What I Feel in One Song: All Too Well – Taylor Swift

 

“We’re singing in the car, getting lost upstate

……………..

You almost ran the red ’cause you were looking over me

……………..

You taught me about your past, thinking your future was me

………………

Down the stairs, I was there, I remember it all too well

……………….

Well, maybe we got lost in translation, maybe I ask for too much

………………..

After plaid shirt days and nights when you make me your own, now you mail back my things and I walk home alone…”

What I Feel in One Song: Rich Girl – Lake Street Dive

“You can get along if you tried to be strong

But you’ll never be strong…”

Belakangan ini gue lagi suka banget dengan musik yang suara bass-nya kedengeran banget dan ada elemen saksofon. Secara genre, ternyata musik-musik tersebut masuk ke kategori jenis musik soul tahun 1970-an. Kalo susah bayangin seperti apa musiknya, coba dengerin lagu-lagunya Otis Redding dan Al Green. Musik soul seperti ini adalah cikal bakal dari musik RnB yang kita dengar sekarang ini.

Sebenernya gue udah suka sama musisi soul jaman sekarang sejak beberapa bulan lalu, saat gue menemukan Anderson East (coba dengerin, nggak bakal nyesel). Musiknya bikin gue semangat dan pengen joget. Kemudian salah satu temen gue ngasih tautan video dari band indie bernama Lake Street Dive. Awalnya gue agak sangsi dengan pilihan temen gue ini karena yang gue tau dia suka banget musik jazz sementara gue anti banget sama musik jazz. Ternyata pas gue dengerin, gue langsung merinding saking kerennya lagu ini yang aslinya dibawain sama Hall and Oates.

Begitu gue denger pertama kali, suara yang paling kental keluar dari lagu ini adalah contra bass. Menurut gue suara bass itu keren dan seksi banget. Selain itu ada banyak banget elemen terompet, gue jadi makin suka. Apalagi setelah tahu dia bakal konser bulan depan di Amsterdam. Kebetulan temen gue ngajakin nonton konser ini dan gue langsung mengiyakan.

Untuk yang penasaran dengan musik soul dari musisi indie jaman sekarang, Lake Street Dive cocok banget untuk didengarkan pertama kali. Selamat mendengarkan!

What I Feel in One Song: Amazing Day – Coldplay

“We sat on a roof, named every star
you showed me a place where you can be what you are”

Awalnya gue skeptis sih sama album barunya Coldplay. Tapi setelah didengerin ternyata enak enak juga lagunya, walaupun gue masih kangen ama Coldplay jaman baheula. Selain hitnya, lagu kesukaan gue di album baru mereka adalah ini dan Fun.

Kaleidoskop Ala Spotify

Sudah hampir setahun gue beralih dari tukang unduh lagu jadi tukang streaming lagu lewat Spotify. Siapa sih yang nggak suka? Pecinta musik pasti punya akun Spotify, terutama gue yang suka cari-cari musik baru. Untuk gue, Spotify berguna banget karena gue bisa mengeksplor selera musik gue. Contohnya gue yang dulu nggak begitu suka musik folk, sekarang jadi suka banget karena Spotify.

Selain cari musik baru, hal kesukaan gue yang lain adalah kaleidoskop. Mungkin ini ada hubungannya juga dengan latar belakang gue dari bidang sejarah. Rasanya seru aja ngeliat apa aja yang terjadi selama tahun berjalan ini dan bikin sadar bahwa yang namanya waktu itu cepet banget berjalan. Tahun ini banyak banget peristiwa besar yang terjadi mulai dari Amerika Serikat yang melegalkan pernikahan sesama jenis di seluruh negara bagiannya sampai Bruce Jenner yang ganti kelamin dan ganti nama jadi Caitlin Jenner.

Nah, much to my surprise, Spotify ternyata mengeluarkan kaleidoskop juga. Kaleidoskop ini namanya ‘Year in Music’ dan kita bisa ngeliat statistik penggunaan Spotify kita dari bulan ke bulan selama tahun 2015. Konsepnya seru banget sih menurut gue, selain itu interface dan desainnya juga menarik dengan warna-warna segar. Ini dia kaleidoskop Year in Music untuk akun gue menurut Spotify!

Kata Spotify, lagu pertama yang gue dengarkan di tahun 2015 adalah…

1
RAC adalah produser musik dance pop yang cukup terkenal. Di lagu ini, dia berduet dengan St. Lucia, salah satu band synthpop kesukaan gue.

Menurut Spotify, lima artis teratas yang selalu gue dengarkan adalah…

2
Ada James Bay dengah 279 kali, Duran Duran di posisi kedua dengan 103 kali, Tobias Jesso Jr. dengan 98 kali streaming, Unknown Mortal Orchestra dengan 95 kali streaming, dan tiba-tiba ada Jason Mraz. Kayaknya gue jarang dengar Jason Mraz deh…

Selain itu, ada statistik lima album teratas dan lima lagu teratas yang sering gue dengerin.

Yang menarik lagi, ada juga hitungan berapa menit gue mendengarkan lagu di Spotify…

3
24 ribu menit musik = 397 jam = 17 hari penuh musik nonstop!

dan berapa total lagu yang sudah gue dengarkan.

4

Salah satu fitur lain yang menurut gue menarik adalah statistika jenis musik apa saja yang gue dengarkan di Spotify……. menurut musim. Keren kan! Menurut Spotify, di awal tahun gue denger banyak sekali musik dari James Bay, Us the Duo, dan Jason Mraz. Di musim semi, nama James Bay kembali muncul, tapi dua musisi lain digantikan sama Tobias Jesso Jr. dan Tor Miller (dua-duanya memang artis baru kesukaan gue yang musiknya luar biasa keren). Di musim panas… semuanya berubah! Tiga artis yang paling sering gue denger di musim panas lalu adalah Unknown Mortal Orchestra (setuju banget, gue paling gila sama band ini di musim panas lalu), Duran Duran (karena mereka konser bulan Juni), dan Backstreet Boys, hahahaha! Lalu di musim gugur yang baru lewat kemarin, Spotify mencatat gue dengerin James Bay lagi, RHODES, dan Tim Bendzko (penyanyi Jerman yang suaranya bagus banget).

Segmen terakhir di ‘Year in Music’ adalah beberapa berita besar di dunia musik yang dikompilasi oleh Spotify. Rasanya lucu aja baca ulang beberapa berita ini, karena gue inget betapa besar efek berita-berita ini beberapa bulan lalu. Seperti berita ini…

5
Berita yang bikin adik sepupu gue mewek dan galau berhari-hari.

sampai berita macam ini…

6.jpg
Masalah beberapa lagu jaman sekarang yang dituduh plagiat beberapa lagu jaman dulu dalam hal sampling dan musik.

Menurut gue, kaleidoskop versi Spotify ini seru banget. Untuk yang punya Spotify, buruan cek statistik kamu disini!

What I Feel in One Song: Something Stupid – Carson & Gaile

And then I go and spoil it all

By saying something stupid like “I love you”

Pasti udah pada familiar kan sama lagu ‘Something Stupid’ ini? Untuk generasi masa kini, mungkin tahu versinya Robbie Williams dan Nicole Kidman. Untuk generasi terdahulu mungkin familiar dengan versi yang paling populer yaitu Frank dan Nancy Sinatra. Tapi tahukah kamu bahwa Frank Sinatra bukan penyanyi pertama dari lagu ini?

Yap, sebelum Frank Sinatra berduet dengan anaknya di tahun 1967, lagu ini udah duluan direkam oleh sepasang penyanyi suami istri bernama Carson Parks dan Gaile Foote dengan nama duet Carson & Gaile di tahun 1960. Mendengar versi aslinya, gue bisa langsung bilang gue jauh lebih suka versi Carson & Gaile daripada Frank Sinatra, Robbie Williams, atau Michael Buble. Penasaran? Ini dia lagunya! Selamat mendengarkan!

What I Feel in One Song: Better Than That – The Common Linnets

Haven’t I always laid everything out on the table?

And isn’t it true I never held nothing back?

If you’re sitting there staring at your coffee cup

Thinking if you push a little harder, I’ll give you up

Then you should know me better than that

Belakangan ini gue lagi suka banget dengerin The Common Linnets. Awalnya sih karena dengerin playlist dari Spotify, tapi kok ada satu band yang suaranya menarik dan progresi kunci lagunya juga unik. Ternyata itu adalah band ini dengan lagu ‘We Don’t Make the Wind Blow’. Begitu gue denger satu albumnya, gue langsung suka. Yang bikin heboh, ternyata lagu ‘We Don’t Make the Wind Blow’ jadi lagu tema serial kesukaan gue yaitu Wayward Pines. Pantes aja berasa kayak pernah denger lagu itu beberapa bulan lalu.

Ternyata oh ternyata, The Common Linnets ini adalah band dari Belanda yang digawangi penyanyi cewek solo yang udah lumayan punya nama disini, Ilse DeLange namanya. Lebih kaget lagi pas tau ternyata band ini adalah pemenang kedua kontes Eurovision tahun 2014. Whoaaaa! Gue langsung makin suka karena mereka band lokal dengan gaya musik yang Amerika banget. Beneran deh gue nggak bakal nyadar mereka ini asalnya dari Belanda kalo nggak iseng Wikipedia.

Suara yang ditawarin band ini sangat menarik yaitu murni musik folk dengan chord progression yang unik. Dengerin lagu ‘Better Than That’ tadi bikin gue ngerasa kayak dengerin lagu folk tahun 70-an. Selain itu lagu-lagu mereka yang lain yang menurut gue menarik adalah ‘We Don’t Make the Wind Blow’, ‘Calm After the Storm’, dan ‘Hearts on Fire’.

Yang mau denger musik Americana gaya Belanda, silahkan tengok musiknya The Common Linnets, dijamin nggak akan nyesel!

Folk-y Autumn

Musim gugur sudah datang. Sebagai orang yang baru pertama kali mengalami musim gugur, gue bisa bilang bahwa ini adalah musim kesukaan gue. Rasanya seneng banget nginjek kumpulan daun kering di jalanan, atau pergi ke hutan dan ngelihat daun-daun gugur dan berubah warna, ada yang warna hijau muda, kuning, oranye, bahkan daun gugur warna merah dan merah muda. Menyenangkan dan romantis. Selain itu cuaca yang semakin dingin dan malam yang semakin cepat juga bikin mood rasanya ingin leyeh-leyeh di rumah, pakai sweater-sweater lucu, pakai sandal rajut, sambil minum coklat panas dan baca buku. Musim gugur juga sama dengan musim ujian, jadi rasanya pas aja gitu, belajar di rumah sambil menghangatkan diri.

Sejak dulu gue tinggal di Indonesia, gue sering mengasosiasikan satu jenis musik dengan musim gugur, yaitu musik folk. Rasanya kalau dengar musik folk tuh langsung ngebayangin jalan di hutan atau pergi berkemah di hutan pada musim gugur. Alunan gitar yang mendayu-dayu, ketukan yang menghentak, serta suara banjo yang khas entah kenapa bisa membuat gue membayangkan dengerin musik folk di musim gugur bersama daun-daun menguning dan cuaca yang sejuk. Untuk yang penasaran dengan musik folk, mungkin bisa dengar musiknya Bob Dylan atau Payung Teduh.

Sekarang, musik folk lebih sering diminati oleh perusahaan rekaman independen karena pangsa pasar mereka memang disitu. Mungkin musik folk sering diasosiasikan dengan musiknya anak hipster, tapi gue nggak ngerasa hipster tuh. Untuk gue, musik folk termasuk musik yang menenangkan. Di satu sisi, sekalinya musik folk yang pelan, bisa tenang banget, tapi kalau musik folk yang cepat dan agak campur dengan rock atau bluegrass, rasanya pengen joget.

Untuk menemani musim gugur, gue membuat playlist Spotify khusus lagu-lagu folk yang enak dan yang jadi kesukaan gue. Playlist ini bisa diikuti di Spotify dan bisa didengerin sambil kerja, sambil belajar, perjalanan ke tempat kerja atau ke sekolah, atau kalau lagi santai-santai aja. Selamat menikmati dan selamat menyambut musim gugur!

spotify:user:anthropoplogy:playlist:4HgngyKzZXFacnx3fm9KqE

What I Feel in One Song: Breathe – Taylor Swift & Colbie Caillat

It’s two A.M., feeling like I’ve just lost a friend

Hope you know it ain’t easy, easy for me

Belakangan ini gue lagi kangen sama temen gue. Apa ya? Temen yang lumayan spesial, but not in that way, if you know what I mean. Temen ini cukup spesial untuk gue karena ngeliat dia ibarat ngeliat cermin. Walaupun kepribadian gue berbeda sama dia, tapi kami satu suara dalam berbagai pendapat dan opini, sehingga perbedaan kepribadian bukan jadi masalah berarti lagi.

Awalnya, seperti dua orang yang saling nggak kenal, gue juga cuma menganggap dia sebagai orang yang ganteng dari luar doang. Serius, anaknya ganteng lho. Makanya gue mau deketin juga nggak berani, karena biasanya cowok-cowok ganteng yang bisa diibaratkan mirip Adonis ini kalo nggak sok kegantengan, ya brengsek. Tapi karena suatu dan lain hal akhirnya gue berani ajak dia ngobrol dan sejak itu kami jadi sering ngobrol macem-macem, mulai dari yang serius sampe yang bercanda. Orangnya juga ternyata nggak ngerasa ganteng, buktinya gue sering ngegodain dia ganteng, dia malah ngga ngerasa ganteng sama sekali. -____-

Orangnya spontan, beda banget sama gue yang semuanya harus direncanakan. Orangnya free soul, beda banget sama gue yang separo-separo, pengennya spontan tapi ujung-ujungnya bikin rencana juga. Tentu aja ada kalanya dia bikin gue jengkel karena sifatnya yang terlalu santai ini, tapi sepertinya selalu ada alasan untuk maafin dia dan kembali berteman seperti biasa. Seperti katanya Sara Bareilles di lagu Gravity, “Something always brings me back to you, it never takes too long“.

Gue kangen dengan percakapan-percakapan aneh dan nggak nyambung yang sering bikin gue ketawa di saat lagi bosen atau saat suntuk ngerjain tugas.

Gue kangen lagi ngobrol sama dia via chat, terus tiba-tiba dia ngetik “Telponan yuk” dan kami end up ngobrol via telepon, ngobrolin tentang seharian ngapain, tentang temen-temen di kampus, tentang temen seapartemennya dia, tentang makanan, tentang orang-orang yang kita anggap lucu, dan lain-lain. Paling seneng kalo udah mulai ngomongin kelakuan mahasiswa Indonesia disini yang nyebelin (dalam berbagai taraf), ngomong begituan dari matahari terbenam sampe matahari terbit lagi juga bisa, deh! Mulut dia bahkan bisa lebih jahat daripada gue apalagi kalo soal nyindir kelakuan orang.

Gue kangen saat lagi suntuk dan pengen ngomongin orang, gue bisa dengan gampangnya bilang “Eh lo tau nggak si XYZ begini begitu lalala lilili” dan ujungnya dia ngetawain dia juga dan kita ketawa-ketawa nggak jelas.

Gue kangen saat dia ngegodain gue nggak jelas dengan inside joke kami yang terlalu garing. Mungkin kalo orang lain denger, nggak bakal ngerti maksud kami apa, seolah cuma kami yang mengerti inside joke itu karena itu bermula dari chat yang nggak jelas tiap hari.

Gue kangen saat dia tiba-tiba message gue di saat-saat yang nggak diperkirakan, cuma buat ngefotoin taman tempat dia lagi nongkrong atau kelakuan dia semalem sama temen-temennya di coffee shop.

Gue kangen ngirimin dia gambar lucu atau artikel menarik dan kemudian dia ngebales cuma dengan ketawa ngakak atau merespon gambar gue.

Gue kangen semuanya. Dia adalah salah satu orang dari lingkaran kecil gue yang bisa gue ceritain tentang apapun, masalah apapun, pemikiran gue tentang apapun, tanpa harus takut akan dicap jelek atau di-judge. Rasanya nyaman setelah cerita sama dia, walaupun otak dia adalah otak problem solving yang kadang suka menyebalkan di saat gue cuma pengen cerita tapi akhirnya dia malah pengen nyelesaiin masalah.

Karena kesibukan, semua berubah.

Karena kesibukan, udah nggak pernah ada lagi obrolan-obrolan random setiap hari.

Karena kesibukan, udah nggak ada lagi komentar-komentar nyampah tapi lucu tentang A sampe Z atau tentang orang-orang yang suka kami omongin.

Gue berharap ini cuma fase sederhana. Gue berharap semoga besok gue bisa kembali ajak dia ngobrol hal yang aneh tanpa harus diberhentikan sesuatu bernama proyek grup atau tugas sekolah. Semoga besok gue bisa kembali ngobrol sama dia tanpa harus merasa bersalah udah gangguin dia ngerjain tugas atau dia merasa bersalah gangguin gue dengan kesibukan gue.

Setiap hari gue berharap semoga dia kembali ngajak gue ngobrol hal-hal aneh yang berujung pada teleponan sambil masak dan sambil makan.

Karena kesibukan, gue sadar bahwa gue mulai kehilangan seorang teman.

Wolverine, I miss you. I miss talking to you. I miss the whole point of your existence. Once everything goes better, once you’re done saving the world… will you come back? I’ll be waiting, doing knick-knacks here and there, minding my own business too, but still… I’ll wait for everything gets better.

Yours truly,

Natasha Romanoff (hey, if you can be a superhero, why can’t I?)

What I Feel in One Song: I’d Lie – Taylor Swift

Ini lagu Taylor Swift pas masih pitik. Musiknya masih country. Gue lagi suka banget dengerin lagu ini. Namanya juga ‘What I Feel in One Song’, hehehe.

He looks around the room, innocently overlooks the truth

Shouldn’t a light go on?

Doesn’t he know that I’ve had him memorized for so long?