Kenapa Sakit di Belanda Nggak Mahal?

Beberapa minggu yang lalu, gue sempat menulis tentang alur pergi ke dokter di Belanda. Disini memang jauh berbeda dengan Indonesia. Kalau di Indonesia, biasanya kalau rumahnya dekat rumah sakit ya langsung pergi ke rumah sakit dan mencari dokter spesialis. Sementara itu, di Belanda, semua orang wajib pergi ke klinik dulu untuk bertemu dokter umum. Dokter umum akan merujuk kita ke rumah sakit dan dokter spesialis kalau dia merasa penyakit kita sudah cukup parah untuk ditangani dokter biasa.

Sekarang gue mau ngomongin tentang asuransi kesehatan. Ide menulis tulisan ini muncul begitu saja ketika seorang teman blogger me-mention gue dalam jawabannya di Twitter mengenai asuransi kesehatan. Nah, di tulisan gue yang terdahulu, gue sudah menyinggung sedikit tentang pentingnya memiliki asuransi kesehatan di Belanda, sekarang gue mau nulis selengkap-lengkapnya. Semoga bermanfaat untuk kalian yang sedang mencari info tentang asuransi kesehatan di Belanda.

Asuransi (bahasa Belanda: verzekering) adalah sesuatu yang dianggap sangat penting oleh masyarakat Belanda. Menurut obrol sana-sini, satu orang Belanda bisa memiliki tiga asuransi sekaligus. Asuransi itu berupa:

  1. Asuransi kesehatan (zorgverzekering);
  2. Asuransi tempat tinggal (woonverzekering); dan
  3. Asuransi liabilitas (aansprakelijkheidsverzekering).

Zorgverzekering, seperti yang telah dibahas di tulisan mengenai pergi ke dokter, adalah sesuatu yang wajib dimiliki oleh semua warga Belanda. Bahkan pas status gue masih pelajar, gue juga sudah terlindungi oleh asuransi pelajar internasional yang hitungannya memang jauh lebih murah daripada asuransi kesehatan Belanda.

Sebenernya harga premi asuransi kesehatan di Belanda nggak jauh beda, berkisar dari 70 sampai 100 euro per bulan. Yang membedakan adalah di eigen risico. Apakah itu eigen risico? Bahasa Indonesianya adalah ‘resiko sendiri’. Di Belanda, pemerintah menetapkan eigen risico paket asuransi mulai dari 386 euro sampai 800 euro-an. Ini berarti, semua tindakan yang nggak ditanggung paket basisverzekering, harus ditanggung sendiri oleh pengguna asuransi sampai batas yang disanggupi waktu mereka daftar asuransi untuk pertama kalinya. Biasanya, semakin tinggi eigen risico yang dipilih, semakin murah juga premi yang harus dibayar per bulan.

Tindakan apa saja yang bisa ditanggung pihak asuransi? Belanda mengenal dua tipe asuransi kesehatan: basisverzekering dan aanvullendeverzekering. Seperti namanya, basisverzekering berkisar di tindakan-tindakan sederhana, seperti konsultasi ke dokter, dapat penanganan dokter, dan menebus obat generik seperti antibiotika. Setiap asuransi, fitur basisverzekering-nya beda-beda, tapi menurut pengalaman gue sih tiga hal itu pasti ditanggung asuransi. Ada asuransi yang menanggung biaya konsultasi psikolog dan dokter gizi sebagai bagian dari basisverzekering tapi ada juga yang tidak.

Nah, aanvullendeverzekering adalah paket-paket tambahan dari asuransi. Disini yang menarik. Biasanya, para perusahaan asuransi akan punya banyak sekali paket tambahan yang menggugah calon konsumen. Ada yang menanggung penuh biaya kontrasepsi, biaya bikin kacamata, biaya penanganan kesehatan gigi… ada juga paket-paket yang menyediakan servis 100% atau 50% menanggung biaya fisioterapi, psikiater, psikolog, dokter gizi, bahkan sampe ke pengobatan alternatif! Untuk memilih aanvullendeverzekering ini kita memang harus bener-bener tau mau pake servis yang mana untuk bisa menggunakan asuransi tersebut semaksimal mungkin.

Selain asuransi pribadi, di Belanda juga mengenal sistem asuransi kolektif. Biasanya, sistem ini dimiliki oleh perusahaan besar yang karyawannya banyak. Jika kamu masuk perusahaan yang punya keuntungan asuransi kolektif, lebih baik ikut skema itu saja, karena nanti kamu akan jauh lebih murah membayar asuransi kesehatan per bulan.

Tapi gimana kalo kamu masih seret masalah duit tapi masih harus bayar asuransi? Zorgtoeslag jawabannya! Fasilitas ini adalah fasilitas dari Belastingdienst (Dinas Pajak dan Bea Cukai) yang intinya akan ‘membayar kamu kembali’ untuk uang asuransi kesehatan. Jika kamu punya nomor BSN Belanda, kamu berhak untuk meminta fasilitas ini. Silahkan main-main ke halaman web Belastingdienst untuk mengetahui prosedurnya, atau ketik ‘zorgtoeslag’ di Google.

Jika kalian bingung mau pilih paket mana selain basisverzekering, saran gue sih pilih yang 100% menanggung perawatan gigi dan kontrasepsi (buat perempuan). Kesehatan gigi tuh penting banget, lho… gue baru menyadari pentingnya punya asuransi gigi setelah gigi gue sakit dan harus merogoh kocek yang agak dalam untuk pengobatannya. Bikin nyesel nggak punya asuransi gigi. Halaman web seperti HoyHoy dan ZorgWijzer juga bisa memberikan gambaran tentang asuransi mana yang paling pas dipilih sesuai kebutuhan dan budget kamu.

Selamat berburu asuransi!

Curhat: Politik Kantor

Nggak terasa, udah tiga bulan gue kerja di kantor ini. Sebenernya sih masih banyak senengnya daripada betenya, mungkin karena di pekerjaan ini gue merasa tertantang dengan banyaknya proyek yang harus gue urusin setiap hari. Tapi belakangan ini gue ngerasa bete banget sama kolega-kolega gue, terutama mereka yang suka banget ngomongin kolega lainnya.

Gue memperhatikan adanya pola seperti ini sejak bulan pertama gue ngantor. Jadi setiap kali kami pergi makan siang diluar bersama orang-orang tertentu (biasanya sih dari divisi Sales), selalu aja ada saat dimana mereka ngomongin kolega lain, entah dari divisi yang sama maupun divisi yang berbeda. Awalnya gue masih cuek aja, bahkan gue banyakan dengerinnya daripada ngomongnya, tapi lama-lama gue jadi jengah sendiri.

Kenapa gue jengah dan malas ikutan bergosip ria? Pertama, karena gue nggak suka ngomongin orang. Okelah kalau itu orang gue nggak suka, mungkin gue bisa berapi-api ngomongin dia, tapi please deh ini kolega gue sendiri yang lagi diomongin. Dan sejauh gue kerja disini, orang-orang tersebut nggak pernah melakukan sesuatu ke gue yang tergolong nggak baik. Jadi, ngapain gue harus ikutan ngomongin sesama kolega yang sama-sama nyari duit di perusahaan yang sama?

Yang kedua, please deh, itu kolega lo juga lho yang lagi lo gosipin… Buat gue, bisnis ya bisnis. Justru gue jauh lebih tertarik denger cerita apa yang dilakukan di akhir minggu atau rekomendasi film bagus buat ditonton sepulang kerja. Bukannya malah gosipin orang lain dan ngomongin kebijakan kantor… job description kerjaan aja udah bikin ribet kepala, kenapa masih harus makin bikin pusing dengan cara ngomongin orang-orang yang ada didalamnya?

Kemarin itu cuaca lagi cerah banget, karena gue nggak bawa bekal, jadilah gue berangkat ke kantin kantor dimana gue bertemu kolega-kolega lain termasuk mereka yang suka ngomongin orang. Akhirnya gue ikut mereka makan siang tapi gue nggak ngomong apa-apa. Lalu kami nongkrong sebentar dan kami ngeliat manager gue lagi berjemur sama kolega lain. Dan salah satu dari si tukang ngomongin orang nyeletuk, “Ih liat deh bos lu lagi duduk disitu, gue yakin dia ngeliat kita, kok nggak nyapa nggak apa, ya?”

Gue langsung mikir, “Did you just realize what you were saying?” Heran, udah jadi pegawai kantor, mental masih kayak mean girl SMA…

Pengalaman Bekerja di Horeca

Related image
Nggak semua orang yang lulus S2 di luar negeri bisa langsung dapat pekerjaan dengan gaji yang bagus. Gue contohnya. Setelah lulus kuliah menyandang gelar Master di bulan April 2016, gue mendapatkan pekerjaan jadi Museum Guide di sebuah atraksi/museum yang baru buka di Amsterdam.

Pekerjaan tersebut ternyata lebih membawa dampak negatif ketimbang positif untuk gue. Saat itu, gue digaji cukup rendah, bahkan dibawah gaji normal untuk karyawan umur 25 tahun (di Belanda ada sistem zero hour worker, jadi kami hanya dibayar kalau masuk kerja aja). Jarak tempat kerja dan rumah juga jadi salah satu hambatan, karena mereka nggak mengganti ongkos kerja gue, sehingga nggak jarang gue besar pasak daripada tiang. Akhirnya, jadwal kerja yang nggak beraturan dan komunikasi antar pegawai yang sangat jelek membuat gue keluar dari museum tersebut.

Satu minggu setelah gue keluar dari museum, gue ditawari pekerjaan di sebuah toko. Akhirnya gue mengiyakan tawaran tersebut karena jadwal kerja yang pasti, gaji yang lumayan, dan ongkos jalan yang ditanggung empunya toko. Toko di Belanda artinya adalah restoran kecil yang menyediakan nasi rames ala Indonesia. Ada juga beberapa toko yang menjual bumbu-bumbu dapur Indonesia sebagai usaha tambahan. Toko tempat gue bekerja ini cukup spesial karena selain menjual nasi rames, mereka juga menjual jajanan abang-abang ala Indonesia secara ala carte seperti bebek kremes, tahu telor, bakso, soto, yang dimasak langsung sama kokinya.

Gue bekerja di toko tersebut selama empat bulan, dari bulan Oktober sampai bulan Februari. Selama empat bulan bekerja di sektor horeca, gue dapat banyak sekali pengalaman yang bisa gue simpulkan dibawah ini.

Kerja di horeca bikin gue menghargai pekerjaan bidang servis

Ini adalah pengalaman nomor satu yang gue dapat. Pink-collar worker (pekerja bidang servis) itu tergolong pekerja yang sangat bekerja keras, lho, karena tugas mereka adalah menservis pelanggan dan berhubungan langsung dengan pelanggan. Selain itu, mereka juga harus punya kemampuan fisik yang bisa menunjang pekerjaan mereka yang kebanyakan berdiri, jalan, lari, pokoknya apa-apa harus cepat. Pengalaman kerja jadi pink-collar worker membuat gue menghargai para pramusaji di restoran karena gue ngerti banget peliknya kerja di sektor ini. Jadi kalian jangan langsung marah-marah kalo pesen makan/minuman di restoran terus keluarnya lama, ya…

Kerja di horeca melatih manajemen waktu

Ini penting banget sih, terutama waktu gue kerja dulu, gue cuma kerja sama seorang koki. Kadang dia butuh bantuan gue untuk menyiapkan makanan. Manajemen waktu sangat penting karena kami mau hasil akhir makanan yang hangat sehingga bisa dinikmati pelanggan. Misalnya ada yang pesan ayam kremes, gue bertugas untuk menyiapkan piring dan menghangatkan nasi putih sementara si koki ngegoreng ayam. Biar semuanya hangat dan enak, gue harus pinter-pinter atur waktu kapan harus masukin nasi putih ke microwave biar selesai barengan sama si ayam goreng sehingga si koki nggak harus nunggu lama-lama untuk menghidangkan makanan tersebut. Kerjasama dan komunikasi yang baik sangat penting untuk eksekusi makanan ke pelanggan.

Kerja di horeca melatih kesabaran

Yang ini menyangkut hubungan gue dengan pelanggan. Toko tempat gue kerja banyak dikunjungi orang Belanda. Kebanyakan dari mereka emang baik dan menghargai kerjaan gue, tapi nggak jarang juga banyak orang separo mabok atau orang sombong yang suka kurang ajar. Gue pernah dapat pelanggan yang sudah beli makanan paling mahal, mau bayar kontan, gue bilang nggak ada uang kembalian, dan dia marah-marah terus akhirnya nggak jadi beli (padahal kan bisa bayar pake kartu, ya…) terus nyalahin gue yang nggak siap uang kontan. Lha, gue sih nggak mau tau, yang penting situ bisa bayar makanan situ. Orang-orang yang kayak gini emang harus disabar-sabarin atau bisa langsung dijutekin kalau kelakuan mereka udah kurang ajar banget.

Kerja di horeca membuka pengetahuan gue tentang kepribadian orang

Mungkin ini stereotip atau juga bukan, tapi kerja di toko bikin gue tau gimana cara berurusan dengan orang yang kepribadiannya beda sama gue. Koki di toko tempat kerja gue adalah orang yang sangat reaktif dan cenderung nggak sabar. Kadang-kadang gue lupa sesuatu, terus kalau gue tanya dia, dia sering banget jawab gue dengan jutek seolah-olah bilang “Kok udah berapa kali diajarin tetep aja lupa sih?”. Sering banget gue beradu pendapat sama si koki ini karena sifat reaktifnya dia membuat dia gampang membuat kesimpulan akan sesuatu, walaupun kesimpulannya itu belum tentu benar. Ini sering terjadi di minggu-minggu terakhir sebelum gue keluar dari pekerjaan tersebut karena dapat pekerjaan tetap. Walaupun pas ngalaminnya nggak enak, tapi pas keluar ternyata gue dapat pengalaman juga kerja dengan orang yang sumbunya lebih pendek daripada gue.

Sebenernya ada lebih banyak pengalaman lain, tapi poin-poin di atas cukup mewakilkan semuanya. Apa kamu pernah kerja di bidang servis? Apa pengalaman yang kamu petik selama bekerja di bidang tersebut?

Sakit di Belanda Mahal Gak?

Siapa sih yang mau jatuh sakit? Apalagi jatuh sakit di negara orang, nggak punya sanak saudara pula… Yang namanya sakit, biasanya emang nggak bisa dihindari, namanya juga manusia. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, kekurangan hanya milik kita (ngikut-ngikut mamak Dorce).

Di Belanda, untungnya sistem kesehatan sudah sangat terintegrasi dengan baik. Waktu jaman gue kuliah, gue paling malas disuruh ke dokter, jadi kalau sakit demam dikit ya berusaha diobatin sendiri. Gue dulu males banget ke dokter karena ada anggapan kalo di Belanda tuh dokter bakal bertindak kalo kita udah sakaratul maut alias udah parah banget, jadinya gue males meluangkan waktu untuk daftar ke huisarts terdekat walaupun gue punya asuransi kesehatan (seluruh warga Belanda wajib punya asuransi kesehatan ini).

Pengalaman pertama gue ke dokter adalah akhir tahun lalu. Ternyata prosedur ke dokter nggak susah susah amat dan dokter juga mau kok melakukan prosedurnya kalo memang dirasa perlu! Berikut gue beberkan cara-cara ke dokter di Belanda, cocok untuk kalian yang baru mau pindah kesini atau baru pindah kesini.

Yang pertama, daftar asuransi kesehatan. Yang ini penting banget karena kalo kita nggak punya asuransi, biaya penanganan dokter tuh bisa mahal banget. Ada banyak sekali perusahaan asuransi yang menangani asuransi kesehatan di Belanda seperti Zilveren Kruis, Achmea, Interpolis, dll. Preminya kurang lebih 100 euro per bulan, tergantung add-on apa yang mau kamu pilih, misalnya kamu bisa menambah 12 euro per bulan untuk asuransi kesehatan gigi atau 10 euro per bulan untuk tambahan seperti gratis kontrasepsi, gratis dokter mata, dll. Untuk asuransi level standar biasanya mencakup biaya konsultasi huisarts, biaya obat generik, psikolog, dietician, dan lain-lain (beda asuransi, beda juga cakupan servis asuransi kesehatan standarnya).

Setelah punya asuransi kesehatan (biasanya perusahaan asuransi akan mengirimkan kartu polis ke alamat kita, ini wajib banget dibawa kemana-mana karena biasanya asuransi kita berlaku di seluruh Uni Eropa), saatnya mendaftarkan diri ke huisartsPraktek huisarts biasanya terdiri dari praktek satu orang dokter atau beberapa dokter dalam satu rumah praktek, beda banget deh sama yang di Indonesia. Kita bisa daftar lewat website mereka atau lewat telepon. Tips gue, sebisa mungkin carilah dokter yang terdekat dari tempat tinggal kita. Selain itu, perhatikan baik-baik jika mereka masih menerima pasien apa nggak. Gue pernah daftar ke klinik di Delft secara online, kemudian pas gue mau konsultasi dan telepon ke klinik tersebut, ternyata mereka udah nggak terima pasien lagi sehingga gue harus cari klinik lain.

Setelah mendaftarkan diri, biasanya mereka akan menelepon kita atau kirim e-mail yang menyatakan bahwa nama dan identitas kita sudah terdaftar di database mereka. Kalau sudah dapat konfirmasi kayak gitu baru deh kita bisa minta perjanjian konsultasi ke dokter.

Kalau kamu ngerasa sakit, jangan langsung telepon ke dokter untuk janjian konsultasi. Kalo penyakitmu sekedar pusing-pusing, demam dan akhirnya flu, ya mendingan minum Tolak Angin atau makan sup ayam lah, ya! Gue biasanya pergi ke dokter kalau gue mengalami suatu penyakit yang setelah didiemin 2-3 hari bukannya makin sembuh malah makin parah, contohnya saat gue sakit amandel beberapa bulan lalu. Kalau kita ngerasa nggak bisa nunggu lagi untuk tanggal perjanjian, kita bisa telepon dokter pagi-pagi dan nanya apakah mereka punya servis walk-in clinic, seperti dokter gue di Den Haag dulu. Resepsionis yang mengangkat telepon biasanya berfungsi sebagai asisten dokter, jadi mereka bisa menentukan apakah kamu bisa datang tanpa perjanjian atau nggak.

Oke, let’s assume kamu sakit, telepon dokter, dan setuju tanggal untuk perjanjian ke dokter. Begitu hari-H, dateng aja sesuai jam yang ditentukan dan lapor kalau kamu punya janji bertemu dokter di jam tersebut. Lalu kamu bakal disuruh nunggu di ruang tunggu yang kadang ada majalah, mainan, bahkan fasilitas Wi-Fi gratis. Nggak lama kemudian si dokter datang, lalu kamu disuruh masuk ke ruang prakteknya…

Begitu masuk ruang praktek, jika kamu pasien baru, biasanya si dokter akan nanya tentang riwayat penyakit kamu. Cuek aja, jawab aja segamblang mungkin. Biasanya penjelasan mereka akan sangat sistematis dan logis dan kita bebas nanya pertanyaan apapun. Kalau mereka merasa kita butuh obat, maka mereka akan langsung membuatkan resep yang dikirim langsung ke apotik terdekat klinik kita. Setelah itu, kita nggak usah bayar, karena konsultasi huisarts biasanya ditanggung sama asuransi!

Kalau kita dikasih obat dan harus menebusnya di apotek, masalah bayar membayar juga tergantung paket asuransi yang kita pilih. Biasanya paket asuransi standar sudah mencakup biaya obat generik dan biasanya juga si dokter akan menuliskan resep obat generik untuk kita. Ada juga paket asuransi yang mengharuskan kita untuk membayar separo dan tagihannya akan ditagih ke rekening bank pribadi setiap 3-4 bulan. Setelah bayar/nggak bayar obat, tinggal pulang ke rumah masing-masing deh lalu mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter.

Semoga cepat sembuh!

Budaya Rumania, Mirip-mirip Indonesia Juga…

“Rumania? Itu di Eropa sebelah mana, ya?”

Mungkin itu reaksi teman-teman gue begitu gue bilang R adalah orang Rumania. Ada juga yang tahu Rumania itu dimana, tapi biasanya mikir Rumania itu dekat Rusia, atau langsung bilang “Wow, Drakula” (walaupun Vlad Tepes alias Count Dracul memang berasal dari Rumania).

Gue sendiri jujur aja dulu juga nggak paham sama letak negara ini. Gue kira dulu dekat Rusia, karena bahasa mereka mirip bahasa Rusia. Ternyata bahasa mereka lebih dekat ke bahasa-bahasa Romance seperti Latin, Prancis, Italia, dan Spanyol. Pengaruh bahasa Rusia dikit banget, cuma ada di penyusunan kata dan penyebutan kata doang. Selain itu, Rumania letaknya jauh dari Rusia. Dia cuma berbatasan sama Ukraina, Moldova, Hungaria, Serbia, dan Bulgaria. Rumania sering dijuluki “the asshole of Europe” karena letak geografisnya yang diujung Eropa banget, coba aja liat peta dibawah ini kalo mau buktiin…

Image result for romania map in europe
Pantat Eropa xD

Tapi di tulisan gue kali ini gue nggak mau ngomongin letak geografis Romania, melainkan kebudayaan Romania terutama di bagian interaksi manusianya yang menurut gue rada mirip sama kebudayaan Indonesia! Menurut gue, Romania dan Indonesia itu sama-sama mempunyai kebudayaan we culture yaitu kebudayaan yang cenderung kolektif dan mengandung nilai-nilai toleransi dan gotong royong, berbeda dengan kebudayaan Belanda yang cenderung I culture alias mengutamakan kebebasan individu.

Yang pertama, kebudayaan menyambut tamu di rumah. Orang Rumania sangat menghormati tamu, sehingga kalau kita main ke rumah orang Rumania, pasti apa aja bakal ditawarin sebagai makanan. Sama aja kayak di Indonesia. Bahkan kata-kata seperti “Tambah lagi ya”, “Mau bawa pulang?” juga sering dilontarkan tuan rumah saat ada yang bertamu. Tapi bedanya sama orang Indonesia, orang Rumania termasuk orang-orang yang nggak suka basa-basi, jadi kalo mau bawa pulang ya bilang aja iya. Kalo bilang nggak mau, ya nggak bakal ditawarin lagi. Beda sama kebudayaan nggak enak ala Indonesia saat bertamu, niatnya pengen ngabisin kaastangels, disuruh bawa pulang, karena malu bilang “nggak, makasih”, dan harus ditawarin tiga kali sebelum akhirnya bilang “boleh deh, kalo nggak ngerepotin”.

Kedua, orang Rumania suka banget ngobrol berjam-jam dan ngalor ngidul. Hal ini gue alami saat pergi house party bersama R ke rumah temannya yang sedang ulangtahun. Wah, itu serumah orang Rumania semua, dan kelihatan banget mereka orangnya ‘rame-an’, suka ketawa-ketawa, gampang mingle dengan orang baru, dan mudah berinteraksi. Jujur aja gue langsung berasa ‘di rumah’ saat berkenalan sama teman-teman Rumania-nya si R karena mereka langsung bikin gue nyaman dengan hospitality mereka. Hospitality macam ini juga gue temui di kalangan orang Italia atau negara-negara Eropa Selatan yang mudah banget bergaul sama orang lain.

Ketiga, orang Rumania masih percaya banget sama takhayul! Yes, negara ini emang cukup superstitious, sama banget kan kayak Indonesia? Hal ini dikarenakan agama mayoritas Romania yaitu Eastern Orthodox yang sangat kental tradisinya Di pedesaan, masih banyak orang yang percaya dengan ilmu sihir, dan mereka juga percaya sama hantu-hantuan dan doa-doa tradisional, biasanya sih dicampur dengan keyakinan Ortodoks mereka. R yang kini nggak mengaku Ortodoks, sampai sekarang masih menyimpan kartu bergambar Santo pelindungnya, Saint George. Masalah agama, orang Rumania sangat bangga dengan agama mayoritas mereka ini karena Eastern Orthodox punya influence yang sangat erat di bidang arsitektur dan kesenian Rumania, terutama seni lukis. Udah gitu, arsitektur dan interior gereja-gereja Eastern Orthodox juga sangat dibanggakan mereka karena emang bagus banget! Menurut gue, kebudayaan Eastern Orthodox ini termasuk identitas negara Rumania yang cukup membanggakan,

Image result for romanian orthodox art
Kesenian gereja ala gereja Rumania
Image result for romanian orthodox churches romania
Contoh interior katedral Eastern Orthodox di Sibiu, Rumania

Yang keempat, sejarah Indonesia dan Rumania menurut gue hampir mirip, terutama Rumania di masa komunis. Gue dan R serta keluarganya sering banget ngobrol tentang hal ini, dan entah kenapa gue merasa punya kesamaan berpikir dengan R tentang apa yang membentuk dua negara kami jadi negara yang sekarang ini. Gue senang bercerita tentang Indonesia masa 1950, 1960, tragedi 1965, dan Orde Baru selama 32 tahun; sementara R senang bercerita tentang masa-masa komunisme di Rumania. Saat Rumania menjadi negara komunis, Indonesia sedang berada dalam masa Orde Baru, dan menurut R, praktik-praktik Orde Baru sama banget seperti praktik komunisme di Rumania. Gue bercerita tentang stigma PKI yang begitu kental setelah peristiwa 1965 termasuk ke kalangan keluarga dan betapa susahnya seseorang mau masuk universitas negeri kalau keluarganya dikira simpatisan komunis, dan R bilang, “Gila, itu fasis banget, kalo di Rumania dulu blablablablabla…” Gimana ya jelasinnya, pokoknya kalo ngobrol tentang sejarah negara, sebenernya Indonesia itu nggak jauh beda sama Rumania. Tapi bedanya… Rumania mau mengakui dan memeluk cerita kelam mereka saat berada pada rezim komunisme sebagai bagian dari sejarah mereka, sementara di Indonesia, ngomongin komunis di tahun 2017 aja rasanya kayak berdosa banget.

Gue sendiri masih belajar juga tentang budaya Rumania, dan yang bikin nggak sabar, bulan Juli mendatang gue akan berlibur ke Rumania selama 10 hari. Asyik!

Apa Kabar Dunia?

Belakangan ini hidup gue biasa-biasa aja, tapi tangan gatel banget pengen nulis di blog. Ya udah lah ya, mari tulis apa aja yang terjadi di dunia Crystal akhir-akhir ini.

Kerjaan makin banyak. Dalam sebulan, bisa ada 2-3 deadline yang harus gue tuntaskan. Hal ini dikarenakan pekerjaan gue yang berkutat di bidang offline event, sementara perusahaan gue ini sedang getol-getolnya membuat promosi untuk produk baru, minimal sekali sebulan. Jadi gue harus bikin skema promo skala kecil untuk 1-2 produk dan promo skala besar untuk satu produk tiap 6 bulan sekali. Kadang-kadang ngerasa overwhelmed dan capek sih, setiap pulang kantor bawaannya pengen langsung tidur, tapi dalam hati bersyukur juga karena pekerjaan ini sangat berbeda dengan pekerjaan lama gue karena di pekerjaan baru ini gue disuruh pake otak, bukan cuma ngikutin rutinitas belaka.

Proyek baru: Bersihin rumah. Yes, sekarang gue bukan ngekost lagi, tapi gue tinggal di rumah sendiri! Kecil sih, cuma ada 1 kamar mandi, 1 kamar tidur, dan dapur yang digabung sama ruang TV. Walaupun begitu, aku senang… Sekarang gue lagi getol-getolnya cari inspirasi dekorasi rumah kecil di IKEA, sekaligus bersihin rumah karena masih banyak debu dan masih banyak barang yang tergeletak sana-sini. Selain itu, gue juga mau membersihkan balkon (yes, gue punya balkon!), tapi sepertinya gue harus menunda proyek itu sampai musim panas karena udara musim semi di Belanda masih suka galau.

Mulai baca buku lagi. Akhirnya gue punya waktu lagi untuk beli (dan baca) buku! Beberapa minggu lalu gue beli dua buku, judulnya Don’t Sweat the Small Stuff dan God is not Great. Buku pertama gue simpan di kantor untuk gue baca di saat waktu luang, buku kedua… belom sempet gue baca, hehe. Beberapa hari lalu gue unduh e-book novel berjudul The Circle dan gue langsung nagih bacanya. Sebenernya gue udah minat beli novel ini sejak beberapa bulan lalu, tapi gue takut bukunya membosankan. Gue kembali tertarik baca novel ini setelah tahu novel ini sedang difilmkan dan bulan depan akan dirilis di Belanda. Yang main Emma Watson dan Tom Hanks, lho. Makanya gue penasaran dan unduh e-book. Ternyata ceritanya menarik banget dan sesuai dengan minat gue baca novel-novel masyarakat utopis/distopis yang makin dipikir, makin sakit. Hahahaha!

Kayaknya hidup gue berkisar segitu-gitu aja akhir-akhir ini. Pulang kantor langsung ke rumah, masak, makan, kalo ada waktu ya pacaran (hahaha), kalo akhir minggu juga udah capek kemana-mana dan lebih memilih untuk tinggal di rumah atau muter-muter sekitar Delft doang. Paling banter main ke Den Haag atau ketemu temen, itu juga udah jarang.

Cerita Kerja Hari Pertama

Siapa sih yang nggak excited sama pengalaman baru? Hari ini bisa dibilang jadi babak baru dalam kehidupan gue di Belanda karena hari ini adalah hari pertama gue kerja jadi pegawai kantoran. Gue bekerja di bagian Marketing dari sebuah perusahaan start-up yang berkegiatan di bidang desain industri. Walaupun masih terbilang start-up, tapi perusahaan gue ini sudah punya tiga kantor di tiga benua berbeda dan semakin hari perkembangannya semakin pesat. Cerita tentang usaha keras gue dapat kerja bisa dilihat di tulisan-tulisan sebelumnya. Kali ini, gue mau cerita tentang hari pertama kerja yang baru saja berakhir sekitar tiga setengah jam yang lalu.

Gue datang sengaja nggak terlalu pagi tapi juga nggak terlalu siang. Si General Manager pernah bilang kalau jam kantor mereka antara jam 08.30-17.00 atau 09.00-17.30, dan biasanya orang kantor pada datang antara jam 08.30 sampai jam 09.00. Ya sudah, gue ambil jalan tengah aja, gue datang jam 08.45. Begitu gue datang, baru ada sedikit pegawai yang masuk, kemudian gue dikenalin ke orang-orang yang ada di kantor. Semakin banyak orang yang datang, semakin banyak pula yang mau kenalan sama gue. Rata-rata pegawainya bukan orang Belanda, malah yang orang Belanda cuma ada sekitar 3 orang. Kolega-kolega baru gue datang dari beberapa negara seperti Taiwan dan Prancis.

Setelah perkenalan singkat dan briefing singkat dari kolega gue, gue dipersilahkan ngutak-ngatik laptop kantor untuk membiasakan diri dengan dokumen-dokumen dan proyek-proyek yang sedang atau akan berlangsung. Awalnya gue ngira hari pertama gue akan gabut seperti hari pertama gue di pekerjaan pertama waktu di Indonesia, ternyata nggak tuh, karena hari pertama gue diisi dengan perkenalan dari berbagai aspek kantor, tadi sih dari aspek Marketing, Sales, dan dari aspek personalia.

Bisa dibilang, hari pertama gue tergolong sangat lancar. Sepertinya seminggu pertama ini gue akan belajar lebih banyak dulu tentang produk-produk si perusahaan, kemudian untuk sebulan pertama gue akan minta ke atasan gue untuk mulai learning by doing dari beberapa proyek yang sedang berlangsung. Soalnya gue nggak bisa belajar dengan cara cuma observasi dari jauh, tapi gue harus praktekkin sekalian biar gue cepet ngertinya.

On the other hand, di hari pertama ini gue sudah dapat teman dari almamater kampus yang sama dan tinggal di kota yang sama. Gue juga udah menyetujui ikutan makan malam kantor hari Kamis. Kami akan makan all-you-can-eat dim sum di restoran dim sum terkenal di Den Haag yang buka sampai jam 1 pagi :p

Doakan semoga gue cepet beradaptasi dengan kantor baru ini, ya!

Jangan Patah Semangat!: Tips Mencari Pekerjaan di Belanda

Tulisan ini terinspirasi dari tulisannya Mariska tentang mencari pekerjaan di NZ dan mbak Oppie tentang pengalaman interview kerja di Belanda. Berhubung Senin besok adalah hari pertama gue kerja, nggak ada salahnya kalau mau berbagi pengalaman dan tips tentang mencari pekerjaan di Belanda. Sebagai migran yang masih pletat pletot dalam berbahasa Belanda, mungkin mencari pekerjaan termasuk hal yang cukup ditakuti mahasiswa yang baru lulus. Apalagi persaingan ketat dengan warga EU yang jauh lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada warga non-EU. Tapi masa sih kamu nggak bisa fight? Berikut adalah beberapa tips untuk mencari pekerjaan di Belanda. Selamat mencoba!

1. Untuk memudahkan proses mencari kerja, daftarkan diri untuk ijin tinggal setelah student visa selesai

Di Belanda, mahasiswa lulusan setara universitas atau applied science university punya kesempatan untuk tinggal di Belanda selama setahun dengan visa pencari kerja. Namanya visa zoekjaar. Selama setahun ini, kamu boleh bebas memasuki bursa kerja Belanda, mencari pekerjaan dan mengikuti wawancara sebanyak-banyaknya, dan juga bekerja part time sebanyak-banyaknya sambil menunggu dapat pekerjaan tetap. Plusnya visa ini adalah bos kamu nggak perlu mendaftarkan ijin tinggal kalau kamu bekerja part time. Nah, tujuan utama dari visa pencari kerja ini adalah mendapatkan pekerjaan yang bisa mensponsori kamu sebagai highly skilled migrant (disini disebut dengan kennismigrant) dengan beberapa syarat tertentu.

Untuk keterangan lebih lanjut tentang dua tipe visa diatas, bisa buka website Imigrasi Belanda di IND.com. Bisa-bisa gue harus bikin tulisan bersambung kalau mau ngejelasin tentang zoekjaar dan kennismigrant visa.

2. Jangan malas mulai dari nol

Nah, yang ini penting banget, nih! Di Belanda, buang jauh-jauh pemikiran “kerjaan X gajinya kurang” atau “masa gue kerja jadi tukang bersih-bersih di restoran, sih?”. Semua pekerjaan sangat dihargai disini. Memang banyak teman-teman gue yang beruntung bisa langsung dapat pekerjaan yang bagus setelah lulus kuliah, tapi lebih banyak lagi mahasiswa yang harus bekerja dua sampai tiga pekerjaan part time sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap dengan gaji yang setara dengan kemampuannya.

Selama masa zoekjaar, gue sempat bekerja di dua tempat berbeda. Yang pertama sebagai staff museum di sebuah atraksi yang baru buka di Amsterdam. Tiga bulan kemudian, gue cabut karena kontraknya sudah selesai dan gue enggan memperpanjang kontrak ini karena beberapa alasan. Seminggu setelah cabut dari museum, gue dapat pekerjaan sebagai staff di toko afhalen (take-away) makanan Indonesia. Walaupun kerja di restoran tuh nggak selamanya menyenangkan, tapi gue jalanin aja karena memang gue butuh duit. Jangan lupa juga untuk menyisakan waktu untuk seharian mencari pekerjaan di dunia maya. Yang membawa gue ke poin nomor tiga…

3. Jangan bosan dengan surat penolakan

Tiga bulan pertama setelah lulus, gue menganggap surat penolakan itu biasa. Lama-lama surat-surat ini memakan rasa percaya diri gue bahkan sampai beberapa bulan lalu gue sempat frustrasi dan nggak percaya diri karena susah banget nembus tahap wawancara. Padahal CV sudah dipoles sebagus mungkin, surat lamaran juga sudah mengikuti 1001 format yang digadang-gadang sebagai “surat lamaran tokcer untuk mendapatkan kesempatan wawancara”.

Jangan bosen! Percaya aja, niscaya dari ratusan penolakan, akan ada satu-dua perusahaan yang tertarik dengan CV dan surat lamaran kamu dan akhirnya manggil kamu buat wawancara.

4. Ikuti career coaching dari kampus, perbaiki referensi, tambah skill, ikuti kesempatan volunteering di daerah sekitarmu

Ini adalah poin-poin yang lebih praktikal dalam mencari kerja, ya. Biasanya, kampus-kampus Belanda punya career center yang doyan bikin workshop terutama untuk mahasiswa internasional yang ngomongin masalah tentang gimana cara bikin CV dan surat lamaran, gimana cara ngelamar di perusahaan Belanda, dan lain-lain. Biasanya workshop ini menarik biaya, tapi nggak mahal kok, sekitar 5-7 euro sudah termasuk cemilan dan minum.

Career center kampus juga biasanya mengadakan bursa kerja per fakultas, satu atau dua kali setahun. Kalau mikir bursa kerja, jangan kepikiran bursa kerja super gede kayak di Jakarta, ya… Bursa kerja kampus di Belanda biasanya kecil banget dan lebih banyak diisi workshop dan talkshow kecil, durasinya sekitar 45 menit.

Selain itu, kita juga bisa menambah skill sesuai perkembangan jaman. Untuk gue, karena sejak dulu gue tertarik dengan digital marketing, maka selama masa pengangguran gue kembali belajar bahasa pemrograman seperti HTML dan Javascript. Selain itu, untuk menambah pengalaman bekerja dengan orang Belanda, gue menjadi relawan di pusat arsip untuk ekspatriat di Den Haag.

5. Ikut uitzendbureau (agensi rekrutmen)

Di Belanda, ada banyak sekali agen rekrutmen yang ditujukan untuk ekspatriat yang nggak bisa berbahasa Belanda. Beberapa contohnya adalah Undutchables dan YER. Tugas agen rekrutmen ini adalah untuk menghubungkan kamu dengan perusahaan yang mencari pegawai. Tapi biasanya untuk entry level jobs, jarang ada agen rekrutmen yang bisa mencarikan pekerjaan buat kamu, karena biasanya mereka lebih banyak menyebar lowongan untuk posisi-posisi manajerial. Tips ini bisa diikuti kalau kamu sudah berpengalaman beberapa tahun, kemudian memutuskan untuk mencari kerja di Belanda.

Kayaknya cukup 5 tips aja yang bisa gue sampaikan untuk gimana cari kerja di Belanda. Untuk masalah gaji, setiap pekerjaan di Belanda gajinya beda-beda, sesuai standar gaji jenis industri/pekerjaan yang kamu lamar. Jadi jika kamu sudah dapat pekerjaan dan dapat nominal gaji yang bisa dinegosiasi, lebih baik riset dulu tentang standar gaji pekerjaan tersebut.

Selamat mencari pekerjaan!

Akhirnya!

Setelah sepuluh bulan penuh rasa deg-degan dan frustrasi akibat nyari kerja nggak dapet-dapet, gue berhasil dapat job offer dari sebuah perusahaan desain produk di kota tetangga!

Image result for success kid

Lucunya, perusahaan ini pernah nolak gue dua bulan lalu. Kemudian gue nggak putus asa. Dua bulan kemudian, gue ngeliat mereka buka lowongan lagi, dan gue langsung daftar aja ke Head of Marketing-nya. Setelah itu, gue mengikuti wawancara kerja dua kali via Skype, dan dua kali pula gue harus menunda wawancara tersebut karena sakit amandel yang gue alami bulan lalu.

Akhirnya setelah dua kali wawancara dan satu kali ngerjain tugas sebagai bagian dari wawancara, hari Jumat kemarin gue menerima telepon dari General Manager si perusahaan yang bilang bahwa gue adalah pilihan pertama mereka untuk posisi tersebut. Kemudian si General Manager bilang, sebenarnya ada satu kandidat lain yang punya pengalaman lebih daripada gue, tapi mereka ngeliat gue jauh lebih muda, mereka ngerasa ide-ide gue cemerlang, dan setelah dua kali wawancara, mereka ngerasa kepribadian gue cocok dengan kultur kantor. Akhirnya gue deh yang ditelepon. Hehehehe…

Seneng? Wah bukan seneng lagi. Gue sampe bongkar rahasia ke si General Manager, gue bilang salah satu alasan pribadi yang gue simpan tentang kenapa gue berminat untuk ngelamar kesitu lagi adalah karena waktu pertama kali gue wawancara di bulan November, gue ngeliat keseluruhan kantornya dan muka-muka pegawainya dan entah kenapa gue punya firasat bahwa gue akan kerja di kantor yang seperti ini. Nggak tahu, kayak ada perasaan bakal kerja disitu aja. Makanya ketika mereka buka lowongan lagi, gue langsung ambil kesempatan tersebut. Ternyata si Manager bilang bahwa mereka juga punya perasaan yang bagus tentang gue ketika masa-masa gue wawancara. Hiks, jadi terharu.

Setelah ini gue nggak langsung kerja, tapi masih ngomongin tentang ijin tinggal jenis apa yang akan mereka daftarin untuk gue. Sekedar gambaran aja, di Belanda ada beberapa jenis ijin tinggal kerja. Biasanya, orang pemilik search year permit seperti gue akan masuk ke skema ijin tinggal untuk knowledge migrants, alias mereka yang punya gelar pendidikan tinggi dan bekerja sebagai pegawai kantoran. Tapi ada juga skema ijin tinggal paid employment, sama-sama ijin kerja juga sih, tapi bedanya standar gaji paid employment lebih rendah daripada knowledge migrant. Gue sih nggak masalah mau masuk ijin kerja jenis apaan, yang penting standar gajinya sesuai dengan minimum gaji untuk pekerjaan gue dan gue bisa kerja dan tinggal di Belanda dengan aman dan nyaman.

Doain terus biar semuanya lancar, ya!

Winter is Coming!!!

Di bumi belahan barat, bulan November ini sudah tandanya memasuki musim dingin. Rasanya ya gitu deh… Gue jauh lebih suka bulan Oktober dimana daun-daun masih berguguran, pohon-pohon berubah warna, dan udara yang masih ada panas sedikit. Bulan November boro-boro; pohon sudah gundul semua, dan matahari sudah tenggelam sekitar jam setengah enam sore, membuat produktivitas gue sangat menurun.

Bulan November juga menandakan sebentar lagi Sinterklaas akan datang. Tanggal 5 Desember dirayakan sebagai Sinterklaasdag, biasanya sih anak-anak kegirangan dikasih kado. Selain itu, ada apa lagi ya di bulan November?

COKLAT HURUF dan PEPERNOTEN

Di Belanda, ada tradisi memberi coklat dengan inisial huruf depan nama yang akan diberi coklat. Biasanya, toko-toko coklat dan permen mulai menjual coklat huruf ini sejak akhir Oktober dan awal November. Bukan cuma toko coklat, tapi sampai supermarket dan toko serba ada Belanda, HEMA, juga ikutan jualan. Coklatnya juga macam-macam, mulai dari coklat biasa sampai ada toko-toko coklat yang mempunyai servis untuk menghias coklat sesuai dengan kemauan kita.

Selain coklat huruf, hal lain yang akan sering ditemui di Belanda pada bulan November adalah jajanan khas musim dingin bernama pepernoten. Entah kenapa jajanan ini terkenal di musim dingin, mungkin karena cemilan ini terbuat dari beberapa rempah-rempah seperti cengkeh, anise, dan kayu manis. Rasanya manis dan sedikit ‘hangat’, mungkin itu sebabnya kenapa pepernoten banyak ditemui pada bulan November atau menjelang musim dingin. Dan entah kenapa, pepernoten ngingetin gue sama cemilan khas Manado yang nggak jauh beda bernama biji-biji, padahal bahannya beda banget.

 

pepernoten
Pepernoten

 

 

sinterklaas-chocolade-letter1
Coklat huruf

 

SINTERKLAAS

Nggak seperti budaya Amerika Serikat, orang Belanda punya Sinterklaas ‘sendiri’. Bahkan katanya, Santa Claus ala-ala USA terinspirasi dari Sinterklaas. Alih-alih datang pada malam Natal, Sinterklaas datang ke rumah-rumah pada tanggal 5 Desember. Dan orang Belanda bangga banget lho dengan tradisi satu ini! Sebelum tanggal 5 Desember, sejak tanggal 1-4 Desember biasanya orang sudah mulai membeli kado dan tukar kado, sebuah tradisi yang dinamakan Pakjesavond.

Tradisi Sinterklaasdag ini sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak awal November, hanya saja ini perayaan yang lebih religius. Di Belanda, Sinterklaas akan datang ke kota-kota tertentu dengan asistennya, Pit Hitam atau Zwarte Piet. Menurut legenda, mereka datang naik kapal dari Spanyol. Untuk kota-kota yang nggak punya akses ke perairan, Sinterklaas datang dengan menggunakan alat transportasi lain selain kapal, tentu saja bersama asistennya yang setia, si Zwarte Piet.

Datang dari Indonesia, tradisi Sinterklaas ini sudah bukan tradisi asing lagi untuk gue. Indonesia mengadopsi budaya Sinterklaas walaupun nggak 100%. Kenapa nggak 100%? Karena kami merayakan Sinterklaas pada hari Natal (bukan tanggal 5 Desember seperti di Belanda). Selain itu, kalau di Belanda peran Zwarte Piet hanya menjadi asisten Sinterklaas yang baik dan suka bagi-bagi pepernoten, di Indonesia dia punya peran yang lebih antagonis. Banyak anak-anak yang ketakutan kalau Zwarte Piet datang karena dia terkenal suka membawa karung kosong dan katanya anak-anak nakal akan dimasukkan si Piet ke dalam karung tersebut, hihihi! Kalau inget dulu gue percaya cerita begituan, kadang suka malu xD

31440993-sinterklaas-and-zwarte-piet-making-selfie-isolated-on-white-stock-photo

AANRIJDING MET EEN PERSOON dan sejuta masalah kereta

Pertama kali gue tinggal di Belanda, gue bingung suatu hari kereta menuju Leiden dari Den Haag tiba-tiba jadi sedikit sekali, dan jika mau bepergian ke Leiden harus naik kereta dulu ke Den Haag Mariahoeve dan dari stasiun itu akan diberangkatkan naik bus menuju Leiden. Saat gue melihat papan pengumuman, tertera kata-kata yang nggak gue mengerti: “blablabla aanrijding met een persoon.”

Lama-lama gue mengerti bahwa pengumuman itu berarti ada orang ketabrak kereta sehingga semua kegiatan harus berhenti, entah itu sengaja bentuk bunuh diri atau nggak sengaja ketabrak terus jadinya luka-luka atau meninggal dunia. Dan rupanya semakin dingin cuaca di Belanda, semakin sering fenomena ini terjadi!

Awalnya gue mengira penyakit depresi saat musim dingin adalah hal yang biasa. Ternyata di Belanda kejadian ini sangat marak terjadi, apalagi dengan datangnya musim gugur dan musim dingin. (Gue pernah mengalami ribetnya ganti kereta karena ada orang tertabrak kereta api di musim panas, how could you?). Dan kalau memang depresi berujung ke bunuh diri, metode membiarkan diri tertabrak kereta adalah metode yang cukup populer.

Selain masalah tabrak menabrak di rel kereta, masalah lain yang sering mengganggu transportasi umum di bulan November adalah masalah cuaca, terutama badai. Akhir minggu lalu, Belanda mengalami badai yang cukup keras dengan kecepatan angin rata-rata 50 km/jam dan hujan sepanjang hari. Otomatis banyak sekali perjalanan yang tertunda, bahkan dibatalkan, karena keadaan cuaca yang buruk.