Curhat: Temen Drama

Alkisah, gue punya temen baik disini (orang Indonesia) bernama M. Suatu hari, kami memutuskan untuk nongkrong bareng bersama temen lain dan gue juga ngajak R untuk kenalan sama temen-temen gue disini. R dan M langsung akrab karena mereka suka beberapa hal yang sama. Bagus lah, temen gue bisa main sama cowok gue, pikir gue.

Kemudian R tiba-tiba mengajukan ide untuk ngenalin M ke temennya. Gue udah sering nongkrong sama temennya R ini dan menurut gue orangnya pinter dan ternyata dia juga punya latar belakang pendidikan yang mirip dengan M. Pantes dong kalo R pengen iseng ngejodohin M sama temennya dia.

Si M langsung menolak, tapi anehnya dia antara nolak tapi nggak nolak gitu karena dikit-dikit pasti dia nanya si R tentang relationship dan cowok ganteng. Si R ya mikirnya si M pengen punya pacar dong, abisan dikit-dikit mereka ngomongin soal relationship. Si M ini tipe orang yang agak anxious sama cowok dan dia nggak tau kalo punya pacar bakal buat apa (serius dia ngomong begini).

Gue sih dukung-dukung aja rencana si R ngenalin M ke temennya. Menurut gue, toh juga baru dikenalin, gue juga nggak mikir mereka harus pacaran keesokan harinya. Lumayan nambah temen baru untuk dua belah pihak, ya kan? Alasan yang sama juga gue ungkapkan ke M saat gue “ngomporin” dia untuk mau dikenalin ke temennya R.

Semuanya berlangsung wajar-wajar aja, bahkan temennya R belom sempet ketemu sama M. Kemudian semuanya jadi agak aneh pas hari gue ulangtahun, saat kami nongkrong bareng. R bilang ke M tentang si temennya ini dan dia juga lagi-lagi bilang apa salahnya sih kenalan, toh juga kalo jadian ya bagus, nggak juga nggak apa-apa.

Sehari setelahnya, M tiba-tiba keluar dari grup Facebook kami dan gue kebingungan, ada apaan ya? Langsung deh gue kirim pesan ke si M nanya ada apa. Dua hari nggak dibales. Kemudian gue nanya ke salah satu temen gue di grup itu, si M kemana, kok tiba-tiba ilang. Jawabannya, “Gue tahu sih, tapi mending lo tanya sendiri aja deh ke orangnya.” Dasar bego, dikira gue 2 hari ini ngapain kalo nggak ngirim pesen lewat media apapun ke M nanya kenapa dia keluar dari grup Facebook?

Dua hari kemudian setelah gue nanya sana-sini tentang keberadaan dia, barulah si M ngirimin pesen balasan ke gue yang luar biasa panjang. Intinya dia merasa bahwa dia harus membuat batasan tertentu dan dia beneran nggak suka kalo gue dan R ngejodoh-jodohin dia. Bahkan di akhir pesan dia bilang, “Sampe gue nggak curiga lagi tentang rencana kalian, gue ngerasa gue mau jaga jarak dari lo.”

Lah?

Heran gue, jadi orang lebay amat, nggak dewasa amat. Harap catat, si M ini belom ketemuan sama temennya R ya. Belom ketemuan aja udah lebaynya minta ampun sampe keluar dari grup dan bilang tetep curigaan segala. Lagipula, apa salahnya sih kenalan sama orang? Toh itu temennya R dari lama, dan si R juga nggak bakal pengen ngenalin dia ke temennya ini kalo dia ngerasa mereka nggak cocok. Kalo akhirnya jadi temen, pacar, atau nggak pernah ketemu lagi kan siapa yang tahu? Kenapa sih nggak ngomong aja langsung “Gue nggak suka lo jodoh-jodohin gue. Jadi nggak usah coba lagi ya?” tanpa harus keluar dari grup dan ngirim pesen naujubilah panjangnya.

Dia mau jaga jarak dari gue ya silahkan, sih. Gue juga nggak merasa kehilangan. Jujur aja gue paling males ketemu orang drama kayak gini. Pake ngilang dari grup, nggak jawab pesan gue 2 hari, dan cerita tentang masalah dia ke gue ke orang lain duluan sebelum gue. Formula bikin gue empet banget, tuh.

Curhat: Politik Kantor

Nggak terasa, udah tiga bulan gue kerja di kantor ini. Sebenernya sih masih banyak senengnya daripada betenya, mungkin karena di pekerjaan ini gue merasa tertantang dengan banyaknya proyek yang harus gue urusin setiap hari. Tapi belakangan ini gue ngerasa bete banget sama kolega-kolega gue, terutama mereka yang suka banget ngomongin kolega lainnya.

Gue memperhatikan adanya pola seperti ini sejak bulan pertama gue ngantor. Jadi setiap kali kami pergi makan siang diluar bersama orang-orang tertentu (biasanya sih dari divisi Sales), selalu aja ada saat dimana mereka ngomongin kolega lain, entah dari divisi yang sama maupun divisi yang berbeda. Awalnya gue masih cuek aja, bahkan gue banyakan dengerinnya daripada ngomongnya, tapi lama-lama gue jadi jengah sendiri.

Kenapa gue jengah dan malas ikutan bergosip ria? Pertama, karena gue nggak suka ngomongin orang. Okelah kalau itu orang gue nggak suka, mungkin gue bisa berapi-api ngomongin dia, tapi please deh ini kolega gue sendiri yang lagi diomongin. Dan sejauh gue kerja disini, orang-orang tersebut nggak pernah melakukan sesuatu ke gue yang tergolong nggak baik. Jadi, ngapain gue harus ikutan ngomongin sesama kolega yang sama-sama nyari duit di perusahaan yang sama?

Yang kedua, please deh, itu kolega lo juga lho yang lagi lo gosipin… Buat gue, bisnis ya bisnis. Justru gue jauh lebih tertarik denger cerita apa yang dilakukan di akhir minggu atau rekomendasi film bagus buat ditonton sepulang kerja. Bukannya malah gosipin orang lain dan ngomongin kebijakan kantor… job description kerjaan aja udah bikin ribet kepala, kenapa masih harus makin bikin pusing dengan cara ngomongin orang-orang yang ada didalamnya?

Kemarin itu cuaca lagi cerah banget, karena gue nggak bawa bekal, jadilah gue berangkat ke kantin kantor dimana gue bertemu kolega-kolega lain termasuk mereka yang suka ngomongin orang. Akhirnya gue ikut mereka makan siang tapi gue nggak ngomong apa-apa. Lalu kami nongkrong sebentar dan kami ngeliat manager gue lagi berjemur sama kolega lain. Dan salah satu dari si tukang ngomongin orang nyeletuk, “Ih liat deh bos lu lagi duduk disitu, gue yakin dia ngeliat kita, kok nggak nyapa nggak apa, ya?”

Gue langsung mikir, “Did you just realize what you were saying?” Heran, udah jadi pegawai kantor, mental masih kayak mean girl SMA…

Curhat: Last Day.

Tanpa terasa, malam ini adalah malam terakhir gue di Indonesia. Selama di Indonesia selama satu bulan penuh, gue berhasil kembali bergaul dengan teman-teman lama yang sudah ada sejak gue kuliah, juga kembali bertemu dengan adik-adik dan sepupu-sepupu yang ekstrovert dan seru-seru. Esok malam gue akan kembali bertolak ke Belanda dengan tujuan yang berbeda dari tahun lalu. Jika tahun lalu gue bertolak untuk belajar, kali ini gue bertolak kembali ke negeri Kincir Angin untuk mencari peruntungan.

Jika gue disuruh menyimpulkan liburan gue ini dengan satu kata, gue akan memilih kata ‘Tekanan’. Mungkin kalian sudah baca tulisan gue tentang bagaimana gue ditekan keluarga untuk tidak buang-buang waktu beberapa minggu lalu. Ya, tekanan selalu gue alami selama liburan, terutama di seminggu terakhir. Karena tekanan, gue jadi malas bertemu orangtua dan oma opa karena mereka pasti menyelipkan obrolan berbau pekerjaan yang ujung-ujungnya gue selalu diberi wejangan untuk terus melihat pekerjaan juga di Indonesia. Ya intinya nyuruh gue pulang. Atau juga tekanan dari oma gue beberapa minggu yang lalu seperti dengan seenaknya membandingkan gue dengan anak dari salah satu rekannya yang kerja di Amerika dengan gaji yang sudah berapa digit. Kemudian dia menambahkan, kalau kerja di luar negeri tuh ya cari pekerjaan yang gajinya besar kayak begitu, kalau gajinya biasa aja ya lebih baik pulang. Kesal sekali gue rasanya dibandingkan seperti itu, tanpa mengerti faktor lain seperti kemungkinan besar anaknya si kerabat oma itu sudah lama menetap di Amerika sejak lulus dan sudah punya kerjaan tetap jadi gajinya bisa sampai belasan digit per tahun. Masa iya orang seperti itu dibandingkan dengan gue yang baru lulus dan pengalaman kerja masih level pemula?

Gue merasa yakin bahwa dengan orangtua gue memberi tekanan seperti ini, tandanya mereka nggak paham bagaimana cara menghadapi gue. Tekanan yang mereka berikan kebanyakan berupa kata-kata pasif agresif atau singgungan yang nggak perlu, yang malah bikin gue kesel karena gue tipe orang yang selalu bicara apa adanya dan menginginkan orang lain juga bicara apa adanya ke gue. Di sisi lain, gue nggak merasa perlu buang-buang waktu menjelaskan ke mereka bahwa ini pilihan gue, tolong hargai dan semangati pilihan hidup gue walaupun mungkin kalian menginginkan hal sebaliknya. Jauh dari keluarga nggak akan membuat gue jadi satu derajat lebih rendah, melainkan gue akan sangat berterima kasih karena diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup dan mengembangkan potensi pribadi tanpa harus bawa-bawa nama keluarga atau memikirkan “Gimana kalau keluarga X lihat ini? Gimana kalau keluarga Y lihat ini?”. Diberikan perlakuan pasif agresif malah membuat gue merasa kurang percaya diri dan merasa bersalah karena dapat pemikiran lagi-lagi gue meninggalkan keluarga, semua salah gue, kenapa gue egois sekali, dll dsb. Anehnya, sisi lain dari gue justru lebih merasa seperti dipecut untuk membuktikan ke keluarga gue bahwa gue bisa lho mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup dan bikin gue bahagia, dan lama-lama mimpi gue mandiri secara finansial pasti akan tercapai.

Salah satu indikator lain bahwa keluarga gue nggak paham gue adalah bahwa mereka menganggap gue belum berubah. Memang, kebiasaan-kebiasaan yang gue lakukan adalah kebiasaan yang selalu gue lakukan saat sebelum pindah, dan dengan begitu mereka bilang gue nggak berubah. Padahal sebenarnya gue sangat berubah 180 derajat dari gue yang dulu. Gue jadi jauh lebih mudah beropini, berargumen, dan jauh lebih percaya diri dengan kemampuan diri sendiri. Sudah selesai masa-masa Crystal yang iya-iya aja, atau malas mikir. Sayangnya mereka menganggap gue yang tidak berubah adalah gue yang lebih baik, padahal sebenarnya gue sudah berubah banyak sejak terakhir gue tinggal di rumah ini.

Gue sungguh sangat nggak sabar untuk pulang ke Belanda. Ya, pulang. Gue merasa sangat nyaman di Belanda karena dipenuhi dengan orang-orang di sekitar gue yang: a) sama-sama mencari kerja, dan b) sangat suportif dengan pilihan hidup gue. Mereka adalah teman-teman yang sudah gue anggap seperti keluarga sendiri. Aneh rasanya menganggap Belanda jauh lebih nyaman dari Indonesia, tempat dimana gue lahir dan dibesarkan. Jauh lebih nyaman karena di Belanda isinya adalah orang-orang yang mendukung gue dan berani berkata jujur di depan wajah gue, ketimbang orang-orang yang bersikap pasif agresif tentang jalan hidup gue. Semoga begitu gue kembali ke Belanda, jalan karir gue semakin terbuka lebar dan gue cepat dapat kerja, apapun itu pekerjaannya. Gue nggak sabar untuk membuktikan ke keluarga gue bahwa gue bisa mandiri secara finansial dan gue bisa make my own living di sebuah negara yang letaknya 13 ribu km jauhnya dari negara asal gue.

Curhat: When You Feel Belittled (……………… by your own family)

051ae34263b47b282171db67c2992f6602ffcd-wm

Mau curhat dikit, ah…

Jadi sudah sekitar dua minggu gue tinggal di Jakarta dan tinggal kurang dari dua minggu lagi sebelum gue kembali ke Belanda. Alih alih gue sedih meninggalkan keluarga dan teman, gue malah seneng. Kenapa?

Karena gue merasa keluarga gue nggak setuju dengan kepindahan gue ke Belanda.

Pada awalnya sih mereka setuju-setuju aja, apalagi bokap gue. Sampai kepulangan gue, mereka nggak pernah misah-misuh apa-apa. Sampai ketika hari pertama gue pulang, terjadilah sebuah dining table conversation yang membuat gue agak merasa nggak nyaman. Singkat kata, gue merasa orangtua gue (bokap nyokap dan oma opa) agak nggak setuju gue pindah ke Belanda untuk melanjutkan karir. Mereka nggak ngomong itu secara harfiah, sih, tapi mereka memberi kata-kata kode yang menjurus ke hal itu, seperti bokap gue yang tiba-tiba membandingkan gaji lulusan S2 di Indonesia dan di luar negeri. Kemudian mereka memberikan gue wejangan yang intinya bahwa gue nggak boleh menghabiskan waktu gue, karena yang namanya waktu itu bergulir sangat cepat. Oke lah ya, gue menerima saran itu, tapi bukan berarti gue akan mengubah pikiran gue tentang pindah ke Belanda untuk mencari kerja dan melanjutkan hidup.

Kemudian setelah dua minggu masalah ini nggak diomongin, tadi pagi oma gue baru saja melakukan sesuatu yang menurut gue sangat nggak sopan dan membuat gue ngerasa sangat nggak nyaman. Jadi begini, setiap pagi keluarga gue (oma, opa dan tante) suka mengadakan doa pagi. Karena gue tinggal di rumah oma gue selama liburan, mau nggak mau gue harus ikutan juga (mereka nggak tau bahwa gue udah nggak practice agama Kristen tapi masih tetap mengaku Kristen). Kemudian oma gue berdoa untuk gue. Awalnya gue udah ngerasa seneng, tapi dia mendoakan rencana gue pulang kembali ke Belanda dan dia menambahkan embel-embel “supaya gue nggak membuang waktu gue”.

Gue yang cuma pose berdoa, langsung kaget. Berarti benar adanya, mereka menganggap bahwa kepindahan gue ke Belanda hanya untuk membuang waktu, dong? Langsung pada saat itu gue merasa sangat nggak nyaman, berbagai pikiran otomatis langsung muncul di kepala gue, seperti kalimat-kalimat ini:

“Jadi dia merasa kepindahan gue ke Belanda ini semacam usaha gue buang-buang waktu gue, gitu? Justru gue JAUH lebih menghabiskan waktu gue tinggal di Indonesia daripada di Belanda, tau! Emangnya dia pikir gue cuma bakal leha-leha ngabisin tenaga, uang dan waktu pas gue nanti tinggal di Belanda? Gue ini pindah ke Belanda karena gue tau negara itu jauh lebih memberikan gue ruang untuk bergerak dan menjadi dewasa untuk kedewasaan gue secara pribadi!”

Sumpah, rasanya menjadi ‘kecil’ itu nggak enak banget. Gue bener-bener ngerasa dikecilkan saat oma gue berdoa seperti itu. Kenapa sih dia nggak bilang supaya gue cepat dapat kerja, apalah, yang lebih positif? Mendoakan supaya gue ‘nggak buang-buang waktu’ saat di Belanda sama aja membuat gue berasumsi bahwa dia berpikir kepindahan gue ke Belanda hanya membuang-buang waktu gue, disaat gue berpikir kenapa gue nggak pindah dari dulu aja karena negara ini sungguh membuang waktu gue.

Teman-teman, pernah ngerasa dikecilkan oleh orang-orang terdekat seperti keluarga?

Curhat: Finding a Job

frabz-job-searching-what-my-friends-think-i-do-what-my-mom-thinks-i-do-d81bec

Selain berlibur di Indonesia, gue punya sebuah misi lain, sebuah misi yang selalu gue lakukan saat gue nggak punya agenda bertemu teman. Misi Cari Kerja. Gue sadar bahwa masa-masa euphoria lulus gue sudah berlalu, dan kini saatnya gue lebih fokus untuk mencari kerja, apalagi kerja di Belanda.

Cari kerja di Belanda itu susahnya minta ampun. Selain lingkaran setan yang selalu muncul di setiap pencarian kerja seperti meme di bawah ini,

vishnu_blog_experience_meme

salah satu tantangan untuk mencari kerja di Belanda adalah perkara bahasa. Hampir di setiap lowongan pekerjaan yang gue daftar, selalu ada tulisan tentang kemampuan berbahasa Belanda, walaupun lowongan pekerjaannya dalam bahasa Inggris. Dan lucunya, ditulis kemampuan bahasa Belandanya harus dalam tahap goed atau bagus atau bahkan uitstekend alias luar biasa. Gue memang sudah berencana untuk melanjutkan kursus bahasa Belanda gue ke tingkat B1, tapi ya harus punya duit dulu baru bisa pergi les!

Ada juga kejadian yang sering gue alami, nama pekerjaannya pake embel-embel ‘International’, tapi lowongan kerjanya ditulis dalam bahasa Belanda dan lagi-lagi kemampuan bahasa Belandanya harus luar biasa bagus. Lah, gimana judul pekerjaannya bisa pake kata ‘International’ ketika lowongan pekerjaannya ditulis pakai bahasa Belanda? #edisikurangpaham

Salah satu tantangan lain dalam mencari kerja di Belanda adalah kondisi gue secara minat. Bayangkan, gue punya gelar Master di bidang area studi (dan humaniora secara keseluruhan), tapi gue berminat untuk bekerja di bidang komunikasi atau event programming. Sementara itu, pengalaman kerja yang gue punya sangat beragam, mulai dari pengalaman kerja sebagai tenaga administrasi, sampai pengalaman freelance yang bikin gue melek tentang dunia interpreting, social media marketing, sampai pengalaman volunteer di bidang museum guiding. Diversitas skill yang gue miliki, baik itu skill yang didapat lewat pekerjaan maupun lewat pekerjaan lepas, justru seakan menjadi batu sandungan untuk gue mendapatkan pekerjaan yang gue inginkan. Di saat seperti ini, rasanya gue kepingin jadi seseorang yang minatnya di satu bidang aja, sehingga dia bisa lebih fokus untuk mengembangkan minatnya itu agar jadi sejalan dengan career path-nya, daripada gue yang punya minat beragam sehingga sulit mau pilih minat mana yang bisa gue pakai sebagai nilai jual saat menulis surat lamaran kerja.

uohepbz

Ini juga salah satu batu sandungan gue dalam mencari pekerjaan. Rasanya sebel banget kalau lihat sebuah lowongan pekerjaan yang kita suka banget, dari segi job description yang ditawarkan juga udah meneriakkan ‘GUE BANGET NIH!  GUE BANGET!’, kemudian benefit yang diberikan perusahaan juga sepertinya sangat menggiurkan (disini banyak perusahaan yang ngebocorin standar gaji dan standar jam kerja mereka di lowongan kerja), tapiiiii begitu di bidang requirements, mereka butuh pengalaman kerja sekitar lebih dari 1 tahun. Padahal mereka tulis pekerjaan itu di bidang Entry Level. GIMANA BISA?????? Kembali lagi ke meme lingkaran setan ala Jackie Chan di atas, gimana bisa gue dapat pengalaman kerja kalau setiap lowongan pekerjaan meminta gue punya pengalaman kerja? *nangis di pojokan*

Jika kalian membaca tulisan gue ini, apa ada tips dan trik gimana cara mendapatkan pekerjaan? Preferably untuk orang-orang Indonesia yang sudah sukses bekerja di luar negeri. Apa obstacles yang kalian alami saat pertama mencari kerja dan saat masih belom bisa bahasa negara tempat kalian tinggal? Dan bagaimana cara kalian mengatasinya?

Notes to keep in mind

Kalo lo punya temen cewek yang jago masak, jangan komentar “Wah sekarang tinggal cari suami nih.”. Jago masak bukan berarti dia mau nikah secepatnya.

Kalo lo ngeliat foto temen cewek lo lagi gendong bayi atau main sama anak kecil, jangan bilang “Wah, udah cocok nih!”. Mungkin dia nggak mau punya anak atau sebenernya dia nggak suka anak kecil. Lagipula, suka anak orang bukan berarti bakal cepet suka sama anak sendiri.

Kalo lo denger temen lo punya pacar, jangan digodain dengan ngomong “Undangannya ditunggu ya!”. Kebayang banget beban emosional baru punya pacar baru kemudian langsung dapet tuntutan cepet nikah…

Kalo lo punya temen cewek orang Indonesia yang mulai pacaran sama orang non-Indonesia, jangan ditanyain “Jadi kalian udah sampe mana? Udah ML ya?”. Ini pertanyaan paling nggak sopan dan paling mengganggu sepanjang hayat.

Kalo temen lo kelamaan nggak punya pacar, jangan dikomentarin “Kenapa lo lama banget jomblo?”. Dia punya alasan sendiri dan itu bukan urusan lo.

Kalo lo punya temen perempuan yang vokal dan jago banget ngomongin seks, jangan label mereka sebagai cewek nggak bener. Bersyukurlah karena ada cewek yang sadar mau tau gimana cara menjaga dirinya dari hal-hal yang nggak diinginkan.

Kalo lo punya temen yang udah punya pacar lama banget, jangan digangguin dengan ditanya “Jadi kapan nikah nih?”. Pernikahan itu adalah hal mahapenting antara dua orang. Lo kira bikin pesta pernikahan kayak bikin pesta ulangtahun?

Kalo lo punya temen cewek yang udah nikah, jangan nanya basa-basi “Udah isi belom?”. Nggak semua pasangan langsung pengen punya anak begitu setelah menikah.

————————-

Ada yang mau nambahin?

Etika Memberi Nomor Telepon

Waktu itu, Mariska pernah nulis tentang etika menelepon disini, karena itu gue mau membahas sedikit tentang yang mirip, yaitu etika memberi nomor telepon.

Gue termasuk orang yang menghargai privasi. Untuk gue, gue bakal ngasih nomor telepon gue ke orang lain kalo memang gue mau ‘diganggu’, karena yang namanya nomor telepon itu kan sifatnya pribadi banget, ya. Kalau e-mail mungkin bisa dijawab lain waktu tapi kalau telepon kan selalu ada sama kita 24 jam sehari 7 hari seminggu. Atas dasar itu, gue menganggap kalo urusan ngasih nomor telepon ke orang sebagai sesuatu yang sakral (cie ilah bahasanya), mirip-mirip kalau orang Jepang baru kenalan lalu ngasih kartu nama.

Tulisan ini terinspirasi dari cerita mbak Deny seminggu lalu, tentang ada temennya yang ngasih nomor telepon dia ke orang lain, padahal dia nggak kenal sama orang itu. Gue di posisi mbak Deny sih udah pasti kesel lah. Gue akan cenderung kesel ke temen gue yang ngasih nomor gue ke orang lain, kenapa dia nggak nanya dulu? Mungkin kalau di Indonesia yang namanya masalah ngasih nomor telepon itu dianggap biasa, seandainya mereka tahu kalau ada orang yang nganggep nomor telepon itu sifatnya pribadi dan alangkah baiknya kalau sebelum ngasih nomor telepon pihak ketiga, dikonfirmasiin dulu ke orangnya, dia mau nggak nomor teleponnya dikasih ke orang lain yang belum tentu dia kenal dan belum tentu pernah ketemuan.

Gue juga pernah punya pengalaman kayak gini, nih. Suatu pagi (sekitar jam 5 pagi), gue kebangun dan cek handphone untuk lihat jam. Eh ternyata ada pesan Whatsapp dari nomor yang nggak gue kenal. Pas gue lihat, pesan itu ternyata dari salah satu anak kuliah jaman S1 dulu. Gue nggak tau namanya tapi pernah liat mukanya di kampus. Terus pesen itu bilang, “Hai Crystal, gue si xxx, kemarin gue mau cari info kuliah di Belanda eh ternyata ketemu blog lo, gue dapet nomor lo dari yyy si angkatan lo juga…”

Gue baca itu sambil kriyep-kriyep jam 5 pagi… Di Jakarta jam 10 pagi atau 11 siang kan yah. Dalam hati gue sedikit kesel sama si yyy yang ngasih nomor ponsel gue ke xxx ini, gue kan nggak kenal orangnya, kalo punya kontak gue, apa susahnya ya si yyy ngontak gue dulu untuk bilang ada yang mau nanya-nanya soal kuliah di Belanda dan minta izin dia boleh nggak ngasih nomor gue ke dia. Tapi lagi-lagi otak gue bilang “Maklum Tal, dia tinggal di Indonesia, dulu juga lo suka langsung ngasih nomor telepon orang lain kalo ada yang nanya…” tapi ya tetep aja karena sekarang udah tau itu nggak sopan, jadi agak gedeg juga.

Ya intinya sih, selain menelepon, ngasih nomor telepon ke orang lain juga perlu etika. Apalagi ngasih nomor telepon teman. Perlu diperhatikan juga aspek privasi si teman tersebut, apakah dia sedang mampu ditanya-tanyain? Atau malah nggak mau nomor telepon pribadinya disebar sama orang lain?

Rejeki 2016

Di tahun 2015 lalu, entah gue nulis disini atau nggak, salah satu resolusi gue adalah punya pacar. Bukan karena untuk keren-kerenan atau peer pressure, tapi gue ngerasa bahwa 6 tahun jomblo adalah waktu yang cukup lama untuk menemukan jati diri. Sekarang gue merasa lebih siap, gue sudah tahu gue orangnya seperti apa, pengen nyari orang yang kayak gimana, makanya dengan mantap gue menuliskan kata-kata “PUNYA PACAR” sebagai resolusi tahun lalu.

Siapa sangka resolusi tersebut beneran terwujud di hari-hari terakhir 2015 dan sejak hari-hari pertama 2016?

Dan lucunya, gue nggak berakhir dengan orang yang gue taksir sejak awal tahun lalu. Di akhir tahun kemarin, ada orang lain yang benar-benar jauh lebih opinionated dalam mengutarakan kemauan dia. Jenis orang yang gue suka. Jujur aja, gue orangnya sangat lemah dalam menangkap kode-kode yang bertebaran di udara, jadi gue sangat nggak ngerti dengan gebetan gue yang lama. Sebentar kelihatannya mau, sebentar kelihatannya nggak mau. Sebentar-sebentar flirting, kemudian gue dicuekin dua minggu. Dengan yang baru ini, dia jauh lebih bisa mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, apakah dia tertarik dengan gue atau nggak, dan sejujurnya gue jauh lebih mudah berkomunikasi dengan orang yang opinionated seperti ini.

Selain itu, untuk pertama kalinya dalam waktu 6 tahun, seseorang berhasil melihat gue sebagai seorang cewek, bukan cuma sekedar one of the guys. Gue akui, gue emang cewek yang low-maintenance, yang lebih suka marathon serial TV ketimbang ngopi-ngopi cantik di mall, yang lebih nyambung ngomongin video game dan hal-hal geek lainnya daripada ngomongin masalah alat dandan, dan hal ini sering banget bikin gue jadi dianggap sebagai one of the guys oleh temen-temen cowok gue. Walaupun ini punya keuntungan tersendiri, tapi ya gue sebagai cewek pengen juga lah dianggep sebagai perempuan yang menarik walaupun suka sama hal-hal berbau cowok seperti itu. Untungnya orang ini berhasil melihat gue jauh lebih daripada one of the guys dan berhasil meyakinkan gue bahwa jadi cewek penggemar geek culture itu nggak akan mengurangi derajat gue sebagai perempuan.

Walaupun gue masih dalam tahap awal berkencan dan kami masih mau mengenal satu sama lain lebih jauh lagi, tapi tetep aja gue udah agak was-was dengan masalah-masalah yang akan muncul di kemudian hari. Kadang gue suka takut bahwa gue nggak akan bisa menyelesaikan masalah tersebut. Mungkin karena di hubungan-hubungan yang terdahulu, mantan-mantan gue tergolong orang egois yang kalo ada masalah ya langsung main tinggal aja, bukannya diomongin dan diselesaiin seperti orang dewasa dan orang berkepala dingin. Rasa takut itu ada. Apalagi kami datang dari negara, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda. Memang gue masih sangat menikmati masa-masa awal ini dimana orang bilang adalah masa-masa yang paling indah, tapi nggak bohong namanya kalau gue kadang suka takut dengan masalah yang akan datang di kemudian hari. Untungnya, gue dan dia selalu berkomunikasi dalam hal apapun, semoga kalau kami ada masalah, komunikasinya juga gampang dan kami bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan kepala dingin tanpa mementingkan emosi.

Untuk sementara, anggap aja ini rejeki 2015 yang datangnya agak telat! 🙂

P.S.: Tenang aja, gue bukan orang yang suka pamer hubungan sendiri di media sosial, jadi gue nggak akan terlalu banyak nulis tentang hubungan gue disini 😀 masih lebih banyak hal yang lebih penting dan bermanfaat untuk orang lain yang bisa ditulis!

Ada apa di tahun 2015?

Kalau tahun 2014 kemarin gue terkaget-kaget dengan kapasitas seorang “gue”, tahun ini gue masih aja terkaget-kaget dengan apa yang ternyata bisa “gue” lakukan.

Tahun 2015 ini spesial sekali karena untuk pertama kalinya gue menginjakkan kaki di negara yang sangat asing buat gue, yang namanya cuma gue dengar di radio, yang pemandangannya cuma gue tonton di TV dan bioskop, yaitu Belanda. Untuk pertama kali juga, gue akan pindah jauh sekali dari keluarga dan sahabat untuk merajut mimpi dan membuat mimpi-mimpi baru. Ini adalah langkah yang sangat besar untuk gue. Walaupun dari dulu gue nggak pernah pindah kemana-mana dari Jakarta, tapi sejak dulu gue ngerasa bahwa gue punya kapasitas lebih untuk menjalani hidup yang gue inginkan, walaupun itu harus dibayar dengan jarak jauh dengan keluarga dan sahabat. Akhirnya dengan semangat itu, gue dengan penuh semangat pindah ke Belanda.

Sampe di Belanda, sepertinya ujian hidup baru dimulai disini. Gue harus menghadapi culture shock yang nggak habis-habis, dan gue harus belajar untuk mencari teman-teman baru lagi. Nah, di tahun 2015 ini, lagi-lagi gue belajar bahwa nggak semua teman itu baik. Mungkin kalo di Indonesia, cara menghindarinya lebih gampang karena semuanya sesama orang Indonesia. Tapi di Belanda cukup spesial karena mahasiswa Indonesia itu cuma segelintir di antara mahasiswa internasional lain. Jadi mau nggak mau gue harus belajar lebih tegas untuk memilih teman, mana yang baik untuk dijadikan teman dan mana yang cuma bisa menyumbang drama nggak bener dalam hidup.

Puji Tuhan juga, karena gue sekolah di Belanda, gue jadi berkesempatan untuk melihat dunia. Gue jadi bisa pergi bolak-balik Jerman, negara favorit gue sejak kelas 6 SD. Gue juga punya banyak sekali teman-teman dari berbagai negara yang tentunya menambah wawasan gue. Di negara ini, gue berhasil tau gue termasuk jenis orang yang bakal ngapain kalo mabok (jawabannya: gue bakal ngobrol berisik dan sok filosofis banget kalo mabok), gue berhasil belajar jenis-jenis bir dan berhasil menemukan bir kesukaan gue (jawabannya: dunkel bier ala Jerman!)… pokoknya gue belajar banyak hal yang nggak bisa gue pelajari di Indonesia.

Yang paling besar yang terjadi di tahun 2015 adalah gue berhasil membuktikan pada diri gue sendiri dan pada keluarga gue bahwa gue adalah orang dewasa. Selama gue tinggal di Indonesia, gue masih ngerasa gue ini anak-anak, dan orangtua gue punya ekspektasi sendiri tentang gue dan kehidupan gue. Nah waktu orangtua gue dateng kesini di bulan Oktober, gue bener-bener ngerasa bahwa mereka udah nganggep gue sebagai orang dewasa yang bisa milih jalan hidup sendiri. Emang sih gue nggak bilang ini ke mereka, tapi sebagai anak gue berasa sangat dihargai karena akhirnya untuk pertama kalinya bokap gue (Terutama beliau sih) nggak memperlakukan gue kayak anak kecil lagi. Udah gitu, bokap gue juga bilang bahwa dia menyetujui langkah gue berikutnya yaitu untuk mencari pekerjaan disini. Dan untuk sementara, dia mau bantu gue secara finansial untuk bertahan hidup sampe gue dapet kerja. Yippie! Seneng banget rasanya. Walaupun ini sangat bertolak belakang dengan keinginan gue dianggap dewasa oleh orang tua (masa iya udah gede tapi masih minta duit), tapi sejarahnya gue ini sama sekali nggak pernah minta yang aneh-aneh sama orangtua. Jadi menurut gue, ini wajar kalo sekali-kalinya gue minta yang aneh-aneh ya itu untuk menunjang kehidupan gue di masa depan.

Masalah percintaan? Halah, ini nih yang paling lucu dari tahun 2015. Jadi sebelum tahun 2015 ini gue deket sama seorang cowok yang ternyata ujug-ujug pindah ke Belanda juga. Entah kenapa gue kok kayaknya tahan banget bisa suka dan deket sama orang ini, padahal dianya ngasih sinyal nggak jelas, sebentar keliatannya mau tapi sebentar nggak. Terus… di pertengahan bulan ini gue ketemu orang lain dan malah deketnya sama orang lain itu. Jalan Tuhan itu rupanya sungguh aneh, hahaha!

Harapan gue, semoga tahun 2016 yang jaraknya hanya dua hari lagi bisa membawa lebih banyak lagi kebahagiaan untuk gue dan keluarga gue. Semoga keluarga gue semuanya sehat-sehat semua dan kita bisa ketemu lagi. Semoga gue juga bisa cepet dapet kerja di tahun 2016 dan bisa tinggal lebih lama di benua biru karena gue nyadar bahwa gue masih harus banyak banget belajar disini kalau mau sukses di Indonesia.

Curhat: Kena Silent Treatment

Mau curhat deh, mumpung masalahnya lagi panas.

Gue baru-baru ini berasa jadi korban silent treatment. Kalo yang penasaran apakah itu silent treatment dan efek psikologisnya ke orang, bisa dibaca tulisannya Mariska disini. Menurut gue sih silent treatment itu bahasa kerennya aja. Bahasa sehari-hari: DIDIEMIN ORANG.

Gue punya temen baik disini. Sesama orang Indonesia, perempuan juga. Sebut aja namanya Janis Joplin. Menurut gue, hubungan gue dengan Janis ini udah masuk ke satu stage di bawah sahabat karena kami suka pergi bareng berdua, suka main masak-masakan di apartemennya, pokoknya deket banget lah. Hobi kami berdua adalah cari tempat makan atau ngopi baru di sekitar Belanda kemudian jajal restoran atau kafe tersebut. Lebih bagus lagi kalo kafenya cocok untuk belajar atau baca buku berjam-jam. Menurut gue, kepribadian kami yang sama-sama introvert bikin kami cocok bergaul satu sama lain. Tapi dalam hubungan pertemanan kami, gue jauh lebih opinionated dan dia semacam penyeimbangnya yaitu lebih kalem daripada gue.

Kalo ditanya kapan terakhir dia bersikap friendly sama gue, jawabannya kira-kira sebulan lalu saat kami ketemu pas di konser jazz. Kebetulan saat itu gue nggak pergi sama dia. Dia masih mau ketawa-ketawa sama gue, ngeledek dengan siapa gue pergi saat itu, dan dia sedikit cerita sama gue bahwa dia lagi ada masalah. Tapi karena itu pas lagi acara seneng-seneng, jadi kami nggak begitu ngomongin masalah dia lebih lanjut. Keesokan harinya waktu kami janjian makan bareng juga dia masih biasa aja. Kemudian waktu gue ikut acara birthday surprise salah satu teman dan ada dia, masih nggak ada apa-apa. Semuanya normal-normal aja.

Gue ngerasa bahwa gue mulai didiemin dia waktu minggu lalu saat gue pergi ke Jerman untuk mengunjungi Pasar Natal. Saat itu yang pergi lumayan banyak, kurang lebih bersebelas. Waktu gue datang, gue langsung menyapa yang lain, terutama dia. Tapi entah kenapa dia dingin sekali sama gue, nyapa gue juga kayak dipaksain, senyumnya juga kecut. Dan dia lebih dekat sama teman lain. Gue mulai mikir, kok agak aneh ya? Tapi untungnya gue langsung nemuin temen main yang lain dan pergi seharian sama dia dan nggak sama si Janis Joplin. Pas gue ajakin untuk pergi ke museum minggu depannya, dia cuma jawab singkat, “Lihat tugas dulu ya”. Seketika prasangka gue lenyap karena gue mikir, oh mungkin dia lagi kebanyakan tugas jadi kesannya agak tertutup dan capek. Jadi gue nggak nanya banyak lagi.

Kemudian hari ini banget gue ketemu dia saat gue dan dua teman gue pergi ke Ij-Hallen, pasar barang bekas terbesar se-Amsterdam. Gue dan dua teman baru mau masuk, sementara dia pergi bersama lima-enam orang teman lain. Gue menyapa mereka semua, termasuk Janis, tapi begitu gue sapa dan gue basa-basi “Beli apa aja?” lagi-lagi dia tersenyum paksa dan ngejawab “Oh tadi mau beli (nggak tau, lupa), tapi nggak jadi karena nggak sreg…” dan pokoknya bahasa tubuhnya agak distancing dari orang-orang, termasuk dari gue.

Setelah gue pikir-pikir dan gue runut kronologi, gue sebenernya udah mulai ngerasa bahwa ada yang nggak bener dari beberapa bulan lalu, sih… Tepatnya sejak gue ngerasa bahwa dia lagi ada masalah dan nggak mau cerita. Kemudian setelah itu, dia suka pergi ke museum-museum, cari-cari restoran baru, semuanya dilakuin sama orang-orang lain dan bukan sama gue. Bukannya gue kepengen banget minta diajak atau gimana, tapi bukannya itu adalah hobi yang sering kami lakukan setiap waktu luang? Lucunya, dia mulai suka menghabiskan waktu sama orang-orang yang pernah dia curhatin ke gue sebagai orang-orang yang annoying di mata dia. Ironis banget…

Gue heran. Pertanyaan gue cuma satu, kira-kira salah gue apa? Mungkin gue pernah bikin dia kecewa tapi dia nggak berani bilang. Kenapa begitu? Selama ini gue selalu menunjukkan kalo gue tipikal orang yang terbuka sama saran dan kritik. Terus terang, gue kecewa banget kalo seseorang yang gue anggap teman, nggak berani ngomong apakah dia lagi ada masalah sama gue. Menurut opini gue, sifat kayak gitu sama aja nggak menghargai hubungan pertemanan yang susah payah dibangun. Masa iya ada pas seneng-senengnya doang tapi kalo ada masalah langsung menjauh dan malah ngediemin salah satu pihak. Menghargai pertemanan dari mana kalo kayak gitu ceritanya?

Maka ini gue curhat panjang lebar cuma untuk nanya apa yang seharusnya gue lakukan. Mungkin 100% dari kalian akan bilang gue harus mengkonfrontasi dia untuk nanya sebenernya apa yang terjadi dan bilang bahwa gue nggak suka perilaku silent treatment yang udah dia jalanin ke gue selama beberapa minggu ini, tapi gue nggak tau caranya. Kalo dia dan gue sama-sama opinionated sih mungkin lebih gampang, ngomong aja cablak “Eh gue ada salah ya sama lo? Kok lo kayak ngediemin gue gitu berminggu-minggu?”. Tapi si Janis Joplin ini, seperti yang gue bilang sebelumnya, adalah pribadi yang lebih pendiam dan sensitif daripada gue. Takutnya gue salah ngomong dan dia malah jadi tersinggung. Mohon sarannya ya teman-teman. Jarang banget gue minta saran sama orang lain untuk masalah kehidupan gue, tapi entah kenapa gue nggak bakal bisa diem kalo gue merasa ada masalah sama temen gue sendiri.

Terus aku kudu piye????