Connecting To The Past, Nieuwe Keizersgracht Style

Soekarno, the first president of Indonesia, once proclaimed an abbreviation that is hold very dear to Indonesians until present day: Jas Merah. It was the abbreviation of “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”, in English can be translated as “Never, even at once, leave history behind”. It was one of the most famous jargon of the then-president, who ended his presidency in 1965, after an earth-shattering coup in the country.

Referring from Soekarno’s words, the present world has a lot of ways to preserve history and not to leave history behind. In Indonesian language, the word “history” is translated to “sejarah”. The word “sejarah” can be traced to Arab word “syajaratun”, a word that means “tree”. To sum up, history is like a tree. Through history, people in the present can trace back their roots to the past in order to know themselves.

The inhabitants of Nieuwe Keizersgracht in Amsterdam is the perfect example of people who connect to the past. Nieuwe Keizersgracht is a small canal near Hermitage Amsterdam museum and is located on the Weesperbuurt and Plantage area. The location is very close to Natura Artis Magistra (Amsterdam Zoo) and Hortus Botanicus Amsterdam. Before the World War 2, this area was used as the Jewish Quarter in the city. Around the area, we can find several Jews-related museums such as Joods Historisch Museum, Portuguese Synagogue, and Jewish Cultural Quarter (Hollandsche Schouwburg).

As I was strolling through Amsterdam on a sunny day, I passed a small bridge with a small history on the area. I was a bit intrigued by the bridge because turned out, next to the bridge, lied a small remembrance of what happened during World War 2 around this very street.

IMG_2126

The site is now called ‘Schaduwkade’ or Shadow Wall. It was described that this street used to be the house of Jews and they were taken away during the Germany occupation in the city. To commemorate the Jews from Nieuwe Keizersgracht who were taken away and murdered in several extermination camps in Europe, the present inhabitants of the street decided to make this memorial place. They tried to find who lived in their houses during Germany occupation around that time, and placed their names and their death place on the left side of the bridge.

IMG_2121
The names of people living in Nieuwe Keizersgracht 2, as well as their date of birth and the death camp where they were sent to.
IMG_2122
The house of Nieuwe Keizersgracht 2. The names are written on the left side of the canal, directly facing the houses on the other side of the canal, so we can see what kind of houses they used to live in.

For a few minutes, I felt a feeling so hard to describe. It was very touching, on what the current people in Nieuwe Keizersgracht were doing to commemorate the historical event and to research the families who used to stay in their house. I think it was an act of empathy and an effort to show the world of something awful that used to happen in the past. I could not help thinking about their efforts on tracing the families who used to live in their house now, and it must be hard for them to gather data and which concentration camps they were sent to. Maybe common people can’t understand this, but as a historian, I can relate to them. I can’t help not to think about what they felt when they were gathering the data. Maybe they felt a pang in their hearts for knowing that they were living in a historical house, not for good things that used to happen there, but for a very awful thing.

The people of Nieuwe Keizersgracht and their effort on building Schaduwkade is one of the proof that history and humanity still exist in the world, and this is just a small thing of what a community can do to preserve their district. I hope their stories can inspire us to do the same where ever we are living now.

Jadi Anak Kecil di Science Center NEMO

Untuk akhir pekan bulan November ini, gue pergi ke Science Center NEMO bersama teman gue, Tobias namanya. Gue sama sekali nggak tau apa-apa tentang NEMO, keinginan pergi kesana didasarkan oleh dua hal: 1) muak tesis; dan 2) tiket masuknya gratis kalau pake Museumkaart. Akhirnya siang hari kami berangkat dari Leiden Centraal menuju Amsterdam.

Science Center NEMO letaknya deket banget dari stasiun Amsterdam Centraal, hanya sekitar 700 m jauhnya. Begitu keluar dari stasiun tinggal belok kiri lalu jalan lurus aja, melewati perpustakaan Amsterdam. Dari situ, NEMO sudah kelihatan. Gedungnya gede banget dengan arsitektur modern yang menyerupai kapal yang hampir tenggelam.

Penampakan Science Center NEMO. Gambar diambil dari internet.

Dari namanya, Science Center NEMO adalah pusat edukasi sains untuk masyarakat di Belanda. Kalau di Indonesia, mirip dengan PP-IPTEK di Taman Mini Indonesia Indah. Begitu masuk ke dalam museumnya, gue juga awalnya mikir begitu… ada banyak sekali percobaan sains di NEMO yang sama dengan di PP-IPTEK, terutama percobaan kecil yang berkaitan dengan fisika. Gue sendiri nggak begitu ingat persisnya apa aja percobaan yang mirip, pokoknya masuk ke NEMO pertama kali ngingetin gue sama kunjungan sekolah ke PP-IPTEK saat gue masih kelas 5 SD.

Ternyata, NEMO menawarkan lebih dari sekedar percobaan fisika! Gedung ini luas banget dan dibagi jadi 5 lantai. Lantai 1 adalah untuk percobaan fisika dan ada ruang-ruang kelas untuk workshop atau pameran kecil, lantai 2 adalah tempat khusus untuk percobaan-percobaan teknik sipil, arsitektur, energi, teknik industri (pokoknya berbau engineering), lantai 3 adalah tempat khusus untuk sains tubuh manusia, lantai 4 ada bagian tentang sains ilmu sosial dan lantai 5 restoran yang menghadap ke teras NEMO dan dari situ kita bisa langsung turun ke jalan raya.

Walaupun gue suka banget semua bagian NEMO, tapi bagian favorit gue dari NEMO terletak di lantai 2, terutama di bagian Amazing Constructions dan World of Shapes. Mengapa begitu? Karena dua bagian itu sangat mengingatkan gue dengan cita-cita masa kecil gue yaitu jadi arsitek. Di bagian Amazing Constructions, gue kembali bertemu dengan model-model bangunan, model jembatan, pokoknya apa yang anak teknik sipil lakukan. Untungnya Tobias dulu jurusan teknik, walaupun bukan teknik sipil… tapi dia bisa ngejelasin ke gue tentang konsep-konsep sederhana di bagian Amazing Constructions ini. Nyobain berbagai eksperimen di bagian itu bikin gue ngerasa kayak anak kecil lagi! Waktu kecil mainan gue emang balok-balok kayu dan kerjaan gue setiap hari ya bikin rumah dan konstruksi jembatan dari balok-balok tersebut. Kayaknya dari kecil gue emang udah suka dengan dunia mekanika, tentang gimana sebuah mesin berjalan, tentang bentuk bangunan, jembatan, dan lain-lain. Makanya di bagian Amazing Constructions ini gue langsung keluar jiwa anak-anaknya. Seru banget nyobain eksperimen tegangan kawat, kenapa gedung pencakar langit bisa nggak goyah walaupun kena angin, bahkan ada eksperimen lift yang digerakkan lewat energi manusia. Gue nyoba hampir semua percobaan di bagian ini dan kalo nggak penasaran sama bagian lain mungkin gue bakal muter-muter di bagian itu terus.

Bagian favorit nomer dua gue adalah World of Shapes yang sedikit mengupas arsitektur dan tipuan mata. Gue paling suka tentang penjelasan Golden Ratio, bagaimana semua hal di dunia ini ada perhitungannya, bahkan sampai ke yang terkecil kayak spiral di dalam bunga matahari. Semua itu bisa dijelasin lewat matematika dan ada hubungannya dengan proporsi, sesuatu yang selalu dipake dalam bidang arsitektur dan lukisan.

Selain dua bagian kesukaan gue itu di lantai 2 ini juga ada model pabrik dan ada permainannya, jadi kita bisa belajar gimana cara ekspor dan impor barang kita ke seluruh dunia lewat pabrik tersebut. Selain itu ada simulasi bikin bendungan juga dan simulasi tentang bagaimana air bersih bisa kita minum lewat keran. Kayaknya masalah air ini cukup penting di Belanda, mengingat negara ini ada di bawah level laut, jadi sedari dini penting banget dijelaskan tentang air ke anak-anak Belanda. Salut deh sama cara mereka mengedukasi warganya untuk melek air sejak dini.

Di lantai tiga, sainsnya berubah… udah bukan sains mekanika dan sains bumi lagi tapi lebih ke biologi tubuh manusia. Dijelasin segala macem mulai dari otak secara biologis bahkan secara psikologis juga. Ada banyak banget komputer dengan kuis-kuis kepribadian yang bisa kita ambil bahkan kita bisa ngecek gaya percintaan kita plus bisa mini tes IQ segala. Yang paling menarik, di lantai ini ada penjelasan mengenai pubertas, bahkan nggak ragu-ragu ngomongin seks segala. Seru banget! Di bagian ini, segala hal mengenai seks untuk remaja dibahas, mulai dari hormon apa yang berperan dalam masalah tertarik satu sama lain, apa yang terjadi dalam rahim perempuan saat hamil, bahkan ada koleksi beragam kondom termasuk bentuk-bentuk kondom yang aneh-aneh dan kenapa bentuk mereka aneh-aneh. Ada juga bagian yang memberi informasi tentang pubertas, apa yang terjadi di tubuh anak cewek dan cowok pada saat puber, dan kenapa mereka merasakan perasaan-perasaan aneh saat masa puber. Semuanya dijelasin secara gamblang dan memakai bahasa anak remaja yang gampang dimengerti.

Lantai empat adalah lantai tentang ilmu sosial sebagai sains. Di sini menurut gue lebih ke psikologi sih, dan nggak kalah seru juga. Yang paling menarik disini, ada sebuah bilik yang bikin gue nggak sadar bahwa gue jadi objek percobaan psikologi sosial. Jadi untuk masuk ke bilik, ada dua pintu masuk: pintu masuk untuk orang kulit putih dan pintu masuk untuk orang non kulit putih. Gue kemudian berdiri di depan pintu non kulit putih, kemudian gue mikir, “kenapa gue mau masuk dari sini ya?” Si Tobias juga bilang, itu di belakang ada pintu masuk lain, jangan masuk dari pintu non kulit putih itu. Akhirnya gue masuk dari pintu lain, dan setelah masuk ke bilik tersebut gue ngerti bahwa pintu tadi udah menyimpulkan sebuah eksperimen psikologi sosial. Jadi, bilik tersebut menyorot tentang apakah manusia tergolong makhluk menaati aturan atau nggak. Di bilik itu hanya ada sebuah video dengan durasi setengah jam tentang percobaan-percobaan di bidang psikologi sosial untuk menyorot masalah manusia dan ketaatan, dari sudut pandang ras dan Nazi. Menarik sekali videonya, gue dan Tobias sampe duduk setengah jam full untuk nonton video itu dari awal sampai akhir. Selain bilik super menarik ini ada juga penjelasan dan percobaan tentang interaksi sosial, otak dan perasaan, dan permainan otak yang menarik sekaligus bikin mikir.

Kunjungan ke NEMO Science Center ini bener-bener menyenangkan. Gue bisa belajar sains dengan cara seperti anak-anak, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun, gue ngerasa jadi anak-anak lagi di museum. Cocok untuk kalian yang penasaran dengan sains sebagai ilmu, dan museum ini bisa dikunjungi oleh semua umur. Jangan takut dengan banyaknya anak-anak dan remaja di museum ini, yang penting bersenang-senang dan main aja!

(Hampir) Menangis di Museum

Coba ingat-ingat pelajaran Sejarah jaman sekolah dulu. Dari kapan kekuasaan terhadap Hindia Belanda berpindah tangan dari VOC ke pemerintah Belanda? Apa nama organisasi tentara Belanda yang ‘dibonceng’ oleh NICA masuk ke Indonesia dan merupakan dalang dari Aksi Polisionis (versi Indonesia: Agresi Militer) 1 dan 2? Kapan tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia? Kapan bendera Belanda terakhir kali berkibar di Indonesia?

Kalau sudah lupa, ada baiknya buka-buka lagi buku Sejarah atau buka Wikipedia, dan kalau pergi ke Belanda, jangan lupa menyempatkan diri pergi ke Bronbeek Museum di Arnhem.

Aslinya, Bronbeek Museum adalah museum militer, yang mendokumentasikan seluruh kegiatan KNIL di koloni terbesar mereka pada abad ke-20: Hindia Belanda. KNIL adalah jawaban dari salah satu pertanyaan di atas, yaitu nama satuan militer Belanda yang ditugaskan ke Indonesia untuk ‘mengambil alih’ kemerdekaan Indonesia yang seharusnya sudah merdeka di tahun 1945. KNIL sendiri adalah singkatan dari Koninklijk Nederlands-Indie Leger, atau dalam bahasa Indonesianya: Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Karena itu, lebih tepat rasanya gue bilang bahwa Bronbeek Museum adalah museum khusus tentang hubungan KNIL dan Hindia Belanda.

Museum Bronbeek sangat berbeda dari museum-museum lainnya. Letaknya terletak di tengah taman yang luas sekali. Di taman ini ada beberapa gedung selain si museum, yaitu restoran bertema Indonesia dengan nama Kumpulan, dan rumah jompo dari pemerintah untuk veteran KNIL. Semuanya terletak di belakang museum. Eksterior museumnya ngingetin gue sama gedung-gedung tua di Batavia pada jaman awal abad ke-20.

Pintu masuk Bronbeek Museum.
Pintu masuk Bronbeek Museum.

Bronbeek Museum dibagi jadi dua lantai. Layout gedungnya sederhana sekali. Setiap lantai dibagi menjadi dua sayap. Di lantai pertama, sedang ada pameran temporer, masih tentang KNIL, gue sendiri nggak terlalu ngerti tentang apa karena semuanya dalam bahasa Belanda. Yang gue ngerti dari pameran temporer tersebut adalah pameran itu juga menyertakan sedikit bagian untuk nyeritain tentang kehidupan tentara Belanda selama ditugaskan di Hindia Belanda. Ada foto-foto mereka lagi beli buah di pasar, lagi main sepakbola, lagi nongkrong sama sesama tentara, ada juga foto-foto kedatangan mereka ke Hindia Belanda (ke Makassar, contohnya). Pas lagi di pameran itu, gue ketemu sama seorang bapak orang Indonesia yang udah 50 tahun tinggal di Belanda dan baru pertama kali pergi ke Bronbeek Museum. Beliau lahir di Mojokerto, tapi pas umur 18 tahun pindah ke Belanda ngikut ayahnya. Dia bilang, “Saya kalau mau disuruh pilih sih pengen pulang aja ke Indonesia”. Sepertinya itu jeritan hati hampir semua anak rantau Indonesia yang tinggal jauh dari Ibu Pertiwi, hehehe.

Di lantai dua, baru ada pameran permanen-nya Bronbeek Museum. Isinya adalah tentang kependudukan Belanda di Hindia Belanda, mulai dari VOC sampai hengkangnya orang Belanda pada tahun 1960-an setelah Indonesia mendapat hak penuh atas Irian Barat. Semuanya dibahas dalam satu lantai, dan mengikuti linimasa. Di sayap kanan sih menurut gue nggak terlalu menarik karena isinya tentang penjajahan Belanda dari VOC sampai Belanda hengkang sebentar dari Hindia Belanda untuk diambil alih sama Inggris, tapi di sayap kiri museum, isi pamerannya menarik banget.

Sayap kiri museum adalah pameran tentang orang Belanda di Hindia Belanda selama masa kependudukan Jepang. Pada masa penjajahan Jepang di Hindia Belanda, semua orang Belanda tanpa kecuali harus masuk kamp-kamp interniran Jepang. Pada saat itu, status orang Belanda dan pribumi dianggap sama oleh Jepang. Nggak sedikit orang Belanda yang ngerasa sakit hati karena ini. Di bagian ini, ada beberapa kesaksian tertulis dari warga Belanda yang sempat terperangkap di kamp interniran Jepang. Nggak sedikit wanita Belanda yang juga jadi korban pemerkosaan tentara Jepang. Para ibu sebisa mungkin memberikan masa kanak-kanak sebaik mungkin ke anak-anak mereka, tapi nggak jarang mereka gagal. Salah satu hiburan dari para ibu Belanda untuk anak mereka adalah dengan membuat boneka-boneka dari kain perca selama mereka ada di kamp interniran. Selain itu, banyak dari tawanan perang ini yang ngilangin stres dengan cara melukis, atau membuat cerita dalam bentuk jahitan.

Salah satu hiburan ibu dan anak Belanda di kamp interniran: menjahit cerita dan gambar. Kantong dengan jahitan di sebelah kanan gue rasa dibuat di kamp interniran di Sulawesi Utara, karena tulisannya 'Kamp Tomohon' (Tomohon adalah nama desa di Sulawesi Utara)
Salah satu hiburan ibu dan anak Belanda di kamp interniran: menjahit cerita dan gambar. Kantong dengan jahitan di sebelah kanan gue rasa dibuat di kamp interniran di Sulawesi Utara, karena tulisannya ‘Kamp Tomohon’ (Tomohon adalah nama desa di Sulawesi Utara)

Di kamp interniran tersebut, orang Belanda juga udah mulai dikotak-kotakkan. Mulai ada istilah ‘Belanda Totok’ dan ‘Belanda Indo’ di kartu-kartu identitas orang Belanda selama masa kependudukan Jepang. Maksudnya Belanda Totok adalah mereka yang lahir dan besar di Belanda kemudian pindah ke Indonesia, sementara Belanda Indo adalah keturunan dari si Belanda Totok, atau orang Belanda yang lahir di Indonesia.

Kartu kependudukan (?) orang Belanda selama masa penjajahan Jepang. Perhatikan 'Belanda Indo' dan 'Belanda Totok' di pojok kiri atas.
Kartu kependudukan (?) orang Belanda selama masa penjajahan Jepang. Perhatikan ‘Belanda Indo’ dan ‘Belanda Totok’ di pojok kiri atas.

Selain itu, ada juga pembahasan tentang usaha kemerdekaan Indonesia. Gue salut banget sama cara penyampaian sejarah dari museum ini. Awalnya gue pikir Bronbeek Museum ini bakal subyektif banget sama hal-hal berbau KNIL dan masa penjajahan mereka di Indonesia. Ternyata sama sekali enggak. Bahasa mereka netral banget, bahkan untuk beberapa event dalam sejarah Indonesia seperti penangkapan Diponegoro dan perang Aceh, mereka tulis dua sudut pandang berbeda tentang event tersebut; sudut pandang Belanda dan Indonesia. Gue salut banget, lho. Kenapa? Karena masih banyak museum di Indonesia yang nggak adil dengan cara penyampaian sejarah mereka ke masyarakat. Museum Diorama di Monas contohnya, masih pake penyampaian pro-Indonesia dan memojokkan Belanda serta Jepang.

Bagian terakhir dari museum tersebut adalah repatriasi orang-orang Belanda dari Indonesia. Nggak semua dari mereka pulang ke Belanda, ada juga yang pergi ke Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Amerika Selatan, walaupun konsentrasi kepulangan ke Belanda memang paling banyak, ada 4 gelombang dari tahun 1950-an sampai 1960-an. Setelah mereka pulang ke Belanda, rupanya mereka menghadapi dilema lagi karena nggak semua orang Belanda mau menerima mereka, khususnya para Belanda Indo yang boro-boro pernah menginjakkan kaki ke Belanda sebelum repatriasi. Mereka jadi dianggap ‘not Dutch enough‘. Kulit boleh putih kayak orang Belanda, tapi kebiasaan mereka kebiasaan orang Indonesia, seperti makan nasi, ngulek sambel terasi, dan kebiasaan bawa botol cebok ke toilet. Orang-orang Indo-Maluku yang memutuskan untuk pulang ke Belanda, dapat cercaan dan tatapan aneh ketika orang Belanda asli denger mereka bisa bahasa Belanda. Banyak dari mereka yang lebih cinta sama Indonesia ketimbang sama Belanda, menganggap Indonesia adalah tanah air mereka, tapi karena situasi di Indonesia pada masa itu yang masih labil (dengan masa Bersiap dan konflik Irian Barat) akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Belanda.

Berada di museum ini entah kenapa bikin gue ngerasa sedih dan emosional banget. Museum ini seolah mau memberi pesan bahwa yang namanya perang dan penjajahan itu membawa sakit hati luar biasa untuk pihak-pihak yang bersangkutan, dengan harapan kejadian yang sama nggak berulang lagi di masa depan. Selain itu, museum ini bikin gue inget sama cerita-cerita masa penjajahan dari oma gue yang kadang suka cerita tentang itu. Dia bilang, dia lumayan beruntung bisa masuk sekolah orang Belanda waktu SD karena nyokapnya kerja sebagai suster di rumah sakit Belanda, jadi nyokapnya bisa masukin dia dan saudara-saudaranya sekolah di sekolah Belanda. Di sana mereka diajarin bahasa Belanda, sejarah, geografi Belanda… tapi mereka nggak boleh ngomong sama anak Belanda. Kasihan banget ya. Ada juga cerita oma gue jaman Jepang, dia bilang jaman Jepang emang jauh lebih susah daripada jaman Belanda karena bahan makanan kurang dan mereka harus sembunyi-sembunyi dari tentara Jepang kalo nggak mau masuk kamp interniran. Beliau pernah cerita (entah jaman Jepang atau Belanda), dia pernah ngerasain pake baju dari karung goni!

Untuk yang suka banget sama sejarah dan mau ngeliat sejarah Indonesia dari kacamata penjajah, wajib banget main ke Museum Bronbeek ini. Walaupun jauh dari Amsterdam dan Den Haag, tapi semuanya terbayar. Puas banget. Kalau hoki (dan jago bahasa Belanda), kita bisa juga pergi ke rumah veterannya untuk nanya-nanya ke veteran KNIL tentang hidup di Indonesia masa itu. Di museum itu juga kebanyakan isinya opa-opa dan oma-oma yang gue rasa mantan KNIL atau pernah tinggal di Indonesia, jadi kita bisa dapat dobel untung: bisa lihat koleksi museum dan bisa ngobrol sama saksi sejarah.

Di atas Belanda, masih ada Belanda lagi

Belanda aja udah di utara, masih ada pulau yang lebih utara lagi daripada daratan Belanda? Jawabannya, tentu saja ada! Kemarin gue berkesempatan pergi ke Texel, salah satu pulau yang berada di utara Belanda. Walaupun letaknya di atas, Texel nggak termasuk ke provinsi terutara Belanda yaitu Friesland, melainkan dia masih masuk ke provinsi Noord-Holland.

*buka Wikipedia*

Texel adalah salah satu pulau dari gugusan kepulauan West Frisian selain Vlieland, Terschelling, Ameland, Schiermonikoog, dan beberapa pulau kecil seperti Noorderhaaks, Richel, Griend, Rif, Engelsmanplaat, Simonszand, Rottumerplaat, dan Rottumeroog. Gugusan kepulauan ini membentang sampai ke utara, berbatasan langsung dengan Jerman bagian utara dan Denmark. East dan North Frisian Islands punya Jerman, dan Denmark punya Wadden Sea Islands. Pulau-pulau besar yang tadi gue sebut adalah tujuan wisata populer bagi warga Belanda, kecuali pulau-pulau kecilnya, yang nggak berpenghuni. Jadi kalau mau ke pulau-pulau kecil itu, kita harus punya izin khusus.

Pergi ke Texel nggak susah kok. Dari Leiden Centraal gue bisa naik kereta sampai Amsterdam Sloterdijk, kemudian transit untuk naik kereta dengan tujuan akhir Den Helder. Di Den Helder, gue beli tiket bus Texelhopper. Kalo cuma tiket bus harganya 3 euro, kalo mau beli barengan sama tiket feri harganya jadi 5.50 euro. Yang nyebelin, di pulau ini sistem kartu OV chipkaart enggak berlaku, jadi gue harus merogoh kocek untuk beli tiket sekali jalan. Perjalanan dari Den Helder ke Texel naik feri nggak lama kok, cuma 20 menit…

Peta Texel, gambar diambil dari Google
Peta Texel, gambar diambil dari Google

Perhentian pertama gue adalah Den Burg. Di Den Burg nggak terlalu istimewa, cuma ada pusat kota dengan berbagai toko. Yang menarik, di Den Burg ada toko kecil yang jual dekorasi rumah, dan isinya tuh… bagus-bagus banget! Gue sampe nahan diri untuk nggak beli. Ditambah lagi, Texel adalah pulau dengan populasi domba yang kabarnya lebih banyak daripada populasi orang, jadi di toko ini dijual banyak suvenir dari bulu domba asli. Interior tokonya kurang lebih kayak gini…

IMG_20150623_205011

IMG_20150623_134304

IMG_20150623_134010Fun fact: Coba perhatiin gambar terakhir, di deretan miniatur perahu paling atas. Miniatur perahu paling kanan adalah miniatur kapal Batavia, salah satu kapal paling terkenal dalam sejarah penaklukan dunia oleh Belanda. Kapal ini sempet mampir ke Batavia (ya, Batavia yang sekarang adalah Jakarta), sebelum akhirnya karam di perairan dekat Australia Barat. Kalau kamu ke kota Fremantle di Western Australia, pasti akan ketemu sama museum maritim yang memajang rongsokan dari kapal ini.

Setelah puas cuci mata dan makan siang di Den Burg, gue kembali naik bus untuk pergi ke De Koog. Ada apa di De Koog? Di daerah De Koog, ada Duinen van Texel National Park. Berdasarkan laman web, di taman nasional ini kita bisa menemukan tiga penampakan alam dalam satu taman nasional: hutan, pantai, dan bukit pasir. Ngebayanginnya aja udah seru banget, jadi gue semangat banget untuk pergi kesana.

Pintu masuk Duinen van Texel National Park adalah pantai bernama Kogerstrand. Pantai sebelah barat Texel ini dibagi menjadi beberapa bagian, ada pantai untuk rekreasi, pantai untuk konservasi alam (dan masih bisa didatengin orang) dan pantai yang ditutup untuk umum. Kogerstrand sendiri termasuk pantai rekreasi, dan sejauh mata memandang, daerah ini penuh dengan tenda-tenda. Ternyata tempat ini adalah camping grounds alami. Mobil-mobil diparkir di tempat parkir sendiri, sementara tenda dan karavan didirikan di petak-petak di antara pantai dan bukit pasir. Gue berjalan ke arah utara. Awalnya sih lewat pantai, tapi angin laut yang luar biasa dingin memaksa gue untuk melipir dan mengambil jalan lewat hutan.

IMG_20150623_161727Keluar dari hutan, ada jalan setapak. Kalo lagi jalan di Duinen van Texel, kamu wajib banget harus ngeliat logo berwarna kuning dan merah dengan tulisan ‘Waddenwandelpad’. Ini adalah jalur perjalanan resmi dari negara. Nyasar sedikit, nggak jamin bisa balik ke kota, lho. Soalnya taman nasional ini cukup luas dan rumah dari berbagai spesies binatang liar, dan nggak ada batas sama sekali antara manusia dengan hewan liar yang bebas berkeliaran dan tinggal disini. Lu kata kebun binatang?

Depan gue langsung puluhan bukit pasir dan padang savana. Gue jalan lurus terus, ngelewatin padang savana dan bukit pasir. Rasanya adem dan tenang banget. Semuanya ijo, ada beberapa bunga yang entah namanya apa, mirip lavender, warnanya ungu pastel. Gue jalan terus sampe akhirnya gue ngeliat ada tangga naik ke bukit pasir yang cukup tinggi, dan ternyata dari bukit pasir itu kita bisa ngeliat seantero taman nasional! Bahkan mercusuar Texel yang ada nun jauh di utara Texel bisa kelihatan dari bukit pasir ini.

Di salah satu bukit pasir tertinggi di taman nasional. Dari jauh kelihatan dua danau yang pengen gue datengin, sayangnya pintu masuknya ditutup. Mungkin lagi musim migrasi burung sehingga burung-burung pada bertelur disana.
Di salah satu bukit pasir tertinggi di taman nasional. Dari jauh kelihatan dua danau yang pengen gue datengin, sayangnya pintu masuknya ditutup. Mungkin lagi musim migrasi burung sehingga burung-burung pada bertelur disana.

Nggak kerasa, gue jalan di taman nasional ini sekitar dua jam lebih. Menurut gue, taman nasional ini jauh lebih menyenangkan dan menantang daripada Hoge Veluwe karena medannya yang lebih sulit. Di Hoge Veluwe kan jalannya lurus lurus aja, nah di Duinen van Texel ini jalannya agak susah karena banyak tanjakan dan turunan dari pasir, bahkan di hutannya. Mending kalo pasirnya pasir kasar, nah ini pasir halus yang sekali dipijak bisa berasa turun tiga langkah. Kalau mau pergi kesini, lebih baik pake walking boots atau all-terrain running shoes yang solnya lebih kuat daripada sepatu lari biasa. Apalagi untuk kamu yang doyan trekking tapi sering kecelakaan (baca: keseleo) kayak gue, pake sepatu lari trail running cocok banget untuk di medan dengan tingkat kesulitan menengah kayak gini.

Lain kali gue mau lagi sih pergi ke Texel, penasaran sama danaunya dan pengen jalan sampe ke De Cocksdorp, tempat si mercusuar Texel!

De Blauwe Kamer = Bukan ‘Kamar Warna Biru’

Hari Sabtu kemarin, gue berkesempatan pergi main ke Wageningen. Sebenarnya gue ke Wageningen ada keperluan juga. Jadi ceritanya gue sama temen gue, Ibey, mau pergi jalan-jalan di bulan Agustus, terus kebetulan salah satu teman kami di Wageningen pengen ikutan. Daud namanya. Jadi sekalian aja kemarin gue pergi ke kotanya untuk ngobrolin soal jalan-jalan, apalagi gue belum pernah ke Wageningen.

Dimana itu Wageningen? Letaknya di tengah Belanda, kurang lebih 15 menit perjalanan kereta ke Utrecht. Kota Wageningen tetanggaan dengan kota Ede, tapi anehnya nggak punya stasiun kereta sendiri. Jadilah kota Ede punya stasiun kereta yang dinamakan Ede-Wageningen. Dari Ede, kalau mau ke Wageningen bisa naik bus nomor 88 jurusan Wageningen University yang muncul 15 menit sekali.

Sebenarnya, kota ini udah nggak asing bagi gue. Pertama kali denger nama kota ini beberapa tahun lalu waktu temen gue pindah kesini untuk kuliah. Ternyata Wageningen University itu pusatnya riset pertanian dan kehutanan di Belanda. Kemudian gue denger nama kota ini lagi di novel Negeri van Oranje, semacam ‘kitab suci’ mahasiswa di Belanda. Jujur, gue ke Wageningen lumayan excited juga, karena pengen ngebuktiin kata-kata di novel tersebut tentang kota ini.

Ternyata bener loh. Wageningen keciiiillll… banget. Tapi suasananya bedaaaaa banget sama Leiden. Kampus di Wageningen kepisah-pisah, dan jaraknya bisa setengah jam sendiri naik sepeda. Temen gue bilang, dia kelasnya bisa terpaut jauh jadi harus pinter-pinter atur waktu kalo mau pindah kelas ke gedung lain. Gedungnya nggak saling mepet satu sama lain, beda banget sama Leiden, dan banyak banget pohon serta taman-taman. Hari Sabtu biasanya Wageningen sepi banget karena mahasiswa Belanda pada pulang ke kota masing-masing, sementara mahasiswa internasional pergi jalan-jalan ke luar kota untuk ngilangin stres.

Pemandangan Wageningen dari Bornsesteeg, apartemennya Daud
Pemandangan Wageningen dari Bornsesteeg, apartemennya Daud. Foto diambil sama Ibey.

Kami jalan naik sepeda ke centrum, cari makan, sambil ngobrol-ngobrol lepas. Masalah kampus, masalah idup di Belanda, acara jalan-jalan, dan nostalgia masa program kepemimpinan sebelum beasiswa. Seru juga ngedata berapa anak di angkatan kami yang mau ke Belanda, dan kami udah berencana mau ngumpulin anak-anak cabang Belanda kalau mereka udah pada disini semua. Selepas makan kebab di centrum dan makan es krim terenak se-Wageningen, Daud mengajak gue dan Ibey untuk pergi ke luar kota Wageningen untuk ngeliat pemandangan desa. Wah, gue langsung mau, lah! Kami segera beranjak naik sepeda ke Rhenen, desa sebelah Wageningen. Perjalanan ke Rhenen ditempuh kurang lebih 1 jam, dengan pemandangan perkebunan di kanan kiri, dan sekawanan domba dan sapi yang dibiarkan bebas berkeliaran di perkebunan. Ini nih, kehidupan Belanda yang sebenarnya.

Pemandangan kanan-kiri di Rhenen
Pemandangan kanan-kiri di Rhenen

Di Rhenen, Daud sebenernya pengen ngajak jalan terus ke desa berikutnya, tapi kami tergelitik dengan kawasan De Blauwe Kamer. Gue langsung ngajak Daud dan Ibey kesini, karena teringat di novel Negeri van Oranje, salah satu tokoh utamanya suka pergi kesini.

Ternyata, De Blauwe Kamer adalah semacam pantai kecil yang menghadap sungai Rijn dan ada hutannya. Wah, gue seneng banget! Cuaca hari itu bagus banget, cerah banget dan sedikit angin, sehingga De Blauwe Kamer lumayan rame dikunjungi turis. Ada keluarga besar yang lagi sepedaan bareng, yang mau foto keluarga, dan yang mau main di pantai kecil di sungai.

Gue dan Daud, foto ala-ala katalog H&M. Udah cocok belom jadi model?
Gue dan Daud, foto ala-ala katalog H&M. Udah cocok belom jadi model?
Selfie di salah satu bangunan tua di De Blauwe Kamer
Selfie di salah satu bangunan tua di De Blauwe Kamer
Rusa!!!! Depan mata!!!!
Rusa!!!! Depan mata!!!!

Wah, Blauwe Kamer tuh bagus… banget. Walaupun tempatnya nggak seberapa besar, tapi gue cukup puas disini. Hutannya asri, marka jalannya juga jelas, dan yang pasti… bersih banget. Dari sini kita bisa bird-watching atau piknik di tengah padang rumput luas. Pas banget buat gue yang baru selesai ngerjain esai-esai kampus dan ngerasa kepala mau meledak. Terimakasih Daud untuk acara jalan-jalan ke Wageningennya, dan terimakasih Blauwe Kamer untuk bikin gue kembali segar!

Hutan kecil tapi asri di De Blauwe Kamer
Hutan kecil tapi asri di De Blauwe Kamer

Musim Semi di Taman Nasional Hoge Veluwe

Kaki gue udah gatel banget sebulanan enggak liat yang ijo-ijo. Percayalah, sebelum ke Belanda, gue bisa tahan berbulan-bulan nggak pergi ke taman atau melakukan kegiatan alam, tapi begitu disini rasanya kalo enggak pergi ke bukit atau hutan kayak sakaw sendiri, gitu. Mungkin kata sahabat gue bener kali yah, ketika lo berkenalan dengan alam, lo akan ketagihan untuk jadi sahabatnya. Gue berterimakasih sama sahabat gue yang mengenalkan gue sama alam, dan efeknya sekarang gue jadi ketagihan.

Kemarin gue ngerasa bahwa idup gue datar banget, sedatar alam Belanda, makanya gue memutuskan untuk pergi ke taman nasional di Belanda yang kepengen banget gue datengin sejak dulu: Hoge Veluwe National Park. Berhubung kali ini udah musim semi dan tanaman udah menghijau, nggak ada salahnya untuk berangkat jalan sendirian ke taman nasional yang kabarnya pertama dan terluas di Belanda itu.

Dari Leiden, gue jalan jam 9 pagi ke stasiun Ede-Wageningen berbekal tiket grup yang berhasil gue dapatkan lewat Facebook. Perjalanan ke Ede-Wageningen membutuhkan waktu kurang lebih 1 setengah jam, dengan transit dulu 4 menit di Schiphol. Sesampainya gue di stasiun Ede-Wageningen, gue naik bus nomor 108 jurusan Apeldoorn dan turun di halte Rotonde. Setelah itu lanjut naik van nomor 106 ke pintu masuk Hoge Veluwe di Otterlo.

Untuk yang kebingungan, pintu masuk Hoge Veluwe ada 3: Otterlo, Hoenderloo, dan Schaarsbergen. Untuk jalan-jalan gue kemarin, gue ngambil rute Otterlo-Hoenderloo. Tadinya sempet mau pulang begitu sampe Visitor’s Center, tapi rasa penasaran akhirnya membuat gue meneruskan perjalanan sampe Hoenderloo. Kalo ditotal, kemarin itu gue jalan sekitar 10 km selama 3 jam. Emang lama sih, soalnya 5 km pertama gue jalan kaki dan 5 km berikutnya naik sepeda. Ngomong-ngomong sepeda, di taman nasional ini ada tempat penyewaan sepeda gratis lho! Bisa jalan-jalan di sekitar taman nasional dengan sepeda itu, deh. Jangan lupa naik sepeda di rute sepeda yang udah ditentukan, ya. Kalo yang mau jalan kaki, ada juga rute tersendirinya.

Daripada gue kebanyakan ngomong, mending gue langsung masukin foto-foto di Hoge Veluwe. Semoga jadi pada tertarik kesini, ya! Gue sendiri beneran ketagihan main kesini dan lain waktu pengen lagi, tapi mungkin gue bakal pake rute yang lebih jauh, atau ngelilingin Hoge Veluwe-nya sekalian seharian penuh.

Hutan dekat pintu masuk Otterlo
Hutan dekat pintu masuk Otterlo
Sand dunes!
Sand dunes!

DSC_0343

Hutan lagiiiii...
Hutan lagiiiii…
Pemandangan dekat exit Hoenderloo: padang rumput super luas.
Pemandangan dekat exit Hoenderloo: padang rumput super luas.

Drielandenpunt

Selaku mahasiswa yang belom dapet KTP Belanda, gue nggak bisa main jauh-jauh dari Belanda karena visa MVV gue hanya berlaku di dalem Belanda. Sementara itu, kaki gue udah gatel banget pengen main ke bukit atau gunung yang ada ijo-ijonya. Berhubung sebentar lagi musim semi, akhirnya gue dan Ibey memutuskan untuk pergi ke Limburg Selatan, salah satu provinsi Belanda yang paling deket sama Jerman. Tujuan utama kami, perbatasan Belanda-Jerman-Belgia, yang terkenal dengan nama Drielandenpunt.

Untuk penjelasan mengenai Drielandenpunt sendiri, bisa dicek di mbah Google aja ya…

Dari Leiden, kami naik kereta ke Utrecht. Lalu sambung kereta ke Maastricht. Dari Maastricht, naik bus nomor 50 jurusan Aachen Hauptbahnhof, turun di halte Maastrichterlaan. Halte tersebut ada di sebuah desa bernama Vaals.

Kami turun dari bus, kemudian cari halte bus untuk bus nomor 149, bus yang bakal bawa gue dan Ibey ke Drielandenpunt. Tanya sana tanya sini, dan gue kaget banget bahwa orang-orang Vaals banyak yang nggak bisa berbahasa Inggris. Mamam tuh orang-orang yang bilang ke Belanda nggak harus bisa bahasa Belanda! Ibey gelagapan, apalagi gue, tiba-tiba semua kosakata bahasa Belanda nanya arah ilang, untung pas Ibey ngomong ‘Drielandenpunt’ si orang Vaals ini langsung nunjukin arah kesana. Yeee kita nggak butuh arahnya tapi butuh tau dimana halte bus untuk bus ke Drielandenpunt, mas.

Akhirnya nemu juga tuh halte. Terus nunggu bus 149, masih lama, kami jalan-jalan dulu. Vaals tuh tipikal desa Belanda gitu deh, centrum-nya cuma satu, terus tokonya berjejeran. Yang lucu, karena Vaals ini termasuk desa perbatasan Jerman-Belanda, mulai banyak marka jalan dan iklan dwibahasa: Jerman dan Belanda. Kadang ada bahasa Prancis juga, tapi nggak banyak. Mobil-mobil juga udah mulai banyak yang berplat mobil D (Deutschland) dan NL (Nederlands). Setelah beberapa menit, balik ke halte lagi, kok busnya belom dateng ya… Yang ada malahan sebuah mobil karavan warna putih. Kata Ibey, dia merhatiin si karavan itu ngetem lama banget di halte. Kemudian karavan itu pergi.

“Gimana kalo kita tungguin aja nih mobil balik, jangan-jangan dia bus 149”, kata si Ibey.

Ternyata bener sodara-sodara! Beberapa menit kemudian mobil itu balik lagi dan di kaca depan mobil itu ada stiker ‘LIJN 149’. Sialan! Gue sama Ibey sampe ngakak beberapa menit karena ngerasa bego sendiri. Oke, word of advice, untuk yang mau antimainstream dengan cara pergi ke Drielandenpunt dari Vaals, angkutan nomor 149 itu bukan bentuknya bus tapi mobil karavan, ya!!!

Perjalanan dari Vaals ke Drielandenpunt makan waktu sekitar 15-20 menit. Dalam perjalanan, gue dan Ibey ngeliat ada dua restoran yang pake konsep panorama gitu menghadap pegunungan, jadi inget kayak restoran tebing ala ala di Puncak. Yang kayak begituan mah banyak di Indonesia. Terus, sampe di Drielandenpunt, gratis karena emang mobil 149 itu mobil pas liburan.

Ternyata Drielandenpunt tuh kecil banget, bentuknya ya kayak obelisk nandain bagian mana masuk negara mana. Kayak gini nih…

DrielandenpuntDi foto ini, gue megang buku angkatan PK angkatan 23 LPDP.

Yang bikin heboh tuh pemandangannya dooong… Gue suka banget sama hutan dan yang ijo-ijo, makanya gue seneng banget jalan sedikit di Drielandenpunt ini. Ternyata daerah ini ada rute trekking-nya dan bervariasi mulai dari 5 sampe 20 km-an, pantesan aja gue ngeliat banyak orang pake sepeda olahraga dan banyak orang bawa walking stick, ternyata mereka olahraga disini. Keren banget!

Drielandenpunt 2

IMG_5128

Sayangnya karena gue nggak tau disana ada walking trail, jadi gue nggak siap apa-apa dan nggak trekking lebih jauh. Setelah jalan rada jauh dan beberapa lama kemudian kami balik, terus foto di obelisk lain yang katanya ‘point tertinggi Belanda’. Ternyata cuma macam gini…

Hoogste Punt van NederlandYeah right.

Setelah puas foto-foto dan makan siang, gue dan Ibey pulang. Seneng banget deh bisa mampir ke South Limburg, provinsi yang ternyata banyak banget bukit dan hutannya. Gue penasaran untuk mengunjungi provinsi ini lagi di musim semi atau musim panas, pasti jauh lebih bagus! Tapi sebelomnya, nanti gue mau coba trekking di Hoge Veluwe National Park dulu!