About Patronizing

Selama liburan di Indonesia kemarin, banyak sekali observasi tidak sengaja yang gue temui yang terjadi di masyarakat. Jika sebelum liburan gue mengalami ketakutan terhadap reverse culture shock, ternyata gue mengalami hal tersebut. Kalau ditanya orang, bentuk reverse culture shock yang dialami setiap orang tentu berbeda. Ada yang merasa culture shock dialami dari sikap keluarga dan teman yang berubah terhadap mereka, ada juga yang merasa bentuk reverse culture shock dialami dengan cara mengalami semua hal yang dulu selalu kita lakukan sebelum pindah ke negara lain, namun kini kita lebih kritis terhadap hal-hal tersebut.

Gue mengalami reverse culture shock dari contoh yang kedua, yaitu dari observasi yang gue temui di masyarakat. Dulu sebelum pindah ke Belanda, gue merasa kebiasaan-kebiasaan ini adalah hal yang normal. Kini, gue merasa semacam geli sendiri sudah merasa hal tersebut normal, dan cenderung kritis. Hal yang mau gue bahas disini adalah kebiasaan merasa kasihan terhadap orang lain, contohnya orang-orang nggak beruntung dan mengalami keterbatasan fisik.

Di Indonesia, gue selalu nonton sebuah acara game show di sebuah kanal TV swasta pagi hari (sekitar jam 8 pagi). Premis dari acara tersebut cukup sederhana, yaitu sebuah permainan dengan model probabilitas, semacam permainan ‘pilih uang atau pintu’ (baca lebih lanjut: Monty Hall probability theory). Yang bikin menarik, di bulan Ramadhan ini, kontestan acara TV tersebut rata-rata adalah orang tidak mampu dan memiliki keterbatasan fisik.

Waktu awalnya gue nggak sengaja nonton ini, gue menanggapinya dengan biasa aja. Jujur aja gue kurang suka nonton TV dan gue cenderung lebih suka menjadikan suara TV sebagai background noise saja. Tapi lama-lama gue memperhatikan acara TV ini dan gue menemukan banyak sekali hal yang janggal, yang bisa digolongkan dalam satu kalimat: Kita masih suka merasa kasihan (pitying) orang lain.

Rasa kasihan tentu sering dialami oleh kita semua, ketika melihat sesuatu atau seseorang yang kita rasa kurang beruntung dari kita, contohnya orang-orang difabel, orang dengan keterbatasan ekonomi, dll. Menurut gue itu adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi lama-lama gue semacam geli dengan perilaku orang yang terlalu sering suka merasa kasihan dengan orang lain, seolah-olah kehidupan orang yang dikasihani mereka itu sangat sangat susah. Contohnya para kontestan di acara TV ini. Nggak jarang si kontestan dipanggil secara acak, kemudian sebelum main, si pembawa acara nanya-nanya seputar kehidupan si kontestan dan menjadikan acara tersebut kayak semacam festival khusus buat mengasihani si kontestan hanya karena dia cacat fisik atau datang dari kalangan masyarakat kelas bawah. Nggak jarang juga kamera menyorot tatapan para penonton di studio yang menatap si kontestan dengan tatapan iba yang cenderung berlebihan, bahkan ada juga yang menangis di studio. Semuanya dilakukan dengan alasan rating.

Gue menganggap acara-acara dan praktek mengasihani orang lain ini sangat berlebihan. Kenapa? Karena tanpa kita sadari, sebenarnya orang-orang yang kita kasihani itu ingin dianggap setara dengan orang lain, dan orang yang melakukan tindakan mengasihani itu sedang melakukan sesuatu bernama patronizing. Patronizing adalah sesuatu yang kita lakukan ketika kita melakukan sesuatu yang baik, namun seolah-olah mereka lebih rendah daripada kita, sehingga menghasilkan perasaan atau sebuah situasi dimana seseorang/sebuah kelompok merasa superior daripada yang lain. Dalam konteks ini, padahal bisa jadi orang-orang yang jadi kontestan di acara TV ini emoh dikasihani dan ingin dianggap setara. Contohnya mereka mau berusaha dianggap setara ya dengan cara bekerja, biarpun itu sebagai buruh tani atau tukang cuci keliling. Walaupun lagi-lagi pekerjaan itu sering dianggap sebagai ‘pekerjaan yang butuh dikasihani’ oleh orang lain dengan kemampuan ekonomi yang lebih. Kita juga nggak tahu kan, siapa tahu mereka bekerja sebagai buruh cuci tapi hidupnya bahagia? Yang namanya kebahagiaan itu nggak bisa diukur dari seberapa uang yang kita punya atau apakah kita punya bagian tubuh yang lengkap atau nggak, kan?

Terlebih lagi, rating adalah segalanya, kita nggak bisa bohong dengan itu. Sepertinya orang-orang Indonesia memang suka sekali merasa iba yang berlebihan terhadap orang yang mereka rasa kurang beruntung, sehingga banyak sekali acara TV yang intinya mengasihani dan mengeksploitasi orang miskin. Contohnya adalah beberapa reality show yang memberi sejumlah uang kepada orang kurang mampu asal mereka harus membelanjakan uang tersebut dalam waktu 1 jam, reality show renovasi rumah orang tidak mampu, atau reality show semacam pertukaran nasib antara orang kaya dengan orang miskin. Dalam semua acara TV ini, ada satu kesamaan: kehidupan si miskin digambarkan serba kekurangan dengan latarbelakang musik sedih dan narasi ala-ala hidup orang susah. Lama-lama gue malas lihatnya, karena masalah lain akan muncul: patronizing yang berakhir dengan eksploitasi orang miskin. Dulu sih gue menganggap ini sebuah hal yang normal, tapi sekarang gue malah geli sendiri dengan kelakuan gue dulu yang menganggap hal ini biasa aja. Kalau kayak begini terus, yang namanya masyarakat setara ya nggak akan terjadi, karena media juga terus-terusan mengekspos jurang antar kelas ekonomi dalam masyarakat.

Bagaimana dengan kalian? Apakah secara tidak sadar kalian masih suka mengasihani orang lain yang cenderung ke arah patronizing?

Curhat: Last Day.

Tanpa terasa, malam ini adalah malam terakhir gue di Indonesia. Selama di Indonesia selama satu bulan penuh, gue berhasil kembali bergaul dengan teman-teman lama yang sudah ada sejak gue kuliah, juga kembali bertemu dengan adik-adik dan sepupu-sepupu yang ekstrovert dan seru-seru. Esok malam gue akan kembali bertolak ke Belanda dengan tujuan yang berbeda dari tahun lalu. Jika tahun lalu gue bertolak untuk belajar, kali ini gue bertolak kembali ke negeri Kincir Angin untuk mencari peruntungan.

Jika gue disuruh menyimpulkan liburan gue ini dengan satu kata, gue akan memilih kata ‘Tekanan’. Mungkin kalian sudah baca tulisan gue tentang bagaimana gue ditekan keluarga untuk tidak buang-buang waktu beberapa minggu lalu. Ya, tekanan selalu gue alami selama liburan, terutama di seminggu terakhir. Karena tekanan, gue jadi malas bertemu orangtua dan oma opa karena mereka pasti menyelipkan obrolan berbau pekerjaan yang ujung-ujungnya gue selalu diberi wejangan untuk terus melihat pekerjaan juga di Indonesia. Ya intinya nyuruh gue pulang. Atau juga tekanan dari oma gue beberapa minggu yang lalu seperti dengan seenaknya membandingkan gue dengan anak dari salah satu rekannya yang kerja di Amerika dengan gaji yang sudah berapa digit. Kemudian dia menambahkan, kalau kerja di luar negeri tuh ya cari pekerjaan yang gajinya besar kayak begitu, kalau gajinya biasa aja ya lebih baik pulang. Kesal sekali gue rasanya dibandingkan seperti itu, tanpa mengerti faktor lain seperti kemungkinan besar anaknya si kerabat oma itu sudah lama menetap di Amerika sejak lulus dan sudah punya kerjaan tetap jadi gajinya bisa sampai belasan digit per tahun. Masa iya orang seperti itu dibandingkan dengan gue yang baru lulus dan pengalaman kerja masih level pemula?

Gue merasa yakin bahwa dengan orangtua gue memberi tekanan seperti ini, tandanya mereka nggak paham bagaimana cara menghadapi gue. Tekanan yang mereka berikan kebanyakan berupa kata-kata pasif agresif atau singgungan yang nggak perlu, yang malah bikin gue kesel karena gue tipe orang yang selalu bicara apa adanya dan menginginkan orang lain juga bicara apa adanya ke gue. Di sisi lain, gue nggak merasa perlu buang-buang waktu menjelaskan ke mereka bahwa ini pilihan gue, tolong hargai dan semangati pilihan hidup gue walaupun mungkin kalian menginginkan hal sebaliknya. Jauh dari keluarga nggak akan membuat gue jadi satu derajat lebih rendah, melainkan gue akan sangat berterima kasih karena diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup dan mengembangkan potensi pribadi tanpa harus bawa-bawa nama keluarga atau memikirkan “Gimana kalau keluarga X lihat ini? Gimana kalau keluarga Y lihat ini?”. Diberikan perlakuan pasif agresif malah membuat gue merasa kurang percaya diri dan merasa bersalah karena dapat pemikiran lagi-lagi gue meninggalkan keluarga, semua salah gue, kenapa gue egois sekali, dll dsb. Anehnya, sisi lain dari gue justru lebih merasa seperti dipecut untuk membuktikan ke keluarga gue bahwa gue bisa lho mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup dan bikin gue bahagia, dan lama-lama mimpi gue mandiri secara finansial pasti akan tercapai.

Salah satu indikator lain bahwa keluarga gue nggak paham gue adalah bahwa mereka menganggap gue belum berubah. Memang, kebiasaan-kebiasaan yang gue lakukan adalah kebiasaan yang selalu gue lakukan saat sebelum pindah, dan dengan begitu mereka bilang gue nggak berubah. Padahal sebenarnya gue sangat berubah 180 derajat dari gue yang dulu. Gue jadi jauh lebih mudah beropini, berargumen, dan jauh lebih percaya diri dengan kemampuan diri sendiri. Sudah selesai masa-masa Crystal yang iya-iya aja, atau malas mikir. Sayangnya mereka menganggap gue yang tidak berubah adalah gue yang lebih baik, padahal sebenarnya gue sudah berubah banyak sejak terakhir gue tinggal di rumah ini.

Gue sungguh sangat nggak sabar untuk pulang ke Belanda. Ya, pulang. Gue merasa sangat nyaman di Belanda karena dipenuhi dengan orang-orang di sekitar gue yang: a) sama-sama mencari kerja, dan b) sangat suportif dengan pilihan hidup gue. Mereka adalah teman-teman yang sudah gue anggap seperti keluarga sendiri. Aneh rasanya menganggap Belanda jauh lebih nyaman dari Indonesia, tempat dimana gue lahir dan dibesarkan. Jauh lebih nyaman karena di Belanda isinya adalah orang-orang yang mendukung gue dan berani berkata jujur di depan wajah gue, ketimbang orang-orang yang bersikap pasif agresif tentang jalan hidup gue. Semoga begitu gue kembali ke Belanda, jalan karir gue semakin terbuka lebar dan gue cepat dapat kerja, apapun itu pekerjaannya. Gue nggak sabar untuk membuktikan ke keluarga gue bahwa gue bisa mandiri secara finansial dan gue bisa make my own living di sebuah negara yang letaknya 13 ribu km jauhnya dari negara asal gue.

Curhat: When You Feel Belittled (……………… by your own family)

051ae34263b47b282171db67c2992f6602ffcd-wm

Mau curhat dikit, ah…

Jadi sudah sekitar dua minggu gue tinggal di Jakarta dan tinggal kurang dari dua minggu lagi sebelum gue kembali ke Belanda. Alih alih gue sedih meninggalkan keluarga dan teman, gue malah seneng. Kenapa?

Karena gue merasa keluarga gue nggak setuju dengan kepindahan gue ke Belanda.

Pada awalnya sih mereka setuju-setuju aja, apalagi bokap gue. Sampai kepulangan gue, mereka nggak pernah misah-misuh apa-apa. Sampai ketika hari pertama gue pulang, terjadilah sebuah dining table conversation yang membuat gue agak merasa nggak nyaman. Singkat kata, gue merasa orangtua gue (bokap nyokap dan oma opa) agak nggak setuju gue pindah ke Belanda untuk melanjutkan karir. Mereka nggak ngomong itu secara harfiah, sih, tapi mereka memberi kata-kata kode yang menjurus ke hal itu, seperti bokap gue yang tiba-tiba membandingkan gaji lulusan S2 di Indonesia dan di luar negeri. Kemudian mereka memberikan gue wejangan yang intinya bahwa gue nggak boleh menghabiskan waktu gue, karena yang namanya waktu itu bergulir sangat cepat. Oke lah ya, gue menerima saran itu, tapi bukan berarti gue akan mengubah pikiran gue tentang pindah ke Belanda untuk mencari kerja dan melanjutkan hidup.

Kemudian setelah dua minggu masalah ini nggak diomongin, tadi pagi oma gue baru saja melakukan sesuatu yang menurut gue sangat nggak sopan dan membuat gue ngerasa sangat nggak nyaman. Jadi begini, setiap pagi keluarga gue (oma, opa dan tante) suka mengadakan doa pagi. Karena gue tinggal di rumah oma gue selama liburan, mau nggak mau gue harus ikutan juga (mereka nggak tau bahwa gue udah nggak practice agama Kristen tapi masih tetap mengaku Kristen). Kemudian oma gue berdoa untuk gue. Awalnya gue udah ngerasa seneng, tapi dia mendoakan rencana gue pulang kembali ke Belanda dan dia menambahkan embel-embel “supaya gue nggak membuang waktu gue”.

Gue yang cuma pose berdoa, langsung kaget. Berarti benar adanya, mereka menganggap bahwa kepindahan gue ke Belanda hanya untuk membuang waktu, dong? Langsung pada saat itu gue merasa sangat nggak nyaman, berbagai pikiran otomatis langsung muncul di kepala gue, seperti kalimat-kalimat ini:

“Jadi dia merasa kepindahan gue ke Belanda ini semacam usaha gue buang-buang waktu gue, gitu? Justru gue JAUH lebih menghabiskan waktu gue tinggal di Indonesia daripada di Belanda, tau! Emangnya dia pikir gue cuma bakal leha-leha ngabisin tenaga, uang dan waktu pas gue nanti tinggal di Belanda? Gue ini pindah ke Belanda karena gue tau negara itu jauh lebih memberikan gue ruang untuk bergerak dan menjadi dewasa untuk kedewasaan gue secara pribadi!”

Sumpah, rasanya menjadi ‘kecil’ itu nggak enak banget. Gue bener-bener ngerasa dikecilkan saat oma gue berdoa seperti itu. Kenapa sih dia nggak bilang supaya gue cepat dapat kerja, apalah, yang lebih positif? Mendoakan supaya gue ‘nggak buang-buang waktu’ saat di Belanda sama aja membuat gue berasumsi bahwa dia berpikir kepindahan gue ke Belanda hanya membuang-buang waktu gue, disaat gue berpikir kenapa gue nggak pindah dari dulu aja karena negara ini sungguh membuang waktu gue.

Teman-teman, pernah ngerasa dikecilkan oleh orang-orang terdekat seperti keluarga?

Yang Berubah Dari Jakarta

Nggak terasa sudah mau seminggu gue menginjakkan kaki di Jakarta, kota besar yang rasanya punya hubungan love hate relationship dengan gue. Sebelum liburan, gue udah denger beberapa pesan-pesan dari teman-teman gue baik real life maupun bloggers tentang apa yang harus diantisipasi saat pulang kampung. Apalagi Indonesia secara umum dan Jakarta secara khusus itu perubahannya kan cepet banget, dengan pertambahan jalan, belum lagi gaya hidup masyarakat ibukota yang sering banget berubahnya.

Perubahan Indonesia yang super cepat ini bikin gue kaget dan bingung. Ternyata, satu setengah tahun itu ibarat seperti perubahan 10 tahun. Ini dia dua perubahan di Jakarta yang beda banget kayak di Belanda… Dan jujur aja gue masih sulit beradaptasi untuk hidup disini walaupun cuma untuk liburan.

Yang pertama, banyaknya tren makanan yang bikin bingung. Gue ini sebenernya tipe orang yang gampang settle sama makanan. Begitu nemu makanan yang pas, biasanya akan pesen makanan yang setipe terus. Hal ini nggak berlaku dengan tren makanan yang sedang menjamur di Jakarta. Contohnya aja, makanan di Jakarta yang lagi ngetop adalah makanan tradisional yang dikreasikan seperti martabak dan kue cubit, udah gitu ada juga kreasi bakso. Tempat tempat dessert lucu semakin menjamur, demikian pula dengan rumah kopi.

Nah, rumah rumah kopi ini yang menurut gue agak lucu. Karena gue terbiasa dengan rumah kopi yang sederhana di Belanda, jadi begitu gue pergi ke rumah kopi disini, gue agak kaget dengan banyaknya menu yang disajikan. Di Belanda, sebuah rumah kopi kecil cuma jualan beberapa macam kopi standar, teh, dan beberapa jus organik. Makanannya hanya ada pilihan kue-kue handmade yang setiap hari berubah-ubah (tergantung yang punya, bikin kue apa), dan makanan berat paling hanya ada sandwich. Di Indonesia? Kopi macam-macam ada, dan juga yang bikin kaget makanan beratnya bisa sampai ada menu nasi goreng dan menu sarapan berat seperti English breakfast segala. Jelas itu bikin gue kaget karena gue terbiasa ngopi di rumah kopi yang kecil dan nggak banyak menu.

Yang kedua, masyarakat Indonesia sekarang semakin dimanjakan dengan servis. Ibarat orang norak, dua hal yang langsung gue unduh di ponsel adalah aplikasi Uber dan Gojek. Sejauh ini gue sudah coba Uber sekali dan sudah coba Go-Food (produk dari Gojek) sekali. Walaupun Uber juga ada di Belanda, tapi tarifnya jauh lebih mahal daripada kalau naik kereta atau transportasi umum lainnya dan hanya ada di kota besar seperti Amsterdam.

Begitu gue mencoba servis terbaru di Indonesia, wah gue langsung mikir, “Wah, orang Jakarta makin dimanjain aja ya!” Di satu sisi, gue salut dengan banyaknya servis begini, karena memudahkan masyarakat Jakarta untuk melangsungkan hidup, Jakarta kan keras ya. Tapi di sisi lain, gue juga agak miris dengan banyaknya servis seperti ini karena gue takut lama-lama orang kota besar akan jadi malas. Mungkin karena waktu servis-servis ini muncul, gue lagi ada di Belanda, di negara yang menyuruh semua orang yang tinggal disana untuk melakukan sesuatu sendiri. Jadi begitu gue datang untuk liburan, gue kaget dengan semua servis yang ada dan malah jadi bersikap kritis (selain menggunakan servis itu untuk kenyamanan pribadi).

Berhubung gue baru kurang lebih seminggu di Jakarta, gue belum bisa menjelaskan lebih lanjut lagi perubahan-perubahan yang gue alami. Naik busway dan KRL lagi aja belum, kok! Nanti akan gue tulis lagi tentang suka duka gue liburan di Indonesia, ya.

Tragedi Seragam Tapi Bangga

Hai! Gue menulis ini di kamar lama gue di Jakarta. Sudah satu hari penuh gue di Jakarta dan sejauh ini perasaannya biasa aja. Nggak terlalu excited mau pulang kampung, tapi juga nggak terlalu sedih meninggalkan Belanda. Malah gue lebih banyak bosennya karena ninggalin temen-temen di Belanda, bukan cuma temen Indonesia tapi juga temen-temen Belanda dan internasional gue. Makanya dari tadi gue muter lagu-lagu Belanda biar kangen Belanda terobati.

Gue mau cerita tentang pengalaman lucu dan bikin malu pas di pesawat. Kemarin itu gue naik KLM dari Amsterdam ke Jakarta, dengan sekali transit di Kuala Lumpur. Pas perjalanan dari Amsterdam ke Kuala Lumpur sih menurut gue biasa aja, mungkin karena gue nggak begitu semangat juga untuk pulang kampung, atau karena itu adalah penerbangan malam. Jadi gue kerjaannya cuma nonton film, denger lagu, makan makanan pesawat, terus selanjutnya gue tidur. Biasanya gue malas tidur kalau perjalanan jauh, tapi kemarin itu gue rasanya pingin tidur terus. Nah, kelucuan dimulai saat gue terbang dari Kuala Lumpur ke Jakarta.

Kemarin itu, gue duduk di bangku terakhir pesawat. Geblek juga nggak bisa pilih tempat duduk sendiri. Tiba-tiba ada seorang ibu berjilbab dengan baju ngejreng warna kuning duduk di sebelah gue. Nggak lama kemudian, gerombolan tiga sampai empat ibu lain datang dan duduk di barisan sebelah gue, dan mereka juga sama-sama pakai baju kuning. Sumpah seragamnya gonjreng banget! Udah gitu dapet tempat duduk bukannya langsung duduk manis, malah selfie nggak jelas, pake flash juga. Gue sampe sok-sok fokus ke film yang lagi gue tonton karena gue ngeliat segerombolan ibu-ibu berbaju kuning pasti bikin gue sakit kepala.

Ibu-ibu ini ramenya minta ampun, tasnya bermerek semua, tapi ngakak-ngakak udah kayak di kampung sendiri. Berisik banget dan sebagai orang Indonesia entah kenapa gue malu ngeliat gerombolan ibu-ibu kaya tapi norak kayak begini. Udah gitu, seorang pramugara KLM nyoba basa-basi (tapi nyelekit, Belanda banget lah) dengan ngomong ke ibu yang duduk di sebelah gue, “Wow, so do you have to wear yellow outfit every Wednesday? So is it like Wednesday Yellow for you girls?”

Yang dijawab dengan bangga oleh ibu sebelah gue (gue rasa dia adalah juru bicara geng ibu-ibu kuning), “Oh, no… Today we decide to wear yellow because yesterday we wear green… And the day before we wore white…” Denger kata-kata ibu kepala geng bikin gue inget adegan ini di film Mean Girls:

mean-girls-pink-1

Nggak lama kemudian, ibu kepala geng buka-buka majalah katalog belanja KLM. Kemudian dia heboh banget mau beli jam tangan dan nanya-nanya sama pramugara. Yang bikin males adalah, dia langsung ngeluarin dompet dan ngeluarin duit US Dollar segepok terus diitungin di depan orang-orang. Dan dengan berisiknya dia teriak ke temen-temennya, “Eh duit gue kurang nih! Gue pinjem dolar lo dulu dong!” Kejadian itu berlangsung cukup lama, dan si ibu ketua geng sempet-sempetnya beli satu gelang dan satu jam tangan dengan duit USD-nya dan pinjeman dari temen-temennya. Gue ngedengernya dan ngeliatnya langsung geli banget, tapi gue pura-pura bego aja dan terus nonton.

Ketika pesawat sudah di udara, ibu ketua geng iseng-iseng nanya basa-basi ke gue. Pertanyaan standar seperti “Are you Indonesian?” Gue pengen bohong tapi nggak enak, akhirnya gue cuma jawab “Ya”. Terus seperti biasa ditanya lagi (heran banget kenapa sih orang Indonesia wajib banget nanya-nanya sesama orang Indonesia kalo lagi di jalan), “Indonesia-nya dari mana?” Gue cuma jawab, “Jakarta”. Kemudian dia nanya lagi, “Oooh… Di KL sekolah ya?” Gue cuma mengangguk. Kemudian ibu ketua geng nggak nanya-nanya lagi, kemungkinan besar mungkin dia mikir gue orang Indonesia yang nggak bisa bahasa Indonesia. Soalnya begitu pramugari datang nanya mau minum apa, gue minta minum pake bahasa Belanda. Biarin aja lah dianggap jadi orang Indonesia yang nggak bisa bahasa Indonesia, daripada gue diajak ngobrol terus basa-basi nggak jelas sama ibu ketua geng berisik.

Akhirnya dua jam berlalu dan gue berhasil keluar dari jeratan ibu-ibu berseragam kuning. Eh, ketemu mereka lagi di antrian imigrasi. Dan yang bikin nyebelin, ibu-ibu ini seenaknya ninggalin koper mereka di baris berikutnya (antriannya bentuknya belok-belok gitu, bukan garis lurus) karena mereka males narik koper mereka. Gila, malesin banget nggak sih! Dan mereka nggak malu juga ngelakuin itu, malah kesannya bangga, berasa pinter banget. Yang ada keliatannya malah kampungan dan males, boro-boro pinter!

Porquerolles, Surga Terpencil di Selatan Prancis

*Tulisan ini adalah bagian ketiga dari rangkaian perjalanan musim panas ke Prancis Selatan, September 2015. Untuk tulisan mengenai Marseille, baca disini. Untuk tulisan mengenai Aix-En Provence, baca disini.

Akhirnya gue menyempatkan waktu juga untuk menulis tentang Porquerolles, highlight tersendiri dari liburan musim panas gue di Prancis Selatan. Sesungguhnya, alasan gue mengunjungi Prancis Selatan hanyalah semata-mata untuk mengunjungi pulau kecil di ujung Prancis ini. Semuanya bermula ketika gue sedang mencari desa-desa terpencil yang menarik di Prancis Selatan, kemudian mesin pencari membawa gue ke informasi mengenai pulau ini. Menurut mbah Google, Porquerolles (baca: Porkrol) adalah daerah yang dijaga pemerintah Prancis sebagai bagian dari tiga pulau taman nasional yang tergabung dalam Ile de Hyeres, dan ijin pembangunan rumah di Porquerolles susah sekali. Maka itu hanya 1/3 dari pulau yang dijadikan sebagai daerah perumahan dan toko, 2/3-nya dibiarkan asri.

Perjalanan yang ditempuh untuk mencapai Porquerolles juga nggak mudah. Dari Marseille, gue harus naik kereta selama 90 menit ke kota kecil bernama Hyeres. Kemudian harus naik bus ke pelabuhan khusus feri yang akan pergi ke Porquerolles. Feri-nya juga nggak ada setiap waktu, sehingga waktu perjalanan harus bener-bener dihitung. Perjalanan dari pelabuhan ke Porquerolles naik kapal feri kurang lebih 30 menit.

Begitu sampai di pelabuhan Porquerolles, langsung berasa banget deh gimana rasanya surga di bumi itu. Airnya biru banget, tenang banget, aduh pokoknya bagus deh. Gue kemudian beli peta untuk trekking, dan tujuan gue adalah sebuah ceruk dengan nama L’Oustaou de Diou. Berikut adalah penampakan alam dari Porquerolles yang gue suka banget…

PANO_20150901_095213
Pemandangan laut dari salah satu tebing di Porquerolles
PANO_20150901_111406
L’Oustaou De Diou Calanque
PANO_20150901_103932
Perkebunan anggur di perjalanan menuju L’Oustaou De Diou

Porquerolles ini memang pulau yang bisa untuk segala kegiatan alam. Mau trekking ke bukit bisa, mau snorkeling atau diving juga bisa, mau off-road biking juga bisa. Tunggu apalagi? Kapan-kapan kalau ke Prancis Selatan jangan lupa main ke Porquerolles karena pasti nggak bakal nyesel!

Aix-en-Provence, Prancis Selatan Sebenar-benarnya

Musim panas lalu, gue menyempatkan diri untuk berlibur ke Marseille dan sekitarnya. Tulisan mengenai Marseille bisa dibaca disini. Selama perjalanan gue, gue menyempatkan pergi ke sebuah kota kecil di provinsi yang sama dengan Marseille, Aix-en-Provence namanya.

Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu Aix-en Provence itu kota apa. Kota yang terkenal dengan nama ‘Aix’ ini terletak di daerah Provence-Alpes-Cote d’Azur, provinsi bagian Prancis Selatan. Kota ini kecil sekali dan bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam kalau kita naik kereta dari Marseille.

Sejarah kota ini cukup menarik, karena Aix tergolong kota yang cukup tua. Kota ini dibangun di tahun 123 BC oleh Sextius Clavinus. Nama Aix sendiri adalah singkatan dari ‘Aquae Sextiae’.

Entah nama Aquae Sextiae ada hubungannya sama air apa enggak, tapi kota ini terkenal dengan jumlah air mancurnya yang banyak banget. Mulai dari air mancur besar di depan Cours Mirabeau (pusat kota), sampai ke air mancur kecil-kecil di gang-gang sempit. Kalo lagi bosen, kegiatan ‘menghitung air mancur se-Aix’ mungkin bisa dilakukan di kota ini. Soalnya kota ini kecil banget, sih. Saking kecilnya, gue hanya butuh waktu seharian penuh untuk berkeliling sampai selesai.

Kesan-kesan gue? Sungguh, baru kali ini gue jatuh cinta sama Prancis. Paris dan Marseille mungkin kota besar yang cukup membosankan untuk gue, tapi semuanya berubah begitu gue menginjakkan kaki di Aix. Kotanya kecil, pepohonannya rimbun, dan suasananya bener-bener seperti di desa. Jalan kaki dari stasiun ke pusat kota aja nggak ngebosenin karena selain cukup dekat, ada banyak yang bisa dilihat. Rumahnya lucu-lucu. Cuaca musim panas hari itu yang cukup hangat bikin gue semakin bersemangat menyusuri kota.

Pusat kota Aix terletak di Cours Mirabeau. Daerah ini adalah daerah khusus pejalan kaki yang kanan-kirinya dipenuhi toko-toko dan kafe. Pada saat gue kesini, lagi ada pasar di daerah Cours Mirabeau ini yang berpusat di sekitaran jualan suvenir, baju, sepatu, dan jaket-jaket. Harganya kurang lebih sama dengan yang di toko, karena Perancis (menurut gue) mahalnya selangit, cyin…

Gue sendiri lebih tertarik menyusuri gang-gang kecil yang ditawarkan kota ini. Walaupun siang itu Aix ramai turis, tapi baik turis maupun Aixois (orang lokal Aix) melebur jadi satu. Ada yang sibuk baca koran sambil minum kopi di teras kafe, ada juga yang lagi bengong menghadap air mancur terbesar di depan Cours Mirabeau. Daripada kebanyakan ngomong, mendingan biarkan foto-foto jepretan gue ini yang berbicara, ya…

IMG_20150903_115134

IMG_20150903_114439

Marseille: No More!

Sebenernya gue jalan-jalan ke Marseille udah lama banget, sekitar dua bulan yang lalu, sebelum kuliah dimulai. Tapi pas lagi ubek-ubek blog, eh ternyata belum cerita tentang Marseille ya… Ya udah deh, sekarang aja ceritanya. Maaf terlalu lama dipendam. Macam perasaan aja… #LHO?

Jujur aja, kepergian gue ke Perancis Selatan kemarin adalah usaha kedua kalinya untuk menyukai Prancis secara keseluruhan. Kenapa? Soalnya udah dua kali gue pergi ke Prancis (ke Paris doang, sih) tapi gue nggak pernah suka sama Prancis. Selalu aja ada alasan tentang ketidaknyamanan gue di negara tersebut, mulai dari kotor, nggak ngerti bahasanya, sampai banyaknya imigran dengan beribu jenis scam yang kalo nggak dipelajari baik-baik bakal bikin liburan kita jadi bencana. Tapi entah kenapa gue memaksa diri untuk menyukai Prancis, makanya gue beli tiket liburan musim panas ke Marseille di bulan September lalu. Rutenya: Eindhoven-Marseille-Eindhoven. Selama di Prancis dan di Marseille, gue melakukan dua kali day trip ke pulau Porquerolles dan ke Aix-En-Provence (nanti kalo sempet ditulis juga ya tentang dua kota ini di tulisan berbeda). Hipotesa gue, “Paris kan nggak mewakili Prancis secara keseluruhan. Masa iya sih, Prancis segitu jeleknya?”

Selama lima hari gue di Prancis Selatan (di Marseille, lebih tepatnya), gue harus mengakui bahwa perjalanan gue kali itu sama sekali nggak bikin gue jatuh cinta sama Prancis. Biar gampang, gue tulis alasan-alasannya lewat poin-poin di bawah ini:

  • Marseille kotor

Yang ini tentu jadi alasan nomor satu. Tinggal di Belanda, gue udah kebiasaan hidup bersih. Setiap 500 meter pasti ada tempat sampah. Selain itu, adanya kesadaran warga yang tinggi tentang kebersihan dan kesehatan, cukup bikin negara mini ini terlihat asri di mata gue yang datang dari kota penuh polusi di Asia Tenggara. Tapi begitu gue sampai di Marseille, gue lagi-lagi disuguhi pemandangan sampah dimana-mana, belum lagi bau pipis yang menyengat dari gang-gang kecil kota, yang seharusnya jadi pemandangan yang indah. Puntung rokok dibuang di pot-pot tanaman di sekitar kota. Gimana nggak mau ilfil?

  • Marseille (cenderung) nggak aman

Di Belanda, gue kebiasaan jalan sampe malem. Baru pulang dari Den Haag jam 12 malem? Nggak masalah, selalu ada kereta ke Leiden setiap setengah jam sekali. Dugem di Amsterdam sampe subuh? Nggak masalah, toh kereta selalu ada, belum lagi stasiun Amsterdam Centraal nggak akan pernah sepi. Hal ini nggak gue alami di Marseille. Di hari pertama, matahari sudah mulai tenggelam jam 8 malam. Gue yang kebiasaan jalan malam di Belanda, memutuskan untuk nggak mau pulang kecepetan. Eh malah disamperin sama imigran nggak jelas yang ajak ngobrol… kan gue serem ya. Udah gitu banyak orang nggak jelas yang catcalling perempuan. Akhirnya gue buru-buru ngacir ke hostel. Di hostel, pemilik hostel gue ngomong, kalo udah malem lebih baik pulang aja karena Marseille memang kota terbesar ketiga di Prancis, tapi disaat yang sama dia juga kota nomor satu paling berpotensi banyak kriminal se-Prancis. Hiiiy!

  • Marseille mahal

Uff, kalo masalah ini nggak usah diomongin lagi. Gue baru ngalamin dompet cekak selama jalan-jalan, ya pas di Marseille itu. Bayangin aja, segelas cappuccino yang biasanya di Belanda harganya cuma 2 sampai 2.5 euro, di Marseille bisa sampe 3.5 euro. Gila lho! Walaupun sekarang di Marseille lagi ngetren kafe-kafe hipster, tapi ya harga kopinya jangan mahal kayak gitu, lah… Untuk menyimpan uang sebaik-baiknya, perlu banget sering-sering beli makanan di supermarket. Di Prancis ternyata banyak supermarket yang ngejual makanan tinggal dipanasin di microwave.

Daripada ngomongin yang jelek-jeleknya aja, gue tulis juga deh apa aja yang menurut gue menarik di Marseille…

  • Port-Vieux yang menawan

Port-Vieux adalah pelabuhan kota Marseille yang merupakan pusat kota juga. Cantik deh tempatnya. Puluhan kapal bersandar di pelabuhan ini, kebanyakan sih kapal kecil dan yacht milik warga. Dari Port-Vieux kita bisa naik ke gereja di atas bukit, gue lupa namanya. Dari gereja itu kita bisa ngelihat kota Marseille dari atas. Kalo udah malem dan masih di Port-Vieux, dijamin nyesel kalo pergi ke Marseille nggak sama pacar, gebetan, atau suami. Abisnya romantis! Gue aja gigit jari karena pergi ke Marseille sendirian, soalnya Port-Vieux-nya bikin baper level provinsi Zuid-Holland…

Port Vieux, no filter.
Sudut kota Marseille. Diambil di Port-Vieux.
Sudut kota Marseille. Diambil di Port-Vieux.
  • Tren ngopi Marsellais yang lumayan oke

Tinggal di Belanda yang nggak bisa hidup tanpa ngopi, tentu gue kelimpungan nyari tempat ngopi enak di kota ini begitu otak gue udah minta asupan kafein. Akhirnya setelah google, gue nemuin satu kafe yang lumayan bagus, namanya Coogee. Begitu masuk kafe ini, nuansa kayunya berasa banget. Disini gue pesen kopi mahal 3.5 euro dan muffin yang harganya 1.2 euro-an. Suasananya enak banget buat ngopi-ngopi sama temen atau ngopi sambil belajar dan baca buku.

Sudut kafe Coogee yang lucu.
Sudut kafe Coogee yang lucu.
Kopi 3.5 euro dan buku bacaan yang menemani perjalanan di Prancis Selatan
Kopi 3.5 euro dan buku bacaan yang menemani perjalanan di Prancis Selatan

Kalau ditanya apakah gue mau lagi ke Marseille? Kayaknya nggak deh… Menurut gue harganya terlalu mahal, dan kotanya nggak begitu cantik. Biarlah ini jadi perjalanan sekali seumur hidup yang patut dikenang.

Harga Sebuah Nyawa

Temen gue pernah bilang, kalo punya waktu ada baiknya pergi ke bekas kamp konsentrasi Nazi. Nggak usah di Auschwitz dulu deh, yang di Jerman aja juga boleh. Dia bilang, “Lo harus coba liat situs memorialnya, menurut gue, semua orang di dunia ini harus ngeliat yg kayak gitu sekali-kali”. Oke lah berdasarkan saran temen gue itu, kemarin gue bertandang ke Dachau Memorial Concentration Camp.

Nama Dachau mungkin nggak seeksis saudaranya, Auschwitz, yang sampe sekarang disebut sebagai kamp konsentrasi terbesar di dunia. Tapi Dachau sama menyeramkannya seperti Auschwitz dan Dachau adalah kamp konsentrasi mula-mula di Jerman, sebelum konsepnya diimplementasikan ke kamp konsentrasi luar Jerman seperti Auschwitz. Dulunya Dachau digunakan sebagai penjara untuk musuh-musuh politik Hitler, tapi sejak Perang Dunia 2, kamp ini beralih fungsi jadi kamp konsentrasi untuk genosida orang non-Aryan.

Masuk ke kamp ini, serasa kayak semua kebahagiaan diserap Dementor. Apalagi cuaca Dachau kali itu banyak angin dan mendung, semakin menambah efek mencekam dan sendu. Masuk ke kampnya sih gratis, tapi ada jasa penyewaan audio guide seharga 2.5 euro atau ikut ground tour seharga 3 euro. Disarankan nyewa audio guide aja, karena kalo nggak pake itu pasti kita nggak ngerti apa-apa.

Begitu masuk ke area kamp (setelah lewat gedung besar dengan pintu gerbang bertuliskan Arbeit Macht Frei, slogan kamp konsentrasi yang mendunia), gue baru nyadar bahwa yang namanya kamp konsentrasi itu LUAS BANGET. Dachau aja segini luasnya, apalagi Auschwitz? Di depan gue ada lapangan besar, di kanan gue ada gedung memanjang, dan di sebelah kiri gue ada gedung memanjang juga, sesuatu yang kami sebut “barak”.

Lapangan besar yang terhampar di depan gue adalah lapangan untuk apel. Apel dilakukan tiap pagi sebelum kerja dan tiap sore. Saat apel, semua tahanan HARUS ada di lapangan. Nggak peduli mereka lagi sakit atau bahkan pingsan. Yang mati tiba-tiba juga harus diseret ke lapangan itu untuk apel. Dan selama apel, kalo ada yang tiba-tiba jatuh atau pingsan, nggak boleh ada tawanan yang nolongin.

Sebelum masuk ke barak, gue masuk ke bangunan sebelah kanan dulu. Sebuah bangunan memanjang yang dulunya adalah ruang maintenance. Sekarang udah jadi museum. Di museum ini semuanya dijelasin, mulai dari awal Perang Dunia 1, pembentukan Nazi, pembangunan kamp mula-mula, sampai akhirnya pembebasan kamp konsentrasi oleh Amerika Serikat.

Museumnya bener-bener lengkap dan bikin ngilu banget. Jadi, memorial kamp ini bukan dibikin sama pemerintah Jerman karena mereka malu banget soal Nazi. Yang bikin adalah organisasi mantan tahanan Nazi secara internasional. Di museum ini semuanya ada, mulai dari testimoni tahanan, sampe ke dokumen-dokumen selama kamp. Ada juga artefak-artefak pribadi kayak piring makan milik tahanan tertentu.

Dalam sejarah Nazi, gue paling penasaran dengan uji coba medis yang dilakukan dokter Nazi ke tahanan mereka. Dan disini semuanya terjawab! Ih gila banget ngeliat contoh-contoh eksperimennya, bener-bener nggak manusiawi banget.

image

Gambar atas: Sarang nyamuk malaria yang digunakan dalam percobaan efek gigitan nyamuk malaria ke manusia

Setelah puas ngelilingin museumnya (dan nggak tahan juga karena mau nangis), gue pergi ke penjaranya. Nah penjara ini adalah sel-sel sempit banget yang dipake sebagai pusat hukuman tahanan. Di penjara ini juga ada kantor SS, ruang interogasi, plus ruang penyiksaan. Nggak jelas banget suasana hati gue pas disini. Selnya sempittttttt banget, selain itu tempatnya lembab dan gelap.

Koridor penjara di Dachau
Koridor penjara di Dachau

Setelah puas muter-muter di daerah penjara, gue pergi ke bangunan barak. Dari 20 barak lebih, hanya ada dua yang selamat, sisanya dibakar semua. Letak barak yang memanjang ke belakang ini ada artinya juga. Tawanan-tawanan yang masih ada ras Jerman-nya (tawanan politik, dll) dimasukkan ke barak-barak depan. Semakin belakang baraknya, semakin rendah kelas tawanannya. Bisa dipastikan tahanan Yahudi dan homoseksual masuk ke barak-barak paling ujung. Selain itu, ada juga barak tempat orang sakit.

Masuk ke barak ini, gue makin sedih rasanya. Isinya sama banget kayak di film-film Holocaust yang sering kita tonton. Tempat tidurnya berupa bunk bed tiga lantai dan diisi oleh puluhan orang. Selain itu, ada ruangan untuk toilet dan tempat mandi massal. Nggak ada sekat-sekatnya pula. Ada juga ruangan tempat loker-loker untuk barang pribadi tawanan (yang biasanya cuma baju dan perlengkapan makan). Tugas ngebersihin ruangan ini jadi salah satu tugas tawanan, dan semuanya harus bersih banget. Sampe ada noda sedikit atau bahkan sidik jari yang keliatan, hukumannya bisa berupa hukuman cambuk.

Bunk bed tempat tawanan tidur. Satu lantai isinya bisa belasan orang.
Bunk bed tempat tawanan tidur. Satu lantai isinya bisa belasan orang.

Bangunan terakhir yang gue datangi di kamp ini adalah bangunan krematorium. Nah, disini jauh lebih ngeri lagi… Seperti namanya, krematorium adalah pusatnya orang-orang pada meninggal. Gue masuk ke satu ruangan, pas baca keterangannya, ternyata ruangan kosong itu adalah ruangan tempat tentara Nazi naro mayat-mayat tawanan yang nggak terbilang banyaknya. Baru ketauan pas tentara Sekutu ngebebasin kamp Dachau. Langsung merinding!!!!!!!! Di krematorium itu juga ada semacam ‘bakaran’ yang digunakan untuk mengkremasi orang jadi debu. Najong, seremnya minta ampun.

Di krematorium Dachau, ada juga satu ruangan yang sangat terkenal sebagai ruangan paling serem dari semua ruangan…

DSC_1490

Di ruangan ini, para tawanan dimasukin berbondong-bondong untuk mandi. Sebelum masuk ruangan ini, mereka disuruh lepas baju-baju mereka. Yaaaa persis kayak orang mau mandi, lah. Terus mereka berjejalan masuk ke ruangan tempat mandi ini.

Akhirnya, nggak ada yang berhasil keluar.

Karena ini bukan ruangan tempat mandi massal. Tapi ini adalah gas chamber, alat genosida paling terkenal di seluruh kamp konsentrasi Nazi dan di seluruh dunia.

Gue awalnya nggak ngeh banget sama ruangan ini, sampe akhirnya gue baca keterangan di dinding ruangan sebelah (ruangan lepas baju). Sensasinya luar biasa, men! Selama ini, gue cuma bisa ngebayangin ruangan gas itu kayak apa. Terus kemarin gue berhasil pergi kesitu. Ruangannya gelap banget. Di langit-langit ada ‘pancuran air’ bohong-bohongan. Gas Zyklon-B yang dimasukkan ke ruangan itu berasal dari tempat lain lagi. Gue nggak kebayang, dulu ruangan itu gelap banget, terus ratusan tahanan disuruh masuk tumplek-blek disitu, tanpa tau apa-apa, taunya mereka cuma mau mandi doang… Dan akhirnya bukan air yang keluar melainkan gas mematikan yang bisa bikin mereka mati dalam hitungan detik.

Pulang dari situ, gue akhirnya bisa ngerti kata temen gue bahwa semua orang harus pergi ke kamp konsentrasi Nazi selama dia hidup. Gue jadi ngerti bahwa di masa itu, nyawa seakan nggak ada harganya, hanya karena kepentingan politik dan ambisi gila seorang penguasa. Bayangin aja, di kamp ini ribuan orang mati setiap tahunnya hanya karena untuk manifesto pembersihan ras sebuah negara. Bersyukur banget jaman sekarang bisa hidup di dunia yang (relatif) aman dan yang nggak membenarkan genosida seperti ini lagi.

Mittenwald

“Kau mau kemana?” Julia mengernyitkan dahi saat aku menyebut nama kota tujuanku berikutnya. Pagi itu, dia berbaik hati mengantarku ke stasiun Heidelberg sebelum pergi ke tempat tujuannya.

“Mittenwald,” jawabku sambil nyengir.

“Belum pernah dengar,” Julia berujar sambil membelokkan setir mobil. Aku nyengir sendiri, mendengar ada orang Jerman yang belum pernah mendengar nama daerah ini. Paling tidak aku merasa jauh lebih pintar, pikirku.

Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di depan stasiun. Setelah mengucapkan salam perpisahan, aku turun dari mobil Julia dan mengambil ranselku dari bagasi mobil.

Sampai jumpa di lain kesempatan, Heidelberg.

4 Mei 2015

Dengan senyum cerah yang berkembang sejak keluar hostel, aku mengecek dua kali tiket keretaku pagi itu. Aku beruntung mendapatkan tiket kereta yang cukup murah. Di negara bagian Bavaria, mereka memiliki fasilitas Day Ticket seharga 23 euro yang bisa dipesan lewat internet. Kelebihan Day Ticket ini adalah tiket ini bisa dipakai seharian penuh untuk berkeliling di seluruh kota di negara bagian Bavaria, dan bisa digunakan untuk tiket kereta, bus, dan tram. Dengan harga 23 euro kita bisa memangkas ongkos transportasi dalam waktu seharian (Senin-Jumat dari pukul 9 pagi sampai 3 pagi keesokan harinya, Sabtu-Minggu berlaku 24 jam). Harga yang cukup murah, mengingat tanpa Day Ticket, harga tiket Munchen-Mittenwald bisa mencapai 40 euro untuk pulang pergi.

Perjalanan dari Munchen ke Mittenwald memakan waktu kurang lebih dua jam. Tepat pukul sembilan lewat lima, kereta Regio DB beranjak dari peron 16. Aku sengaja mengambil tempat duduk di dekat jendela. Niatnya ingin menikmati perjalanan dalam diam, apa daya ada serombongan turis keluarga asal India yang memilih duduk di bangku depanku.

Sepertinya turis keluarga ini datang dari keluarga yang cukup kaya, karena si ayah kerap berkata “Waktu aku tinggal di Boston, blablablabla…” dan mereka merencanakan untuk membeli rumah di pedesaan Bavaria. Jangan pikir aku tiba-tiba fasih berbahasa India, karena mereka berbicara dalam bahasa Inggris, termasuk dengan anak-anak mereka yang berada di kisaran umur dibawah 8 tahun. Aku hanya bisa duduk pasrah sambil memperhatikan polah tingkah mereka. Situasiku tak ubahnya seperti seorang pria Jerman yang duduk di seberangku. Turis keluarga ini sepertinya merupakan gabungan dari dua keluarga yang kepala keluarganya adalah kakak beradik (atau bersaudara, atau bersahabat, aku sedang mencoba sok tahu disini), jadi tak heran kalau krucil yang mereka bawa… cukup banyak. Sekitar 3-4 anak dalam satu keluarga. Kalikan dua, berarti ada delapan anak. Tambah dua pasang orangtua, jadilah ada dua belas orang.

Untungnya, mereka turun di stasiun Garmisch-Partenkirchen, bersama dengan turis-turis lainnya dari gerbong sebelah. Aku bernafas lega. Kebanyakan turis memang turun di stasiun tersebut, karena dari desa ini kita bisa menyambung ke puncak Zugspitze menggunakan kereta gantung. Puncak Zugspitze adalah puncak tertinggi di Jerman. Namun aku tak goyah dengan keinginanku untuk pergi ke Mittenwald.

Perkenalanku dengan Mittenwald berawal pada saat aku mencari desa-desa di selatan Jerman untuk kukunjungi. Nama itu kemudian muncul. Begitu membaca informasi dari internet, aku langsung penasaran dengan desa ini karena beberapa alasan:

1. Desanya sangat kecil, jumlah penduduknya kurang lebih 7000 orang saja.

2. Berada di kaki pegunungan Karwendel, salah satu pegunungan di jejeran pegunungan Alpen bagian selatan.

3. Hanya 38 km jauhnya dari Innsbruck, Austria.

4. Rumah-rumahnya imut-imut dan lucu, jika dibandingkan dengan besarnya gunung yang menjadi penjaga desa.

5. Desa Mittenwald juga bisa menjadi pintu gerbang dari pendakian gunung Kranzwerg, dan beberapa aktivitas alam lainnya seperti forest trekking.

Desa kecil, tidak terkenal, dan bisa forest trekking. Sungguh destinasi liburan yang tepat untukku!

Tak lama setelah kereta berhenti di stasiun Garmisch-Partenkirchen, akhirnya kereta berhenti di stasiun Mittenwald. Hanya aku yang keluar dari kereta pada siang itu. Begitu aku keluar dari kereta, aku langsung berdecak kagum melihat betapa dekatnya desa ini dengan gunung. Peronnya saja cuma ada dua, yang melayani kereta ke Munchen dan ke Innsbruck.

Mittenwald Hauptbahnhof
Mittenwald Hauptbahnhof

Keluar dari stasiun, aku langsung terperangah. Mittenwald adalah desa yang sangat kecil dan sepi. Tidak banyak kegiatan berarti yang terjadi di desa ini saat aku datang. Rumahnya imut-imut, dan terlihat sangat teratur.

DSC_0449

DSC_0447

DSC_0439

Dengan gembira, aku menyusuri jalan menuju pusat desa. Aku langsung terperangah karena baru menyadari satu hal: ada satu hal yang sangat unik dari rumah-rumah dan bangunan-bangunan di desa ini! Semua bagian depan bangunan-bangunannya tak luput dari karya seni berupa lukisan. Lukisan yang dipamerkan di rumah-rumah Mittenwald kebanyakan berupa lukisan berbau Kristiani. Ada juga lukisan ornamen-ornamen untuk mempercantik jendela, seolah menjadi pigura bagi jendela-jendela tersebut. Unik sekali, bukan?

DSC_0502

Jika di Heidelberg aku merasa seperti terjebak di dunia Beauty and the Beast, kini aku merasa terjebak di dunia dongeng lagi… entah dari dongeng mana. Setelah makan siang, aku memutuskan untuk langsung pergi forest trekking. Aku memang orang yang lebih menyukai berjalan di hutan daripada naik gunung. Memang, kadang perjalanan di hutan juga sering menjumpai medan berat, namun aku merasa lebih bebas di hutan daripada di gunung. Rute yang kuambil di siang hari yang cerah itu adalah rute menuju dua danau di Mittenwald: Lautersee dan Ferchensee. Pendakian dimulai dari jalan setapak di akhir daerah perumahan di Mittenwald, yang langsung berbatasan dengan hutan lebat. Untungnya, sudah ada penunjuk jalan dan jalan yang cukup bagus untuk memfasilitasi kegiatan alam para pendatang ke Mittenwald.

Baru beberapa ratus meter berjalan keluar dari desa, aku berbalik dan terperangah melihat pemandangan hutan dan gunung Kranzberg yang begitu megah dan terlihat sangat dekat dari tempat dimana aku berdiri.

Mau lari ke hutan, atau belok ke pantai? #terAADC
Mau lari ke hutan, atau belok ke pantai? #terAADC

Perjalanan selama kurang lebih 45 menit sangat tidak terasa, karena mataku dimanjakan dengan hijaunya pepohonan dan suara gemericik air terjun dari kejauhan. Rasanya bahagia sekali. Hanya ada aku, suara burung, suara air terjun, dan bunyi gemerisik angin. Cuaca juga sangat mendukung. Sedikit berawan, namun tidak terlalu dingin. Aku sangat menikmati perjalanan kali itu.

Akhirnya aku tiba di danau pertama, Lautersee. Danau ini terlihat sangat luas dan di sekitar danau ada beberapa restoran dan dua buah rumah kecil, serta satu kapel. Mungkin karena jarak Mittenwald ke Lautersee yang tergolong cukup dekat, sehingga daerah ini masih tergolong agak komersil. Walaupun begitu, aku sangat terhenyak melihat pemandangan yang terbuka lebar di depanku.

Danau Lautersee dengan pegunungan Alpen di belakang. Foto sudah diedit menggunakan VSCO Cam.
Danau Lautersee dengan pegunungan Alpen di belakang. Foto sudah diedit menggunakan VSCO Cam.

Aku duduk sebentar dan memandangi alam sekitar sambil berdecak kagum. Sungguh tak aku sangka, aku benar-benar bersentuhan dengan alam, dan mendapat kesempatan untuk menyaksikan rangkaian pegunungan Alpen yang tersohor di dunia. Aku memang tak mau menaklukkan Alpen, namun melihat dari jauh saja sudah membuat hatiku bergetar. Ingin menangis bahagia rasanya.

Setelah puas menyaksikan danau Lautersee, aku kembali meneruskan perjalanan menuju danau kedua yaitu danau Ferchensee. Kabarnya, danau ini jauh lebih kecil daripada Lautersee, namun lebih sepi karena terletak di tengah hutan. Dalam perjalanan menuju Ferchensee, aku dimanjakan lagi dengan pemandangan hutan pinus yang sedang hijau-hijaunya.

DSC_0485

Mengapa aku belakangan ini sering sekali memasukkan agenda kegiatan alam saat pergi jalan-jalan? Mungkin karena alasan berikut. Setiap kali aku berdekatan dengan alam, aku merasa sangat kecil. Membandingkan diri dengan gunung yang sudah berada selama ratusan, mungkin ribuan tahun, atau hutan lebat yang sudah ada sejak jaman entah kapan. Dunia begitu besar, aku hanya sedikit dari bagiannya. Aku bisa mati dan tidak meninggalkan jejak apapun, namun hutan dan gunung tidak akan bisa mati begitu saja, atau lautan dan samudera yang tak akan pernah surut sampai dunia berakhir. Secara tidak langsung, mereka mengajarkanku untuk selalu rendah hati, karena aku hanya makhluk sekecil semut jika harus berhadapan dengan alam.

Perjalanan menuju Ferchensee dan selama di Ferchensee diliputi dengan perasaan lega dan bebas. Selain museum, aku baru sadar akan satu hal lain: hutan adalah tempat bahagiaku. My happy place. Seperti di museum, di hutan aku bisa merasa bebas, tanpa harus dilihat orang lain, sekaligus bisa membuatku berpikir akan banyak hal. Mungkin happy place setiap orang berbeda. Happy place kamu adalah alam bawah laut dan pantai. Ini tempat bahagiaku.

Panorama danau Ferchensee
Panorama danau Ferchensee
Di edit dengan VSCO Cam
Di edit dengan VSCO Cam
Di edit dengan VSCO Cam.
Di edit dengan VSCO Cam.