Curhat: Politik Kantor

Nggak terasa, udah tiga bulan gue kerja di kantor ini. Sebenernya sih masih banyak senengnya daripada betenya, mungkin karena di pekerjaan ini gue merasa tertantang dengan banyaknya proyek yang harus gue urusin setiap hari. Tapi belakangan ini gue ngerasa bete banget sama kolega-kolega gue, terutama mereka yang suka banget ngomongin kolega lainnya.

Gue memperhatikan adanya pola seperti ini sejak bulan pertama gue ngantor. Jadi setiap kali kami pergi makan siang diluar bersama orang-orang tertentu (biasanya sih dari divisi Sales), selalu aja ada saat dimana mereka ngomongin kolega lain, entah dari divisi yang sama maupun divisi yang berbeda. Awalnya gue masih cuek aja, bahkan gue banyakan dengerinnya daripada ngomongnya, tapi lama-lama gue jadi jengah sendiri.

Kenapa gue jengah dan malas ikutan bergosip ria? Pertama, karena gue nggak suka ngomongin orang. Okelah kalau itu orang gue nggak suka, mungkin gue bisa berapi-api ngomongin dia, tapi please deh ini kolega gue sendiri yang lagi diomongin. Dan sejauh gue kerja disini, orang-orang tersebut nggak pernah melakukan sesuatu ke gue yang tergolong nggak baik. Jadi, ngapain gue harus ikutan ngomongin sesama kolega yang sama-sama nyari duit di perusahaan yang sama?

Yang kedua, please deh, itu kolega lo juga lho yang lagi lo gosipin… Buat gue, bisnis ya bisnis. Justru gue jauh lebih tertarik denger cerita apa yang dilakukan di akhir minggu atau rekomendasi film bagus buat ditonton sepulang kerja. Bukannya malah gosipin orang lain dan ngomongin kebijakan kantor… job description kerjaan aja udah bikin ribet kepala, kenapa masih harus makin bikin pusing dengan cara ngomongin orang-orang yang ada didalamnya?

Kemarin itu cuaca lagi cerah banget, karena gue nggak bawa bekal, jadilah gue berangkat ke kantin kantor dimana gue bertemu kolega-kolega lain termasuk mereka yang suka ngomongin orang. Akhirnya gue ikut mereka makan siang tapi gue nggak ngomong apa-apa. Lalu kami nongkrong sebentar dan kami ngeliat manager gue lagi berjemur sama kolega lain. Dan salah satu dari si tukang ngomongin orang nyeletuk, “Ih liat deh bos lu lagi duduk disitu, gue yakin dia ngeliat kita, kok nggak nyapa nggak apa, ya?”

Gue langsung mikir, “Did you just realize what you were saying?” Heran, udah jadi pegawai kantor, mental masih kayak mean girl SMA…

Pengalaman Bekerja di Horeca

Related image
Nggak semua orang yang lulus S2 di luar negeri bisa langsung dapat pekerjaan dengan gaji yang bagus. Gue contohnya. Setelah lulus kuliah menyandang gelar Master di bulan April 2016, gue mendapatkan pekerjaan jadi Museum Guide di sebuah atraksi/museum yang baru buka di Amsterdam.

Pekerjaan tersebut ternyata lebih membawa dampak negatif ketimbang positif untuk gue. Saat itu, gue digaji cukup rendah, bahkan dibawah gaji normal untuk karyawan umur 25 tahun (di Belanda ada sistem zero hour worker, jadi kami hanya dibayar kalau masuk kerja aja). Jarak tempat kerja dan rumah juga jadi salah satu hambatan, karena mereka nggak mengganti ongkos kerja gue, sehingga nggak jarang gue besar pasak daripada tiang. Akhirnya, jadwal kerja yang nggak beraturan dan komunikasi antar pegawai yang sangat jelek membuat gue keluar dari museum tersebut.

Satu minggu setelah gue keluar dari museum, gue ditawari pekerjaan di sebuah toko. Akhirnya gue mengiyakan tawaran tersebut karena jadwal kerja yang pasti, gaji yang lumayan, dan ongkos jalan yang ditanggung empunya toko. Toko di Belanda artinya adalah restoran kecil yang menyediakan nasi rames ala Indonesia. Ada juga beberapa toko yang menjual bumbu-bumbu dapur Indonesia sebagai usaha tambahan. Toko tempat gue bekerja ini cukup spesial karena selain menjual nasi rames, mereka juga menjual jajanan abang-abang ala Indonesia secara ala carte seperti bebek kremes, tahu telor, bakso, soto, yang dimasak langsung sama kokinya.

Gue bekerja di toko tersebut selama empat bulan, dari bulan Oktober sampai bulan Februari. Selama empat bulan bekerja di sektor horeca, gue dapat banyak sekali pengalaman yang bisa gue simpulkan dibawah ini.

Kerja di horeca bikin gue menghargai pekerjaan bidang servis

Ini adalah pengalaman nomor satu yang gue dapat. Pink-collar worker (pekerja bidang servis) itu tergolong pekerja yang sangat bekerja keras, lho, karena tugas mereka adalah menservis pelanggan dan berhubungan langsung dengan pelanggan. Selain itu, mereka juga harus punya kemampuan fisik yang bisa menunjang pekerjaan mereka yang kebanyakan berdiri, jalan, lari, pokoknya apa-apa harus cepat. Pengalaman kerja jadi pink-collar worker membuat gue menghargai para pramusaji di restoran karena gue ngerti banget peliknya kerja di sektor ini. Jadi kalian jangan langsung marah-marah kalo pesen makan/minuman di restoran terus keluarnya lama, ya…

Kerja di horeca melatih manajemen waktu

Ini penting banget sih, terutama waktu gue kerja dulu, gue cuma kerja sama seorang koki. Kadang dia butuh bantuan gue untuk menyiapkan makanan. Manajemen waktu sangat penting karena kami mau hasil akhir makanan yang hangat sehingga bisa dinikmati pelanggan. Misalnya ada yang pesan ayam kremes, gue bertugas untuk menyiapkan piring dan menghangatkan nasi putih sementara si koki ngegoreng ayam. Biar semuanya hangat dan enak, gue harus pinter-pinter atur waktu kapan harus masukin nasi putih ke microwave biar selesai barengan sama si ayam goreng sehingga si koki nggak harus nunggu lama-lama untuk menghidangkan makanan tersebut. Kerjasama dan komunikasi yang baik sangat penting untuk eksekusi makanan ke pelanggan.

Kerja di horeca melatih kesabaran

Yang ini menyangkut hubungan gue dengan pelanggan. Toko tempat gue kerja banyak dikunjungi orang Belanda. Kebanyakan dari mereka emang baik dan menghargai kerjaan gue, tapi nggak jarang juga banyak orang separo mabok atau orang sombong yang suka kurang ajar. Gue pernah dapat pelanggan yang sudah beli makanan paling mahal, mau bayar kontan, gue bilang nggak ada uang kembalian, dan dia marah-marah terus akhirnya nggak jadi beli (padahal kan bisa bayar pake kartu, ya…) terus nyalahin gue yang nggak siap uang kontan. Lha, gue sih nggak mau tau, yang penting situ bisa bayar makanan situ. Orang-orang yang kayak gini emang harus disabar-sabarin atau bisa langsung dijutekin kalau kelakuan mereka udah kurang ajar banget.

Kerja di horeca membuka pengetahuan gue tentang kepribadian orang

Mungkin ini stereotip atau juga bukan, tapi kerja di toko bikin gue tau gimana cara berurusan dengan orang yang kepribadiannya beda sama gue. Koki di toko tempat kerja gue adalah orang yang sangat reaktif dan cenderung nggak sabar. Kadang-kadang gue lupa sesuatu, terus kalau gue tanya dia, dia sering banget jawab gue dengan jutek seolah-olah bilang “Kok udah berapa kali diajarin tetep aja lupa sih?”. Sering banget gue beradu pendapat sama si koki ini karena sifat reaktifnya dia membuat dia gampang membuat kesimpulan akan sesuatu, walaupun kesimpulannya itu belum tentu benar. Ini sering terjadi di minggu-minggu terakhir sebelum gue keluar dari pekerjaan tersebut karena dapat pekerjaan tetap. Walaupun pas ngalaminnya nggak enak, tapi pas keluar ternyata gue dapat pengalaman juga kerja dengan orang yang sumbunya lebih pendek daripada gue.

Sebenernya ada lebih banyak pengalaman lain, tapi poin-poin di atas cukup mewakilkan semuanya. Apa kamu pernah kerja di bidang servis? Apa pengalaman yang kamu petik selama bekerja di bidang tersebut?

Cerita Kerja Hari Pertama

Siapa sih yang nggak excited sama pengalaman baru? Hari ini bisa dibilang jadi babak baru dalam kehidupan gue di Belanda karena hari ini adalah hari pertama gue kerja jadi pegawai kantoran. Gue bekerja di bagian Marketing dari sebuah perusahaan start-up yang berkegiatan di bidang desain industri. Walaupun masih terbilang start-up, tapi perusahaan gue ini sudah punya tiga kantor di tiga benua berbeda dan semakin hari perkembangannya semakin pesat. Cerita tentang usaha keras gue dapat kerja bisa dilihat di tulisan-tulisan sebelumnya. Kali ini, gue mau cerita tentang hari pertama kerja yang baru saja berakhir sekitar tiga setengah jam yang lalu.

Gue datang sengaja nggak terlalu pagi tapi juga nggak terlalu siang. Si General Manager pernah bilang kalau jam kantor mereka antara jam 08.30-17.00 atau 09.00-17.30, dan biasanya orang kantor pada datang antara jam 08.30 sampai jam 09.00. Ya sudah, gue ambil jalan tengah aja, gue datang jam 08.45. Begitu gue datang, baru ada sedikit pegawai yang masuk, kemudian gue dikenalin ke orang-orang yang ada di kantor. Semakin banyak orang yang datang, semakin banyak pula yang mau kenalan sama gue. Rata-rata pegawainya bukan orang Belanda, malah yang orang Belanda cuma ada sekitar 3 orang. Kolega-kolega baru gue datang dari beberapa negara seperti Taiwan dan Prancis.

Setelah perkenalan singkat dan briefing singkat dari kolega gue, gue dipersilahkan ngutak-ngatik laptop kantor untuk membiasakan diri dengan dokumen-dokumen dan proyek-proyek yang sedang atau akan berlangsung. Awalnya gue ngira hari pertama gue akan gabut seperti hari pertama gue di pekerjaan pertama waktu di Indonesia, ternyata nggak tuh, karena hari pertama gue diisi dengan perkenalan dari berbagai aspek kantor, tadi sih dari aspek Marketing, Sales, dan dari aspek personalia.

Bisa dibilang, hari pertama gue tergolong sangat lancar. Sepertinya seminggu pertama ini gue akan belajar lebih banyak dulu tentang produk-produk si perusahaan, kemudian untuk sebulan pertama gue akan minta ke atasan gue untuk mulai learning by doing dari beberapa proyek yang sedang berlangsung. Soalnya gue nggak bisa belajar dengan cara cuma observasi dari jauh, tapi gue harus praktekkin sekalian biar gue cepet ngertinya.

On the other hand, di hari pertama ini gue sudah dapat teman dari almamater kampus yang sama dan tinggal di kota yang sama. Gue juga udah menyetujui ikutan makan malam kantor hari Kamis. Kami akan makan all-you-can-eat dim sum di restoran dim sum terkenal di Den Haag yang buka sampai jam 1 pagi :p

Doakan semoga gue cepet beradaptasi dengan kantor baru ini, ya!

Jangan Patah Semangat!: Tips Mencari Pekerjaan di Belanda

Tulisan ini terinspirasi dari tulisannya Mariska tentang mencari pekerjaan di NZ dan mbak Oppie tentang pengalaman interview kerja di Belanda. Berhubung Senin besok adalah hari pertama gue kerja, nggak ada salahnya kalau mau berbagi pengalaman dan tips tentang mencari pekerjaan di Belanda. Sebagai migran yang masih pletat pletot dalam berbahasa Belanda, mungkin mencari pekerjaan termasuk hal yang cukup ditakuti mahasiswa yang baru lulus. Apalagi persaingan ketat dengan warga EU yang jauh lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada warga non-EU. Tapi masa sih kamu nggak bisa fight? Berikut adalah beberapa tips untuk mencari pekerjaan di Belanda. Selamat mencoba!

1. Untuk memudahkan proses mencari kerja, daftarkan diri untuk ijin tinggal setelah student visa selesai

Di Belanda, mahasiswa lulusan setara universitas atau applied science university punya kesempatan untuk tinggal di Belanda selama setahun dengan visa pencari kerja. Namanya visa zoekjaar. Selama setahun ini, kamu boleh bebas memasuki bursa kerja Belanda, mencari pekerjaan dan mengikuti wawancara sebanyak-banyaknya, dan juga bekerja part time sebanyak-banyaknya sambil menunggu dapat pekerjaan tetap. Plusnya visa ini adalah bos kamu nggak perlu mendaftarkan ijin tinggal kalau kamu bekerja part time. Nah, tujuan utama dari visa pencari kerja ini adalah mendapatkan pekerjaan yang bisa mensponsori kamu sebagai highly skilled migrant (disini disebut dengan kennismigrant) dengan beberapa syarat tertentu.

Untuk keterangan lebih lanjut tentang dua tipe visa diatas, bisa buka website Imigrasi Belanda di IND.com. Bisa-bisa gue harus bikin tulisan bersambung kalau mau ngejelasin tentang zoekjaar dan kennismigrant visa.

2. Jangan malas mulai dari nol

Nah, yang ini penting banget, nih! Di Belanda, buang jauh-jauh pemikiran “kerjaan X gajinya kurang” atau “masa gue kerja jadi tukang bersih-bersih di restoran, sih?”. Semua pekerjaan sangat dihargai disini. Memang banyak teman-teman gue yang beruntung bisa langsung dapat pekerjaan yang bagus setelah lulus kuliah, tapi lebih banyak lagi mahasiswa yang harus bekerja dua sampai tiga pekerjaan part time sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap dengan gaji yang setara dengan kemampuannya.

Selama masa zoekjaar, gue sempat bekerja di dua tempat berbeda. Yang pertama sebagai staff museum di sebuah atraksi yang baru buka di Amsterdam. Tiga bulan kemudian, gue cabut karena kontraknya sudah selesai dan gue enggan memperpanjang kontrak ini karena beberapa alasan. Seminggu setelah cabut dari museum, gue dapat pekerjaan sebagai staff di toko afhalen (take-away) makanan Indonesia. Walaupun kerja di restoran tuh nggak selamanya menyenangkan, tapi gue jalanin aja karena memang gue butuh duit. Jangan lupa juga untuk menyisakan waktu untuk seharian mencari pekerjaan di dunia maya. Yang membawa gue ke poin nomor tiga…

3. Jangan bosan dengan surat penolakan

Tiga bulan pertama setelah lulus, gue menganggap surat penolakan itu biasa. Lama-lama surat-surat ini memakan rasa percaya diri gue bahkan sampai beberapa bulan lalu gue sempat frustrasi dan nggak percaya diri karena susah banget nembus tahap wawancara. Padahal CV sudah dipoles sebagus mungkin, surat lamaran juga sudah mengikuti 1001 format yang digadang-gadang sebagai “surat lamaran tokcer untuk mendapatkan kesempatan wawancara”.

Jangan bosen! Percaya aja, niscaya dari ratusan penolakan, akan ada satu-dua perusahaan yang tertarik dengan CV dan surat lamaran kamu dan akhirnya manggil kamu buat wawancara.

4. Ikuti career coaching dari kampus, perbaiki referensi, tambah skill, ikuti kesempatan volunteering di daerah sekitarmu

Ini adalah poin-poin yang lebih praktikal dalam mencari kerja, ya. Biasanya, kampus-kampus Belanda punya career center yang doyan bikin workshop terutama untuk mahasiswa internasional yang ngomongin masalah tentang gimana cara bikin CV dan surat lamaran, gimana cara ngelamar di perusahaan Belanda, dan lain-lain. Biasanya workshop ini menarik biaya, tapi nggak mahal kok, sekitar 5-7 euro sudah termasuk cemilan dan minum.

Career center kampus juga biasanya mengadakan bursa kerja per fakultas, satu atau dua kali setahun. Kalau mikir bursa kerja, jangan kepikiran bursa kerja super gede kayak di Jakarta, ya… Bursa kerja kampus di Belanda biasanya kecil banget dan lebih banyak diisi workshop dan talkshow kecil, durasinya sekitar 45 menit.

Selain itu, kita juga bisa menambah skill sesuai perkembangan jaman. Untuk gue, karena sejak dulu gue tertarik dengan digital marketing, maka selama masa pengangguran gue kembali belajar bahasa pemrograman seperti HTML dan Javascript. Selain itu, untuk menambah pengalaman bekerja dengan orang Belanda, gue menjadi relawan di pusat arsip untuk ekspatriat di Den Haag.

5. Ikut uitzendbureau (agensi rekrutmen)

Di Belanda, ada banyak sekali agen rekrutmen yang ditujukan untuk ekspatriat yang nggak bisa berbahasa Belanda. Beberapa contohnya adalah Undutchables dan YER. Tugas agen rekrutmen ini adalah untuk menghubungkan kamu dengan perusahaan yang mencari pegawai. Tapi biasanya untuk entry level jobs, jarang ada agen rekrutmen yang bisa mencarikan pekerjaan buat kamu, karena biasanya mereka lebih banyak menyebar lowongan untuk posisi-posisi manajerial. Tips ini bisa diikuti kalau kamu sudah berpengalaman beberapa tahun, kemudian memutuskan untuk mencari kerja di Belanda.

Kayaknya cukup 5 tips aja yang bisa gue sampaikan untuk gimana cari kerja di Belanda. Untuk masalah gaji, setiap pekerjaan di Belanda gajinya beda-beda, sesuai standar gaji jenis industri/pekerjaan yang kamu lamar. Jadi jika kamu sudah dapat pekerjaan dan dapat nominal gaji yang bisa dinegosiasi, lebih baik riset dulu tentang standar gaji pekerjaan tersebut.

Selamat mencari pekerjaan!

Akhirnya!

Setelah sepuluh bulan penuh rasa deg-degan dan frustrasi akibat nyari kerja nggak dapet-dapet, gue berhasil dapat job offer dari sebuah perusahaan desain produk di kota tetangga!

Image result for success kid

Lucunya, perusahaan ini pernah nolak gue dua bulan lalu. Kemudian gue nggak putus asa. Dua bulan kemudian, gue ngeliat mereka buka lowongan lagi, dan gue langsung daftar aja ke Head of Marketing-nya. Setelah itu, gue mengikuti wawancara kerja dua kali via Skype, dan dua kali pula gue harus menunda wawancara tersebut karena sakit amandel yang gue alami bulan lalu.

Akhirnya setelah dua kali wawancara dan satu kali ngerjain tugas sebagai bagian dari wawancara, hari Jumat kemarin gue menerima telepon dari General Manager si perusahaan yang bilang bahwa gue adalah pilihan pertama mereka untuk posisi tersebut. Kemudian si General Manager bilang, sebenarnya ada satu kandidat lain yang punya pengalaman lebih daripada gue, tapi mereka ngeliat gue jauh lebih muda, mereka ngerasa ide-ide gue cemerlang, dan setelah dua kali wawancara, mereka ngerasa kepribadian gue cocok dengan kultur kantor. Akhirnya gue deh yang ditelepon. Hehehehe…

Seneng? Wah bukan seneng lagi. Gue sampe bongkar rahasia ke si General Manager, gue bilang salah satu alasan pribadi yang gue simpan tentang kenapa gue berminat untuk ngelamar kesitu lagi adalah karena waktu pertama kali gue wawancara di bulan November, gue ngeliat keseluruhan kantornya dan muka-muka pegawainya dan entah kenapa gue punya firasat bahwa gue akan kerja di kantor yang seperti ini. Nggak tahu, kayak ada perasaan bakal kerja disitu aja. Makanya ketika mereka buka lowongan lagi, gue langsung ambil kesempatan tersebut. Ternyata si Manager bilang bahwa mereka juga punya perasaan yang bagus tentang gue ketika masa-masa gue wawancara. Hiks, jadi terharu.

Setelah ini gue nggak langsung kerja, tapi masih ngomongin tentang ijin tinggal jenis apa yang akan mereka daftarin untuk gue. Sekedar gambaran aja, di Belanda ada beberapa jenis ijin tinggal kerja. Biasanya, orang pemilik search year permit seperti gue akan masuk ke skema ijin tinggal untuk knowledge migrants, alias mereka yang punya gelar pendidikan tinggi dan bekerja sebagai pegawai kantoran. Tapi ada juga skema ijin tinggal paid employment, sama-sama ijin kerja juga sih, tapi bedanya standar gaji paid employment lebih rendah daripada knowledge migrant. Gue sih nggak masalah mau masuk ijin kerja jenis apaan, yang penting standar gajinya sesuai dengan minimum gaji untuk pekerjaan gue dan gue bisa kerja dan tinggal di Belanda dengan aman dan nyaman.

Doain terus biar semuanya lancar, ya!