Review: The Body Shop Chinese Ginseng & Rice Mask

Jarang-jarang nih, gue bikin review produk. Produk perawatan muka pula. Langsung aja kali ya…

Jadi begini, kulit gue tuh bisa dibilang nggak semulus orang pikir. Dulu pas ABG gue terkena serangan jerawat parah, untungnya bisa diobati dengan perawatan di klinik kulit dan memakai krim buatan mereka. Sekarang sih kulit gue ya gitu deh, dengan sedikit minyak di daerah T. Masalah kulit gue adalah kadang kulit gue suka kena jerawat kecil-kecil dan banyaknya komedo yang bersarang di hidung gue, terutama di balik lipatan hidung. Susah banget kalau mau dibersihin karena harus pake alat khusus yang biasa dipake di facial sessions.

Pas gue pergi ke The Body Shop (TBS) beberapa bulan lalu dan beli perlengkapan perawatan wajah dari tea tree oil, si mbak kasir memberikan gue sampel masker TBS yang terbuat dari campuran jahe dan nasi. Awalnya gue cuek aja karena gue bukan fans berat masker, apalagi gue tahu biasanya masker nggak bisa menghilangkan komedo dan jerawat kecil-kecil di wajah gue. Tapi di hari yang sama gue penasaran dan memutuskan pakai masker itu.

Karena berat bersih sampel yang nggak begitu banyak, akhirnya gue cuma pake sedikit. Wah, hasilnya luar biasa lho! Karena gue komedo-an, makanya gue pake masker lebih banyak di daerah hidung. Didiemin 5-10 menit sampai maskernya kering, kemudian dilap dengan handuk hangat, si komedonya ilang semua. Kulit gue (hidung, ding) langsung berasa super halus dan kinclong.

Dua bulan kemudian, gue memutuskan untuk beli maskernya. Agak mahal sih, 20 euro, tapi gue udah merasakan manjurnya si masker saat pertama kali pakai sampel. Pulang ke rumah gue langsung cuci muka dan mulai pakai masker di seluruh wajah gue. Tekstur masker ini agak keras, mungkin untuk exfoliate kulit mati dan komedo juga kali ya. Gue orangnya suka nunggu masker rada lamaan, makanya gue pake masker selama 30 menit sambil main video game.

Setengah jam kemudian gue cuci muka gue dengan air hangat kemudian lanjut air es. Wah, hasilnya bagus banget! Wanginya juga enak, nggak terlalu wangi ginseng tapi ada sedikit sentuhan wangi jahe. Kulit gue langsung berasa kenyal dan segar. Sesuai kata mbak TBS, masker ini akan berfungsi optimal jika dipakai 2 kali seminggu, makanya gue mengalokasikan hari Rabu dan Sabtu sebagai hari maskeran mulai dua minggu lalu. Hasilnya lumayan, kulit gue kelihatan jauh lebih bersih dan komedo mulai jarang muncul di hidung gue.

Jadi buat yang punya masalah dengan kulit wajah geradakan dan komedo membandel, masker ini bener-bener gue rekomendasikan, deh. Yang menarik, masker ini bisa dipakai seluruh jenis kulit dan nggak bikin wajah berasa kering karena ada formula pelembabnya juga. Gue kasih 4,5 bintang dari 5 bintang lah… Bakal gue kasih 5 bintang kalo harganya lebih murah sedikit 😉

Hari 7: Rekomendasi Buku

Anjay. Sebenernya gue malu mengakui bahwa gue bukanlah kutu buku seperti dulu. Waktu masih sekolah, sepertinya melahap lebih dari satu buku dalam seminggu adalah hal yang biasa. Sekarang, boro-boro baca buku, baru baca beberapa halaman, konsentrasinya udah terganggu sama hal lain (baca: buka notifikasi di ponsel).

Walaupun gue jarang membaca buku lagi (dan sepertinya gue HARUS benar-benar mulai membiasakan diri lagi untuk membaca lebih banyak), gue punya satu rekomendasi buku yang pernah gue baca saat gue lagi demam baca buku pakai e-reader. Ini dia…

nfd-final-cover1.png

Novel ini gue baca saat gue berusia 23 tahun dan ceritanya diambil dari kisah nyata di Kamboja pada jaman pemerintahan Khmer Rouge. Tokoh utama dari novel ini adalah seorang anak laki-laki bernama Arn, yang terpaksa harus terpisah dari keluarganya pada usia 11 tahun akibat rezim Khmer Rouge. Kemudian, Arn menceritakan empat tahun penuh penderitaan dimana dia harus bekerja paksa, menjadi tentara anak-anak, dan akhirnya berhasil kabur dari kamp. Satu-satunya yang menyelamatkan Arn dari kematian, tidak seperti bocah sepantarannya, adalah musik. Arn pandai bermain musik, sehingga hal ini menarik perhatian Khmer Rouge dan mereka menyuruh Arn menjadi pemain musik untuk lagu-lagu revolusioner.

Novel ini adalah salah satu dari sedikit novel yang membuat gue berkaca-kaca. Deskripsi kejahatan Khmer Rouge dijelaskan dengan sedetail mungkin, ditambah lagi narasi novel yang sengaja dibuat dalam bahasa Inggris yang pletat-pletot dengan banyak kesalahan gramatika dan penulisan, seolah saat baca novel ini gue baca buku harian seorang anak berumur 11 tahun. Pedih banget bacanya, tapi bener-bener membawa kesan mendalam buat gue.

Bagi kalian yang suka dengan novel sejarah, pas banget baca novel ini. Dijamin setelah selesai, bakal langsung buka Youtube atau Google dan mencari tahu lebih banyak tentang Kamboja jaman Khmer Rouge.

Belajar Geografi Via Youtube!

Waktu kecil, gue suka banget baca Buku Pintar karangan Iwan Gayo (ketahuan ya umurnya berapa, hahaha…). Karena buku super tebal ini gue jadi tahu judul-judul film ikonik pemenang Oscar, arti nama orang, sampai shio dan zodiak. Tapi dari semua bagian Buku Pintar, kesukaan gue adalah data negara-negara di dunia yang cukup lengkap. Karena ini, waktu SD gue jadi suka banget pelajaran Geografi.

Nah, beberapa hari yang lalu, gue dikasih tautan sama Mr. C, dia bilang “Tonton deh!”. Ternyata itu adalah tautan kanal Youtube berjudul Geography Now. Episode pertama yang gue tonton adalah episode tentang Brunei, dan dari 11 menit video gue jadi dapet pengetahuan banyak banget tentang negara di Asia Tenggara yang gue cuma tau sebagai negara super tajir melintir. Nonton video itu bikin gue inget sama fakta negara-negara yang dulu betah gue pelototin di Buku Pintar. Yang bikin menarik, ternyata seluruh isi video tersebut diambil dari email para penontonnya yang tinggal di Brunei, hal ini menjadikan video Brunei jadi sebuah video yang obyektif dan bukan cuma asal comot fakta dari buku atau alamat web tertentu.

Kemudian gue ngabisin beberapa jam nonton video-video lain dari Geography Now. Ada tiga hal yang menurut gue menarik banget dari kanal Youtube ini, yaitu:

  1. Geography Now menjanjikan akan membahas seluruh negara di dunia secara alfabetis. Sekarang mereka udah sampe huruf C. Indonesia masih lama banget, apalagi Netherlands atau Zimbabwe!
  2. Pembawa acaranya seru banget dan bisa banget ngejelasin masalah pelik dengan perumpamaan kocak.
  3. Seluruh keuntungan dari Geography Now akan disalurkan untuk biaya pengobatan kanker ayah si pembawa acara. Kadang, dia suka bikin video update tentang kesehatan ayahnya dan di unggah ke kanal Geography Now.

Di bawah ini adalah beberapa video Geography Now yang udah di unggah. Favorit gue sih tentu saja Brunei dan Cina.

 

Selamat belajar geografi!

 

Memanfaatkan Konser Jazz Gratisan

Apa sih kesenengannya mahasiswa? Ya hiburan gratis, lah! Gue baru aja pulang dari acara konser jazz gratis dari KBRI. Yang main nggak tanggung-tanggung, Dwiki Dharmawan bok. Udah konser gratis, yang main musisi handal Indonesia, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Untungnya hari ini saya tak datang sendiri… Ada mas dari (kampung) Enschede yang pergi bareng gue. Intinya kayaknya gue sih yang nemenin ini anak karena dia duluan yang ngasih tau acara ini ke gue. Melihat line-up nya ada Tohpati segala, gue jadi tertarik. Dia sih pengen liatnya Dira Sugandi karena ngefans bener sama mbak Dira. Jadinya ya udah deh kami memutuskan untuk nonton bareng.

Konsernya sendiri diadakan di Koninklijk Conservatorium, semacam gedung konser dan sekolah musik di Den Haag. Gedungnya biasa aja sih, nggak mewah-mewah amat, namanya juga gedung pertunjukan plus sekolah. Tempat konsernya juga biasa aja. Tapi kesannya tetep aja sih fancy. Kesiannya si mas (kampung) Enschede, dia beli chips di stasiun, dipikirnya konser yang biasa gitu, dia gak tau kalo itu di gedung pertunjukan lumayan formal. Ya kali… (Padahal sepanjang konser perut krucuk-krucuk laper, untung pulang-pulang dikasih snack dan ada lemper plus TEH BOTOL, sesuatu yang sangat langka di Belanda!)

Menurut gue musiknya bagus. Gue emang nggak gitu dengerin jazz sih, malah gue termasuk buta, satu-satunya penyanyi jazz yang gue tau cuma Michael Buble (mainstream amat yak). Karena pengetahuan jazz gue terbatas, jadi gue agak risih denger beberapa lagu yang dimainin yang kesannya “asik sendiri” gitu. Gue lebih suka pas si Dira ikutan nyanyi di beberapa lagu karena untuk sekali itu instrumennya nggak kayak kejar-kejaran satu sama lain. Terus di dalem band itu ada pemain drum yang ganteng bener! Semacam botak-botak seksi gitu… Gue sampe fangirl sepanjang konser, ternyata baru tau pas pulang kalo dia lakinya mbak Dira. Hiks, disitu saya merasa sedih… (kirain bisa dikecengin)

Karena jazz bukan musik gue, jadi gue nggak bisa ngomong macem-macem soal gimana musiknya. Pokoknya bagus aja lah, sayangnya bukan untuk kuping gue. Ini aja habis pulang ke rumah gue langsung muter lagu-lagu folk dari Spotify untuk menghilangkan bekas-bekas musik jazz dari otak…

Duh kapan ya KBRI bikin festival musik folk Indonesia terus datengin penyanyi dan band folk Indonesia yang masih jarang kedengeran gaungnya? Pasti gue langsung ada di lini utama!

The Wild Boys are Calling

Sejak umur 13 tahun, gue udah ngerasa ada yang berbeda dari gue dibandingkan dengan remaja lain. Saat itu tahun 2004, baru ngetren nama-nama seperti Beyonce, Destiny’s Child, Jay-Z, Simple Plan, baru ngetren baju-baju bermerek Roxy, Quiksilver dan rentetan merek surfing lainnya yang harganya mahal, dan temen-temen gue pada keranjingan dengan dua hal tersebut.

Sementara gue? Nonton Channel V, dan ada sebuah band unik bernama Duran Duran yang ngebawain musik unik dengan nama new wave. Gue langsung suka, walaupun Duran Duran adalah band tahun 1980-an. Soal jadi nggak nyambung sama temen-temen seumuran gue? Nggak masalah.

Sejak itu, gue bermimpi bisa nonton konser mereka. Sayangnya saat itu Duran Duran udah jarang aktif dan nggak sengetop dulu lagi. Mereka memang sempat datang ke Indonesia, tapi harga tiketnya mahal banget. Kantong gue yang dulu masih pelajar sekolah menengah nggak mampu buat beli tiketnya bahkan untuk kelas paling rendah.

Nggak bisa kepikiran sama sekali, tahun ini, 11 tahun kemudian, gue berhasil mewujudkan mimpi masa SMP gue.

Adalah festival musik ‘Night at the Park’ yang berhasil bikin mimpi gue jadi kenyataan. Gue udah tau Duran Duran bakal main di festival ini sejak bulan Februari lalu. Tanpa mikir panjang lagi, langsung aja gue beli tiketnya. Apalagi setelah Duran Duran ngerilis singel terbaru untuk album mereka yang akan rilis bulan September nanti. Wah, makin semangat.

Festivalnya? Jangan tanya!!!! Gue sampe agak malam, karena emang tujuan gue untuk nonton Duran Duran doang, jadi gue datang sekitar jam 8 malam. Saat itu masih ada UB40 yang tampil. Gue yang nggak terlalu ngerti musiknya UB40, memutuskan untuk keliling taman aja.

Pas UB40 kelar manggung dan fans UB40 mulai keluar dari arena, langsung gue nyoba masuk ke festival tengah. Ternyata perjuangannya susah banget ya… Apalagi mengingat tubuh gue tergolong kecil dan gue harus berusaha nonton di belakang orang-orang dengan tinggi abnormal. Berasa Hobbit di tengah ras Men. Akhirnya gue dapet tempat yang lumayan enak, lumayan bisa ngeliat layar juga. Panggung juga nggak terlalu jauh dari pandangan mata.

Lagu pertama yang dimainin sih baru promosi lagu terbaru mereka, ‘Pressure Off’. Wah lagu ini enak banget, gue juga udah denger beberapa kali dari Spotify. Awalnya gue agak sangsi dengan singel baru mereka, tapi ternyata feel 80-annya masih berasa banget kok.

Abis lagu ‘Pressure Off’, langsung semuanya heboh karena personil Duran Duran langsung keluar ke atas panggung!!! Huwaaaaaaaa dari gue bisa keliatan jelas banget Nick Rhodes dan Roger Taylor! Heboh banget! Sementara dari sebelah kiri panggung ada si bassist paling ganteng sepanjang masa yaitu John Taylor!!! Gue bener-bener teriak kesenengan karena personil favorit gue adalah dia!

Soal konser, jangan ditanya. Walaupun ini cuma festival dan Duran Duran cuma main sekitar 1 jam 15 menit, tapi semuanya senang. Crowd konser yang kebanyakan dipenuhi orang tua berumur 30 tahun keatas bener-bener have a good time. Ada yang piknik, joget sambil minum bir, tapi semuanya masih sama-sama sopan. Ada juga yang nyebelin, kayak orang bule super tinggi depan gue yang ngalangin gue nonton… untungnya dia cepet keluar sehingga gue bisa nonton dengan enak. Simon LeBon suaranya oke banget, Nick Rhodes tetep sok cool kayak biasa, dan John Taylor… ADUH JOHN TAYLOR MASIH AJA GANTENG. Gue heran, doi udah om-om, tapi kenapa masih ganteng? Jangan-jangan dia punya rahasia awet muda?

Lagu-lagu yang dimainin juga gue tau semua. Gak semua sih, ada 3 lagu yang gue nggak hafal (karena dari album setelah ‘The Wedding Album’), tapi mayoritas gue bisa banget nyanyi sambil joget-joget. Gue paling suka pas mereka mainin lagu ‘Ordinary World’, ‘A View to a Kill’, dan udah pasti lagu favorit gue dari semua lagu favorit: RIO!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Wah gila sih pas mereka mainin lagu ‘Rio’, gue bener-bener lost my chill. Parah. Gue suka banget lagu ini. Selalu jadi lagu penyemangat gue untuk ngerjain kegiatan sehari-hari. Apalagi pas solo bass-nya John Taylor, wah gila beneran nggak santai deh kerennya!!!!!!!!! Dan ternyata lagu ‘Rio’ adalah lagu terakhir, abis lagu ‘Rio’ ada kembang api baguuuus banget. Satu lapangan teriak-teriak minta encore tapi Duran Duran gak balik lagi… Padahal mereka belom mainin lagu ‘The Reflex’ atau hit pertama mereka, ‘Is There Something I Should Know’.

Puas banget gue. Semuanya keren lah. Bener-bener luar biasa untuk skala festival. Walaupun Duran Duran nggak mainin lagu ‘The Reflex’, tapi gue puas karena dia mainin lagu Rio. Udah gitu musiknya tetep aja keren, lagi. Ah! Gue mau lagi!

“My name is Taylor, and I was born on 1989!”

PERINGATAN: Expect fangirl squeals on this post.

Wuaaaa!!!!!!!!!!! Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu kemarin datang juga, konser Taylor Swift di Amsterdam!!!! Gue bahkan udah beli tiket konsernya jauh sebelum gue beli tiket pesawat Jakarta-Amsterdam, hahaha! Kemarin gue berangkat sama temen gue, Tika, yang fans Taylor Swift juga, dan satu temennya bernama Ayushi.

Konsernya sendiri diadakan di Ziggo Dome, Amsterdam. Cuma 10 menit jalan kaki dari stasiun Amsterdam Biljmer ArenA, dan letak gedungnya pas di sebelah stadion Biljmer ArenA, markas klub bola kesayangan Amsterdam, si Ajax Amsterdam. Pas gue nyampe, sekitar jam 7 malem, udah rame pada ngantri di luar. Untungnya cuaca nggak terlalu panas, dan antrian juga rapiiiii banget. Semua orang had a good time, gue ngeliat beberapa fans TS pake kaos Junior Jewels (kaos yang dipake TS di video klip ‘You Belong With Me’).

Pas lagi antri ngecek tiket, kami dibagiin gelang karet. Gue langsung tau pasti ini gelang bakal nyala, tapi pas gue coba goyang-goyangin kok nggak nyala juga. Masuk ke dalem arena, wah semuanya tertib banget, dan bahkan masih banyak ruang untuk bergerak. Udah ada pintu sendiri-sendiri untuk masing-masing kelas, terus di setiap lantai ada konter makanan dan minuman, tempatnya juga full AC, nggak gerah, pokoknya nyaman banget deh. Gue langsung ngebandingin kenyamanan konser TS sama Red tour di Jakarta kemarin, wah nggak ada apa-apanya banget lah yang di Jakarta. Ini, baru masuk arena aja langsung nyaman.

Pas gue masuk ke arena, wah ternyata opening act-nya juga udah mulai! Kebetulan untuk opening act konser TS di Amsterdam, yang main adalah penyanyi kesukaan gue, si James Bay. Jadi gue sama temen-temen gue langsung nyari tempat duduk kami, dan langsung duduk manis. Gue langsung nyanyi-nyanyi. Pas gue dateng, gue kebagian sekitar 4 lagu James Bay (gue masuknya rada telat), yaitu ‘When We Were On Fire’ (heran kenapa pas gue masuk pas banget dia nyanyi lagu itu deh, belom siap curcol, mas!), ‘Let It Go’, ‘Best Fake Friend’, sama yang terakhir dia nyanyi ‘Hold Back the River’. Duh, suaranya bagus banget, merdu banget. Bener deh selentingan yang gue denger bahwa dia kedengeran bagus banget kalo lagi nyanyi live. Jadi nggak sabar nonton konsernya akhir tahun ini!

Setelah James Bay undur diri, ada waktu kosong sekitar 20 menit. Lumayan lah, gue bisa keluar bentar untuk beli minum. Pas balik ke tempat duduk, dari layar besar diputer video 1989 Secret Session dan diputer lagu-lagu 1980-an juga. Berasa nonton konser di tahun 1989 deh.

Tiba-tiba lampu dimatiin… terus kami semua bersorak!!!! Dan yang paling bikin heboh, gelang karet yang tadi gue goyang-goyangin nggak nyala, tiba-tiba nyala serentak satu stadium! GILAAAAA SUMPAH INI KEREN BANGET!!!!!!!!!! Terus langsung deh konsernya dimulai dan Taylor mulai konser dengan lagu Welcome to New York. Gue langsung berdiri dan joget-joget.

Gue berdiri dan joget selama dua jam penuh.

Yang terjadi berikutnya, bener-bener magis banget. Gila, ini bener-bener konser favorit gue, dan hipotesa gue tentang konser Taylor Swift di Eropa dan Amerika jauh lebih niat daripada di Asia itu 100% bener! Gue udah nonton konser Taylor di Asia sebanyak dua kali dan bener-bener jauh daripada konser versi Eropa. Di konser Eropa, ada banyak banget lampu, banyak banget properti, dan durasinya jauh lebih lama daripada konser Asia, sekitar 2 jam. Koreografinya bener-bener keren banget, kostumnya semuanya niat banget, properti segudang, have I said that there were TONS of lightsssssss??????? Yang bikin lebih keren, ternyata gelang karet itu bukan cuma bisa nyala, tapi dia nyala serentak di beberapa beat lagu Taylor dan nyalanya beda-beda tiap orang. MAMPUS GILA KEREN BANGET GAK SIH???????

Lagu demi lagu dimainkan, Taylor Swift joget-joget, gue joget-joget, semua joget-joget… Bagian lain yang paling gue suka dari konsernya adalah pidato singkat yang suka dia bawain sebelum beberapa lagu. Serius deh… nonton konser itu kayak dateng ke pesta menginap bareng sahabat, terus disana kita joget, nyanyi, dan curhat sampe pagi. Di pidato-pidato singkat itu, Taylor ngomong tentang masalah hidup, gimana cara berdamai dengan diri sendiri kalo kita punya banyak kesalahan, tentang masalah cowok, duh pokoknya segudang deh. Yang gue inget, dia ngomong begini… (dan untungnya sempet gue rekam juga)

“Everyone of you might have been going something difficult, right this moment. Everyone of you might be having some insecure days when you feel like nothing you put on fits, nothing you do to your hair looks good, you can’t figure out where you wanna go with your life. We all have these days, and if you had one of these days when you wake up this morning, but the point is that you got out of bed, and you put on an outfit and you walked out the door and you went to a concert and we’re having the best time ever!

That sometimes it’s not about things being perfect, sometimes it’s not about being happy all the time, sometimes it’s about getting on with things and put one foot in front of the other. And I just hope that when you do that, when you make mistakes, when you go through terrible things, I hope you don’t see yourself as a damage. Because that is not what happens when you experience life. You are not damaged because you have scars or because you have ghosts; that’s not what happens. What happens is… you become wiser because you have scars and ghosts…”

(dan kemudian intro ‘Clean’)

(dan kemudian gue mati)

(dan hari ini gue baru tau bahwa setiap pidato dia di tiap kota beda-beda, walaupun temanya sama, tapi dia pake kata-kata yang beda, tandanya dia kagak ngafalin pidato beginian untuk tiap kota)

Sumpeh. Tipe-tipe pidato menyayat hati macem gitu. Gue beruntung banget ngerekam kata-kata ini untuk gue puter kalo lagi sedih atau ngerasa down dalam hidup gue. Selain pidato kayak gitu, dia juga ngomong sesuatu tentang masalah hubungan dengan orang lain, nggak gue rekam, tapi gue inget dia bilang “Relationships should be simple, but we make them too complicated. I read your stories about how you’re getting close to people, and suddenly they push you back with no reasons, or you text them and it took them 4 hours to respond…” gue ngakak karena gue berasa lagi cerita ama sahabat sendiri.

Dia juga masukin beberapa referensi lagu-lagu lamanya kayak pake kata-kata “sparks fly” atau “swallow your pride”.

Dia mainin semua lagu kesukaan gue (baca: Wildest Dreams, yang digabung sama Enchanted, bener bener parah keren banget gue nggak ngerti lagi, ada This Love juga, You Are in Love, Clean) dan yang paling menghebohkan adalah dia ngubah aransemen We Are Never Ever Getting Back Together jadi versi rock yang super cadas dan tetep bikin joget sambil ngeluarin ekspresi muka, terus dia juga ngubah aransemen I Knew You Were Trouble jadi semacam lebih dark, ala-ala musiknya Lorde dan itu KEREN BANGET NGGAK ADA OBATNYA.

Dan konser ditutup dengan lagu ‘Shake It Off’. Satu arena bener-bener menggila, semua joget, semua hepi, semua nyanyi, lampu-lampu dimana-mana, termasuk Tika dan Ayushi yang sedari tadi duduk akhirnya berdiri dan ikutan joget juga. Encore-nya bagus banget nggak ngerti lagi. Aduh. Gue bener-bener nggak bisa ngejelasin. Kostumnya warna ungu, terus dia ngenalin bandnya, ngenalin semua penarinya, argh dan semua orang bener-bener had a really good time. Auranya magical banget dan pas konser selesai, gue langsung bilang sama Tika, “Gue nggak mau pulaaaaaaaaaaang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

LOOK AT THE LIGHTS!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
LOOK AT THE LIGHTS!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Nonton Konser di Negeri Orang: London Calling Loves Concerto

Gue termasuk penikmat musik. Sejak kecil gue udah membiasakan diri untuk ngedengerin jenis musik apapun, jadi telinga gue udah biasa juga mengkategorikan jenis musik. Nah, belakangan ini gue lagi suka musik dengan pengaruh country, sebangsa musik folk, bluegrass, dan blues. Untungnya, musik-musik legendaris macam ini sampe sekarang masih dipelihara oleh generasi muda dalam bentuk band-band indie.

Mungkin banyak yang nggak tau, atau nggak ngerti, apa bedanya band indie dan band mainstream? Semua terletak pada industri rekaman yang menaungi mereka. Kalo band mainstream, mereka cenderung main di ‘garis aman’, yaitu musik-musik yang sedang digemari orang jaman sekarang. Sementara band indie jauh lebih idealis, menurut gue sih suara-suara mereka sangat beda dari band-band mainstream.

Nah, akhir minggu kemarin gue berkesempatan nonton festival band indie di Amsterdam, namanya London Calling Loves Concerto (LCLC). Ini adalah festival band dua hari yang diadakan di Tolhuistuin, sebuah gedung berlantai dua yang terkenal sebagai tempat konser band-band indie. Sebenernya sih gue cuma datang di hari terakhir untuk nonton dua artis yang pengen gue tonton banget: Tor Miller dan Tobias Jesso Jr., tapi ternyata band-band lain yang gue tonton pada bagus-bagus juga. Ada beberapa band yang menarik banget di telinga gue, seperti Nothing But Thieves, Stornoway, dan Holy Holy. Silahkan dengerin sendiri lagu-lagunya di Spotify atau cari di Youtube.

Nah, gue mau cerita tentang kesan-kesan gue nonton konser di Belanda untuk pertama kalinya, nih. Tentu aja gue nggak bisa ngebandingin sama konser-konser artis besar yang pernah gue tonton di Singapura (Taylor Swift, Speak Now World Tour 2012) dan di Indonesia (The Script Presents Arthur’s Day 2012 dan Taylor Swift RED Tour Jakarta 2014), tapi menurut gue ini adalah beberapa poin yang sangat berkesan dari nonton konser di Belanda (lebih tepatnya, nonton festival band indie):

1. Crowd-nya sopan.

Maksud gue, ada personal space dan yang nonton nyantai semua. Di panggung band Ezra Furman, misalnya. Orang ini nyentrik banget, musiknya bener-bener rock and roll tahun 70-an dan campuran punk rock, bawain lagu-lagunya juga atraktif banget. Gue sebagai penonton, ikutan joget sama yang lain. Yang menarik, kita menghargai sesama penonton, nggak ada yang iseng. Semuanya senang dan asyik joget sendiri atau sama teman-teman mereka. Mereka juga tepuk tangan setelah lagu dimainkan, bukan pas lagu dimainkan. Jadi si artis pasti ngerasa lebih dihargai juga.

2. Konsernya lebih intim

Mungkin karena durasi tiap musisi yang nggak terlalu lama, cuma sekitar 45 menit. Udah gitu panggungnya juga macam-macam dengan kapasitas penonton berbeda-beda. Gue ngerasa nonton mereka jauh lebih deket aja. Mereka ini adalah musisi-musisi indie dengan target pasar yang sangat spesifik, jadi semakin eksklusif fansnya, semakin dekat juga sama mereka. Si artis jadi jauh lebih bebas untuk nyapa penggemar, bikin joke garing di panggung. Kita juga bebas mau foto-foto mereka dari arah manapun tanpa harus takut dicegat bapak-bapak sekuriti. Buktinya? Gue berhasil nyegat Tor Miller pas dia selesai manggung cuma buat bilang musik dia keren banget. Dia nggak pake bodyguard apapun, cuma seorang cewek yang kayaknya bertindak sebagai managernya. Si cewek juga santai banget, nggak ngelarang si artis buat berinteraksi sama penggemar, bahkan dia ikutan ngobrol juga. Tor Miller-nya juga seru banget, asyik banget dan dia murah senyum.

3. Saking santainya, sesama artis bisa nonton artis lain manggung

Beneran, lho! Ini terjadi waktu gue lagi nonton seorang artis yang namanya gue lupa siapa. Gue masuk ke tempat manggungnya dan gue ngeliat si Tobias Jesso Jr., artis yang baru gue tonton siang harinya, lagi duduk santai nonton si artis lain itu nyanyi. Tanpa ada bodyguard atau manager. Mungkin kalo orang lain datang setelah dia manggung, nggak nyadar kalo dia itu pengisi acara. Gue kepengen ngedatengin dia dan ajak dia ngobrol, eh tapi pas gue mau nyamperin orangnya udah nggak ada.

Kayaknya cuma tiga poin istimewa itu aja yang gue temuin di LCLC kemarin. Walaupun begitu, I really had fun! Ternyata konser indie tuh segitu santainya, toh. Kalo begini, gue pasti mau lagi nonton konser indie yang lain.

In the mean time, berikut adalah daftar konser yang udah gue beli tiketnya dan akan gue tonton mulai bulan depan:

Juni 2015

Taylor Swift 1989 World Tour (Taylor Swift with opening act James Bay)

Night At The Park Concert (Duran Duran, UB40)

Pinkpop Festival (Orchestral Manoeuvres in the Dark)

Oktober 2015

James Bay in Amsterdam concert