Curhat: I NEED SPACE!!!

Sudah hampir dua minggu ini, rumah kami kedatangan tamu: teman masa kecil R. R sendiri udah sangat excited dengan rencana kedatangan teman kecilnya (kita sebut aja A mulai sekarang) karena A dan R terakhir ketemu dua tahun lalu. Mereka sudah kenal satu sama lain sejak mereka berumur 7 tahun dan pertemanan mereka masih lengket sampe sekarang. Maka itu gue mikir, “Oh, temen lama, ya nggak papa lah tinggal disini, toh kalo temen-temen gue dari Indonesia main kesini pasti gue suruh tinggal di rumah aja”.

Kenyataannya? Rasanya gue tiap hari pengen misuh-misuh karena gue ngerasa ruang gerak gue terbatas. Semakin hari gue semakin capek dengan basa basi yang harus gue buat, dan juga gue harus “membagi” R dengan temannya ini. Belum lagi gaya hidup A yang flamboyan banget, beda sama R, dan R harus ngikutin gaya hidup A yang hampir tiap malem party melulu.

Gue seorang introvert, dan di awal memutuskan untuk tinggal sama R, gue takut akan kehilangan privasi gue. Ternyata masa adaptasi itu nggak berlangsung lama, karena sekarang gue sudah nyaman dengan R di “gelembung” gue dan gue sudah mikir bahwa gue dan dia adalah satu identitas, jadi nggak ngerasa risih lagi.

Tapi kedatangan tamu ini lho… rasanya dua minggu ada dia di rumah tuh kayak dua bulan. Gue capek harus ber “halo halo” basa basi nggak jelas tiap ke ruang tamu (karena dia mondok di ruang tamu) dan gue capek banget kuping gue disuguhi musik disko yang seakan dimainkan 24 jam kalo dia lagi di rumah. Gue juga capek ngerasa duit gue abis karena gue harus belanja mingguan dan dengan adanya satu orang tamu yang harus dikasih makan, bertambah pula budget belanja gue di supermarket. Walaupun dia juga suka bayarin belanjaan, tapi biasanya dia bayarin belanjaan yang ada makanan dia nya dan itu juga baru sekali gue ngeliat dia bayarin belanjaan kami.

Rasanya gue pengen banget protes sama R dan nanya “Si A kapan pulangnya sih?”. Jujur aja, toleransi gue dengan adanya orang baru di rumah semakin hari udah makin menipis kayak lapisan ozon di atmosfer, sama tipisnya juga dengan isi dompet gue dan budget hura-hura kami berdua. Tapi gue takut dianggap nggak sopan, lagipula si R udah lama banget ga ketemu si tamu kelamaan mondok ini, jadi gue ga bilang sampe sekarang.

Dan parahnya, sampe sekarang si R nggak nunjukin sama sekali kalo dia keberatan si A ini nggak pulang-pulang… yang menjadikan gue semakin segan buat nunjukin gue nggak suka ada tamu yang kelamaan mondok di rumah kami.

Ada saran gue harus ngapain? Dan adakah introvert di luar sana yang punya pengalaman yang sama? Gimana cara kalian menambah pundi-pundi sabar untuk menghadapi tamu rumah yang seakan mau bertamu selamanya?

Hari 7: Rekomendasi Buku

Anjay. Sebenernya gue malu mengakui bahwa gue bukanlah kutu buku seperti dulu. Waktu masih sekolah, sepertinya melahap lebih dari satu buku dalam seminggu adalah hal yang biasa. Sekarang, boro-boro baca buku, baru baca beberapa halaman, konsentrasinya udah terganggu sama hal lain (baca: buka notifikasi di ponsel).

Walaupun gue jarang membaca buku lagi (dan sepertinya gue HARUS benar-benar mulai membiasakan diri lagi untuk membaca lebih banyak), gue punya satu rekomendasi buku yang pernah gue baca saat gue lagi demam baca buku pakai e-reader. Ini dia…

nfd-final-cover1.png

Novel ini gue baca saat gue berusia 23 tahun dan ceritanya diambil dari kisah nyata di Kamboja pada jaman pemerintahan Khmer Rouge. Tokoh utama dari novel ini adalah seorang anak laki-laki bernama Arn, yang terpaksa harus terpisah dari keluarganya pada usia 11 tahun akibat rezim Khmer Rouge. Kemudian, Arn menceritakan empat tahun penuh penderitaan dimana dia harus bekerja paksa, menjadi tentara anak-anak, dan akhirnya berhasil kabur dari kamp. Satu-satunya yang menyelamatkan Arn dari kematian, tidak seperti bocah sepantarannya, adalah musik. Arn pandai bermain musik, sehingga hal ini menarik perhatian Khmer Rouge dan mereka menyuruh Arn menjadi pemain musik untuk lagu-lagu revolusioner.

Novel ini adalah salah satu dari sedikit novel yang membuat gue berkaca-kaca. Deskripsi kejahatan Khmer Rouge dijelaskan dengan sedetail mungkin, ditambah lagi narasi novel yang sengaja dibuat dalam bahasa Inggris yang pletat-pletot dengan banyak kesalahan gramatika dan penulisan, seolah saat baca novel ini gue baca buku harian seorang anak berumur 11 tahun. Pedih banget bacanya, tapi bener-bener membawa kesan mendalam buat gue.

Bagi kalian yang suka dengan novel sejarah, pas banget baca novel ini. Dijamin setelah selesai, bakal langsung buka Youtube atau Google dan mencari tahu lebih banyak tentang Kamboja jaman Khmer Rouge.

Sakit Perdana

Minggu lalu rasanya gue masih ingat bagaimana merencanakan berbagai rencana nongkrong bersama kawan di minggu ini. Siapa sangka semuanya harus runyam karena satu perkara: sakit?!!!?!!

Udah gitu, sakitnya sakit anak-anak pula. Yap, seminggu ini gue terpaksa bed rest karena sakit amandel. Bikin malu banget ya, umur udah tua tapi sakitnya malah sakit anak-anak.

Semuanya dimulai dari hari Sabtu minggu lalu. Gue mulai menemui adanya kejanggalan di amandel kanan gue ketika makan malam bersama teman gue. Kala itu gue berpikir, “Ah paling-paling juga mau radang tenggorokan”. Gue yang selalu jadi pasien radang tenggorokan setiap pergantian musim pun jadi cuek, tindakan preventif yang gue lakukan hanya beli jeruk lemon, madu, dan jahe (baca: ramuan manjur setiap gue sakit radang).

Di hari Minggu, semuanya juga normal. Gue pergi bekerja dan nggak terlalu komplain apa-apa tentang kesehatan gue, paling hanya komplain sakit kepala. Tapi itu kan juga wajar. Tapi di malam harinya, sakit kepala gue semakin menjadi, dan gue menemukan adanya titik-titik semacam jerawat kecil berwarna putih di amandel kanan gue. Barulah gue panik, What the heck is going on?

Ternyata siksaan gue dengan penyakit amandel baru dimulai pada hari Senin. Gue sudah terlambat untuk mengajukan izin nggak masuk kerja ke bos, sehingga terpaksa gue datang. Selama bekerja, yang gue pikirin cuma gimana caranya bisa pulang cepet, karena badan gue lemes banget, susah makan, susah ngomong, sakit kepala, pokoknya macam-macam deh. Gue mengeluh gue sakit amandel ke kolega gue dan dia langsung bertukas, “Wah, harus dioperasi itu!” Gue langsung kaget karena gue boro-boro punya duit dan gue nggak mau operasi! Pokoknya setelah itu gue cuma punya satu tekad di pikiran gue: sembuh dari amandel tanpa harus operasi.

Untungnya jadwal kerja gue nggak dimulai lagi sampai hari Minggu, sehingga setelah bekerja hari Senin gue punya banyak waktu istirahat. Ternyata sakit amandel itu bener-bener SAKIT ya. Gue heran banyak banget orang yang menganggap remeh penyakit ini. Masa iya dianggap remeh ketika lo nggak bisa makan, nggak bisa batuk, nelen ludah pun sulit (dan ironisnya, produksi air ludah di mulut lo seakan meningkat), lama-lama jadi nggak bisa ngomong, nggak bisa minum, dan tenggorokan berasa kayak makan beling??? Belum lagi sulit tidur, masalah pernafasan, dan lain-lain.

Udah nggak tahan, di hari keempat akhirnya gue pergi ke klinik. Banyak yang sangsi dengan keputusan gue ini karena dokter Belanda kan pelit banget ngasih obat, tapi gue nggak peduli, gue udah ngerasa tersiksa selama empat hari. Setelah bercerita ke si dokter dengan terbata-bata (suara gue udah mulai berubah karena bercak putih di kedua sisi mulai membesar), si dokter mengecek dan nggak pake komando apapun lagi langsung ngasih gue antibiotik.

Nah. Di bagian ini gue bingung lagi. Bu dokter bilang bahwa dia memberi gue resep antibiotik selama 3 hari yang harus dihabiskan. Satu hari satu tablet. Dia bilang lagi, “Efeknya akan terlihat setelah hari kedua”. Plus dia bilang kalau sulit tidur atau sakit kepala, cukup pakai paracetamol juga bisa membantu. Kemudian gue pergi ke apotek untuk menebus obat. Beneran lho, antibiotiknya cuma tiga tablet, beda banget sama antibiotik Indonesia yang bisa diminum sampai 7 hari. Oke deh, setelah menebus obat, sampai rumah gue merelakan tenggorokan gue menelan serpihan beling (alias minum antibiotik pakai air).

Di saat-saat seperti ini, gue kangen dengan tendensi dokter Indonesia yang dikit-dikit ngasih antibiotik, cepat tanggap pula. Gue ingat waktu kecil selalu diberi antibiotik ketika demam dan paginya selalu bangun dengan lebih segar. Ternyata waktu tunggu untuk antibiotiknya bekerja itu justru jauh lebih menyakitkan. Ada satu hari dimana gue nggak bisa makan karena nggak punya nafsu makan dan semua yang masuk ke mulut akan gue keluarin lagi karena rasanya berbeda.

Suatu malam, di hari kedua menuju hari ketiga pemakaian antibiotik, gue mengalami sakit tenggorokan yang luar biasa sakitnya. Mau menelan apapun nggak bisa, gue sampai menangis. Kejadian itu berlangsung sekitar 3 jam. Kemudian entah kenapa gue merasa ingin batuk, dan gue lari ke kamar mandi dan akhirnya gue berhasil batuk! Yang keluar adalah cairan lengket berwarna kuning yang warnanya mirip dengan bercak di amandel gue. Setelah batuk perdana itu, gue jadi lebih mudah batuk dan tenggorokan gue jadi jauh lebih toleran terhadap cairan, terutama air dingin. Untuk makanan, saat ini gue masih makan makanan lunak, dan selera makan gue sudah kembali. 

Sekarang gue sudah masuk hari kedua pasca pemakaian antibiotik terakhir, dan syukur semuanya jadi jauh lebih mudah. Gue memilih untuk minum cairan isotonik seperti Pocari Sweat sebagai pengganti air, karena gue masih merasa eneg dengan rasa air di tenggorokan gue. Batuk juga jadi lebih mudah, dan suara gue pelan-pelan mulai kembali. Semoga masa penyembuhan ini berlangsung lumayan cepat ya.

Pesan pesan untuk kalian yang belum pernah sakit amandel: KALAU BISA JANGAN SAKIT! Serius, ini adalah salah satu penyakit paling bikin paranoid dalam hidup gue. Pokoknya penyakit yang merampas hak gue untuk makan, akan gue benci, amandel salah satunya. Sepertinya setelah ini gue akan mengurangi makan pedes karena takut amandel gue kambuh karena pedes. Ogah banget gue menjalani sakit amandel untuk kedua kalinya!

Bagi yang pernah sakit amandel, gimana pengalaman kamu?

Sepenting Apa Sih Sex Education Itu? (Terutama Untuk Perempuan!)

Tulisan ini ditulis dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh tanggal 1 Desember kemarin.

Sex Education (selanjutnya akan disingkat Sex-Ed). Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar atau membaca dua kata tersebut?

Kalo gue sih, menganggap Sex-Ed sebagai hal yang penting banget. Sayangnya, belum banyak perempuan yang ngeh soal ini. Apalagi perempuan di Indonesia yang kebanyakan masih terbentur dengan norma sosial dan tabu dalam pembicaraan mengenai seks dan kesehatan organ reproduksi.

Gue masih ingat betul, pertama kali dapat Sex-Ed saat kelas 5 SD. Saat itu, yang cewek dipisah sama yang cowok, dan kami diajarin tentang siklus menstruasi dan pubertas. Tapi entah kenapa Sex-Ed berhenti disitu karena setelahnya lebih banyak diajarkan di pelajaran Biologi, dimana gurunya biasanya ogah-ogahan kalau sudah sampai bab tentang reproduksi manusia. Gue masih inget banget waktu kelas 3 SMP, begitu sampai bab itu, si gurunya bilang, “Yah kalau yang ini mah saya udah nggak perlu repot-repot ngejelasin ya, kalian semua pasti udah pada tau, apalagi yang cowok-cowok”. Waktu SMA, dimana menurut gue adalah saat paling penting untuk gue mengetahui kesehatan reproduksi diri sendiri, gue juga nggak dapat Sex-Ed karena emang nggak ada.

Yang ada? Pelajaran waktu ret-ret dimana semua murid disuruh melakukan abstinence.

 

coach-carr-from-mean-girls-delivers-sex-education-data
LOL nope

 

Tapi bukan gue namanya kalau nggak penasaran :p Suatu hari di saat libur sekolah, gue membeli DVD film dokumenter BBC tentang pubertas cewek dan cowok. Terus gue tontonin setiap hari. Akhirnya? Tiba-tiba gue jadi cewek paling jago ngomongin puber di satu sekolah :p Karena setelah nonton DVD itu, gue sadar bahwa kesehatan reproduksi bukan main-main, apalagi untuk perempuan yang adalah makhluk pembawa generasi baru ke dunia.

Nah, gue yang sekarang juga jadi lebih penasaran lagi tentang Sex-Ed. Menurut gue, reproduksi manusia adalah hal yang sangat underrated untuk dibahas di Indonesia karena pasti orang mikirnya ujung-ujungnya bokep. Padahal reproduksi kita itu penting banget lho, sama dengan organ tubuh yang lain. Kenapa masalah penyakit jantung banyak diangkat sementara anak sekolah nggak dapat Sex-Ed? Justru target utama Sex-Ed adalah anak-anak remaja, karena umur mereka adalah umur dimana hormon sedang membuncah, dan rasa ingin tahu juga ikutan meninggi. Lebih baik Sex-Ed diberikan ke mereka sejujur-jujurnya daripada mereka cari tahu dari sumber yang salah dan kemudian hidup mengenakan sumber yang salah tersebut. Sex-Ed sejujur-jujurnya bukan sampai ngajarin gimana caranya berhubungan seks (yang itu mah nggak usah diajarin, akan bisa sendirinya kok!), tapi lebih kepada bagaimana memproteksi diri sendiri jika ingin melakukan hubungan seks, dan apa yang bisa terjadi kalau nggak bisa main aman (selain kehamilan tidak terencana, tentu saja).

Contohnya, bagaimana cara memproteksi diri sendiri dan pasangan ketika kalian memutuskan untuk berhubungan seks. Yang cewek bisa pakai pil pengontrol kehamilan atau pasang IUD atau suntik, yang cowok bisa pakai kondom. Kemudian dijelaskan juga kenapa alat-alat tersebut bisa mencegah kehamilan dan penyakit menular seksual. Atau, paling nggak tahu tentang siklus menstruasi kita, dan apa yang terjadi pada masa subur, dan apa yang bisa terjadi kalau hubungan seks dilakukan di masa subur tanpa pengaman. Menurut gue hal ini penting banget untuk mencegah stigma “sekali berhubungan seks bisa langsung hamil”. Kehamilan itu bisa terjadi karena banyak faktor, seperti berapa lama sel telur ada di Fallopian tube untuk menunggu dibuahi (12-24 jam), berapa lama masa subur terjadi dalam rahim perempuan (bisa sampai 5-7 hari), dan berapa lama sperma bisa bertahan di rahim perempuan untuk menunggu satu telur yang matang untuk dibuahi (jawabannya: 5 hari). Bahkan jika hubungan seks dilakukan saat masa subur, nggak langsung naik jadi 100% kemungkinan bisa hamil. Sesuai waktunya, kemungkinan bisa hamil adalah sekitar 33% setiap masa subur, bahkan di hari puncak kesuburan.

(Gila, fasih banget gue ngomong ginian).

Kenapa gue memutuskan untuk menulis ini dalam rangka Hari AIDS sedunia dan bukan di hari random lain? Karena gue sangat prihatin (minjem slogan pak SBY) dengan keadaan Sex-Ed di Indonesia jaman sekarang, terutama untuk wanita. Seharusnya, dengan semangat feminisme juga semakin merajalela di Indonesia, perempuan juga semakin sadar bahwa mereka berhak mencari tahu tentang kesehatan reproduksi mereka sendiri dan berhak mendapatkan informasi sebenar-benarnya tentang kesehatan reproduksi mereka. Bayangkan berapa persen wanita yang bisa selamat dari pemerkosaan jika tahu apa yang harus dilakukan. Bayangkan berapa persen kehamilan tidak terencana yang bisa diatasi jika wanita tahu bagaimana cara mengamankan diri mereka sendiri dari kehamilan jika mereka memutuskan untuk berhubungan seks dengan pasangan mereka. Nggak semua orang yang sudah aktif secara seksual melakukan hubungan seks karena ingin punya anak, lho.

Nah, yang terakhir… bagaimana cara kita bisa belajar sendiri tentang organ reproduksi kita sendiri? Nah yang ini bisa untuk cewek dan cowok. Kita bisa mulai dari KB. Tapi sejauh yang gue lihat, KB di Indonesia masih fokus untuk keluarga muda yang ingin punya anak, ya. Bagaimana dengan orang muda atau remaja yang ingin tahu segala hal tentang Sex-Ed? Gue suka buka-buka website Planned Parenthood atau nonton video Ted-Ed di Youtube. Atau iseng aja random Google pertanyaan kayak “apa saja jenis pil birth control?”. Pasti akan langsung dibawa ke website yang sah penjelasannya. Website seperti Scarleteen.com juga bisa sangat membantu untuk belajar tentang Sex-Ed.

Jadi, tunggu apalagi? Educate yourself on your body and know your reproductive rights NOW!

Winter is Coming!!!

Di bumi belahan barat, bulan November ini sudah tandanya memasuki musim dingin. Rasanya ya gitu deh… Gue jauh lebih suka bulan Oktober dimana daun-daun masih berguguran, pohon-pohon berubah warna, dan udara yang masih ada panas sedikit. Bulan November boro-boro; pohon sudah gundul semua, dan matahari sudah tenggelam sekitar jam setengah enam sore, membuat produktivitas gue sangat menurun.

Bulan November juga menandakan sebentar lagi Sinterklaas akan datang. Tanggal 5 Desember dirayakan sebagai Sinterklaasdag, biasanya sih anak-anak kegirangan dikasih kado. Selain itu, ada apa lagi ya di bulan November?

COKLAT HURUF dan PEPERNOTEN

Di Belanda, ada tradisi memberi coklat dengan inisial huruf depan nama yang akan diberi coklat. Biasanya, toko-toko coklat dan permen mulai menjual coklat huruf ini sejak akhir Oktober dan awal November. Bukan cuma toko coklat, tapi sampai supermarket dan toko serba ada Belanda, HEMA, juga ikutan jualan. Coklatnya juga macam-macam, mulai dari coklat biasa sampai ada toko-toko coklat yang mempunyai servis untuk menghias coklat sesuai dengan kemauan kita.

Selain coklat huruf, hal lain yang akan sering ditemui di Belanda pada bulan November adalah jajanan khas musim dingin bernama pepernoten. Entah kenapa jajanan ini terkenal di musim dingin, mungkin karena cemilan ini terbuat dari beberapa rempah-rempah seperti cengkeh, anise, dan kayu manis. Rasanya manis dan sedikit ‘hangat’, mungkin itu sebabnya kenapa pepernoten banyak ditemui pada bulan November atau menjelang musim dingin. Dan entah kenapa, pepernoten ngingetin gue sama cemilan khas Manado yang nggak jauh beda bernama biji-biji, padahal bahannya beda banget.

 

pepernoten
Pepernoten

 

 

sinterklaas-chocolade-letter1
Coklat huruf

 

SINTERKLAAS

Nggak seperti budaya Amerika Serikat, orang Belanda punya Sinterklaas ‘sendiri’. Bahkan katanya, Santa Claus ala-ala USA terinspirasi dari Sinterklaas. Alih-alih datang pada malam Natal, Sinterklaas datang ke rumah-rumah pada tanggal 5 Desember. Dan orang Belanda bangga banget lho dengan tradisi satu ini! Sebelum tanggal 5 Desember, sejak tanggal 1-4 Desember biasanya orang sudah mulai membeli kado dan tukar kado, sebuah tradisi yang dinamakan Pakjesavond.

Tradisi Sinterklaasdag ini sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak awal November, hanya saja ini perayaan yang lebih religius. Di Belanda, Sinterklaas akan datang ke kota-kota tertentu dengan asistennya, Pit Hitam atau Zwarte Piet. Menurut legenda, mereka datang naik kapal dari Spanyol. Untuk kota-kota yang nggak punya akses ke perairan, Sinterklaas datang dengan menggunakan alat transportasi lain selain kapal, tentu saja bersama asistennya yang setia, si Zwarte Piet.

Datang dari Indonesia, tradisi Sinterklaas ini sudah bukan tradisi asing lagi untuk gue. Indonesia mengadopsi budaya Sinterklaas walaupun nggak 100%. Kenapa nggak 100%? Karena kami merayakan Sinterklaas pada hari Natal (bukan tanggal 5 Desember seperti di Belanda). Selain itu, kalau di Belanda peran Zwarte Piet hanya menjadi asisten Sinterklaas yang baik dan suka bagi-bagi pepernoten, di Indonesia dia punya peran yang lebih antagonis. Banyak anak-anak yang ketakutan kalau Zwarte Piet datang karena dia terkenal suka membawa karung kosong dan katanya anak-anak nakal akan dimasukkan si Piet ke dalam karung tersebut, hihihi! Kalau inget dulu gue percaya cerita begituan, kadang suka malu xD

31440993-sinterklaas-and-zwarte-piet-making-selfie-isolated-on-white-stock-photo

AANRIJDING MET EEN PERSOON dan sejuta masalah kereta

Pertama kali gue tinggal di Belanda, gue bingung suatu hari kereta menuju Leiden dari Den Haag tiba-tiba jadi sedikit sekali, dan jika mau bepergian ke Leiden harus naik kereta dulu ke Den Haag Mariahoeve dan dari stasiun itu akan diberangkatkan naik bus menuju Leiden. Saat gue melihat papan pengumuman, tertera kata-kata yang nggak gue mengerti: “blablabla aanrijding met een persoon.”

Lama-lama gue mengerti bahwa pengumuman itu berarti ada orang ketabrak kereta sehingga semua kegiatan harus berhenti, entah itu sengaja bentuk bunuh diri atau nggak sengaja ketabrak terus jadinya luka-luka atau meninggal dunia. Dan rupanya semakin dingin cuaca di Belanda, semakin sering fenomena ini terjadi!

Awalnya gue mengira penyakit depresi saat musim dingin adalah hal yang biasa. Ternyata di Belanda kejadian ini sangat marak terjadi, apalagi dengan datangnya musim gugur dan musim dingin. (Gue pernah mengalami ribetnya ganti kereta karena ada orang tertabrak kereta api di musim panas, how could you?). Dan kalau memang depresi berujung ke bunuh diri, metode membiarkan diri tertabrak kereta adalah metode yang cukup populer.

Selain masalah tabrak menabrak di rel kereta, masalah lain yang sering mengganggu transportasi umum di bulan November adalah masalah cuaca, terutama badai. Akhir minggu lalu, Belanda mengalami badai yang cukup keras dengan kecepatan angin rata-rata 50 km/jam dan hujan sepanjang hari. Otomatis banyak sekali perjalanan yang tertunda, bahkan dibatalkan, karena keadaan cuaca yang buruk.

Online Dating, is it bad?

So, consider this as a part two of my last post where I talked a lot about the letter from the 2014 Crystal to 2015 Crystal. It was a post in Bahasa Indonesia, but if you’d like to read it, you can access it through this link.

In the letter, the old Crystal gave wise words about relationship with fellow humans. Old Crystal said that I should not lower my standard on everything, including men. I was being so idealist by thinking that my ideal men would be the one who could talk, laugh, cry, and cringe together with me. Little did I know that relationships need shit ton of efforts, and to let people show their true colors to you is a hard thing to do. And people who laugh, cry, and cringe together with you sometimes are not the people with the same agenda in mind as yours.

I admit that by two years, I have changed, mostly in everything. My priorities, my preferences, my stances on several issues… they have changed. So does my views on relationships. I must say that I am not as idealistic as I was two years ago. Nowadays, I try to meet more people, the ones that don’t come from my social circle, through online dating. Bold move for me, since I have never done such thing.

One of my best friends in Indonesia showed her concern about me going out on online dates. She said that she felt like I was meeting up with people who did not deserve my time and that they had a huge effect on my self-esteem. I didn’t really want to argue with her because I’m not the kind of person who likes confrontation, but when she expressed her concerns to me, I kinda felt a bit… upset? I just felt upset because I felt like I was being judged for going to online dating and that I was just saying yes to every guy that wished to meet me for dates. After she voiced her concern, shit ton of “maybes” happening in my head, comparing the dating culture from where I was raised to where I am living right now. Including the thought that maybe she didn’t believe in my ability on staying true to myself in the world of online dating.

mobile-dating-infographic1

I think that’s normal for me, but apparently, some of my best friends don’t share the same page as I do. Maybe because in Indonesia, the culture of meeting with strangers through online dating app is considered dangerous, no matter how long you’ve talked with them online or no matter how many mutual interests you have with them. Maybe, in Indonesia, online dating is seen as a way for people to go to the easy way of dating, or people instantly think that when you’re on an online dating app, it means you’re in it for a boyfriend or a girlfriend.

Meanwhile, it’s a totally different thing here. Yes, the core value of online dating is to establish a relationship, but it is not THE direct way of a relationship. You can join online dating to seek for companionship or like-minded people, or the worst, one-night stands and friends with benefits (I don’t play this card, though). And there are a lot of good people in the online dating world as well as good people you see on the street. It’s not like all online dating users are people desperate for love or sex, there are also a group of people who likes to search for mutual interests before choosing to see more of each other or just leave it at that. That’s the reasons why I use online dating, apart from the reason that I feel the need to brush up my conversational skill on meeting with strangers because I am an introvert and I *do* need the challenge to put myself out there in the real world. I am already content by myself and I don’t need a man to tell me I’m beautiful, interesting, smart, or attractive because I already know I am comprised of those adjectives. Well, if they finally complimented me, let’s just consider it as a plus point.

Moral of the story: There are a lot of good people who decide to go to online dating apps, and it’s not a bad thing to have a profile in one or some of them. Don’t make us feel bad for signing up for a service, we do have a lot of reasons to make one.

Yang Berubah Dari Jakarta

Nggak terasa sudah mau seminggu gue menginjakkan kaki di Jakarta, kota besar yang rasanya punya hubungan love hate relationship dengan gue. Sebelum liburan, gue udah denger beberapa pesan-pesan dari teman-teman gue baik real life maupun bloggers tentang apa yang harus diantisipasi saat pulang kampung. Apalagi Indonesia secara umum dan Jakarta secara khusus itu perubahannya kan cepet banget, dengan pertambahan jalan, belum lagi gaya hidup masyarakat ibukota yang sering banget berubahnya.

Perubahan Indonesia yang super cepat ini bikin gue kaget dan bingung. Ternyata, satu setengah tahun itu ibarat seperti perubahan 10 tahun. Ini dia dua perubahan di Jakarta yang beda banget kayak di Belanda… Dan jujur aja gue masih sulit beradaptasi untuk hidup disini walaupun cuma untuk liburan.

Yang pertama, banyaknya tren makanan yang bikin bingung. Gue ini sebenernya tipe orang yang gampang settle sama makanan. Begitu nemu makanan yang pas, biasanya akan pesen makanan yang setipe terus. Hal ini nggak berlaku dengan tren makanan yang sedang menjamur di Jakarta. Contohnya aja, makanan di Jakarta yang lagi ngetop adalah makanan tradisional yang dikreasikan seperti martabak dan kue cubit, udah gitu ada juga kreasi bakso. Tempat tempat dessert lucu semakin menjamur, demikian pula dengan rumah kopi.

Nah, rumah rumah kopi ini yang menurut gue agak lucu. Karena gue terbiasa dengan rumah kopi yang sederhana di Belanda, jadi begitu gue pergi ke rumah kopi disini, gue agak kaget dengan banyaknya menu yang disajikan. Di Belanda, sebuah rumah kopi kecil cuma jualan beberapa macam kopi standar, teh, dan beberapa jus organik. Makanannya hanya ada pilihan kue-kue handmade yang setiap hari berubah-ubah (tergantung yang punya, bikin kue apa), dan makanan berat paling hanya ada sandwich. Di Indonesia? Kopi macam-macam ada, dan juga yang bikin kaget makanan beratnya bisa sampai ada menu nasi goreng dan menu sarapan berat seperti English breakfast segala. Jelas itu bikin gue kaget karena gue terbiasa ngopi di rumah kopi yang kecil dan nggak banyak menu.

Yang kedua, masyarakat Indonesia sekarang semakin dimanjakan dengan servis. Ibarat orang norak, dua hal yang langsung gue unduh di ponsel adalah aplikasi Uber dan Gojek. Sejauh ini gue sudah coba Uber sekali dan sudah coba Go-Food (produk dari Gojek) sekali. Walaupun Uber juga ada di Belanda, tapi tarifnya jauh lebih mahal daripada kalau naik kereta atau transportasi umum lainnya dan hanya ada di kota besar seperti Amsterdam.

Begitu gue mencoba servis terbaru di Indonesia, wah gue langsung mikir, “Wah, orang Jakarta makin dimanjain aja ya!” Di satu sisi, gue salut dengan banyaknya servis begini, karena memudahkan masyarakat Jakarta untuk melangsungkan hidup, Jakarta kan keras ya. Tapi di sisi lain, gue juga agak miris dengan banyaknya servis seperti ini karena gue takut lama-lama orang kota besar akan jadi malas. Mungkin karena waktu servis-servis ini muncul, gue lagi ada di Belanda, di negara yang menyuruh semua orang yang tinggal disana untuk melakukan sesuatu sendiri. Jadi begitu gue datang untuk liburan, gue kaget dengan semua servis yang ada dan malah jadi bersikap kritis (selain menggunakan servis itu untuk kenyamanan pribadi).

Berhubung gue baru kurang lebih seminggu di Jakarta, gue belum bisa menjelaskan lebih lanjut lagi perubahan-perubahan yang gue alami. Naik busway dan KRL lagi aja belum, kok! Nanti akan gue tulis lagi tentang suka duka gue liburan di Indonesia, ya.

Pelajaran Hidup Dari Inside Out

Sudah pada nonton film ‘Inside Out’? Film ini adalah salah satu film kesukaan gue tahun lalu. Untuk yang belum pernah nonton, film ‘Inside Out’ bercerita tentang kehidupan seorang anak pra-remaja bernama Riley dan lima jenis emosi yang ada di dirinya: Joy, Sadness, Anger, Disgust, dan Fear. Menurut gue, film ini sangat menarik dan wajib ditonton orang segala umur karena film ini memfokuskan diri pada tema yang lumayan berat: perasaan.

Gue ingat beberapa minggu lalu pernah baca koran kampus dengan headline tentang depresi yang semakin menghantui mahasiswa Belanda. Catchphrase-nya adalah: “The answer ‘I’m fine’ is a default answer to every ‘How are you?’ question, while you might not be fine at all”. Jaman sekarang, manusia dituntut untuk selalu baik-baik saja, selalu berpikiran positif, selalu senang, selalu bahagia. Kalau seseorang nunjukkin kesedihan atau emosi apapun diluar emosi negatif, langsung dicap galau, sedih, depresi. Society tells us that showing you are unhappy is not good. You have to be happy at all times.

Padahal nggak selamanya aturan seperti itu berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian beberapa minggu setelah gue baca koran kampus, gue patah hati. Perasaan gue campur aduk. Gue langsung ngebayangin, kalo gue di film Inside Out, pasti perasaan gue lagi berantem memperebutkan siapa yang berhak megang command center. Gue ngerasa cemas, takut, sedih, rapuh, kecewa, depresi, malas, marah, pokoknya macam-macam dan hampir semua emosi yang gue rasakan adalah emosi negatif. Sampai akhirnya gue ngerasa capek harus berurusan dengan beragam emosi yang berusaha keras mengambil alih diri gue dan gue memutuskan untuk nggak mengindahkan emosi-emosi tersebut.

Hasilnya? Gue jadi mati rasa. Gue nggak bisa ngerasain emosi apapun. Mau dibilang sedih nggak, marah nggak, kecewa nggak… Gue ibarat seperti robot yang menjalani kehidupan setiap hari tanpa ngerasain apa-apa. Setiap pagi gue bangun kesiangan, malas makan, ke perpustakaan, ngerjain tesis, pulang, makan, terus tidur lagi. Emosi gue seakan-akan hilang.

Kemudian gue sadar… Gue nggak akan bisa bahagia kalau gue nggak embrace seluruh perasaan yang lagi gue rasakan saat itu, baik itu perasaan negatif atau positif. Sama seperti salah satu adegan di film Inside Out saat Bing Bong sedih, kemudian Joy berusaha bikin dia senang lagi tapi Joy nggak bisa ngapa-ngapain. Justru saat Sadness mendengarkan kesedihan Bing Bong, pada akhirnya Bing Bong ngerasa jauh lebih baik. Nonton adegan itu menyadarkan gue bahwa gue harus berdamai dengan perasaan gue sendiri. Kalau gue sedih, gue harus nangis atau cari teman bicara yang mau berempati dengan kesedihan gue. Kalau gue marah, gue harus cari cara pelampiasan marah dengan cara denger lagu atau nyanyi-nyanyi. Apapun yang gue rasain, harus gue terima konsekuensinya karena kalau gue menghindar dari perasaan gue, gue akan jadi semakin nggak bahagia.

Kemudian ada juga adegan saat Riley berusaha mengingat kenangan yang menurut dia indah, tapi Sadness mengambil alih kenangan itu sehingga dia jadi sedih. Adegan ini cukup relate dengan kehidupan gue sekarang. Gue mungkin dulu menganggap kenangan-kenangan menyenangkan bersama Mr. C sebagai sesuatu yang indah, tapi kalo gue inget sekarang gue bukannya seneng malah sedih. Mungkin gue belum sampai pada tahap ini, tapi gue yakin kalau nanti gue mengingat kembali kenangan itu, gue akan mengalami perasaan yang antara sedih dan senang, tapi outcome-nya akan positif untuk gue.

Menurut gue, pelajaran paling penting dalam film ini adalah setiap orang nggak boleh menahan perasaan mereka. Di film, Joy nggak ngerti kenapa harus ada perasaan Sadness karena dia mikir Sadness kerjaannya cuma bikin sedih Riley doang. Tapi sebenarnya Sadness ada sebagai cara manusia berempati satu sama lain dan bahwa Sadness adalah emosi yang sehat. Dengan menjadi pribadi yang embrace perasaan negatif dan positif kita, diharapkan mereka bisa membantu kita untuk terbuka sama orang lain. Perasaan-perasaan itu akan bikin kita tau bahwa ada banyak orang yang akan mendukung kita apapun peristiwa yang sedang kita alami.

Buat yang lagi patah hati atau gagal, film Inside Out cocok banget buat ditonton lagi untuk ngingetin kita betapa pentingnya staying true to your feelings. 

Spoiler-Free Unprofessional Review: Star Wars episode 7

This year’s December, something is a little bit different for me. Apart from being excited for Christmas, I’ve been waiting for this one for ages.

STAR WARS EPISODE 7!!!!!

Mind you, I have been a Star Wars fan since God-knows-when. I believe I started liking Star Wars when I was in 9th grade (around 2005, I guess). That time, Revenge of the Sith was playing, and I was so excited to watch it, even though I had no experience of watching Star Wars yet. The only thing Star Wars-related I had was a Sandcrawler replica. I knew that in 1997, some products celebrated the 20th anniversary of Star Wars original trilogy, but that time I was only 6 years old so I did not understand anything.

Before they played Revenge of the Sith in the cinemas, a local TV station had a Star Wars month where they broadcasted the original Star Wars trilogy (episode 4 to 6) plus the newer episodes (1 and 2) every weekend. I started to catch up with the movies and I instantly fell in love with everything. Long story short, that was how I became a Star Wars fan. Can’t believe it has been 9 years since I last saw the movie on big screen.

And yesterday, I watched the new episode on the premiere day. I was so excited, I bought the pre-sale ticket two months prior to the premiere day. Back then, I didn’t really care, I just wanted to watch the movie on the first day, for God’s sake!

First of all, let me talk about the crowd inside the theater. It was the craziest movie crowd I had ever been in to. Unlike in Indonesia, where it was always silent during premiere day (I seriously can’t understand how those people can keep their chill down during premiere day), the crowd in the Netherlands was so different. At least that’s what I experienced. Before the movie, some random dude shouted random stuffs. And when the movie started and the main theme started playing, the same random dude shouted, “WOOHOOOO!!!” and clapped his hands, followed by the rest of the people in the theater. I of course joined them! And after a few minutes, the crowd went really silent and we suddenly jumped inside the whole story. There were some moments when we gasped and shouted together during several special scenes (ahem, spoiler-free, can’t really tell them!). And when the movie ended, all of us did the same thing as we did when the movie started: clapping our hands and shouting in awe. When the theater lights were turned on, I was quite shocked to see that the spectators were Star Wars fans from all ages. I could see teenagers, young adults, and some 40-50 year-old people.

I really love the movie. It feels like watching a new trilogy without forgetting the important parts of the previous ones (episode 4 to 6).

Now, about the story line. I’m sorry but I’m not going to say many things about this. You really have to see it. I do this not just because I hate spoilers and I know there are a lot of people who hates it as well, but also if I told any thing about the story line, then it would lead to the biggest spoiler ever. I told my friend that it’s the ‘mother of spoiler’ because it’s THAT big. What I can tell you for sure is that all the fan theories regarding Luke Skywalker’s affiliation to the Dark Side or that Jar Jar Binks is actually a Sith are not true. For the rest? See it for yourself!!!

Dating, “Generation Y” Style: Should We Go ‘Social Media-official’?

*The author is a young woman born on 1991, thus making her a Generation Y, or “a person who reaches adulthood around the turn of 21st century”.

Dating has never been easy throughout the ages.

A few years ago, the dating scheme would still revolve around questions like “Who pays for the first date?” “Do I look presentable with this outfit for my first date?” or “Should I make a move first?”

Nowadays, the three questions still remains; however, more questions seem to arise, such as “This is our fifth date, does this mean we’re officially an item?”, “When should I ask her/him to move in?”, “When should we talk about sex and our boundaries?”, “We kissed on our third date, we reached second base on our sixth date, does that mean we’re dating?”, “Should I say the L-word to her?”, and the last but not least, “Should we go Facebook/Instagram/other social media official?”

The last one really piques my interest.

As a Generation Y, I live with social media. So far, I have Facebook, Instagram, Path (a social media popular among Indonesians), and Reddit account. I have considered myself to be ‘social media savvy’ enough with these accounts, although some people may still think I’m living under a rock because I don’t have Snapchat, Kik, Periscope, or Tinder account. It would be a lie if I said that I didn’t think social media as an important thing in my life. Through social media, I have the freedom to know my friends’ activities, and I also have the right to let people see or unsee my online presence.

The term “Facebook official” has been around since a few years ago. That time, the world was still in shock to know that we could actually show our relationship status online. Not just that, we could also tag the person whom we had our relationship with. I used to have a “Facebook official” relationship with my ex around 6 years ago. We were still in high school back then, and Facebook was still the hippest thing ever, of course it would be a shame if we didn’t go Facebook official!

It was something that ended along with our relationship a year later.

Nowadays, people don’t use Facebook official status anymore, but they tend to show that they’re going steady with posting their pictures with their partner on social media. I will hereby mention this phenomena as “going social media official”.

I don’t really blame the social media official couple. Really, I don’t. Deep inside, I always feel happy to see pictures of new couples, especially if it’s their first time going social media official and their friends begin to congratulate them on the comment box. It shows that other people still have the ability to be happy to hear someone else’s good news, right? However, my criticism starts when a couple breaks up, and with their relationship going off, so does their pictures on social media. They all disappear without any trace!

I recently encountered this kind of event. I was logging on Twitter, then I found a friend who posted a status that said she’s back to being single. I was a little bit startled because I knew this girl went out with my other college friend, and they had been going out for more than a year. Finally, out of curiosity, I went to her Instagram feed because I knew she liked uploading pictures with her then-boyfriend.

I was right. There were no pictures of them anymore.

Which left me with a very simple question dedicated to social media official couples out there: “When you’re in love, why did you shove your pictures to your online friends, only end up deleting them once the relationship is off?”

Forgive me if I’m wrong, but this shows how easy it is for Generation Y people to not treasure a relationship that lies just between the two of them. Personally, I’m the kind of person who doesn’t like to brag about my personal life, like… showing my boyfriend’s face on social media (Doesn’t mean that I’m on a relationship now!). I’d rather share the relationship just with him, or with people that matter around me like my family or my bestest friends. Therefore, I don’t think uploading pictures with my significant other as an important thing to do on social media, because I love having him only for me, and I love having the relationship only for the both of us.

Enough about me. Yes, that’s what I’m feeling lately. People begin to show their relationship on social media just for the sake of the likes and the comments. It’s not about the core of relationship anymore. When you’re thrilled on your first date, you write a status about it. When you’re having your first fight, you cry about it on social media. Eventually, when you break up, you delete all the pictures and the videos with your ex-partner. Why should you do that?

It’s your call to go social media official or not. However, just be responsible. Not everyone likes their relationship to become a public consumption. If your partner is the kind of person who falls into that category, respect their choice. And if you decide to go social media official, know the boundaries which memories are worth posting online, and which one is not. The most important thing is to keep the love alive between both of you, because you’re the only ones who are in the relationship.

Moral of the story: Don’t put too many pictures while you’re dating on social media. Once the relationship breaks off, of course you can delete the pictures, but can you really delete the memories?

To end this post, I’d like to post a video that hits you right in the feels, especially if your relationship is on online presence. I hope this will straighten my point of an online relationship for Generation Y.