Hari 15: Pujian Terbaik

Akhirnya sampai di hari 15! Sebenernya nggak harafiah hari ke-15 banget sih… gue sebenernya udah niat nyelesaiin tantangan 15 hari menulis ini selama 15 hari penuh, tapi niat hanya tinggal seonggok niat karena selama dua minggu terakhir, hidup lagi lumayan ‘gila’ ke gue. Ya si R masuk rumah sakit lah, ya deadline proyek dimana-mana, lah… Tapi akhirnya gue berhasil konsisten untuk menyelesaikan tantangan ini, ya.

Hari 15 temanya adalah “pujian terbaik”. Hmm, sebenernya gue nggak terlalu suka dipuji, seperti gue nggak terlalu suka memuji. Kenapa ya? Gue juga nggak tahu. Buat gue, setiap kali ada orang yang memuji gue, gue selalu berpikir gini, “Ah, sebenernya gue bisa jauh lebih baik dari apa yang lo katakan, gue yang begini mah sebenernya nggak layak dapat pujian dari lo”. Tapi sejak kenal sama R, gue belajar untuk sekali-kali menerima pujian orang lain, apalagi kalau pujiannya berkaitan dengan sesuatu yang sudah berhasil gue capai setelah lama sekali berjuang.

Soal pujian terbaik yang pernah diberikan, gue paling suka kata-kata yang memuji kepintaran gue. Mungkin agak dianggap sombong ya, tapi belajar dari pengalaman, sepertinya gue tergolong orang pintar, tuh :p Sejak dulu gue ingin dianggap orang lain sebagai orang cerdas, makanya gue berusaha meningkatkan diri sesuai dengan standar yang gue pilih untuk diri gue sendiri. Makanya gue seneng banget kalo ada yang bilang, “Crystal, lu pinter banget” atau hal-hal berbau gitu lah. Dan yang belakangan ini paling sering ngomong gue pinter tuh si R, hahaha.

Seperti kata Christina Yang di serial TV ‘Grey’s Anatomy’: “Screw beautiful! If you want to appease me, compliment my brain!”

Hari 14: Film yang Bisa Ditonton Berkali-kali

Gue bisa bilang bahwa gue bukan penikmat film. Dulu waktu tinggal di Indonesia sih, rasanya bisa aja pergi ke bioskop setiap ada film bagus keluar. Sekarang? Makin pilih-pilih judul film yang akan ditonton karena harga tiket nonton bioskop disini cukup mahal. Makanya gue biasanya nonton film yang efek spesialnya bagus, pokoknya yang kalo ditonton di rumah malah ada efek ‘nggak nendang’.

Tapi kalo gue disuruh milih film yang bisa gue tonton berkali-kali, jawabannya…

Star Wars Episode 5: The Empire Strikes Back.

Kenapa? Karena film inilah, gue jadi penggemar berat Star Wars hingga sekarang. Waktu gue umur 13 tahun, Lucas Film merilis Episode 3 dan untuk merayakan rilisnya Episode 3, sebuah stasiun TV swasta memutuskan untuk memutar seluruh film Star Wars dari Episode 4-6 dan Episode 1-2 setiap Sabtu malam selama lima minggu berturut-turut. Waktu gue nonton Episode 5, entah kenapa gue ada feeling bahwa gue bakal jadi fans berat Star Wars sampai besar. Ternyata firasat itu jadi kenyataan!

Kalo ditanya alasan kenapa gue suka Episode 5, sebenernya cetek banget sih: Karena di film ini benih-benih cinta Princess Leia dan Han Solo mulai tumbuh :p Dulu gue suka banget sama Harrison Ford karena nonton dia jadi Han Solo dan jadi Indiana Jones, kemudian sejak itu tumbuh favoritisme terhadap cowok-cowok jutek deh (tapi nggak jutek yang nyebelin kayak cowok-cowok drama Korea, ya).

Selain suka sama Princess Leia dan Han Solo, di episode ini gue juga mulai ngerti jalan cerita Star Wars dan mengenal tokoh-tokoh lain seperti adegan waktu Luke malah pergi ke Dagobah untuk mencari Yoda, sesuai permintaan (alm.) Obi-Wan Kenobi. Selain itu, konfliknya juga makin tebal karena setelah Episode 4 kita sudah tahu kan kalo Darth Vader tuh bapaknya Luke.

Duh, kok jawaban gue cetek banget kayaknya. Tapi ya itu lah, film yang rela gue tonton terus kalo nggak punya pilihan lagi 🙂

Keluarga Baperan

Di hari Minggu yang cerah kemarin, gue menerima telepon dari “Mama”. “Mama” yang gue maksud disini adalah suster gue yang mengurus gue sejak kecil. Karena kami udah deket banget, gue panggil dia Mama aja.

Rupanya, Mama gue sudah mendengar hubungan gue dengan R dan dia kedengeran seneng sekali. Ya iya lah, dulu gue paling anti kalo ditanya soal cowok, ngenalin cowok ke keluarga aja nggak pernah (gimana mau ngenalin kalo dulu di Indonesia hidup gue jomblo melulu?), makanya begitu dia mendengar cerita gue dan R dari bokap, kesenengan deh dia. Kemudian hal yang paling bikin gue sebel terjadi.

Dia mulai baper.

Maksudnya baper? Ya baper, bawa perasaan, kayaknya terlalu berharap yang berlebihan dengan hubungan gue dan R. Kemudian dia bilang, “Duh, tapi kalo kamu ke Indonesia, si R nggak usah diajak dulu deh.”

“Kenapa?”

“Gran (oma dari bokap, red) udah tau belom?”

Ohoho, ternyata Mama gue takut dengan reaksi oma gue dengan gue membawa R ke Indonesia.

Kemudian gue menjelaskan ke beliau panjang lebar, yang intinya adalah: Kenapa harus takut sih kalo si R dibawa ke Indonesia? Kalo orangnya mau, gimana? Toh juga ke Indonesia buat liburan, bukan buat macem-macem. Kenapa langsung mikir yang aneh-aneh, sih? Toh oma gue juga udah ngobrol sama R via telepon dan sepertinya dari cerita R, oma gue menanggapi pembicaraan mereka dengan positif. Lagian R orangnya juga nggak gampang takut sama orang lain kok.

Hih, gimana ya, susah ngejelasinnya di tulisan, tapi gue sebel banget kalo keluarga gue udah mulai baper dengan hubungan yang lagi gue jalanin ini. Kenapa nggak bisa santai aja sih seperti keluarganya R? Kalo keluarga gue banyak ekspektasi, secara nggak sadar gue jadi anxious…

Rasanya gue pengen bilang ke keluarga gue, yang ngejalanin hubungan tuh gue dan R, please jangan terlalu baper dengan hubungan kami berdua, seneng sih boleh aja tapi jangan terlalu ngarep! >.<

Hari 13: Favorit

Kata seorang teman yang kuliah psikologi, setiap individu pasti ada kecenderungan mental (entah apa nama ilmiahnya). Pokoknya, setiap individu punya kecenderungan ‘sifat menyimpang’. Kalau gue, kecenderungan gue adalah obsesif, sehingga gue gampang banget menyukai sesuatu dan jadi obsesif untuk mengetahui segala sesuatu tentang hal tersebut. Ada juga yang kecenderungannya bipolar, jadi kalo sedih banget ya bisa sedih bangeeeet, demikian pula sebaliknya. Tapi ini cuma tendensi dan nggak bisa dikategorikan sebagai gangguan mental, ya. Gangguan mental cuma bisa terjadi jika tendensi tersebut sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.

Duh, kok jadi ngomong ngalor ngidul. Sebenernya gue mau menyimpulkan dari perilaku obsesif gue tersebut, gue jadi punya banyak sekali hal-hal kesukaan. Berikut gue jabarkan sedikit-sedikit, ya… (kalo dijabarkan semua bisa jadi nggak selesai-selesai deh tulisan ini).

Lagu Favorit | Let’s Stay Together – Al Green

Sebenernya gue suka Al Green sejak lama, tapi bukan Al Green doang tapi musisi soul dan RnB jaman 70-an secara umum. Selera musik gue emang rada aneh, gue suka banget lagu-lagu dari tahun 70 sampai 80-an di seputaran musik soul, funk, new wave, dan classic rock. Gue juga suka musik 90-an tapi cuma buat nostalgia hepi-hepi doang. Menurut gue, lagunya Al Green yang ini selalu bikin gue hepi walaupun gue lagi sedih. Ya iya lah, lagunya kan tentang orang jatuh cinta :p

Kata Mutiara Favorit | “Do not go gentle into that good night, rage, rage, against the dying of the light.” (Dylan Thomas)

Ini bukan kata mutiara lepas, melainkan salah satu bait dari puisinya Dylan Thomas. Pertama kali gue tahu kalimat ini saat gue baca novel Young Adult berjudul “Matched”. Kemudian gue menemukan kata-kata ini lagi di film Interstellar.

Di antara ratusan ribu kata mutiara di dunia ini, gue menjadikan ini motto hidup gue karena interpretasi gue, puisi (atau bagian bait) ini mengajarkan gue untuk selalu berjuang dan jangan jadi orang lemah, walaupun situasi seolah memaksa kita untuk jadi lemah.

Makanan Favorit | MIE!!!!!!!!!!

Ya ampun, mie adalah makanan favorit gue. Gue seneng banget segala jenis mie, dan gue suka banget makan mie yang dibikin dengan cara apapun. Paling favorit sih jelas mie ayam Kalimantan atau yang bikin orang Cina ya, soalnya ngga tau kenapa bisa enak banget. Walaupun gue suka banget mie, dan nggak pernah nolak kalo ditawarin mie, tapi gue paling suka mie kuah, walaupun kalau mie ayam gue lebih milih kering (nah lho?).

Tempat liburan | Indonesia: Bali, Luar negeri: Jerman

Gue suka banget kalo diajak pergi ke Bali, walaupun udah jadi se-turistis apapun, Bali bakal selalu punya kejutan-kejutan baru untuk gue. Oh iya, gue juga suka Jogja karena kebudayaannya yang kental dan makanannya yang enak-enak. Tapi cuma di Bali gue bisa bebas pake bikini tanpa harus takut diliatin orang 🙂

Kalau untuk destinasi luar negeri, sejauh ini Jerman tetep jadi tempat favorit gue. Mungkin karena jaraknya yang cukup dekat dengan Belanda dan birnya yang enak-enak (Bir Jerman > bir Belgia buat gue). Selain itu, bahasanya juga mirip-mirip sama bahasa Belanda, jadi gue nggak perlu gelagapan…

 

Orang Sakit?

Rata-rata, kita belajar dari siapa, sih? Kalau nggak dari guru, dari orangtua, pokoknya orang yang kita tuakan. Akhir-akhir ini gue mengalami pengalaman baru dalam hidup yang pasti jadi ajang belajar buat gue. Kali ini, guru gue dalam pengalaman hidup adalah orang-orang yang berbeda, yaitu mereka yang memiliki penyakit mental.

Semuanya berawal dari akhir minggu kemarin. R mengalami nervous breakdown, sehingga kami harus pergi ke rumah sakit untuk penyakit mental di dekat rumahnya.

Don’t get me wrong, gue juga baru tahu R sangat sensitif dengan kesehatan mental. Dia bercerita dua tahun lalu dia juga sempat mengalami pengalaman yang sama. Mungkin sudah beberapa bulan dia nggak minum obat, sehingga kali ini dia kembali mengalami psikosis yang lumayan nyeremin. Seringkali dia ngomong hal-hal yang nggak nyambung, dan begitu di rumah sakit, dia cerita bahwa dia takut pergi ke luar rumah karena dia ngerasa nggak aman. Katanya ada yang mau bunuh dia. Beberapa kali dia juga berpikir gue mau bunuh dia. Rasanya sakit hati kalau ingat itu, tapi gue berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa itu bukan dia yang sedang ngomong kayak gitu.

Tapi R bukan orang gila. Sekali lagi, dia hanya sensitif dengan psikosis. Awalnya gue sangat takut dengan diagnosa akhir yang diberikan dokter, tapi suster di rumah sakit menjamin gue bahwa R hanya didiagnosa gangguan psikosis. Jika dia pulang ke rumah, dan dengan beberapa kali terapi serta minum obat yang rutin, dia bisa kembali normal seperti biasanya. Sayangnya, gangguan mental seperti ini harus diobati dengan cara minum obat yang sama selama beberapa tahun dan mungkin harus beberapa kali ganti-ganti obat karena bisa jadi efek samping yang nggak enak untuk si penderita. Seperti cewek mencari pil kontrasepsi, ini juga mirip-mirip lah, trial and error gitu.

Sejak hari Minggu, gue rutin mengunjungi R di rumah sakit. Tempatnya enak, deh. Jauh beda daripada stigma rumah sakit kesehatan jiwa yang ada di TV. Para suster dan dokternya nggak memperlakukan R dan pasien lain sebagai ‘orang gila’, tapi memperlakukan mereka secara setara. Ada taman yang asri dengan pohon ceri yang sedang berbuah. Ada ruang TV dan ruang makan serta dapur yang cukup lengkap. Kamarnya R juga nyaman, ada sofa, kursi, lemari, tempat tidur yang nyaman, dan kamar mandi sendiri. Interiornya juga segar dengan warna-warna cerah seperti hijau, kuning, dan oranye. Hari pertama gue datang ke bangsalnya R, gue langsung merasa nyaman dan yakin bahwa dia akan dirawat dengan baik disana.

Kini saatnya bergaul dengan sesama pasien seperti R. Jujur aja, awalnya gue agak grogi. Mungkin karena gue masih punya stigma tentang kesehatan mental sebelum R masuk rumah sakit. Tapi kegrogian gue nggak berujung ke hal yang aneh-aneh karena pasiennya baik-baik semua. Ada satu cewek yang langsung berteman baik sama R, dia bilang dia sudah lama tinggal disitu dan sebenernya dia pengen banget pulang. Cewek ini yang bernama Maria, suka banget melukis. Ada juga pasien lain asal Vietnam, yang langsung mendatangi gue begitu dia lihat gue dan langsung ajak ngobrol dalam bahasa Belanda. Mungkin karena dia lihat muka gue muka Asia kali, ya, makanya dia langsung datengin. Dari semua penghuni bangsal tersebut, gue baru kenal sama 2-3 orang saja, yang adalah pasien yang deket sama R. (Entah kenapa si R populer bener di kalangan wanita, lagi sakit maupun sehat, lha baru datang aja temennya udah cewek semua xD)

Semakin hari, kondisi R semakin membaik. Beberapa hari lalu, dia masih mengalami beberapa serangan psikosis, tapi nggak sebegitu parah seperti saat dia belum masuk rumah sakit. Sekarang kami sedang membicarakan tentang rencana kepulangan R ke rumah dan sepertinya dia sudah bisa pulang ke rumah akhir minggu ini. Kemarin gue juga mengunjungi R dan dia sudah kelihatan jauh lebih sehat dan lebih ceria. Nada bicaranya sudah kembali normal dan dia nggak se-emotionally distant seperti beberapa hari lalu sebelum masuk rumah sakit.

Serius, pengalaman ini bener-bener membawa pelajaran baru untuk gue. Sejak dulu gue selalu mendengar betapa hebatnya negara-negara Eropa dalam mendalami seluk beluk kesehatan mental, tentang topik kesehatan mental bukan jadi hal tabu, dll. Kali ini gue mengalaminya dan semua berita itu benar. Semua informasi tentang kesehatan mental dan penyakit mental bener-bener dibuka ke gue oleh dokter dan suster, pokoknya gue bebas nanya apa aja.

Mereka juga memperlakukan pasien dengan setara. Kemarin waktu gue jenguk R, dia lagi nunggu temen-temennya pulang dari supermarket karena mereka mau masak salad sama-sama untuk makan malam. Yap, jika mereka sudah lumayan sehat, mereka diperbolehkan pergi keluar bangsal untuk ke supermarket atau ke taman besar dengan ditemani satu orang suster. Pokoknya para pasien dibebaskan untuk mengatur jadwal mereka sendiri, begitu juga dengan jadwal minum obat. Semua pasien dibebaskan untuk minum obat setelah jam makan dengan cara meminta obat sendiri ke ruangan jaga suster.

Nggak nyangka deh, bisa belajar hal baru dengan cara yang nggak diduga seperti ini. Pasien-pasien yang satu bangsal dengan R bikin gue merasa nyaman dan hangat setiap datang mengunjungi R, dan mereka juga mengikuti aturan rumah sakit dengan sangat respek. Gue cuma berharap semoga suatu saat nanti, mereka bisa pulang ke rumah masing-masing, berkumpul dengan keluarga, dan bermanfaat untuk lingkungan mereka.

Hari 12: Enam Bulan Kemudian…

Ini dia hal-hal yang gue tunggu-tunggu enam bulan lagi (kira-kira bulan September):

  • Musim gugur! Mungkin enam bulan lagi gue akan eneg banget sama sinar matahari dan mulai kangen sama daun-daun yang berguguran.
  • Kesempatan jalan-jalan. Gue berencana menabung untuk pergi liburan ke Jepang di bulan September. Semoga kesampaian. (Semoga nggak kebablasan juga kelamaan libur di bulan Juli…)

Hari 11: Yang Tak Berubah

Sebenernya, ada banyaaaaakkkk… sekali hal yang ingin gue ubah. Gue ingin jadi orang yang lebih mudah berempati, lebih sensitif, sepertinya sifat-sifat yang gue inginkan adalah sifat yang berkaitan dengan berhubungan dengan sesama manusia. Walaupun gue ingin mengubah banyak sifat gue, ada satu sifat gue yang nggak mau gue ubah: rasa penasaran yang tinggi.

Sejak dulu gue selalu senang dengan ilmu pengetahuan, apapun bentuknya. Mungkin karena dulu dibiasain belajar baca, mengenal angka dan huruf, di umur yang masih muda. Waktu umur 4 tahun, gue sudah lumayan lancar membaca. Akhirnya gue jadi kutu buku dan senang bereksperimen serta mencari tahu tentang banyak hal.

Gue sadar bahwa nggak semua orang dikaruniai sifat seperti ini. Kalau jaman sekarang sih mungkin rasa penasarannya bukan sama ilmu pengetahuan ya, tapi sama kehidupan orang lain :p Hingga kini, walaupun udah bukan kutu buku dan nggak sekolah lagi, tapi gue tetep aja suka belajar dan mencari tahu hal baru. Rasanya kalo lagi belajar hal baru atau menggeluti hobi baru tuh seneng deh, karena setiap hari punya waktu sendiri untuk menggeluti hal tersebut. It feels like you have something to look forward to every day, and it makes your daily life a little bit worthier than living a mundane life after work.

Hari 10: Pipis di Jok Mobil di Cina

Lama-lama kok tantangan 15 hari menulis ini semacam jadi ajang buka aib, sih? Hehehehe! Kemarin suruh nulis tentang sifat baik dan buruk, kali ini tantangannya adalah menulis tentang salah satu kejadian memalukan yang pernah dialami.

Ceritanya, awal tahun 2012 lalu gue pergi pesiar ke RRC bersama Mama, Papa dan dua adik. Sebenarnya kami berniat pergi ke Korea Selatan, tapi karena ada kejadian satu dan lain hal, akhirnya kami berangkat ke RRC, tepatnya ke Beijing dan Shanghai. Padahal visa Korea Selatan sudah jadi, lho.

Sesampainya di bandara Beijing, gue langsung kedinginan. Itu adalah pertama kalinya gue mengalami musim dingin, dan nggak tanggung-tanggung, suhunya langsung -12 derajat Celcius! Begitu keluar dari bandara, awalnya sih biasa aja, tapi lama-lama tangan terasa kebal dan hidung tiba-tiba beringus. Untungnya kami langsung dapat taksi besar yang muat lima orang plus koper-koper. Dapat taksinya juga perjuangan banget karena sopir taksinya nggak bisa bahasa Inggris, jadilah petualangan bahasa Tarzan dimulai.

Setelah dari bandara, kami pergi ke Great Wall of China. Cuacanya buruk banget, nggak bisa lihat apa-apa, dan luar biasa dingin. Setelah itu kami menempuh perjalanan kembali ke ibukota, dan disinilah kejadian memalukan mulai terjadi.

Setelah kami masuk kota, tiba-tiba gue merasa kepingin pipis. Biasanya kalau ditahan lama-lama juga hilang, tapi mungkin karena cuaca di luar super dingin, jadi dinginnya masuk ke mobil, padahal mobil sudah dilengkapi penghangat. Sebenarnya gue bisa aja minta berhenti untuk pergi ke toilet umum, tapi gue takut karena: 1) Gue nggak bisa bahasa Mandarin, dan 2) gue baca di buku perjalanan seorang travel writer terkenal bahwa toilet di Beijing emang banyak tapi kotor semua. Karena udah ditakutin sama pemandangan toilet yang belum tentu enak, akhirnya gue memutuskan untuk menahan rasa pipis.

Tapi bukannya makin ditahan jadi hilang, ini malah makin menjadi-jadi… Gue udah bisik-bisik ke nyokap, minta berhenti ke sopir karena gue pengen pipis. Kemudian gue ngeliat hotel kami udah dekat, akhirnya gue bertahan nahan pipis, karena tinggal sekali belok, langsung sampe hotel. Tapi ternyata si sopirnya malah muter dan bawa kami lewat Forbidden City dulu. Mampus banget!

Akhirnya gue udah nggak tahan, dan gue memutuskan untuk pipis di mobil aja. Akhirnya di jok belakang gue pipis di jok mobil dan rasanya kayak banjir karena rasa pipis udah gue tahan sejak masuk kota Beijing. Gue diem-diem aja, terus akhirnya dengan sok cool gue bilang ke bokap dan nyokap bahwa gue pipisin jok belakang mobil. Adik-adik gue denger terus mereka ketawa ngakak. Bokap nyokap gue juga, lah! Yang bikin sial, setelah gue kelar pipis di jok mobil, kami tiba di hotel. Tau gitu nahan pipis sampe hotel aja, yang ada malah semalaman malu diledekin pipis di celana sama adik-adik dan bokap nyokap…

(Setelah sampai kamar hotel, celana jeans yang gue pake dan jadi korban pipis langsung gue buang karena gue males nyuci bau pesingnya xD)

Hari 9: Hore, Pergi ke Belanda!

Hari ke-9 ini temanya adalah “Ceritakan tentang hari terbaikmu”. Ada banyak hari yang gue anggap sebagai hari terbaik, tapi yang paling membekas adalah hari dimana gue dapat surat undangan masuk kuliah S2 di Leiden.

Sejak dulu, cita-cita gue memang sekolah di luar negeri. Waktu SMA mau ke S1 dulu, Papa sempat menawarkan sekolah di Australia. Gue sih mau mau aja, apalagi jurusannya juga boleh pilih sendiri, tapi tiba-tiba Papa jadi enggan karena alasan-alasan yang nggak penting. Akhirnya gue mengubur mimpi sekolah ke luar negeri dalam-dalam sejak itu.

Setelah lulus S1, gue bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah kursus bahasa Inggris. Pekerjaan ini adalah pekerjaan profesional pertama gue, tapi lama-lama gue ngerasa bahwa jiwa gue nggak di pekerjaan itu. Ditambah lagi gue lagi bosen-bosennya sama kehidupan di Ibu Kota, dan gue merasa nggak nyaman dengan kehidupan pribadi di Indonesia. Gue mulai bersikap kritis dengan hidup gue dan gue merasa bahwa hidup gue nih bisa diperbaiki. Akhirnya gue iseng-iseng mendaftarkan diri untuk S2 di Leiden untuk jurusan yang gue minati yaitu Asian Studies. Karena gue tahu orangtua gue udah enggan membiayai gue kuliah di luar, gue iseng-iseng daftar beasiswa juga. Rentang gue daftar beasiswa dan daftar kuliah nggak jauh-jauh amat, sekitar selisih dua minggu.

Hari paling bahagia gue adalah ketika gue dinyatakan lolos aplikasi beasiswa dan dapat surat undangan ke Leiden, tepat beberapa minggu setelah gue keluar dari kantor. Emang, gue segitu niatnya pengen sekolah di luar negeri, sampe-sampe gue resign dari kantor sebelum semuanya jelas xD Kelakuan nekad, memang, tapi kayaknya kalau nggak nekad kayak gitu, nggak mungkin sekarang gue bisa ada disini.

Rasanya waktu dinyatakan jadi penerima beasiswa plus lolos aplikasi S2 tuh campur aduk jadi satu, tapi rata-rata gue ngerasa seneeeeeeeengggggg…….. banget. Ada sedikit rasa sedih akan meninggalkan keluarga, sih, tapi gue mikir kalau gue mikir begitu terus, pasti gue nggak akan berkembang sebagai individu. Akhirnya beberapa bulan setelah pengumuman sakti tersebut, gue berangkat ke Belanda sebagai mahasiswa sekolah master. Dua tahun kemudian, gue masih disini sebagai pegawai kantoran xD

Hari 8: The Good, the Bad, and the Ugly

Duh, tulisan ini telat turun selama dua hari. Maklum, selama weekend gue lumayan malas buka laptop, mungkin karena udah bosen kerja depan laptop dari hari Senin sampai hari Jumat. Di tantangan hari ke-8 ini, gue disuruh menulis sifat baik, sifat jelek, dan sifat buruk gue. Buka-bukaan banget nih ya, berarti…

The Good

Gue tuh, seorang planner sejati. Rasanya kalau lagi ngomongin sesuatu ama orang, dan kalau tiba-tiba ngerencanain sesuatu, pasti di otak gue langsung ada pola harus ngapa-ngapain untuk rencana itu jadi kenyataan. Sering banget gue didaulat jadi tukang bikin rencana perjalanan kalau jalan-jalan sama teman. Hal ini memang jadi hal favorit gue karena gue suka ngatur banyak hal sampai sedetil-detilnya, rasanya kalau ada yang kurang tuh gue bisa uring-uringan sendiri. Makanya gue kerja di bidang Marketing, yang salah satu deskripsi pekerjaannya adalah bikin proyek dan bikin planning untuk acara-acara luar kantor. Walaupun gue sangat tertantang dengan kerjaan ini karena ini pertama kalinya gue disuruh bikin beginian dan jadinya gue harus keluar dari zona nyaman, tapi karena gue yakin gue orangnya suka merencanakan sesuatu, jadinya dibawa seneng aja.

Selain perencana, gue juga orang yang observatif. Jarang banget gue ngomong atau melakukan sesuatu yang spontan, karena naluriah gue selalu mengobservasi apapun dan siapapun, bahkan sampai ke hal-hal kecil. Mungkin itu sebabnya banyak orang nganggep gue judes waktu pertama ketemu, bukan karena gue emang judes beneran, tapi secara nggak sadar gue mengobservasi orang tersebut. Lama-lama sifat observatif ini berguna juga, karena gue termasuk orang yang mudah melihat kesalahan di hal kecil.

The Bad

Simpati gue terhadap orang tuh bisa jadi jarang kelihatan. Sejak kecil gue emang agak enggan menunjukkan emosi dan nunjukin gue kasihan sama sesuatu atau seseorang. Makanya kalau ada teman curhat, gue sulit banget untuk bersimpati, makanya biasanya gue cuma dengerin aja dan kasih jalan keluar selogis mungkin. Parah sih ini, karena gue kan harusnya bisa bergaul dengan orang dan ngeliat sisi emosional mereka, ini gue malah ngeliat semuanya sama aja.

Selain sulit bersimpati, gue juga orang yang (kadang) suka kebanyakan mikir. Rasanya ini adalah salah satu kebiasaan jelek yang susah banget gue hilangkan. Mungkin ini lagi-lagi bawaan waktu kecil, dimana gue orangnya susah jujur sama orangtua karena takut mereka marah. Hih, bener-bener semuanya bawaan orok, ya! Sejak kecil entah kenapa gue melatih diri sendiri untuk jadi ‘prihatin’ jadi gue jarang minta sama orangtua karena gue merasa diri nggak pantas untuk minta. Mungkin sejak dari situ gue jadi ngerasa suka kebanyakan mikir sebelum melakukan sesuatu. Tapi sejak pacaran sama R, gue belajar untuk nggak kebanyakan mikir sebelum ambil tindakan, seperti kata Nike, JUST DO IT!

The Ugly

Gue orangnya (kadang) intuitif, jadi kadang komunikasi sama gue bisa bentrok. Intuitif bisa berujung ke asumsi dan pikiran jelek, kan?

Selain itu, gue juga orangnya gampang nangis, apalagi kalau tiba-tiba dapat bentakan atau ngobrol dengan orang yang nada bicaranya nggak enakin. Tapi kalau gue udah marah duluan, gue bisa jadi lebih galak daripada orang tersebut.