagian besar kota di Belanda termasuk Leiden.

Leiden tentu saja tidak mau ketinggalan. Terkenal sebagai kota yang resisten sejak masa penjajahan Spanyol, warga Leiden melakukan hal yang sama pada Perang Dunia 2. Terlebih lagi, pada saat itu, Nazi Jerman menginginkan adanya purifikasi ras dalam dunia akademis, tak terkecuali di Universiteit Leiden. Artinya: tidak boleh ada dosen atau karyawan universitas yang berdarah Yahudi atau orang-orang non Jerman dan Belanda. Di kalang akademia, ada Profesor Cleveringa yang “pasang badan” dalam menjamin keamanan dan kebebasan akademia berdarah campur. Untuk mahasiswa? Ratusan mahasiswa, Belanda maupun non-Belanda, ramai-ramai mendukung tentara sekutu dan tentara Belanda untuk mengusir Nazisme. Seorang mahasiswa Indonesia bernama Irawan Soejono adalah salah satunya.

Siapakah Irawan Soejono? Mengapa dia tidak seterkenal orang Indonesia lainnya seperti Achmad Soebardjo atau Sosrokartono, kakaknya Kartini? Irawan adalah mahasiswa pribumi dengan orangtua yang cukup berada. Irawan bersama ayah, ibu, dan tiga saudara kandungnya berangkat ke Belanda saat Irawan berusia 6 tahun. Tak banyak yang diketahui lebih dalam tentang Irawan kecil, hanya saja terdapat catatan bahwa dia masuk sekolah di Bataviaasche Lyceum. Hal ini menandakan bahwa dia adalah anak yang cerdas, karena Lyceum adalah tingkatan sekolah yang sangat prestisius, satu tingkat di bawah universitas.

Sepak terjang Irawan dimulai saat dia kuliah di Leiden. Pada saat itu, dia cukup vokal di Perhimpunan Indonesia (PI). Pada saat Irawan menjadi mahasiswa, di Leiden bukan saja hanya ada PI sebagai organisasi untuk orang Indonesia. Ada dua organisasi lain yang cukup menonjol, seperti Roemah Peladjar Indonesia (Roepi) dan Indonesische Clubhuis. Roepi lebih fokus pada bidang transfer budaya, sementara Indonesische Clubhuis adalah rumah senang-senangnya mahasiswa Indonesia di Leiden, karena organisasi ini sering mengadakan acara pesta dansa untuk mahasiswa Leiden serta mengundang mahasiswa Belanda yang terkumpul dalam organisasi pelajar bernama Minerva.

07913cb5-b2db-44fc-83f4-e2f445996aa3
Suasana pesta dansa di Indonesische Clubhuis. Lihat cewek yang lagi dansa dengan baju warna dasar putih? Dia adalah kakak perempuan Irawan Soejono! Gambar dari media.kitlv.
6741b708-7899-46c3-897f-c9b35ce7c553
Jajaran petinggi Roepi (Roemah Peladjar Indonesia), organisasi mahasiswa Indonesia yang bergerak di bidang transfer budaya dan kesenian. Foto dari media.kitlv.

Namun, masa belajar Irawan terusik saat Nazi Jerman memasuki kota Leiden. Irawan langsung aktif dalam kelompok bawah tanah untuk menyebarkan ideologi anti-Nazisme. Pekerjaan utama Irawan pada kelompok tersebut adalah untuk mencetak brosur dan pamflet. Ada juga anggota kelompok yang bertugas untuk memalsukan identitas orang Yahudi. Keuletan Irawan bahkan membuatnya diberi julukan Henk van de Bevrijding alias Liberation Harry. Sayangnya, tidak ada foto Irawan Soejono yang benar-benar diambil pada masa aktifnya. Mungkin karena waktu itu dia banyak bermain di organisasi bawah tanah, sehingga dia memilih untuk tidak banyak difoto untuk merahasiakan identitasnya.

Sayangnya, nasib Irawan berakhir tragis. Dia ditembak di pelipis oleh tentara Nazi ketika sedang membawa mesin stensil. Penembakan itu terjadi di siang hari bolong di Breestraat, pusat ekonomi Leiden, dan jalan yang sekarang selalu saya lewati setiap kali mau pergi ke stasiun. Sekarang saya memiliki perasaan aneh setiap melewati Breestraat, mengingat seorang mahasiswa Indonesia pernah ditembak mati disitu.

Tak berapa lama setelah kematian Irawan, perjuangannya membuahkan hasil. Belanda bebas dari Jerman pada tanggal 5 Mei 1945. Dalam parade keliling Leiden untuk merayakan kebebasan Belanda, ada sebuah barisan khusus bernama Barisan Irawan yang terdiri dari mahasiswa Indonesia. Nama Irawan dipakai untuk menghormati perjuangan mahasiswa Indonesia tersebut.

timthumb
‘Barisan Irawan’ pada saat parade kebebasan Belanda dari Jerman. Foto diambil dari Mareonline.nl.

Dan kemarin adalah momen yang sangat berkesan bagi Leiden dan orang Indonesia. Setiap 4 Mei, Belanda merayakan Dodenherdenking untuk menghormati korban Perang Dunia 2. Rumah-rumah menaikkan bendera setengah tiang dan pada pukul 8 malam, seluruh Belanda mengheningkan cipta selama dua menit. Khusus di Dodenherdenking tahun ini, pemerintah Leiden mendedikasikan hari nasional ini untuk mengenang tentara Indo dan Indonesia yang berjuang melawan Nazi Jerman, termasuk Irawan Soejono. Terlebih itu, secara simbolis, pemerintah Belanda mengakui Irawan Soejono sebagai pahlawan perang. Saya merasa sangat bangga, bukan karena kebanggaan berasal dari satu negara dengan Irawan, namun karena keberanian beliau. Menurut saya, Irawan Soejono adalah salah satu kunci hubungan baik antara Belanda dan Indonesia, yang menggambarkan bahwa kemanusiaan dan kesadaran untuk membantu orang lain kekuatannya jauh lebih besar daripada dendam penjajahan dan nasionalisme buta.

DSC_0096
Prosesi penyerahan bunga di Pieterskerk Leiden pada Dodenherdenking tanggal 4 Mei 2016 kemarin.

How NOT to Overshare: Couples Edition

status
Picture taken from Google Image

A few months ago I made this post about dating and the tendency for Generation Y people to overshare their romantic endeavors on social media. In that post, I felt sorry for the people around my age who were in a relationship, overshare every moment, and ended up deleting them all once the relationship went downhill, or even worse, once it ended.

When I wrote that post, I was still living my life as a young, single woman. Now that I’m already in a relationship, how can I relate to the post I wrote in the past?

Thank goodness, so far I have succeeded in keeping my love life private. Even though Mr. C and I have agreed that we will not keep each other as a secret, I still think to post a shitload of our selfies to the public as something inappropriate and annoying. Yes, most of my friends here have known that I’m in a relationship, but only a few of them who knows his name and where he lives.

On the other hand, I know what it’s like to have the urge of posting your pictures with your S.O. on social media. Why? Because I feel it too! Every time we spend time together, there are times when I just want to grab my phone and post something about what we are doing at the moment. So far, I have managed to check-in only twice (I mask his identity, or I don’t tag his name at all) and posted our selfie once. A silly selfie, to be exact. And I don’t post them in public; I curate a particular list of people whom I can share the post with. Those are the people whom I consider dearest to me (such as my best friends for ages, or people who are close to me in the Netherlands).

So, how to overcome the urge of oversharing on social media, especially for new lovebirds? I only have one answer for this: the answer lies within yourself. You are the one who controls your social media account, not the opposite! For example, when you are going on a date with your partner, try to be present at the moment (read: not thinking to take out your phone and check-in or post a status about your whereabouts). Try to think that this is the moment only worth sharing between the two of you. I think that is a sweet gesture and by thinking about it, I manage to reduce the whim to post our activity online. Nowadays I am learning that being selfish with your partner (in an appropriate dosage) is OK! Not every moment is worth sharing, because most moments are made only to be cherished and remembered by both of you. Not every relationship is audience-worthy! Anyway, your love life is not a TV show, every day does not have to be a perfect day, so stop making it look like one!

If you are having struggles by oversharing on social media, I hope this will help you 🙂 I might sound pretty harsh at some points, but trust me, sugarcoated lies will not make your life better.

What about you? Do you have any tips on how to be low profile on social media? Let the world know by posting it on the comment section below.

Orang Jakarta Beneran Berani?

Sebelumnya, gue mau mengucapkan turut berdukacita untuk korban serangan yang diduga sebagai serangan teroris di Jakarta, 14/1/2016. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Beberapa jam setelah serangan tersebut, mulai muncul tagar #KamiTidakTakut atau #WeAreNotAfraid di media sosial. Mulai muncul juga berbagai screenshot postingan orang di media sosial atau berita berantai tentang keberanian warga Jakarta yang ditunjukkan lewat foto tukang sate yang kabarnya jualan dalam radius 100 m dari TKP yang cuek aja jualan walaupun situasi sedang mencekam. Bahkan seorang fotografer terkenal Indonesia nge-retweet foto seorang pedagang asongan yang tetep berjualan di tengah keributan massa. Banyak juga foto-foto di internet yang isinya adalah kerumunan orang di TKP, dan semua itu ditulis sebagai betapa beraninya warga Jakarta melawan teroris. Seketika orang Jakarta diagung-agungkan sebagai orang-orang pemberani.

Tapi seperti biasa… gue lama-lama terusik dengan segala tagar #KamiTidakTakut dan kecenderungan bahwa orang Indonesia menganggap orang Jakarta di peristiwa kemarin adalah orang-orang berani. Kenapa?

Pertama, dimana-mana kalau ada serangan teroris atau kejahatan dengan target massal, hal pertama yang seharusnya dilakukan setiap individu adalah CARI TEMPAT AMAN. Kosongkan TKP, biarkan pak polisi yang ngurusin serangan. Bukannya malah lari berhamburan ke arah TKP! Gimana sih? Bayangin kalo seandainya serangan kemarin jauh lebih besar, kemudian orang-orang itu daripada berlindung di tempat aman malah berhamburan di TKP. Pasti pada mati konyol semua. Hanya karena semangat “tidak takut”. Ada pilihan untuk menyelamatkan nyawa, malah lari ke sumber kejahatan. Gue juga penasaran kenapa mereka memilih untuk lari ke TKP. Kemungkinan besar mereka mau foto-foto kejadian, kemudian masukin ke media sosial, atau jangan-jangan pada selfie di tengah kejadian. Semuanya demi eksis. Jaman sekarang ternyata yang namanya eksis jauh lebih penting daripada menyelamatkan nyawa sendiri.

Kedua, soal para pedagang yang dengan cueknya masih berdagang di TKP. Men… ini nih efeknya kapitalisme. Yang namanya cari duit masih tetep dianggap lebih penting dari nyawa sendiri. Gue heran sama yang memuji orang-orang yang jualan di TKP tersebut dengan kata-kata “orang Jakarta itu berani, nggak takut sama teroris, tetep aja jualan”. Sama aja kayak yang di atas kalo ini mah. Bedanya mereka lebih mementingkan untung daripada nyawa. Mungkin yang ada di pikiran mereka: “Ada bom = orang-orang pada foto-foto di TKP = kesempatan bagus buat tetep jualan = pasti untung besar”. Kasihan. Masih untungnya mereka nggak apa-apa. Jangan sampe mati konyol cuma karena mau tambah laba.

Menurut gue, menelurkan tagar #KamiTidakTakut itu bagus. Menunjukkan bahwa orang Indonesia nggak takut sama aksi terorisme dan fanatisme agama, juga menunjukkan bahwa nggak ada ruang untuk terorisme tumbuh di Indonesia. Tapi sayangnya dengan kejadian di atas, tagar ini lebih digunakan untuk menjustifikasi dan memuji perbuatan-perbuatan bodoh yang seharusnya bisa dihindari kalau-kalau masih mementingkan akal sehat. Kebanyakan orang di kerumunan tersebut bukanlah fotografer berita atau jurnalis yang memang sepantasnya berada disana, tapi hanya rakyat biasa yang sebenernya juga nggak penting-penting amat untuk berada di kerumunan. Eh ini bukannya sayang nyawa, malah memilih untuk berkerumun dan berjualan di TKP. Pada nggak kepikiran keluarga dan teman ya, sehingga memilih untuk jadi penonton dan berkerumun di tempat bahaya daripada cari tempat aman untuk berlindung? Percuma berkoar-koar ‘orang Jakarta pemberani’, ‘kami tidak takut’, kalo ternyata definisi ‘berani’ dan ‘tidak takut’ yang dimaksud adalah ‘berani berbuat bodoh’ dan ‘tidak takut mati konyol’.

Jadi, dalam kejadian kemarin, apakah orang Jakarta beneran pemberani? Berani mati konyol, iya. Berani untuk menyelamatkan diri sendiri dan merelakan untuk tidak eksis dan merelakan untuk tidak untung, belum sampai situ levelnya.