Curhat: Kangen Kehidupan Lama

Sudah sekitar 6 bulan gue bekerja jadi pekerja kantoran, tapi gue malah baru akhir-akhir ini kangen dengan kehidupan lama gue. Yang gue maksud dengan kehidupan lama adalah kehidupan saat gue masih kuliah S2, masih tinggal sendiri, masih tinggal dikelilingi teman-teman. Bosen dikit, tinggal telpon, ngajak ketemuan atau main bareng. Setiap weekend pasti pergi ke luar kota atau ke museum.

Sekarang? Pulang kantor udah capek, bawaannya pengen nonton TV aja di rumah atau main game atau masak. Saat akhir minggu datang, lagi-lagi cuma pengen di rumah aja. Temen-temen lama sudah sulit dicari, karena sudah pada pulang ke Indonesia atau rumah udah jauh jadi susah buat ketemuan lagi. Pokoknya nggak seperti yang dulu, deh.

Mau cari hobi baru juga susah, ya itu tadi… terlalu capek. Padahal pengen banget rombak blog, kembali ke hobi hand-lettering, dan belajar software untuk menggambar. Banyak maunya, tapi nggak tau kapan mau merealisasikannya.

Mungkin gue ngerasa pengen ke kehidupan lama ini saat ngeliat instagram story beberapa teman gue yang masih di Leiden. Pada main ke rumah satu sama lain, makan-makan, main board game… persis banget sama kehidupan gue yang dulu. Dan sebenernya gue iri juga karena gue juga pengen kayak gitu. Tapi ya seperti yang gue udah cerita kadang-kadang di Twitter, nyari temen yang sepemikiran itu susah, apalagi kalau merantau begini. Salah-salah malah dapat teman suka gosip atau teman yang cuma pengen ada kalo lagi seneng doang.

Huffffff. Sampe nggak tau gimana mau menutup tulisan curhat ini.

Tentang House dan Roomsharing di Belanda

edkZxW6VZp-705x470

Tulisan advertorial.

Di Belanda, usia 18 tahun sudah disebut usia dewasa. Di umur ini, seseorang sudah dianggap bisa menentukan sendiri gaya hidupnya, termasuk menentukan pekerjaan dan tempat tinggal sendiri. Bukan gaya hidup spesial lagi jika seseorang yang baru menginjak usia 18 tahun untuk pindah ke kota lain, bersekolah/bekerja, dan tinggal di rumah kontrakan sendiri atau bersama teman.

Gue sendiri juga mengalami fase ini, walaupun agak terlambat. Fase tinggal sendiri ala gue dimulai saat umur 24 tahun, ketika gue pindah ke Belanda. Saat itu, gue tinggal di studio apartemen milik kampus yang disewakan ke mahasiswa internasional. Setelah satu tahun tinggal di studio tersebut dan kontraknya sudah habis, gue memutuskan untuk mencoba housesharing alias mencari kamar di rumah yang disewa oleh beberapa orang.

Awalnya gue kira housesharing itu sama seperti rumah kost. Ternyata beda! Perbedaan yang paling mencolok adalah, housesharing nggak punya ibu kost. Jika kita memutuskan untuk tinggal bersama beberapa orang, rumah tersebut akan jadi tanggung jawab kita sendiri. Ada rumah yang memberlakukan sistem jadwal membersihkan rumah, ada juga yang sukarela. Ada rumah yang menyewa tenaga cleaning lady seminggu sekali, ada juga yang tidak.

Menurut gue, housesharing lebih menantang karena disitulah kita belajar mandiri. Memang sih kita akan share toilet, kamar mandi, dapur dan ruang nonton, tapi begitu masuk kamar kita, ya itu adalah wilayah kita. Housesharing juga melatih skill komunikasi dan skill negosiasi kita, gimana caranya kita bisa ngomong dengan baik ke teman serumah jika dia terlalu berisik atau jika dia sering telat bayar uang sewa bulanan.

Nah, awalnya gue pikir sistem housesharing hanya ada di negara-negara Barat. Ternyata konsep ini sudah dicoba di Indonesia, bahkan ada website-nya! Jika kamu kepingin coba tinggal sendiri dan mau nyari teman serumah yang cocok, coba deh pergi ke website Serumah.com.

Apa itu Serumah.com? Website ini adalah ajang cari jodoh untuk mencari teman serumah yang tepat. Jadi bukan kayak OKCupid atau Tinder, ya :p Serumah.com dibangun karena para penemunya merasakan adanya tuntutan mencari teman serumah bagi mahasiswa atau entry-level workers untuk menekan biaya hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dll. Bener lho, jika kalian mencari teman serumah, niscaya biaya hidup bisa ditekan jadi jauh lebih murah. Bandingkan dengan kost yang makin lama makin mahal, dan kita nggak bisa main cocok-cocokkan terlebih dulu dengan penghuninya.

Yang bikin Serumah ini menarik, setelah kamu mendaftar, maka kamu bisa mengiklankan rumah/kamar kamu atau mengiklankan bahwa kamu sedang mencari teman serumah/sekamar. Ada banyak juga preferensinya, apakah kamu mau cari teman serumah yang merokok, gendernya sama, atau mau cari teman serumah yang sudah sama-sama bekerja atau masih kuliah juga bisa.

Seandainya konsep seperti ini ada di Belanda! Sejauh ini, pengguna Facebook bisa menggunakan jasa grup di Facebook untuk mencari teman serumah atau mencari rumah baru yang bisa disewa. Tapi nggak ada website yang bisa menggabungkan pencari kamar/rumah dengan pencari teman serumah/sekamar seperti Serumah ini.

Kalau kamu tinggal di kota besar, nggak mau ngekost karena mahal, coba deh pikirkan opsi housesharing seperti yang ditawarkan Serumah. Mau lebih asyik lagi? Daftar aja di Serumah mulai dari sekarang. Gratis lho!

Selamat belajar mandiri dengan housesharing!

 

Etika Jadi Turis

Sepertinya tulisan bernada seperti ini udah sering banget ditulis oleh rekan-rekan blogger lain. Kali ini gue mau ikutan ah, dan dengan nada sangat tidak menggurui, gue mau ‘ngajarin’ kalian gimana cara menjadi turis yang baik dan benar, apalagi kalau kalian orang Indonesia yang baru pertama kali pergi ke negara yang jauh… contohnya negara-negara di Eropa. Gue kasih contoh negara-negara Eropa saja ya.

Kenali Etika Berbasa-basi di Negara Setempat

Orang Eropa tuh, basa-basinya beda sama orang Indonesia. Di Indonesia, basa-basinya sekitaran pertanyaan-pertanyaan seperti ini: “Eh, mau kemana?”, “Mbak/Mas sekolah atau kuliah?”, dan “Udah makan, belom?”. Di Eropa, basa-basinya biasanya ngobrolin cuaca. Duh, sebenernya ngobrolin cuaca di Eropa tuh menyenangkan lho, karena bisa aja kita ngobrol tentang apa yang kita lakukan kemarin saat cuaca lagi badai (“Eh, kemaren badai banget ya, gue nggak bisa keluar rumah, lho!” atau saat cuaca lagi cerah-cerahnya (“Duh, panas banget ya hari ini, pengen makan es krim”).

Kenapa gue tulis ini jadi nomor satu? Karena banyakan turis Indonesia mengira bahwa basa-basi dimana-mana tuh sama aja. Contohnya waktu kemarin jalan-jalan ke Austria bersama keluarga, gue harus menahan malu saat bokap terus-terusan nanya ke setiap supir Uber yang kami tumpangi, “Asalnya dari mana?”. Menurut gue, agak nggak sopan buat seseorang nanya asal saat baru pertama bertemu. Mungkin di Indonesia wajar karena di Indonesia kan suku-nya yang beragam, bukan negara asal, tapi kan Indonesia nggak kayak Eropa yang penduduknya heterogen… Apalagi supir-supir Uber tersebut bukan orang Austria asli karena asal mereka beragam mulai dari Suriah sampai Turki. Yang bikin lebih facepalm, pas si supir tersebut bilang dari Suriah, bokap gue jawab, “Wah, orang kamu banyak yang ke negara saya, cari cewek!” (Mungkin maksud dia adalah fenomena kawin kontrak di daerah Puncak). Mampus, rasanya gue malu banget!

Kalau Dijutekin, Jangan Baper

“Jutek” di negara-negara Eropa bisa diartikan sebagai “direct“. Pekerjaan servis di Eropa tuh biasanya terkenal dengan pace yang sangat cepat dan servis yang no bullshit, nggak seperti di Indonesia yang penuh senyum dan pramusajinya rela nungguin pelanggan nentuin pesanan yang sering berubah-ubah. Tugas si pramusaji ya mencatat order dan menyajikan pesanan, sekaligus urusan bayar-membayar. Kalo kamu beli makanan di restoran, tentuin dulu makanan yang mau dipesan sebelum si pramusajinya datang biar begitu dia datang, kamu bisa langsung pesan. Bukannya nyuruh si pramusaji nongkrong di meja kalian sementara kalian baca menu, itu nggak efektif namanya.

Kalo kamu punya pengalaman dijutekin sama pegawai servis di Eropa, bisa jadi kamu ngelakuin sesuatu yang bikin kerjanya terhambat, seperti kelamaan pesan, atau ganti-ganti pesanan. Jelas aja si pramusaji jutek sama kamu! Kalau sudah dijutekin gini, jangan malah jadi defensif karena jelas-jelas salahnya ada di kamu dan bukan si pramusaji.

Begitu juga kalau dapat supir Uber yang nggak mau ngobrol. Lha kan mereka hanya supir, tugas mereka cuma buat mengantar kamu ke tempat tujuan, bukan ngeladenin kamu ngobrol. Kalau dapat supir yang nggak banyak ngomong ya nggak usah dikasih rating rendah. Toh dia nggak ngapa-ngapain kamu, kan?

Bebas Ngomong Apa Saja

Selama gue pergi berlibur ke Austria dengan keluarga (bokap, nyokap dan dua adik), mereka punya satu kebiasaan yang menurut gue agak aneh: bisik-bisik saat ngomongin negara-negara asal refugee dan soal refugee crisis.

Kenapa aneh? Karena menurut gue masalah ini adalah masalah terbuka buat diomongin semua orang, apapun pendapat mereka. Tapi gue paham kenapa mereka bisik-bisik, mungkin menurut mereka itu isu sensitif dan yang paling penting kan mereka gak mengalami hal tersebut, cuma denger-denger soal berita ini dari media massa yang entah tendensinya kemana. Kalau gue, karena gue mengalami tinggal di negara yang banyak imigrannya (lha gue juga imigran, kan…) jadi gue pendekatannya cenderung lebih santai.

Kalau datang ke Eropa dan mau kelihatan sedikit berbobot, mulailah cari-cari berita yang netral tentang krisis imigran dari sekarang. Jangan lupa, bacanya harus tanpa penilaian apapun dan seobjektif mungkin. Biar nanti kalau dapat supir Uber dari Suriah atau negara-negara konflik lainnya, nggak kaget seperti bapak gue.

Kayaknya hanya segitu aja uneg-uneg gue tentang etika orang Indonesia ketika main ke negara-negara Eropa. Ada yang mau nambahin?

 

Belajar Merelakan

Duh, judulnya serius banget ya sepertinya. Tapi iya nih, gue mau cerita/ngobrol sesuatu yang serius. Semoga tulisan ini juga bisa jadi pembuka mata untuk kalian yang kali-kali aja mengalami hal yang sama dengan gue.

Jadi mungkin kalian udah baca curhatan gue di tulisan sebelumnya tentang si teman yang drama, yang tiba-tiba ngejauhin gue cuma karena dia nggak suka dengan rencana gue ngejodohin dia. Update terbaru dari si teman drama, beberapa hari lalu gue baru sadar bahwa dia juga ngeblok gue dari semua media sosial yang dia punya.

Rasanya dalam hati pengen bilang, “Apaan sih lo? Drama di dunia nyata dibawa-bawa ke dunia maya. Nggak penting, tau!” Gue ngerasa gimana ya? Sedikit kesal, bete, sedih, dan kasihan juga. Kesal dan bete karena gue tahu masalah beginian nggak perlu dibesar-besarkan dengan cara ngeblok gue dari media sosial. Sedih karena gue ngerasa jaman sekarang gampang banget kehilangan teman. Ngerasa kasihan karena gue mikir nih orang nggak dewasa banget ya, drama-drama kayak gini kan biasanya dialami waktu jaman SMA. Gue juga mikir, ya sudah lah, mungkin emang gini caranya dia menjauhkan diri dari gue, kalo untuk sementara waktu ya nggak papa, kalo untuk selamanya juga ya udah.

Tapi semakin lama gue berpikir, makin gue sadar bahwa mungkin emang ini saatnya untuk merelakan seorang teman. Buat gue, lebih baik punya teman yang bisa mengkritik gue langsung tapi selanjutnya kami baik-baik aja dan masih nongkrong bareng, daripada punya teman yang bisanya cuma main blok di dunia maya, sebaik apapun dia ke gue. Karena yang namanya teman justru bisa keliatan teman baik nggaknya kalo lagi ada masalah, kan? Lewat peristiwa ini gue jadi tau bahwa dia bukan teman yang baik. Mungkin dia bisa jadi teman yang baik untuk orang lain, tapi bukan untuk gue.

Gue memang sudah mengalami banyak peristiwa kehilangan teman, tapi sepertinya kehilangan teman pas lagi merantau tuh lebih sedih daripada kehilangan teman pas masih di Indonesia. Ya iya lah, pas lagi merantau tuh penting banget punya temen curhat, temen main, biar tetep waras, hehehe… Tapi ya sudah lah, gue juga nggak mau terbelenggu di pertemanan yang berpotensi nggak sehat. Lebih baik punya sedikit teman tapi mereka setia daripada banyak teman tapi banyak drama juga. Ya, nggak?

Kenapa Sakit di Belanda Nggak Mahal?

Beberapa minggu yang lalu, gue sempat menulis tentang alur pergi ke dokter di Belanda. Disini memang jauh berbeda dengan Indonesia. Kalau di Indonesia, biasanya kalau rumahnya dekat rumah sakit ya langsung pergi ke rumah sakit dan mencari dokter spesialis. Sementara itu, di Belanda, semua orang wajib pergi ke klinik dulu untuk bertemu dokter umum. Dokter umum akan merujuk kita ke rumah sakit dan dokter spesialis kalau dia merasa penyakit kita sudah cukup parah untuk ditangani dokter biasa.

Sekarang gue mau ngomongin tentang asuransi kesehatan. Ide menulis tulisan ini muncul begitu saja ketika seorang teman blogger me-mention gue dalam jawabannya di Twitter mengenai asuransi kesehatan. Nah, di tulisan gue yang terdahulu, gue sudah menyinggung sedikit tentang pentingnya memiliki asuransi kesehatan di Belanda, sekarang gue mau nulis selengkap-lengkapnya. Semoga bermanfaat untuk kalian yang sedang mencari info tentang asuransi kesehatan di Belanda.

Asuransi (bahasa Belanda: verzekering) adalah sesuatu yang dianggap sangat penting oleh masyarakat Belanda. Menurut obrol sana-sini, satu orang Belanda bisa memiliki tiga asuransi sekaligus. Asuransi itu berupa:

  1. Asuransi kesehatan (zorgverzekering);
  2. Asuransi tempat tinggal (woonverzekering); dan
  3. Asuransi liabilitas (aansprakelijkheidsverzekering).

Zorgverzekering, seperti yang telah dibahas di tulisan mengenai pergi ke dokter, adalah sesuatu yang wajib dimiliki oleh semua warga Belanda. Bahkan pas status gue masih pelajar, gue juga sudah terlindungi oleh asuransi pelajar internasional yang hitungannya memang jauh lebih murah daripada asuransi kesehatan Belanda.

Sebenernya harga premi asuransi kesehatan di Belanda nggak jauh beda, berkisar dari 70 sampai 100 euro per bulan. Yang membedakan adalah di eigen risico. Apakah itu eigen risico? Bahasa Indonesianya adalah ‘resiko sendiri’. Di Belanda, pemerintah menetapkan eigen risico paket asuransi mulai dari 386 euro sampai 800 euro-an. Ini berarti, semua tindakan yang nggak ditanggung paket basisverzekering, harus ditanggung sendiri oleh pengguna asuransi sampai batas yang disanggupi waktu mereka daftar asuransi untuk pertama kalinya. Biasanya, semakin tinggi eigen risico yang dipilih, semakin murah juga premi yang harus dibayar per bulan.

Tindakan apa saja yang bisa ditanggung pihak asuransi? Belanda mengenal dua tipe asuransi kesehatan: basisverzekering dan aanvullendeverzekering. Seperti namanya, basisverzekering berkisar di tindakan-tindakan sederhana, seperti konsultasi ke dokter, dapat penanganan dokter, dan menebus obat generik seperti antibiotika. Setiap asuransi, fitur basisverzekering-nya beda-beda, tapi menurut pengalaman gue sih tiga hal itu pasti ditanggung asuransi. Ada asuransi yang menanggung biaya konsultasi psikolog dan dokter gizi sebagai bagian dari basisverzekering tapi ada juga yang tidak.

Nah, aanvullendeverzekering adalah paket-paket tambahan dari asuransi. Disini yang menarik. Biasanya, para perusahaan asuransi akan punya banyak sekali paket tambahan yang menggugah calon konsumen. Ada yang menanggung penuh biaya kontrasepsi, biaya bikin kacamata, biaya penanganan kesehatan gigi… ada juga paket-paket yang menyediakan servis 100% atau 50% menanggung biaya fisioterapi, psikiater, psikolog, dokter gizi, bahkan sampe ke pengobatan alternatif! Untuk memilih aanvullendeverzekering ini kita memang harus bener-bener tau mau pake servis yang mana untuk bisa menggunakan asuransi tersebut semaksimal mungkin.

Selain asuransi pribadi, di Belanda juga mengenal sistem asuransi kolektif. Biasanya, sistem ini dimiliki oleh perusahaan besar yang karyawannya banyak. Jika kamu masuk perusahaan yang punya keuntungan asuransi kolektif, lebih baik ikut skema itu saja, karena nanti kamu akan jauh lebih murah membayar asuransi kesehatan per bulan.

Tapi gimana kalo kamu masih seret masalah duit tapi masih harus bayar asuransi? Zorgtoeslag jawabannya! Fasilitas ini adalah fasilitas dari Belastingdienst (Dinas Pajak dan Bea Cukai) yang intinya akan ‘membayar kamu kembali’ untuk uang asuransi kesehatan. Jika kamu punya nomor BSN Belanda, kamu berhak untuk meminta fasilitas ini. Silahkan main-main ke halaman web Belastingdienst untuk mengetahui prosedurnya, atau ketik ‘zorgtoeslag’ di Google.

Jika kalian bingung mau pilih paket mana selain basisverzekering, saran gue sih pilih yang 100% menanggung perawatan gigi dan kontrasepsi (buat perempuan). Kesehatan gigi tuh penting banget, lho… gue baru menyadari pentingnya punya asuransi gigi setelah gigi gue sakit dan harus merogoh kocek yang agak dalam untuk pengobatannya. Bikin nyesel nggak punya asuransi gigi. Halaman web seperti HoyHoy dan ZorgWijzer juga bisa memberikan gambaran tentang asuransi mana yang paling pas dipilih sesuai kebutuhan dan budget kamu.

Selamat berburu asuransi!

Curhat: Politik Kantor

Nggak terasa, udah tiga bulan gue kerja di kantor ini. Sebenernya sih masih banyak senengnya daripada betenya, mungkin karena di pekerjaan ini gue merasa tertantang dengan banyaknya proyek yang harus gue urusin setiap hari. Tapi belakangan ini gue ngerasa bete banget sama kolega-kolega gue, terutama mereka yang suka banget ngomongin kolega lainnya.

Gue memperhatikan adanya pola seperti ini sejak bulan pertama gue ngantor. Jadi setiap kali kami pergi makan siang diluar bersama orang-orang tertentu (biasanya sih dari divisi Sales), selalu aja ada saat dimana mereka ngomongin kolega lain, entah dari divisi yang sama maupun divisi yang berbeda. Awalnya gue masih cuek aja, bahkan gue banyakan dengerinnya daripada ngomongnya, tapi lama-lama gue jadi jengah sendiri.

Kenapa gue jengah dan malas ikutan bergosip ria? Pertama, karena gue nggak suka ngomongin orang. Okelah kalau itu orang gue nggak suka, mungkin gue bisa berapi-api ngomongin dia, tapi please deh ini kolega gue sendiri yang lagi diomongin. Dan sejauh gue kerja disini, orang-orang tersebut nggak pernah melakukan sesuatu ke gue yang tergolong nggak baik. Jadi, ngapain gue harus ikutan ngomongin sesama kolega yang sama-sama nyari duit di perusahaan yang sama?

Yang kedua, please deh, itu kolega lo juga lho yang lagi lo gosipin… Buat gue, bisnis ya bisnis. Justru gue jauh lebih tertarik denger cerita apa yang dilakukan di akhir minggu atau rekomendasi film bagus buat ditonton sepulang kerja. Bukannya malah gosipin orang lain dan ngomongin kebijakan kantor… job description kerjaan aja udah bikin ribet kepala, kenapa masih harus makin bikin pusing dengan cara ngomongin orang-orang yang ada didalamnya?

Kemarin itu cuaca lagi cerah banget, karena gue nggak bawa bekal, jadilah gue berangkat ke kantin kantor dimana gue bertemu kolega-kolega lain termasuk mereka yang suka ngomongin orang. Akhirnya gue ikut mereka makan siang tapi gue nggak ngomong apa-apa. Lalu kami nongkrong sebentar dan kami ngeliat manager gue lagi berjemur sama kolega lain. Dan salah satu dari si tukang ngomongin orang nyeletuk, “Ih liat deh bos lu lagi duduk disitu, gue yakin dia ngeliat kita, kok nggak nyapa nggak apa, ya?”

Gue langsung mikir, “Did you just realize what you were saying?” Heran, udah jadi pegawai kantor, mental masih kayak mean girl SMA…

Pengalaman Bekerja di Horeca

Related image
Nggak semua orang yang lulus S2 di luar negeri bisa langsung dapat pekerjaan dengan gaji yang bagus. Gue contohnya. Setelah lulus kuliah menyandang gelar Master di bulan April 2016, gue mendapatkan pekerjaan jadi Museum Guide di sebuah atraksi/museum yang baru buka di Amsterdam.

Pekerjaan tersebut ternyata lebih membawa dampak negatif ketimbang positif untuk gue. Saat itu, gue digaji cukup rendah, bahkan dibawah gaji normal untuk karyawan umur 25 tahun (di Belanda ada sistem zero hour worker, jadi kami hanya dibayar kalau masuk kerja aja). Jarak tempat kerja dan rumah juga jadi salah satu hambatan, karena mereka nggak mengganti ongkos kerja gue, sehingga nggak jarang gue besar pasak daripada tiang. Akhirnya, jadwal kerja yang nggak beraturan dan komunikasi antar pegawai yang sangat jelek membuat gue keluar dari museum tersebut.

Satu minggu setelah gue keluar dari museum, gue ditawari pekerjaan di sebuah toko. Akhirnya gue mengiyakan tawaran tersebut karena jadwal kerja yang pasti, gaji yang lumayan, dan ongkos jalan yang ditanggung empunya toko. Toko di Belanda artinya adalah restoran kecil yang menyediakan nasi rames ala Indonesia. Ada juga beberapa toko yang menjual bumbu-bumbu dapur Indonesia sebagai usaha tambahan. Toko tempat gue bekerja ini cukup spesial karena selain menjual nasi rames, mereka juga menjual jajanan abang-abang ala Indonesia secara ala carte seperti bebek kremes, tahu telor, bakso, soto, yang dimasak langsung sama kokinya.

Gue bekerja di toko tersebut selama empat bulan, dari bulan Oktober sampai bulan Februari. Selama empat bulan bekerja di sektor horeca, gue dapat banyak sekali pengalaman yang bisa gue simpulkan dibawah ini.

Kerja di horeca bikin gue menghargai pekerjaan bidang servis

Ini adalah pengalaman nomor satu yang gue dapat. Pink-collar worker (pekerja bidang servis) itu tergolong pekerja yang sangat bekerja keras, lho, karena tugas mereka adalah menservis pelanggan dan berhubungan langsung dengan pelanggan. Selain itu, mereka juga harus punya kemampuan fisik yang bisa menunjang pekerjaan mereka yang kebanyakan berdiri, jalan, lari, pokoknya apa-apa harus cepat. Pengalaman kerja jadi pink-collar worker membuat gue menghargai para pramusaji di restoran karena gue ngerti banget peliknya kerja di sektor ini. Jadi kalian jangan langsung marah-marah kalo pesen makan/minuman di restoran terus keluarnya lama, ya…

Kerja di horeca melatih manajemen waktu

Ini penting banget sih, terutama waktu gue kerja dulu, gue cuma kerja sama seorang koki. Kadang dia butuh bantuan gue untuk menyiapkan makanan. Manajemen waktu sangat penting karena kami mau hasil akhir makanan yang hangat sehingga bisa dinikmati pelanggan. Misalnya ada yang pesan ayam kremes, gue bertugas untuk menyiapkan piring dan menghangatkan nasi putih sementara si koki ngegoreng ayam. Biar semuanya hangat dan enak, gue harus pinter-pinter atur waktu kapan harus masukin nasi putih ke microwave biar selesai barengan sama si ayam goreng sehingga si koki nggak harus nunggu lama-lama untuk menghidangkan makanan tersebut. Kerjasama dan komunikasi yang baik sangat penting untuk eksekusi makanan ke pelanggan.

Kerja di horeca melatih kesabaran

Yang ini menyangkut hubungan gue dengan pelanggan. Toko tempat gue kerja banyak dikunjungi orang Belanda. Kebanyakan dari mereka emang baik dan menghargai kerjaan gue, tapi nggak jarang juga banyak orang separo mabok atau orang sombong yang suka kurang ajar. Gue pernah dapat pelanggan yang sudah beli makanan paling mahal, mau bayar kontan, gue bilang nggak ada uang kembalian, dan dia marah-marah terus akhirnya nggak jadi beli (padahal kan bisa bayar pake kartu, ya…) terus nyalahin gue yang nggak siap uang kontan. Lha, gue sih nggak mau tau, yang penting situ bisa bayar makanan situ. Orang-orang yang kayak gini emang harus disabar-sabarin atau bisa langsung dijutekin kalau kelakuan mereka udah kurang ajar banget.

Kerja di horeca membuka pengetahuan gue tentang kepribadian orang

Mungkin ini stereotip atau juga bukan, tapi kerja di toko bikin gue tau gimana cara berurusan dengan orang yang kepribadiannya beda sama gue. Koki di toko tempat kerja gue adalah orang yang sangat reaktif dan cenderung nggak sabar. Kadang-kadang gue lupa sesuatu, terus kalau gue tanya dia, dia sering banget jawab gue dengan jutek seolah-olah bilang “Kok udah berapa kali diajarin tetep aja lupa sih?”. Sering banget gue beradu pendapat sama si koki ini karena sifat reaktifnya dia membuat dia gampang membuat kesimpulan akan sesuatu, walaupun kesimpulannya itu belum tentu benar. Ini sering terjadi di minggu-minggu terakhir sebelum gue keluar dari pekerjaan tersebut karena dapat pekerjaan tetap. Walaupun pas ngalaminnya nggak enak, tapi pas keluar ternyata gue dapat pengalaman juga kerja dengan orang yang sumbunya lebih pendek daripada gue.

Sebenernya ada lebih banyak pengalaman lain, tapi poin-poin di atas cukup mewakilkan semuanya. Apa kamu pernah kerja di bidang servis? Apa pengalaman yang kamu petik selama bekerja di bidang tersebut?