I Spent 3 Days at the Beach with One Backpack


Tulisan singkat aja ya, berhubung gue lagi liburan. Biar blog ini gak sepi-sepi amat, gitu.

Gue menulis ini sambil nunggu makanan di restoran deket stasiun Mangalia untuk balik ke Tulcea, Rumania. Gue baru aja menghabiskan waktu 3 hari di Vama Veche, sebuah desa perbatasan kecil. Desa ini terkenal sebagai destinasi pantai paling ngetop di Rumania karena semuanya murah dan ada opsi menginap di tenda juga.

Awalnya gue mengira gue nggak bisa liburan ke pantai dengan bawa barang sedikit. Ternyata bisa tuh! Foto di atas adalah penampakan ransel gue dengan segala tetek bengek untuk jalan-jalan di pantai selama 3 hari. Gue cuma bawa:

  1. 2 stel celana pendek
  2. 3 stel baju
  3. 2 stel baju dalam
  4. 1 stel baju renang
  5. Alat mandi, obat-obatan pribadi, charger ponsel, dan handuk

Awalnya gue skeptis bisa bertahan di pantai cuma dengan satu ransel begini. Biasanya kan ingatnya ke pantai tuh harus pake baju lengkap, takut hitam! Tapi gue disini nggak takut hitam, malah gue sengaja menghitamkan diri, mumpung lagi banyak sinar matahari.

Sepertinya orang Indonesia harus mulai mengadopsi bawa sedikit barang kalau ke pantai kayak gini deh. Di pantai tuh biasanya juga cuma tidur tiduran, makan, minum bir, berenang, tidur lagi. Santai banget. Jadi buat apa bawa barang kebanyakan?

Curhat: I NEED SPACE!!!

Sudah hampir dua minggu ini, rumah kami kedatangan tamu: teman masa kecil R. R sendiri udah sangat excited dengan rencana kedatangan teman kecilnya (kita sebut aja A mulai sekarang) karena A dan R terakhir ketemu dua tahun lalu. Mereka sudah kenal satu sama lain sejak mereka berumur 7 tahun dan pertemanan mereka masih lengket sampe sekarang. Maka itu gue mikir, “Oh, temen lama, ya nggak papa lah tinggal disini, toh kalo temen-temen gue dari Indonesia main kesini pasti gue suruh tinggal di rumah aja”.

Kenyataannya? Rasanya gue tiap hari pengen misuh-misuh karena gue ngerasa ruang gerak gue terbatas. Semakin hari gue semakin capek dengan basa basi yang harus gue buat, dan juga gue harus “membagi” R dengan temannya ini. Belum lagi gaya hidup A yang flamboyan banget, beda sama R, dan R harus ngikutin gaya hidup A yang hampir tiap malem party melulu.

Gue seorang introvert, dan di awal memutuskan untuk tinggal sama R, gue takut akan kehilangan privasi gue. Ternyata masa adaptasi itu nggak berlangsung lama, karena sekarang gue sudah nyaman dengan R di “gelembung” gue dan gue sudah mikir bahwa gue dan dia adalah satu identitas, jadi nggak ngerasa risih lagi.

Tapi kedatangan tamu ini lho… rasanya dua minggu ada dia di rumah tuh kayak dua bulan. Gue capek harus ber “halo halo” basa basi nggak jelas tiap ke ruang tamu (karena dia mondok di ruang tamu) dan gue capek banget kuping gue disuguhi musik disko yang seakan dimainkan 24 jam kalo dia lagi di rumah. Gue juga capek ngerasa duit gue abis karena gue harus belanja mingguan dan dengan adanya satu orang tamu yang harus dikasih makan, bertambah pula budget belanja gue di supermarket. Walaupun dia juga suka bayarin belanjaan, tapi biasanya dia bayarin belanjaan yang ada makanan dia nya dan itu juga baru sekali gue ngeliat dia bayarin belanjaan kami.

Rasanya gue pengen banget protes sama R dan nanya “Si A kapan pulangnya sih?”. Jujur aja, toleransi gue dengan adanya orang baru di rumah semakin hari udah makin menipis kayak lapisan ozon di atmosfer, sama tipisnya juga dengan isi dompet gue dan budget hura-hura kami berdua. Tapi gue takut dianggap nggak sopan, lagipula si R udah lama banget ga ketemu si tamu kelamaan mondok ini, jadi gue ga bilang sampe sekarang.

Dan parahnya, sampe sekarang si R nggak nunjukin sama sekali kalo dia keberatan si A ini nggak pulang-pulang… yang menjadikan gue semakin segan buat nunjukin gue nggak suka ada tamu yang kelamaan mondok di rumah kami.

Ada saran gue harus ngapain? Dan adakah introvert di luar sana yang punya pengalaman yang sama? Gimana cara kalian menambah pundi-pundi sabar untuk menghadapi tamu rumah yang seakan mau bertamu selamanya?

Hari 7: Rekomendasi Buku

Anjay. Sebenernya gue malu mengakui bahwa gue bukanlah kutu buku seperti dulu. Waktu masih sekolah, sepertinya melahap lebih dari satu buku dalam seminggu adalah hal yang biasa. Sekarang, boro-boro baca buku, baru baca beberapa halaman, konsentrasinya udah terganggu sama hal lain (baca: buka notifikasi di ponsel).

Walaupun gue jarang membaca buku lagi (dan sepertinya gue HARUS benar-benar mulai membiasakan diri lagi untuk membaca lebih banyak), gue punya satu rekomendasi buku yang pernah gue baca saat gue lagi demam baca buku pakai e-reader. Ini dia…

nfd-final-cover1.png

Novel ini gue baca saat gue berusia 23 tahun dan ceritanya diambil dari kisah nyata di Kamboja pada jaman pemerintahan Khmer Rouge. Tokoh utama dari novel ini adalah seorang anak laki-laki bernama Arn, yang terpaksa harus terpisah dari keluarganya pada usia 11 tahun akibat rezim Khmer Rouge. Kemudian, Arn menceritakan empat tahun penuh penderitaan dimana dia harus bekerja paksa, menjadi tentara anak-anak, dan akhirnya berhasil kabur dari kamp. Satu-satunya yang menyelamatkan Arn dari kematian, tidak seperti bocah sepantarannya, adalah musik. Arn pandai bermain musik, sehingga hal ini menarik perhatian Khmer Rouge dan mereka menyuruh Arn menjadi pemain musik untuk lagu-lagu revolusioner.

Novel ini adalah salah satu dari sedikit novel yang membuat gue berkaca-kaca. Deskripsi kejahatan Khmer Rouge dijelaskan dengan sedetail mungkin, ditambah lagi narasi novel yang sengaja dibuat dalam bahasa Inggris yang pletat-pletot dengan banyak kesalahan gramatika dan penulisan, seolah saat baca novel ini gue baca buku harian seorang anak berumur 11 tahun. Pedih banget bacanya, tapi bener-bener membawa kesan mendalam buat gue.

Bagi kalian yang suka dengan novel sejarah, pas banget baca novel ini. Dijamin setelah selesai, bakal langsung buka Youtube atau Google dan mencari tahu lebih banyak tentang Kamboja jaman Khmer Rouge.

Sakit Perdana

Minggu lalu rasanya gue masih ingat bagaimana merencanakan berbagai rencana nongkrong bersama kawan di minggu ini. Siapa sangka semuanya harus runyam karena satu perkara: sakit?!!!?!!

Udah gitu, sakitnya sakit anak-anak pula. Yap, seminggu ini gue terpaksa bed rest karena sakit amandel. Bikin malu banget ya, umur udah tua tapi sakitnya malah sakit anak-anak.

Semuanya dimulai dari hari Sabtu minggu lalu. Gue mulai menemui adanya kejanggalan di amandel kanan gue ketika makan malam bersama teman gue. Kala itu gue berpikir, “Ah paling-paling juga mau radang tenggorokan”. Gue yang selalu jadi pasien radang tenggorokan setiap pergantian musim pun jadi cuek, tindakan preventif yang gue lakukan hanya beli jeruk lemon, madu, dan jahe (baca: ramuan manjur setiap gue sakit radang).

Di hari Minggu, semuanya juga normal. Gue pergi bekerja dan nggak terlalu komplain apa-apa tentang kesehatan gue, paling hanya komplain sakit kepala. Tapi itu kan juga wajar. Tapi di malam harinya, sakit kepala gue semakin menjadi, dan gue menemukan adanya titik-titik semacam jerawat kecil berwarna putih di amandel kanan gue. Barulah gue panik, What the heck is going on?

Ternyata siksaan gue dengan penyakit amandel baru dimulai pada hari Senin. Gue sudah terlambat untuk mengajukan izin nggak masuk kerja ke bos, sehingga terpaksa gue datang. Selama bekerja, yang gue pikirin cuma gimana caranya bisa pulang cepet, karena badan gue lemes banget, susah makan, susah ngomong, sakit kepala, pokoknya macam-macam deh. Gue mengeluh gue sakit amandel ke kolega gue dan dia langsung bertukas, “Wah, harus dioperasi itu!” Gue langsung kaget karena gue boro-boro punya duit dan gue nggak mau operasi! Pokoknya setelah itu gue cuma punya satu tekad di pikiran gue: sembuh dari amandel tanpa harus operasi.

Untungnya jadwal kerja gue nggak dimulai lagi sampai hari Minggu, sehingga setelah bekerja hari Senin gue punya banyak waktu istirahat. Ternyata sakit amandel itu bener-bener SAKIT ya. Gue heran banyak banget orang yang menganggap remeh penyakit ini. Masa iya dianggap remeh ketika lo nggak bisa makan, nggak bisa batuk, nelen ludah pun sulit (dan ironisnya, produksi air ludah di mulut lo seakan meningkat), lama-lama jadi nggak bisa ngomong, nggak bisa minum, dan tenggorokan berasa kayak makan beling??? Belum lagi sulit tidur, masalah pernafasan, dan lain-lain.

Udah nggak tahan, di hari keempat akhirnya gue pergi ke klinik. Banyak yang sangsi dengan keputusan gue ini karena dokter Belanda kan pelit banget ngasih obat, tapi gue nggak peduli, gue udah ngerasa tersiksa selama empat hari. Setelah bercerita ke si dokter dengan terbata-bata (suara gue udah mulai berubah karena bercak putih di kedua sisi mulai membesar), si dokter mengecek dan nggak pake komando apapun lagi langsung ngasih gue antibiotik.

Nah. Di bagian ini gue bingung lagi. Bu dokter bilang bahwa dia memberi gue resep antibiotik selama 3 hari yang harus dihabiskan. Satu hari satu tablet. Dia bilang lagi, “Efeknya akan terlihat setelah hari kedua”. Plus dia bilang kalau sulit tidur atau sakit kepala, cukup pakai paracetamol juga bisa membantu. Kemudian gue pergi ke apotek untuk menebus obat. Beneran lho, antibiotiknya cuma tiga tablet, beda banget sama antibiotik Indonesia yang bisa diminum sampai 7 hari. Oke deh, setelah menebus obat, sampai rumah gue merelakan tenggorokan gue menelan serpihan beling (alias minum antibiotik pakai air).

Di saat-saat seperti ini, gue kangen dengan tendensi dokter Indonesia yang dikit-dikit ngasih antibiotik, cepat tanggap pula. Gue ingat waktu kecil selalu diberi antibiotik ketika demam dan paginya selalu bangun dengan lebih segar. Ternyata waktu tunggu untuk antibiotiknya bekerja itu justru jauh lebih menyakitkan. Ada satu hari dimana gue nggak bisa makan karena nggak punya nafsu makan dan semua yang masuk ke mulut akan gue keluarin lagi karena rasanya berbeda.

Suatu malam, di hari kedua menuju hari ketiga pemakaian antibiotik, gue mengalami sakit tenggorokan yang luar biasa sakitnya. Mau menelan apapun nggak bisa, gue sampai menangis. Kejadian itu berlangsung sekitar 3 jam. Kemudian entah kenapa gue merasa ingin batuk, dan gue lari ke kamar mandi dan akhirnya gue berhasil batuk! Yang keluar adalah cairan lengket berwarna kuning yang warnanya mirip dengan bercak di amandel gue. Setelah batuk perdana itu, gue jadi lebih mudah batuk dan tenggorokan gue jadi jauh lebih toleran terhadap cairan, terutama air dingin. Untuk makanan, saat ini gue masih makan makanan lunak, dan selera makan gue sudah kembali. 

Sekarang gue sudah masuk hari kedua pasca pemakaian antibiotik terakhir, dan syukur semuanya jadi jauh lebih mudah. Gue memilih untuk minum cairan isotonik seperti Pocari Sweat sebagai pengganti air, karena gue masih merasa eneg dengan rasa air di tenggorokan gue. Batuk juga jadi lebih mudah, dan suara gue pelan-pelan mulai kembali. Semoga masa penyembuhan ini berlangsung lumayan cepat ya.

Pesan pesan untuk kalian yang belum pernah sakit amandel: KALAU BISA JANGAN SAKIT! Serius, ini adalah salah satu penyakit paling bikin paranoid dalam hidup gue. Pokoknya penyakit yang merampas hak gue untuk makan, akan gue benci, amandel salah satunya. Sepertinya setelah ini gue akan mengurangi makan pedes karena takut amandel gue kambuh karena pedes. Ogah banget gue menjalani sakit amandel untuk kedua kalinya!

Bagi yang pernah sakit amandel, gimana pengalaman kamu?

Sepenting Apa Sih Sex Education Itu? (Terutama Untuk Perempuan!)

Tulisan ini ditulis dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh tanggal 1 Desember kemarin.

Sex Education (selanjutnya akan disingkat Sex-Ed). Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar atau membaca dua kata tersebut?

Kalo gue sih, menganggap Sex-Ed sebagai hal yang penting banget. Sayangnya, belum banyak perempuan yang ngeh soal ini. Apalagi perempuan di Indonesia yang kebanyakan masih terbentur dengan norma sosial dan tabu dalam pembicaraan mengenai seks dan kesehatan organ reproduksi.

Gue masih ingat betul, pertama kali dapat Sex-Ed saat kelas 5 SD. Saat itu, yang cewek dipisah sama yang cowok, dan kami diajarin tentang siklus menstruasi dan pubertas. Tapi entah kenapa Sex-Ed berhenti disitu karena setelahnya lebih banyak diajarkan di pelajaran Biologi, dimana gurunya biasanya ogah-ogahan kalau sudah sampai bab tentang reproduksi manusia. Gue masih inget banget waktu kelas 3 SMP, begitu sampai bab itu, si gurunya bilang, “Yah kalau yang ini mah saya udah nggak perlu repot-repot ngejelasin ya, kalian semua pasti udah pada tau, apalagi yang cowok-cowok”. Waktu SMA, dimana menurut gue adalah saat paling penting untuk gue mengetahui kesehatan reproduksi diri sendiri, gue juga nggak dapat Sex-Ed karena emang nggak ada.

Yang ada? Pelajaran waktu ret-ret dimana semua murid disuruh melakukan abstinence.

 

coach-carr-from-mean-girls-delivers-sex-education-data
LOL nope

 

Tapi bukan gue namanya kalau nggak penasaran :p Suatu hari di saat libur sekolah, gue membeli DVD film dokumenter BBC tentang pubertas cewek dan cowok. Terus gue tontonin setiap hari. Akhirnya? Tiba-tiba gue jadi cewek paling jago ngomongin puber di satu sekolah :p Karena setelah nonton DVD itu, gue sadar bahwa kesehatan reproduksi bukan main-main, apalagi untuk perempuan yang adalah makhluk pembawa generasi baru ke dunia.

Nah, gue yang sekarang juga jadi lebih penasaran lagi tentang Sex-Ed. Menurut gue, reproduksi manusia adalah hal yang sangat underrated untuk dibahas di Indonesia karena pasti orang mikirnya ujung-ujungnya bokep. Padahal reproduksi kita itu penting banget lho, sama dengan organ tubuh yang lain. Kenapa masalah penyakit jantung banyak diangkat sementara anak sekolah nggak dapat Sex-Ed? Justru target utama Sex-Ed adalah anak-anak remaja, karena umur mereka adalah umur dimana hormon sedang membuncah, dan rasa ingin tahu juga ikutan meninggi. Lebih baik Sex-Ed diberikan ke mereka sejujur-jujurnya daripada mereka cari tahu dari sumber yang salah dan kemudian hidup mengenakan sumber yang salah tersebut. Sex-Ed sejujur-jujurnya bukan sampai ngajarin gimana caranya berhubungan seks (yang itu mah nggak usah diajarin, akan bisa sendirinya kok!), tapi lebih kepada bagaimana memproteksi diri sendiri jika ingin melakukan hubungan seks, dan apa yang bisa terjadi kalau nggak bisa main aman (selain kehamilan tidak terencana, tentu saja).

Contohnya, bagaimana cara memproteksi diri sendiri dan pasangan ketika kalian memutuskan untuk berhubungan seks. Yang cewek bisa pakai pil pengontrol kehamilan atau pasang IUD atau suntik, yang cowok bisa pakai kondom. Kemudian dijelaskan juga kenapa alat-alat tersebut bisa mencegah kehamilan dan penyakit menular seksual. Atau, paling nggak tahu tentang siklus menstruasi kita, dan apa yang terjadi pada masa subur, dan apa yang bisa terjadi kalau hubungan seks dilakukan di masa subur tanpa pengaman. Menurut gue hal ini penting banget untuk mencegah stigma “sekali berhubungan seks bisa langsung hamil”. Kehamilan itu bisa terjadi karena banyak faktor, seperti berapa lama sel telur ada di Fallopian tube untuk menunggu dibuahi (12-24 jam), berapa lama masa subur terjadi dalam rahim perempuan (bisa sampai 5-7 hari), dan berapa lama sperma bisa bertahan di rahim perempuan untuk menunggu satu telur yang matang untuk dibuahi (jawabannya: 5 hari). Bahkan jika hubungan seks dilakukan saat masa subur, nggak langsung naik jadi 100% kemungkinan bisa hamil. Sesuai waktunya, kemungkinan bisa hamil adalah sekitar 33% setiap masa subur, bahkan di hari puncak kesuburan.

(Gila, fasih banget gue ngomong ginian).

Kenapa gue memutuskan untuk menulis ini dalam rangka Hari AIDS sedunia dan bukan di hari random lain? Karena gue sangat prihatin (minjem slogan pak SBY) dengan keadaan Sex-Ed di Indonesia jaman sekarang, terutama untuk wanita. Seharusnya, dengan semangat feminisme juga semakin merajalela di Indonesia, perempuan juga semakin sadar bahwa mereka berhak mencari tahu tentang kesehatan reproduksi mereka sendiri dan berhak mendapatkan informasi sebenar-benarnya tentang kesehatan reproduksi mereka. Bayangkan berapa persen wanita yang bisa selamat dari pemerkosaan jika tahu apa yang harus dilakukan. Bayangkan berapa persen kehamilan tidak terencana yang bisa diatasi jika wanita tahu bagaimana cara mengamankan diri mereka sendiri dari kehamilan jika mereka memutuskan untuk berhubungan seks dengan pasangan mereka. Nggak semua orang yang sudah aktif secara seksual melakukan hubungan seks karena ingin punya anak, lho.

Nah, yang terakhir… bagaimana cara kita bisa belajar sendiri tentang organ reproduksi kita sendiri? Nah yang ini bisa untuk cewek dan cowok. Kita bisa mulai dari KB. Tapi sejauh yang gue lihat, KB di Indonesia masih fokus untuk keluarga muda yang ingin punya anak, ya. Bagaimana dengan orang muda atau remaja yang ingin tahu segala hal tentang Sex-Ed? Gue suka buka-buka website Planned Parenthood atau nonton video Ted-Ed di Youtube. Atau iseng aja random Google pertanyaan kayak “apa saja jenis pil birth control?”. Pasti akan langsung dibawa ke website yang sah penjelasannya. Website seperti Scarleteen.com juga bisa sangat membantu untuk belajar tentang Sex-Ed.

Jadi, tunggu apalagi? Educate yourself on your body and know your reproductive rights NOW!

Winter is Coming!!!

Di bumi belahan barat, bulan November ini sudah tandanya memasuki musim dingin. Rasanya ya gitu deh… Gue jauh lebih suka bulan Oktober dimana daun-daun masih berguguran, pohon-pohon berubah warna, dan udara yang masih ada panas sedikit. Bulan November boro-boro; pohon sudah gundul semua, dan matahari sudah tenggelam sekitar jam setengah enam sore, membuat produktivitas gue sangat menurun.

Bulan November juga menandakan sebentar lagi Sinterklaas akan datang. Tanggal 5 Desember dirayakan sebagai Sinterklaasdag, biasanya sih anak-anak kegirangan dikasih kado. Selain itu, ada apa lagi ya di bulan November?

COKLAT HURUF dan PEPERNOTEN

Di Belanda, ada tradisi memberi coklat dengan inisial huruf depan nama yang akan diberi coklat. Biasanya, toko-toko coklat dan permen mulai menjual coklat huruf ini sejak akhir Oktober dan awal November. Bukan cuma toko coklat, tapi sampai supermarket dan toko serba ada Belanda, HEMA, juga ikutan jualan. Coklatnya juga macam-macam, mulai dari coklat biasa sampai ada toko-toko coklat yang mempunyai servis untuk menghias coklat sesuai dengan kemauan kita.

Selain coklat huruf, hal lain yang akan sering ditemui di Belanda pada bulan November adalah jajanan khas musim dingin bernama pepernoten. Entah kenapa jajanan ini terkenal di musim dingin, mungkin karena cemilan ini terbuat dari beberapa rempah-rempah seperti cengkeh, anise, dan kayu manis. Rasanya manis dan sedikit ‘hangat’, mungkin itu sebabnya kenapa pepernoten banyak ditemui pada bulan November atau menjelang musim dingin. Dan entah kenapa, pepernoten ngingetin gue sama cemilan khas Manado yang nggak jauh beda bernama biji-biji, padahal bahannya beda banget.

 

pepernoten
Pepernoten

 

 

sinterklaas-chocolade-letter1
Coklat huruf

 

SINTERKLAAS

Nggak seperti budaya Amerika Serikat, orang Belanda punya Sinterklaas ‘sendiri’. Bahkan katanya, Santa Claus ala-ala USA terinspirasi dari Sinterklaas. Alih-alih datang pada malam Natal, Sinterklaas datang ke rumah-rumah pada tanggal 5 Desember. Dan orang Belanda bangga banget lho dengan tradisi satu ini! Sebelum tanggal 5 Desember, sejak tanggal 1-4 Desember biasanya orang sudah mulai membeli kado dan tukar kado, sebuah tradisi yang dinamakan Pakjesavond.

Tradisi Sinterklaasdag ini sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak awal November, hanya saja ini perayaan yang lebih religius. Di Belanda, Sinterklaas akan datang ke kota-kota tertentu dengan asistennya, Pit Hitam atau Zwarte Piet. Menurut legenda, mereka datang naik kapal dari Spanyol. Untuk kota-kota yang nggak punya akses ke perairan, Sinterklaas datang dengan menggunakan alat transportasi lain selain kapal, tentu saja bersama asistennya yang setia, si Zwarte Piet.

Datang dari Indonesia, tradisi Sinterklaas ini sudah bukan tradisi asing lagi untuk gue. Indonesia mengadopsi budaya Sinterklaas walaupun nggak 100%. Kenapa nggak 100%? Karena kami merayakan Sinterklaas pada hari Natal (bukan tanggal 5 Desember seperti di Belanda). Selain itu, kalau di Belanda peran Zwarte Piet hanya menjadi asisten Sinterklaas yang baik dan suka bagi-bagi pepernoten, di Indonesia dia punya peran yang lebih antagonis. Banyak anak-anak yang ketakutan kalau Zwarte Piet datang karena dia terkenal suka membawa karung kosong dan katanya anak-anak nakal akan dimasukkan si Piet ke dalam karung tersebut, hihihi! Kalau inget dulu gue percaya cerita begituan, kadang suka malu xD

31440993-sinterklaas-and-zwarte-piet-making-selfie-isolated-on-white-stock-photo

AANRIJDING MET EEN PERSOON dan sejuta masalah kereta

Pertama kali gue tinggal di Belanda, gue bingung suatu hari kereta menuju Leiden dari Den Haag tiba-tiba jadi sedikit sekali, dan jika mau bepergian ke Leiden harus naik kereta dulu ke Den Haag Mariahoeve dan dari stasiun itu akan diberangkatkan naik bus menuju Leiden. Saat gue melihat papan pengumuman, tertera kata-kata yang nggak gue mengerti: “blablabla aanrijding met een persoon.”

Lama-lama gue mengerti bahwa pengumuman itu berarti ada orang ketabrak kereta sehingga semua kegiatan harus berhenti, entah itu sengaja bentuk bunuh diri atau nggak sengaja ketabrak terus jadinya luka-luka atau meninggal dunia. Dan rupanya semakin dingin cuaca di Belanda, semakin sering fenomena ini terjadi!

Awalnya gue mengira penyakit depresi saat musim dingin adalah hal yang biasa. Ternyata di Belanda kejadian ini sangat marak terjadi, apalagi dengan datangnya musim gugur dan musim dingin. (Gue pernah mengalami ribetnya ganti kereta karena ada orang tertabrak kereta api di musim panas, how could you?). Dan kalau memang depresi berujung ke bunuh diri, metode membiarkan diri tertabrak kereta adalah metode yang cukup populer.

Selain masalah tabrak menabrak di rel kereta, masalah lain yang sering mengganggu transportasi umum di bulan November adalah masalah cuaca, terutama badai. Akhir minggu lalu, Belanda mengalami badai yang cukup keras dengan kecepatan angin rata-rata 50 km/jam dan hujan sepanjang hari. Otomatis banyak sekali perjalanan yang tertunda, bahkan dibatalkan, karena keadaan cuaca yang buruk.

Online Dating, is it bad?

So, consider this as a part two of my last post where I talked a lot about the letter from the 2014 Crystal to 2015 Crystal. It was a post in Bahasa Indonesia, but if you’d like to read it, you can access it through this link.

In the letter, the old Crystal gave wise words about relationship with fellow humans. Old Crystal said that I should not lower my standard on everything, including men. I was being so idealist by thinking that my ideal men would be the one who could talk, laugh, cry, and cringe together with me. Little did I know that relationships need shit ton of efforts, and to let people show their true colors to you is a hard thing to do. And people who laugh, cry, and cringe together with you sometimes are not the people with the same agenda in mind as yours.

I admit that by two years, I have changed, mostly in everything. My priorities, my preferences, my stances on several issues… they have changed. So does my views on relationships. I must say that I am not as idealistic as I was two years ago. Nowadays, I try to meet more people, the ones that don’t come from my social circle, through online dating. Bold move for me, since I have never done such thing.

One of my best friends in Indonesia showed her concern about me going out on online dates. She said that she felt like I was meeting up with people who did not deserve my time and that they had a huge effect on my self-esteem. I didn’t really want to argue with her because I’m not the kind of person who likes confrontation, but when she expressed her concerns to me, I kinda felt a bit… upset? I just felt upset because I felt like I was being judged for going to online dating and that I was just saying yes to every guy that wished to meet me for dates. After she voiced her concern, shit ton of “maybes” happening in my head, comparing the dating culture from where I was raised to where I am living right now. Including the thought that maybe she didn’t believe in my ability on staying true to myself in the world of online dating.

mobile-dating-infographic1

I think that’s normal for me, but apparently, some of my best friends don’t share the same page as I do. Maybe because in Indonesia, the culture of meeting with strangers through online dating app is considered dangerous, no matter how long you’ve talked with them online or no matter how many mutual interests you have with them. Maybe, in Indonesia, online dating is seen as a way for people to go to the easy way of dating, or people instantly think that when you’re on an online dating app, it means you’re in it for a boyfriend or a girlfriend.

Meanwhile, it’s a totally different thing here. Yes, the core value of online dating is to establish a relationship, but it is not THE direct way of a relationship. You can join online dating to seek for companionship or like-minded people, or the worst, one-night stands and friends with benefits (I don’t play this card, though). And there are a lot of good people in the online dating world as well as good people you see on the street. It’s not like all online dating users are people desperate for love or sex, there are also a group of people who likes to search for mutual interests before choosing to see more of each other or just leave it at that. That’s the reasons why I use online dating, apart from the reason that I feel the need to brush up my conversational skill on meeting with strangers because I am an introvert and I *do* need the challenge to put myself out there in the real world. I am already content by myself and I don’t need a man to tell me I’m beautiful, interesting, smart, or attractive because I already know I am comprised of those adjectives. Well, if they finally complimented me, let’s just consider it as a plus point.

Moral of the story: There are a lot of good people who decide to go to online dating apps, and it’s not a bad thing to have a profile in one or some of them. Don’t make us feel bad for signing up for a service, we do have a lot of reasons to make one.