Sayangi Jiwamu

mental health

Apa yang terlintas di pikiran kamu begitu mendengar kata “kesehatan mental”? Mungkin langsung kepikiran adegan-adegan film horor tentang rumah sakit jiwa, pembunuh psikopat, atau orang-orang yang langsung dicap “gila” karena suka ngomong sendiri. Atau mungkin kamu langsung teringat dengan film-film bertema penyakit mental seperti Patch Adams dan A Beautiful Mind.

Persepsi orang tentang kesehatan mental emang berbeda-beda, tapi sayangnya banyak sekali yang menganggap penyakit mental itu adalah sesuatu yang lebih buruk daripada penyakit fisik. Menurut gue, kesehatan mental itu sama derajatnya dengan kesehatan fisik. Bahkan menurut gue, level of pain-nya juga sama. Yang membedakan mereka adalah stigma yang ada di masyarakat. Masyarakat menilai bahwa penyakit fisik lebih gampang sembuh daripada penyakit mental dan penyakit mental jauh lebih meninggalkan bekas daripada penyakit fisik.

Banyak juga yang menganggap ngomongin kesehatan mental itu adalah sesuatu yang tabu karena anggapan bahwa kesehatan mental itu hal yang susah banget buat diomongin. Padahal mereka nggak sadar bahwa mereka juga punya mental yang harus diurus, bukan cuma fisik doang. Atau mereka yang menganggap bahwa kesehatan mental itu saking seriusnya maka bisa dijadiin bahan bercandaan. Mungkin karena itu banyak banget penyakit mental yang penggunaan katanya disalahgunakan, seperti “Duh, maaf ya, gue OCD (Obsessive Compulsive Disorder – red) banget nih, jadi kalo ada barang yang miring dikit pasti gue bawaannya pengen benerin…” atau “Denger cerita lo, kayaknya mantan lo rada psycho deh, jauh-jauh lah dari dia”, dsb. Padahal dua penyakit mental itu cukup serius lho dan nggak bisa dipakai seenaknya gitu aja dalam sebuah kalimat.

Kesehatan mental itu bisa diomongin dengan hal-hal gampang. Toh, kesehatan mental ada di hidup kita sehari-hari. Contohnya menjelang ujian. Jika kita terus-terusan belajar, kita akan mengalami stress. Contoh lain adalah ketika kita grogi dengan sesuatu, nggak jarang kita mengalami serangan panik yang biasanya ditandai dengan sulit bernafas, tangan gemetar, dan sulit fokus. Ketika kita terlalu tertekan dengan beban pekerjaan, lama-lama kita bisa mengalami burnout. Hal-hal seperti ini adalah kesehatan mental skala kecil yang bisa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari dan bisa juga ditolong dengan hal-hal kecil seperti latihan pernafasan dan meditasi. Selain itu, ada juga kesehatan mental yang jauh lebih besar skalanya seperti halusinasi, psikosis, skizofrenia, PTSD, anxiety disorder, dan lain-lain. Tapi untuk penyakit-penyakit seperti ini biasanya dibutuhkan diagnosis (atau diagnosa?) psikiater sebelum melangkah ke tahap selanjutnya yaitu penyembuhan.

Nah, untuk kita-kita ini, bagaimana cara menjaga kesehatan mental? Seperti gambar yang ada di atas, ketika ngomongin kesehatan, kita juga harus menyertakan kesehatan mental dalam konteks ‘sehat’ secara menyeluruh. Menurut gue cara menjaga kesehatan mental sendiri tuh cukup mudah kok, beberapa diantaranya adalah:

  • nggak kebanyakan mikir
  • selalu punya pikiran positif (bahkan saat terlalu banyak negativitas di sekitar kita)
  • sering-sering meditasi dan latihan pernafasan
  • tahu batas diri; kalau sudah ngerasa stress, langsung cari hiburan untuk melepaskan rasa stress
  • punya orang yang dipercaya yang bisa diajak curhat kalau butuh teman bicara

Jika kamu didiagnosa penyakit mental tertentu, gue punya gambar yang bisa bikin kamu positif terhadap apapun diagnosa penyakitmu:

anxiety

Tulisan ini dibuat dalam rangka partisipasi dalam Mental Health Awareness Month yang jatuh setiap bulan Mei.