Jalan-jalan ala Hippie di Vama Veche

Mau jalan-jalan murah di Eropa Timur? Cobain ke Rumania, deh! Gue dan R sudah merencanakan trip ini sejak bulan Februari dan saat itu harga tiket Amsterdam-Bucharest pulang pergi adalah sekitar 200 euro. Lumayan mahal, tapi kata bokap tirinya R, paling murah adalah 150 euro, jadi 200 euro itu nggak mahal-mahal amat, lah.

Setelah menghabiskan waktu 2 hari di Tulcea (kampungnya R yang adalah kota kecil di delta sungai Danube), kami memutuskan untuk pergi ke selatan, tepatnya ke kota pantai bernama Vama Veche.

Perjalanan dari Tulcea ke Vama Veche tuh lamaaaa… banget. Apalagi untuk orang-orang yang sudah terbiasa dengan sistem kereta cepat dan tepat waktu seperti kami. Dari Tulcea, kami harus naik kereta ke Medgidia, lalu sambung kereta lain lagi ke Constanta, dari Constanta naik kereta lagi selama 1 jam 30 menit ke Mangalia, dan dari Mangalia harus naik minibus ke Vama Veche selama 20 menit. Total jam perjalanan: kurang lebih 5 jam! Si R udah mati gaya berkali-kali di perjalanan, persis gue waktu umur 5 tahun yang nggak pernah sabar di mobil tiap kali mau ke rumah Nini di Bandung.

Inilah rute perjalanan kami. 2 jam 23 menit itu kalau pake mobil ya…

Sesampainya gue di Vama Veche, gue langsung terkesima dengan gaya hidup hippies mereka yang masih terlihat disana-sini. Vama Veche adalah desa pantai kecil yang berbatasan langsung dengan Bulgaria. Denger-denger, kita bisa jalan kaki ke Bulgaria cuma dengan menyusuri garis pantai, lho. Vibe kota ini agak mirip Kuta versi murah dikit, lah. Dimana-mana banyak restoran, toko suvenir, bar pantai, dan penginapan serba murah.

Vama Veche sudah terkenal sejak tahun 1970-an, saat itu ada banyak sekali hippies yang tinggal berbulan-bulan di pantai dengan tenda mereka. Kerjaan mereka? Yoga tiap hari, leyeh-leyeh, berenang, pokoknya bebas banget lah. Tiga tahun lalu R juga pernah ke sini, dan selama disini dia terus-terusan mengungkapkan kekecewaannya. Katanya, tiga tahun lalu belum banyak bar di pantai sehingga dia bisa bikin tenda dimana saja. Sekarang tempat tenda-tenda itu sudah dimakan bar-bar yang menyediakan tempat berjemur.

Ya, kalian nggak salah baca lagi, Vama Veche terkenal dengan kultur berkemah. Sejak dulu, seluruh warga Rumania selalu pergi ke desa ini di musim panas untuk berkemah. Kami akhirnya menemukan satu tempat berkemah di pojokan pantai. Selama tiga hari kami disana, kami berkemah selama 1 malam. Sisa 2 malam dihabiskan di motel karena R ribet sama masalah kamar mandi, hehehe… Di tempat kemah tersebut ada banyak orang yang sudah pasang kemah selama berhari-hari seperti tetangga kami, dan lebih banyak lagi orang berkemah di akhir minggu. Ngomong-ngomong, orang Rumania kalo berkemah bisa niat banget lho, sampe bawa kemah super gede, kasur angin, dan perlengkapan dapur segala!

Kami menghabiskan 3 hari yang sangat santai di Vama Veche. Bangun siang, kemudian sarapan, berjemur 1 jam, pergi cari makan, minum di bar, tidur siang, berjemur lagi, makan malam, minum di bar, nonton layar tancap, begitu terus setiap hari. Makanan di Vama Veche rata-rata murah banget untuk kantong Euro, disana gue berasa jadi orang super tajir. Makanan kami paling mahal adalah saat makan steak di sebuah restoran steak, begitu bon keluar ternyata kami harus bayar 380 Lei (sekitar 87 euro)!!! Biasanya makan cuma sekitar 10-20 euro untuk berdua, gimana nggak mau serangan jantung? Penginapan juga cukup murah, kami sempat dapat penginapan dengan harga 80 lei (17 euro) per malam untuk dua orang dan 150 lei (32 euro) per malam untuk dua orang. Gimana nggak mau berasa tajir?

Untuk menutup tulisan ini, gue akan memberikan sekelibat foto-foto Vama Veche. Selamat menikmati!

Nonton layar tancap di tepi pantai. Ini film Harry Potter.
Beach bar di Vama Veche. Kami nggak minum disini karena punya tenda dan handuk pantai sendiri.
Makan malam hari pertama, di restoran seafood yang pas dengan pemandangan Laut Hitam.
Vama Veche saat hampir matahari tenggelam

Gimana? Tertarik dengan Vama Veche? Untuk yang berminat pergi ke sini, keep in mind bahwa kota ini dibuka untuk umum setiap 1 April sampai akhir musim panas. Selamat merencanakan liburan ke Vama Veche!

Etika Jadi Turis

Sepertinya tulisan bernada seperti ini udah sering banget ditulis oleh rekan-rekan blogger lain. Kali ini gue mau ikutan ah, dan dengan nada sangat tidak menggurui, gue mau ‘ngajarin’ kalian gimana cara menjadi turis yang baik dan benar, apalagi kalau kalian orang Indonesia yang baru pertama kali pergi ke negara yang jauh… contohnya negara-negara di Eropa. Gue kasih contoh negara-negara Eropa saja ya.

Kenali Etika Berbasa-basi di Negara Setempat

Orang Eropa tuh, basa-basinya beda sama orang Indonesia. Di Indonesia, basa-basinya sekitaran pertanyaan-pertanyaan seperti ini: “Eh, mau kemana?”, “Mbak/Mas sekolah atau kuliah?”, dan “Udah makan, belom?”. Di Eropa, basa-basinya biasanya ngobrolin cuaca. Duh, sebenernya ngobrolin cuaca di Eropa tuh menyenangkan lho, karena bisa aja kita ngobrol tentang apa yang kita lakukan kemarin saat cuaca lagi badai (“Eh, kemaren badai banget ya, gue nggak bisa keluar rumah, lho!” atau saat cuaca lagi cerah-cerahnya (“Duh, panas banget ya hari ini, pengen makan es krim”).

Kenapa gue tulis ini jadi nomor satu? Karena banyakan turis Indonesia mengira bahwa basa-basi dimana-mana tuh sama aja. Contohnya waktu kemarin jalan-jalan ke Austria bersama keluarga, gue harus menahan malu saat bokap terus-terusan nanya ke setiap supir Uber yang kami tumpangi, “Asalnya dari mana?”. Menurut gue, agak nggak sopan buat seseorang nanya asal saat baru pertama bertemu. Mungkin di Indonesia wajar karena di Indonesia kan suku-nya yang beragam, bukan negara asal, tapi kan Indonesia nggak kayak Eropa yang penduduknya heterogen… Apalagi supir-supir Uber tersebut bukan orang Austria asli karena asal mereka beragam mulai dari Suriah sampai Turki. Yang bikin lebih facepalm, pas si supir tersebut bilang dari Suriah, bokap gue jawab, “Wah, orang kamu banyak yang ke negara saya, cari cewek!” (Mungkin maksud dia adalah fenomena kawin kontrak di daerah Puncak). Mampus, rasanya gue malu banget!

Kalau Dijutekin, Jangan Baper

“Jutek” di negara-negara Eropa bisa diartikan sebagai “direct“. Pekerjaan servis di Eropa tuh biasanya terkenal dengan pace yang sangat cepat dan servis yang no bullshit, nggak seperti di Indonesia yang penuh senyum dan pramusajinya rela nungguin pelanggan nentuin pesanan yang sering berubah-ubah. Tugas si pramusaji ya mencatat order dan menyajikan pesanan, sekaligus urusan bayar-membayar. Kalo kamu beli makanan di restoran, tentuin dulu makanan yang mau dipesan sebelum si pramusajinya datang biar begitu dia datang, kamu bisa langsung pesan. Bukannya nyuruh si pramusaji nongkrong di meja kalian sementara kalian baca menu, itu nggak efektif namanya.

Kalo kamu punya pengalaman dijutekin sama pegawai servis di Eropa, bisa jadi kamu ngelakuin sesuatu yang bikin kerjanya terhambat, seperti kelamaan pesan, atau ganti-ganti pesanan. Jelas aja si pramusaji jutek sama kamu! Kalau sudah dijutekin gini, jangan malah jadi defensif karena jelas-jelas salahnya ada di kamu dan bukan si pramusaji.

Begitu juga kalau dapat supir Uber yang nggak mau ngobrol. Lha kan mereka hanya supir, tugas mereka cuma buat mengantar kamu ke tempat tujuan, bukan ngeladenin kamu ngobrol. Kalau dapat supir yang nggak banyak ngomong ya nggak usah dikasih rating rendah. Toh dia nggak ngapa-ngapain kamu, kan?

Bebas Ngomong Apa Saja

Selama gue pergi berlibur ke Austria dengan keluarga (bokap, nyokap dan dua adik), mereka punya satu kebiasaan yang menurut gue agak aneh: bisik-bisik saat ngomongin negara-negara asal refugee dan soal refugee crisis.

Kenapa aneh? Karena menurut gue masalah ini adalah masalah terbuka buat diomongin semua orang, apapun pendapat mereka. Tapi gue paham kenapa mereka bisik-bisik, mungkin menurut mereka itu isu sensitif dan yang paling penting kan mereka gak mengalami hal tersebut, cuma denger-denger soal berita ini dari media massa yang entah tendensinya kemana. Kalau gue, karena gue mengalami tinggal di negara yang banyak imigrannya (lha gue juga imigran, kan…) jadi gue pendekatannya cenderung lebih santai.

Kalau datang ke Eropa dan mau kelihatan sedikit berbobot, mulailah cari-cari berita yang netral tentang krisis imigran dari sekarang. Jangan lupa, bacanya harus tanpa penilaian apapun dan seobjektif mungkin. Biar nanti kalau dapat supir Uber dari Suriah atau negara-negara konflik lainnya, nggak kaget seperti bapak gue.

Kayaknya hanya segitu aja uneg-uneg gue tentang etika orang Indonesia ketika main ke negara-negara Eropa. Ada yang mau nambahin?

 

About Patronizing

Selama liburan di Indonesia kemarin, banyak sekali observasi tidak sengaja yang gue temui yang terjadi di masyarakat. Jika sebelum liburan gue mengalami ketakutan terhadap reverse culture shock, ternyata gue mengalami hal tersebut. Kalau ditanya orang, bentuk reverse culture shock yang dialami setiap orang tentu berbeda. Ada yang merasa culture shock dialami dari sikap keluarga dan teman yang berubah terhadap mereka, ada juga yang merasa bentuk reverse culture shock dialami dengan cara mengalami semua hal yang dulu selalu kita lakukan sebelum pindah ke negara lain, namun kini kita lebih kritis terhadap hal-hal tersebut.

Gue mengalami reverse culture shock dari contoh yang kedua, yaitu dari observasi yang gue temui di masyarakat. Dulu sebelum pindah ke Belanda, gue merasa kebiasaan-kebiasaan ini adalah hal yang normal. Kini, gue merasa semacam geli sendiri sudah merasa hal tersebut normal, dan cenderung kritis. Hal yang mau gue bahas disini adalah kebiasaan merasa kasihan terhadap orang lain, contohnya orang-orang nggak beruntung dan mengalami keterbatasan fisik.

Di Indonesia, gue selalu nonton sebuah acara game show di sebuah kanal TV swasta pagi hari (sekitar jam 8 pagi). Premis dari acara tersebut cukup sederhana, yaitu sebuah permainan dengan model probabilitas, semacam permainan ‘pilih uang atau pintu’ (baca lebih lanjut: Monty Hall probability theory). Yang bikin menarik, di bulan Ramadhan ini, kontestan acara TV tersebut rata-rata adalah orang tidak mampu dan memiliki keterbatasan fisik.

Waktu awalnya gue nggak sengaja nonton ini, gue menanggapinya dengan biasa aja. Jujur aja gue kurang suka nonton TV dan gue cenderung lebih suka menjadikan suara TV sebagai background noise saja. Tapi lama-lama gue memperhatikan acara TV ini dan gue menemukan banyak sekali hal yang janggal, yang bisa digolongkan dalam satu kalimat: Kita masih suka merasa kasihan (pitying) orang lain.

Rasa kasihan tentu sering dialami oleh kita semua, ketika melihat sesuatu atau seseorang yang kita rasa kurang beruntung dari kita, contohnya orang-orang difabel, orang dengan keterbatasan ekonomi, dll. Menurut gue itu adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi lama-lama gue semacam geli dengan perilaku orang yang terlalu sering suka merasa kasihan dengan orang lain, seolah-olah kehidupan orang yang dikasihani mereka itu sangat sangat susah. Contohnya para kontestan di acara TV ini. Nggak jarang si kontestan dipanggil secara acak, kemudian sebelum main, si pembawa acara nanya-nanya seputar kehidupan si kontestan dan menjadikan acara tersebut kayak semacam festival khusus buat mengasihani si kontestan hanya karena dia cacat fisik atau datang dari kalangan masyarakat kelas bawah. Nggak jarang juga kamera menyorot tatapan para penonton di studio yang menatap si kontestan dengan tatapan iba yang cenderung berlebihan, bahkan ada juga yang menangis di studio. Semuanya dilakukan dengan alasan rating.

Gue menganggap acara-acara dan praktek mengasihani orang lain ini sangat berlebihan. Kenapa? Karena tanpa kita sadari, sebenarnya orang-orang yang kita kasihani itu ingin dianggap setara dengan orang lain, dan orang yang melakukan tindakan mengasihani itu sedang melakukan sesuatu bernama patronizing. Patronizing adalah sesuatu yang kita lakukan ketika kita melakukan sesuatu yang baik, namun seolah-olah mereka lebih rendah daripada kita, sehingga menghasilkan perasaan atau sebuah situasi dimana seseorang/sebuah kelompok merasa superior daripada yang lain. Dalam konteks ini, padahal bisa jadi orang-orang yang jadi kontestan di acara TV ini emoh dikasihani dan ingin dianggap setara. Contohnya mereka mau berusaha dianggap setara ya dengan cara bekerja, biarpun itu sebagai buruh tani atau tukang cuci keliling. Walaupun lagi-lagi pekerjaan itu sering dianggap sebagai ‘pekerjaan yang butuh dikasihani’ oleh orang lain dengan kemampuan ekonomi yang lebih. Kita juga nggak tahu kan, siapa tahu mereka bekerja sebagai buruh cuci tapi hidupnya bahagia? Yang namanya kebahagiaan itu nggak bisa diukur dari seberapa uang yang kita punya atau apakah kita punya bagian tubuh yang lengkap atau nggak, kan?

Terlebih lagi, rating adalah segalanya, kita nggak bisa bohong dengan itu. Sepertinya orang-orang Indonesia memang suka sekali merasa iba yang berlebihan terhadap orang yang mereka rasa kurang beruntung, sehingga banyak sekali acara TV yang intinya mengasihani dan mengeksploitasi orang miskin. Contohnya adalah beberapa reality show yang memberi sejumlah uang kepada orang kurang mampu asal mereka harus membelanjakan uang tersebut dalam waktu 1 jam, reality show renovasi rumah orang tidak mampu, atau reality show semacam pertukaran nasib antara orang kaya dengan orang miskin. Dalam semua acara TV ini, ada satu kesamaan: kehidupan si miskin digambarkan serba kekurangan dengan latarbelakang musik sedih dan narasi ala-ala hidup orang susah. Lama-lama gue malas lihatnya, karena masalah lain akan muncul: patronizing yang berakhir dengan eksploitasi orang miskin. Dulu sih gue menganggap ini sebuah hal yang normal, tapi sekarang gue malah geli sendiri dengan kelakuan gue dulu yang menganggap hal ini biasa aja. Kalau kayak begini terus, yang namanya masyarakat setara ya nggak akan terjadi, karena media juga terus-terusan mengekspos jurang antar kelas ekonomi dalam masyarakat.

Bagaimana dengan kalian? Apakah secara tidak sadar kalian masih suka mengasihani orang lain yang cenderung ke arah patronizing?

Curhat: Last Day.

Tanpa terasa, malam ini adalah malam terakhir gue di Indonesia. Selama di Indonesia selama satu bulan penuh, gue berhasil kembali bergaul dengan teman-teman lama yang sudah ada sejak gue kuliah, juga kembali bertemu dengan adik-adik dan sepupu-sepupu yang ekstrovert dan seru-seru. Esok malam gue akan kembali bertolak ke Belanda dengan tujuan yang berbeda dari tahun lalu. Jika tahun lalu gue bertolak untuk belajar, kali ini gue bertolak kembali ke negeri Kincir Angin untuk mencari peruntungan.

Jika gue disuruh menyimpulkan liburan gue ini dengan satu kata, gue akan memilih kata ‘Tekanan’. Mungkin kalian sudah baca tulisan gue tentang bagaimana gue ditekan keluarga untuk tidak buang-buang waktu beberapa minggu lalu. Ya, tekanan selalu gue alami selama liburan, terutama di seminggu terakhir. Karena tekanan, gue jadi malas bertemu orangtua dan oma opa karena mereka pasti menyelipkan obrolan berbau pekerjaan yang ujung-ujungnya gue selalu diberi wejangan untuk terus melihat pekerjaan juga di Indonesia. Ya intinya nyuruh gue pulang. Atau juga tekanan dari oma gue beberapa minggu yang lalu seperti dengan seenaknya membandingkan gue dengan anak dari salah satu rekannya yang kerja di Amerika dengan gaji yang sudah berapa digit. Kemudian dia menambahkan, kalau kerja di luar negeri tuh ya cari pekerjaan yang gajinya besar kayak begitu, kalau gajinya biasa aja ya lebih baik pulang. Kesal sekali gue rasanya dibandingkan seperti itu, tanpa mengerti faktor lain seperti kemungkinan besar anaknya si kerabat oma itu sudah lama menetap di Amerika sejak lulus dan sudah punya kerjaan tetap jadi gajinya bisa sampai belasan digit per tahun. Masa iya orang seperti itu dibandingkan dengan gue yang baru lulus dan pengalaman kerja masih level pemula?

Gue merasa yakin bahwa dengan orangtua gue memberi tekanan seperti ini, tandanya mereka nggak paham bagaimana cara menghadapi gue. Tekanan yang mereka berikan kebanyakan berupa kata-kata pasif agresif atau singgungan yang nggak perlu, yang malah bikin gue kesel karena gue tipe orang yang selalu bicara apa adanya dan menginginkan orang lain juga bicara apa adanya ke gue. Di sisi lain, gue nggak merasa perlu buang-buang waktu menjelaskan ke mereka bahwa ini pilihan gue, tolong hargai dan semangati pilihan hidup gue walaupun mungkin kalian menginginkan hal sebaliknya. Jauh dari keluarga nggak akan membuat gue jadi satu derajat lebih rendah, melainkan gue akan sangat berterima kasih karena diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup dan mengembangkan potensi pribadi tanpa harus bawa-bawa nama keluarga atau memikirkan “Gimana kalau keluarga X lihat ini? Gimana kalau keluarga Y lihat ini?”. Diberikan perlakuan pasif agresif malah membuat gue merasa kurang percaya diri dan merasa bersalah karena dapat pemikiran lagi-lagi gue meninggalkan keluarga, semua salah gue, kenapa gue egois sekali, dll dsb. Anehnya, sisi lain dari gue justru lebih merasa seperti dipecut untuk membuktikan ke keluarga gue bahwa gue bisa lho mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup dan bikin gue bahagia, dan lama-lama mimpi gue mandiri secara finansial pasti akan tercapai.

Salah satu indikator lain bahwa keluarga gue nggak paham gue adalah bahwa mereka menganggap gue belum berubah. Memang, kebiasaan-kebiasaan yang gue lakukan adalah kebiasaan yang selalu gue lakukan saat sebelum pindah, dan dengan begitu mereka bilang gue nggak berubah. Padahal sebenarnya gue sangat berubah 180 derajat dari gue yang dulu. Gue jadi jauh lebih mudah beropini, berargumen, dan jauh lebih percaya diri dengan kemampuan diri sendiri. Sudah selesai masa-masa Crystal yang iya-iya aja, atau malas mikir. Sayangnya mereka menganggap gue yang tidak berubah adalah gue yang lebih baik, padahal sebenarnya gue sudah berubah banyak sejak terakhir gue tinggal di rumah ini.

Gue sungguh sangat nggak sabar untuk pulang ke Belanda. Ya, pulang. Gue merasa sangat nyaman di Belanda karena dipenuhi dengan orang-orang di sekitar gue yang: a) sama-sama mencari kerja, dan b) sangat suportif dengan pilihan hidup gue. Mereka adalah teman-teman yang sudah gue anggap seperti keluarga sendiri. Aneh rasanya menganggap Belanda jauh lebih nyaman dari Indonesia, tempat dimana gue lahir dan dibesarkan. Jauh lebih nyaman karena di Belanda isinya adalah orang-orang yang mendukung gue dan berani berkata jujur di depan wajah gue, ketimbang orang-orang yang bersikap pasif agresif tentang jalan hidup gue. Semoga begitu gue kembali ke Belanda, jalan karir gue semakin terbuka lebar dan gue cepat dapat kerja, apapun itu pekerjaannya. Gue nggak sabar untuk membuktikan ke keluarga gue bahwa gue bisa mandiri secara finansial dan gue bisa make my own living di sebuah negara yang letaknya 13 ribu km jauhnya dari negara asal gue.

Curhat: When You Feel Belittled (……………… by your own family)

051ae34263b47b282171db67c2992f6602ffcd-wm

Mau curhat dikit, ah…

Jadi sudah sekitar dua minggu gue tinggal di Jakarta dan tinggal kurang dari dua minggu lagi sebelum gue kembali ke Belanda. Alih alih gue sedih meninggalkan keluarga dan teman, gue malah seneng. Kenapa?

Karena gue merasa keluarga gue nggak setuju dengan kepindahan gue ke Belanda.

Pada awalnya sih mereka setuju-setuju aja, apalagi bokap gue. Sampai kepulangan gue, mereka nggak pernah misah-misuh apa-apa. Sampai ketika hari pertama gue pulang, terjadilah sebuah dining table conversation yang membuat gue agak merasa nggak nyaman. Singkat kata, gue merasa orangtua gue (bokap nyokap dan oma opa) agak nggak setuju gue pindah ke Belanda untuk melanjutkan karir. Mereka nggak ngomong itu secara harfiah, sih, tapi mereka memberi kata-kata kode yang menjurus ke hal itu, seperti bokap gue yang tiba-tiba membandingkan gaji lulusan S2 di Indonesia dan di luar negeri. Kemudian mereka memberikan gue wejangan yang intinya bahwa gue nggak boleh menghabiskan waktu gue, karena yang namanya waktu itu bergulir sangat cepat. Oke lah ya, gue menerima saran itu, tapi bukan berarti gue akan mengubah pikiran gue tentang pindah ke Belanda untuk mencari kerja dan melanjutkan hidup.

Kemudian setelah dua minggu masalah ini nggak diomongin, tadi pagi oma gue baru saja melakukan sesuatu yang menurut gue sangat nggak sopan dan membuat gue ngerasa sangat nggak nyaman. Jadi begini, setiap pagi keluarga gue (oma, opa dan tante) suka mengadakan doa pagi. Karena gue tinggal di rumah oma gue selama liburan, mau nggak mau gue harus ikutan juga (mereka nggak tau bahwa gue udah nggak practice agama Kristen tapi masih tetap mengaku Kristen). Kemudian oma gue berdoa untuk gue. Awalnya gue udah ngerasa seneng, tapi dia mendoakan rencana gue pulang kembali ke Belanda dan dia menambahkan embel-embel “supaya gue nggak membuang waktu gue”.

Gue yang cuma pose berdoa, langsung kaget. Berarti benar adanya, mereka menganggap bahwa kepindahan gue ke Belanda hanya untuk membuang waktu, dong? Langsung pada saat itu gue merasa sangat nggak nyaman, berbagai pikiran otomatis langsung muncul di kepala gue, seperti kalimat-kalimat ini:

“Jadi dia merasa kepindahan gue ke Belanda ini semacam usaha gue buang-buang waktu gue, gitu? Justru gue JAUH lebih menghabiskan waktu gue tinggal di Indonesia daripada di Belanda, tau! Emangnya dia pikir gue cuma bakal leha-leha ngabisin tenaga, uang dan waktu pas gue nanti tinggal di Belanda? Gue ini pindah ke Belanda karena gue tau negara itu jauh lebih memberikan gue ruang untuk bergerak dan menjadi dewasa untuk kedewasaan gue secara pribadi!”

Sumpah, rasanya menjadi ‘kecil’ itu nggak enak banget. Gue bener-bener ngerasa dikecilkan saat oma gue berdoa seperti itu. Kenapa sih dia nggak bilang supaya gue cepat dapat kerja, apalah, yang lebih positif? Mendoakan supaya gue ‘nggak buang-buang waktu’ saat di Belanda sama aja membuat gue berasumsi bahwa dia berpikir kepindahan gue ke Belanda hanya membuang-buang waktu gue, disaat gue berpikir kenapa gue nggak pindah dari dulu aja karena negara ini sungguh membuang waktu gue.

Teman-teman, pernah ngerasa dikecilkan oleh orang-orang terdekat seperti keluarga?

Yang Berubah Dari Jakarta

Nggak terasa sudah mau seminggu gue menginjakkan kaki di Jakarta, kota besar yang rasanya punya hubungan love hate relationship dengan gue. Sebelum liburan, gue udah denger beberapa pesan-pesan dari teman-teman gue baik real life maupun bloggers tentang apa yang harus diantisipasi saat pulang kampung. Apalagi Indonesia secara umum dan Jakarta secara khusus itu perubahannya kan cepet banget, dengan pertambahan jalan, belum lagi gaya hidup masyarakat ibukota yang sering banget berubahnya.

Perubahan Indonesia yang super cepat ini bikin gue kaget dan bingung. Ternyata, satu setengah tahun itu ibarat seperti perubahan 10 tahun. Ini dia dua perubahan di Jakarta yang beda banget kayak di Belanda… Dan jujur aja gue masih sulit beradaptasi untuk hidup disini walaupun cuma untuk liburan.

Yang pertama, banyaknya tren makanan yang bikin bingung. Gue ini sebenernya tipe orang yang gampang settle sama makanan. Begitu nemu makanan yang pas, biasanya akan pesen makanan yang setipe terus. Hal ini nggak berlaku dengan tren makanan yang sedang menjamur di Jakarta. Contohnya aja, makanan di Jakarta yang lagi ngetop adalah makanan tradisional yang dikreasikan seperti martabak dan kue cubit, udah gitu ada juga kreasi bakso. Tempat tempat dessert lucu semakin menjamur, demikian pula dengan rumah kopi.

Nah, rumah rumah kopi ini yang menurut gue agak lucu. Karena gue terbiasa dengan rumah kopi yang sederhana di Belanda, jadi begitu gue pergi ke rumah kopi disini, gue agak kaget dengan banyaknya menu yang disajikan. Di Belanda, sebuah rumah kopi kecil cuma jualan beberapa macam kopi standar, teh, dan beberapa jus organik. Makanannya hanya ada pilihan kue-kue handmade yang setiap hari berubah-ubah (tergantung yang punya, bikin kue apa), dan makanan berat paling hanya ada sandwich. Di Indonesia? Kopi macam-macam ada, dan juga yang bikin kaget makanan beratnya bisa sampai ada menu nasi goreng dan menu sarapan berat seperti English breakfast segala. Jelas itu bikin gue kaget karena gue terbiasa ngopi di rumah kopi yang kecil dan nggak banyak menu.

Yang kedua, masyarakat Indonesia sekarang semakin dimanjakan dengan servis. Ibarat orang norak, dua hal yang langsung gue unduh di ponsel adalah aplikasi Uber dan Gojek. Sejauh ini gue sudah coba Uber sekali dan sudah coba Go-Food (produk dari Gojek) sekali. Walaupun Uber juga ada di Belanda, tapi tarifnya jauh lebih mahal daripada kalau naik kereta atau transportasi umum lainnya dan hanya ada di kota besar seperti Amsterdam.

Begitu gue mencoba servis terbaru di Indonesia, wah gue langsung mikir, “Wah, orang Jakarta makin dimanjain aja ya!” Di satu sisi, gue salut dengan banyaknya servis begini, karena memudahkan masyarakat Jakarta untuk melangsungkan hidup, Jakarta kan keras ya. Tapi di sisi lain, gue juga agak miris dengan banyaknya servis seperti ini karena gue takut lama-lama orang kota besar akan jadi malas. Mungkin karena waktu servis-servis ini muncul, gue lagi ada di Belanda, di negara yang menyuruh semua orang yang tinggal disana untuk melakukan sesuatu sendiri. Jadi begitu gue datang untuk liburan, gue kaget dengan semua servis yang ada dan malah jadi bersikap kritis (selain menggunakan servis itu untuk kenyamanan pribadi).

Berhubung gue baru kurang lebih seminggu di Jakarta, gue belum bisa menjelaskan lebih lanjut lagi perubahan-perubahan yang gue alami. Naik busway dan KRL lagi aja belum, kok! Nanti akan gue tulis lagi tentang suka duka gue liburan di Indonesia, ya.

Tragedi Seragam Tapi Bangga

Hai! Gue menulis ini di kamar lama gue di Jakarta. Sudah satu hari penuh gue di Jakarta dan sejauh ini perasaannya biasa aja. Nggak terlalu excited mau pulang kampung, tapi juga nggak terlalu sedih meninggalkan Belanda. Malah gue lebih banyak bosennya karena ninggalin temen-temen di Belanda, bukan cuma temen Indonesia tapi juga temen-temen Belanda dan internasional gue. Makanya dari tadi gue muter lagu-lagu Belanda biar kangen Belanda terobati.

Gue mau cerita tentang pengalaman lucu dan bikin malu pas di pesawat. Kemarin itu gue naik KLM dari Amsterdam ke Jakarta, dengan sekali transit di Kuala Lumpur. Pas perjalanan dari Amsterdam ke Kuala Lumpur sih menurut gue biasa aja, mungkin karena gue nggak begitu semangat juga untuk pulang kampung, atau karena itu adalah penerbangan malam. Jadi gue kerjaannya cuma nonton film, denger lagu, makan makanan pesawat, terus selanjutnya gue tidur. Biasanya gue malas tidur kalau perjalanan jauh, tapi kemarin itu gue rasanya pingin tidur terus. Nah, kelucuan dimulai saat gue terbang dari Kuala Lumpur ke Jakarta.

Kemarin itu, gue duduk di bangku terakhir pesawat. Geblek juga nggak bisa pilih tempat duduk sendiri. Tiba-tiba ada seorang ibu berjilbab dengan baju ngejreng warna kuning duduk di sebelah gue. Nggak lama kemudian, gerombolan tiga sampai empat ibu lain datang dan duduk di barisan sebelah gue, dan mereka juga sama-sama pakai baju kuning. Sumpah seragamnya gonjreng banget! Udah gitu dapet tempat duduk bukannya langsung duduk manis, malah selfie nggak jelas, pake flash juga. Gue sampe sok-sok fokus ke film yang lagi gue tonton karena gue ngeliat segerombolan ibu-ibu berbaju kuning pasti bikin gue sakit kepala.

Ibu-ibu ini ramenya minta ampun, tasnya bermerek semua, tapi ngakak-ngakak udah kayak di kampung sendiri. Berisik banget dan sebagai orang Indonesia entah kenapa gue malu ngeliat gerombolan ibu-ibu kaya tapi norak kayak begini. Udah gitu, seorang pramugara KLM nyoba basa-basi (tapi nyelekit, Belanda banget lah) dengan ngomong ke ibu yang duduk di sebelah gue, “Wow, so do you have to wear yellow outfit every Wednesday? So is it like Wednesday Yellow for you girls?”

Yang dijawab dengan bangga oleh ibu sebelah gue (gue rasa dia adalah juru bicara geng ibu-ibu kuning), “Oh, no… Today we decide to wear yellow because yesterday we wear green… And the day before we wore white…” Denger kata-kata ibu kepala geng bikin gue inget adegan ini di film Mean Girls:

mean-girls-pink-1

Nggak lama kemudian, ibu kepala geng buka-buka majalah katalog belanja KLM. Kemudian dia heboh banget mau beli jam tangan dan nanya-nanya sama pramugara. Yang bikin males adalah, dia langsung ngeluarin dompet dan ngeluarin duit US Dollar segepok terus diitungin di depan orang-orang. Dan dengan berisiknya dia teriak ke temen-temennya, “Eh duit gue kurang nih! Gue pinjem dolar lo dulu dong!” Kejadian itu berlangsung cukup lama, dan si ibu ketua geng sempet-sempetnya beli satu gelang dan satu jam tangan dengan duit USD-nya dan pinjeman dari temen-temennya. Gue ngedengernya dan ngeliatnya langsung geli banget, tapi gue pura-pura bego aja dan terus nonton.

Ketika pesawat sudah di udara, ibu ketua geng iseng-iseng nanya basa-basi ke gue. Pertanyaan standar seperti “Are you Indonesian?” Gue pengen bohong tapi nggak enak, akhirnya gue cuma jawab “Ya”. Terus seperti biasa ditanya lagi (heran banget kenapa sih orang Indonesia wajib banget nanya-nanya sesama orang Indonesia kalo lagi di jalan), “Indonesia-nya dari mana?” Gue cuma jawab, “Jakarta”. Kemudian dia nanya lagi, “Oooh… Di KL sekolah ya?” Gue cuma mengangguk. Kemudian ibu ketua geng nggak nanya-nanya lagi, kemungkinan besar mungkin dia mikir gue orang Indonesia yang nggak bisa bahasa Indonesia. Soalnya begitu pramugari datang nanya mau minum apa, gue minta minum pake bahasa Belanda. Biarin aja lah dianggap jadi orang Indonesia yang nggak bisa bahasa Indonesia, daripada gue diajak ngobrol terus basa-basi nggak jelas sama ibu ketua geng berisik.

Akhirnya dua jam berlalu dan gue berhasil keluar dari jeratan ibu-ibu berseragam kuning. Eh, ketemu mereka lagi di antrian imigrasi. Dan yang bikin nyebelin, ibu-ibu ini seenaknya ninggalin koper mereka di baris berikutnya (antriannya bentuknya belok-belok gitu, bukan garis lurus) karena mereka males narik koper mereka. Gila, malesin banget nggak sih! Dan mereka nggak malu juga ngelakuin itu, malah kesannya bangga, berasa pinter banget. Yang ada keliatannya malah kampungan dan males, boro-boro pinter!