Curhat: Temen Drama

Alkisah, gue punya temen baik disini (orang Indonesia) bernama M. Suatu hari, kami memutuskan untuk nongkrong bareng bersama temen lain dan gue juga ngajak R untuk kenalan sama temen-temen gue disini. R dan M langsung akrab karena mereka suka beberapa hal yang sama. Bagus lah, temen gue bisa main sama cowok gue, pikir gue.

Kemudian R tiba-tiba mengajukan ide untuk ngenalin M ke temennya. Gue udah sering nongkrong sama temennya R ini dan menurut gue orangnya pinter dan ternyata dia juga punya latar belakang pendidikan yang mirip dengan M. Pantes dong kalo R pengen iseng ngejodohin M sama temennya dia.

Si M langsung menolak, tapi anehnya dia antara nolak tapi nggak nolak gitu karena dikit-dikit pasti dia nanya si R tentang relationship dan cowok ganteng. Si R ya mikirnya si M pengen punya pacar dong, abisan dikit-dikit mereka ngomongin soal relationship. Si M ini tipe orang yang agak anxious sama cowok dan dia nggak tau kalo punya pacar bakal buat apa (serius dia ngomong begini).

Gue sih dukung-dukung aja rencana si R ngenalin M ke temennya. Menurut gue, toh juga baru dikenalin, gue juga nggak mikir mereka harus pacaran keesokan harinya. Lumayan nambah temen baru untuk dua belah pihak, ya kan? Alasan yang sama juga gue ungkapkan ke M saat gue “ngomporin” dia untuk mau dikenalin ke temennya R.

Semuanya berlangsung wajar-wajar aja, bahkan temennya R belom sempet ketemu sama M. Kemudian semuanya jadi agak aneh pas hari gue ulangtahun, saat kami nongkrong bareng. R bilang ke M tentang si temennya ini dan dia juga lagi-lagi bilang apa salahnya sih kenalan, toh juga kalo jadian ya bagus, nggak juga nggak apa-apa.

Sehari setelahnya, M tiba-tiba keluar dari grup Facebook kami dan gue kebingungan, ada apaan ya? Langsung deh gue kirim pesan ke si M nanya ada apa. Dua hari nggak dibales. Kemudian gue nanya ke salah satu temen gue di grup itu, si M kemana, kok tiba-tiba ilang. Jawabannya, “Gue tahu sih, tapi mending lo tanya sendiri aja deh ke orangnya.” Dasar bego, dikira gue 2 hari ini ngapain kalo nggak ngirim pesen lewat media apapun ke M nanya kenapa dia keluar dari grup Facebook?

Dua hari kemudian setelah gue nanya sana-sini tentang keberadaan dia, barulah si M ngirimin pesen balasan ke gue yang luar biasa panjang. Intinya dia merasa bahwa dia harus membuat batasan tertentu dan dia beneran nggak suka kalo gue dan R ngejodoh-jodohin dia. Bahkan di akhir pesan dia bilang, “Sampe gue nggak curiga lagi tentang rencana kalian, gue ngerasa gue mau jaga jarak dari lo.”

Lah?

Heran gue, jadi orang lebay amat, nggak dewasa amat. Harap catat, si M ini belom ketemuan sama temennya R ya. Belom ketemuan aja udah lebaynya minta ampun sampe keluar dari grup dan bilang tetep curigaan segala. Lagipula, apa salahnya sih kenalan sama orang? Toh itu temennya R dari lama, dan si R juga nggak bakal pengen ngenalin dia ke temennya ini kalo dia ngerasa mereka nggak cocok. Kalo akhirnya jadi temen, pacar, atau nggak pernah ketemu lagi kan siapa yang tahu? Kenapa sih nggak ngomong aja langsung “Gue nggak suka lo jodoh-jodohin gue. Jadi nggak usah coba lagi ya?” tanpa harus keluar dari grup dan ngirim pesen naujubilah panjangnya.

Dia mau jaga jarak dari gue ya silahkan, sih. Gue juga nggak merasa kehilangan. Jujur aja gue paling males ketemu orang drama kayak gini. Pake ngilang dari grup, nggak jawab pesan gue 2 hari, dan cerita tentang masalah dia ke gue ke orang lain duluan sebelum gue. Formula bikin gue empet banget, tuh.

Curhat: I NEED SPACE!!!

Sudah hampir dua minggu ini, rumah kami kedatangan tamu: teman masa kecil R. R sendiri udah sangat excited dengan rencana kedatangan teman kecilnya (kita sebut aja A mulai sekarang) karena A dan R terakhir ketemu dua tahun lalu. Mereka sudah kenal satu sama lain sejak mereka berumur 7 tahun dan pertemanan mereka masih lengket sampe sekarang. Maka itu gue mikir, “Oh, temen lama, ya nggak papa lah tinggal disini, toh kalo temen-temen gue dari Indonesia main kesini pasti gue suruh tinggal di rumah aja”.

Kenyataannya? Rasanya gue tiap hari pengen misuh-misuh karena gue ngerasa ruang gerak gue terbatas. Semakin hari gue semakin capek dengan basa basi yang harus gue buat, dan juga gue harus “membagi” R dengan temannya ini. Belum lagi gaya hidup A yang flamboyan banget, beda sama R, dan R harus ngikutin gaya hidup A yang hampir tiap malem party melulu.

Gue seorang introvert, dan di awal memutuskan untuk tinggal sama R, gue takut akan kehilangan privasi gue. Ternyata masa adaptasi itu nggak berlangsung lama, karena sekarang gue sudah nyaman dengan R di “gelembung” gue dan gue sudah mikir bahwa gue dan dia adalah satu identitas, jadi nggak ngerasa risih lagi.

Tapi kedatangan tamu ini lho… rasanya dua minggu ada dia di rumah tuh kayak dua bulan. Gue capek harus ber “halo halo” basa basi nggak jelas tiap ke ruang tamu (karena dia mondok di ruang tamu) dan gue capek banget kuping gue disuguhi musik disko yang seakan dimainkan 24 jam kalo dia lagi di rumah. Gue juga capek ngerasa duit gue abis karena gue harus belanja mingguan dan dengan adanya satu orang tamu yang harus dikasih makan, bertambah pula budget belanja gue di supermarket. Walaupun dia juga suka bayarin belanjaan, tapi biasanya dia bayarin belanjaan yang ada makanan dia nya dan itu juga baru sekali gue ngeliat dia bayarin belanjaan kami.

Rasanya gue pengen banget protes sama R dan nanya “Si A kapan pulangnya sih?”. Jujur aja, toleransi gue dengan adanya orang baru di rumah semakin hari udah makin menipis kayak lapisan ozon di atmosfer, sama tipisnya juga dengan isi dompet gue dan budget hura-hura kami berdua. Tapi gue takut dianggap nggak sopan, lagipula si R udah lama banget ga ketemu si tamu kelamaan mondok ini, jadi gue ga bilang sampe sekarang.

Dan parahnya, sampe sekarang si R nggak nunjukin sama sekali kalo dia keberatan si A ini nggak pulang-pulang… yang menjadikan gue semakin segan buat nunjukin gue nggak suka ada tamu yang kelamaan mondok di rumah kami.

Ada saran gue harus ngapain? Dan adakah introvert di luar sana yang punya pengalaman yang sama? Gimana cara kalian menambah pundi-pundi sabar untuk menghadapi tamu rumah yang seakan mau bertamu selamanya?

Kenapa Sakit di Belanda Nggak Mahal?

Beberapa minggu yang lalu, gue sempat menulis tentang alur pergi ke dokter di Belanda. Disini memang jauh berbeda dengan Indonesia. Kalau di Indonesia, biasanya kalau rumahnya dekat rumah sakit ya langsung pergi ke rumah sakit dan mencari dokter spesialis. Sementara itu, di Belanda, semua orang wajib pergi ke klinik dulu untuk bertemu dokter umum. Dokter umum akan merujuk kita ke rumah sakit dan dokter spesialis kalau dia merasa penyakit kita sudah cukup parah untuk ditangani dokter biasa.

Sekarang gue mau ngomongin tentang asuransi kesehatan. Ide menulis tulisan ini muncul begitu saja ketika seorang teman blogger me-mention gue dalam jawabannya di Twitter mengenai asuransi kesehatan. Nah, di tulisan gue yang terdahulu, gue sudah menyinggung sedikit tentang pentingnya memiliki asuransi kesehatan di Belanda, sekarang gue mau nulis selengkap-lengkapnya. Semoga bermanfaat untuk kalian yang sedang mencari info tentang asuransi kesehatan di Belanda.

Asuransi (bahasa Belanda: verzekering) adalah sesuatu yang dianggap sangat penting oleh masyarakat Belanda. Menurut obrol sana-sini, satu orang Belanda bisa memiliki tiga asuransi sekaligus. Asuransi itu berupa:

  1. Asuransi kesehatan (zorgverzekering);
  2. Asuransi tempat tinggal (woonverzekering); dan
  3. Asuransi liabilitas (aansprakelijkheidsverzekering).

Zorgverzekering, seperti yang telah dibahas di tulisan mengenai pergi ke dokter, adalah sesuatu yang wajib dimiliki oleh semua warga Belanda. Bahkan pas status gue masih pelajar, gue juga sudah terlindungi oleh asuransi pelajar internasional yang hitungannya memang jauh lebih murah daripada asuransi kesehatan Belanda.

Sebenernya harga premi asuransi kesehatan di Belanda nggak jauh beda, berkisar dari 70 sampai 100 euro per bulan. Yang membedakan adalah di eigen risico. Apakah itu eigen risico? Bahasa Indonesianya adalah ‘resiko sendiri’. Di Belanda, pemerintah menetapkan eigen risico paket asuransi mulai dari 386 euro sampai 800 euro-an. Ini berarti, semua tindakan yang nggak ditanggung paket basisverzekering, harus ditanggung sendiri oleh pengguna asuransi sampai batas yang disanggupi waktu mereka daftar asuransi untuk pertama kalinya. Biasanya, semakin tinggi eigen risico yang dipilih, semakin murah juga premi yang harus dibayar per bulan.

Tindakan apa saja yang bisa ditanggung pihak asuransi? Belanda mengenal dua tipe asuransi kesehatan: basisverzekering dan aanvullendeverzekering. Seperti namanya, basisverzekering berkisar di tindakan-tindakan sederhana, seperti konsultasi ke dokter, dapat penanganan dokter, dan menebus obat generik seperti antibiotika. Setiap asuransi, fitur basisverzekering-nya beda-beda, tapi menurut pengalaman gue sih tiga hal itu pasti ditanggung asuransi. Ada asuransi yang menanggung biaya konsultasi psikolog dan dokter gizi sebagai bagian dari basisverzekering tapi ada juga yang tidak.

Nah, aanvullendeverzekering adalah paket-paket tambahan dari asuransi. Disini yang menarik. Biasanya, para perusahaan asuransi akan punya banyak sekali paket tambahan yang menggugah calon konsumen. Ada yang menanggung penuh biaya kontrasepsi, biaya bikin kacamata, biaya penanganan kesehatan gigi… ada juga paket-paket yang menyediakan servis 100% atau 50% menanggung biaya fisioterapi, psikiater, psikolog, dokter gizi, bahkan sampe ke pengobatan alternatif! Untuk memilih aanvullendeverzekering ini kita memang harus bener-bener tau mau pake servis yang mana untuk bisa menggunakan asuransi tersebut semaksimal mungkin.

Selain asuransi pribadi, di Belanda juga mengenal sistem asuransi kolektif. Biasanya, sistem ini dimiliki oleh perusahaan besar yang karyawannya banyak. Jika kamu masuk perusahaan yang punya keuntungan asuransi kolektif, lebih baik ikut skema itu saja, karena nanti kamu akan jauh lebih murah membayar asuransi kesehatan per bulan.

Tapi gimana kalo kamu masih seret masalah duit tapi masih harus bayar asuransi? Zorgtoeslag jawabannya! Fasilitas ini adalah fasilitas dari Belastingdienst (Dinas Pajak dan Bea Cukai) yang intinya akan ‘membayar kamu kembali’ untuk uang asuransi kesehatan. Jika kamu punya nomor BSN Belanda, kamu berhak untuk meminta fasilitas ini. Silahkan main-main ke halaman web Belastingdienst untuk mengetahui prosedurnya, atau ketik ‘zorgtoeslag’ di Google.

Jika kalian bingung mau pilih paket mana selain basisverzekering, saran gue sih pilih yang 100% menanggung perawatan gigi dan kontrasepsi (buat perempuan). Kesehatan gigi tuh penting banget, lho… gue baru menyadari pentingnya punya asuransi gigi setelah gigi gue sakit dan harus merogoh kocek yang agak dalam untuk pengobatannya. Bikin nyesel nggak punya asuransi gigi. Halaman web seperti HoyHoy dan ZorgWijzer juga bisa memberikan gambaran tentang asuransi mana yang paling pas dipilih sesuai kebutuhan dan budget kamu.

Selamat berburu asuransi!

Teman Masa Kecil

Yang namanya teman masa kecil tuh sampe kapanpun nggak akan bisa lupa, ya. Baik itu teman kecil di TK atau saat SD. Gue juga punya beberapa teman baik yang menemani masa kanak-kanak gue, tapi yang berkesan sih cuma ada tiga.

Agita, teman masa TK

Agita adalah teman pertama gue waktu TK. Orangtuanya berasal dari Solo, jadi dia punya kebiasaan ngomongnya medok. Nggak banyak yang gue inget tentang Agita, yang gue inget adalah kami suka tuker-tukeran makanan waktu jam istirahat, tukeran cincin mainan, dan tukeran cerita horor ala-ala anak TK.

Setelah lulus TK, Agita dan gue berpisah. Gue meneruskan SD ke sebuah SD Katolik di dekat rumah, Agita pindah ikut orangtuanya ke Solo. Gue lupa, tapi kata orang rumah, dulu Agita sering kirim surat ke gue, tapi gue selalu lupa balas dan akhirnya pertemanan kami selesai.

Bertahun-tahun kemudian, berkat media sosial, gue kembali bisa menemukan Agita! Saat itu gue iseng mencari namanya di Facebook, gue juga lupa darimana ceritanya gue ingat nama panjangnya. Seketika gue mendapatkan profilnya dan langsung kirim pesan “Ingat-gue-nggak?”. Ternyata dia masih ingat, dan mamanya juga masih ingat gue! Sayangnya kami nggak pernah ketemu lagi karena dia saat itu bersekolah di Singapura, dan sekalinya udah balik ke Indonesia, dia langsung ikut bisnis orangtuanya di Solo. Tapi kami tetap berteman via Facebook, kok.

Kakak Acha

Kakak Acha adalah tetangga gue dulu dan teman main rumah-rumahan saat gue kelas 2 SD. Saat itu, kak Acha udah kelas 6 SD, tapi dia masih suka ngeladenin gue main rumah-rumahan. Dulu, area bermain kami adalah kamar tidur tamu di lantai atas, karena jarang ada yang menempati dan banyak lemari-lemari kosong. Kami menjadikan lemari itu sebagai ‘rumah’ yang diisi banyak mainan perintilan kecil-kecil. Kak Acha dulu baik banget dan sabar banget. Biasanya kami main hampir setiap hari jam 4 sore, setelah semua PR gue selesai. Kak Acha biasanya mandi sore dan makan malam di rumah gue sebelum pulang ke rumahnya yang hanya berjarak 3-4 rumah jauhnya dari rumah gue. Kurang tetangga apa, coba?

Selain teman main, kak Acha juga teman gereja. Kebetulan, ibunya adalah teman baik bokap gue yang sampai saat itu jadi tetangga gue. Akhirnya gue jadi sering main sama kak Acha, bahkan gue ajak dia liburan ke Bandung bareng-bareng untuk mengunjungi Nini dan Aki.

Waktu gue naik kelas 3 SD dan kak Acha lulus SD, dia harus pindah ke Manado beserta ibunya. Sebelum ada media sosial, lagi-lagi nggak ada kabar, tapi waktu SMA gue akhirnya berhasil mengontak kak Acha karena dia pulang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Sempat diwawancara di kantor Oma, tapi sepertinya nggak keterima dan akhirnya dapat pekerjaan di sekolah dekat rumah gue dulu.

Update: Denger-denger, kakak Acha bakal menikah di bulan Agustus tahun ini. Sayangnya gue nggak bisa datang karena nggak pulang di bulan itu… 😦

Dinda

Dinda ini adalah kawan gue saat kelas 5 SD. Yang gue inget, sejak kelas 4 SD gue udah kenal dia, tapi nggak begitu akrab. Kami jadi akrab waktu kelas 5 SD, dimulai dari surat-suratan di kelas, padahal kami ada di kelas yang sama, hahaha! Isi surat-suratannya macem-macem mulai dari ngegosipin guru nyebelin sampe ngomongin gebetan cinta monyet. Lama-lama gue jadi suka nongkrong sama Dinda sepulang sekolah, bahkan setiap hari Jumat dia suka main ke rumah gue untuk main PlayStation. Kami juga jadi sering main ke mall sama-sama di akhir pekan.

Yang gue inget dari pertemanan gue dan Dinda dulu adalah kami sama-sama ‘sok bandel’. Sama-sama ngerasa me against the world, bahkan dengerin musiknya juga sama, yaitu Linkin Park, hehehe… Selain itu, Dinda anaknya kelihatan rebel banget dan sifat itu beda banget sama gue, jadi sepertinya dulu gue pengen jadi kayak dia yang gayanya kayak anak gaul. Keluarganya sifatnya lumayan hippie, ngebebasin anak-anaknya ngapain dan kemana aja, dan bokapnya punya VW Caravelle yang menurut gue retro dan gaul abis.

Sayangnya pertemanan gue dan Dinda berakhir di kelas 6 SD karena kami pisah kelas. Selanjutnya saat SMP kami masuk ke sekolah yang sama, tapi saat itu Dinda udah makin keren, ikutan tim voli sekolah, dan bergaul sama orang-orang keren juga. Waktu SMP itu, Dinda udah mulai ngerokok. Akhirnya kami makin jauh dan walaupun waktu kelas 3 SMP kami sekelas lagi, pertemanan gue dan Dinda udah nggak seperti waktu kami kelas 5 SD.

Setelah SD itu, pertemanan gue ganti-ganti, tapi tiga orang inilah yang membentuk pertemanan gue dan yang paling gue inget sampe sekarang. Kalau kamu, punya temen masa kecil yang masih membekas gak (walaupun sekarang mungkin udah nggak tau lagi dia dimana)?

(Jadi pengen kepo Facebook temen-temen jaman dulu, kan…)

Sayangi Jiwamu

mental health

Apa yang terlintas di pikiran kamu begitu mendengar kata “kesehatan mental”? Mungkin langsung kepikiran adegan-adegan film horor tentang rumah sakit jiwa, pembunuh psikopat, atau orang-orang yang langsung dicap “gila” karena suka ngomong sendiri. Atau mungkin kamu langsung teringat dengan film-film bertema penyakit mental seperti Patch Adams dan A Beautiful Mind.

Persepsi orang tentang kesehatan mental emang berbeda-beda, tapi sayangnya banyak sekali yang menganggap penyakit mental itu adalah sesuatu yang lebih buruk daripada penyakit fisik. Menurut gue, kesehatan mental itu sama derajatnya dengan kesehatan fisik. Bahkan menurut gue, level of pain-nya juga sama. Yang membedakan mereka adalah stigma yang ada di masyarakat. Masyarakat menilai bahwa penyakit fisik lebih gampang sembuh daripada penyakit mental dan penyakit mental jauh lebih meninggalkan bekas daripada penyakit fisik.

Banyak juga yang menganggap ngomongin kesehatan mental itu adalah sesuatu yang tabu karena anggapan bahwa kesehatan mental itu hal yang susah banget buat diomongin. Padahal mereka nggak sadar bahwa mereka juga punya mental yang harus diurus, bukan cuma fisik doang. Atau mereka yang menganggap bahwa kesehatan mental itu saking seriusnya maka bisa dijadiin bahan bercandaan. Mungkin karena itu banyak banget penyakit mental yang penggunaan katanya disalahgunakan, seperti “Duh, maaf ya, gue OCD (Obsessive Compulsive Disorder – red) banget nih, jadi kalo ada barang yang miring dikit pasti gue bawaannya pengen benerin…” atau “Denger cerita lo, kayaknya mantan lo rada psycho deh, jauh-jauh lah dari dia”, dsb. Padahal dua penyakit mental itu cukup serius lho dan nggak bisa dipakai seenaknya gitu aja dalam sebuah kalimat.

Kesehatan mental itu bisa diomongin dengan hal-hal gampang. Toh, kesehatan mental ada di hidup kita sehari-hari. Contohnya menjelang ujian. Jika kita terus-terusan belajar, kita akan mengalami stress. Contoh lain adalah ketika kita grogi dengan sesuatu, nggak jarang kita mengalami serangan panik yang biasanya ditandai dengan sulit bernafas, tangan gemetar, dan sulit fokus. Ketika kita terlalu tertekan dengan beban pekerjaan, lama-lama kita bisa mengalami burnout. Hal-hal seperti ini adalah kesehatan mental skala kecil yang bisa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari dan bisa juga ditolong dengan hal-hal kecil seperti latihan pernafasan dan meditasi. Selain itu, ada juga kesehatan mental yang jauh lebih besar skalanya seperti halusinasi, psikosis, skizofrenia, PTSD, anxiety disorder, dan lain-lain. Tapi untuk penyakit-penyakit seperti ini biasanya dibutuhkan diagnosis (atau diagnosa?) psikiater sebelum melangkah ke tahap selanjutnya yaitu penyembuhan.

Nah, untuk kita-kita ini, bagaimana cara menjaga kesehatan mental? Seperti gambar yang ada di atas, ketika ngomongin kesehatan, kita juga harus menyertakan kesehatan mental dalam konteks ‘sehat’ secara menyeluruh. Menurut gue cara menjaga kesehatan mental sendiri tuh cukup mudah kok, beberapa diantaranya adalah:

  • nggak kebanyakan mikir
  • selalu punya pikiran positif (bahkan saat terlalu banyak negativitas di sekitar kita)
  • sering-sering meditasi dan latihan pernafasan
  • tahu batas diri; kalau sudah ngerasa stress, langsung cari hiburan untuk melepaskan rasa stress
  • punya orang yang dipercaya yang bisa diajak curhat kalau butuh teman bicara

Jika kamu didiagnosa penyakit mental tertentu, gue punya gambar yang bisa bikin kamu positif terhadap apapun diagnosa penyakitmu:

anxiety

Tulisan ini dibuat dalam rangka partisipasi dalam Mental Health Awareness Month yang jatuh setiap bulan Mei. 

Curhat: Politik Kantor

Nggak terasa, udah tiga bulan gue kerja di kantor ini. Sebenernya sih masih banyak senengnya daripada betenya, mungkin karena di pekerjaan ini gue merasa tertantang dengan banyaknya proyek yang harus gue urusin setiap hari. Tapi belakangan ini gue ngerasa bete banget sama kolega-kolega gue, terutama mereka yang suka banget ngomongin kolega lainnya.

Gue memperhatikan adanya pola seperti ini sejak bulan pertama gue ngantor. Jadi setiap kali kami pergi makan siang diluar bersama orang-orang tertentu (biasanya sih dari divisi Sales), selalu aja ada saat dimana mereka ngomongin kolega lain, entah dari divisi yang sama maupun divisi yang berbeda. Awalnya gue masih cuek aja, bahkan gue banyakan dengerinnya daripada ngomongnya, tapi lama-lama gue jadi jengah sendiri.

Kenapa gue jengah dan malas ikutan bergosip ria? Pertama, karena gue nggak suka ngomongin orang. Okelah kalau itu orang gue nggak suka, mungkin gue bisa berapi-api ngomongin dia, tapi please deh ini kolega gue sendiri yang lagi diomongin. Dan sejauh gue kerja disini, orang-orang tersebut nggak pernah melakukan sesuatu ke gue yang tergolong nggak baik. Jadi, ngapain gue harus ikutan ngomongin sesama kolega yang sama-sama nyari duit di perusahaan yang sama?

Yang kedua, please deh, itu kolega lo juga lho yang lagi lo gosipin… Buat gue, bisnis ya bisnis. Justru gue jauh lebih tertarik denger cerita apa yang dilakukan di akhir minggu atau rekomendasi film bagus buat ditonton sepulang kerja. Bukannya malah gosipin orang lain dan ngomongin kebijakan kantor… job description kerjaan aja udah bikin ribet kepala, kenapa masih harus makin bikin pusing dengan cara ngomongin orang-orang yang ada didalamnya?

Kemarin itu cuaca lagi cerah banget, karena gue nggak bawa bekal, jadilah gue berangkat ke kantin kantor dimana gue bertemu kolega-kolega lain termasuk mereka yang suka ngomongin orang. Akhirnya gue ikut mereka makan siang tapi gue nggak ngomong apa-apa. Lalu kami nongkrong sebentar dan kami ngeliat manager gue lagi berjemur sama kolega lain. Dan salah satu dari si tukang ngomongin orang nyeletuk, “Ih liat deh bos lu lagi duduk disitu, gue yakin dia ngeliat kita, kok nggak nyapa nggak apa, ya?”

Gue langsung mikir, “Did you just realize what you were saying?” Heran, udah jadi pegawai kantor, mental masih kayak mean girl SMA…

Pengalaman Bekerja di Horeca

Related image
Nggak semua orang yang lulus S2 di luar negeri bisa langsung dapat pekerjaan dengan gaji yang bagus. Gue contohnya. Setelah lulus kuliah menyandang gelar Master di bulan April 2016, gue mendapatkan pekerjaan jadi Museum Guide di sebuah atraksi/museum yang baru buka di Amsterdam.

Pekerjaan tersebut ternyata lebih membawa dampak negatif ketimbang positif untuk gue. Saat itu, gue digaji cukup rendah, bahkan dibawah gaji normal untuk karyawan umur 25 tahun (di Belanda ada sistem zero hour worker, jadi kami hanya dibayar kalau masuk kerja aja). Jarak tempat kerja dan rumah juga jadi salah satu hambatan, karena mereka nggak mengganti ongkos kerja gue, sehingga nggak jarang gue besar pasak daripada tiang. Akhirnya, jadwal kerja yang nggak beraturan dan komunikasi antar pegawai yang sangat jelek membuat gue keluar dari museum tersebut.

Satu minggu setelah gue keluar dari museum, gue ditawari pekerjaan di sebuah toko. Akhirnya gue mengiyakan tawaran tersebut karena jadwal kerja yang pasti, gaji yang lumayan, dan ongkos jalan yang ditanggung empunya toko. Toko di Belanda artinya adalah restoran kecil yang menyediakan nasi rames ala Indonesia. Ada juga beberapa toko yang menjual bumbu-bumbu dapur Indonesia sebagai usaha tambahan. Toko tempat gue bekerja ini cukup spesial karena selain menjual nasi rames, mereka juga menjual jajanan abang-abang ala Indonesia secara ala carte seperti bebek kremes, tahu telor, bakso, soto, yang dimasak langsung sama kokinya.

Gue bekerja di toko tersebut selama empat bulan, dari bulan Oktober sampai bulan Februari. Selama empat bulan bekerja di sektor horeca, gue dapat banyak sekali pengalaman yang bisa gue simpulkan dibawah ini.

Kerja di horeca bikin gue menghargai pekerjaan bidang servis

Ini adalah pengalaman nomor satu yang gue dapat. Pink-collar worker (pekerja bidang servis) itu tergolong pekerja yang sangat bekerja keras, lho, karena tugas mereka adalah menservis pelanggan dan berhubungan langsung dengan pelanggan. Selain itu, mereka juga harus punya kemampuan fisik yang bisa menunjang pekerjaan mereka yang kebanyakan berdiri, jalan, lari, pokoknya apa-apa harus cepat. Pengalaman kerja jadi pink-collar worker membuat gue menghargai para pramusaji di restoran karena gue ngerti banget peliknya kerja di sektor ini. Jadi kalian jangan langsung marah-marah kalo pesen makan/minuman di restoran terus keluarnya lama, ya…

Kerja di horeca melatih manajemen waktu

Ini penting banget sih, terutama waktu gue kerja dulu, gue cuma kerja sama seorang koki. Kadang dia butuh bantuan gue untuk menyiapkan makanan. Manajemen waktu sangat penting karena kami mau hasil akhir makanan yang hangat sehingga bisa dinikmati pelanggan. Misalnya ada yang pesan ayam kremes, gue bertugas untuk menyiapkan piring dan menghangatkan nasi putih sementara si koki ngegoreng ayam. Biar semuanya hangat dan enak, gue harus pinter-pinter atur waktu kapan harus masukin nasi putih ke microwave biar selesai barengan sama si ayam goreng sehingga si koki nggak harus nunggu lama-lama untuk menghidangkan makanan tersebut. Kerjasama dan komunikasi yang baik sangat penting untuk eksekusi makanan ke pelanggan.

Kerja di horeca melatih kesabaran

Yang ini menyangkut hubungan gue dengan pelanggan. Toko tempat gue kerja banyak dikunjungi orang Belanda. Kebanyakan dari mereka emang baik dan menghargai kerjaan gue, tapi nggak jarang juga banyak orang separo mabok atau orang sombong yang suka kurang ajar. Gue pernah dapat pelanggan yang sudah beli makanan paling mahal, mau bayar kontan, gue bilang nggak ada uang kembalian, dan dia marah-marah terus akhirnya nggak jadi beli (padahal kan bisa bayar pake kartu, ya…) terus nyalahin gue yang nggak siap uang kontan. Lha, gue sih nggak mau tau, yang penting situ bisa bayar makanan situ. Orang-orang yang kayak gini emang harus disabar-sabarin atau bisa langsung dijutekin kalau kelakuan mereka udah kurang ajar banget.

Kerja di horeca membuka pengetahuan gue tentang kepribadian orang

Mungkin ini stereotip atau juga bukan, tapi kerja di toko bikin gue tau gimana cara berurusan dengan orang yang kepribadiannya beda sama gue. Koki di toko tempat kerja gue adalah orang yang sangat reaktif dan cenderung nggak sabar. Kadang-kadang gue lupa sesuatu, terus kalau gue tanya dia, dia sering banget jawab gue dengan jutek seolah-olah bilang “Kok udah berapa kali diajarin tetep aja lupa sih?”. Sering banget gue beradu pendapat sama si koki ini karena sifat reaktifnya dia membuat dia gampang membuat kesimpulan akan sesuatu, walaupun kesimpulannya itu belum tentu benar. Ini sering terjadi di minggu-minggu terakhir sebelum gue keluar dari pekerjaan tersebut karena dapat pekerjaan tetap. Walaupun pas ngalaminnya nggak enak, tapi pas keluar ternyata gue dapat pengalaman juga kerja dengan orang yang sumbunya lebih pendek daripada gue.

Sebenernya ada lebih banyak pengalaman lain, tapi poin-poin di atas cukup mewakilkan semuanya. Apa kamu pernah kerja di bidang servis? Apa pengalaman yang kamu petik selama bekerja di bidang tersebut?