Frat Girls and Boys (Part 1)

Setelah meninggalkan Leiden, gue punya dua kesan tentang kota kecil ini:

  1. Kota Pelajar, dan
  2. Kota Frat Girls and Boys

Apa itu frat girls and boys? Mereka adalah cewek-cewek dan cowok-cowok anggota organisasi mahasiswa tertentu. Untuk organisasi khusus cowok biasanya disebut fraternity, sementara untuk organisasi khusus cewek disebut sorority. Mungkin tradisi seperti ini terkenal di film-film bertema kampus ala Hollywood seperti Legally Blonde dan nama-namanya selalu memakai huruf Yunani, maka itu di Amerika Serikat, tradisi ini disebut sebagai Greek culture.

Belanda ternyata memiliki tradisi sorority dan fraternity mereka sendiri. Kita sebut saja ini tradisi studentenvereeniging atau ‘organisasi mahasiswa’. Yang bikin Leiden spesial, kota ini adalah rumah dari organisasi mahasiswa pertama se-Belanda yaitu L.S.V. Minerva, yang dibentuk dua ratus tahun (1814) setelah pendirian Universiteit Leiden (1575).

c4dzxowu_400x400
Logo LSV Minerva

Di jaman sekarang, studentenvereeniging ini jenisnya ada banyak. Ada tipe organisasi gezelligheidsverenigingen seperti Minerva dan beberapa organisasi mahasiswa lain seperti Quintus, Augustinus (khusus cowok) dan SSR. Ada juga organisasi dalam bidang olahraga seperti Roeivereniging Njord (untuk olahraga mendayung), Asopos, dan Duikvereniging LSD (untuk olahraga menyelam). Ada juga organisasi mahasiswa religius, organisasi mahasiswa internasional, dan lain-lain. Tapi akar dari semua organisasi ya gezelligheidsverenigingen seperti nama-nama di atas.

Nah, studentenvereeniging ini kerjanya ngapain aja sih? Di bidang ini, menurut gue kegiatan organisasi ini tergolong unik, karena mereka selalu melibatkan diri dalam acara-acara yang dilakukan di pusat kota Leiden, seperti Museumnacht atau festival-festival musim panas. Pemerintah kota Leiden memang punya kaitan erat dengan berbagai organisasi mahasiswa di Leiden. Mayoritas alumnus Minerva memang jadi orang besar di Belanda sekarang, termasuk Raja Willem-Alexander dan ibunya, Ratu Beatrix, yang merupakan anggota Minerva. Kurang elite apa coba? Selain itu, jika seorang mahasiswa masuk ke sebuah organisasi, biasanya mereka mempunyai koneksi ke perusahaan makelar se-Leiden, sehingga orang tersebut bisa mendapatkan kamar dengan harga yang murah. Bahasa kasarnya, organisasi mahasiswa memonopolisasi kehidupan mahasiswa di Leiden, sehingga kadang untuk mahasiswa internasional, kesempatan untuk berkembang dan menghemat jadi sangat kecil karena Leiden selalu memberikan privilege untuk mahasiswa Belanda, apalagi mahasiswa Belanda yang jadi bagian dari salah satu organisasi mahasiswa.

Sudah cukup lama gue sangat tertarik dengan kehidupan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi seperti ini, apalagi Minerva. Kenapa? Karena anggota Minerva tergolong orang-orang yang sangat misterius. Gimana nggak misterius, gedung dua lantainya aja selalu tertutup, dan anggotanya selalu berkeliaran di tengah kota Leiden memakai setelan jas, celana bahan, kemeja putih, dasi, dan sepatu pantofel, baik cewek maupun cowok. Minerva tergolong berbeda dengan beberapa organisasi mahasiswa lain yang lebih terbuka terhadap orang luar termasuk mahasiswa internasional, karena kegiatan mereka sangat eksklusif dan sepertinya sulit untuk masuk organisasi tersebut. Minerva sangat berbeda dengan beberapa organisasi lain seperti Quintus yang membuka gedung pertemuan mereka sebagai restoran dan menggalang dana dengan cara menjual makanan. Pintu gedung perkumpulan Minerva selalu tertutup baik siang maupun malam. Satu-satunya cara untuk orang luar (baca: mahasiswa internasional yang ngeh) dengan kehidupan mereka ya dengan cara muter-muter sekitar Breestraat (nama jalan tempat gedung Minerva) pada malam hari, dimana kabarnya mereka selalu pesta tiap malam.

minerva
Markas LSV Minerva

Menjelang kelulusan, gue sangat penasaran dengan kehidupan organisasi mahasiswa seperti ini. Akhirnya gue nanya-nanya ke beberapa teman gue orang Belanda, dan berikut adalah jawaban-jawaban mereka:

1. Nggak semua mahasiswa universitas ikutan organisasi universitas. Menurut temen gue, hal ini bisa jadi karena 1) Biaya administrasi tiap bulan beberapa organisasi bisa cukup mahal, dan 2) Kebanyakan mahasiswa yang jadi anggota adalah mereka dari luar Leiden. Menurut temen-temen gue, mahasiswa dari kota Leiden cenderung malas mengikuti organisasi mahasiswa karena mereka merasa Leiden adalah kota mereka sendiri, berbeda dengan mahasiswa dari luar kota Leiden yang merasa perlu dapat akomodasi murah, teman-teman baru, dan kegiatan baru.

2. Mereka punya banyak sekali aturan yang njelimet. Salah satu yang terkenal di kehidupan organisasi mahasiswa adalah acara ontgroening, yaitu acara perpeloncoan untuk anggota organisasi baru, biasanya para mahasiswa baru. Mirip banget sama inisiasi organisasi kampus di Indonesia. Seperti ospek di Indonesia, ada dua kubu dalam masalah ini, kubu yang pro dan yang kontra. Kebanyakan sih yang pro, ya. Mereka berpendapat, ontgroening bisa menjadi sesuatu yang ‘mendekatkan’ para anggota baru, bisa juga dibilang sebagai uji tekanan.

3. Dalam beberapa organisasi, mereka menggunakan sistem poin untuk anggota baru. Ini terjadi di Minerva, kata salah satu teman. Rupanya, cowok dan cewek yang kemana-mana pakai jas dan sepatu pantofel itu adalah mahasiswa baru yang sedang ‘ngumpulin poin’. Ya caranya macam-macam, bisa disuruh-suruh senior, atau siapa yang paling lama bisa bertahan untuk nggak mabuk, atau harus mengacau berapa kali.

4. Ada juga organisasi yang hierarkinya lebih santai. Gue sempat ngobrol dengan seorang teman yang dulu gue kira ikutan organisasi Minerva, ternyata dia sempat dekat dengan orang-orang dari SSR. Menurutnya, nggak semua organisasi punya peraturan yang sangat ketat. SSR contohnya, punya peraturan yang lebih sederhana dan lebih santai. Selain itu, organisasi lain yang diluar gezelligheidsverenigingen biasanya punya aturan main yang tidak terlalu serius.

dan

5. Beda orang, beda motivasi ikut organisasi. Selain orang-orang luar Leiden yang memilih ikut organisasi dengan alasan praktis seperti bisa meminimalisir uang sewa kamar atau mendapat teman baru, ada juga segelintir orang yang merasa organisasi yang dia ikuti itu penting banget, jauh lebih penting daripada perkuliahan. Mereka ini sering bisa dilihat mengikuti satu mata kuliah berkali-kali karena nggak lulus, atau gonta-ganti jurusan.

Beruntung (atau sialnya), gue pernah tinggal di sebuah rumah penuh dengan cewek anggota organisasi mahasiswa, campuran dari Quintus dan Minerva. Di bagian dua nanti, gue akan kupas enak nggak enaknya tinggal sama cewek-cewek sorority!

Upacara Kelulusan Yang Biasa Aja

Lucu banget rasanya kalo mikir gue udah lulus. Gelar gue udah nambah satu, jadi Master of Arts in Asian Studies. Sebenernya kalo dipikir-pikir, gelar ini bukannya lancar-lancar aja. Pas pertama nulis, gue harus obrak-abrik research question, kemudian akhirnya tesis gue harus direvisi, belom lagi gue putus, stres, tapi akhirnya bisa lulus juga tuh! (Pertanda bahwa yang namanya hidup pasti jalan terus, nggak bakal berhenti kalau kena satu musibah).

Dan ternyata upacara kelulusan di universitas gue tuh biasa banget. Cuma lima belas menit, udah gitu dosen pembimbing gue datang dan ngasih beberapa kata tentang pengalaman bekerja sama gue. Dan yang paling bikin males adalah dia nyuruh gue menyimpulkan tesis gue dong. Berasa dapet ujian mahapenting pas lagi mau lulus aje. Emang doyan ngerjain banget nih dosen gue.

Akhirnya gue lulus! Sekarang gue udah mulai cari kerja, sih. Dan cari rumah juga. Ah pokoknya hidup lagi ribet-ribetnya, apa emang hidup baru mulai?

12901521_1543255152636085_5811344153573255528_o

Rasanya Belajar Asian Studies di Leiden University

Kuliah di luar negeri, mungkin untuk sebagian orang dirasa sebagai sebuah berkat yang nggak ternilai harganya. Kapan lagi bisa tinggal di luar negeri, menyerap ilmu sebanyak-banyaknya, dan sekaligus ngerasain tinggal di negara yang jauh berbeda budaya dan adat istiadatnya?

Pertanyaan “What are you studying?” selalu jadi pertanyaan nomor satu saat kita pertama kenalan dengan sesama mahasiswa disini, baik itu mahasiswa Belanda atau mahasiswa internasional. Gue dengan bangga selalu menjawab jurusan gue adalah Asian Studies, dan respon sesudah itu biasanya antara: a) mendukung (“Wow, that’s great!“) atau b) nanya lebih kritis (“Why are you studying about your continent on the other side of the globe?“). Dengan ini, gue mau jawab kenapa gue belajar Asian Studies di benua Eropa, terutama di Leiden University.

Alasannya cuma satu: mencegah bias. Dosen gue waktu S1 pernah bilang, kalau mau belajar studi area lebih baik belajar bukan di benua yang sama untuk mencegah bias akademik. Maka itu gue memutuskan untuk belajar tentang Asia secara umum dan Asia Tenggara/Indonesia secara khusus di benua Eropa, benua tua yang selain mempelajari Asia secara politik, juga secara kebudayaan dan sejarah. Kenapa gue memutuskan untuk belajar Asian Studies di Leiden University? Karena menurut gue, Leiden itu tempat yang paling sempurna kalo gue mau belajar tentang Asia dan Indonesia secara khusus. Banyak sekali Indonesianis yang bekerja sebagai dosen disini. Banyak banget sumber hubungan Belanda dan Indonesia yang disimpan di perpustakaan Leiden University. Selain itu, Leiden juga merupakan rumah dari beberapa peneliti Asia di jaman dulu. Jadi udah jelas banget kan kenapa gue memilih untuk belajar di kota yang punya kedekatan tersendiri dengan benua dan negara gue.

Gimana rasanya belajar Asian Studies di Leiden University? Gue udah belajar disini selama 13 bulan dan gue selalu ngerasa seneng. Pertama, Fakultas Humaniora disini ngingetin gue dengan FIB UI, almamater gue. Kesamaannya terletak di banyaknya kebudayaan dunia yang ada di fakultas ini. Di Leiden University, kita bisa belajar bahasa-bahasa baru, bahkan ada pusat bahasa Jawa juga disini. Seru banget. Banyak juga acara-acara yang melibatkan kebudayaan negara tertentu. Mirip banget lah sama FIB UI yang setiap bulan selalu ngadain acara kebudayaan. Selain itu, atmosfer di fakultas ini juga sangat internasional. Kita bisa ikut banyak sekali seminar dalam bahasa Inggris yang sesuai dengan minat akademis kita.

Kedua, kelas-kelasnya sangat menarik. Berbeda dari fakultas lain yang mata kuliahnya dipaketkan dalam waktu satu semester, di jurusan gue, gue bisa ngambil apapun pelajaran yang gue mau asalkan nggak melebihi batas maksimal kredit dalam satu semester. Hal ini menyebabkan gue bisa belajar lebih banyak diluar bidang gue. Contohnya, di pelajaran Material Culture of Food and Drink, gue belajar banyak tentang sosiologi makanan dan juga preservasi artefak di museum. Di mata kuliah Histories of Southeast Asia, gue bisa belajar tentang sejarah negara gue dan negara lain di Asia Tenggara dari sudut pandang Barat. Ada banyak banget pengetahuan baru yang gue dapat selama kuliah disini. Cukup pastiin aja bahwa sebelum kita ngambil mata kuliah yang terdengar menarik banget, kita juga udah harus tau dasar dari mata kuliah tersebut. Ini kelas-kelas untuk program Master, jadi mereka nggak akan ngajarin kita dari awal banget.

Walaupun gue ngerasa betah, bukan berarti kadang gue nggak ngerasa sebel, lho. Kebanyakan kelas yang gue ambil isinya hanya berkisar 8 sampe 10 orang, sehingga sulit untuk gue berakrab ria dengan banyak orang. Beda banget sama temen-temen gue di fakultas berbeda yang satu kelas bisa sampe 20-30 orang dan mereka bisa solid banget sampe lulus. Bahkan kelas Chinese Art History gue isinya cuma 7 orang doang, hal ini menyebabkan gue untuk nggak bisa membentuk ikatan pertemanan dengan orang-orang di kelas gue. Ada sih beberapa yang akhirnya jadi temen gue, tapi nggak pernah sekelas bareng lagi karena di jurusan gue, kami bisa mengambil apapun mata kuliah yang kami mau. Ketertarikan orang kan beda-beda, ya. Walaupun begitu, untuk siswa internasional, Leiden University menyediakan banyak sekali aktivitas yang memungkinkan kita untuk bertemu sesama mahasiswa internasional dari jurusan lain. Dengan itu, paling nggak kekurangan teman di kelas bisa sedikit diatasi.

Tertarik dengan belajar Asian Studies di Leiden? Bisa kunjungi website Asian Studies disini. Di website tersebut, semua informasinya lengkap, mulai dari silabus sampai gimana caranya untuk daftar.

Sampai ketemu di Leiden!

Kabar Tesis

Akhirnya tesis gue rampung juga!!!

Kemarin jam setengah 10 malam, gue ngirim tesis lengkap gue ke supervisor untuk di revisi. Setelah pencet tombol ‘Send’ rasanya lega banget. Kayak separo beban berat yang menghantui hidup gue udah dibuang jauh-jauh.

Sejujurnya, awalnya gue ngerasa gue nggak bakal bisa ngerjain tesis ini sampai selesai sebelum batas pengumpulan tesis. Gimana nggak? Gue mulai ngerjain bulan September, kemudian pas lagi nulis tiba-tiba sumber gue mandek. Akhirnya gue nggak punya jalan lain kecuali ganti research question yang sesuai dengan sumber-sumber yang gue dapat. Ganti research question berarti gue harus rombak ulang bab pertama gue, disaat gue udah selesai bab tiga dan lagi proses ngerjain bab dua.

Belum lagi waktu yang sangat mepet untuk gue menyelesaikan tesis ini. Ditotal-total, gue baru mulai serius ngerjain tesis dalam waktu satu bulan penuh aja. Selama bulan November ini, nggak ada hari tanpa nggak ngerjain tesis. Libur hanya dibatasi hari Sabtu dan Minggu. Hari Senin sampe Jumat malem, setiap hari gue bangun, kerjain tesis, ke perpustakaan, kerjain tesis lagi. Hampir enggak ada waktu untuk main. Rasanya eneg banget ngeliat tumpukan buku dimana-mana, belum lagi sumber-sumber primer berupa arsip bentuk buku yang harus dibaca dan diteliti.

Selama sebulan terakhir, gue bener-bener ngerasain gimana rasanya fokus untuk kelangsungan pendidikan gue. Masalah gebetan? Buang jauh-jauh dulu. Masalah drama pertemanan? Disingkirkan dulu. Gue emang begini orangnya, kalo lagi fokus sama sesuatu, lebih cenderung melupakan hal lain yang bersifat distraction.

Akhirnya semuanya selesai… Semalam gue ngirim tesis penuh gue ke supervisor dan tinggal tunggu beliau revisi. Selama menunggu, gue coba tulis halaman-halaman depan kayak daftar isi dan kata pengantar. Selain itu, gue juga lagi nyari apartemen baru nih karena masa kontrak gue udah mau selesai bulan Januari tahun depan. Gue juga lagi mau reach out ke beberapa museum untuk kesempatan magang atau pekerjaan tetap. Doakan semoga berhasil, ya…

Jatuh Cinta dengan Asia Tenggara

Menjelang lulus kuliah S1, gue kebingungan, kalau orang mau panggil gue apa? Sejarawan? Kok sepertinya ilmu gue masih cetek. Kalau memang gue sejarawan, gue sejarawan di bidang apa? Banyak teman kuliah yang meyakinkan bahwa gue adalah sejarawan spesialis kawasan Cina dan sekitarnya, dan gue akhirnya mengamini itu. Gue mulai mengambil lebih banyak mata kuliah eksternal dari jurusan Sastra Cina, kenalan sama banyak dosen-dosen bidang sejarah dari jurusan tersebut, bahkan skripsi gue juga ikut-ikutan ngomongin Cina segala. Bukan Cina daratan sih, melainkan komunitas Cina di negara lain, dalam hal ini di Amerika Serikat. Gue merasa bahwa studi migrasi dan diaspora sangat menarik, karena dari situ kita bisa melihat percampuran budaya dan adat istiadat, serta faktor-faktor kenapa orang-orang ini mau rela meninggalkan kehidupan di negara asal untuk bersusah-susah cari untung di negara baru. (Story of my life banget nggak sih).

Tapi begitu gue kuliah S2, gue jadi pikir-pikir lagi kalau mau mendalami sejarah Cina. Masalahnya, gue baru tau kalo sejarah Cina itu luas banget, mungkin lebih luas daripada negaranya. Untuk memahami sejarah Cina, seseorang perlu bisa berbahasa Cina. Poin nomer satu itu aja udah bikin gue nggak lolos. Sebagai orang yang sejak dulu sulit belajar bahasa yang nggak pake huruf Romawi, rasanya agak terlambat kalo gue mau belajar bahasa CIna sekarang. Kedua, untuk memahami sejarah Cina, seseorang juga harus ngerti kesusasteraan, kebudayaan, dan kesenian Cina secara mendalam dari sudut pandang negara tersebut. Lah, gue ngerti bahasanya juga enggak, menurut ngana aja gue ngerti tetek bengek kebudayaan mereka dari sudut pandang orang dalam? Gue pernah ngambil mata kuliah Chinese Art History di semester pertama kuliah Master dan itu adalah salah satu momen-momen paling fail dalam hidup gue karena gue nggak ngerti banget sama pelajarannya. Baca bahan sebelum kelas sih udah, tapi nggak ngerti, eeeh begitu masuk kelas malah tambah nggak ngerti lagi.

Untung tugas akhir gue dapet nilai cukup bagus. Mungkin karena dosennya kasihan ngeliat gue terseok-seok ngikutin kuliahnya selama satu semester penuh.

Kemudian di semester dua gue menghadapi masalah baru yaitu tesis. Akhirnya gue memutuskan untuk menulis tentang pendidikan orang Cina di Asia Tenggara, khususnya di kota Padang. Tapi gue nggak mau ngomongin hal itu kali ini, gue mau ngomongin tentang bagaimana gue jatuh cinta dengan sebuah subyek yang tadinya amit-amit mau gue dalami lebih jauh.

Waktu gue S1 dulu, jurusan gue dibagi tiga minor: Studi Amerika, Studi Australia, dan Studi Asia Tenggara. Gue selaku anak hipster milihnya studi Amerika dong, kapan lagi bisa belajar sejarah negara adidaya? Dari tiga minor tersebut, yang paling gue jauhi adalah studi Asia Tenggara, karena dosennya killer semua dan mata kuliahnya nggak ada yang menarik untuk gue. Pernah sih, ambil satu mata kuliah Asia Tenggara, namanya Sejarah Hubungan Masyarakat Asia Tenggara. Cukup menarik mata kuliahnya, sayangnya yang lain nggak semenarik itu.

Nah, fast forward ke masa sekarang yaitu masa kuliah S2, gue ngambil mata kuliah tambahan dengan judul Histories of Southeast Asia. Awalnya sih gue ngambil mata kuliah itu karena lumayan nyambung dengan topik tesis gue, apalagi karena gue nggak tau apa-apa soal Asia Tenggara (yang adalah kawasan asal negara gue sendiri, pffft).

Ternyata kok lama-lama setelah ikut mata kuliahnya, Asia Tenggara sepertinya kawasan yang cukup menarik ya… Ada beberapa alasan kenapa gue bilang Asia Tenggara cukup menarik, ya… Gue jadi jatuh cinta dengan kajian Asia Tenggara karena ternyata kawasan ini termasuk kawasan muda yang sangat berpotensi. Selain karena letak geografis, tapi ternyata ada banyak sekali kajian yang bisa diukur dengan Asia Tenggara sebagai contoh. Misalnya, gue pernah baca sebuah paper tentang degradasi reformasi di beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Singapura dan Thailand kalo nggak salah. Ternyata negara-negara ini punya pola-pola yang mirip, dan lagi-lagi studi ini membuktikan bahwa Indonesia masih memegang rekor sebagai negara paling demokratis se-Asia Tenggara. Masih banyak lagi model studi sosial yang bisa masukin negara-negara Asia Tenggara sebagai contoh kasusnya, pokoknya menarik deh.

Gue sendiri nggak pernah nyangka bahwa gue akan sangat suka belajar kajian Asia Tenggara ini. Mungkin karena sejarah yang cukup relatable dan kemampuan gue berbahasa salah satu bahasa terbesar di Asia Tenggara juga menjadi faktor kenapa gue menganggap kajian ini menarik dan berpotensi untuk kedepannya. Bukannya bilang bahwa kajian Asia Tenggara akan jadi lebih populer dibandingkan kajian Asia atau kajian Cina, tapi melihat bahwa negara-negara Asia Tenggara ini tergolong negara-negara yang masih ‘menggeliat’, sepertinya bukan nggak mungkin kajian ini akan jadi primadona untuk jadi subyek penelitian para cendekiawan di bidang sosial politik dan budaya. Di bidang sejarah, Asia Tenggara bisa jadi contoh paling oke untuk bikin penelitian disiplin ilmu kajian post-koloni. Daerah ini sempat disinggahi berbagai negara Eropa, dari yang awalnya minat dagang doang (Belanda), atau yang dari awal memang mau menjajah (Prancis). Jangan heran kalau di bidang humaniora terutama disiplin studi post-kolonial, negara-negara Asia Tenggara nggak kalah seru diomongin dibandingkan India dengan Inggris sebagai penjajah utamanya. Mau ngomongin yang lebih kontemporer juga bisa, udah banyak banget paper dan tulisan ilmiah tentang perkembangan ekonomi dan sosial dari negara-negara Asia Tenggara yang disorot dari sudut pandang positif sampe negatif. Macem-macem lah pokoknya.

Jadi, mau coba belajar kajian Asia Tenggara?

Q&A: Sekolah di Belanda

Jadi, mention ini bertengger di Twitter gue beberapa hari yang lalu. Sebenernya gue udah nulis beberapa artikel tentang pendidikan Belanda, tapi sepertinya penjelasannya masih kurang ya. Hmmmmm baiklah kalo begitu, gue akan nulis sedikit lagi tentang sekolah di Belanda. Kali ini mungkin agak lebih lengkap kali, ye.

(Kalo ada tulisan gue disini yang perlu dikoreksi, boleh banget lho dikoreksi lewat form komentar.)

Jadi, temen gue ini nanya tentang kegalauan temennya milih dua TU (Technische Universiteit) yang lumayan bergengsi, antara TU Delft di Belanda atau RWTH Aachen di Jerman. Well, bukannya mau ngegede-gedein Belanda sih (PILIH TU DELFT AJAAAA YAAA DELFT AJAAAA #lho) tapi kayaknya perlu ditanya lagi deh kamu itu maunya jurusan apa? Setahu gue, di TU Delft itu lebih ke aplikasi tekniknya, sama seperti kebanyakan TU di negeri Kincir Angin ini. Beda sama di Jerman yang masih punya banyak program studi teknik yang banyak teorinya, kayak di TU Munchen ada fokus ke dinamika struktur. Gue enggak tau itu itung-itungannya sampe kayak apa, tapi kata temen gue anak teknik, itu banyakan itungan (da aku mah apa, cuma anak Humanities). TU di Belanda cuma ada 3 yaitu TU Delft di kota Delft, TU Eindhoven di kota Eindhoven, dan Universiteit Twente di kota Enschede. Mungkin masih banyak Technische Hogeschool yang lain, tapi yang terbesar ya cuma tiga itu. Kami memang kalah dari Jerman yang punya TU sampe 9 biji (gile wey Jerman, negara kalian terbuat dari apa sih?) tapi bukan berarti Belanda kalah bagus TU-nya… Untuk lebih jelasnya, maaf banget gue enggak tahu, ini aja hasil obrol-obrol sama temen-temen yang niatan sekolah teknik di Jerman dan Belanda.

Intinya… kalo kamu anak teknik yang pengen sekolah lagi dengan mata kuliah yang lebih aplikatif, mungkin TU di Belanda bisa dijadikan tujuan. Tapi kalo kamu anak teknik yang cinta mati sama behind the scene, sok atuh daftar di TU Jerman.

Terus… pertanyaan kedua, tentang pengalaman akademis gue di Belanda. Hmmmm kayaknya hampir sama deh kayak pengalaman mahasiswa lain pada umumnya, apalagi mahasiswa dari Indonesia. Waktu S1 kebanyakan santai, sekarang S2 harus lebih aktif dalam belajar dan minta bantuan dosen. Tapi itu sih cuma secara umum, ya. Secara khusus mungkin beda, sesuai dengan jurusan dan universitas masing-masing. Sejauh ini, sekolah di Belanda asik kok… apalagi kalo di kota pelajar kayak Leiden. Kota Leiden kecil, jadi bisa lebih fokus untuk belajar. Udah gitu, demografinya memang lebih banyak mahasiswa, jadi kota ini walaupun kecil tapi memang hidup banget. Masalah ini kayaknya juga udah sering banget gue ceritain di blog ini. Oh ya, kembali ke kehidupan akademik. Kalo anak Humanities, sih, ujian-ujiannya lebih banyak berbentuk esai dan makalah, jadi gue nggak ngerasa ada minggu ujian. Beda sama temen gue anak Teknik di TU Delft atau anak jurusan lain di Leiden University yang ada penetapan waktu minggu ujiannya. Kembali ke awal, pengalaman akademis gue bisa jadi beda dengan temen gue jurusan Psikologi di universitas yang sama.

Jadi, gimana? Berminat belajar di Belanda? Pokoknya, di Belanda tuh universitasnya banyak. Mau yang fokus di teknik? Tuh ada 3 TU yang gue jabarkan tadi. Yang fokus di biologi dan life science juga banyak, bahkan kabarnya Belanda memang lebih jago di bidang life science. Mau jurusan ilmu sosial kayak politik atau HI, bisa nyoba ke ISS Erasmus di Rotterdam atau Den Haag. Atau mau menyelam lebih dalam ke bidang humaniora? Daftar aja ke Leiden University, universitas tertua se-Belanda (promosi sedikit boleh lah di blog sendiri :p)

Untuk temennya Farhan, semoga membantu ya!

Budaya Pendidikan Belanda

Nah. Ini pas banget dibaca buat orang-orang yang mau atau mimpi pergi sekolah ke Belanda atau negara Eropa pada umumnya. Beberapa minggu lalu gue sempet mengalami gegar budaya di masalah servis (di bank, di toko, dll), minggu ini gue mengalami gegar budaya di bidang pendidikan.

Seperti yang kita tahu, pendidikan Indonesia itu ibarat kita mau makan ikan goreng dan ada orang tiba-tiba ngasih kita ikan buat dimasak. Maksudnya, kita terbiasa mengikuti sistem pendidikan yang gitu aja. Gue masih inget banget waktu gue kuliah jenjang S1, dalam seminggu sering banget beberapa kelas ditiadakan karena dosennya absen, atau pas kelas metode pengajarannya malah satu arah, hanya dari dosen ke mahasiswa. Setiap masuk kelas, kita sama sekali nggak tau apa yang akan kita pelajari hari itu, jadi otak kita kosong, nggak ada persiapan sama sekali. Kalo ada kelas presentasi, yang nonton malah nggak perhatiin si presentator, padahal kasihan itu presentatornya udah berbusa ngejelasin materi tugas kelompok mereka. Pas UTS atau UAS, banyak yang nggak belajar dan akhirnya jadi pada nyontek.

Duh, kebiasaan kayak gitu tuh buruk banget kalo dibawa sampe ke Eropa. Bener-bener buruk.

Bersyukurlah kalian kalo universitas atau sekolah kalian sekarang menerapkan sistem pendidikan dua arah, maksudnya ada komunikasi dari guru/dosen ke murid/mahasiswa, budaya debat dan diskusi sangat dijunjung tinggi, dan guru/dosen ngasih transparansi tentang kelas mereka mula dari penilaian tugas, jadwal kelas dan daftar bacaan yang harus dibaca sebelum kelas. Gue yakin pasti akhir-akhir ini di Indonesia udah banyak sekolah/universitas yang menerapkan gaya pendidikan kayak gitu. Tapi berdasarkan pengalaman gue waktu S1 kemarin, universitas gue nggak menerapkan gaya belajar mengajar kayak gitu. Dan begitu S2 disini gue emang sempet kaget sih dan sangat butuh waktu buat menyesuaikan diri. Kenapa? Mari kita lihat alasannya dibawah ini…

1. Dosen Eropa sangat berpikiran terbuka

Mungkin di Indonesia masih banyak banget dosen kaku yang kolot dan ogah debat. Di Eropa, khususnya di Belanda dan lebih spesifik lagi di universitas gue, hal itu udah nggak berlaku lagi. Dosen-dosen disini banyak banget yang mau dengerin pendapat mahasiswa. Kalau mereka nggak setuju, ide mahasiswa nggak langsung dibuang mentah-mentah, tapi diolah lagi kayak ngomong “Ide/pertanyaan kamu bagus, ada yang punya tanggapan soal ini?” Jadi semua ide dan pertanyaan dianggep bagus, selama itu masih berada dalam ranah mata kuliah yang lagi dibahas. Kalo emang pertanyaan kita beda jauh dari materi, bebas-bebas aja ngedatengin dosen setelah kelas untuk nanya pertanyaan kita itu. Mereka juga ngedukung adanya atmosfer debat akademik lho di kelas, sesuatu yang belom pernah gue ikuti karena gue masih agak susah nyampein pendapat gue di kelas (maklum, nggak diajarin selama S1).

2. Telat lebih dari 15 menit? Tahu diri lah, ngapain masuk kelas

Di universitas gue ada semacam peraturan nggak tertulis yaitu kelas akan dimulai 15 menit setelah jam resmi kelas di sistem akademik. Misalnya kelas A ditulis di komputer jam 10 mulainya, maka secara resmi kelas bakal dimulai jam 10.15. Hal ini dikarenakan banyak mahasiswa yang telat bahkan dosennya juga suka telat, jadi ada toleransi 15 menit. Walaupun begitu bukan berarti kelasnya molor 15 menit terus selesainya jadi molor 15 menit juga. Kalau di sistem kelarnya jam 12 ya kelas bubar jam 12 teng. Selain itu, setiap 45 menit akan ada 10 menit istirahat. Lumayan banget buat keluar kelas untuk ngopi atau pergi ke toilet. Nah, gimana kalo lu telat lebih dari 15 menit? Duh mending nggak usah masuk lah, kasihan nanti disindir-sindir sama dosennya. Tahu diri lah, udah jadi mahasiswa S2 masa iya nggak bisa atur waktu untuk masuk kelas tanpa telat lebih dari 15 menit?

3. Bahan bacaan wajib baca tidak sama dengan kuis keesokan harinya

Ada yang jaman S1 mengalami punya dosen yang selalu ngasih bahan bacaan seabrek dengan janji kuis di pertemuan berikutnya? Dosen Belanda boro-boro lah kayak gini. Bahan bacaan memang wajib kita baca, tapi itu dipake untuk diskusi di pertemuan berikutnya. Dengan begitu, otak kita nggak kosong-kosong amat pas masuk kelas jadi bisa ngerti materi kelas hari itu. 80% dari materi bahan bacaan wajib baca biasanya bakal masuk ke materi kelas berikutnya, entah itu masuk ke materi kuliah dari dosen atau materi diskusi mandiri sesama mahasiswa.

4. Diskusi? Diskusi.

Wah disini buang jauh-jauh kebiasaan rajin nyatet deh. Kuliah S2 disini banyakan ditekankan di diskusi. Itulah guna si bahan bacaan wajib. Kita bisa diskusi sesama mahasiswa, bisa juga ngasih pendapat waktu lagi sesi kuliah dari dosen. Dari pendapat-pendapat mahasiswa, biasanya dosen bakal menyimpulkan semuanya jadi beberapa pertanyaan, kita juga bisa diskusi dengan bahan dasar pertanyaan-pertanyaan itu. Pokoknya yang penting partisipasi aktif dari mahasiswa dan dosen, itu dasar kuliah S2 disini.

Selama kurang lebih 3 minggu jadi mahasiswa S2, kayaknya baru itu yang bisa gue simpulkan. Nanti seiring waktu gue akan ngasih tau lagi suka duka mahasiswa S2. Semoga lama-lama gue kebiasa ya. Oh iya gue besok mau ngasih abstrak tesis gue ke ketua jurusan. Rencananya sih mau ngebahas tentang asosiasi marga orang Cina perantauan di Asia Tenggara. Doain semoga jadi, ya!