Curhat: Temen Drama

Alkisah, gue punya temen baik disini (orang Indonesia) bernama M. Suatu hari, kami memutuskan untuk nongkrong bareng bersama temen lain dan gue juga ngajak R untuk kenalan sama temen-temen gue disini. R dan M langsung akrab karena mereka suka beberapa hal yang sama. Bagus lah, temen gue bisa main sama cowok gue, pikir gue.

Kemudian R tiba-tiba mengajukan ide untuk ngenalin M ke temennya. Gue udah sering nongkrong sama temennya R ini dan menurut gue orangnya pinter dan ternyata dia juga punya latar belakang pendidikan yang mirip dengan M. Pantes dong kalo R pengen iseng ngejodohin M sama temennya dia.

Si M langsung menolak, tapi anehnya dia antara nolak tapi nggak nolak gitu karena dikit-dikit pasti dia nanya si R tentang relationship dan cowok ganteng. Si R ya mikirnya si M pengen punya pacar dong, abisan dikit-dikit mereka ngomongin soal relationship. Si M ini tipe orang yang agak anxious sama cowok dan dia nggak tau kalo punya pacar bakal buat apa (serius dia ngomong begini).

Gue sih dukung-dukung aja rencana si R ngenalin M ke temennya. Menurut gue, toh juga baru dikenalin, gue juga nggak mikir mereka harus pacaran keesokan harinya. Lumayan nambah temen baru untuk dua belah pihak, ya kan? Alasan yang sama juga gue ungkapkan ke M saat gue “ngomporin” dia untuk mau dikenalin ke temennya R.

Semuanya berlangsung wajar-wajar aja, bahkan temennya R belom sempet ketemu sama M. Kemudian semuanya jadi agak aneh pas hari gue ulangtahun, saat kami nongkrong bareng. R bilang ke M tentang si temennya ini dan dia juga lagi-lagi bilang apa salahnya sih kenalan, toh juga kalo jadian ya bagus, nggak juga nggak apa-apa.

Sehari setelahnya, M tiba-tiba keluar dari grup Facebook kami dan gue kebingungan, ada apaan ya? Langsung deh gue kirim pesan ke si M nanya ada apa. Dua hari nggak dibales. Kemudian gue nanya ke salah satu temen gue di grup itu, si M kemana, kok tiba-tiba ilang. Jawabannya, “Gue tahu sih, tapi mending lo tanya sendiri aja deh ke orangnya.” Dasar bego, dikira gue 2 hari ini ngapain kalo nggak ngirim pesen lewat media apapun ke M nanya kenapa dia keluar dari grup Facebook?

Dua hari kemudian setelah gue nanya sana-sini tentang keberadaan dia, barulah si M ngirimin pesen balasan ke gue yang luar biasa panjang. Intinya dia merasa bahwa dia harus membuat batasan tertentu dan dia beneran nggak suka kalo gue dan R ngejodoh-jodohin dia. Bahkan di akhir pesan dia bilang, “Sampe gue nggak curiga lagi tentang rencana kalian, gue ngerasa gue mau jaga jarak dari lo.”

Lah?

Heran gue, jadi orang lebay amat, nggak dewasa amat. Harap catat, si M ini belom ketemuan sama temennya R ya. Belom ketemuan aja udah lebaynya minta ampun sampe keluar dari grup dan bilang tetep curigaan segala. Lagipula, apa salahnya sih kenalan sama orang? Toh itu temennya R dari lama, dan si R juga nggak bakal pengen ngenalin dia ke temennya ini kalo dia ngerasa mereka nggak cocok. Kalo akhirnya jadi temen, pacar, atau nggak pernah ketemu lagi kan siapa yang tahu? Kenapa sih nggak ngomong aja langsung “Gue nggak suka lo jodoh-jodohin gue. Jadi nggak usah coba lagi ya?” tanpa harus keluar dari grup dan ngirim pesen naujubilah panjangnya.

Dia mau jaga jarak dari gue ya silahkan, sih. Gue juga nggak merasa kehilangan. Jujur aja gue paling males ketemu orang drama kayak gini. Pake ngilang dari grup, nggak jawab pesan gue 2 hari, dan cerita tentang masalah dia ke gue ke orang lain duluan sebelum gue. Formula bikin gue empet banget, tuh.

Teman Masa Kecil

Yang namanya teman masa kecil tuh sampe kapanpun nggak akan bisa lupa, ya. Baik itu teman kecil di TK atau saat SD. Gue juga punya beberapa teman baik yang menemani masa kanak-kanak gue, tapi yang berkesan sih cuma ada tiga.

Agita, teman masa TK

Agita adalah teman pertama gue waktu TK. Orangtuanya berasal dari Solo, jadi dia punya kebiasaan ngomongnya medok. Nggak banyak yang gue inget tentang Agita, yang gue inget adalah kami suka tuker-tukeran makanan waktu jam istirahat, tukeran cincin mainan, dan tukeran cerita horor ala-ala anak TK.

Setelah lulus TK, Agita dan gue berpisah. Gue meneruskan SD ke sebuah SD Katolik di dekat rumah, Agita pindah ikut orangtuanya ke Solo. Gue lupa, tapi kata orang rumah, dulu Agita sering kirim surat ke gue, tapi gue selalu lupa balas dan akhirnya pertemanan kami selesai.

Bertahun-tahun kemudian, berkat media sosial, gue kembali bisa menemukan Agita! Saat itu gue iseng mencari namanya di Facebook, gue juga lupa darimana ceritanya gue ingat nama panjangnya. Seketika gue mendapatkan profilnya dan langsung kirim pesan “Ingat-gue-nggak?”. Ternyata dia masih ingat, dan mamanya juga masih ingat gue! Sayangnya kami nggak pernah ketemu lagi karena dia saat itu bersekolah di Singapura, dan sekalinya udah balik ke Indonesia, dia langsung ikut bisnis orangtuanya di Solo. Tapi kami tetap berteman via Facebook, kok.

Kakak Acha

Kakak Acha adalah tetangga gue dulu dan teman main rumah-rumahan saat gue kelas 2 SD. Saat itu, kak Acha udah kelas 6 SD, tapi dia masih suka ngeladenin gue main rumah-rumahan. Dulu, area bermain kami adalah kamar tidur tamu di lantai atas, karena jarang ada yang menempati dan banyak lemari-lemari kosong. Kami menjadikan lemari itu sebagai ‘rumah’ yang diisi banyak mainan perintilan kecil-kecil. Kak Acha dulu baik banget dan sabar banget. Biasanya kami main hampir setiap hari jam 4 sore, setelah semua PR gue selesai. Kak Acha biasanya mandi sore dan makan malam di rumah gue sebelum pulang ke rumahnya yang hanya berjarak 3-4 rumah jauhnya dari rumah gue. Kurang tetangga apa, coba?

Selain teman main, kak Acha juga teman gereja. Kebetulan, ibunya adalah teman baik bokap gue yang sampai saat itu jadi tetangga gue. Akhirnya gue jadi sering main sama kak Acha, bahkan gue ajak dia liburan ke Bandung bareng-bareng untuk mengunjungi Nini dan Aki.

Waktu gue naik kelas 3 SD dan kak Acha lulus SD, dia harus pindah ke Manado beserta ibunya. Sebelum ada media sosial, lagi-lagi nggak ada kabar, tapi waktu SMA gue akhirnya berhasil mengontak kak Acha karena dia pulang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Sempat diwawancara di kantor Oma, tapi sepertinya nggak keterima dan akhirnya dapat pekerjaan di sekolah dekat rumah gue dulu.

Update: Denger-denger, kakak Acha bakal menikah di bulan Agustus tahun ini. Sayangnya gue nggak bisa datang karena nggak pulang di bulan itu… 😦

Dinda

Dinda ini adalah kawan gue saat kelas 5 SD. Yang gue inget, sejak kelas 4 SD gue udah kenal dia, tapi nggak begitu akrab. Kami jadi akrab waktu kelas 5 SD, dimulai dari surat-suratan di kelas, padahal kami ada di kelas yang sama, hahaha! Isi surat-suratannya macem-macem mulai dari ngegosipin guru nyebelin sampe ngomongin gebetan cinta monyet. Lama-lama gue jadi suka nongkrong sama Dinda sepulang sekolah, bahkan setiap hari Jumat dia suka main ke rumah gue untuk main PlayStation. Kami juga jadi sering main ke mall sama-sama di akhir pekan.

Yang gue inget dari pertemanan gue dan Dinda dulu adalah kami sama-sama ‘sok bandel’. Sama-sama ngerasa me against the world, bahkan dengerin musiknya juga sama, yaitu Linkin Park, hehehe… Selain itu, Dinda anaknya kelihatan rebel banget dan sifat itu beda banget sama gue, jadi sepertinya dulu gue pengen jadi kayak dia yang gayanya kayak anak gaul. Keluarganya sifatnya lumayan hippie, ngebebasin anak-anaknya ngapain dan kemana aja, dan bokapnya punya VW Caravelle yang menurut gue retro dan gaul abis.

Sayangnya pertemanan gue dan Dinda berakhir di kelas 6 SD karena kami pisah kelas. Selanjutnya saat SMP kami masuk ke sekolah yang sama, tapi saat itu Dinda udah makin keren, ikutan tim voli sekolah, dan bergaul sama orang-orang keren juga. Waktu SMP itu, Dinda udah mulai ngerokok. Akhirnya kami makin jauh dan walaupun waktu kelas 3 SMP kami sekelas lagi, pertemanan gue dan Dinda udah nggak seperti waktu kami kelas 5 SD.

Setelah SD itu, pertemanan gue ganti-ganti, tapi tiga orang inilah yang membentuk pertemanan gue dan yang paling gue inget sampe sekarang. Kalau kamu, punya temen masa kecil yang masih membekas gak (walaupun sekarang mungkin udah nggak tau lagi dia dimana)?

(Jadi pengen kepo Facebook temen-temen jaman dulu, kan…)

Budaya Rumania, Mirip-mirip Indonesia Juga…

“Rumania? Itu di Eropa sebelah mana, ya?”

Mungkin itu reaksi teman-teman gue begitu gue bilang R adalah orang Rumania. Ada juga yang tahu Rumania itu dimana, tapi biasanya mikir Rumania itu dekat Rusia, atau langsung bilang “Wow, Drakula” (walaupun Vlad Tepes alias Count Dracul memang berasal dari Rumania).

Gue sendiri jujur aja dulu juga nggak paham sama letak negara ini. Gue kira dulu dekat Rusia, karena bahasa mereka mirip bahasa Rusia. Ternyata bahasa mereka lebih dekat ke bahasa-bahasa Romance seperti Latin, Prancis, Italia, dan Spanyol. Pengaruh bahasa Rusia dikit banget, cuma ada di penyusunan kata dan penyebutan kata doang. Selain itu, Rumania letaknya jauh dari Rusia. Dia cuma berbatasan sama Ukraina, Moldova, Hungaria, Serbia, dan Bulgaria. Rumania sering dijuluki “the asshole of Europe” karena letak geografisnya yang diujung Eropa banget, coba aja liat peta dibawah ini kalo mau buktiin…

Image result for romania map in europe
Pantat Eropa xD

Tapi di tulisan gue kali ini gue nggak mau ngomongin letak geografis Romania, melainkan kebudayaan Romania terutama di bagian interaksi manusianya yang menurut gue rada mirip sama kebudayaan Indonesia! Menurut gue, Romania dan Indonesia itu sama-sama mempunyai kebudayaan we culture yaitu kebudayaan yang cenderung kolektif dan mengandung nilai-nilai toleransi dan gotong royong, berbeda dengan kebudayaan Belanda yang cenderung I culture alias mengutamakan kebebasan individu.

Yang pertama, kebudayaan menyambut tamu di rumah. Orang Rumania sangat menghormati tamu, sehingga kalau kita main ke rumah orang Rumania, pasti apa aja bakal ditawarin sebagai makanan. Sama aja kayak di Indonesia. Bahkan kata-kata seperti “Tambah lagi ya”, “Mau bawa pulang?” juga sering dilontarkan tuan rumah saat ada yang bertamu. Tapi bedanya sama orang Indonesia, orang Rumania termasuk orang-orang yang nggak suka basa-basi, jadi kalo mau bawa pulang ya bilang aja iya. Kalo bilang nggak mau, ya nggak bakal ditawarin lagi. Beda sama kebudayaan nggak enak ala Indonesia saat bertamu, niatnya pengen ngabisin kaastangels, disuruh bawa pulang, karena malu bilang “nggak, makasih”, dan harus ditawarin tiga kali sebelum akhirnya bilang “boleh deh, kalo nggak ngerepotin”.

Kedua, orang Rumania suka banget ngobrol berjam-jam dan ngalor ngidul. Hal ini gue alami saat pergi house party bersama R ke rumah temannya yang sedang ulangtahun. Wah, itu serumah orang Rumania semua, dan kelihatan banget mereka orangnya ‘rame-an’, suka ketawa-ketawa, gampang mingle dengan orang baru, dan mudah berinteraksi. Jujur aja gue langsung berasa ‘di rumah’ saat berkenalan sama teman-teman Rumania-nya si R karena mereka langsung bikin gue nyaman dengan hospitality mereka. Hospitality macam ini juga gue temui di kalangan orang Italia atau negara-negara Eropa Selatan yang mudah banget bergaul sama orang lain.

Ketiga, orang Rumania masih percaya banget sama takhayul! Yes, negara ini emang cukup superstitious, sama banget kan kayak Indonesia? Hal ini dikarenakan agama mayoritas Romania yaitu Eastern Orthodox yang sangat kental tradisinya Di pedesaan, masih banyak orang yang percaya dengan ilmu sihir, dan mereka juga percaya sama hantu-hantuan dan doa-doa tradisional, biasanya sih dicampur dengan keyakinan Ortodoks mereka. R yang kini nggak mengaku Ortodoks, sampai sekarang masih menyimpan kartu bergambar Santo pelindungnya, Saint George. Masalah agama, orang Rumania sangat bangga dengan agama mayoritas mereka ini karena Eastern Orthodox punya influence yang sangat erat di bidang arsitektur dan kesenian Rumania, terutama seni lukis. Udah gitu, arsitektur dan interior gereja-gereja Eastern Orthodox juga sangat dibanggakan mereka karena emang bagus banget! Menurut gue, kebudayaan Eastern Orthodox ini termasuk identitas negara Rumania yang cukup membanggakan,

Image result for romanian orthodox art
Kesenian gereja ala gereja Rumania
Image result for romanian orthodox churches romania
Contoh interior katedral Eastern Orthodox di Sibiu, Rumania

Yang keempat, sejarah Indonesia dan Rumania menurut gue hampir mirip, terutama Rumania di masa komunis. Gue dan R serta keluarganya sering banget ngobrol tentang hal ini, dan entah kenapa gue merasa punya kesamaan berpikir dengan R tentang apa yang membentuk dua negara kami jadi negara yang sekarang ini. Gue senang bercerita tentang Indonesia masa 1950, 1960, tragedi 1965, dan Orde Baru selama 32 tahun; sementara R senang bercerita tentang masa-masa komunisme di Rumania. Saat Rumania menjadi negara komunis, Indonesia sedang berada dalam masa Orde Baru, dan menurut R, praktik-praktik Orde Baru sama banget seperti praktik komunisme di Rumania. Gue bercerita tentang stigma PKI yang begitu kental setelah peristiwa 1965 termasuk ke kalangan keluarga dan betapa susahnya seseorang mau masuk universitas negeri kalau keluarganya dikira simpatisan komunis, dan R bilang, “Gila, itu fasis banget, kalo di Rumania dulu blablablablabla…” Gimana ya jelasinnya, pokoknya kalo ngobrol tentang sejarah negara, sebenernya Indonesia itu nggak jauh beda sama Rumania. Tapi bedanya… Rumania mau mengakui dan memeluk cerita kelam mereka saat berada pada rezim komunisme sebagai bagian dari sejarah mereka, sementara di Indonesia, ngomongin komunis di tahun 2017 aja rasanya kayak berdosa banget.

Gue sendiri masih belajar juga tentang budaya Rumania, dan yang bikin nggak sabar, bulan Juli mendatang gue akan berlibur ke Rumania selama 10 hari. Asyik!

Apa Kabar Dunia?

Belakangan ini hidup gue biasa-biasa aja, tapi tangan gatel banget pengen nulis di blog. Ya udah lah ya, mari tulis apa aja yang terjadi di dunia Crystal akhir-akhir ini.

Kerjaan makin banyak. Dalam sebulan, bisa ada 2-3 deadline yang harus gue tuntaskan. Hal ini dikarenakan pekerjaan gue yang berkutat di bidang offline event, sementara perusahaan gue ini sedang getol-getolnya membuat promosi untuk produk baru, minimal sekali sebulan. Jadi gue harus bikin skema promo skala kecil untuk 1-2 produk dan promo skala besar untuk satu produk tiap 6 bulan sekali. Kadang-kadang ngerasa overwhelmed dan capek sih, setiap pulang kantor bawaannya pengen langsung tidur, tapi dalam hati bersyukur juga karena pekerjaan ini sangat berbeda dengan pekerjaan lama gue karena di pekerjaan baru ini gue disuruh pake otak, bukan cuma ngikutin rutinitas belaka.

Proyek baru: Bersihin rumah. Yes, sekarang gue bukan ngekost lagi, tapi gue tinggal di rumah sendiri! Kecil sih, cuma ada 1 kamar mandi, 1 kamar tidur, dan dapur yang digabung sama ruang TV. Walaupun begitu, aku senang… Sekarang gue lagi getol-getolnya cari inspirasi dekorasi rumah kecil di IKEA, sekaligus bersihin rumah karena masih banyak debu dan masih banyak barang yang tergeletak sana-sini. Selain itu, gue juga mau membersihkan balkon (yes, gue punya balkon!), tapi sepertinya gue harus menunda proyek itu sampai musim panas karena udara musim semi di Belanda masih suka galau.

Mulai baca buku lagi. Akhirnya gue punya waktu lagi untuk beli (dan baca) buku! Beberapa minggu lalu gue beli dua buku, judulnya Don’t Sweat the Small Stuff dan God is not Great. Buku pertama gue simpan di kantor untuk gue baca di saat waktu luang, buku kedua… belom sempet gue baca, hehe. Beberapa hari lalu gue unduh e-book novel berjudul The Circle dan gue langsung nagih bacanya. Sebenernya gue udah minat beli novel ini sejak beberapa bulan lalu, tapi gue takut bukunya membosankan. Gue kembali tertarik baca novel ini setelah tahu novel ini sedang difilmkan dan bulan depan akan dirilis di Belanda. Yang main Emma Watson dan Tom Hanks, lho. Makanya gue penasaran dan unduh e-book. Ternyata ceritanya menarik banget dan sesuai dengan minat gue baca novel-novel masyarakat utopis/distopis yang makin dipikir, makin sakit. Hahahaha!

Kayaknya hidup gue berkisar segitu-gitu aja akhir-akhir ini. Pulang kantor langsung ke rumah, masak, makan, kalo ada waktu ya pacaran (hahaha), kalo akhir minggu juga udah capek kemana-mana dan lebih memilih untuk tinggal di rumah atau muter-muter sekitar Delft doang. Paling banter main ke Den Haag atau ketemu temen, itu juga udah jarang.

Hari 15: Pujian Terbaik

Akhirnya sampai di hari 15! Sebenernya nggak harafiah hari ke-15 banget sih… gue sebenernya udah niat nyelesaiin tantangan 15 hari menulis ini selama 15 hari penuh, tapi niat hanya tinggal seonggok niat karena selama dua minggu terakhir, hidup lagi lumayan ‘gila’ ke gue. Ya si R masuk rumah sakit lah, ya deadline proyek dimana-mana, lah… Tapi akhirnya gue berhasil konsisten untuk menyelesaikan tantangan ini, ya.

Hari 15 temanya adalah “pujian terbaik”. Hmm, sebenernya gue nggak terlalu suka dipuji, seperti gue nggak terlalu suka memuji. Kenapa ya? Gue juga nggak tahu. Buat gue, setiap kali ada orang yang memuji gue, gue selalu berpikir gini, “Ah, sebenernya gue bisa jauh lebih baik dari apa yang lo katakan, gue yang begini mah sebenernya nggak layak dapat pujian dari lo”. Tapi sejak kenal sama R, gue belajar untuk sekali-kali menerima pujian orang lain, apalagi kalau pujiannya berkaitan dengan sesuatu yang sudah berhasil gue capai setelah lama sekali berjuang.

Soal pujian terbaik yang pernah diberikan, gue paling suka kata-kata yang memuji kepintaran gue. Mungkin agak dianggap sombong ya, tapi belajar dari pengalaman, sepertinya gue tergolong orang pintar, tuh :p Sejak dulu gue ingin dianggap orang lain sebagai orang cerdas, makanya gue berusaha meningkatkan diri sesuai dengan standar yang gue pilih untuk diri gue sendiri. Makanya gue seneng banget kalo ada yang bilang, “Crystal, lu pinter banget” atau hal-hal berbau gitu lah. Dan yang belakangan ini paling sering ngomong gue pinter tuh si R, hahaha.

Seperti kata Christina Yang di serial TV ‘Grey’s Anatomy’: “Screw beautiful! If you want to appease me, compliment my brain!”

Hari 14: Film yang Bisa Ditonton Berkali-kali

Gue bisa bilang bahwa gue bukan penikmat film. Dulu waktu tinggal di Indonesia sih, rasanya bisa aja pergi ke bioskop setiap ada film bagus keluar. Sekarang? Makin pilih-pilih judul film yang akan ditonton karena harga tiket nonton bioskop disini cukup mahal. Makanya gue biasanya nonton film yang efek spesialnya bagus, pokoknya yang kalo ditonton di rumah malah ada efek ‘nggak nendang’.

Tapi kalo gue disuruh milih film yang bisa gue tonton berkali-kali, jawabannya…

Star Wars Episode 5: The Empire Strikes Back.

Kenapa? Karena film inilah, gue jadi penggemar berat Star Wars hingga sekarang. Waktu gue umur 13 tahun, Lucas Film merilis Episode 3 dan untuk merayakan rilisnya Episode 3, sebuah stasiun TV swasta memutuskan untuk memutar seluruh film Star Wars dari Episode 4-6 dan Episode 1-2 setiap Sabtu malam selama lima minggu berturut-turut. Waktu gue nonton Episode 5, entah kenapa gue ada feeling bahwa gue bakal jadi fans berat Star Wars sampai besar. Ternyata firasat itu jadi kenyataan!

Kalo ditanya alasan kenapa gue suka Episode 5, sebenernya cetek banget sih: Karena di film ini benih-benih cinta Princess Leia dan Han Solo mulai tumbuh :p Dulu gue suka banget sama Harrison Ford karena nonton dia jadi Han Solo dan jadi Indiana Jones, kemudian sejak itu tumbuh favoritisme terhadap cowok-cowok jutek deh (tapi nggak jutek yang nyebelin kayak cowok-cowok drama Korea, ya).

Selain suka sama Princess Leia dan Han Solo, di episode ini gue juga mulai ngerti jalan cerita Star Wars dan mengenal tokoh-tokoh lain seperti adegan waktu Luke malah pergi ke Dagobah untuk mencari Yoda, sesuai permintaan (alm.) Obi-Wan Kenobi. Selain itu, konfliknya juga makin tebal karena setelah Episode 4 kita sudah tahu kan kalo Darth Vader tuh bapaknya Luke.

Duh, kok jawaban gue cetek banget kayaknya. Tapi ya itu lah, film yang rela gue tonton terus kalo nggak punya pilihan lagi 🙂

Keluarga Baperan

Di hari Minggu yang cerah kemarin, gue menerima telepon dari “Mama”. “Mama” yang gue maksud disini adalah suster gue yang mengurus gue sejak kecil. Karena kami udah deket banget, gue panggil dia Mama aja.

Rupanya, Mama gue sudah mendengar hubungan gue dengan R dan dia kedengeran seneng sekali. Ya iya lah, dulu gue paling anti kalo ditanya soal cowok, ngenalin cowok ke keluarga aja nggak pernah (gimana mau ngenalin kalo dulu di Indonesia hidup gue jomblo melulu?), makanya begitu dia mendengar cerita gue dan R dari bokap, kesenengan deh dia. Kemudian hal yang paling bikin gue sebel terjadi.

Dia mulai baper.

Maksudnya baper? Ya baper, bawa perasaan, kayaknya terlalu berharap yang berlebihan dengan hubungan gue dan R. Kemudian dia bilang, “Duh, tapi kalo kamu ke Indonesia, si R nggak usah diajak dulu deh.”

“Kenapa?”

“Gran (oma dari bokap, red) udah tau belom?”

Ohoho, ternyata Mama gue takut dengan reaksi oma gue dengan gue membawa R ke Indonesia.

Kemudian gue menjelaskan ke beliau panjang lebar, yang intinya adalah: Kenapa harus takut sih kalo si R dibawa ke Indonesia? Kalo orangnya mau, gimana? Toh juga ke Indonesia buat liburan, bukan buat macem-macem. Kenapa langsung mikir yang aneh-aneh, sih? Toh oma gue juga udah ngobrol sama R via telepon dan sepertinya dari cerita R, oma gue menanggapi pembicaraan mereka dengan positif. Lagian R orangnya juga nggak gampang takut sama orang lain kok.

Hih, gimana ya, susah ngejelasinnya di tulisan, tapi gue sebel banget kalo keluarga gue udah mulai baper dengan hubungan yang lagi gue jalanin ini. Kenapa nggak bisa santai aja sih seperti keluarganya R? Kalo keluarga gue banyak ekspektasi, secara nggak sadar gue jadi anxious…

Rasanya gue pengen bilang ke keluarga gue, yang ngejalanin hubungan tuh gue dan R, please jangan terlalu baper dengan hubungan kami berdua, seneng sih boleh aja tapi jangan terlalu ngarep! >.<

Hari 13: Favorit

Kata seorang teman yang kuliah psikologi, setiap individu pasti ada kecenderungan mental (entah apa nama ilmiahnya). Pokoknya, setiap individu punya kecenderungan ‘sifat menyimpang’. Kalau gue, kecenderungan gue adalah obsesif, sehingga gue gampang banget menyukai sesuatu dan jadi obsesif untuk mengetahui segala sesuatu tentang hal tersebut. Ada juga yang kecenderungannya bipolar, jadi kalo sedih banget ya bisa sedih bangeeeet, demikian pula sebaliknya. Tapi ini cuma tendensi dan nggak bisa dikategorikan sebagai gangguan mental, ya. Gangguan mental cuma bisa terjadi jika tendensi tersebut sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.

Duh, kok jadi ngomong ngalor ngidul. Sebenernya gue mau menyimpulkan dari perilaku obsesif gue tersebut, gue jadi punya banyak sekali hal-hal kesukaan. Berikut gue jabarkan sedikit-sedikit, ya… (kalo dijabarkan semua bisa jadi nggak selesai-selesai deh tulisan ini).

Lagu Favorit | Let’s Stay Together – Al Green

Sebenernya gue suka Al Green sejak lama, tapi bukan Al Green doang tapi musisi soul dan RnB jaman 70-an secara umum. Selera musik gue emang rada aneh, gue suka banget lagu-lagu dari tahun 70 sampai 80-an di seputaran musik soul, funk, new wave, dan classic rock. Gue juga suka musik 90-an tapi cuma buat nostalgia hepi-hepi doang. Menurut gue, lagunya Al Green yang ini selalu bikin gue hepi walaupun gue lagi sedih. Ya iya lah, lagunya kan tentang orang jatuh cinta :p

Kata Mutiara Favorit | “Do not go gentle into that good night, rage, rage, against the dying of the light.” (Dylan Thomas)

Ini bukan kata mutiara lepas, melainkan salah satu bait dari puisinya Dylan Thomas. Pertama kali gue tahu kalimat ini saat gue baca novel Young Adult berjudul “Matched”. Kemudian gue menemukan kata-kata ini lagi di film Interstellar.

Di antara ratusan ribu kata mutiara di dunia ini, gue menjadikan ini motto hidup gue karena interpretasi gue, puisi (atau bagian bait) ini mengajarkan gue untuk selalu berjuang dan jangan jadi orang lemah, walaupun situasi seolah memaksa kita untuk jadi lemah.

Makanan Favorit | MIE!!!!!!!!!!

Ya ampun, mie adalah makanan favorit gue. Gue seneng banget segala jenis mie, dan gue suka banget makan mie yang dibikin dengan cara apapun. Paling favorit sih jelas mie ayam Kalimantan atau yang bikin orang Cina ya, soalnya ngga tau kenapa bisa enak banget. Walaupun gue suka banget mie, dan nggak pernah nolak kalo ditawarin mie, tapi gue paling suka mie kuah, walaupun kalau mie ayam gue lebih milih kering (nah lho?).

Tempat liburan | Indonesia: Bali, Luar negeri: Jerman

Gue suka banget kalo diajak pergi ke Bali, walaupun udah jadi se-turistis apapun, Bali bakal selalu punya kejutan-kejutan baru untuk gue. Oh iya, gue juga suka Jogja karena kebudayaannya yang kental dan makanannya yang enak-enak. Tapi cuma di Bali gue bisa bebas pake bikini tanpa harus takut diliatin orang 🙂

Kalau untuk destinasi luar negeri, sejauh ini Jerman tetep jadi tempat favorit gue. Mungkin karena jaraknya yang cukup dekat dengan Belanda dan birnya yang enak-enak (Bir Jerman > bir Belgia buat gue). Selain itu, bahasanya juga mirip-mirip sama bahasa Belanda, jadi gue nggak perlu gelagapan…

 

Orang Sakit?

Rata-rata, kita belajar dari siapa, sih? Kalau nggak dari guru, dari orangtua, pokoknya orang yang kita tuakan. Akhir-akhir ini gue mengalami pengalaman baru dalam hidup yang pasti jadi ajang belajar buat gue. Kali ini, guru gue dalam pengalaman hidup adalah orang-orang yang berbeda, yaitu mereka yang memiliki penyakit mental.

Semuanya berawal dari akhir minggu kemarin. R mengalami nervous breakdown, sehingga kami harus pergi ke rumah sakit untuk penyakit mental di dekat rumahnya.

Don’t get me wrong, gue juga baru tahu R sangat sensitif dengan kesehatan mental. Dia bercerita dua tahun lalu dia juga sempat mengalami pengalaman yang sama. Mungkin sudah beberapa bulan dia nggak minum obat, sehingga kali ini dia kembali mengalami psikosis yang lumayan nyeremin. Seringkali dia ngomong hal-hal yang nggak nyambung, dan begitu di rumah sakit, dia cerita bahwa dia takut pergi ke luar rumah karena dia ngerasa nggak aman. Katanya ada yang mau bunuh dia. Beberapa kali dia juga berpikir gue mau bunuh dia. Rasanya sakit hati kalau ingat itu, tapi gue berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa itu bukan dia yang sedang ngomong kayak gitu.

Tapi R bukan orang gila. Sekali lagi, dia hanya sensitif dengan psikosis. Awalnya gue sangat takut dengan diagnosa akhir yang diberikan dokter, tapi suster di rumah sakit menjamin gue bahwa R hanya didiagnosa gangguan psikosis. Jika dia pulang ke rumah, dan dengan beberapa kali terapi serta minum obat yang rutin, dia bisa kembali normal seperti biasanya. Sayangnya, gangguan mental seperti ini harus diobati dengan cara minum obat yang sama selama beberapa tahun dan mungkin harus beberapa kali ganti-ganti obat karena bisa jadi efek samping yang nggak enak untuk si penderita. Seperti cewek mencari pil kontrasepsi, ini juga mirip-mirip lah, trial and error gitu.

Sejak hari Minggu, gue rutin mengunjungi R di rumah sakit. Tempatnya enak, deh. Jauh beda daripada stigma rumah sakit kesehatan jiwa yang ada di TV. Para suster dan dokternya nggak memperlakukan R dan pasien lain sebagai ‘orang gila’, tapi memperlakukan mereka secara setara. Ada taman yang asri dengan pohon ceri yang sedang berbuah. Ada ruang TV dan ruang makan serta dapur yang cukup lengkap. Kamarnya R juga nyaman, ada sofa, kursi, lemari, tempat tidur yang nyaman, dan kamar mandi sendiri. Interiornya juga segar dengan warna-warna cerah seperti hijau, kuning, dan oranye. Hari pertama gue datang ke bangsalnya R, gue langsung merasa nyaman dan yakin bahwa dia akan dirawat dengan baik disana.

Kini saatnya bergaul dengan sesama pasien seperti R. Jujur aja, awalnya gue agak grogi. Mungkin karena gue masih punya stigma tentang kesehatan mental sebelum R masuk rumah sakit. Tapi kegrogian gue nggak berujung ke hal yang aneh-aneh karena pasiennya baik-baik semua. Ada satu cewek yang langsung berteman baik sama R, dia bilang dia sudah lama tinggal disitu dan sebenernya dia pengen banget pulang. Cewek ini yang bernama Maria, suka banget melukis. Ada juga pasien lain asal Vietnam, yang langsung mendatangi gue begitu dia lihat gue dan langsung ajak ngobrol dalam bahasa Belanda. Mungkin karena dia lihat muka gue muka Asia kali, ya, makanya dia langsung datengin. Dari semua penghuni bangsal tersebut, gue baru kenal sama 2-3 orang saja, yang adalah pasien yang deket sama R. (Entah kenapa si R populer bener di kalangan wanita, lagi sakit maupun sehat, lha baru datang aja temennya udah cewek semua xD)

Semakin hari, kondisi R semakin membaik. Beberapa hari lalu, dia masih mengalami beberapa serangan psikosis, tapi nggak sebegitu parah seperti saat dia belum masuk rumah sakit. Sekarang kami sedang membicarakan tentang rencana kepulangan R ke rumah dan sepertinya dia sudah bisa pulang ke rumah akhir minggu ini. Kemarin gue juga mengunjungi R dan dia sudah kelihatan jauh lebih sehat dan lebih ceria. Nada bicaranya sudah kembali normal dan dia nggak se-emotionally distant seperti beberapa hari lalu sebelum masuk rumah sakit.

Serius, pengalaman ini bener-bener membawa pelajaran baru untuk gue. Sejak dulu gue selalu mendengar betapa hebatnya negara-negara Eropa dalam mendalami seluk beluk kesehatan mental, tentang topik kesehatan mental bukan jadi hal tabu, dll. Kali ini gue mengalaminya dan semua berita itu benar. Semua informasi tentang kesehatan mental dan penyakit mental bener-bener dibuka ke gue oleh dokter dan suster, pokoknya gue bebas nanya apa aja.

Mereka juga memperlakukan pasien dengan setara. Kemarin waktu gue jenguk R, dia lagi nunggu temen-temennya pulang dari supermarket karena mereka mau masak salad sama-sama untuk makan malam. Yap, jika mereka sudah lumayan sehat, mereka diperbolehkan pergi keluar bangsal untuk ke supermarket atau ke taman besar dengan ditemani satu orang suster. Pokoknya para pasien dibebaskan untuk mengatur jadwal mereka sendiri, begitu juga dengan jadwal minum obat. Semua pasien dibebaskan untuk minum obat setelah jam makan dengan cara meminta obat sendiri ke ruangan jaga suster.

Nggak nyangka deh, bisa belajar hal baru dengan cara yang nggak diduga seperti ini. Pasien-pasien yang satu bangsal dengan R bikin gue merasa nyaman dan hangat setiap datang mengunjungi R, dan mereka juga mengikuti aturan rumah sakit dengan sangat respek. Gue cuma berharap semoga suatu saat nanti, mereka bisa pulang ke rumah masing-masing, berkumpul dengan keluarga, dan bermanfaat untuk lingkungan mereka.

Hari 12: Enam Bulan Kemudian…

Ini dia hal-hal yang gue tunggu-tunggu enam bulan lagi (kira-kira bulan September):

  • Musim gugur! Mungkin enam bulan lagi gue akan eneg banget sama sinar matahari dan mulai kangen sama daun-daun yang berguguran.
  • Kesempatan jalan-jalan. Gue berencana menabung untuk pergi liburan ke Jepang di bulan September. Semoga kesampaian. (Semoga nggak kebablasan juga kelamaan libur di bulan Juli…)