Tentang House dan Roomsharing di Belanda

edkZxW6VZp-705x470

Tulisan advertorial.

Di Belanda, usia 18 tahun sudah disebut usia dewasa. Di umur ini, seseorang sudah dianggap bisa menentukan sendiri gaya hidupnya, termasuk menentukan pekerjaan dan tempat tinggal sendiri. Bukan gaya hidup spesial lagi jika seseorang yang baru menginjak usia 18 tahun untuk pindah ke kota lain, bersekolah/bekerja, dan tinggal di rumah kontrakan sendiri atau bersama teman.

Gue sendiri juga mengalami fase ini, walaupun agak terlambat. Fase tinggal sendiri ala gue dimulai saat umur 24 tahun, ketika gue pindah ke Belanda. Saat itu, gue tinggal di studio apartemen milik kampus yang disewakan ke mahasiswa internasional. Setelah satu tahun tinggal di studio tersebut dan kontraknya sudah habis, gue memutuskan untuk mencoba housesharing alias mencari kamar di rumah yang disewa oleh beberapa orang.

Awalnya gue kira housesharing itu sama seperti rumah kost. Ternyata beda! Perbedaan yang paling mencolok adalah, housesharing nggak punya ibu kost. Jika kita memutuskan untuk tinggal bersama beberapa orang, rumah tersebut akan jadi tanggung jawab kita sendiri. Ada rumah yang memberlakukan sistem jadwal membersihkan rumah, ada juga yang sukarela. Ada rumah yang menyewa tenaga cleaning lady seminggu sekali, ada juga yang tidak.

Menurut gue, housesharing lebih menantang karena disitulah kita belajar mandiri. Memang sih kita akan share toilet, kamar mandi, dapur dan ruang nonton, tapi begitu masuk kamar kita, ya itu adalah wilayah kita. Housesharing juga melatih skill komunikasi dan skill negosiasi kita, gimana caranya kita bisa ngomong dengan baik ke teman serumah jika dia terlalu berisik atau jika dia sering telat bayar uang sewa bulanan.

Nah, awalnya gue pikir sistem housesharing hanya ada di negara-negara Barat. Ternyata konsep ini sudah dicoba di Indonesia, bahkan ada website-nya! Jika kamu kepingin coba tinggal sendiri dan mau nyari teman serumah yang cocok, coba deh pergi ke website Serumah.com.

Apa itu Serumah.com? Website ini adalah ajang cari jodoh untuk mencari teman serumah yang tepat. Jadi bukan kayak OKCupid atau Tinder, ya :p Serumah.com dibangun karena para penemunya merasakan adanya tuntutan mencari teman serumah bagi mahasiswa atau entry-level workers untuk menekan biaya hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dll. Bener lho, jika kalian mencari teman serumah, niscaya biaya hidup bisa ditekan jadi jauh lebih murah. Bandingkan dengan kost yang makin lama makin mahal, dan kita nggak bisa main cocok-cocokkan terlebih dulu dengan penghuninya.

Yang bikin Serumah ini menarik, setelah kamu mendaftar, maka kamu bisa mengiklankan rumah/kamar kamu atau mengiklankan bahwa kamu sedang mencari teman serumah/sekamar. Ada banyak juga preferensinya, apakah kamu mau cari teman serumah yang merokok, gendernya sama, atau mau cari teman serumah yang sudah sama-sama bekerja atau masih kuliah juga bisa.

Seandainya konsep seperti ini ada di Belanda! Sejauh ini, pengguna Facebook bisa menggunakan jasa grup di Facebook untuk mencari teman serumah atau mencari rumah baru yang bisa disewa. Tapi nggak ada website yang bisa menggabungkan pencari kamar/rumah dengan pencari teman serumah/sekamar seperti Serumah ini.

Kalau kamu tinggal di kota besar, nggak mau ngekost karena mahal, coba deh pikirkan opsi housesharing seperti yang ditawarkan Serumah. Mau lebih asyik lagi? Daftar aja di Serumah mulai dari sekarang. Gratis lho!

Selamat belajar mandiri dengan housesharing!

 

Jangan Patah Semangat!: Tips Mencari Pekerjaan di Belanda

Tulisan ini terinspirasi dari tulisannya Mariska tentang mencari pekerjaan di NZ dan mbak Oppie tentang pengalaman interview kerja di Belanda. Berhubung Senin besok adalah hari pertama gue kerja, nggak ada salahnya kalau mau berbagi pengalaman dan tips tentang mencari pekerjaan di Belanda. Sebagai migran yang masih pletat pletot dalam berbahasa Belanda, mungkin mencari pekerjaan termasuk hal yang cukup ditakuti mahasiswa yang baru lulus. Apalagi persaingan ketat dengan warga EU yang jauh lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada warga non-EU. Tapi masa sih kamu nggak bisa fight? Berikut adalah beberapa tips untuk mencari pekerjaan di Belanda. Selamat mencoba!

1. Untuk memudahkan proses mencari kerja, daftarkan diri untuk ijin tinggal setelah student visa selesai

Di Belanda, mahasiswa lulusan setara universitas atau applied science university punya kesempatan untuk tinggal di Belanda selama setahun dengan visa pencari kerja. Namanya visa zoekjaar. Selama setahun ini, kamu boleh bebas memasuki bursa kerja Belanda, mencari pekerjaan dan mengikuti wawancara sebanyak-banyaknya, dan juga bekerja part time sebanyak-banyaknya sambil menunggu dapat pekerjaan tetap. Plusnya visa ini adalah bos kamu nggak perlu mendaftarkan ijin tinggal kalau kamu bekerja part time. Nah, tujuan utama dari visa pencari kerja ini adalah mendapatkan pekerjaan yang bisa mensponsori kamu sebagai highly skilled migrant (disini disebut dengan kennismigrant) dengan beberapa syarat tertentu.

Untuk keterangan lebih lanjut tentang dua tipe visa diatas, bisa buka website Imigrasi Belanda di IND.com. Bisa-bisa gue harus bikin tulisan bersambung kalau mau ngejelasin tentang zoekjaar dan kennismigrant visa.

2. Jangan malas mulai dari nol

Nah, yang ini penting banget, nih! Di Belanda, buang jauh-jauh pemikiran “kerjaan X gajinya kurang” atau “masa gue kerja jadi tukang bersih-bersih di restoran, sih?”. Semua pekerjaan sangat dihargai disini. Memang banyak teman-teman gue yang beruntung bisa langsung dapat pekerjaan yang bagus setelah lulus kuliah, tapi lebih banyak lagi mahasiswa yang harus bekerja dua sampai tiga pekerjaan part time sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap dengan gaji yang setara dengan kemampuannya.

Selama masa zoekjaar, gue sempat bekerja di dua tempat berbeda. Yang pertama sebagai staff museum di sebuah atraksi yang baru buka di Amsterdam. Tiga bulan kemudian, gue cabut karena kontraknya sudah selesai dan gue enggan memperpanjang kontrak ini karena beberapa alasan. Seminggu setelah cabut dari museum, gue dapat pekerjaan sebagai staff di toko afhalen (take-away) makanan Indonesia. Walaupun kerja di restoran tuh nggak selamanya menyenangkan, tapi gue jalanin aja karena memang gue butuh duit. Jangan lupa juga untuk menyisakan waktu untuk seharian mencari pekerjaan di dunia maya. Yang membawa gue ke poin nomor tiga…

3. Jangan bosan dengan surat penolakan

Tiga bulan pertama setelah lulus, gue menganggap surat penolakan itu biasa. Lama-lama surat-surat ini memakan rasa percaya diri gue bahkan sampai beberapa bulan lalu gue sempat frustrasi dan nggak percaya diri karena susah banget nembus tahap wawancara. Padahal CV sudah dipoles sebagus mungkin, surat lamaran juga sudah mengikuti 1001 format yang digadang-gadang sebagai “surat lamaran tokcer untuk mendapatkan kesempatan wawancara”.

Jangan bosen! Percaya aja, niscaya dari ratusan penolakan, akan ada satu-dua perusahaan yang tertarik dengan CV dan surat lamaran kamu dan akhirnya manggil kamu buat wawancara.

4. Ikuti career coaching dari kampus, perbaiki referensi, tambah skill, ikuti kesempatan volunteering di daerah sekitarmu

Ini adalah poin-poin yang lebih praktikal dalam mencari kerja, ya. Biasanya, kampus-kampus Belanda punya career center yang doyan bikin workshop terutama untuk mahasiswa internasional yang ngomongin masalah tentang gimana cara bikin CV dan surat lamaran, gimana cara ngelamar di perusahaan Belanda, dan lain-lain. Biasanya workshop ini menarik biaya, tapi nggak mahal kok, sekitar 5-7 euro sudah termasuk cemilan dan minum.

Career center kampus juga biasanya mengadakan bursa kerja per fakultas, satu atau dua kali setahun. Kalau mikir bursa kerja, jangan kepikiran bursa kerja super gede kayak di Jakarta, ya… Bursa kerja kampus di Belanda biasanya kecil banget dan lebih banyak diisi workshop dan talkshow kecil, durasinya sekitar 45 menit.

Selain itu, kita juga bisa menambah skill sesuai perkembangan jaman. Untuk gue, karena sejak dulu gue tertarik dengan digital marketing, maka selama masa pengangguran gue kembali belajar bahasa pemrograman seperti HTML dan Javascript. Selain itu, untuk menambah pengalaman bekerja dengan orang Belanda, gue menjadi relawan di pusat arsip untuk ekspatriat di Den Haag.

5. Ikut uitzendbureau (agensi rekrutmen)

Di Belanda, ada banyak sekali agen rekrutmen yang ditujukan untuk ekspatriat yang nggak bisa berbahasa Belanda. Beberapa contohnya adalah Undutchables dan YER. Tugas agen rekrutmen ini adalah untuk menghubungkan kamu dengan perusahaan yang mencari pegawai. Tapi biasanya untuk entry level jobs, jarang ada agen rekrutmen yang bisa mencarikan pekerjaan buat kamu, karena biasanya mereka lebih banyak menyebar lowongan untuk posisi-posisi manajerial. Tips ini bisa diikuti kalau kamu sudah berpengalaman beberapa tahun, kemudian memutuskan untuk mencari kerja di Belanda.

Kayaknya cukup 5 tips aja yang bisa gue sampaikan untuk gimana cari kerja di Belanda. Untuk masalah gaji, setiap pekerjaan di Belanda gajinya beda-beda, sesuai standar gaji jenis industri/pekerjaan yang kamu lamar. Jadi jika kamu sudah dapat pekerjaan dan dapat nominal gaji yang bisa dinegosiasi, lebih baik riset dulu tentang standar gaji pekerjaan tersebut.

Selamat mencari pekerjaan!

It’s the Most Stressful Time of the Year!

December is the gift-giving month, many people say. For many reasons, this is true because December is the month of Christmas and Hanukkah (and Pakjesavond and Sinterklaasdag in the Netherlands), therefore giving a really thick holiday feeling around the world. No matter where you live, whether you live in the Southern or Northern Hemisphere, whether you celebrate White Christmas or Christmas by the beach, December is always correlated with giving gifts to friends and loved ones.

But… what happens if you’re not that type of people who knows how to get THAT perfect gift? Worry not, for I have always considered myself as one! However, even though I think of myself as a bad gift-giver, my friends always tell me the contrary. Therefore, I decide to help you with this post, to fight the gift-giving blues!

THE ESSENTIALS OF BUYING GIFTS

There are two types of people in this world: people who buy beautiful gifts, and people who buy functional gifts. I categorize myself to the second box. I believe that a gift should complement to the daily lifestyle of the receiver, not just something you can look at. The reason why I like to buy functional gifts is because each person has their own taste. Of course, you can cross this one out if you’ve known the person for such a long time you get the idea of their likes and dislikes, but that’s a special case.

Here are the essentials of buying that perfect gift:

  1. The gift should be functional,
  2. The gift should express what you know best about the receiver, and
  3. The gift doesn’t have to be expensive.

Another thing that you should take account of when you’re going gift-shopping is how well you know the receiver. What are their hobbies? What do they look like? Have you ever noticed a certain thing they want to have but they haven’t bought it? Have you ever noticed something about them that’s already worn out but they keep on wearing it? Those little things are nice things to observe when going gift-hunting.

For example, two weeks ago I just bought a box of three travel-sized body butter as a gift for my best friend. Last weekend, I bought a tea infuser and a small box of loose tea for my boyfriend and a snack and dip sauce holder for his parents. I bought the body butter because I always see my best friend bringing one small tin of body butter or hand cream in her bag, I know my boyfriend loves to drink tea, and I once went to his parents’ house for dinner where his stepdad made an awesome French fries. See the pattern here? I bought the gifts based on observations about people I bought them for.

So, you have a mother-in-law who loves gardening? Buy her a cute pot for her next plant. A best friend who loves writing? Buy her/him a notebook filled with writing prompts to engage their creativity. A father who loves gadgets? If you’re tight on the budget like me, you can buy gadget accessories for his gadgets such as a phone case that matches his favorite color, a VR-viewer, or a wireless compact speaker. A girlfriend who’s into cosmetics? You don’t have to buy her the entire make-up regimen, a make-up bag will do! A boyfriend whose wallet has worn out? Buy him a new one!

xmas
Image taken from The Messy Mum

WHERE TO BUY? (In the Netherlands)

This is another issue to tackle. Where to buy the gifts? The first one is you can always go online because nowadays almost every store has their own online shop. Therefore, you don’t have to waste your time or energy for gift-shopping, all you need is an internet connection, and you’re good to go. Plus, your gifts will be shipped directly to your doorstep. How convenient, right!

However, if you prefer allocating a special time for gift-shopping, there’s a new store in Den Haag called TK Maxx. They have another branch in Rotterdam also. TK Maxx is a UK-based store that has branches in Germany, Poland, the Netherlands, and in the whole UK and Ireland area. Here, you can find a lot of inspiration for your gifts with a really low price. They also have a section filled with gift boxes with prices as low as 5 euros. I love going here for gift-shopping, and I also spread the word to my friends during this holiday season.

Another store that catches my eyes for gift-shopping is Sostrene Grene. This is a minimalist store from Denmark. In the Netherlands, they have two stores: one in Den Haag and one in Amsterdam. You can buy cute minimalistic things here with really cheap price and they sell great wrapping papers and gift bags.

There’s also something people often overlook for gifts: handmade stuffs! You can scour the web for easy DIY things such as DIY exfoliating scrubs, face masks, or bath bombs. Then you can personalize your gifts to whoever you make it from, and I’m sure these kind of gifts are one of a kind because it’s cheap and it comes from the heart.

GENERIC GIFTS 101

This is something that we all must endure. Sometimes, offices or schools hold a Christmas party and Secret Santa tradition, where we have to swap our gifts to people we don’t know. Therefore, you need to know something about unisex gifts.

I always take the most taken road when it comes to unisex gifts: pick gender-neutral colors and things. The most common gifts you can buy for this type of situation are:

  1. Candles (pick a gender-neutral scent such as pine forest, sandalwood, vanilla, or cedarwood)
  2. Kitchen appliances
  3. Home appliances such as key holder and throw pillows
  4. A bag of loose tea with relaxing flavor and scent
  5. Handy daily planner/notes for the following year
  6. DIY body treatment products

Don’t worry! Gift-shopping can be an entirely wonderful experience if you know what to buy and who to buy it for. I hope you will be enlightened about what gifts to buy after reading this article!

How NOT to Overshare: Couples Edition

status
Picture taken from Google Image

A few months ago I made this post about dating and the tendency for Generation Y people to overshare their romantic endeavors on social media. In that post, I felt sorry for the people around my age who were in a relationship, overshare every moment, and ended up deleting them all once the relationship went downhill, or even worse, once it ended.

When I wrote that post, I was still living my life as a young, single woman. Now that I’m already in a relationship, how can I relate to the post I wrote in the past?

Thank goodness, so far I have succeeded in keeping my love life private. Even though Mr. C and I have agreed that we will not keep each other as a secret, I still think to post a shitload of our selfies to the public as something inappropriate and annoying. Yes, most of my friends here have known that I’m in a relationship, but only a few of them who knows his name and where he lives.

On the other hand, I know what it’s like to have the urge of posting your pictures with your S.O. on social media. Why? Because I feel it too! Every time we spend time together, there are times when I just want to grab my phone and post something about what we are doing at the moment. So far, I have managed to check-in only twice (I mask his identity, or I don’t tag his name at all) and posted our selfie once. A silly selfie, to be exact. And I don’t post them in public; I curate a particular list of people whom I can share the post with. Those are the people whom I consider dearest to me (such as my best friends for ages, or people who are close to me in the Netherlands).

So, how to overcome the urge of oversharing on social media, especially for new lovebirds? I only have one answer for this: the answer lies within yourself. You are the one who controls your social media account, not the opposite! For example, when you are going on a date with your partner, try to be present at the moment (read: not thinking to take out your phone and check-in or post a status about your whereabouts). Try to think that this is the moment only worth sharing between the two of you. I think that is a sweet gesture and by thinking about it, I manage to reduce the whim to post our activity online. Nowadays I am learning that being selfish with your partner (in an appropriate dosage) is OK! Not every moment is worth sharing, because most moments are made only to be cherished and remembered by both of you. Not every relationship is audience-worthy! Anyway, your love life is not a TV show, every day does not have to be a perfect day, so stop making it look like one!

If you are having struggles by oversharing on social media, I hope this will help you 🙂 I might sound pretty harsh at some points, but trust me, sugarcoated lies will not make your life better.

What about you? Do you have any tips on how to be low profile on social media? Let the world know by posting it on the comment section below.

What to do Before Going to Graduate School

Everyone (well, most people I know, technically) has a desire to go back to school to pursue further studies. Some of them want to change their major, meanwhile the rest of them want to stay on the same course as their previous academic background, like me. However, not many of them know the right steps to apply for graduate school, especially if they want to study abroad.

I’m gonna spill the beans: it’s not as easy as it sounds.

I know, it’s a universal truth. However, there are still many people out there who think that applying for grad school is easy peasy, and you can do it in one try. It’s not… you need perseverance, you need to allocate more time for research, and you need to study. Hard. In this article, I am going to write a guideline to prepare for graduate school, based on my experience.

1. Know yourself

What do you want to accomplish? What major do you want to choose? Do you want to try another major or do you have the need to stay in your previous major? Before choosing which university you want to apply to, you need to know what major you really want to study in, and your thesis topic. If you’re currently feeling dilemmatic about ‘what major should I be in’, now is the perfect time to make up your mind. How? I don’t know, maybe try a Buzzfeed quiz, meditate, brainstorm with your best friends or your family, or constantly ask yourself about what you want to do in life. In this phase, you can also dig more about your research interests and your education budget. If your family can afford your tuition fee as well as your living cost during your studies, you have nothing to worry about. If you’re a middle-class young girl who seeks an adventure abroad while studying, you can research for private or state funded scholarships.

2. Research your options

Now that you have your perfect major in mind, it’s time to work with 21st century magic: Google! Keyword: “universities with (your major) graduate school”. Where do you want to go study? The America? Europe? Asia? Australia? New Zealand? This is the perfect time to find out if your dream university has the major you actually want. I’m gonna tell you a story about a girl who nearly send her application to the wrong university. That girl was me.

A few months ago, I was super hyped about going to school to New Zealand. I chose University of Otago as my first choice, and from there I laid out plans about my research (I was going to go back to History major, FYI). Turned out that they didn’t have quite the subjects I wanted to take for my thesis, so I regretfully cancelled applying to Otago. After a more thorough consideration and research, I finally applied to Universiteit Leiden in the Netherlands because they had the perfect major and the perfect studies for me in order to write my thesis. I’m currently in the process of gathering recommendation letters from my former professors and once it’s done, I’m going to secure my admission by paying a hefty admission fee (100 euros, equivalent to Rp 1,5 million rupiahs).

Don’t make the same mistake like I did back then. Another thing to put in mind is that you shouldn’t be too attracted by a university’s name. Say, you really want to go to one of those Ivy League universities in the USA just because they will sound cool on your resume. Not every university has the perfect major for you. Who knows Yale doesn’t have your major, or they have your major but you’re not that interested to the subjects they offer? Research is the ultimate thing, baby. Each university has their own uniqueness, they have their own strengths, even Ivy League universities.

3. Reach out to professors

This point is optional because not all universities demand you to get in touch with your future thesis advisor before applying. Leiden, for instance, doesn’t need you to write research plan before being admitted to the program (this doesn’t apply to every major in Universiteit Leiden, FYI), but they still ask you to write a letter of motivation. Most universities will ask you to write a 500-700 word research plan. In order to do this, you should contact one of the professors to help you writing your research plan. If they don’t respond, you can write the research plan by yourself. Remember, you should write the plan as clear as possible so whoever that reads your plan will be convinced that you are one of the people they are looking for.

4. Seek out for scholarships

This point is intended for you who can’t afford studying abroad with your own money. This is the 21st century and there are a lot of scholarships being offered to people who actually want to work hard on reaching it. Try the newest Indonesian LPDP scholarship, Presidential scholarship, Beasiswa Afirmasi, Beasiswa DIKTI, or find informations about scholarship your future university can offer you.

I think that’s all what it takes. Remember, perseverance and activeness is needed. Efforts won’t betray. Good luck! (and pray for me so I can go to Universiteit Leiden next year!)

Tips Nggak Grogi Saat IELTS

Tulisan berbahasa Indonesia.

Sabtu (12 Juli) lalu, gue mengikuti tes IELTS dari British Council. Perjalanan menuju tes ini bukannya lancar-lancar aja, tapi malah banyak banget halangannya. Awalnya gue daftar untuk tes tanggal 21 Juni, tapi ternyata di tanggal itu gue baru pulang dari rumah sakit. Untuk mengantisipasi nggak bisa ikut tes (gue nggak mau duit 2 juta gue raib karena gue gak bisa ikutan tes!) akhirnya beberapa hari sebelum tanggal 21 Juni, pas gue masih dirawat di rumah sakit, gue minta surat dari pihak rumah sakit yang menerangkan bahwa gue dirawat pada tanggal itu. Kemudian, pihak IELTS ngasih gue formulir yang harus diisi dokter, yang menyatakan bahwa gue emang sakit pada tanggal itu dan sama sekali nggak bisa meninggalkan rumah/rumah sakit. Untungnya, beberapa hari kemudian gue ketemu dokter, langsung aja gue minta dia isi formulir tersebut. Gue kemudian harus bolak-balik dari rumah sakit-sekretariat IELTS cuma buat nganterin tiga surat sakti yang berbuah dengan kepastian bahwa nama gue ada di peserta tes IELTS tanggal 12 Juli.

Perjuangan selesai? Oh, belum! Gue menjalani tes IELTS kemarin dalam keadaan sedang sakit penyakit lain yaitu sembelit. Nggak elit banget emang, tapi kenyataannya begitu. Selama tiga jam penuh terperangkap di ruangan dingin dan otak dipanaskan soal-soal Listening, Reading dan Writing yang (nggak bohong) bikin gue sakit kepala dan lapar, gue juga nahan sakit perut. Masalah semakin menjadi-jadi ketika istirahat makan siang, perut gue kembali berulah. Gue nggak bisa pergi ke toilet karena memang nggak bisa! Wah gila banget. Gue berasa mau nangis aja. Untungnya sakit perut biadab itu berangsur-angsur sembuh beberapa saat menjelang tes Speaking.

Jadi, Kurisetaru, gimana tesnya? Hmm… pertanyaan ini tergolong relatif sulit untuk dijawab. Sebagai orang yang belajar sebulan sebelum tes, menurut gue tes IELTS itu lumayan gampang. Oh iya, kalo kalian mau ambil tes ini, kalian harus pastiin diri bahwa kemampuan bahasa Inggris kalian cukup bagus, ya. Coba ikut tes percobaan di beberapa lembaga kursus bahasa Inggris terkemuka di kota kalian. Kalo emang dari hasil tes bagus, atau kalian udah ngerasa pede berbahasa Inggris (ngomong Inggris dari kecil, gitu?), silahkan deh langsung tes IELTS. Gue sendiri belajar cuma lewat latihan-latihan pake buku latihan dan CD-nya (keuntungan kerja di kursus bahasa Inggris: bisa fotokopi semua bahan ajar gratis). Abisan males kursus persiapan IELTS karena mahal. Ini tips nomor satu: Bahasa Inggris udah harus lumayan bagus. Paling nggak, kalian ngerti karangan berbahasa Inggris, dan bisa buat tulisan berbahasa Inggris dengan tatabahasa yang tepat.

Kemarin, pas gue lagi nunggu nama gue dipanggil untuk registrasi, gue ngeliat 99% peserta tes pada bawa buku segambreng dan tebal-tebal. 1%-nya cuek, mungkin berdoa dalam hati, pasang tampang sok bisa. Gue salah satu dari 1% peserta cuek. Menurut gue, kalo mau tes apapun, seseorang harus berhenti belajar buat tes tersebut sejak satu hari sebelom tes. Beberapa jam sebelom tes juga jangan dipake buat belajar karena nggak akan bikin lo konsentrasi! Percaya deh sama gue. Intinya, tips nomor dua: Jangan belajar sehari sebelom tes, apalagi beberapa jam sebelom tes. Bawa-bawa buku latihan IELTS tebel-tebel ke tempat tes bukannya bikin elo keliatan keren, tapi malah bikin lo repot sendiri.

Tes pertama yang dilaksanakan panitia adalah tes Listening. Waktunya kurang lebih 40 menit. Dalam sesi tes ini, yang paling penting adalah lo harus pasang kuping dan konsentrasi 100%. Pasang kuping doang tanpa konsentrasi pasti bikin lo keteteran, karena nggak semua jawaban yang bener langsung diucapkan di soal. Ada yang seolah jawabannya bener, eh ternyata dikoreksi (bagian dari dialog). Ada juga yang kata-katanya sedikit berbeda dari soal tertulis, sehingga lo harus mikir dua kali untuk nyocokin kata-kata di dialog audio dengan di soal tertulis. Untungnya, untuk sesi Listening ini, lo dikasih waktu 10 menit terakhir untuk transfer semua jawaban lo ke lembar jawaban. Jadi, pas lagi ngejawab, lo harus jawabnya di soal. Boleh kok, dicoret-coret.

Setelah tes pertama, tes kedua langsung dijalanin yaitu tes Reading. Jangan pikir ada jeda karena setelah lo masuk ruangan tes, lo akan terus terkurung disitu sampe 3 jam lamanya. Jadi kalo lo ada masalah ke toilet lebih baik diselesaikan sebelum tes berlangsung, karena akan susah banget minta ijin ke toilet pas lagi tes. Dalam tes Reading, ada tiga bacaan yang harus lo baca dan 40 soal yang harus lo isi. Nah, gue bakal ngasih lumayan banyak tips di bagian Writing ini, jadi gue akan nulis dalam bentuk poin-poin biar nggak terlalu ngerepotin.

1. Jangan langsung baca bacaan, melainkan lo harus cek dulu soalnya. Lihat soalnya dulu, baru cari jawabannya di bacaan.

2. Usahakan lo bisa membaca cepat, karena ini sangat berfungsi dalam mengerjakan soal Reading. Jangan asal baca cepat, lo harus bisa baca cepat sambil ngumpulin informasi sekaligus.

3. Manajemen waktu sangat penting dalam mengerjakan soal Reading. Dalam tes ini, total waktunya adalah 60 menit. Petugas bakal ngasih tau kalo waktu tinggal 40, 20, 10, dan 5 menit. Penting buat lo untuk nulis pukul berapa lo memulai sebuah soal (satu bacaan soalnya bisa 10 sampai 15 nomor), kemudian setelah selesai bacaan tersebut, lo tulis juga pukul berapa lo selesai. Lakukan hal ini untuk tiga bacaan dalam soal. Usahakan lo punya target waktu untuk menyelesaikan satu bacaan, jangan dilama-lamain, karena kalo lo ngelakuin manajemen waktu kayak gini, dijamin lo punya waktu ekstra 5-7 menit untuk koreksi jawaban-jawaban salah atau baca ulang soal-soal yang menurut lo ambigu.

4. Perhatikan baik-baik soal YES, NO, NOT GIVEN. Pernyataan ‘YES’ berarti soal setuju dengan bacaan, atau soal ada di bacaan. Pernyataan ‘NO’ berarti soal nggak setuju atau nggak ada di bacaan. Pernyataan ‘NOT GIVEN’ berarti soal nggak disebut di bacaan. Kadang pada kecele di bagian ini, nih.

Setelah enam puluh menit, penguji bakal ngambil soal dan lembar jawaban lo lalu menggantinya dengan soal dan lembar jawaban untuk Writing. Ada dua lembar jawaban Writing, satu warna oranye, satu warna putih. Soal di bagian Writing memang cuma dua (Task 1 dan Task 2), tapi ini termasuk penting, karena di bagian ini, kemampuan nulis lo akan diuji. Waktu ngerjain bagian ini juga sama kayak Reading yaitu 60 menit. Gue punya beberapa tips untuk bikin lo ngerasa tenang ngerjain bagian IELTS ini, yang lagi-lagi akan gue rangkum dalam beberapa nomor.

1. Jangan keburu-buru nulis. Baca soal baik-baik, lalu tulis poin-poin yang mau lo kembangan jadi paragraf di lembar soalnya.

2. Task 1 isinya disuruh ngejelasin gambar/tabel/grafik/peta, sementara Task 2 lebih ke kemampuan argumentasi dan deskripsi lo. Nilai task 2 lebih besar daripada task 1 (Sekitar dua kali lebih besar), jadi gue saranin lo alokasi waktu lebih besar di task 2. Gue bener-bener grogi di Task 1, makanya kemarin gue bagusin karangan gue di Task 2, biar gue bisa dapet nilai lumayan bagus sekalipun Task 1 gue dinilai jelek banget.

3. Jangan lupa, manajemen waktu juga penting dalam bagian ini. Lakuin hal yang sama seperti tips gue di bagian Reading soal manajemen waktu. Niscaya kalian punya banyak waktu untuk ngebenerin printilan tulisan kalian, seperti kata-kata yang salah atau grammar yang nggak konsisten.

4. Task 1 nyuruh lo nulis karangan tidak lebih dari 150 kata, sementara task 2 nyuruh lo nulis nggak lebih dari 250 kata. DO WHAT THEY WANT YOU TO DO. Jangan sok kepinteran bikin karangan sampe berparagraf-paragraf panjangnya, karena pasti gak bakal dibaca sama pemeriksa IELTS. Mereka pengen liat seberapa bisa lo merangkum jawaban lo dalam karangan 4 paragraf yang simpel, tapi maknanya keliatan jelas.

Nah, setelah tes Writing ini, selesai sudah penyiksaan otak tiga jam di ruangan super dingin! Lo akan disuruh keluar ruangan dan kembali 30 menit sebelum tes Speaking. Untuk tes Speaking, saran gue cuma satu: PEDE AJA. Jangan takut liat pengujinya bule, jangan grogi, hajar aja ngomong hal-hal yang diminta sama mereka, tapi jangan cepet banget kayak kereta Shinkansen gitu juga ya. Menurut temen gue di kantor yang adalah pengajar IELTS, di tes Speaking, kemampuan lo yang diliat cuma kemampuan kefasihan lo berbahasa Inggris dan bagaimana lo mengucapkan kata-kata secara benar. Masalah tata bahasa itu nomor sekian. Selama penguji masih bisa ngerti apa maksud lo, you’re on the right track. Yang bisa gue kasih tau untuk tes Speaking ini adalah lo akan menghabiskan 10-12 menit di ruangan kosong bersama penguji, dan lo akan diajak ngobrol sebanyak tiga sesi. Sesi pertama, penguji bakal nanya informasi dasar tentang lo. Sesi kedua, penguji bakal ngasih lo sebuah topik dan lo harus ngomong 1 menit tentang topik tersebut berikut poin-poin yang ditanyakan. Sesi ketiga, penguji akan bawa topik dari sesi kedua, bedanya sesi ketiga topiknya akan jauh lebih advanced. Gue di sesi kedua disuruh ngomongin seseorang yang gue kenal yang menurut gue pinter. Lalu di sesi ketiga, pembicaraan jadi ngomongin masalah intelegensia. Apakah orang pinter bisa sombong? Apakah orang pinter dibutuhkan di masyarakat? Apakah masyarakat bisa menerima orang pinter dalam kehidupan mereka? Hal-hal seperti itu lah.

Udah tes, tinggal berdoa dan menunggu pengumuman, deh! Biasanya hasil tes akan keluar 14 hari setelah hari tes. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian yang mau ngambil tes IELTS, ya!